<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>kebiasaan Archives - whathefan</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/kebiasaan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/kebiasaan/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 15 Mar 2026 13:56:55 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/02/logo-kotak-whathefan-2026-v3-80x80.jpg</url>
	<title>kebiasaan Archives - whathefan</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/kebiasaan/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Saya Membiasakan Diri Duduk Tegak Gara-gara Jang Wonyoung</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/saya-membiasakan-diri-duduk-tegak-gara-gara-jang-wonyoung/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/saya-membiasakan-diri-duduk-tegak-gara-gara-jang-wonyoung/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 15 Mar 2026 13:39:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[duduk]]></category>
		<category><![CDATA[Jang Wonyoung]]></category>
		<category><![CDATA[kebiasaan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8594</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jika membicarakan tentang IVE, tentu kita tidak bisa lepas dari nama Jang Wonyoung. Sebelum bergabung dengan Starship Entertainment, ia sudah debut duluan di IZ*ONE bersama An Yujin, yang sekarang jadi leader IVE. Nah, salah satu hal yang paling sering Penulis dengar tentang Wonyoung adalah bagaimana ia dianggap pick me dan dianggap sebagai anak emas agensinya. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/saya-membiasakan-diri-duduk-tegak-gara-gara-jang-wonyoung/">Saya Membiasakan Diri Duduk Tegak Gara-gara Jang Wonyoung</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Jika membicarakan tentang <a href="https://whathefan.com/musik/i-am-ive/">IVE</a>, tentu kita tidak bisa lepas dari nama <strong>Jang Wonyoung</strong>. Sebelum bergabung dengan Starship Entertainment, ia sudah debut duluan di IZ*ONE bersama An Yujin, yang sekarang jadi <em>leader </em>IVE.</p>



<p>Nah, salah satu hal yang paling sering Penulis dengar tentang Wonyoung adalah bagaimana ia dianggap <em>pick me </em>dan dianggap sebagai anak emas agensinya. Hal ini bisa benar, bisa tidak, <em>mong</em> Penulis enggak kenal.</p>



<p>Memang, berdasarkan hasil riset kawan Penulis yang merupakan pengamat dunia K-Pop, pemasukan yang dihasilkan Wonyoung seorang diri lebih besar dari keseluruhan IVE, sehingga terkesan &#8220;wajar&#8221; kalau ia diistimewakan oleh agensinya.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/negara-tanpa-oposisi-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/negara-tanpa-oposisi-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/negara-tanpa-oposisi-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/negara-tanpa-oposisi-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/negara-tanpa-oposisi-banner.jpg 1280w " alt="Negara Tanpa Oposisi" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/politik-negara/negara-tanpa-oposisi/">Negara Tanpa Oposisi</a></div></div></div><p></p>


<p>Namun, di tulisan kali ini, Penulis tidak akan membahas hal tersebut. Penulis justru akan membahas tentang hal yang agak <em>nyeleneh</em>, yakni tentang <strong>kebiasaan duduk Wonyoung </strong>yang ingin Penulis tiru.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Postur Duduk Jang Wonyoung</h2>



<p>Sebenarnya, tidak ada yang istimewa dari postur duduk Wonyoung. Ia hanya membiasakan diri untuk duduk tegak dan menjaga postur tubuhnya tetap &#8220;sempurna&#8221;, bahkan ketika duduk yang tidak memiliki sandaran sekalipun.</p>



<p>Penulis mengetahui hal ini pertama kali ketika menonton acara <em>reality show </em>1,2,3 IVE 5 Ep. 1, ketika semua <em>member </em>sedang bersauna. Ketika sedang duduk lesehan, terlihat kalau postur Wonyoung paling tegak di antara <em>member</em> yang lain.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Saya-Membiasakan-Diri-Duduk-Tegak-Gara-gara-Jang-Wonyoung-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8621" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Saya-Membiasakan-Diri-Duduk-Tegak-Gara-gara-Jang-Wonyoung-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Saya-Membiasakan-Diri-Duduk-Tegak-Gara-gara-Jang-Wonyoung-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Saya-Membiasakan-Diri-Duduk-Tegak-Gara-gara-Jang-Wonyoung-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Saya-Membiasakan-Diri-Duduk-Tegak-Gara-gara-Jang-Wonyoung-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Lihat Postur Duduk Wonyoung di Sebelah Paling Kiri (<a href="https://www.youtube.com/watch?v=E6ZPIVS2WRY&amp;t=1437s">YouTube</a>)</figcaption></figure>



<p>Hal ini juga terlihat di ajang-ajang penghargaan K-Pop, yang biasanya lewat di YouTube Shorts Penulis. Memang <em>idol </em>yang lain juga berusaha menjaga <em>image </em>dengan postur duduk yang baik, tapi Wonyoung memang yang paling terlihat.</p>



<p>Terbaru, ketika IVE menjadi bintang tamu di acara milik musisi Epic High, hal ini juga kembali dibahas (yang menjadi inspirasi tulisan ini). Bahkan, <em>host</em>-nya pun menanyakan apakah nyaman duduk dengan postur seperti itu.</p>



<p>Wonyoung (dan Rei yang ketika itu juga duduk dengan tegak) pun dengan enteng menjawab bahwa duduk dengan postur tersebut justru posisi yang paling nyaman. Jawaban tersebut membuat Liz yang duduk <em>senden </em>langsung membetulkan postur duduknya.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Saya-Membiasakan-Diri-Duduk-Tegak-Gara-gara-Jang-Wonyoung-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8622" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Saya-Membiasakan-Diri-Duduk-Tegak-Gara-gara-Jang-Wonyoung-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Saya-Membiasakan-Diri-Duduk-Tegak-Gara-gara-Jang-Wonyoung-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Saya-Membiasakan-Diri-Duduk-Tegak-Gara-gara-Jang-Wonyoung-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Saya-Membiasakan-Diri-Duduk-Tegak-Gara-gara-Jang-Wonyoung-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">IVE di Channel YouTube Epic High (<a href="https://www.youtube.com/watch?v=xmPkKHhcRqY">YouTube</a>) </figcaption></figure>



<p>Sebagai orang yang kerjanya bisa 8 jam di depan layar monitor, posisi duduk menjadi krusial. Waktu awal-awal <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/agar-wfh-tetap-produktif/"><em>work from home </em>(WFH)</a> sekitar lima tahun lalu, Penulis kerap mengalami sakit punggung dan tangan.</p>



<p>Beberapa tahun ini, hal tersebut sudah berkurang drastis karena Penulis membeli beberapa aksesoris untuk meminimalisir timbulnya rasa sakit. Apalagi, Penulis sekarang menggunakan kursi ergonomis yang dibeli di IKEA.</p>



<p>Walau sudah menggunakan kursi yang ergonomis, posisi duduk Penulis masih kerap kurang ergonomis. Seringnya, Penulis justru duduk terlalu maju dan tidak menempatkan punggungnya di sandaran punggung yang sebenarnya sudah sangat ideal untuk menopang punggung Penulis.</p>



<p>Nah, entah mengapa ketika berada dalam posisi seperti ini, Penulis langsung teringat postur duduk Wonyoung dan akhirnya memperbaiki posisi duduknya. Ketika mendengarkan khotbah Jumatan pun Penulis sering teringat hal tersebut dan membetulkan posisi duduknya.</p>



<p>Dengan membiasakan diri duduk tegak seperti Wonyoung, Penulis berharap bisa mengurangi risiko untuk menjadi bungkuk dan memiliki postur tubuh yang buruk. Memang awalnya tidak nyaman dan terasa melelahkan, tapi harus dibiasakan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mindset ala Lucky Vicky</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Saya-Membiasakan-Diri-Duduk-Tegak-Gara-gara-Jang-Wonyoung-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8623" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Saya-Membiasakan-Diri-Duduk-Tegak-Gara-gara-Jang-Wonyoung-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Saya-Membiasakan-Diri-Duduk-Tegak-Gara-gara-Jang-Wonyoung-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Saya-Membiasakan-Diri-Duduk-Tegak-Gara-gara-Jang-Wonyoung-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Saya-Membiasakan-Diri-Duduk-Tegak-Gara-gara-Jang-Wonyoung-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Lucky Vicky (<a href="https://crastfm.com/yuk-coba-pola-pikir-positif-lucky-vicky-ala-jang-wonyoung-ive/">Crast FM</a>)</figcaption></figure>



<p>Selain postur duduk, satu hal lain yang ingin Penulis tiru dari Wonyoung adalah <em>mindset </em><strong>Lucky Vicky</strong> yang dimilikinya. Sebenarnya, konsepnya sama dengan idiom <em>every cloud has a sliver lining</em>, di mana di setiap kejadian buruk, pasti ada hal baiknya.</p>



<p>Lucky Vicky menjadi identik dengan Wonyoung karena hal tersebut memang kerap diucapkannya. Ia jadi dikenal sebagai pribadi yang punya pikiran positif terhadap apa pun yang dihadapinya, mungkin juga ketika menghadapi para <em>haters</em>-nya.</p>



<p>Memang ia bukan membawa konsep baru, hanya melakukan <em>rebranding </em>yang sudah ada menjadi versinya sendiri. Alhasil, jadi banyak orang yang berusaha untuk mengikuti <em>mindset </em>positifnya tersebut.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Sebetulnya, dua hal dari Wonyoung yang Penulis sebut di atas tersebut adalah contoh bagaimana kita sebenarnya memiliki pilihan ketika melihat sesuatu, mau melihat baiknya atau fokus ke buruknya.</p>



<p>Kalau kita fokus dengan hal buruknya, maka kita akan terus membenci Wonyoung yang dianggap <em>pick me</em>, dianakemaskan, obsesi untuk menjadi <em>center</em>, dan lain sebagainya. Padahal, ada hal-hal baik yang bisa kita jadikan inspirasi, yang terlupakan karena terlalu fokus dengan sisi buruknya (<em>mindset </em>Lucky Vicky).</p>



<p>Penulis bukan penggemar Wonyoung secara khusus, toh di <a href="https://whathefan.com/musik/tier-list-lagu-lagu-ive-bagian-1-single-dan-ep-jepang/">IVE</a> bias Penulis adalah Rei. Walau begitu, Penulis tidak menutup mata jika ada hal-hal baik yang bisa Penulis panutan di kehidupan sehari-hari.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 15 Maret 2026, terinspirasi setelah melihat postur duduk Jang Wonyoung yang tegak</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/saya-membiasakan-diri-duduk-tegak-gara-gara-jang-wonyoung/">Saya Membiasakan Diri Duduk Tegak Gara-gara Jang Wonyoung</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/saya-membiasakan-diri-duduk-tegak-gara-gara-jang-wonyoung/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cara Saya Hilangkan Kebiasaan Buruk Dikit-Dikit Cek HP</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/cara-menghilangkan-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/cara-menghilangkan-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 22 Jul 2024 16:12:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[distraksi]]></category>
		<category><![CDATA[kebiasaan]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[smartphone]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7637</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika sedang suwung atau menganggur, apa yang akan Pembaca lakukan pertama kali? Kalau Penulis, satu hal yang sangat mungkin dilakukan adalah mengecek ponselnya, entah untuk mengecek pesan WhatsApp yang masuk ataupun scrolling media sosial. Parahnya lagi, Penulis kerap berganti-ganti platform ketika sudah cek HP. Bosan buka Instagram, pindah ke X. Bosan di X, pindah ke [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/cara-menghilangkan-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp/">Cara Saya Hilangkan Kebiasaan Buruk Dikit-Dikit Cek HP</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika sedang <em>suwung </em>atau menganggur, apa yang akan Pembaca lakukan pertama kali? Kalau Penulis, satu hal yang sangat mungkin dilakukan adalah <strong>mengecek ponselnya</strong>, entah untuk mengecek pesan WhatsApp yang masuk ataupun <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/alasan-kenapa-mindless-scrolling-adalah-pelarian-yang-buruk/"><em>scrolling </em>media sosial</a>.</p>



<p>Parahnya lagi, Penulis kerap berganti-ganti platform ketika sudah cek HP. Bosan buka Instagram, pindah ke X. Bosan di X, pindah ke YouTube. Bosan di YouTube, pindah ke Pinterest. Begitu terus hingga screentime ponsel Penulis menjadi berjam-jam.</p>



<p>Penulis sebenarnya menyadari kalau sedikit-sedikit mengecek ponsel merupakan kebiasaan yang buruk karena seolah-olah otak ini tidak boleh diberi jeda sedikit pun dari konsumsi-konsumsi konten. Otak (dan organ tubuh lainnya) ini seolah tidak boleh istirahat. </p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/IMG_4669-300x126.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/IMG_4669-300x126.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/IMG_4669-768x324.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/IMG_4669-1024x432.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/IMG_4669-356x150.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/IMG_4669.jpg 2048w " alt="SWI Barang Bekas" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/pengalaman/swi-barang-bekas/">SWI Barang Bekas</a></div></div></div><p></p>


<p>Padahal, jeda sejenak dari segala kegiatan dan konsumsi konten bagus untuk otak. Membiarkan pikiran mengembara atau merenung terkadang menjadi sesuatu yang kita butuhkan di tengah berbagai tuntutan hidup.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis pun berusaha mengurangi ketergantungan dirinya yang sedikit-sedikit mengecek ponsel. Awalnya memang sangat sulit karena sudah menjadi kebiasaan, tapi lama-kelamaan Penulis mulai terbiasa untuk menjauhinya dan menggantinya dengan aktivitas lain.</p>



<p>Pada tulisan kali ini, Penulis ingin berbagi pengalaman dirinya berusaha mengurangi kebiasaan buruk ini untuk bisa meningkatkan produktivitas dirinya. Penulis tidak membuat daftarnya berdasarkan riset mendalam, hanya dari pengalaman pribadinya saja.</p>



<h2 class="wp-block-heading">1. Memberikan Batasan ke Aplikasi</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-banner-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7684" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-banner-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-banner-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-banner-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-banner.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Aplikasi Rekomendasi Penulis (<a href="https://www.opal.so/blog/opal-the-1-screen-time-app">Opal</a>)</figcaption></figure>



<p>Hampir semua media sosial menghadirkan konten tak terbatas yang bertujuan untuk membuat kita betah berlama-lama di platform mereka. Akibatnya, kita suka lupa waktu jika sudah bermain media sosial, terutama jika sedang mengonsumsi konten-konten video pendek.</p>



<p>Penulis termasuk yang kesulitan untuk mengerem kebiasaan buruk ini, sehingga membutuhkan bantuan<em> </em>aplikasi. Untungnya, hampir di semua ponsel pintar saat ini telah memiliki fitur untuk membatasi penggunaan aplikasi dalam jangka waktu panjang.</p>



<p>Namun, Penulis merasa aplikasi bawaan tersebut kurang ketat karena bisa kita ubah dengan mudah. Oleh karena itu, Penulis memutuskan untuk menggunakan aplikasi yang lebih ketat seperti <strong>AppBlock </strong>dan <strong>Opal</strong>. Jika batas durasinya sudah lewat, maka Oval tersebut akan otomatis memblokir aplikasi tersebut.</p>



<p>Di ponsel, Penulis memberi batasan penggunaan semua media sosial 1,5 jam per hari, mulai dari YouTube, Instagram, X, <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/kenapa-saya-berhenti-main-tiktok/">TikTok</a>, hingga <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/threads-the-right-thing-at-the-right-time/">Threads</a>. Durasi 1,5 jam bukan untuk per aplikasi, tapi kombinasi dari semuanya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">2. Menjauhkan Ponsel dari Jangkauan</h2>



<p>Cara pertama yang sering Penulis lakukan adalah menjauhkan ponsel sejauh mungkin dari jangkauannya. Biasanya ini Penulis terapkan ketika kerja, di mana Penulis meletakkan ponselnya di tempat yang tidak kelihatan hingga lupa di mana menaruhnya.</p>



<p>Cara ini cukup efektif jika Penulis ingin <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/smartphone-adalah-distraksi-terberat-untuk-produktivitas/">mengurangi distraksi ketika jam kerja</a>, apalagi <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/agar-wfh-tetap-produktif/">Penulis <em>work from home</em></a>. Penulis harus bisa mendisiplinkan diri sendiri karena tidak ada orang lain yang mengawasi. Alhasil, <em>screentime </em>Penulis terutama di jam kerja (9-6) bisa berkurang drastis. </p>



<p>Tidak hanya itu, kita juga bisa mematikan notifikasi ponsel dengan mengubahnya ke Mode Hening atau mengaktifkan fitur Do Not Disturb. Dengan begitu, suara-suara notifikasi yang seolah tak ada habisnya itu bisa diredam dan tidak membuat kita merasa penasaran lagi.</p>



<h2 class="wp-block-heading">3. Install WhatsApp atau Aplikasi Chat di PC/Laptop</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7685" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Install Aplikasi WhatsApp Dekstop (<a href="https://www.cnet.com/tech/services-and-software/whatsapps-new-desktop-app-for-windows-how-to-download-it-on-your-pc/">CNET</a>)</figcaption></figure>



<p>Salah satu alasan mengapa Penulis suka mengecek ponselnya adalah karena ingin memeriksa apakah ada pesan WhatsApp yang masuk. Oleh karena itu, Penulis memilih untuk meng-<em>install</em> aplikasi WhatsApp versi<em> </em>PC, sehingga dirinya tak perlu lagi mengecek ponsel.</p>



<p>Kebetulan, di tempat kerja Penulis WhatsApp menjadi media utama untuk berkomunikasi, sehingga tidak mungkin Penulis tidak memeriksa WhatsApp. Bahkan, Penulis menggunakan layar kedua menggunakan tablet untuk selalu menampilkan WhatsApp, karena Penulis juga punya kebiasaan buruk sedikit-sedikit cek WhatsApp.</p>



<p>Tidak hanya WhatsApp, semua aplikasi <em>chat </em>yang Penulis gunakan juga Penulis <em>install </em>di PC, mulai dari Skype hingga Discord. Dengan demikian, tidak ada lagi alasan <em>urgent </em>untuk mengecek ponsel di jam kerja.</p>



<h2 class="wp-block-heading">4. Jangan Gunakan Ponsel Sebagai Alarm Pagi</h2>



<p>Selain godaan di kala menganggur dan di jam kerja, salah satu godaan terbesar untuk mengecek ponsel adalah di pagi hari. Penulis punya kebiasaan buruk setelah mematikan alarm, Penulis akan membuka aplikasi media sosial sebentar.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis menyarankan untuk menggunakan alarm konvensional di pagi hari, bukan alarm yang ada di ponsel. Kalau perlu, jauhkan juga ponsel dari jangkauan sebelum tidur. </p>



<p>Selain itu, tentukan jam berapa ponsel boleh mulai dicek, misalnya pukul tujuh pagi setelah <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rutinitas-pagi-harian-bagian-1/">rutinitas pagi telah selesai dituntaskan</a>. Namun, jika boleh jujur, di antara semua poin yang ada di artikel ini, poin inilah yang sampai sekarang masih Penulis sulit terapkan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">5. Sibukkan Diri dengan Kegiatan Bermanfaat</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-7686" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/07/cara-mengurangi-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Baca Buku Favoritmu (<a href="https://www.pexels.com/@adilgkkya/">Adil via Pexels</a>)</figcaption></figure>



<p>Salah satu pemicu kita kerap mengecek ponsel adalah karena <em>suwung</em> atau sedang menganggur, seperti yang sudah Penulis singgung di atas. Oleh karena itu, kita harus kreatif mengisi waktu kosong kita dengan aktivitas lain.</p>



<p>Melakukan hobi adalah salah satu cara yang menyenangkan untuk mengisi waktu luang. Kalau Penulis, biasanya akan <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/bagaimana-caranya-agar-semangat-membaca-buku/">membaca buku</a> atau menulis artikel. Kedua aktivitas ini lumayan ampuh bagi Penulis untuk tidak mengecek ponsel.</p>



<p>Di malam hari setelah jam kerja, biasanya Penulis menyempatkan diri untuk menemani ibu menonton televisi. Meskipun bukan kegiatan yang produktif, setidaknya menemani ibu menjadi aktivitas yang bermanfaat sekaligus melepas penat setelah seharian bekerja.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Berselancar di media sosial untuk mencari hiburan bukan hal yang salah. Yang salah adalah jika dilakukan secara berlebihan hingga lupa waktu. Waktu yang kita miliki di dunia ini terbatas, sehingga sayang jika tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya.</p>



<p>Penulis merasa bahwa dirinya sudah terlalu <em>attach </em>dengan ponsel, sehingga muncul kebiasaan sedikit-sedikit ingin mengecek ponsel. Menyadari kekurangan ini, Penulis pun berusaha untuk melakukan tips-tips yang telah disebutkan di atas. </p>



<p>Semoga saja tulisan ini bisa membantu Pembaca yang juga mengalami kesulitan seperti Penulis.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 22 Juli 2024, terinspirasi setelah menyadari kalau dirinya kerap kali mengecek HP-nya setiap tidak ada aktivitas</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/photo/selective-focus-photography-of-person-using-iphone-x-1542252/">Kerde Severin</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/cara-menghilangkan-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp/">Cara Saya Hilangkan Kebiasaan Buruk Dikit-Dikit Cek HP</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/cara-menghilangkan-kebiasaan-dikit-dikit-cek-hp/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Juni 2024 adalah Bulan Pertama Saya Menulis Tiap Hari Tanpa Putus</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/juni-2024-adalah-bulan-pertama-saya-menulis-tiap-hari-tanpa-putus/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/juni-2024-adalah-bulan-pertama-saya-menulis-tiap-hari-tanpa-putus/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 01 Jul 2024 16:31:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[kebiasaan]]></category>
		<category><![CDATA[konsistensi]]></category>
		<category><![CDATA[whathefan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7579</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam tulisan &#8220;Ini adalah Tulisan Whathefan yang ke-1000,&#8221; Penulis telah berbagi bagaimana dirinya belakangan ini telah berusaha untuk menjaga konsistensi untuk bisa menulis satu tulisan setiap hari. Pada tulisan yang tayang di tanggal 13 Juni 2024 tersebut, Penulis mengatakan bahwa dirinya telah menulis setiap hari tanpa putus sebanyak 19 hari. Alhamdulillah, rentetan tersebut bisa bertahan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/juni-2024-adalah-bulan-pertama-saya-menulis-tiap-hari-tanpa-putus/">Juni 2024 adalah Bulan Pertama Saya Menulis Tiap Hari Tanpa Putus</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dalam tulisan &#8220;<a href="https://whathefan.com/pengalaman/ini-adalah-tulisan-whathefan-yang-ke-1000/">Ini adalah Tulisan Whathefan yang ke-1000</a>,&#8221; Penulis telah berbagi bagaimana dirinya belakangan ini telah berusaha untuk menjaga konsistensi untuk bisa menulis satu tulisan setiap hari. </p>



<p>Pada tulisan yang tayang di tanggal 13 Juni 2024 tersebut, Penulis mengatakan bahwa dirinya telah menulis setiap hari tanpa putus sebanyak 19 hari. <em>Alhamdulillah</em>, rentetan tersebut bisa bertahan hingga hari dengan total 37 hari tanpa putus.</p>



<p>Lebih menariknya lagi, <strong>bulan Juni 2024 adalah pertama kalinya Penuils menulis setiap hari tanpa putus</strong>. Bulan Januari 2018 saat blog ini dimulai memang memiliki lebih dari 40 tulisan, tapi itu tak terhitung karena waktu itu Penulis memang punya beberapa stok tulisan.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/photo_2018-04-09_16-02-18-300x225.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/photo_2018-04-09_16-02-18-300x225.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/photo_2018-04-09_16-02-18-768x576.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/photo_2018-04-09_16-02-18-1024x768.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/photo_2018-04-09_16-02-18-340x255.jpg 340w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/photo_2018-04-09_16-02-18.jpg 1280w " alt="Berteriak karena Buku" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/buku/berteriak-karena-buku/">Berteriak karena Buku</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Apa Saja yang Ditulis Selama Juni 2024?</h2>



<p></p>



<p>Bulan Juni memiliki 30 hari, sehingga jumlah tulisan yang diproduksi pun 30 tulisan. Dalam sebulan, ada banyak tulisan yang Penulis buat dari berbagai topik. Yang jelas, biasanya di <em>weekend </em>Penulis akan membuat ulasan tentang buku yang telah dibaca dan melanjutkan seri <em>board game</em>-nya.</p>



<p>Selama bulan Juni, Penulis membuat ulasan lima buku, yakni <em><a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-a-happy-life-sebuah-perenungan/">A Happy Life</a></em>, <em><a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-the-devotion-of-suspect-x/">The Devotion of Mr. X</a></em>, <em><a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-contagious/">Contagious</a></em>, <em><a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-ali-sadikin/">Ali Sadikin</a></em>, dan <em><a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-hoegeng-polisi-dan-menteri-teladan/">Hoegeng</a></em>. Judul pertama dan ketiga sebenarnya sudah cukup lama Penulis baca, sehingga isinya sudah agak lupa. Kalau dua buku biografi yang ditamatkan tergolong baru.</p>



<p>Namun, yang paling spesial tentu novel <em>The Devotion of Mr. X</em> karya Keigo Hirashino. Dalam tulisan tersebut, Penulis telah membahas bagaimana novel detektif yang satu ini bisa menggiring pembacanya kepada satu kesimpulan, sebelum akhirnya di balik di akhir cerita. Novel ini sangat rekomendasi kalau suka cerita detektif.</p>



<p>Selain itu, Penulis juga melanjutkan <em>board game-</em>nya dari koleksi ke-16 hingga ke-19, yakni <a href="https://whathefan.com/permainan/koleksi-board-game-16-bahamas/">Bahamas</a>, <a href="https://whathefan.com/permainan/koleksi-board-game-17-unstable-unicorns/">Unstable Unicorns</a>, <a href="https://whathefan.com/permainan/koleksi-board-game-18-king-of-the-dice/">King of the Dice</a>, dan <a href="https://whathefan.com/permainan/koleksi-board-game-19-kingdomino/">Kingdomino</a>. Seharusnya hari Minggu (30/6) kemarin giliran Modern Arts, tapi Penulis undur karena adanya <a href="https://whathefan.com/olahraga/rezeki-gak-ke-mana-ala-george-russel-dan-mercedes/">kemenangan George Russel di GP Austria yang menarik.</a></p>



<p>Berbicara topik olahraga, Penulis hanya menulis <a href="https://whathefan.com/olahraga/kado-manis-untuk-kroos-kado-pahit-untuk-reus/">dua artikel sepak bola</a> dan tidak ada yang membahas Manchester United. Maklum, liga Eropa sedang masa rehat, dan Penulis juga entah mengapa tidak tertarik untuk mengikuti EURO 2024. Hingga hari ini, Penulis belum menonton satu pertandingan pun.</p>



<p>Penulis juga menulis dua artikel untuk rubrik Musik yang membahas dua grup dari genre yang berbeda, yakni <a href="https://whathefan.com/musik/feel-my-rhythm-red-velvet/">Red Velvet</a> dan <a href="https://whathefan.com/musik/tier-list-lagu-lagu-linkin-park-versi-saya/">Linkin Park</a>. Penulis mencoba membuat format <em>tier list </em>melalui Linkin Park dan ternyata cukup menyenangkan. Mungkin, akan ada <em>band </em>atau musisi lain yang akan Penulis buatkan format <em>tier list</em>-nya.</p>



<p>Topik lain yang sering Penulis bahas adalah tentang <em>Dragon Ball</em>. Ada tiga tulisan di bulan Juni yang membahasnya, pertama tentang <a href="https://whathefan.com/animekomik/karakter-paling-sial-di-dragon-ball-adalah-future-trunks/">Future Trunks</a>, <a href="https://whathefan.com/animekomik/vegeta-adalah-karakter-dragon-ball-dengan-pengembangan-terbaik/">Vegeta</a>, dan alasan mengapa Penulis memutuskan untuk <a href="https://whathefan.com/animekomik/saya-memutuskan-untuk-mengoleksi-komik-dragon-ball-super/">mengoleksi seri komik <em>Dragon Ball Super</em></a>. Sebenarnya, tulisan ketiga adalah alasan mengapa Penulis jadi sering menulis tentang <em>Dragon Ball</em>.</p>



<p>Penulis juga beberapa kali berbagi artikel produktivitas karena bisa menulis artikel setiap hari. Ada tiga artikel yang terkait dengan hal ini, yakni tentang <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-menggunakan-notion-untuk-mencatat-progres-artikel-whathefan/">Penulis yang memanfaatkan Notion</a> dan <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-membaca-buku-untuk-mengurangi-candu-media-sosial/">dua artikel tentang membaca buku</a>.</p>



<p>Topik-topik yang sedang panas juga Penulis bahas jika memang ada <em>angle </em>yang menarik, mulai dari <a href="https://whathefan.com/politik-negara/dinasti-politik-di-kursi-kekuasaan-boleh-atau-tidak/">isu dinasti politik yang memanas</a>, <a href="https://whathefan.com/politik-negara/bagi-bagi-kursi-sebagai-balas-budi-wajar-atau-kurang-ajar/">bagi-bagi kursi di pemerintahan</a>, <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/layakkah-pemain-judi-online-dianggap-sebagai-korban/">pemain judi <em>online </em>yang diwacanakan mendapatkan bansos</a>, hingga <a href="https://whathefan.com/politik-negara/pusat-data-nasional-kok-bisa-bisanya-dibobol/">bocornya Pusat Data Nasional (PDN)</a>.</p>



<p>Selain yang sudah Penulis sebutkan di atas, Penulis membahas hal-hal yang sifatnya <em>evergreen</em>, yang biasanya Penulis gunakan sebagai pengingat untuk dirinya sendiri ketika di masa depan nanti sedang iseng-iseng membaca tulisannya sendiri.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Semoga Bukan Bulan Terakhir Bisa Menulis Tanpa Putus</h2>



<p>Penulis tentu berharap kalau bulan Juni bukan bulan pertama dan terakhir di mana Penulis bisa menulis setiap hari di blog ini tanpa putus. Penulis berharap bisa menjaga konsistensi ini di bulan-bulan selanjutnya, karena Penulis juga pernah membahas betapa pentingnya untuk menjaga &#8220;rantai kebiasaan&#8221; jangan sampai putus.</p>



<p>Sejujurnya, Penulis sendiri heran mengapa dirinya yang dulu sangat <em>mager </em>untuk menulis bisa menjadi kembali termotivasi untuk terus menghasilkan tulisan di blog ini. Keberadaan Notion memang membantu, tapi bukan jadi motivasi utama.</p>



<p>Bisa jadi, salah satu yang menjadi motivasi Penulis untuk bisa rajin menulis adalah adanya apresiasi dari banyak pihak. Mungkin jumlahnya bisa dihitung dengan jari, tapi itu sudah cukup bagi Penulis. Penulis benar-benar berterima kasih kepada Pembaca yang sudah mengapresiasi blog ini.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 1 Juli 2024, terinspirasi setelah menyadari kalau bulan Juni kemarin dirinya berhasil menulis selama 30 hari tanpa putus</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/juni-2024-adalah-bulan-pertama-saya-menulis-tiap-hari-tanpa-putus/">Juni 2024 adalah Bulan Pertama Saya Menulis Tiap Hari Tanpa Putus</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/juni-2024-adalah-bulan-pertama-saya-menulis-tiap-hari-tanpa-putus/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kenapa Saya Justru Suka Hari Senin</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/kenapa-saya-justru-suka-hari-senin/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/kenapa-saya-justru-suka-hari-senin/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 22 Aug 2022 15:29:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[awal]]></category>
		<category><![CDATA[kebiasaan]]></category>
		<category><![CDATA[minggu]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[mulai]]></category>
		<category><![CDATA[produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[rutinitas]]></category>
		<category><![CDATA[Senin]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5880</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bagi kebanyakan orang, hari Senin kerap menjadi sesuatu yang menakutkan. Hal ini dapat dimaklumi, mengingat Senin adalah hari pertama setelah akhir pekan yang santai dan menyenangkan. Bagi pelajar, langsung terbayang harus masuk kelas dan harus mempelajari mata pelajaran tertentu. Bagi karyawan, rutinitas harian yang monoton dan tumpukan pekerjaan yang harus dituntaskan pun langsung menyapa di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/kenapa-saya-justru-suka-hari-senin/">Kenapa Saya Justru Suka Hari Senin</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Bagi kebanyakan orang, hari <strong>Senin</strong> kerap menjadi sesuatu yang menakutkan. Hal ini dapat dimaklumi, mengingat Senin adalah hari pertama setelah akhir pekan yang santai dan menyenangkan.</p>



<p>Bagi pelajar, langsung terbayang harus masuk kelas dan harus mempelajari mata pelajaran tertentu. Bagi karyawan, rutinitas harian yang monoton dan tumpukan pekerjaan yang harus dituntaskan pun langsung menyapa di pagi hari.</p>



<p>Agak berbeda dari orang-orang, Penulis justru menyukai hari Senin. Bahkan, terkadang Penulis merasa tidak sabar ingin segera Senin. Pada tulisan kali ini, Penulis akan menjelaskan beberapa alasan yang mendasari hal ini.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Alasan Penulis Menyukai Hari Senin</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/kenapa-saya-justru-suka-hari-senin-1-1024x683.jpeg" alt="" class="wp-image-5882" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/kenapa-saya-justru-suka-hari-senin-1-1024x683.jpeg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/kenapa-saya-justru-suka-hari-senin-1-300x200.jpeg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/kenapa-saya-justru-suka-hari-senin-1-768x512.jpeg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/kenapa-saya-justru-suka-hari-senin-1.jpeg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Anggap Senin Sebagai Awal yang Baru (<a href="https://unsplash.com/@kellysikkema">Kelly Sikkema</a>)</figcaption></figure>



<p>Penulis adalah tipe orang yang menyukai <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rutinitas-pagi-harian-bagian-1/">rutinitas</a> dan keteraturan. Semakin tertata, semakin baik. Oleh karena itu, Penulis menyukai hari kerja yang terjadwal. Bahkan, Penulis terbiasa untuk melakukan <em>time block </em>agar manajemen waktunya jadi lebih baik. </p>



<p>Selain rutinitas di tempat kerja, Penulis juga sedang <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/membangun-kebiasaan-baik-itu-memang-sangat-sulit/">membangun kebiasaan-kebiasaan yang baik</a>, entah dilakukan di pagi hari maupun malam hari. Nah, Penulis secara pribadi sering mengalami kegagalan dalam melakukan rutinitas ini.</p>



<p>Sebagai contoh, kebiasaan lari pagi. Pada akhir tahun 2021, Penulis sempat rutin lari pagi selama tiga bulan. Hanya saja, setelah <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hacks-2-dont-break-the-chain/">rantainya terputus</a> cukup lama, sangat susah untuk membangun lagi kebiasaan tersebut.</p>



<p>Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Penulis sering menggunakan <strong>hari Senin sebagai patokan untuk memulai lagi</strong>. Jika memang kebiasaan tersebut telah terputus, maka mulai Senin depan harus dimulai lagi.</p>



<p>Selain itu, akhir pekan biasanya Penulis gunakan untuk melakukan evaluasi mingguan. Penulis mencari tahu, mana saja yang perlu dibenahi dan mana saja yang patut mendapatkan apresiasi diri. Dengan begitu, Penulis memiliki semacam panduan untuk memulai Seninnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kelemahan dari Berpatokan pada Hari Senin</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/kenapa-saya-justru-suka-hari-senin-2-1024x683.jpeg" alt="" class="wp-image-5883" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/kenapa-saya-justru-suka-hari-senin-2-1024x683.jpeg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/kenapa-saya-justru-suka-hari-senin-2-300x200.jpeg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/kenapa-saya-justru-suka-hari-senin-2-768x512.jpeg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/kenapa-saya-justru-suka-hari-senin-2.jpeg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Kebiasaan Buruk di Atas Sering Penulis Lakukan (<a href="https://unsplash.com/@a_d_s_w">Adrian Swancar</a>)</figcaption></figure>



<p>Apakah cara ini berhasil? Belum tentu. Penulis seringnya berhasil melakukannya tiga hari, lantas terhenti lagi. Ketika di akhir pekan, baru punya semangat untuk memulai lagi ketika hari Senin sudah tiba.</p>



<p>Perlu dicatat kalau hal ini memiliki efek samping. Karena berpatokan pada hari Senin, Penulis jadi <strong>sering menyepelekan hari-hari yang dilewati</strong>. Misal, Penulis merasa hari Rabunya berantakan. Bukannya membenahinya di hari Kamis, Penulis malah menunggu sampai Senin.</p>



<p>Hanya saja, Penulis memang belum bisa sampai ke tahap yang bisa langsung berbenah dalam waktu cepat. Untuk itu, Penulis merasa menggunakan hari Senin sebagai patokan untuk memulai lagi kebiasaan baik yang tertinggal adalah yang paling cocok untuk saat ini.</p>



<p>Selain itu, Penulis sering merasa kalau Senin adalah hari di mana Penulis paling produktif di antara hari lainnya. Mungkin, itu juga karena dipengaruhi oleh <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-mindset/">mindset</a> </em>kalau Penulis sedang membuka lembaran baru di hari pertama dari tujuh hari yang akan dijalani ke depan.</p>



<p>Tentu Penulis harus membuka minggu dengan semangat dan penuh pikiran positif. Kalau di hari pertamanya saja <em>mood </em>dan rutinitasnya sudah kacau, bagaimana akan menjalani keenam hari lainnya?</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Jika menyukai hari Senin, lantas hari apa yang kurang disukai oleh Penulis? Sebenarnya tidak ada, tapi jika disuruh memilih, mungkin pertengahan <em>weekday </em>mulai hari Selasa hingga Kamis. Alasannya sederhana, karena semangat Seninnya sudah mulai luntur.</p>



<p>Seperti yang sudah dibahas di atas, jika merasa minggu yang Penulis jalani kurang baik, Penulis akan segera berharap hari Senin akan segera datang agar bisa memulai awal yang baru lagi dan memperbaiki kekurangan-kekurangan yang terjadi di minggu ini.</p>



<p><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/saya-ini-pemalas/">Penulis yang dasarnya pemalas</a> biasanya akan mengulangi kesalahan-kesalahan yang sama, seperti kurang disiplin, susah bangun pagi, hingga <em>time management </em>yang buruk. Belum lagi kebiasaan menonton YouTube atau <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/dilema-media-sosial-kita/">main media sosial berjam-jam</a>.</p>



<p>Namun, menginjak hari Senin seringkali memberikan semangat baru yang positif bagi Penulis. Tidak peduli berapa kali kita gagal, yang penting adalah kita harus mampu bangkit lebih banyak dari kegagalan tersebut. <strong>Hari Senin ada untuk membantu kita memulai lagi</strong>.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-default"/>



<p>Lawang, 22 Agustus 2022, terinspirasi setelah menyadari kalau dirinya menyukai hari Senin</p>



<p>Foto: <a href="https://www.pexels.com/id-id/@tara-winstead/">Tara Winstead on Pexels</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/kenapa-saya-justru-suka-hari-senin/">Kenapa Saya Justru Suka Hari Senin</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/kenapa-saya-justru-suka-hari-senin/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Hello, Habits</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-hello-habits/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-hello-habits/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 21 Nov 2021 15:00:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Fumio Sasaki]]></category>
		<category><![CDATA[kebiasaan]]></category>
		<category><![CDATA[non-fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[produktif]]></category>
		<category><![CDATA[produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5426</guid>

					<description><![CDATA[<p>Saat ini, Penulis berusaha untuk terus membangun kebiasaan baik dalam hidupnya. Kebiasaan tersebut ada yang dilakukan pagi maupun malam hari. Tujuannya jelas, Penulis ingin memiliki hidup yang lebih baik lagi. Akan tetapi, yang namanya membangun kebiasaan baik pasti sangat sulit. Ada saja halangan yang akan dijumpai, termasuk rasa malas yang kerap sekali datang. Akibatnya, kebiasaan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-hello-habits/">Setelah Membaca Hello, Habits</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Saat ini, Penulis berusaha untuk terus membangun kebiasaan baik dalam hidupnya. <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rutinitas-pagi-harian-bagian-1/">Kebiasaan tersebut ada yang dilakukan pagi</a> maupun malam hari. Tujuannya jelas, Penulis ingin memiliki hidup yang lebih baik lagi.</p>



<p>Akan tetapi, yang namanya <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/membangun-kebiasaan-baik-itu-memang-sangat-sulit/">membangun kebiasaan baik pasti sangat sulit</a>. Ada saja halangan yang akan dijumpai, termasuk <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/saya-ini-pemalas/">rasa malas</a> yang kerap sekali datang. Akibatnya, kebiasaan yang dibentuk pun buyar di tengah jalan.</p>



<p>Oleh karena itu, Penulis banyak membaca buku tentang membangun kebiasaan. Salah satunya adalah <em><strong>Hello, Habits</strong> </em>karangan Fumio Sasaki yang juga menulis buku <em><a href="https://whathefan.com/buku/filosofi-minimalisme-pada-goodbye-things/">Goodbye, Things</a></em>. Seperti apa ulasan Penulis terhadap buku ini?</p>





<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ini?</h2>



<p>Jika dibandingkan dengan buku <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-atomic-habits/">Atomic Habits</a> </em>yang menjelaskan langkah demi langkap, bisa dibilang <em>Hello, Habits </em>ini lebih ke arah buku yang berisi serangkaian tips untuk bisa membangun kebiasaan.</p>



<p>Mengingat yang menulis buku ini adalah Fumio Sasaki yang terkenal karena gaya hidup minimalisnya, tips-tips membangun kebiasaan di buku ini pun banyak terkait dengan gaya hidup minimalis yang ia terapkan.</p>



<p>Buku ini dibagi menjadi empat bab utama, yakni:</p>



<ol class="wp-block-list"><li>Keteguhan Hati</li><li>Apakah yang Dimaksud dengan Kebiasaan?</li><li>50 Langkah Untuk Membentuk Kebiasaan</li><li>Kita Dibentuk oleh Kebiasaan</li></ol>



<p>Inti dari buku ini adalah Bab 3, di mana Sasaki menuliskan 50 tips yang bisa kita coba untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dua bab utama bisa dibilang sebagai pembukaan sebelum masuk ke dalam intinya.</p>



<p>Bab pertama menjelaskan mengenai korelasi antara membangun kebiasaan baik dengan keteguhan hati yang kita miliki. Sasaki menjelaskan kalau jika kita gagal melakukan kebiasaan baik, itu bukan karena semata-mata karena keteguhan hati kita kurang. </p>



<p>Salah satu faktor utama kita gagal merutinkan kebiasaan adalah karena kita cenderung memilih &#8220;imbalan&#8221; yang ada di depan mata dibandingkan dengan yang ada di masa depan. &#8220;Imbalan&#8221; kebiasaan baik biasanya membutuhkan waktu yang lama.</p>



<p>Lalu Sasaki melanjutkan dengan menyebutkan kalau kebiasaan adalah &#8220;tindakan yang kita lakukan tanpa berpikir panjang&#8221;. Contoh mudahnya adalah urutan yang kita lakukan ketika kita mandi, apa yang kita lakukan ketika bangun tidur, dan lain sebagainya.</p>



<p>Membuat hal baik bisa kita lakukan untuk bisa menjadi sebuah tindakan yang tak butuh dipikirkan jelas membutuhkan proses yang panjang dan tidak mudah. Oleh karena itu, Sasaki memberikan 50 tips untuk membangun kebiasaan di buku ini.</p>



<p>Tiap tips yang ada di dalam buku ini cukup pendek, hanya terdiri dari beberapa lembar saja. Tips yang dicantumkan bervariasi, kadang memiliki keterkaitan dengan tips sebelumnya, kadang berdiri sendiri.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca <em>Hello, Habits</em></h2>



<p>Kalau menikmati buku <em>Goodbye, Things</em>, kemungkinan buku ini pun akan Pembaca nikmati. Dengan gaya bahasa motivasi yang <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kenapa-sih-harus-judgemental/">tidak <em>judgemental</em></a>, buku ini terasa dekat dan aplikatif di kehidupan kita sehari-hari.</p>



<p>Salah satu poin penting dari buku ini adalah Sasaki banyak menggunakan percobaan yang sudah dilakukan oleh berbagai pihak untuk menjelaskan bagaimana kerja otak kita ketika membangun dan melakukan kebiasaan.</p>



<p>Satu percobaan yang kerap dibahas oleh Sasaki adalah uji <em>marshmallow </em>untuk membuktikan kalau manusia cenderung akan mengambil &#8220;imbalan&#8221; yang ada di depan mata dan mudah dilakukan. </p>



<p>Hanya saja, 50 tips yang dibuat berurutan tanpa ada subbab cukup membingungkan. Rasanya mustahil kita bisa mengingat semuanya. Jika ada subbab, setidaknya kita bisa mengingat poin-poin penting yang ada di dalam buku ini.</p>



<p>Selain itu, isinya juga terasa kurang padat. Mungkin karena Penulis sudah membaca buku tentang kebiasaan yang lebih detail seperti <em>Atomic Habits</em>. Walaupun begitu, tetap ada beberapa hal baru yang bisa Penulis petik dari buku ini. </p>



<p>Untuk yang ingin mendalami seputar kebiasaan, buku ini Penulis rekomendasikan sebagai awal. Jika ingin buku tentang kebiasaan yang lebih dalam, Pembaca bisa membaca <em>Atomic Habits </em>atau <em>The Power of Habit </em>karya Charles Duhigg.</p>



<figure class="wp-block-jetpack-rating-star" style="text-align:center"><span>★</span><span>★</span><span>★</span><span>★</span></figure>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 21 November 2021, terinspirasi setelah membaca <em>Hello, Habits </em>karya Fumio Sasaki</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-hello-habits/">Setelah Membaca Hello, Habits</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-hello-habits/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Membangun Kebiasaan Baik Itu Memang Sangat Sulit</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/membangun-kebiasaan-baik-itu-memang-sangat-sulit/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/membangun-kebiasaan-baik-itu-memang-sangat-sulit/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 27 Oct 2021 00:54:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[kebiasaan]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[produktif]]></category>
		<category><![CDATA[produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[rutinitas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5380</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bagi kebanyakan orang, memiliki serangkaian kebiasaan baik adalah salah satu hal yang menjadi impian. Kalau bisa, kebiasaan-kebiasaan baik tersebut menjadi rutinitas dalam keseharian dan kita bisa melakukannya secara otomatis. Sayangnya, memelihara kebiasaan baik itu ternyata sangat sulit. Memulainya mungkin lebih mudah, tapi mempertahankan konsistensinya itu memiliki tantangan tersendiri. Setidaknya, itu yang Penulis alami selama ini. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/membangun-kebiasaan-baik-itu-memang-sangat-sulit/">Membangun Kebiasaan Baik Itu Memang Sangat Sulit</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Bagi kebanyakan orang, memiliki serangkaian kebiasaan baik adalah salah satu hal yang menjadi impian. Kalau bisa, kebiasaan-kebiasaan baik tersebut menjadi rutinitas dalam keseharian dan kita bisa melakukannya secara otomatis.</p>



<p>Sayangnya, memelihara kebiasaan baik itu ternyata sangat sulit. Memulainya mungkin lebih mudah, tapi mempertahankan konsistensinya itu memiliki tantangan tersendiri. Setidaknya, itu yang Penulis alami selama ini.</p>



<p>Pada tulisan kali ini, Penulis ingin berbagi sedikit pengalaman dan pendapatknya mengenai membangun kebiasaan baik. Semoga saja tulisan ini bisa bermanfaat bagi yang membacanya, terlebih lagi bagi Penulis sendiri.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Pengalaman Penulis Membangun Kebiasaan Baik</h2>



<p>Ada banyak sekali kebiasaan-kebiasaan baik yang ingin Penulis lakukan dalam hidupnya. Secara garis besar Penulis membaginya menjadi dua, yakni <strong>rutinitas pagi</strong> dan <strong>rutinitas malam</strong>. Beberapa di antaranya adalah:</p>



<ul class="wp-block-list"><li>Rutinitas Pagi<ul><li>Bangun pagi</li><li>Mengaji setelah sholat Shubuh</li><li>Merapikan tempat tidur</li><li><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hacks-1-to-do-list-harian/">Mencatat <em>to-do list </em>harian</a></li><li>Olahraga/lari pagi</li><li>Mengerjakan soal latihan melalui <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=com.wonder&amp;hl=en&amp;gl=US">aplikasi Elevate</a></li><li>Baca buku</li><li>Menulis artikel blog</li><li>Mandi pagi</li></ul></li><li>Rutinitas Malam<ul><li>Minum vitamin</li><li>Mencatat aktivitas yang telah dilakukan hari itu</li><li>Menulis jurnal harian</li><li>Meditasi</li></ul></li></ul>



<p>Bahkan, Penulis sudah membuat semacam jam berapa saja Penulis harus melakukan aktivitas-aktivitas tersebut. Sebagai orang yang suka hidupnya tertata, Penulis merasa nyaman jika memiliki rutinitas harian seperti ini.</p>



<p>Hanya saja, pada prakteknya <strong>melakukan kebiasaan-kebiasaan tersebut tidaklah mudah</strong>. Seringnya, Penulis akan mencari berjuta alasan untuk tidak melakukannya. Masalahnya jika <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hacks-2-dont-break-the-chain/">sudah berhenti sekali dua kali</a>, kita akan kesulitan untuk melanjutkan kebiasaan tersebut.</p>



<p>Kebanyakan kebiasaan di atas hanya berhasil dilakukan secara terus-menerus selama beberapa minggu. Kadang ada yang berhasil dilakukan selama beberapa bulan, tapi ada yang hanya dilakukan beberapa hari.</p>



<p>Ketika gagal melakukan daftar kebiasaan yang ingin dilakukan, perasaan bersalah pun akan muncul. Untuk mengabaikan perasaan tersebut, Penulis akan melakukan pelarian dengan melakukan hal yang tidak produktif.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kenapa Kebiasaan Baik Susah untuk Dilakukan?</h2>



<p>Sepertinya sudah kodrat manusia untuk susah membangun<strong> kebiasaan baik karena cenderung susah dan membutuhkan <em>effort </em>lebih</strong> untuk dilakukan. Berbeda dengan kebiasaan buruk yang menyenangkan dan sangat mudah untuk dilakukan.</p>



<p>Sebagai contoh, kebiasaan lari pagi. Upaya yang harus kita lakukan adalah bangun pagi, melawan dinginnya pagi, menyiapkan sepatu, lalu mengeluarkan energi yang tidak sedikit ketika berlari.</p>



<p>Bandingkan dengan kebiasaan buruk seperti <em>scrolling </em>media sosial. Kita hanya butuh rebahan di atas kasur dan sebuah <em>smartphone </em>beserta internet untuk melakukannya. Sama sekali tidak susah, bukan?</p>



<p>Menulis artikel blog membutuhkan ide dan <em>mood </em>agar tulisan bisa mengalir. Penulis juga harus melakukan riset kecil-kecilan dan mencari gambar ilustrasi yang cocok untuk artikel tersebut. Berbeda jika Penulis ingin bermain <em>game</em>, tinggal buka Steam dalam hitungan detik.</p>



<p>Bukan berarti <em>scrolling </em>media sosial dan bermain <em>game </em>termasuk kebiasaan buruk, kecuali jika dilakukan secara berlebihan tanpa mengenal batas waktu. Hanya saja, kedua aktivitas tersebut kerap menjadi lawan terberat produktivitas karena lebih mudah dilakukan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Terus Berusaha Membangun Kebiasaan Juga Termasuk Kebiasaan</h2>



<p>Penulis sedang membaca buku berjudul <em>Hello, Habits</em> karya Fumio Sasaki. Menjelang akhir bagian buku, sang penulis menyebutkan kalau &#8220;<strong>tindakan untuk terus membentuk kebiasaan adalah kebiasaan juga</strong>&#8220;.</p>



<p>Artinya, tidak masalah jika kita sering gagal dalam membangun kebiasaan. Yang lebih penting adalah <strong>kita terus berusaha untuk membangun kebiasaan </strong>tersebut, tak peduli berapa kali harus terhenti karena berbagai alasan.</p>



<p>Entah sudah berapa kali Penulis mengalami &#8220;kegagalan&#8221; dalam mempertahankan kebiasaan-kebiasaan baik yang ingin dilakukan. Buku <em>to-do list </em>milik Penulis sudah entah berapa kali lompat-lompat karena tidak diisi secara rutin.</p>



<p>Akan tetapi, Penulis terus berusaha untuk memulai lagi dan lagi, tak peduli sudah gagal berapa kali pun. Kadang butuh waktu satu minggu untuk mulai lagi, kadang butuh waktu hingga satu bulan lamanya. Yang penting, Penulis terus berusaha membangun kebiasaan baik tersebut.</p>



<p>Ketika memulai ulang, Penulis menerapkan ilmu yang dibaca di buku <strong><em>Atomic Habits</em>:</strong> Mulai dari sedikit dulu. Waktu rutin lari pagi, Penulis sanggup hingga 5-6 putaran. Karena sudah lama berhenti, Penulis mulai dari 2-3 putaran dulu, nanti akan ditambah secara bertahap.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Kadang terbesit pikiran, &#8220;Halah, ngapain juga usaha punya kebiasaan baik, nanti juga ujung-ujungnya berhenti lagi.&#8221; <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/satu-hari-untuk-pikiran-negatif/">Pikiran-pikiran negatif</a> seperti ini harus segera dihalau sejauh mungkin karena hanya menghambat kita untuk berkembang.</p>



<p><strong>Melakukannya dan gagal jauh lebih baik dibandingkan tidak melakukannya sama sekali</strong>. Apa yang akan terjadi nanti biarlah terjadi nanti, yang penting saat ini kita berusaha untuk melakukannya. Kalaupun memang gagal, kita hanya perlu mencobanya lagi.</p>



<p>Membangun kebiasaan baik memang susah, sangat susah. Namun, yang lebih penting adalah kita terus berusaha untuk membangun kebiasaan-kebiasaan baik tersebut, tak peduli mau gagal berapa kali pun.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 27 Oktober 2021, terinspirasi setelah merasa menjaga konsistensi melakukan kebiasaan baik itu sangat susah</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@the5th">THE 5TH (@the5th) on Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/membangun-kebiasaan-baik-itu-memang-sangat-sulit/">Membangun Kebiasaan Baik Itu Memang Sangat Sulit</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/membangun-kebiasaan-baik-itu-memang-sangat-sulit/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Productivity Hacks #2: Don&#8217;t Break the Chain</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hacks-2-dont-break-the-chain/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hacks-2-dont-break-the-chain/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 19 Aug 2021 15:09:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[#ProductivityHacks]]></category>
		<category><![CDATA[gaya hidup]]></category>
		<category><![CDATA[kebiasaan]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[produktif]]></category>
		<category><![CDATA[produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[rutinitas]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<category><![CDATA[to-do list]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5231</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bisa menjadi manusia yang produktif adalah impian banyak orang. Kalau bisa, waktu kita di dunia yang sebentar ini digunakan untuk sesuatu yang bermanfaat. Tapi yang namanya manusia, terkadang (atau sering?) ada rasa malas. Tak jarang kita memutuskan untuk menunda pekerjaan, hingga ada &#8220;pepatah&#8221; mengatakan kalau bisa dikerjakan besok kenapa sekarang? Penulis berusaha mendorong dirinya untuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hacks-2-dont-break-the-chain/">Productivity Hacks #2: Don&#8217;t Break the Chain</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Bisa menjadi manusia yang produktif adalah impian banyak orang. Kalau bisa, waktu kita di dunia yang sebentar ini digunakan untuk sesuatu yang bermanfaat.</p>



<p>Tapi yang namanya manusia, terkadang (atau sering?) ada rasa malas. Tak jarang kita memutuskan untuk menunda pekerjaan, hingga ada &#8220;pepatah&#8221; mengatakan <em>kalau bisa dikerjakan besok kenapa sekarang?</em></p>



<p>Penulis berusaha mendorong dirinya untuk bisa menjadi manusia yang produktif. Salah satu caranya adalah dengan memiliki <a href="https://whathefan.com/produktivitas/rutinitas-pagi-harian-bagian-1/">rutinitas harian</a>, yang pernah Penulis bahas beberapa waktu lalu.</p>



<p>Bisa dibilang, praktiknya susah luar biasa. Apalagi jika sudah berhenti lama melakukan kebiasaan baik, untuk memulainya lagi sangatlah sulit.</p>



<p>Akhir-akhir ini karena situasi hatinya yang sedang buruk, Penulis sedang gencar memulai hidup produktif lagi. Berbagai cara Penulis lakukan agar bisa seperti dulu lagi, ketika mampu konsisten melakukan rutinitas pagi.</p>



<p>Dari pengalamannya, Penulis menemukan satu kunci untuk bisa konsiten melakukan kebiasaan baik: <em><strong>don&#8217;t break the chain</strong></em><strong>. </strong>Jangan putuskan rantainya.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Berhenti Menulis <em>To-Do List</em></h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/dont-break-the-chain-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5233" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/dont-break-the-chain-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/dont-break-the-chain-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/dont-break-the-chain-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/dont-break-the-chain-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Susah Melawan Rasa Malas (<a href="https://unsplash.com/@cathrynlavery">Cathryn Lavery</a>)</figcaption></figure>



<p>Penulis kebetulan adalah tipe orang yang suka dengan rutinitas. Penulis tidak menyukai sesuatu yang sifatnya spontan dan mendadak. Kalau bisa, semua tertata rapi dan terorganisir dengan baik.</p>



<p>Oleh karena itu, salah satu metode untuk produktif yang cocok untuk Penulis adalah <strong><a href="https://whathefan.com/produktivitas/productivity-hacks-1-to-do-list-harian/">memiliki <em>to-do list</em> harian</a></strong>. Penulis rutin melakukannya mulai awal tahun ini, namun tersendat di bulan Juli karena berbagai macam alasan.</p>



<p>Salah satu hal yang membuat Penulis merasa malas menulis <em>to-do list </em>belakangan ini adalah karena merasa tidak banyak yang harus dikerjakan selain pekerjaan kantor dan menulis artikel blog. Akhirnya, buku <em>to-do list </em>Penulis pun terbengkalai beberapa minggu.</p>



<p>Penulis pun memutuskan untuk mengubah format buku <em>to-do list </em>miliknya. Anggap saja <em>to-do list </em>harian versi 2. Mungkin Penulis akan membuat artikel terpisah tentangnya karena Penulis sangat menyukai format baru ini.</p>



<p>Pada buku <em>to-do list </em>v2 ini, Penulis akan mencatat <em>morning routine </em>dan <em>evening routine </em>di sini. Setiap Penulis berhasil melakukan rutinitas atau kebiasaan ini, Penulis akan memberi tanda merah di kotaknya.</p>



<p>Ketika melihat daftar rutinitas yang berhasil dikerjakan hari ini, Penulis jadi terpacu untuk bisa melakukannya lagi keesokan harinya. Akhirnya,<strong> terbentuk semacam &#8220;rantai&#8221; kebiasaan</strong> yang membuat Penulis berusaha agar jangan sampai rantai itu putus.</p>



<p>Nah, inilah salah satu kunci keberhasilan untuk bisa konsisten melakukan kebiasaan dan menjadi lebih produktif.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Rantai yang Tampak Mata</h2>



<figure class="wp-block-image size-large is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/dont-break-the-chain-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5234" width="740" height="493" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/dont-break-the-chain-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/dont-break-the-chain-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/dont-break-the-chain-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/08/dont-break-the-chain-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 740px) 100vw, 740px" /><figcaption>Harus Kelihatan Mata (<a href="https://unsplash.com/@epicantus">Daria Nepriakhina</a>)</figcaption></figure>



<p>Sebelumnya, Penulis sering mencatat kebiasaan-kebiasaan melalui aplikasi <em>Loop Habit Tracker</em> di smartphone-nya. Ada banyak kebiasaan yang Penulis tuliskan di sana, termasuk kewajiban sholat lima waktu.</p>



<p>Hanya saja karena tidak tampak fisik, Penulis menjadi tidak bersemangat untuk mengerjakan semuanya. Penulis seolah merasa tidak punya motivasi untuk mengerjakan daftar kebiasaan yang seharusnya dilakukan.</p>



<p>Setelah menonton beberapa video di YouTube, ternyata memang sebaiknya catatan kebiasaan itu ditulis dalam buku fisik yang selalu kelihatan mata. Kalau di smarpthone, kita harus buka aplikasinya terlebih dahulu.</p>



<p>Selain itu, kita pun jadi menuliskan daftar kebiasaan secara fisik setiap hari. Hal tersebut mampu memberikan sugesti kepada diri agar melakukan hal-hal yang sudah dicatat.</p>



<p>Maka dari itu, Penulis memutuskan untuk menuliskannya di buku catatan dan meletakkannya di atas meja sepanjang hari, berhubung Penulis menghabiskan sebagian besar waktunya di depan meja kerja.</p>



<p>Sebagai orang yang perfeksionis, Penulis akan merasa gatal apabila ada kotak-kotak yang masih kosong. Penulis pun jadi terdorong untuk segera melakukan kegiatan yang kotaknya masih kosong tersebut.</p>



<p>Berdasarkan pengalaman tersebut, Penulis jadi meyakini kalau <strong>rantai kebiasaan yang ingin kita lakukan haruslah tampak mata</strong>. Salah satu caranya adalah dengan menuliskannya secara fisik dan meletakannya di tempat yang selalu terlihat.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kenapa Mempertahankan Rantai Itu Penting</h2>



<p>Bagi orang yang ingin hidup produktif, memiliki rutinitas harian bisa menjadi salah satu hal yang sangat membantu. Namun, perlu dicatat bahwa yang susah adalah <a href="https://whathefan.com/produktivitas/menjaga-konsistensi/">mempertahankan konsistensi</a>.</p>



<p>Sekali rantai kebiasaan tersebut putus, dorongan untuk meninggalkan kebiasaan tersebut sangat besar. Rasanya begitu berat untuk memulai lagi dari awal. Ada juga perasaan kecewa karena rantai tersebut harus terputus.</p>



<p>Untuk menghindari hal tersebut, coba saja dimulai sedikit demi sedikit saja. Mungkin dari satu kebiasaan dulu. Jika sudah berhasil konsisten, tambah lagi kebiasaan baru dan begitu seterusnya.</p>



<p>Penulis sendiri sekarang sedang merutinkan delapan rutinitas, empat di pagi hari dan empat di malam hari. Walaupun terdengar banyak, sebenarnya kebiasaan yang Penulis catatkan tidak membutuhkan waktu panjang.</p>



<p>Ada beragam cara untuk mempertahankan rantai tersebut untuk tetap tersambung. Cara yang sedang Penulis terapkan adalah salah satunya. </p>



<p>Berhubung baru jalan tiga hari, Penulis belum bisa menyimpulkan kalau metode ini berhasil. Walaupun begitu, caranya layak untuk dicoba agar hidup ini menjadi lebih produktif.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p>Lawang, 19 Agustus 2021, terinspirasi dari usahanya sendiri untuk menjadi pribadi yang lebih produktif</p>



<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@jjying">JJ Ying</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hacks-2-dont-break-the-chain/">Productivity Hacks #2: Don&#8217;t Break the Chain</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hacks-2-dont-break-the-chain/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Setelah Membaca Atomic Habits</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-atomic-habits/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-atomic-habits/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 20 Feb 2021 09:00:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[James Clear]]></category>
		<category><![CDATA[kebiasaan]]></category>
		<category><![CDATA[kecil]]></category>
		<category><![CDATA[perubahan]]></category>
		<category><![CDATA[produktif]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4425</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis banyak membaca buku tentang self-improvement, mulai dari John C. Maxwell, Anthony Robbins, Robert Kiyosaki, Dale Carnegie, Napoleon Hill, dan masih banyak lainnya. Buku-bukunya bagus, banyak memberikan inspirasi dan motivasi. Hanya saja, Penulis merasa buku-buku yang sudah Penulis baca terkadang terasa terlalu utopis. Akibatnya, praktik-praktik yang ada di dalam buku menjadi susah untuk diterapkan dalam kehidupan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-atomic-habits/">Setelah Membaca Atomic Habits</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis banyak membaca buku tentang <em>self-improvement</em>, mulai dari John C. Maxwell, Anthony Robbins, Robert Kiyosaki, Dale Carnegie, Napoleon Hill, dan masih banyak lainnya.</p>
<p>Buku-bukunya bagus, banyak memberikan inspirasi dan motivasi. Hanya saja, Penulis merasa buku-buku yang sudah Penulis baca terkadang terasa terlalu utopis.</p>
<p>Akibatnya, praktik-praktik yang ada di dalam buku menjadi susah untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, setidaknya bagi Penulis sendiri. Sering Penulis lupa apa inti dari buku tersebut.</p>
<p>Nah, kalau buku <em><strong>Atomic Habits</strong> </em>karya <strong>James Clear</strong> yang satu ini berbeda. Penulis merasa buku ini <em>gue </em>banget dan langsung menobatkannya menjadi buku <em>self-improvement </em>terbaik.</p>
<h3>Apa Isi Buku Ini?</h3>
<p>Dari judulnya, mungkin kita sudah tahu kalau fokus buku ini adalah <strong>bagaimana cara menanamkan kebiasaan baik</strong> (dan menghilangkan kebiasaan buruk) <strong>dimulai dari yang terkecil.</strong></p>
<p>Bangun lebih awal lima menit, baca buku satu halaman per hari, menulis satu paragraf satu hari, lari satu putaran setiap pagi, dan banyak contoh lainnya.</p>
<p>Buku ini berusaha meyakinkan kita kalau<strong> perubahan itu dimulai dari yang terkecil</strong>, bukan hanya memikirkan hal-hal yang besar.</p>
<p>Dalam membentuk sebuah kebiasaan baik, kita bisa mengikuti langkah-langkah yang telah dituliskan Clear pada buku ini. Ada empat kaidah utama yang menjadi inti dari buku ini:</p>
<ol>
<li><strong>Menjadikannya Terlihat</strong></li>
<li><strong>Menjadikannya Menarik</strong></li>
<li><strong>Menjadikannya Mudah</strong></li>
<li><strong>Menjadikannya Memuaskan</strong></li>
</ol>
<p>Kita harus membuat kebiasaan baik bisa dilakukan dengan mudah. Contohnya adalah dengan selalu menyiapkan buku catatan di meja atau menyiapkan sepatu di depan pintu kamar.</p>
<p>Setelah itu, kita bisa mengombinasikan kebiasaan yang terkesan sulit dan merepotkan dengan kebiasaan yang menyenangkan untuk kita.</p>
<p>Faktor lingkungan juga sangat penting agar kita bisa mempertahankan kebiasaan baik. Perlu diingat, <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/menjaga-konsistensi/">mempertahankan kebiasaan</a> jauh lebih sulit daripada memulainya.</p>
<p>Tidak hanya memulai kebiasaan baik, Clear juga memberikan resep tentang bagaimana menghilangkan kebiasaan buruk. Empat kaidah di atas berubah menjadi:</p>
<ol>
<li><strong>Menjadikannya Tidak Kelihatan</strong></li>
<li><strong>Menjadikannya Tidak Menarik</strong></li>
<li><strong>Menjadikannya Sulit</strong></li>
<li><strong>Menjadikannya Mengecewakan</strong></li>
</ol>
<p>Bisa dibilang, cara-cara yang dilakukan adalah kebalikan dari sebelumnya. Sebisa mungkin buat kebiasaan buruk tersebut susah untuk dilakukan.</p>
<p>Seperti yang sudah kita ketahui, kebanyakan kebiasaan baik susah dilakukan dan kebiasaan buruk mudah dilakukan.</p>
<p>Selain empat kaidah yang menjadi empat bab utama di buku ini, ada satu bab lagi berjudul <strong>Taktik-Taktik Tingkat Mahir</strong>. Hanya saja, menurut Penulis bagian ini kurang menarik.</p>
<p>Sebenarnya masih banyak sekali poin-poin yang bisa kita dapatkan dari buku ini. Hanya saja, kurang lebih intinya seperti yang sudah dituliskan di atas.</p>
<h3>Setelah Membaca Buku Atomic Habits</h3>
<p>Penulis sudah lama mengetahui tentang keberadaan buku ini. Hanya saja, waktu itu Penulis merasa ragu-ragu untuk membelinya karena khawatir isinya akan begitu-begitu saja.</p>
<p>Ternyata, keraguan Penulis salah. Buku ini memberi banyak hal kepada Penulis. Beberapa triknya sudah Penulis ketahui, tapi Penulis jadi mengetahuinya secara lebih detail.</p>
<p>Setiap bab memiliki beberapa subbab. Setiap akhir subbab, ada semacam <strong>ringkasan dari poin-poin yang telah dijabarkan</strong> sehingga kita bisa mengingatnya.</p>
<p>Penjelasan yang ada di buku ini kerap menggunakan pengalaman pribadi Clear sendiri, termasuk bagaimana susahnya memulai kebiasaan baik dan seringnya melakukan kebiasaan buruk.</p>
<p>Buku ini tidak terasa mengintimidasi yang mengharuskan kita ini itu. Justru, buku ini meyakinkan kita kalau memulai kebiasaan baik memang susah sehingga wajar jika kita sesekali gagal.</p>
<p>Hanya saja, mau baca buku sebanyak atau sebagus apapun akan menjadi <strong>percuma kalau kita tidak memiliki niat dan tekad yang kuat</strong>.</p>
<p>Buku ini hanya hadir sebagai alat bantu untuk membuat kita mengetahui bahwa yang namanya perubahan itu dimulai dari hal yang terkecil.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nilainya: <strong>4.5/5.0</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 19 Februari 2021, terinspirasi setelah membaca buku <em>Atomic Habits </em>karya James Clear</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-atomic-habits/">Setelah Membaca Atomic Habits</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-atomic-habits/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Rutinitas Pagi Harian (Bagian 2)</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rutinitas-pagi-harian-bagian-2/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rutinitas-pagi-harian-bagian-2/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2020 11:28:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[daily routine]]></category>
		<category><![CDATA[kebiasaan]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[pagi]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[produktif]]></category>
		<category><![CDATA[rutinitas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4143</guid>

					<description><![CDATA[<p>Menyadari bahwa kita harus memiliki kebiasaan baik sudah sering muncul sejak dulu. Hanya saja pada praktiknya, niat tersebut sering pudar karena berbagai alasan. Agar tidak lengah dan bisa konsisten menjalani rutinitas, ada beberapa poin yang harus kita perhatikan. Sedikit Demi Sedikit Keinginan untuk berubah lebih baik sering muncul dari dalam diri Penulis. Sayangnya, selama ini [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rutinitas-pagi-harian-bagian-2/">Rutinitas Pagi Harian (Bagian 2)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Menyadari bahwa kita harus memiliki kebiasaan baik sudah sering muncul sejak dulu. Hanya saja pada praktiknya, niat tersebut sering pudar karena berbagai alasan. Agar tidak lengah dan bisa konsisten menjalani rutinitas, ada beberapa poin yang harus kita perhatikan.</p>
<h3>Sedikit Demi Sedikit</h3>
<!-- /wp:post-content -->

<!-- wp:paragraph -->
<p>Keinginan untuk berubah lebih baik sering muncul dari dalam diri Penulis. Sayangnya, selama ini keinginan untuk berubah itu hanya bertahan sebentar. Setelah beberapa hari, Penulis kembali ke kebiasaan lama.</p>
<!-- /wp:paragraph -->

<!-- wp:paragraph -->
<p>Setelah dipikir-pikir, hal itu terjadi karena dua hal. Satu, <strong>kurangnya tekad</strong>. Dua, <strong>perubahan yang terlalu mendadak</strong>.</p>
<!-- /wp:paragraph -->

<!-- wp:paragraph -->
<p>Ada sebuah buku yang berjudul <em>Atomic Habit</em>. Penulis belum membacanya, tapi Penulis menangkap maksud buku tersebut. Perubahan kebiasaan itu dilakukan secara sedikit demi sedikit, tidak langsung banyak.</p>
<!-- /wp:paragraph -->

<!-- wp:paragraph -->
<p>Untuk masalah bangun pagi misalnya. Kalau Penulis memaksakan diri untuk bangun jam 4 pagi, mungkin tubuh Penulis akan merasa kaget sehingga ujung-ujungnya akan kembali bangun siang.</p>
<!-- /wp:paragraph -->

<!-- wp:paragraph -->
<p>Daripada seperti itu, Penulis memilih untuk bangun jam 4.45. Nanti secara perlahan, waktu bangunnya akan dimajukan secara pelan-pelan.</p>
<!-- /wp:paragraph -->

<!-- wp:paragraph -->
<p>Begitu pula dengan kebiasaan olahraga. Penulis tidak memaksakan diri untuk langsung lari sepuluh putaran. Lebih baik hanya tiga putaran, tapi rutin setiap pagi. Nanti perlahan-lahan jumlahnya ditambah.</p>
<!-- /wp:paragraph -->

<!-- wp:paragraph /-->

<!-- wp:paragraph -->
<p>Seperti kata peribahasa yang sering kita dengar ketika SD, <em>sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit</em>.</p>
<!-- /wp:paragraph -->

<!-- wp:paragraph -->
<h3>Menghilangkan Distraksi</h3>
<!-- /wp:paragraph -->

<!-- wp:paragraph -->
<p>Salah satu hal yang mendukung Penulis untuk melakukan rutinitas paginya adalah <strong>tidak membuka media sosial dan game</strong> hingga pukul tujuh pagi.</p>
<!-- /wp:paragraph -->

<!-- wp:paragraph -->
<p>Kebanyakan dari kita memiliki kebiasaan buruk untuk mengecek HP setelah bangun tidur. Akhirnya, kita malah terlena dan baru beraktivitas beberapa jam setelah bangun.</p>
<!-- /wp:paragraph -->

<!-- wp:paragraph -->
<p>Penulis termasuk salah satu di antaranya. Biasanya kalo weekend, Penulis bisa menghabiskan waktu berjam-jam di atas kasur setelah bangun. Tak jarang selepas Dhuhur baru beraktivitas yang lain.</p>
<!-- /wp:paragraph -->

<!-- wp:paragraph -->
<p>Untuk mendisplinkan diri, Penulis menggunakan aplikasi bantuan bernama <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=cz.mobilesoft.appblock"><strong>AppBlock</strong></a>. Dengan ini, aplikasi-aplikasi yang Penulis pilih tidak akan bisa dibuka dalam jangka waktu tertentu.</p>
<!-- /wp:paragraph -->

<!-- wp:paragraph -->
<p>Sebagai tambahan, Samsung memiliki fitur untuk membatasi penggunaan aplikasi (AppBlock sebenarnya juga memiliki fitur ini). Dengan fitur ini, Penulis bisa membatasi penggunaan media sosial sehingga harinya bisa menjadi lebih produktif.</p>
<!-- /wp:paragraph -->

<!-- wp:paragraph -->
<p>Aplikasi yang Penulis batasi adalah media sosial seperti Instagram, Twitter, Pinterest, dan Quora. Masing-masing Penulis beri jatah <strong>15 menit</strong>. Untuk YouTube dan TikTok, Penulis batasi <strong>30 menit</strong> per hari.</p>
<!-- /wp:paragraph -->

<!-- wp:paragraph -->
<p><a href="https://whathefan.com/pengalaman/istirahat-dari-media-sosial/">Jauh dari hingar bingar media sosial</a> sebenarnya memberikan banyak manfaat. Penulis sudah pernah membahas ini di tulisannya yang lain.</p>
<h3>Menjaga Konsistensi</h3>
<p>Hingga kini, rutinitas pagi ini telah berlangsung selama kurang lebih 20 hari. Ada yang mengatakan, rutinitas akan menempel pada diri kita setelah <strong>dilakukan 40 hari berturut-turut</strong>. Harapannya, Penulis bisa menjaga rutinitas ini hingga hari ke-40 dan seterusnya.</p>
<!-- /wp:paragraph -->

<!-- wp:paragraph -->
<p>Apakah selama 20 hari itu Penulis melakukan rutinitasnya tanpa terputus? Tentu tidak. Ketika sakit, Penulis tidak akan melakukan lari pagi ataupun mengaji. Anggaplah hari itu sebagai <em>cheat day</em>, tapi jangan sampai lebih dari dua hari.</p>
<!-- /wp:paragraph -->

<!-- wp:paragraph -->
<p>Ada teori yang mengatakan<strong> kebiasaan akan terhenti jika rutinitas tidak dilakukan selama dua hari berturut-turut</strong>. Dibutuhkan upaya yang besar agar kita bisa memulai lagi kebiasaan yang ditinggalkan. Penulis sudah sering mengalaminya, sehingga kali ini berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.</p>
<!-- /wp:paragraph -->

<!-- wp:paragraph -->
<h3>Penutup</h3>
<!-- /wp:paragraph -->

<!-- wp:paragraph -->
<p>Dengan menerapkan kebiasaan pagi ini, Penulis merasakan banyak dampak positif. Sekarang, Penulis <strong>bisa tidur cepat</strong> dan <strong>jarang mengalami insomnia</strong>. Selain itu, Penulis juga<strong> rutin buang air besar</strong> setiap hari. Padahal, dulu bisa 3-4 hari sekali.</p>
<!-- /wp:paragraph -->

<!-- wp:paragraph -->
<p>Walaupun begitu, masih banyak hal yang perlu Penulis tingkatkan. Penulis masih sering tidur lagi setelah melakukan rutinitas pagi. Targetnya, tidur bisa dilakukan setelah Dhuhur saja.</p>
<!-- /wp:paragraph -->

<!-- wp:paragraph -->
<p>Selain itu, memiliki rutinitas pagi seharusnya bisa meningkatkan produktivitas hari itu. Penulis masih sering tidak menggunakan waktunya secara bijaksana.</p>
<!-- /wp:paragraph -->

<!-- wp:paragraph /-->

<!-- wp:paragraph -->
<p>Semoga dengan menuliskan artikel ini, Penulis bisa lebih konsisten dalam menjalankan rutinitasnya sembari memperbaiki apa yang masih kurang.    </p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 23 November 2020, terinspirasi dari upaya dirinya sendiri agar memiliki rutinitas pagi harian</p>
<p>Foto: <a href="https://unsplash.com/@dsmacinnes">Danielle MacInnes</a></p><p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rutinitas-pagi-harian-bagian-2/">Rutinitas Pagi Harian (Bagian 2)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rutinitas-pagi-harian-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Rutinitas Pagi Harian (Bagian 1)</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rutinitas-pagi-harian-bagian-1/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rutinitas-pagi-harian-bagian-1/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 23 Nov 2020 13:42:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[daily routine]]></category>
		<category><![CDATA[kebiasaan]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[pagi]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[produktif]]></category>
		<category><![CDATA[rutinitas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4141</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pada tulisan sebelumnya, Penulis telah mengatakan bahwa dirinya ingin melakukan recovery diri selama di Malang. Salah satu hal yang ingin dilakukan adalah memiliki hidup yang lebih produktif. Mulai awal November, Penulis berusaha menjaga rutinitas pagi harian (daily morning routine) yang sedang dibangun hingga hari ini. Dari banyak sumber, kebiasaan baik ini akan memberikan banyak dampak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rutinitas-pagi-harian-bagian-1/">Rutinitas Pagi Harian (Bagian 1)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Pada tulisan sebelumnya, Penulis telah mengatakan bahwa dirinya ingin melakukan <strong><em>recovery </em>diri</strong> selama di Malang. Salah satu hal yang ingin dilakukan adalah memiliki hidup yang lebih produktif.</p>



<p>Mulai awal November, Penulis berusaha menjaga <strong>rutinitas pagi harian</strong> (<em>daily morning routine</em>) yang sedang dibangun hingga hari ini. Dari banyak sumber, kebiasaan baik ini akan memberikan banyak dampak positif untuk diri kita.</p>
<p>Agar lebih termotivasi untuk konsisten melakukannya, Penulis memutuskan untuk menuliskan dan membagikannya di sini.</p>



<h3>Diawali dengan Bangun Pagi dan Ibadah</h3>



<p>Salah satu hal yang ingin Penulis ubah dalam hidup adalah kebiasaan buruknya bangun siang. Sewaktu di Jakarta, Penulis kerap bangun mepet dengan jam masuk kantor.</p>



<p>Akibatnya, beberapa kali waktu Shubuh Penulis terlewat. Badan pun rasanya sering lesu dan kurang berenergi. Hal ini diperparah dengan pola tidur yang berantakan dan insomnia yang kerap melanda.</p>



<p>Mumpung di Malang, Penulis ingin rutin bangun pagi ketika Shubuh dan tidak tidur lagi. Apalagi, ada orangtua yang kerap membangunkan jika Penulis tidur lagi setelah mematikan alarm.</p>
<p>Biasanya Penulis <strong>bangun pukul 4.45</strong>. Selain alarm HP, ada pula alarm dari jam meja. Alhamdulillah sekarang begitu terbangun, rasa kantuk tiba-tiba lenyap seketika. Setelah sholat Shubuh, Penulis menyempatkan diri untuk <strong>mengaji</strong>.</p>
<p>Awalnya Penulis ingin membaca buku setelah sholat, namun jika dipikir-pikir lagi lebih baik membaca Alquran sebelum memulai hari. Kurang lebih 15 menit Penulis mengaji.</p>



<h3>Latihan Otak dan Berbagai Pencatatan</h3>
<p>Aktivitas selanjutnya adalah &#8220;<strong>latihan otak</strong>&#8221; menggunakan aplikasi <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=com.wonder&amp;hl=en&amp;gl=US"><strong>Elevate</strong></a> yang bisa didownload secara gratis di Play Store. Aplikasi ini menyediakan berbagai latihan soal dalam empat kategori, yakni <em>Writing</em>, <em>Listening</em>, <em>Reading</em>, dan <em>Math</em>.</p>
<p>Penulis sudah lama memiliki aplikasi ini. Hanya saja, dulu belum rutin dan kerap berhenti untuk jangka waktu yang lama. Kadang bisa berbulan-bulan Penulis tidak membuka aplikasi ini.</p>







<p>Setelah itu, Penulis akan mencatat beberapa hal seperti <strong>mencatat kegiatan</strong> kemarin (dengan aplikasi <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=com.google.android.calendar"><strong>Google Calendar</strong></a>), <strong>mencatat kebiasaan</strong> apa saja yang berhasil dilakukan (dengan aplikasi <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.isoron.uhabits"><strong>Loop Habit Tracker</strong></a>), dan <strong>mencatat pemasukan dan pengeluaran keuangan</strong> (dengan aplikasi <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=com.droid4you.application.wallet"><strong>Wallet</strong></a>).</p>



<p>Sebenarnya kebiasaan ini telah Penulis lakukan selama bertahun-tahun. Hanya saja, kebiasaan ini sempat berhenti lama (kurang lebih 4 bulan) tahun ini karena suatu hal. Oleh karena itu, Penulis berusaha mengembalikan kebiasaan ini.</p>



<h3>Olahraga Pagi dan Membaca Buku</h3>



<p>Selain susah bangun pagi, apa yang ingin Penulis perbaiki adalah kurangnya Penulis berolahraga. Badan ini rasanya sangat malas jika disuruh bergerak, apalagi di pagi hari yang dinginnya menggigit.</p>
<p>Ketika akan memulai, rasanya berat sekali. Untunglah ada tetangga Penulis bernama Paskah yang sangat rajin mengajak Penulis untuk lari pagi. Akhirnya, sekarang Penulis mulai <strong>rutin lari pagi </strong>setiap hari.</p>



<p>(Sekarang Paskah sudah masuk bintara, sehingga sekarang Penulis lari pagi sendirian)</p>



<p>Tidak jauh jarak yang Penulis tempuh, hanya tiga putaran lari dan satu putaran jalan kaki sebagai pendinginan. Jarak totalnya kurang lebih 2.5 kilometer. Lumayan untuk orang yang jarang berolahraga.</p>



<p>Aktivitas <strong>membaca buku</strong> Penulis lakukan setelah selesai berolahraga dan menyapu halaman. Sekalian meluruskan kaki yang baru saja digunakan untuk berlari. Biasanya, Penulis akan membaca sekitar 30 sampai 45 menit.</p>



<p>Setelah itu, barulah Penulis melakukan aktivitas lainnya seperti beres-beres rumah, kerja, ataupun membuat materi Whathefan. Jika diringkas, maka rutinitas pagi harian Penulis akan terlihat seperti ini:</p>
<p>04:45-05:00 Sholat Shubuh<br />05:00-05:15 Mengaji<br />05:15-05:30 Latihan Otak + Berbagai Pencatatan<br />05:30-06:00 Lari Pagi + Sapu Halaman<br />06:00-06:30 Baca Buku</p>
<h3>Hal Penting Lainnya</h3>
<p>Dalam menjaga rutinitas harian, ada beberapa hal yang perlu diingat seperti jangan memulai kebiasaan baru dengan porsi yang langsung besar, mengurangi distraksi, hingga menjaga konsistensi.</p>
<p>Untuk poin-poin ini, akan Penulis bahas pada tulisan berikutnya agar tulisan ini agar <del>mengurangi jatah menulis untuk minggu ini</del> tidak menjadi terlalu panjang dan membuat Pembaca merasa jenuh.</p>



<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 23 November 2020, terinspirasi dari upaya dirinya sendiri agar memiliki rutinitas pagi harian</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@gervynlouis">Gervyn Louis</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rutinitas-pagi-harian-bagian-1/">Rutinitas Pagi Harian (Bagian 1)</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rutinitas-pagi-harian-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
