Connect with us

Produktivitas

Kenapa Saya Justru Suka Hari Senin

Published

on

Bagi kebanyakan orang, hari Senin kerap menjadi sesuatu yang menakutkan. Hal ini dapat dimaklumi, mengingat Senin adalah hari pertama setelah akhir pekan yang santai dan menyenangkan.

Bagi pelajar, langsung terbayang harus masuk kelas dan harus mempelajari mata pelajaran tertentu. Bagi karyawan, rutinitas harian yang monoton dan tumpukan pekerjaan yang harus dituntaskan pun langsung menyapa di pagi hari.

Agak berbeda dari orang-orang, Penulis justru menyukai hari Senin. Bahkan, terkadang Penulis merasa tidak sabar ingin segera Senin. Pada tulisan kali ini, Penulis akan menjelaskan beberapa alasan yang mendasari hal ini.

Alasan Penulis Menyukai Hari Senin

Anggap Senin Sebagai Awal yang Baru (Kelly Sikkema)

Penulis adalah tipe orang yang menyukai rutinitas dan keteraturan. Semakin tertata, semakin baik. Oleh karena itu, Penulis menyukai hari kerja yang terjadwal. Bahkan, Penulis terbiasa untuk melakukan time block agar manajemen waktunya jadi lebih baik.

Selain rutinitas di tempat kerja, Penulis juga sedang membangun kebiasaan-kebiasaan yang baik, entah dilakukan di pagi hari maupun malam hari. Nah, Penulis secara pribadi sering mengalami kegagalan dalam melakukan rutinitas ini.

Sebagai contoh, kebiasaan lari pagi. Pada akhir tahun 2021, Penulis sempat rutin lari pagi selama tiga bulan. Hanya saja, setelah rantainya terputus cukup lama, sangat susah untuk membangun lagi kebiasaan tersebut.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Penulis sering menggunakan hari Senin sebagai patokan untuk memulai lagi. Jika memang kebiasaan tersebut telah terputus, maka mulai Senin depan harus dimulai lagi.

Selain itu, akhir pekan biasanya Penulis gunakan untuk melakukan evaluasi mingguan. Penulis mencari tahu, mana saja yang perlu dibenahi dan mana saja yang patut mendapatkan apresiasi diri. Dengan begitu, Penulis memiliki semacam panduan untuk memulai Seninnya.

Kelemahan dari Berpatokan pada Hari Senin

Kebiasaan Buruk di Atas Sering Penulis Lakukan (Adrian Swancar)

Apakah cara ini berhasil? Belum tentu. Penulis seringnya berhasil melakukannya tiga hari, lantas terhenti lagi. Ketika di akhir pekan, baru punya semangat untuk memulai lagi ketika hari Senin sudah tiba.

Perlu dicatat kalau hal ini memiliki efek samping. Karena berpatokan pada hari Senin, Penulis jadi sering menyepelekan hari-hari yang dilewati. Misal, Penulis merasa hari Rabunya berantakan. Bukannya membenahinya di hari Kamis, Penulis malah menunggu sampai Senin.

Hanya saja, Penulis memang belum bisa sampai ke tahap yang bisa langsung berbenah dalam waktu cepat. Untuk itu, Penulis merasa menggunakan hari Senin sebagai patokan untuk memulai lagi kebiasaan baik yang tertinggal adalah yang paling cocok untuk saat ini.

Selain itu, Penulis sering merasa kalau Senin adalah hari di mana Penulis paling produktif di antara hari lainnya. Mungkin, itu juga karena dipengaruhi oleh mindset kalau Penulis sedang membuka lembaran baru di hari pertama dari tujuh hari yang akan dijalani ke depan.

Tentu Penulis harus membuka minggu dengan semangat dan penuh pikiran positif. Kalau di hari pertamanya saja mood dan rutinitasnya sudah kacau, bagaimana akan menjalani keenam hari lainnya?

Penutup

Jika menyukai hari Senin, lantas hari apa yang kurang disukai oleh Penulis? Sebenarnya tidak ada, tapi jika disuruh memilih, mungkin pertengahan weekday mulai hari Selasa hingga Kamis. Alasannya sederhana, karena semangat Seninnya sudah mulai luntur.

Seperti yang sudah dibahas di atas, jika merasa minggu yang Penulis jalani kurang baik, Penulis akan segera berharap hari Senin akan segera datang agar bisa memulai awal yang baru lagi dan memperbaiki kekurangan-kekurangan yang terjadi di minggu ini.

Penulis yang dasarnya pemalas biasanya akan mengulangi kesalahan-kesalahan yang sama, seperti kurang disiplin, susah bangun pagi, hingga time management yang buruk. Belum lagi kebiasaan menonton YouTube atau main media sosial berjam-jam.

Namun, menginjak hari Senin seringkali memberikan semangat baru yang positif bagi Penulis. Tidak peduli berapa kali kita gagal, yang penting adalah kita harus mampu bangkit lebih banyak dari kegagalan tersebut. Hari Senin ada untuk membantu kita memulai lagi.


Lawang, 22 Agustus 2022, terinspirasi setelah menyadari kalau dirinya menyukai hari Senin

Foto: Tara Winstead on Pexels

Produktivitas

Saya Mulai Mencatat Apa yang Sedang Saya Baca

Published

on

By

Membaca telah menjadi hobi Penulis sejak lama. Penulis belum pernah menghitung jumlah pastinya, tapi Penulis yakin kalau jumlah buku yang pernah dibaca seumur hidup sudah mencapai ratusan.

Walau begitu, tidak semua buku yang Penulis baca benar-benar Penulis ingat. Terkadang, terutama buku-buku yang sudah lama dibaca, Penulis lupa apa saja isinya dan poin-poin penting yang dibahas. Penulis baru ingat kalau isinya benar-benar berkesan.

Oleh karena itu, ditambah dengan semakin bertambahnya usia, Penulis mencoba untuk mencatat apa yang sedang dibaca. Jadi, ketika sedang membaca buku (terutama nonfiksi), Penulis akan menyiapkan sebuah catatan kecil beserta bolpoin.

Bagaimana Penulis Mencatat Apa yang Sedang Dibaca

Penulis memulai mencatat apa yang sedang dibaca pada tanggal 29 April 2026. Judul pertama yang Penulis catat adalah Merawat Luka Batin yang ditulis oleh dr. Jiemi Ardian, Sp.KJ. Penulis tidak menulis sejak halaman pertama, tapi melanjutkan saja dari yang terakhir dibaca.

Apa yang Penulis catat adalah apa yang menurut Penulis penting atau menarik. Jadi, ketika membaca sesuatu Penulis sampai bergumam “ooooh”, biasanya akan Penulis catat. Bentuk kalimatnya pun sesuai yang ada di kepala, bukan ditulis ulang (kecuali ada quote yang menarik).

Contoh di buku Merawat Luka Batin, di halaman 186 Penulis mencatat: Hindari “seharusnya” jika sesuatu terjadi di luar keinginan kita. Bagi Penulis, kalimat itu cukup menggugah hati, bahkan Penulis sudah membuat draft artikel yang terinspirasi dari kalimat tersebut.

Penulis berusaha untuk membuat catatan buku ini sesederhana mungkin agar tidak memberatkan, seperti yang diungkap buku Atomic Habits maupun Effortless. Cukup ada keterangan judul, tanggal buku dibaca, dan halaman yang sedang disorot, lalu baru menulis poin-poin yang ingin dicatat.

Selain agar bisa mengingat poin-poin penting dari buku yang sedang dibaca, salah satu tujuan mencatat ini adalah untuk memudahkan proses pembuatan artikel review di blog ini. Seringnya karena selesainya sudah agak lama, jadi ada poin-poin yang terlewat untuk dibahas.

Alasan lain mengapa Penulis membutuhkan catatan ini adalah Penulis hobi berpindah-pindah bacaan, tergantung dirinya sedang ingin membaca genre atau topik apa. Bisa saja satu buku baru dibaca lagi satu bulan kemudian atau bahkan lebih.

Dengan adanya catatan ini, Penulis setidaknya bisa me-review secara singkat apa saja yang terakhir Penulis baca dari buku ini. Dengan begitu, Penulis bisa lebih nyambung dengan bab selanjutnya yang akan dibaca.

Lantas, mengapa harus capek-capek mencatat di sebuah buku? Karena Penulis tidak akan tega mencoret-coret buku atau sekadar menempelkan notes. Mungkin tidak akan selengkap yang dilakukan oleh “joki buku” yang sedang viral saat ini.

Pemilihan notes kecil berukuran A5 pun ada alasannya, yaitu biar mudah dibawa ke mana-mana. Walaupun punya kamar yang bisa dibilang nyaman untuk membaca, Penulis kerap berpindah lokasi ketika membaca untuk berganti suasana.

Memindahkan Catatan Fisik ke Digital

Karena ditulis sesuai dengan urutan buku yang sedang dibaca, maka posisi catatan buku pun tersebar-sebar. Contoh buku Merawat Luka Batin yang tadi, catatan pertama bertanggal 29 April 2026. Penulis baru membaca buku itu lagi pada tanggal 11 Mei 2026.

Di sela-sela itu, Penulis membaca banyak buku nonfiksi lain yang juga dicatat, mulai dari Islam, Otoritarianisme, dan Ketertinggalan, Mengapa Negara Gagal, hingga Start with Why. Seperti yang sudah disinggung, Penulis memang hobi berpindah-pindah bacaan sesuai mood.

Oleh karena itu, Penulis butuh platform lain untuk merapikan catatan buku ini. Notion menjadi jawaban dari permasalahan ini. Penulis bisa menyalin catatan fisiknya dalam format digital, tapi kali ini diurutkan berdasarkan bukunya. Jadi, tak masalah meskipun ada jeda panjang ketika membaca bukunya.

Dengan kombinasi fisik dan digital ini, Penulis bisa memperkecil kemungkinan untuk melupakan apa yang pernah dibaca. Misal sedang membutuhkan inspirasi atau informasi, Penulis juga tinggal membaca ulang catatannya ini.

Penulis tidak setiap hari menyalin catatan fisiknya ke digital. Bisa dibilang, Penulis melakukannya hanya ketika ingin saja. Bahkan, catatan di Notion ini baru sampai bulan Juni, padahal sekarang sudah bulan Oktober. Ada cukup banyak yang belum Penulis salin ke Notion.

Penutup

Sejauh ini, Penulis hanya mencatat buku-buku nonfiksi karena ingin menjadikan fiksi sebagai murni hiburan. Apalagi, jika sebuah cerita fiksi bagus atau berkesan, Penulis pasti akan lebih mudah mengingatnya. Ini berbeda dengan nonfiksi yang memiliki banyak sekali poin penting yang bisa sulit untuk terus diingat.

Selain itu, Penulis rasanya juga perlu mengutarakan kekurangan metode ini. Adanya “beban” untuk mencatat buku terkadang justru menghentikan Penulis membaca buku. Jika seperti itu, maka Penulis memutuskan untuk membaca saja tanpa mencatat, nanti kalau sudah mood baru direkap.

Semoga tulisan ini bisa sedikit “menginspirasi” Pembaca yang kerap mengalami keresahan yang sama dengan Penulis, alias suka lupa dengan apa yang sedang dibaca. Buat yang baru ingin mulai rutin membaca, metode pencatatan ini rasanya tidak terlalu direkomendasikan.


Lawang, 6 Oktober 2026, terinspirasi setelah telah mencatat apa yang sedang dibaca dalam sebuah catatan kecil

Continue Reading

Produktivitas

Productivity Hack #4: Kalau Cuma Butuh 5 Menit, Lakukan Sekarang

Published

on

By

Jika ada satu kekurangan pada dirinya sendiri yang begitu ingin dihilangkan, mungkin salah satunya adalah kebiasaan untuk menunda segala sesuatu. Mulai dari hal-hal remeh sampai pekerjaan penting, Penulis punya kecenderungan untuk menundanya (prokrastinasi).

Untuk pekerjaan yang ada deadline-nya, Penulis bisa bilang bisa menyelesaikannya, walau kadang juga harus mepet deadline. Namun, untuk pekerjaan yang tidak memiliki deadline, ada peluang besar dari later menjadi never.

Menyadari hal ini, Penulis pun mencoba melakukan metode sederhana yang sedang berusaha diterapkan di kesehariannya. Metode tersebut adalah “Aturan 5 Menit”, di mana jika sebuah pekerjaan bisa diselesaikan dalam waktu kurang dari 5 menit, kerjakan sekarang juga.

Contoh Aplikasi Aturan 5 Menit

Jangan Tunda Kalau Cuma Butuh Sebentar Melakukannya (Photo by cottonbro studio)

Sebelum menulis artikel ini, Penulis mencoba menerapkan metode ini agar tulisan ini terasa lebih nyata. Ada beberapa aktivitas yang Penulis lakukan di mana beberapa di antaranya sudah diniati sejak lama, tapi belum dikerjakan. Berikut daftarnya:

  • Mengisi ulang botol Cleo di ruang tamu
  • Merapikan tas-tas yang menumpuk dan berserakan dekat kasur
  • Menggantung sweater dan celana training di atas kasur
  • Mengubah posisi lampu LED di kamar (karena terbalik)
  • Membersihkan sarang laba-laba dekat meja kerja (suprisingly ada laba-laba betina beserta anak-anaknya)
  • Membersihkan sarang laba-laba dekat televisi (ada banyak bangkai semut yang mati)

Semua aktivitas tersebut jika waktu mengerjakannya digabung, tidak sampai 15 menit untuk selesai. Akan tetapi, waktu menundanya sudah berminggu-minggu atau lebih parahnya lagi berbulan-bulan. Padahal, tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikannya.

Bagi orang yang suka menunda seperti Penulis, di pikirannya selalu ada kata nanti. Ah, nanti aja dikerjakan. Ah, nanti aja diselesaikan. Ah, nanti aja dipikir. Pada akhirnya, “nanti” ini pun menjadi sesuatu yang tidak pernah dikerjakan dan akhirnya dilupakan.

“Tidak ada nanti”

Mengutip perkataan Shikamaru Nara di atas (manga Naruto Chapter 325) ketika ia berhadapan dengan Hidan, Penulis juga berusaha menghilangkan kata “nanti” dalam kesehariannya. Jika bisa dikerjakan sekarang, kerjakan sekarang.

Ketika sudah berkomitmen untuk menerapkannya, Penulis jadi lebih jarang untuk menunda-nunda pekerjaan terutama yang remeh (tentu terkadang masih ndableg). Alhasil, jadi lebih banyak pekerjaan yang terselesaikan.

Ada banyak hal sehari-hari yang hanya butuh kurang dari 5 menit untuk menyelesaikannya. Membersihkan tempat tidur, merapikan kabel charger setelah digunakan, cuci piring selesai makan, mengembalikan buku setelah selesai membaca, masih banyak lagi lainnya. Bisa dilihat kalau metode ini juga bisa digunakan untuk melatih disiplin diri.

Ketika bekerja pun, metode ini sangat membantu. Penulis terbiasa melakukan time block secara bulat, sehingga selalu ingin mengakhiri jam kerja di waktu bulan seperti jam 12 siang atau setidaknya 12:30. Rasanya sangat tidak enak jika berhenti kerja di jam 12:14, misalnya.

Nah, katakan jam 11:52 Penulis sudah menyelesaikan pekerjaan utamanya yang memakan waktu banyak, Penulis akan mencari pekerjaan-pekerjaan ringan yang bisa selesai dalam waktu singkat sembari menunggu jam 12:00.

Pekerjaan ringan di tempat kerja, walau ringan, bisa menumpuk juga dan membuat Penulis merasa overwhelming. Alhasil, pekerjaan yang ringan pun bisa menjadi penghambat untuk menyelesaikan pekerjaan yang lebih berat.

Sisi Buruk Aturan 5 Menit untuk Orang yang Mudah Terdistraksi

Kuncinya FOCUS (via YouTube)

Ada satu loop hole dari metode ini. Terkadang, karena ada mindset untuk segera mengerjakan pekerjaan-pekerjaan remeh, pekerjaan utama yang harusnya menjadi fokus utama justru jadi terpinggirkan. Ini sangat mudah terjadi ke orang yang mudah terdistraksi seperti Penulis.

Misal Penulis sedang membuat satu artikel di tempat kerja. Ketika ingin upload gambar, Penulis jadi melihat file-file di komputernya yang belum dirapikan. Penulis pun membuat folder baru untuk memisahkan file-file tersebut berdasarkan tanggalnya.

Setelah itu, Penulis jadi teringat belum melengkapi to-do list kantor untuk disetor. Karena cuma butuh waktu sebentar, Penulis pun jadi menyelesaikan hal tersebut terlebih dahulu. Ketika selesai, Penulis ingat belum cek surel redaksi, sehingga Penulis membuka Outlook dulu.

Bisa dilihat hanya karena satu distraksi kecil, pekerjaan menulis yang menjadi fokus utama pun jadi terpinggirkan. Alokasi waktu yang harusnya untuk menyelesaikan tulisan jadi digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan lain yang secara deadline lebih longgar.

Lantas, bagaimana cara mengatasinya? Time block menjadi pilihan utama Penulis. Jika sudah mengalokasikan waktu untuk menulis, maka tidak boleh ada pekerjaan lain yang dikerjakan sampai pekerjaan utama selesai (kecuali ada yang urgent).

Untuk pekerjaan-pekerjaan kecil yang hanya butuh waktu sebentar, Penulis bisa mencatatnya dulu di catatan agar tidak terlupa. Kalau bisa, di catatan fisik yang selalu terlihat mata. Kalau mencatatnya di ponsel, kemungkinan untuk melupakannya akan lebih besar.

Memang terdengar kontradiksi karena pada akhirnya pekerjaan <5 menit tersebut ditunda juga. Namun, skala prioritas juga menjadi sesuatu yang tidak boleh diabaikan. Kita harus tahu mana pekerjaan yang diutamakan, bukan hanya dari durasi untuk menyelesaikannya.

Sejauh ini, Penulis merasakan manfaat dari penerapan metode ini dalam kesehariannya. Sekarang yang menjadi PR adalah bagaimana konsisten melakukannya. Tidak ada nanti.


Lawang, 9 Desember 2025, terinspirasi dari dirinya yang sedang berusaha untuk menghilangkan kebiasaan menunda-nunda

Featured Image Photo by Moose Photos

Continue Reading

Produktivitas

Selama Bangun, Mata Kita Terus Terpapar Layar

Published

on

By

Coba ingat-ingat aktivitas kita dalam sehari-hari mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi di malam hari. Seberapa banyak aktivitas yang melibatkan layar di perangkat elektronik, baik dari ponsel, laptop, hingga televisi?

Penulis sendiri baru-baru ini menyadari bahwa dirinya hampir terpapar layar selama dirinya beraktivitas, mengingat pekerjaan dan hobi menulis Penulis sama-sama menuntut dirinya untuk selalu berada di hadapan layar.

Pada tulisan kali ini, Penulis ini melakukan interopeksi diri mengenai betapa panjangnya durasi dalam satu hari yang dihabiskan untuk menatap layar elektronik yang sejatinya memancarkan blue light.

Bagaimana Penulis Menghabiskan Sebagian Besar Waktunya di Depan Layar

Hari-Hari Lihat Layar (St. Luke’s)

Penulis akan berbagai dari pengalamannya sendiri (di hari kerja) untuk menjelaskan bagaimana kita sangat sering terpapar layar sejak dari bangun tidur. Penulis tidak akan menggunakan contoh “rutinitas yang ideal,” melainkan menggunakan contoh keseharian yang sering dilakukan.

Pagi hari di saat waktu Shubuh, Penulis akan terbangun karena alarm ponsel dan tablet. Setelah menunaikan ibadah sholat, Penulis akan kembali rebahan dan mengecek ponsel. Terkadang Penulis membaca buku dulu, tapi lebih sering mengecek ponsel.

Seringnya, Penulis akan tertidur lagi sekitar 1-2 jam setelah bangun pagi. Penulis baru akan terbangun lagi menjelang morning concall dan brainstorm yang dilakukan setiap pagi jam 9. Kalau lagi malas, Penulis akan rapat di atas kasur, bisa menggunakan tablet maupun laptop.

Biasanya rapat pagi ini berlangsung sekitar 1 jam. Setelah itu, Penulis akan sarapan yang sering dilakukan sambil menonton YouTube. Selesai sarapan (Penulis sarapan cukup siang), Penulis akan kembali bekerja dan berhenti menjelang Dhuhur untuk mandi, rawat diri, dan sholat Dhuhur.

Antara waktu Dhuhur dan Maghrib adalah waktu utama Penulis untuk bekerja di depan PC. Karena memasang larangan untuk mengecek media sosial atau bermain game di jam kerja, Penulis biasanya beristirahat sambil membaca buku, tidur sejenak, atau sekadar bermain dengan kucing.

Masuk jam istirahat di malam hari, biasanya Penulis habiskan dengan cek media sosial ataupun menonton YouTube di televisi ruang keluarga bersama ibu. Makan malam pun seringnya dilakukan sambil menonton televisi.

Jam 9 ke atas, biasanya Penulis kembali masuk ke kamar dan mulai menulis artikel blog di depan laptop. Setelah selesai, Penulis bisa kembali cek media sosial atau bermain game di tablet. Tak jarang juga Penulis menonton YouTube di televisi kamar sebelum akhirnya tidur.

Cara Mengurangi Durasi Melihat Layar

Buku Menjadi “Pelarian” yang Baik (Rahul Shah)

Dari cerita di atas, bisa dilihat kalau hampir seluruh kegiatan Penulis di hari kerja dilakukan dengan melihat layar, entah itu ponsel, tablet, laptop, maupun PC. Mau serius, mau santai, semua berkaitan dengan layar.

Bisa dibilang, hanya ada lima aktivitas yang tidak melibatkan layar sama sekali, yakni ketika sholat, membaca buku, bermain kucing, mandi, dan tidur. Ini menunjukkan bahwa betapa tergantungnya Penulis terhadap perangkat-perangkat elektronik untuk menjalani kesehariannya.

Penulis merasa kalau ini bukan gaya hidup yang sehat. Meskipun pekerjaannya menuntut untuk sering melihat layar, Penulis harusnya bisa mengimbanginya dengan aktivitas-aktivitas lain yang tidak membutuhkan layar.

Membaca buku jelas menjadi opsi yang paling menyenangkan bagi Penulis. Buku bisa menjadi jeda sejenak dari layar sekaligus sebagai penambah wawasan bagi dirinya. Namun, “daya” baca Penulis sudah tidak seperti dulu. Mentok-mentok satu jam sudah lelah, kecuali sedang membaca novel yang seru.

Selain itu, olahraga outdoor seperti lari pagi juga bisa menjadi aktivitas yang sehat. Dulu Penulis cukup rutin melakukannya, bahkan bisa menyebuhkan insomnia yang dideritanya. Namun, belakangan ini entah mengapa rasanya sangat berat untuk melakukannya.

Mencari hobi offline yang tidak membutuhkan layar juga bisa menjadi alternatif. Contoh yang paling gampang tentu saja bermain board game seperti yang sering Penulis lakukan di akhir pekan bersama circle-nya. Tidak hanya bermain, Penulis juga bisa mengobrol dengan teman-temannya.

Hobi offline lain yang bisa menyita waktu kita adalah merakit model kit seperti Gundam, LEGO, dan sejenisnya. Masih ada banyak hobi offline lainnya yang bisa dilakukan, seperti berkebun, futsal, memancing, memasak, menggambar, main musik, dan lainnya.

Penulis juga ingin mengurangi kebiasaan makan sambil nonton YouTube. Walau kesannya multitasking, aktivitas makan sebenarnya bisa menjadi jeda yang baik. Apalagi, sudah seharusnya kita fokus dengan makanan yang ada di hadapan kita dan bersyukur masih bisa menikmatinya.

Kegiatan lain yang perlu dikurangi adalah bermain media sosial. Aktivitas yang satu ini telah terbukti sebagai penyedot waktu terbesar. Walau sudah membatasi diri sekitar 1-2 jam per hari, Penulis merasa itu masih terlalu banyak dan bisa dikurangi lagi agar lebih produktif.

***

Mungkin karena kebetulan saja pekerjaan Penulis menuntut dirinya untuk melihat layar seharian. Apalagi, Penulis masih work from home sampai sekarang. Jadi, tulisan ini bisa jadi tidak related kepada orang-orang yang pekerjaannya tidak selalu mengharuskan mereka untuk melihat layar.

Namun, bagi para Pembaca yang juga menjalani rutinitas seperti Penulis, semoga saja tulisan ini bisa membantu menyadarkan betapa seringnya mata kita terpapar layar elektronik dan mulai mencari alternatif aktivitas lain yang lebih sehat.


Lawang, 1 Oktober 2024, terinspirasi setelah menyadari bahwa dirinya hampir selalu menatap layar monitor dalam banyak bentuk

Sumber Featured Image: Ron Lach

Continue Reading

Fanandi's Choice

Blog ini milik Fanandi Prima Ratriansyah sejak 2018