Connect with us

Anime & Komik

Vegeta adalah Karakter Dragon Ball dengan Pengembangan Terbaik

Published

on

Sejak dulu, di Dragon Ball Penulis lebih memfavoritkan Vegeta daripada Goku. Waktu itu, Penulis sendiri tidak mengetahui alasan pastinya, mungkin karena Vegeta terlihat lebih keren saja dibandingkan Goku yang merupakan protagonis utama.

Saat dewasa, Penulis jadi menyadari kalau salah satu alasan Penulis lebih memfavoritkan Vegeta adalah karena ia memiliki pengembangan karakter (character development) yang sangat baik.

Perubahannya dari awal kemunculannya hingga saat ini benar-benar terasa, apalagi jika dibandingkan dengan Goku yang karakternya seolah tak pernah berubah sejak ia kecil: polos, naif, baik hati. Vegeta memiliki perjalanan hidup yang lebih kompleks.

Vegeta sang Bangsa Saiyan Tulen

Vegeta di Awal Kemunculannya (Planet Minecraft)

Kemunculan Vegeta terjadi saat Saiyan Saga, setelah Raditz berhasil dikalahkan oleh Goku dan Picollo. Ia berniat untuk menginvasi Bumi bersama Nappa demi mendapatkan Dragon Ball untuk mewujudkan impiannya untuk hidup abadi.

Sebagai bangsa Saiyan tulen, Vegeta sangat gemar bertarung dan selalu ingin menjadi yang terkuat di alam semesta. Oleh karena itu, ia cukup terkena mental ketika berhasil dikalahkan Goku dan kawan-kawan di Bumi.

Gagal mendapatkan Dragon Ball Bumi, Vegeta pun berusaha mengumpulkan Dragon Ball di planet Namek. Di saga ini, sifat sadis dan kejam Vegeta masih terlihat di mana ia membantai salah satu desa. Ia juga berusaha memanfaatkan Gohan dan Krilin untuk mencapai tujuannya.

Ketika Goku selalu berusaha menghindari membunuh lawannya, Vegeta bisa dengan dingin membunuh siapapun, yang bisa dilihat ketika ia menghabisi beberapa anggota Pasukan Ginyu di Namek.

Sifanya mulai terlihat lunak ketika ia merasa tak berdaya di hadapan Frieza, bahkan ia sampai menangis. Sebelum akhirnya dibunuh oleh Frieza, ia sampai memohon ke Goku untuk membalaskan dendam bangsa Saiyan yang planet dan rakyatnya dibunuh oleh Frieza.

Setelah Goku mengalahkan Frieza, Vegeta kembali dihidupkan dengan Dragon Ball dan justru jadi tinggal di Bumi, lebih tepatnya di tempat Bulma. Pada akhirnya, Vegeta justru menikah dengan Bulma dan seolah sah menjadi penduduk Bumi.

Mulai Menjadi Pelindung Bumi

Super Vegeta (Dual Shockers)

Saat Frieza yang ternyata belum mati datang ke Bumi untuk balas dendam, Vegeta ikut dalam rombongan yang ingin melindungi Bumi. Meskipun motivasinya saat itu belum jelas, bisa dilihat kalau ia sudah mulai mau berbaur dengan para petarung dari Bumi.

Lalu, ia melihat Future Trunks, yang ternyata bisa berubah menjadi Super Saiyan seperti Goku. Hal tersebut memotivasinya untuk bisa mencapai wujud Super Saiyan juga dan berhasil sekitar tiga tahun kemudian, walau tak lama kemudian ia dipermalukan oleh Android 18.

Meskipun sudah terlihat mulai berubah, sifatnya yang angkuh dan harga dirinya yang selangit masih terlihat. Ia juga terlihat sangat cuek dengan keluarganya, karena ia sama sekali tidak menolong Bulma dan bayi Trunks yang jatuh dari pesawat (yang menolong justru Future Trunks).

Namun, kita bisa menyimpulkan kalau itu ia lakukan bukan karena tidak peduli, melainkan karena ia memang tipe laki-laki tsundere saja yang tak bisa memperlihatkan perasaannya. Buktinya, ia marah besar ketika Future Trunks dibunuh oleh Cell.

Setelah Gohan berhasil mengalahkan Cell, Vegeta terlihat kesal dengan cara mati Goku yang mengorbankan diri saat Cell akan meledakkan diri. Vegeta, yang merasa kalah telak dari Goku dan Gohan, sampai berkata bahwa dirinya tidak akan bertarung lagi.

Selain itu, saat Future Trunks akan kembali ke linimasanya, Vegeta menyendiri di dekat pohon untuk melepas anaknya dari masa depan tersebut. Mereka hanya saling bertukar sapa singkat, tapi itu menggambarkan kalau perasaan Vegeta perlahan mulai melunak.

Bertarung Demi Melindungi Orang Lain

Vegeta Mengorbankan Dirinya Demi Melindungi Orang Lain (Fandom)

Kisah Vegeta di Buu Saga sedikit kompleks. Awalnya, ia mulai terbiasa dengan kehidupan Bumi-nya, termasuk melakukan latihan bersama anaknya, Trunks kecil. Bahkan, Vegeta berjanji akan membawanya ke taman hiburan jika Trunks berhasil mendaratkan pukulan ke wajahnya.

Namun, selanjutnya ia justru dengan sengaja dikuasai oleh Babidy dan menjadi Majin Vegeta. Sifat jahatnya sempat terlihat kembali, hingga Majin Buu bisa dilepaskan oleh Babidy. Majin Vegeta pun berusaha bertarung melawan Majin Buu, tapi ia bukan lawan yang sepadan.

Menyadari perbedaan kekuatan yang sangat jomplang, ia pun mengorbankan dirinya sendiri setelah memeluk Trunks dan menitipkan Bulma kepadanya. Hal ini bahkan sampai membuat Picollo terkejut, karena baru kali inilah Vegeta bertarung demi melindungi orang lain sampai sejauh itu.

Vegeta yang telah tewas akhirnya diberi keistimewaan dan dihidupkan lagi demi membantu mengalahkan Buu yang makin kuat. Bahkan, ia mau melakukan fusion dengan Goku meski awalnya segan. Semua ia lakukan demi melindungi orang-orang yang ia sayangi.

Menurut Penulis, puncak dari pengembangan karakter Vegeta adalah ketika Goku sedang berhadapan dengan Kid Buu di Dunia Kaioo. Seorang Vegeta, mengakui kalau Kakarot (nama asli Goku) adalah yang nomor satu.

Vegeta Menjadi Family Man

Vegeta Sebagai Seorang Ayah (Screen Rant)

Vegeta setelah seri Dragon Ball Z semakin bertransformasi menjadi family man. Di Dragon Ball GT misalnya, ia bahkan menghabiskan waktu bersama anak perempuannya, Bulla, bahkan rela memotong kumisnya karena anaknya tersebut tidak menyukainya.

Vegeta di awal Dragon Ball GT juga jarang terlihat bertarung, meskipun hal tersebut bisa dimaklumi karena cerita lebih banyak terjadi di luar angkasa. Ia baru terlihat sebagai petarung kembali ketika berubah menjadi Super Saiyan 4 dengan bantuan Bulma, sesuatu yang tidak akan dilakukan oleh Vegeta muda.

Tidak hanya itu, ketika berhadapan dengan Omega Shenron, ia juga yang punya inisiatif untuk melakukan fusion dance agar bisa mengalahkannya. Di sini, ia terlihat sudah membuang harga dirinya jauh-jauh demi hal yang lebih penting bagi dirinya: keluarganya.

Di seri Dragon Ball Super juga mirip. Bayangkan, Vegeta rela tidak latihan dan berpartisipasi di turnamen antarsemesta hanya karena ingin menemani Bulma melahirkan anak keduanya, Bulla. Vegeta juga terlihat senang mengendong Bulla, meksipun kesan tsundere-nya sangat terlihat.

Di komik, saat Vegeta sedang bertarung melawan Moro, Picollo mengakui perkembangan karakter Vegeta dari awal pertemuan mereka hingga saat ini, di mana Vegeta bertarung bukan demi dirinya sendiri, tapi demi melindungi Bumi.

Di Granolah the Survivor Saga, Vegeta juga terlihat ingin melakukan penebusan dosa karena bangsa Saiyan juga sempat menginvasi dan membunuh banyak penduduk planet lain. Mungkin semua pertarungan yang ia lakukan sekarang adalah demi menebus kesalahan-kesalahan di masa lalunya.

Mengingat Dragon Ball Super masih on-going dan Dragon Ball Daima akan rilis, kita masih menantikan apakah karakter Vegeta masih bisa berkembang menjadi lebih baik. Yang pasti, sampai sejauh ini, rasanya tak berlebihan jika menobatkan Vegeta sebagai karakter dengan pengembangan terbaik di seri Dragon Ball.


Lawang, 21 Juni 2024, terinspirasi setelah menyadari kalau Vegeta memiliki character development yang sangat baik

Anime & Komik

Yu-Gi-Oh!: Komik, Duel Kartu, dan Nostalgianya

Published

on

By

Beberapa hari terakhir, Penulis kerap menonton konten-konten Yu-Gi-Oh! di YouTube. Entah apa alasannya, mungkin karena ingin nostalgia saja karena sewaktu kecil gemar membaca (bahkan mengoleksi) komiknya.

Penulis pun jadi membaca ulang komiknya, walau tidak semua. Kebetulan, ada beberapa koleksinya yang masih terselamatkan, walau kebanyakan sudah raib entah ke mana. Untuk volume yang hilang, Penulis membacanya di internet.

Gara-gara hal tersebut, Penulis jadi ingin menulis sesuatu tentang Yu-Gi-Oh!. Awalnya Penulis tidak tahu ingin menulis tentang apa, tapi seperti biasa, Penulis lepaskan saja jari-jarinya di keyboard dan membiarkan mereka ingin menulis apa.

Penulis dan Komik Yu-Gi-Oh!

Komik Yu-Gi-Oh! (Shopee)

Seingat Penulis, komik Yu-Gi-Oh! yang pertama kali Penulis baca adalah komik volume 15 milik sepupunya, yang waktu itu menceritakan pertandingan final antara Yugi melawan Pegasus sebagai bos terakhir.

Waktu itu, peraturan duel kartunya masih sakarepe mangakanya (RIP Kazuki Takahashi). Bayangkan saja, kartu sekuat Dark Magician bisa dipanggil tanpa perlu pengorbanan. Hanya saja, waktu masih kecil tentu Penulis tak terlalu memedulikan hal tersebut.

Komik Yu-Gi-Oh! pertama yang Penulis beli sendiri adalah volume 19. Di volume tersebut, ceritanya Yugi sedang mengikuti turnamen duel di Kota Domino dan melawan seseorang yang ternyata juga pemilik kartu Dark Magician.

Yugi vs Arcana di Komik Volume 19 (Fandom)

Dari komik tersebut, Penulis jadi terus melanjutkan membeli komik Yu-Gi-Oh!. Setiap mampir ke toko buku, setiap ada volume baru, pasti akan Penulis beli. Oleh karena itu, koleksi komik Yu-Gi-Oh! Penulis hampir lengkap dari volume 19 hingga 38, yang merupakan volume terakhir.

Penulis tidak tertarik membeli volume-volume awal karena belum ada duel-duel kartu. Di arc Pegasus pun peraturannya masih mentah dan kurang menarik. Apalagi di arc turnamen ini, ada banyak pertarungan antar-duelist yang menarik, meskipun jujur saja kadang sangat tak masuk akal.

Tidak hanya dari efek kartu yang disesuaikan dengan plot cerita, terkadang ada saja bumbu drama seperti “shadow game” yang menumbalkan nyawa. Bayangkan, kita bisa kehilangan nyawa karena bermain kartu!

Pertempuran Roh di Ingatan Pharaoh (Tumblr)

Jika disuruh memilih duel favoritnya, di antara sekian banyak, mungkin Penulis akan memilih pertarungan antara Yugi Mutou melawan Yami Bakura di dalam ingatan Yugi Pharaoh (di komik volume 37). Duel tersebut membuktikan kalau Yugi yang selama ini seolah menjadi bayangan Yugi Pharaoh juga bisa bertarung.

Berbicara tentang Pharaoh, arc terakhir dari seri ini berfokus pada masa lalu Yugi. Ceritanya cukup menarik dan seru bagi Penulis, di mana Yugi berhadapan dengan musuh-musuh tangguh, mulai dari Bakura dengan Diabound-nya hingga Zorc Necrophades.

Arc ini juga bisa menjadi konklusi yang pas untuk serialnya. Setelah mendapatkan ingatan masa lalunya yang berdarah, Yugi Pharaoh (yang bernama Atem) dan Yugi Mutou berduel untuk menentukan nasib mereka. Atem kalah dan pergi meninggalkan Yugi dan kawan-kawan lainnya.

Kalau animenya, Penulis sesekali menonton di televisi pada hari Minggu pagi. Namun, jujur Penulis tidak terlalu ingat karena tidak terlalu memorable. Mungkin yang paling Penulis ingat adalah episode filler di mana Yugi dan Kaiba bersatu melawan The Big 5 yang memiliki kartu Five-Headed Dragon dengan ATK 5000.

Penulis dan Permainan Kartu Yu-Gi-Oh!

Peraturannya Makin Ruwet (Yu-Gi-Oh!)

Banyak meme yang bertebaran di internet tentang bagaimana bingungnya pemain Yu-Gi-Oh! yang sudah lama pensiun, lantas melawan pemain yang masih aktif hari ini. Yu-Gi-Oh! hari ini seolah tentang bagaimana menghabisi lawan secepat mungkin, kalau bisa sejak putaran pertama.

Padahal, dulu waktu masih main, Penulis merasa ada banyak “seni” dari peraturan aslinya, di mana untuk memanggil monster berbintang besar harus mengorbankan monster berbintang kecil. Ada cara unik lain, seperti Fusion ataupun Ritual.

Kita bisa mempelajari banyak peraturan Yu-Gi-Oh! dari manganya, meskipun terkadang efeknya dibuat nyeleneh demi kebutuhan plot cerita. Namun, dari sana dasar bermain Yu-Gi-Oh! Penulis dapatkan dan menjadi ingin mencoba bermain game-nya.

Gameplay Yu-Gi-Oh! Tag Force (GBA Temp)

Ada beberapa game Yu-Gi-Oh! yang pernah Penulis mainkan, seperti Yu-Gi-Oh! Forbidden Memories (PlayStation 1) dan Yu-Gi-Oh! The Duelists of the Roses (PlayStation 2). Namun, baru di game Yu-Gi-Oh! Tag Force (PlayStation 2) Penulis benar-benar paham cara bermain Yu-Gi-Oh!.

Di seri tersebut, masih belum ada peraturan summon monster yang aneh-aneh, masih mengikuti peraturan dasar yang Penulis pahami. Dalam bermain, Penulis sering mengandalkan archetype Cyber Dragon, yang di game-nya menjadi andalan Zane Trusdale.

Selain Cyber Dragon, salah satu archetype favorit Penulis adalah Blue-Eyes White Dragon, sedangkan adik Penulis sangat menyukai Elemental Hero, sampai-sampai tidak mau mencoba archetype yang lain. Bahkan, ia sampai mencetak sendiri kartu-kartu Elemental Hero dan ditempel ke kartu Yu-Gi-Oh! asli.

Blue-Eyes White Dragon (Devianart)

Selain itu, Penulis juga pernah mencoba platform Yu-Gi-Oh! yang tersedia secara online, walau seringnya cuma melawan adiknya, karena kemampuan Penulis tidak cukup hebat untuk bertanding dengan orang lain. Melalui platform ini, Penulis jadi belajar tentang metode summon yang baru-baru.

Pertama ada Synchro Summon, yang intinya membutuhkan monster Tuner untuk memanggilnya. Lalu tak lama ada juga XYZ Summon, yang intinya membutuhkan beberapa monster dengan level yang sama untuk digabungkan. Sampai sini masih bisa dipahami.

Nah, begitu masuk Pendulum Summon, Penulis memutuskan untuk mengangkat bendera putih. Penulis sudah tak mampu mengikutinya lagi. Apalagi sekarang ada Link Summon yang makin membuat Penulis malas untuk mengikuti permainan kartu Yu-Gi-Oh!.

Penutup

Yu-Gi-Oh! jelas telah mewarnai masa kecil dan remaja Penulis, baik lewat komik maupun permainan kartunya. Oleh karena itu, hingga sekarang pun Penulis sesekali masih menonton konten Yu-Gi-Oh! di internet sebagai obat kangen.

Apalagi, gara-gara Yu-Gi-Oh!-lah Penulis jadi menyukai permainan TCG (Trading Card Game). Ada banyak judul lain yang pernah Penulis mainkan, mulai dari Duel Monster, Magic: The Gathering, Hearthstone, Pokemon TCG, hingga Marvel Snap. Tentu, semuanya tidak ada yang benar-benar Penulis kuasai!

Oleh karena itu, Yu-Gi-Oh! selalu punya tempat spesial dalam hidup Penulis, meskipun sudah tidak pernah bermain atau mengikuti permainannya lagi. Mungkin suatu hari Penulis akan mencetak kartu Yu-Gi-Oh! sendiri untuk melawan deck Elemental Hero milik adiknya.


Lawang, 11 Juli 2024, terinspirasi setelah banyak menonton konten Yu-Gi-Oh!

Foto Featured Image: Yu-Gi-Oh!

Continue Reading

Anime & Komik

Saya Memutuskan untuk Mengoleksi Komik Dragon Ball Super

Published

on

By

Penulis merupakan penggemar Dragon Ball, makanya jangan heran jika dua minggu terakhir Penulis selalu menulis tentang seri ini. Namun, Penulis bukan penggemar hardcore yang rela menonton semua episode dari semua seri animenya dan semua film layar lebarnya.

Bahkan, seri Dragon Ball yang asli pun rasanya tidak semua episodenya Penulis tonton, karena Penulis lebih ke pembaca komik. Animenya Penulis sering menonton di televisi (dulu di Indosiar atau Animax), kalau komiknya sering pinjam atau baca versi digitalnya.

Oleh karena itu, Penulis cukup asing dengan seri Dragon Ball GT yang tidak memiliki versi komiknya, walau masih tahu sedikit alur cerita utamanya karena main Dragon Ball Budokai Tenkaichi 3.

Nah, beda cerita dengan seri Dragon Ball Super. Animenya diadaptasi dari manga, meskipun ada beberapa perubahan. Bahkan, cerita dari film Dragon Ball Z: Resurrection ‘F’ dan Dragon Ball Super: Broly tidak dimasukkan ke dalam komik, hanya disebutkan secara singkat.

Sempat Tak Tertarik, tapi…

Beerus dan Whis (X)

Awalnya Penulis cukup merasa malas untuk mengikuti cerita Dragon Ball Super, karena bagi Penulis kisah Dragon Ball ya berhenti ketika Goku mengajak Uub pergi dari turnamen Budokai Tenkaichi untuk berlatih bersama.

Apalagi, Dragon Ball Super memiliki banyak “keanehan” yang membuat Penulis mengangkat alisnya. Konsep Dewa Penghancur, Malaikat, multiverse, Patroli Galaksi, hingga kemunculan Zeno benar-benar terasa aneh dan melenceng dari core-nya Dragon Ball.

Plot hole tentang ke mana Beerus ketika semesta terancam masih bisa ditutupi dengan kenyataan Beerus yang sudah lama tertidur. Beda cerita dengan Patroli Galaksi, yang selama ini entah ke mana tak pernah menampakkan batang hidungnya tanpa ada penjelasan.

Namun, yang namanya penggemar Dragon Ball, ya, ujung-ujungnya Penulis ya mencoba untuk membaca manganya. Penulis mencoba membaca versi digitalnya, tapi berhenti setelah Tournament of Power Saga. Penulis merasa tidak worth it untuk lanjut membaca.

Namun, ketika mampir ke Gramedia Royal Plaza, Surabaya, entah mengapa Penulis tiba-tiba terdorong untuk membeli komiknya. Bisa jadi karena di hati kecilnya, Penulis merasa penasaran dengan kelanjutan ceritanya.

Mengapa Jadi Tertarik?

Bardock (Fandom)

Penulis nyaris bersikap impulsif dengan ingin langsung membeli semuanya, dari volume 1 sampai 19. Namun, setelah beberapa pertimbangan, Penulis memutuskan untuk membeli satu arc dulu, yakni “Galactic Patrol Prisoner Saga” di mana Moro jadi villain utamanya.

Dua bulan kemudian, tahu-tahu Penulis sudah memiliki semua volumenya. Lengkap, dari volume 1 sampai 19. Penulis biasanya membeli per arc, jadi Penulis tidak melengkapinya sekaligus, tapi dibagi menjadi empat batch atau dua minggu sekali belanjanya.

Ternyata, jika mengabaikan segala keanehan yang tadi sudah disinggung, sebenarnya seru-seru saja membaca komik Dragon Ball Super. Terlebih “Galactic Patrol Prisoner Saga” dan “Granolah the Survivor Saga” yang memiliki beberapa bagian yang tidak tertebak

Salah satu upaya Dragon Ball Super agar diminati oleh penggemar lama Dragon Ball adalah dengan menghubungkan serinya dengan cerita utamanya. Seri tersebut berusaha memberikan penjelasan kepada cerita-cerita yang dulu belum sempat dijelaskan.

Contohnya adalah bagaimana kisah Dai Kaioo, yang di Dragon Ball diceritakan dimakan Buu, ternyata pernah bertarung melawan Moro. Selain itu, ada juga cerita tentang ayah Goku, Bardock (dalam bentuk flashback), yang sebelumnya hanya pernah muncul di film saja.

Meskipun kini sudah banyak komik digital yang bisa dibaca secara legal dan gratis, tetap saja sensasi membaca komik fisik itu berbeda. Apalagi, Dragon Ball Super juga tidak tersedia di aplikasi MangaPlus, tidak seperti Boruto dan My Hero Academia.

Penutup

Hingga tulisan ini tayang, volume terbaru dari Dragon Ball Super belum juga rilis. Padahal, konklusi dari “Granolah the Survivor Saga” ada di sana, sebelum berlanjut ke “Super Hero Saga” yang telah diangkat menjadi film.

Sebenarnya Penulis bisa saja membaca lanjutannya dengan membaca di internet. Akan tetapi, Penulis ingin merasakan sensasi menanti komik volume terbaru terbit seperti ketika masih kecil dulu. Kebahagiaan setelah penantian seperti itu terasa lebih membekas.

Setelah mengoleksi Dragon Ball Super, ada kemungkinan Penulis untuk lanjut mengoleksi komik. Ada beberapa yang sudah menjadi incaran, mulai dari Spy x Family, Naruto versi bundle, Detective Conan versi Premium, hingga seri Dragon Ball asli. Kita lihat saja nanti.


Lawang, 26 Juni 2024, terinspirasi setelah dirinya membeli semua komik Dragon Ball Super

Foto Featured Image: Siliconera

Continue Reading

Anime & Komik

Karakter Paling Sial di Dragon Ball adalah Future Trunks

Published

on

By

Jika membicarakan siapa karakter paling sial di serial Dragon Ball secara keseluruhan, kebanyakan penggemar akan menyebutkan nama Yamcha. Hal itu bukan tanpa sebab, mengingat ia beberapa kali harus mengalami kejadian secara apes.

Contohnya adalah kematian konyolnya ketika dibunuh oleh Sabaiman di Saiyan Saga, di mana pose matinya menjadi begitu ikonik. Tidak hanya itu, Bulma yang sejak awal Dragon Ball menjadi kekasihnya pun pada akhirnya justru menjadi istri dari Vegeta.

Namun, sebenarnya nasib Yamcha masih jauh lebih baik dari nasih salah satu karakter yang digemari oleh penggemar: Future Trunks. Daripada sial, bisa dibilang nasib Future Trunks lebih mengarah ke tragis karena banyaknya hal buruk yang menimpa dirinya.

Kemunculan Pertama Trunks di Seri Dragon Ball

Trunks mengalahkan Frieza (YouTube)

Trunks pertama kali muncul ketika Frieza yang gagal dibunuh oleh Son Goku datang ke bumi untuk membalas dendam. Waktu itu, Goku masih belum pulang ke bumi dan belum ada satu pun petarung yang mampu melawan Frieza.

Di saat genting tersebut, tiba-tiba Trunks muncul, bahkan bisa berubah menjadi Super Saiyan yang pada saat itu Vegeta pun belum bisa melakukannya. Dengan mudah, ia mengalahkan Frieza dan pasukannya.

Ternyata, Trunks berasal dari masa depan dan merupakan anak dari Vegeta dan Bulma. Di linimasanya, bumi menjadi hancur karena ulah Android 17 dan 18. Para petarung bumi telah mati dan hanya menyisakan Trunks.

Goku sendiri tak sempat bertarung karena keburu mati karena penyakit. Nah, tujuan Trunks pergi ke masa lalu adalah memberikan obat yang akan menyembuhkan penyakit Goku, sehingga akan ada linimasa di mana para Android bisa dikalahkan.

Selain itu, Trunks juga memperingatkan kalau tiga tahun dari sekarang akan muncul Android yang membuat dunianya hancur. Setelah itu, ia pun kembali ke linimasanya dan baru kembali ke masa lalu tiga tahun kemudian.

Ternyata benar, ada Android yang muncul mengacau kota. Anehnya, Android yang muncul tersebut berbeda dengan yang ada di linimasanya Trunks. Ia justru melihat Android 19 dan Dr. Gero, pencipta para Android yang terafiliasi dengan Red Ribbons.

Dr. Gero berhasil dibuat terdesak hingga akhirnya membangkitkan Android 17 dan 18. Tidak hanya itu, Android 16 pun juga dibangkitkan, yang di linimasanya Trunks tidak ada. Para Android tersebut benar-benar kuat, bahkan Vegeta yang telah menjadi Super Saiyan pun tak berdaya.

Singkat cerita, tiba-tiba ada kabar kalau ada sesosok makhluk bernama Cell yang ternyata datang dari masa depan juga. Yang lebih mengerikannya lagi, ia membunuh Trunks lain dari linimasanya yang lebih jauh agar bisa menggunakan mesin waktunya.

Cell melakukan perjalanan waktu karena Android 17 dan 18 di linimasanya telah dibunuh oleh Future Trunks. Padahal, ia membutuhkan keduanya untuk bisa mencapai versi sempurnanya. Keberadaan Cell ini juga sama sekali tidak diketahui oleh Trunks yang sekarang.

Untuk bisa mengalahkan para lawan yang semakin kuat, Trunks bersama dengan petarung lainnya pun melakukan latihan di Hyperbolic Time Chamber, di mana satu tahun di sana sama dengan satu hari di dunia nyata.

Super Trunks dan Cell Games

Super Trunks (Fandom)

Trunks melakukan latihan yang insentif bersama Vegeta. Saat mereka latihan, Cell telah berhasil menyerap Android 17 dan memasuki bentuk Semi-Perfect. Namun, Vegeta yang telah menjadi Super Vegeta berhasil mengalahkan Semi-Perfect Cell dengan mudah.

Cell tahu kalau Vegeta adalah tipe orang Saiyan yang gemar bertarung, sehingga ia menantang Vegeta untuk membiarkannya menyerap Android 18 agar bisa mencapai bentuk sempurnanya. Strategi tersebut berhasil, Vegeta mempersilakan Cell untuk melakukannya.

Trunks, yang sudah muak dengan segala hal buruk yang terjadi di linimasanya, tentu berusaha menggagalkan hal tersebut. Sayangnya, pada akhirnya Cell berhasil menjadi Perfect Cell dan Vegeta pun dikalahkan dengan mudah.

Setelah Vegeta pingsan, Trunks pun berubah ke mode Super Trunks yang membuat badannya terlihat begitu besar. Sayangnya, meskipun memiliki power yang kuat, form tersebut membuat serangannya tidak bisa mengenai lawan karena membuatnya melamban.

Trunks pun dengan pasrah mengakui kekalahan dan siap untuk dibunuh Cell. Untungnya, Cell tidak membunuhnya dan justru mengumumkan akan membuat Cell Games. Nah, di Cell Games ini peran Trunks sudah tidak terlalu signifikan lagi karena highlight-nya justru Goku dan Gohan.

Satu-satunya scene yang melibatkan Trunks adalah kematiannya setelah Cell bangkit kembali setelah meledakkan diri. Kematian Trunks membuat Vegeta marah dan menyerang Cell. Gohan pun jadi terluka karena berusaha menyelamatkan Vegeta, padahal ia menjadi satu-satunya harapan.

Pada akhirnya, seperti yang kita tahu, Gohan berhasil mengalahkan Cell dan Trunks pun dihidupkan kembali oleh Dragon Ball. Trunks yang kini sudah sangat kuat pun kembali ke linimasanya dan berhasil mengalahkan para Android dengan mudah. Kehidupannya pun kembali damai, sampai…

Melawan Black Goku

Trunks Melawan Black Goku (Fandom)

Sejak Cell Saga, Future Trunks tidak pernah muncul lagi. Ia baru muncul lagi di seri Dragon Ball Super, dan sekali lagi ia harus mengalami nasib apes karena bertemu dengan lawan yang sangat kuat dan tidak bisa ia kalahkan: Black Goku. Kedamaian yang berhasil ia buat selama ini sirna begitu saja.

Lebih menyedihkannya lagi, ia kini juga kehilangan Bulma, sosok yang memungkinkan dirinya melakukan perjalanan waktu berkat mesin waktu buatannya. Untungnya di saat genting, Trunks berhasil kembali ke masa lalu sebelum dibunuh oleh Black Goku.

Menjelaskan Black Goku ini lumayan rumit, bahkan hingga sekarang Penulis tidak benar-benar memahaminya. Namun, Penulis akan coba jelaskan secara sesederhana mungkin sesuai dengan pemahamannya.

Ternyata, wujud asli Black Goku adalah Zamasu, calon Kaioo-shin dari Universe 10 dari linimasa Goku yang membenci kehidupan para makhluk mortal. Ia menggunakan Dragon Ball untuk menukar raganya dengan Goku agar mendapatkan kekuatan yang luar biasa.

Lalu, dengan cincin waktu ia pergi ke linimasa Trunks karena di sana sudah tidak ada Dewa Penghancur Beerus, mengingat Kaioo-shin sudah mati saat berupaya menghentikan Babidy yang ingin membangkitkan Buu. Artinya, tak ada yang bisa menghalanginya.

Goku dan Vegeta pun pergi ke linimasa Trunks untuk menghentikan Black Goku ini. Namun, Black Goku ternyata mendapatkan bantuan dari Zamasu yang memang tinggal di linimasa tersebut. Bahkan, Zamasu ini telah mendapatkan keabadian lewat Dragon Ball.

Singkat cerita, Black Goku dan Zamasu yang terdesak akhirnya melakukan fusion. Kekuatan Goku Black ditambah keabadian Zamasu membuat mereka tak bisa dikalahkan. Akhirnya Goku menggunakan alat untuk memanggil dewa tertinggi alam semesta, Zeno, yang akhirnya memusnahkan Black Goku untuk selamanya beserta bumi.

Setelah pertarungan tersebut, Trunks pun kembali ke linimasa Goku karena dunianya sekarang sudah hancur total. Namun, pada akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke linimasanya sendiri sebelum Dabura dan Zamasu muncul.

Nasib Sial Trunks yang Membuatnya Berbeda dari Saiyan Lain

Trunks dan Kehidupan Tragisnya (CBR)

Bisa dilihat dari rangkuman cerita di atas kalau Trunks benar-benar bernasib sial dan tragis sepanjang hidupnya. Dunianya sudah hancur ketika Android 17 dan 18 muncul dan membunuh semua teman-temannya, menjadikan ia sebagai satu-satunya pelindung bumi.

Setelah akhirnya berhasil mengalahkan mereka berdua, Trunks juga berhasil menghentikan Babidy membangkitkan Buu. Namun, keberhasilan ini harus dibayar mahal dengan kematian Kaioo-shin dan menyebabkan Black Goku jadi mengincar linimasa Trunks.

Black Goku benar-benar menjadi makhluk yang sangat kuat, hingga satu-satunya cara mengalahkannya adalah melalui tangan Zeno. Dunia yang ia lindungi selama ini pun jadi hilang tak berbekas, walau ia pada akhirnya pergi ke masa alternatif lainnya.

Trunks telah kehilangan semuanya. Ayah dan teman-temannya dibunuh para Android. Gohan, yang sempat menjadi mentornya, juga akhirnya dibunuh dan memicunya menjadi Super Saiyan. Bahkan, ibunya yang selalu menemaninya pun akhirnya mati.

Mungkin, Trunks tak terlalu menyesal dunianya dihancurkan oleh Zeno, mengingat di sana sudah tidak ada siapa-siapa lagi. Sekarang ia hanya memiliki Mai, dan akhirnya memutuskan untuk memulai hidup baru di masa depan alternatif.

Memilki kehidupan yang sedemikian getir membuat Trunks tidak terlihat seperti Saiyan sejati. Berbeda dengan Goku, Vegeta, atau Gohan yang terkadang meremehkan lawan dan tidak langsung menghabisi lawannya, Trunks selalu ingin mengakhiri pertarungan secepat mungkin.

Hal ini bisa dilihat dari kemunculan perdananya, di mana ia langsung menghabisi Frieza. Saat Semi-Perfect Cell bisa dikalahkan dengan mudah, ia pun ingin segera menghabisinya. Ketika kembali ke linimasanya, Trunks pun tanpa banyak babibu langsung membunuh Android 17 dan 18, serta mencegah Cell pergi ke masa lalu.

Trunks juga tidak punya semacam “harga diri” ala bangsa Saiyan yang memilih mati dibandingkan harus kabur. Sepanjang hidupnya, ia selalu berusaha bertahan hidup di keadaan yang sulit. Jika kabur bisa membuatnya bertahan (termasuk kabur ke masa lalu), maka itu ia akan lakukan.

Kisah hidup Trunks memang bisa dibilang paling sial, bahkan seharusnya disebut tragis, dibandingkan dengan karakter Dragon Ball lainnya. Namun, justru itu yang membuatnya menjadi karakter yang menarik dan dicintai oleh banyak penggemar seri buatan Akira Toriyama ini.


Lawang, 12 Juni 2024, terinspirasi setelah menyadari kalau Future Trunks adalah karakter paling sial dan tragis di Dragon Ball

Foto Featured Image: Reddit

Continue Reading

Fanandi's Choice

Copyright © 2018 Whathefan