<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>pengembangan diri Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/pengembangan-diri/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/pengembangan-diri/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Wed, 27 Nov 2024 11:45:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.7.1</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>pengembangan diri Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/pengembangan-diri/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca The Book of Everyday Things</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-book-of-everyday-things/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-book-of-everyday-things/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 27 Nov 2024 11:45:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Desi Anwar]]></category>
		<category><![CDATA[pengembangan diri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8055</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis sudah memiliki tiga buku tulisan Desi Anwar, yakni Hidup Sederhana, Going Offline, dan Apa yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian. Penulis merasa cocok dengan gaya penulisannya, sederhana tapi bermakna. Oleh karena itu, tak heran jika Penulis sampai menambah satu buku lagi tulisan Desi Anwar. Kali ini, sudut pandang yang diambil cukup menarik, dengan judul [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-book-of-everyday-things/">[REVIEW] Setelah Membaca The Book of Everyday Things</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Penulis sudah memiliki tiga buku tulisan <strong>Desi Anwar</strong>, yakni <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-hidup-sederhana/">Hidup Sederhana</a></em>, <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-going-offline/">Going Offline</a></em>, dan <em><a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-apa-yang-kita-pikirkan-ketika-kita-sendirian/">Apa yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian</a></em>. Penulis merasa cocok dengan gaya penulisannya, sederhana tapi bermakna.</p>



<p>Oleh karena itu, tak heran jika Penulis sampai menambah satu buku lagi tulisan Desi Anwar. Kali ini, sudut pandang yang diambil cukup menarik, dengan judul <em><strong>The Book of Everyday Things</strong></em>.</p>



<p>Saat membaca sekilas isinya, Penulis merasa sedikit terkejut karena buku ini membahas <em>literally </em>hal-hal remeh yang sering kita abaikan begitu saja karena telah menjadi bagian dari hidup kita sejak lama. Ternyata, ada banyak sudut menarik dari benda-benda tersebut.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/46716939983-spiritriau_netizen-kecewa-dengan-debat-capres-yang-kaku-dan-kurang-menarik-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/46716939983-spiritriau_netizen-kecewa-dengan-debat-capres-yang-kaku-dan-kurang-menarik-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/46716939983-spiritriau_netizen-kecewa-dengan-debat-capres-yang-kaku-dan-kurang-menarik-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/46716939983-spiritriau_netizen-kecewa-dengan-debat-capres-yang-kaku-dan-kurang-menarik-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/46716939983-spiritriau_netizen-kecewa-dengan-debat-capres-yang-kaku-dan-kurang-menarik.jpg 1280w " alt="Setelah Menonton Debat Capres Pertama" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/politik-negara/setelah-menonton-debat-capres-pertama/">Setelah Menonton Debat Capres Pertama</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku The Book of Everyday Things</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>The Book of Everyday Things</em></li>



<li>Penulis: Desi Anwar</li>



<li>Penerbit: Penerbit Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Pertama</li>



<li>Tanggal Terbit: Februari 2024</li>



<li>Tebal: 300 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020675923</li>



<li>Harga: Rp149.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Buku The Book of Everyday Things</h2>



<p><em>Buku, bantal, sepatu, bolpoin, jam tangan, mainan, uang, dan sikat gigi… Ini adalah berbagai benda yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Semuanya begitu biasa sehingga kita menerimanya begitu saja, seolah-olah semua benda itu sudah menjadi bagian hidup kita.</em> <em>Pada kenyataannya, kemampuan untuk membuat benda mungkin adalah cara kita mendefinisikan spesies kita dan membuat kita berbeda dari makhluk hidup lainnya. </em></p>



<p><em>Coba tengok keadaan di sekitar kita perhatikan jumlah benda yang ada di sekeliling yang terus bertimbun sepanjang hidup kita. Seorang manusia mungkin mengawali hidupnya hanya dengan tarikan napas pertama, kemudian tidak membawa apa-apa ke dalam kuburnya selain yang dihiaskan orang lain pada jasadnya yang sudah tak bernyawa.</em> <em>Padahal, selama hidupnya, dia bergantung pada berbagai benda, bukan hanya untuk memungkinkannya berfungsi, melainkan juga agar memiliki identitas dan tujuan: Berbagai benda dan barang yang diciptakan dan diproduksi oleh sesama manusia yang dapat digunakan untuk mengendalikan serta memanipulasi lingkungannya dan menentukan takdirnya. Berbagai barang yang mengisi tidak hanya ruang yang ditempatinya, tetapi juga yang pada akhirnya mengacaukan dan menyesakkan seluruh Bumi, yang sekaligus menyisakan semakin sedikit ruang bagi makhluk hidup lainnya untuk berkembang.</em></p>



<p><em>The Book of Everyday Things adalah pengingat bahwa terlepas dari kemampuan spesies kita untuk menaklukkan alam dan menciptakan aneka benda menakjubkan untuk membuat hidup kita lebih nyaman, obsesi kita untuk memproduksi dan mengonsumsi beragam benda mungkin justru membuat kita makin tidak memahami tujuan sebenarnya keberadaan kita. Bahwa mungkin kebahagiaan sejati tidak hanya terletak pada berbagai benda buatan manusia, tetapi juga menghargai apa yang diberikan alam kepada kita.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku The Book of Everyday Things</h2>



<p>Sesuai dengan judulnya, buku ini dibagi menjadi beberapa bab dengan judul benda atau sesuatu yang menemani keseharian kita. Total, ada 30 bab yang awalnya bagi Penulis tak akan menarik untuk dibahas, yakni:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Buku</li>



<li>Bantal</li>



<li>Roti</li>



<li>Surat</li>



<li>Pernak-pernik</li>



<li>Teh</li>



<li>Uang</li>



<li>Kucing</li>



<li>Keluarga</li>



<li>Sepatu</li>



<li>Jam Tangan</li>



<li>Foto</li>



<li>Televisi</li>



<li>Sabun</li>



<li>Mainan</li>



<li>Alat Tulis</li>



<li>Mimpi</li>



<li>Sekolah</li>



<li>Ingatan</li>



<li>Seni</li>



<li>Bendera</li>



<li>Kematian</li>



<li>Topeng</li>



<li>Sikat Gigi</li>



<li>Rumah</li>



<li>Kekuatan Adikodrati</li>



<li>Gula</li>



<li>Cahaya</li>



<li>Informasi</li>



<li>Limbah</li>
</ol>



<p>Setiap babnya memiliki ketebalan yang bervariasi, tapi tidak ada yang terlalu memonopoli karena cukup seimbang. Dengan ketebalan hingga 300 halaman, setiap bab kurang lebih memiliki 10 halaman.</p>



<p>Mungkin banyak yang kebingungan, apa menariknya membahas bantal? Penulis juga sempat berpikir seperti itu. Namun, setelah membaca, ternyata ada banyak sekali hal menarik yang bisa dibahas dari sebuah bantal.</p>



<p>Di setiap babnya, Desi Anwar menggunakan dua pendekatan, yakni bagaimana pengalaman pribadinya terhadap benda tersebut dan menyisipkan sejarah penggunaan benda tersebut dalam peradaban manusia.</p>



<p>Mengingat Penulis merupakan <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-belajar-sejarah/">penggemar sejarah</a>, tentu mengetahui bagaimana sebuah benda yang kerap diabaikan begitu saja memiliki sejarah yang panjang menjadi hal yang sangat menarik. </p>



<p>Kita kadang meremehkan benda-benda ini karena sudah terlalu biasa dengan keberadaannya tanpa pernah bertanya bagaimana benda ini bisa hadir di dunia dan memudahkan kehidupan kita. Ujungnya, hal ini akan membantu kita merasa bersyukur dengan keberadaannya.</p>



<p>Tiga puluh benda (atau hal) yang ada di dalam buku ini tidak terkait satu sama lain, sehingga Pembaca bisa membacanya lompat-lompat tergantung benda mana yang paling membuat penasaran.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca The Book of Everyday Things</h2>



<p><em>The Book of Everyday Things </em>menjadi bukti bahwa ide itu bisa datang dari mana saja. Siapa yang bisa menyangka kalau bantal bisa menjadi sepuluh halaman tulisan? Jelas buku ini menjadi inspirasi Penulis dalam mengisi blognya, terutama ketika sedang buntu ide.</p>



<p>Untuk gaya kepenulisan, rasanya tak perlu meragukan kemampuan Desi Anwar. Dijamin, walau benda yang dibahas terkesan remeh, pembahasan yang disajikan tetap menarik dan tidak membuat bosan. Buktinya, Penulis bisa menyelesaikan buku ini dengan cepat.</p>



<p>Selain itu, buku ini juga dipenuhi dengan berbagai ilustrasi yang menarik dengan nuansa oranye. Hal ini memang menambah daya tarik buku ini, tapi sekaligus membuat harganya menjadi lebih mahal, yakni Rp149.000.</p>



<p>Ada satu hal yang kurang sreg buat Penulis. Buku ini berjudul <em>The Book of Everyday Things</em>, di mana <em>things </em>diterjemahkan sebagai &#8220;benda.&#8221; Namun, beberapa bab di buku ini justru membahas hal yang tidak bisa dianggap sebagai benda.</p>



<p>Kucing dan keluarga jelas kurang cocok untuk dianggap sebagai benda, karena mereka makhluk hidup. Mimpi dan kematian lebih cocok dianggap sebagai peristiwa. Bahkan cahaya dan informasi pun bukan sesuatu yang <em>tangible</em>.</p>



<p>Mungkin Desi Anwar memiliki alasan dan penerjemahan sendiri mengapa memasukkan hal-hal tersebut ke dalam buku ini, sehingga Penulis juga tidak terlalu mempermasalahkannya. Hanya saja, Penulis merasa masih ada benda-benda lain yang layak untuk dibahas olehnya.</p>



<p>Secara keseluruhan, Penulis merasa buku ini adalah bacaan santai yang membuat kita mendapatkan banyak <em>insight </em>menarik sekaligus mengajak kita merenungi keberadaan benda-benda yang ada di keseharian kita. </p>



<p>Penulis merekomendasikan buku ini untuk siapa saja yang mudah merasa penasaran dengan hal-hal yang mungkin tidak terpikirkan orang lain. Buku ini akan sangat cocok untuk menjadi teman perjalanan yang menyenangkan.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 8/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 27 November 2024, terinspirasi setelah membaca <em>The Book of Everyday Things </em>karya Desi Anwar</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-book-of-everyday-things/">[REVIEW] Setelah Membaca The Book of Everyday Things</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-book-of-everyday-things/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Ngomongin Uang</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-ngomongin-uang/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-ngomongin-uang/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 Sep 2024 16:59:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[investasi]]></category>
		<category><![CDATA[kaya]]></category>
		<category><![CDATA[keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[pengembangan diri]]></category>
		<category><![CDATA[uang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7919</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam beberapa tahun terakhir, keuangan menjadi salah satu topik yang sedang banyak dipelajari mengingat usia Penulis sekarang sudah berkepala tiga. Meskipun bisa dibilang terlambat, rasanya tidak ada salahnya untuk tetap mempelajarinya. Sumber-sumber belajar keuangan pun tentu dari banyak medium, mulai dari YouTube, media sosial, hingga buku. Salah satu buku yang pernah Penulis baca adalah The [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-ngomongin-uang/">[REVIEW] Setelah Membaca Ngomongin Uang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dalam beberapa tahun terakhir, keuangan menjadi salah satu topik yang sedang banyak dipelajari mengingat usia Penulis sekarang sudah berkepala tiga. Meskipun bisa dibilang terlambat, rasanya tidak ada salahnya untuk tetap mempelajarinya.</p>



<p>Sumber-sumber belajar keuangan pun tentu dari banyak medium, mulai dari YouTube, media sosial, hingga buku. Salah satu buku yang pernah Penulis baca adalah <em><a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-psychology-of-money/">The Psychology of Money</a></em> karya Morgan Housel. Sayangnya, Penulis merasa buku ini kurang praktis untuk diterapkan dalam keseharian.</p>



<p>Nah, waktu tahu akun Instagram Ngomongin Uang akan menerbitkan sebuah buku tentang keuangan, Penulis langsung merasa tertarik karena telah mengikuti akun tersebut cukup lama dan senang dengan ulasan-ulasan yang mereka buat. </p>



<p>Hasilnya, timbul perasaan menyesal karena harusnya Penulis membaca buku seperti ini bertahun-tahun yang lalu.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/setelah-membaca-going-offline-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/setelah-membaca-going-offline-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/setelah-membaca-going-offline-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/setelah-membaca-going-offline-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/02/setelah-membaca-going-offline-banner.jpg 1280w " alt="Setelah Membaca Going Offline" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-going-offline/">Setelah Membaca Going Offline</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Ngomongin Uang</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>Ngomongin Uang: Menjadi &#8216;Kaya&#8221; Versi Kamu Sendiri</em></li>



<li>Penulis: Glenn Ardi</li>



<li>Penerbit: Penerbit Buku Kompas</li>



<li>Cetakan:</li>



<li>Tanggal Terbit:</li>



<li>Tebal: 244 halaman</li>



<li>ISBN: 9786231606204</li>



<li>Harga: Rp125.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Buku Ngomongin Uang</h2>



<p><em>Kekayaan sering kali bukan hanya soal uang atau status sosial. Kekayaan yang sesungguhnya bersifat sangat personal, karena setiap orang mendefinisikan kesuksesan dan kebahagiaannya dengan cara yang berbeda. </em></p>



<p><em>Namun, apa pun definisi kekayaan bagi kamu, UANG adalah alat ukur dan kendaraan yang bisa membawamu mencapai tujuan. Karena itulah, memahami keuangan adalah hal yang fundamental dalam membangun kehidupan terbaik versi kamu. Buku ini hadir untuk kamu yang merasa keuangannya mandek, kamu yang overthinking dan terus membandingkan dirimu dengan kesuksesan orang lain, dan kamu yang merasa masa depan keuangan kamu suram—Yuk, kita Ngomongin Uang! </em></p>



<p><em>Karena ngomongin uang telah mengubah hidup saya! Membuat hidup saya lebih terencana, memberi rasa aman, kedamaian, kebebasan, sekaligus rasa kecukupan. Buku ini bukan soal motivasi sukses atau cara cepat kaya, tetapi buku ini akan membuat kamu menjadi ‘KAYA’ versi kamu sendiri. </em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Isi Buku Ngomongin Uang</h2>



<p>Sesuai dengan judulnya, buku <em>Ngomongin Uang </em>akan membahas tentang uang dari banyak sudut pandang. Buku ini membahas banyak hal yang sebenarnya cukup generik, mulai dari sejarah uang, cara-cara mendapatkan uang, penjelasan tentang investasi, dan lain sebagainya.</p>



<p>Buku ini terdiri dari 13 bab yang menarik dan dilengkapi dengan ilustrasi-ilustrasi menarik yang digambar oleh Ariawan. Masing-masing bab memiliki kedalaman yang bervariasi, tergantung seberapa panjang topik yang dibahas. Ketigabelas bab tersebut adalah:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Bab 1: Cerita Terbentuknya Uang</li>



<li>Bab 2: Nilai Uang yang Selalu Berubah</li>



<li>Bab 3: Tahap Prioritas Keuangan</li>



<li>Bab 4: Ciri Khas Calon Orang Kaya</li>



<li>Bab 5: Perhatikan Pengeluaran Kamu</li>



<li>Bab 6: Jalan Menuju Kekayaan</li>



<li>Bab 7: Memaknai Arti Kekayaan</li>



<li>Bab 8: Kaya Menurut Versi Kamu Sendiri</li>



<li>Bab 9: Investasi Itu untuk Apa? </li>



<li>Bab 10: Gimana Caranya Beli Rumah?</li>



<li>Bab 11: Perlukah Membeli Mobil?</li>



<li>Bab 12: Fenomena Sandwich Generation</li>



<li>Bab 13: Hidup Tanpa Bekerja Lagi</li>



<li>Penutup: Apakah Saat Ini Saya Sudah Kaya?</li>
</ul>



<p>Secara singkat, dua bab pertama membantu kita memahami apa itu uang dan mengapa benda tersebut bisa menjadi sesuatu yang sangat penting, bahkan &#8220;dituhankan&#8221; oleh sebagian manusia. Sebagai <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-belajar-sejarah/">orang yang suka sejarah</a>, bab-bab awal ini sangat menarik.</p>



<p>Bab 3 hingga 9 membahas tentang kekayaan dan pengelolaan uang yang kita miliki. Kaya tidak selalu berarti punya harta yang melimpah dan tak akan habis. Masing-masing dari kita bisa memiliki definisi kayanya sendiri. </p>



<p>Bab 9 hingga 11 membahas mengenai topik investasi dan pertimbangan-pertimbangan apakah kita perlu membeli aset seperti rumah dan mobil. Seperti yang kita tahu, kondisi saat ini membuat banyak orang kesulitan untuk membeli aset-aset tersebut, sehingga investasi menjadi penting.</p>



<p>Dua bab terakhir merupakan tambahan <em>insight </em>menarik seputar dunia keuangan terutama pembahasan <em>sandwich generation</em>, sebuah fenomena yang kerap terjadi saat ini di mana seseorang harus menghidupi orang lain dan keluarganya sendiri. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Ngomongin Uang</h2>



<p>Begitu selesai menyelesaikan buku ini (dengan waktu yang relatif singkat), Penulis merasa termenung. Seharusnya, <strong>ilmu-ilmu keuangan yang ada di buku ini sudah dibahas di sekolah</strong>, agar ketika siswa beranjak dewasa, mereka telah memiliki bekal ilmu keuangan yang cukup.</p>



<p>Buku <em>Ngomongin Uang</em>, sejujurnya memang hanya<strong> mengajarkan hal-hal fundamental tentang keuangan</strong>. Namun, dasar-dasar tersebut tidak pernah diajarkan ke kita saat masih sekolah, bahkan ketika kuliah pun tidak ilmunya kecuali kita kuliah jurusan yang berhubungan dengan keuangan.</p>



<p>Apalagi, <strong>bahasa yang digunakan dalam buku ini benar-benar mudah dipahami</strong>. Itu juga yang menjadi salah satu alasan mengapa Penulis mampu menyelesaikan buku ini dengan cepat. Walau begitu, ilmu yang bisa kita dapatkan tidak main-main.</p>



<p>Buku ini tidak mengajak kita untuk mati-matian mengejar uang selama hidup di dunia ini. Sebaliknya, kita diajak untuk bisa bijaksana dalam menyikapi uang. <strong>Posisikan uang sebagai sebuah alat, bukan sebagai sebuah tujuan</strong>.</p>



<p>Topik-topik yang diangkat di buku ini juga <strong><em>related </em>dengan kehidupan sehari-hari kita</strong>, sehingga buku ini pun terasa dekat. Isu-isu seperti harga rumah yang makin mahal dan fenomena <em>sandwich generation </em>dibahas di sini dengan menarik.</p>



<p>Selain itu, ilustrasi-ilustrasi yang terdapat pada buku ini juga mempertahankan ciri khas yang dimiliki oleh akun Instagram Ngomongin Uang. Ilustrasi yang terdapat dalam buku ini tidak hanya menjadi pemanis, karena terkadang membantu kita memahami poin yang ingin disampaikan.</p>



<p>Penulis berharap kalau buku ini akan memiliki sekuel yang akan lebih detail dan membahas topik-topik keuangan yang lebih berat. Seandainya ada, Penulis tanpa ragu akan langsung membelinya untuk menambah ilmu keuangannya. Mungkin itu juga yang menjadi kekurangan buku ini: <strong>isinya kurang banyak</strong>.</p>



<p>Intinya, buku ini sangat Penulis rekomendasikan untuk siapa saja. Keuangan adalah topik yang jarang dibahas secara umum di ruang publik. Memahami ilmu-ilmu dasarnya bisa membantu kita untuk memiliki dan mengelola keuangan kita lebih baik lagi di masa depan.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 9/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 28 September 2024, terinspirasi setelah membaca buku Ngomongin Uang karya Glenn Ardi</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-ngomongin-uang/">[REVIEW] Setelah Membaca Ngomongin Uang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-ngomongin-uang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca Contagious</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-contagious/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-contagious/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 15 Jun 2024 16:59:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Contagious]]></category>
		<category><![CDATA[marketing]]></category>
		<category><![CDATA[pengembangan diri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=7430</guid>

					<description><![CDATA[<p>Belakangan ini, marketing menjadi salah satu topik yang sering Penulis pelajari meskipun sedikit-sedikit. Selain mengambil kelas digital marketing, Penulis juga mencoba membaca buku-buku yang terkait dengan dunia marketing. Buku terkait dunia marketing yang telah Penulis baca adalah Contagious: Rahasia di Balik Produk dan Gagasan yang Viral karya Jonah Berger. Pihak penerjemah cukup lihai dalam memilih [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-contagious/">[REVIEW] Setelah Membaca Contagious</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Belakangan ini, <em>marketing </em>menjadi salah satu topik yang sering Penulis pelajari meskipun sedikit-sedikit. Selain mengambil kelas <em>digital marketing</em>, Penulis juga mencoba membaca buku-buku yang terkait dengan dunia <em>marketing</em>.</p>



<p>Buku terkait dunia <em>marketing </em>yang telah Penulis baca adalah <em><strong>Contagious: Rahasia di Balik Produk dan Gagasan yang Viral </strong></em>karya Jonah Berger. Pihak penerjemah cukup lihai dalam memilih kata &#8220;viral&#8221; di bagian sub-judul, mengingat saat ini memang banyak yang <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/untuk-apa-viral/">ingin menjadi viral</a>.</p>



<p>Salah satu alasan yang membuat Penulis memutuskan untuk membaca buku ini adalah karena biasanya buku-buku semacam ini akan diberi sisipan kisah-kisah nyata untuk memberikan gambaran tentang poin yang ingin dijelaskan. Benar saja, ada banyak kisah menarik yang bisa disimak.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1-300x200.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1-356x237.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/10/Cover-1.jpg 2048w " alt="Chapter 10 Perjanjian Damai" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/leon-dan-kenji-buku-1/chapter-10-perjanjian-damai/">Chapter 10 Perjanjian Damai</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku Contagious</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul: <em>Contagious: Rahasia di Balik Produk dan Gagasan yang Populer</em></li>



<li>Penulis: Jonah Berger</li>



<li>Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama</li>



<li>Cetakan: Keempat</li>



<li>Tanggal Terbit: Juni 2023</li>



<li>Tebal: 297 halaman</li>



<li>ISBN: 9786020667218</li>



<li>Harga: Rp85.000</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Sinopsis Contagious</h2>



<p><em>Apa yang Menjadikan Sesuatu Populer?</em><br><br><em>Kalau menurut Anda iklan, coba pikir lagi. Orang tidak mendengarkan iklan; mereka mendengarkan teman. Tapi, kenapa orang bicara lebih banyak tentang produk dan gagasan tertentu dibanding yang lain? Kenapa sejumlah cerita dan rumor lebih tersebar? Dan apa yang menjadikan konten online mewabah? </em></p>



<p><em>Jonah Berger mengungkapkan ilmu rahasia di balik getok tular dan transmisi sosial. Temukan enam prinsip dasar yang berkontribusi pada semua hal yang mewabah, seperti bagaimana steakhouse yang mewah mendapat popularitas lewat cheesesteak biasa, kenapa iklan antinarkoba bisa jadi malah meningkatkan penggunaan narkoba, dan kenapa lebih dari 200 juta orang berbagi video tentang sesuatu yang sepertinya merupakan produk yang paling membosankan: blender.<br><br>Entah Anda manajer di perusahaan besar, pemilik usaha kecil yang berusaha meningkatkan kesadaran akan produk Anda, politisi yang membutuhkan suara rakyat, atau petugas kesehatan yang berusaha mengampanyekan suatu program, buku ini akan menunjukkan kepada Anda cara membuat produk atau gagasan Anda tersimpan di benak orang.</em></p>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Contagious?</h2>



<p>Dengan tebal hampir 300 halaman, <em>Contagious </em>dibagi menjadi enam bagian utama. Agar mudah diingat, Berger membuat akronim <strong>STEPPS</strong> untuk menjelaskan langkah-langkah dalam membuat konten yang viral. STEPPS sendiri merupakan kepanjangan dari:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li><strong>Sosial Currency</strong> (Mata Uang Sosial)</li>



<li><strong>Trigger </strong>(Pemicu)</li>



<li><strong>Emotion </strong>(Emosi)</li>



<li><strong>Public </strong>(Publik)</li>



<li><strong>Practicality </strong>(Nilai Praktis)</li>



<li><strong>Story </strong>(Cerita)</li>
</ul>



<p>Mata Uang Sosial adalah hal-hal yang akan membuat orang akan merasa bangga, terlihat keren, terlihat pintar, dan lainnya ketika kita menceritakannya kepada orang lain. Seperti yang kita tahu, produk yang dipromosikan dari mulut ke mulut biasanya berarti memang bagus.</p>



<p>Contoh mudahnya adalah ketika kita mencoba sebuah kafe yang nyaman dan memiliki makanan-minuman enak. Kita jadi memiliki &#8220;sesuatu&#8221; yang bisa kita ceritakan ke orang dengan bangga. Itulah yang disebut sebagai Mata Uang Sosial.</p>



<p>Lalu, kita harus bisa memanfaatkan momentum untuk bisa menciptakan Pemicu sehingga lebih mudah diingat dan menarik minat banyak orang. Contoh ketika &#8220;Asian Value&#8221; sedang ramai, maka banyak <em>content creator </em>memanfaatkan hal tersebut untuk menjadi viral dengan membuat meme.</p>



<p>Sebuah produk yang bagus juga harus bisa membangkitkan Emosi konsumen dan memiliki Nilai Praktis yang tidak ribet. Semua poin-poin tersebut, jika dibalut dengan cerita yang apik, akan membuat hampir apapun menjadi viral dan menjadi pembicaraan banyak orang.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca Buku Contagious</h2>



<p>Sesuai dengan judulnya, <em>Contagious </em>membahas mengenai alasan-alasan mengapa sebuah produk bisa menjadi viral atau berhasil, lengkap dilengkapi dengan contoh dari kisah nyata. Dengan demikian, kita bisa mendapatkan gambaran mengenai topik yang sedang dijelaskan. </p>



<p>Meskipun awam dengan dunia <em>marketing</em>, buku ini mudah dipahami dan tidak dipenuhi dengan kata-kata yang berat. Membaca buku ini terasa seperti membaca kumpulan kisah inspiratif bagaimana sebuah produk bisa berhasil viral.</p>



<p>Jika mau merangkup keenam langkah yang ada di STEPPS, hal paling penting dari proses pemasaran adalah <em>getok tular </em>atau mulut ke mulut dari konsumen itu sendiri. Jika yang berbicara hanya produsen, kecil kemungkinan produk tersebut akan sukses.</p>



<p>Ini tentu relevan jika membandingkannya dengan konten viral di media sosial. Kenapa konten bisa viral? Selain karena isi kontennya, tentu karena banyak orang yang membicarakan hal tersebut. Mau sekeren apapun kontennya, jika tidak ada yang membicarakannya, ya enggak bakal viral.</p>



<p>Jika disebutkan apa kekurangan dari buku ini, mungkin Penulis akan menyebutkan kalau isinya bisa dibilang cukup <em>basic </em>dan mungkin bisa ditemukan di media sosial dan internet. Namun, hal tersebut wajar saja jika buku ini memang ditargetkan untuk pasar yang awam dengan dunia <em>marketing.</em></p>



<p>Walaupun mungkin tidak semua isinya bisa Penulis praktekkan, setidaknya wawasan yang disajikan cukup berguna untuk Penulis. Kalaupun belum bisa diterapkan sekarang, Penulis yakin suatu saat akan bermanfaat.</p>



<p>Penulis cukup merekomendasikan buku ini untuk siapapun yang ingin mengetahui dasar-dasar dalam membuat produk dan ide yang bisa menjadi viral karena pemaparannya yang mudah dipahami.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">Skor: 7/10</mark></p>
</blockquote>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 15 Juni 2024, terinspirasi setelah membaca Contagious karya Peter Berger</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-contagious/">[REVIEW] Setelah Membaca Contagious</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-contagious/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Belajar Melepas Perasaan Bersalah dari Kosan 95</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-melepas-perasaan-bersalah-dari-kosan-95/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-melepas-perasaan-bersalah-dari-kosan-95/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 24 Aug 2023 15:28:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[bersalah]]></category>
		<category><![CDATA[Kosan 95]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[pengembangan diri]]></category>
		<category><![CDATA[salah]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<category><![CDATA[Webtoon]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6802</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hari ini (24/8), Penulis kembali membuka aplikasi Webtoon setelah sudah cukup lama tidak menggunakannya. Salah satu komik yang ingin Penulis baca adalah kelanjutan dari Kosan 95 yang sedang memasuki babak akhirnya. Terakhir kali membaca, ceritanya sedang berfokus pada karakter Budi yang merupakan salah satu anggota kos. Waktu kecil, ia berteman baik dengan Faisal dan Fani [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-melepas-perasaan-bersalah-dari-kosan-95/">Belajar Melepas Perasaan Bersalah dari Kosan 95</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Hari ini (24/8), Penulis kembali membuka aplikasi Webtoon setelah sudah cukup lama tidak menggunakannya. Salah satu komik yang ingin Penulis baca adalah kelanjutan dari <em>Kosan 95</em> yang sedang memasuki babak akhirnya.</p>



<p>Terakhir kali membaca, ceritanya sedang berfokus pada karakter <strong>Budi</strong> yang merupakan salah satu anggota kos. Waktu kecil, ia berteman baik dengan<strong> Faisal</strong> dan<strong> Fani</strong> (saudara kembar, anggota Kosan 95 juga), yang dijauhi teman-teman sebayanya karena dianggap anak haram.</p>



<p>Budi menjadi kawan pertama mereka yang benar-benar terlihat baik, peduli, dan tulus. Namun, tiba-tiba Budi menghilang begitu saja dari kehidupan Faisal dan Fani, yang pada akhirnya menimbulkan perasaan bersalah pada Budi untuk waktu yang sangat lama.</p>



<p class="has-text-align-center"><strong><em>SPOILER AHEAD!!!</em></strong></p>





<h2 class="wp-block-heading">Ringkasan Cerita hingga Budi Merasa Bersalah</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/bagaimana-cara-melepaskan-perasaan-bersalah-banner-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-6805" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/bagaimana-cara-melepaskan-perasaan-bersalah-banner-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/bagaimana-cara-melepaskan-perasaan-bersalah-banner-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/bagaimana-cara-melepaskan-perasaan-bersalah-banner-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/bagaimana-cara-melepaskan-perasaan-bersalah-banner.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Dari Kiri: Faisal, Budi, Fani (<a href="https://twitter.com/linewebtoonid/status/1287947401827774464">Twitter</a>)</figcaption></figure>



<p>Alasan awal Budi berteman dengan Faisal dan Fani adalah untuk membantu ayahnya, yang bekerja untuk <strong>keluarga Jaya</strong>. Ayahnya memiliki misi untuk memata-matai Faisal dan Fani, di mana mereka adalah bagian dari <strong>keluarga Sundari</strong> yang merupakan saingan keluarga Jaya. </p>



<p>Setelah misi tersebut selesai, Budi pun meninggalkan Faisal dan Fani, meskipun ia sebenarnya sangat menyayangi mereka. Nasib pun mempertemukan mereka kembali, di mana Budi langsung kabur karena ada <strong>perasaan bersalah </strong>setelah apa yang ia lakukan di masa lalu.</p>



<p>Budi berpikir kalau dirinya tidak bisa bertemu dan berhubungan lagi dengan Faisal dan Fani karena ia telah menyakiti mereka. Meskipun ia kerap sedih karena perasaan bersalah tersebut, ia merasa takut ketika akhirnya dipertemukan dengan mereka berdua.</p>



<p>Namun, akhirnya Budi memutuskan untuk menerima tawaran keluarga Jaya untuk bergabung dengan Kosan 95, agar ia memiliki kesempatan untuk menebus dosanya kepada Faisal dan Fani. </p>



<p>Sayangnya, yang ada <strong>perasaan bersalah tersebut justru terus tumbuh</strong> karena ia belum menemukan jawaban mengenai bagaimana cara menebus kesalahannya. Apalagi, ternyata hubungan Faisal dan Fani pun memburuk karena suatu hal.</p>



<p>Saat bertemu dengan Fani pertama kali di Kosan 95, Fani langsung meminta tolong untuk membantunya berbaikan dengan Faisal. Hubungan buruk mereka langsung terbukti ketika Faisal langsung mengusir Fani begitu melihatnya.</p>



<p>Hal tersebut membuat Budi <strong>semakin merasa bersalah</strong>. Masa-masa awal Budi di Kosan 95 pun penuh dengan konflik batin. Ia menyesal karena di masa lalu dirinya lebih banyak diam, ketika ada banyak hal yang sebenarnya bisa ia lakukan untuk Faisal dan Fani.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Bagaimana Budi (dan Fani) Berusaha Menghilangkan Perasaan Bersalahnya</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Screenshot-2023-08-24-221204-1024x683.png" alt="" class="wp-image-6806" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Screenshot-2023-08-24-221204-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Screenshot-2023-08-24-221204-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Screenshot-2023-08-24-221204-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Screenshot-2023-08-24-221204.png 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Dua Karakter yang Sama-sama Terjebak Rasa Bersalah (<a href="https://www.instagram.com/p/CtvwzXyyVg9/">Instagram</a>)</figcaption></figure>



<p>Selama bertahun-tahun, perasaan bersalah itu terus menghinggapi Budi seolah tak bisa disingkirkan. Ia merasa tidak bisa menebus kesalahan tersebut dan layak untuk mendapatkan maaf.</p>



<p>Budi pun mendapatkan nasehat dari <strong>Pak Agus</strong>, penjaga Kosan 95, yang mengatakan kalau Budi harus bisa menjadi<strong> penengah antara Faisal dan Fani</strong> layaknya teman yang bersikap adil. Pak Agus juga mengatakan kalau konflik yang terjadi antara mereka bukan salah Budi.</p>



<p>Pak Agus juga mengingatkan kalau Budi harus <strong>merelakan apa yang telah terjadi di masa lalu </strong>dan <strong>jangan berlarut-larut di dalam penyesalan tanpa akhir</strong>. Daripada seperti itu, lebih baik<strong> fokus dengan melakukan apa yang bisa diperbaiki sekarang dan terus maju</strong>.</p>



<p>Akhirnya seiring berjalannya waktu, Budi merasa bahwa penebusan dosa yang mungkin bisa ia lakukan adalah <strong>membuat Faisal dan Fani berdamai </strong>seperti dulu lagi. Mereka bertiga pernah akrab dan saling berbagi tawa, dan ia ingin hal tersebut bisa terjadi lagi saat ini.</p>



<p>Sebenarnya bukan cuma Budi yang memiliki perasaan bersalah, karena Fani pun juga merasa bersalah ke Faisal. Alasan mereka menjadi renggang adalah karena Fani justru tidak percaya kepada Faisal di saat saudara kembarnya tersebut sedang membelanya.</p>



<p>Merasa dirinya begitu egois, Fani pun menyesal dan terus berusaha untuk <strong>memperbaiki hubungannya </strong>dengan Faisal. Berbagai hal ia <strong>berusaha lakukan dan berikan</strong> untuk menyenangkan Faisal, meskipun kerap mendapatkan respons yang kurang mengenakkan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Belajar Melepas Perasaan Bersalah dari Kosan 95</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Screenshot-2023-08-24-222307-1024x683.png" alt="" class="wp-image-6808" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Screenshot-2023-08-24-222307-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Screenshot-2023-08-24-222307-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Screenshot-2023-08-24-222307-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/08/Screenshot-2023-08-24-222307.png 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Ini Budi (<a href="https://www.instagram.com/p/Cq1_TL_r17h/">Instagram</a>)</figcaption></figure>



<p>Dari kisah hubungan antara Budi, Faisal, dan Fani di atas, kita bisa belajar beberapa hal mengenai cara melepas perasaan bersalah yang membelenggu kita. Penulis yakin, kebanyakan dari kita pernah mengalami perasaan yang dialami oleh karakter-karakter <em>Kosan 95</em>.</p>



<p>Sebagai manusia, tentu kita pernah berbuat salah, baik ke diri sendiri maupun orang lain. Bagi sebagian orang, berbuat salah ke orang lain bisa menimbulkan perasaan bersalah yang begitu dalam, seolah tidak ada hal yang bisa dilakukan untuk menghilangkannya.</p>



<p>Penulis sendiri pernah merasa seperti itu dan mencoba berbagai cara, mulai dari minta maaf, berusaha memperbaiki keadaan, <a href="https://whathefan.com/rasa/kalau-sayang-seseorang-kita-rela-berubah-jadi-lebih-baik/">mengubah diri menjadi lebih baik</a>, dan lain sebagainya. Kurang lebih sama seperti yang sedang dilakukan oleh Budi dan Fani.</p>



<p>Namun, sama seperti yang dirasakan Budi, perasaan bersalah itu masih saja hinggap. Pada akhirnya Penulis menyadari kalau pada akhirnya kitalah yang harus bisa <strong>memaafkan dan berdamai dengan diri sendiri </strong>atas kesalahan yang sudah diperbuat.</p>



<p>Seperti yang dikatakan oleh Pak Agus, pada akhirnya kita harus merelakan apa yang sudah terjadi dan fokus dengan hari ini. <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/terbelenggu-rasa-bersalah/">Terbelenggu dengan perasaan bersalah</a> yang kita buat sendiri hanya akan menghambat kita untuk melangkah maju.</p>



<p>Jika kita sudah bisa melakukan hal tersebut, proses memaafkan dan berdamai dengan diri sendiri pun akan lebih mudah kita lakukan. Nasi sudah menjadi bubur, semua sudah terlanjur. Mari kita sama-sama belajar untuk melepaskan perasaan bersalah yang ada di dalam diri kita.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 24 Agustus 2023, terinspirasi setelah membaca Webtoon <em>Kosan 95</em></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-melepas-perasaan-bersalah-dari-kosan-95/">Belajar Melepas Perasaan Bersalah dari Kosan 95</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-melepas-perasaan-bersalah-dari-kosan-95/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>[REVIEW] Setelah Membaca The Psychology of Money</title>
		<link>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-psychology-of-money/</link>
					<comments>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-psychology-of-money/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 15 Jun 2023 15:00:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Non-Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[kekayaan]]></category>
		<category><![CDATA[Morgan Housel]]></category>
		<category><![CDATA[pengembangan diri]]></category>
		<category><![CDATA[self improvement]]></category>
		<category><![CDATA[The Psychology of Money]]></category>
		<category><![CDATA[uang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6569</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis menyadari bahwa dirinya termasuk telat dalam menyadari pentingnya mengelola uang dengan baik dan melakukan investasi. Untuk itu, beberapa waktu terakhir ini Penulis banyak membaca atau menonton video seputar keuangan. Nah, salah satu buku keuangan yang sering disebut adalah The Psychology of Money yang ditulis oleh Morgan Housel. Beberapa YouTuber yang Penulis sukai pun telah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-psychology-of-money/">[REVIEW] Setelah Membaca The Psychology of Money</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Penulis menyadari bahwa dirinya termasuk telat dalam menyadari pentingnya mengelola uang dengan baik dan melakukan investasi. Untuk itu, beberapa waktu terakhir ini Penulis banyak membaca atau menonton video seputar keuangan.</p>



<p>Nah, salah satu buku keuangan yang sering disebut adalah <em><strong>The Psychology of Money </strong></em>yang ditulis oleh Morgan Housel. Beberapa YouTuber yang Penulis sukai pun telah mengulas buku ini, seperti Fellexandro Ruby dan Maudy Ayunda.</p>



<p>Meskipun sudah mengetahui garis besar buku tersebut melalui mereka, Penulis memutuskan untuk tetap membeli dan membaca sendiri buku ini. Pada tulisan kali ini, Penulis akan mencoba membagikan ulasannya mengenai buku ini.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/photo_2018-06-08_12-24-24-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/photo_2018-06-08_12-24-24-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/photo_2018-06-08_12-24-24-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/photo_2018-06-08_12-24-24-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/photo_2018-06-08_12-24-24-356x200.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/photo_2018-06-08_12-24-24.jpg 1280w " alt="Dongeng Jostein Gaarder" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/buku/dongeng-jostein-gaarder/">Dongeng Jostein Gaarder</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Detail Buku</h2>



<ul class="wp-block-list">
<li>Judul:&nbsp;<em>The Psychology of Money</em></li>



<li>Penulis: Morgan Housel</li>



<li>Penerbit: Penerbit BACA</li>



<li>Cetakan: Ke-35</li>



<li>Tanggal Terbit: Agustus 2022</li>



<li>Tebal: 238 halaman</li>



<li>ISBN: 9786026486578</li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Isi Buku Ini?</h2>



<p>Sesuai dengan judulnya,<em> The Psychology of Money </em>mengajak kita untuk lebih memahami bagaimana psikologi dari sebuah uang melalui cerita-cerita pendek yang ia bagi menjadi 20 bab, dengan memberikan berbagai perspektif yang mungkin selama ini terlewat. </p>



<p>Menariknya, setiap akhir bab seolah dibuat semacam <em>teaser </em>untuk bab selanjutnya, sehingga pembaca buku ini pun akan terus merasa penasaran untuk membacanya. Penulis akui kalau trik ini cukup ampuh dan keren.</p>



<p>Setiap babnya akan membahas hal yang berbeda, dengan berbagai contoh dari kehidupan nyata. Yang paling mudah diingat adalah<strong> bagaimana &#8220;beruntungnya&#8221; seorang <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/bill-gates-dan-sumpah-pemuda/">Bill Gates</a> </strong>hingga bisa menjadi orang terkaya di dunia melalui perusahaan yang ia dirikan, Microsoft.</p>



<p>Singkat cerita, salah satu faktor keberutungan yang dimiliki oleh Gates adalah bagaimana ia bisa bersekolah di salah satu sekolah yang memiliki fasilitas komputer dengan probabilitas yang sangat kecil. Ini salah satu hal yang harus kita pahami dari uang.</p>



<p>Banyak hal menarik lainnya yang Penulis temukan di buku ini, seperti bagaimana <strong>kekayaan itu pada dasarnya harus bersifat <em>compound </em></strong>atau bertahap. Kekayaan yang instan, biasanya akan hilang dalam waktu yang instan juga.</p>



<p>Tidak percaya? Coba sebutkan ada berapa banyak orang yang menang lotre mendadak, lantas dapat mempertahankan kekayaan tersebut? Kebanyakan, akan terdengar cerita kalau uang mereka ludes dalam waktu singkat dan mereka kembali ke titik awal lagi.</p>



<p>Masih ada banyak lagi hal menarik seputar uang yang dibahas oleh buku ini. Dengan gaya bahasa yang ringan dan dibalut dengan cerita menarik, rasanya semua kalangan akan mampu mendapatkan <em>insight </em>yang berguna untuk kehidupannya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Setelah Membaca The Psychology of Money</h2>



<p>Meskipun bisa dibilang inspiratif, Penulis merasa kalau <strong>buku ini tidak begitu aplikatif</strong>. Setelah menyelesaikannya, Penulis merasa belum mendapatkan jawaban yang memuaskan mengenai bagaimana memahami uang agar kita bisa mengendalikannya dengan lebih baik.</p>



<p>Memang, buku ini tidak jualan &#8220;5 Cara Menjadi Kaya&#8221;, sehingga kurang ada tips yang aplikatif seperti bagaimana melakukan investasi yang baik atau agar menabung bisa menjadi lebih efektif. Kita hanya akan dipaparkan cara memperlakukan uang dalam hidup.</p>



<p>Walaupun begitu, masih ada beberapa poin aplikatif di buku ini, seperti bagaimana <strong>pentingnya untuk melakukan diversivikasi investasi</strong> karena kita harus selalu menyiapkan <em>room for error</em>. </p>



<p>Selain itu, Penulis juga sadar kalau <em>skill </em>mendapatkan uang dan <em>skill </em>mempertahankan uang itu berbeda. Penulis sendiri mengalami ketika memegang uang, hasrat untuk membelanjakannya begitu tinggi, terutama untuk barang-barang yang konsumtif.</p>



<p>Seperti kata <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/jerome-dan-maudy-bicara-tentang-pendidikan/">Maudy Ayunda</a>, tabungan adalah <strong>pengeluaran kebutuhan dikurang ego kita</strong>. Semakin tinggi ego kita, semakin sedikit pula tabungan yang akan kita miliki. Untuk itu, dibutuhkan konsistensi untuk menabung, termasuk dalam berinvestasi.</p>



<p>Yang jelas, kita juga harus memahami kalau <strong>uang itu penting, tapi sebagai instrumen</strong>, bukan tujuan. Jadikan uang hanya sebagai alat untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik untuk kita, bukan menimbulkan perasaan kalau uanglah yang membuat kita baik.</p>



<figure class="wp-block-jetpack-rating-star" style="text-align:center"><span>★</span><span>★</span><span>★</span></figure>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 15 Juni 2023, terinspirasi setelah membaca buku <em>The Psychology of Money </em>karya Morgan Housel</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-psychology-of-money/">[REVIEW] Setelah Membaca The Psychology of Money</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/buku/non-fiksi/review-setelah-membaca-the-psychology-of-money/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apakah Sukses Harus Keluar dari Zona Nyaman?</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-sukses-harus-keluar-dari-zona-nyaman/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-sukses-harus-keluar-dari-zona-nyaman/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 27 Oct 2022 14:39:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[pengembangan diri]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<category><![CDATA[sukses]]></category>
		<category><![CDATA[zona nyaman]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=6095</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pagi ke pagi, ku terjebak di dalam ambisiSeperti orang-orang berdasi yang gila materiRasa bosan, membukakan jalan mencari peranKeluarlah dari zona nyaman &#8211; Zona Nyaman by Fourtwnty &#8211; Sekitar empat bulan lalu, sewaktu sedang iseng mengecek akun LinkedIn Penulis, tiba-tiba di beranda muncul sebuah posting yang dibuat oleh kawan karib Penulis. Ia menyinggung masalah &#8220;keluar dari [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-sukses-harus-keluar-dari-zona-nyaman/">Apakah Sukses Harus Keluar dari Zona Nyaman?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p><em>Pagi ke pagi, ku terjebak di dalam ambisi<br>Seperti orang-orang berdasi yang gila materi</em><br><em>Rasa bosan, membukakan jalan mencari peran<br>Keluarlah dari zona nyaman</em></p><p><span style="color:#9e0b0f" class="has-inline-color">&#8211; Zona Nyaman by Fourtwnty &#8211;</span></p></blockquote>



<p>Sekitar empat bulan lalu, sewaktu sedang iseng mengecek akun LinkedIn Penulis, tiba-tiba di beranda muncul sebuah posting yang dibuat oleh kawan karib Penulis. Ia menyinggung masalah &#8220;<strong>keluar dari zona nyaman</strong>&#8221; yang bisa dilihat selengkapnya di bawah ini:</p>



<div class="wp-block-image is-style-default"><figure class="aligncenter size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="540" height="244" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/2022-10-27_202841.jpg" alt="" class="wp-image-6097" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/2022-10-27_202841.jpg 540w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/2022-10-27_202841-300x136.jpg 300w" sizes="auto, (max-width: 540px) 100vw, 540px" /></figure></div>



<p>Penulis pun tergelitik untuk memberikan komentar yang cukup panjang di posting tersebut dan ingin membahasnya lebih dalam melalui tulisan di blog. Hanya saja karena beberapa alasan (baca: malas), niat tersebut baru terlaksana sekarang.</p>



<p>Pada tulisan kali ini, Penulis ingin membahas mengenai opini populer mengenai apakah untuk bisa menjadi sukses harus keluar dari zona nyaman yang telah dimiliki. Agar lebih <em>related</em>, Penulis juga akan berbagi sedikit pengalamannya yang pernah keluar dari zona nyaman.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Memahami Apa Itu Zona Nyaman</h2>



<p>Pertanyaan utama dari kawan Penulis adalah &#8220;<em>kalau sudah nyaman sama pekerjaan kita, ngapain keluar?</em>&#8220;. Untuk itu, Penulis akan mencoba membedah mengenai apakah yang dimaksud dari zona nyaman itu sendiri.</p>



<p>Zona nyaman belakangan ini memang menjadi <em>term </em>yang cukup populer, apalagi setelah dijadikan lagu oleh Fourtwnty. Dilansir dari <em>positivepshychology.com</em>, pencetus istilah zona nyaman adalah Judith Bardwick pada tahun 1991, yang mengatakan:</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>&#8220;Zona nyaman adalah keadaan perilaku di mana seseorang beroperasi dalam kondisi kecemasan-netral, menggunakan serangkaian perilaku terbatas untuk memberikan tingkat kinerja yang stabil, biasanya tanpa rasa risiko.&#8221;</p></blockquote>



<p>Jika mengambil definisi tersebut, dapat disimpulkan kalau zona nyaman adalah <strong>kondisi di mana kita merasa aman dan tanpa risiko, tetapi hampir tidak ada ruang untuk berkembang secara signifikan</strong>. </p>



<p>Penulis menemukan sebuah diagram mengenai<em> </em>zona nyaman yang bisa dilihat di bawah ini:</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/Apakah-Sukses-Harus-Keluar-dari-Zona-Nyaman-1-1024x980.webp" alt="" class="wp-image-6098" width="493" height="471" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/Apakah-Sukses-Harus-Keluar-dari-Zona-Nyaman-1-1024x980.webp 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/Apakah-Sukses-Harus-Keluar-dari-Zona-Nyaman-1-300x287.webp 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/Apakah-Sukses-Harus-Keluar-dari-Zona-Nyaman-1-768x735.webp 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/Apakah-Sukses-Harus-Keluar-dari-Zona-Nyaman-1.webp 1200w" sizes="auto, (max-width: 493px) 100vw, 493px" /><figcaption>Diagram Zona Nyaman (<a href="https://positivepsychology.com/comfort-zone/?utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=comfort-zone#comfort-zone">Positive Psychology</a>)</figcaption></figure></div>



<p>Dalam diagram ini, Penulis menganggap bahwa zona nyaman yang dimaksud di sini adalah ketika kita merasa tidak bisa mengembangkan diri, tetapi hidup kita relatif terjamin, entah karena gaji bulanan yang lancar atau karena masih mendapatkan &#8220;jatah&#8221; orang tua. </p>



<p>Di dalam dunia kerja, zona nyaman kerap dikaitkan dengan pekerjaan yang cenderung <strong>stagnan</strong>, <strong>monoton</strong>, dan<strong> tidak bisa mengembangkan diri</strong> baik secara <em>skill</em>, relasi, dan lainnya. Hanya saja, pekerjaan tersebut mampu memberikan rasa aman dan menghidupi kita.</p>



<p>Artinya, ketika kita merasa nyaman dengan pekerjaan kita dan masih menemukan banyak ruang untuk bekembang, menurut Penulis itu<strong> bukan zona nyaman yang dimaksud</strong>. </p>



<p>Selain itu, zona nyaman juga memiliki makna yang lebih luas lagi. Mencoba hal baru yang berbeda, belajar <em>skill </em>baru, mulai rutin berolahraga, melakukan diet baru, itu pun hal-hal yang mengeluarkan kita dari zona nyaman berupa kemalasan.</p>



<p>Penulis merasa nyaman setiap malam nonton YouTube berjam-jam atau <a href="https://whathefan.com/renungan/untuk-apa-main-game/">bermain <em>game</em></a>. Hanya saja, di satu titik Penulis merasa aktivitas tersebut tidak membantu Penulis berkembang dan terlalu membuang-buang waktu. </p>



<p>Akhirnya, Penulis mencoba menggantinya dengan kembali rutin <a href="https://whathefan.com/pengalaman/mengapa-blog/">menulis blog</a>, belajar tentang SEO, atau sekadar membaca buku. Memang lebih capek, apalagi setelah seharian bekerja. Namun, Penulis jadi merasa bisa memanfaatkan waktunya menjadi lebih baik.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Pengalaman Keluar dari Zona Nyaman</h2>



<figure class="wp-block-embed is-type-wp-embed is-provider-whathefan wp-block-embed-whathefan"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<blockquote class="wp-embedded-content" data-secret="CnTLwdjB9Y"><a href="https://whathefan.com/pengalaman/keluar-dari-zona-nyaman/">Keluar dari Zona Nyaman</a></blockquote><iframe loading="lazy" class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted"  title="&#8220;Keluar dari Zona Nyaman&#8221; &#8212; Whathefan!" src="https://whathefan.com/pengalaman/keluar-dari-zona-nyaman/embed/#?secret=CnTLwdjB9Y" data-secret="CnTLwdjB9Y" width="600" height="338" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe>
</div></figure>



<p>Sejujrunya Penulis merasa kesulitan dalam mendefinisikan zona nyaman ini. Untuk itu, Penulis ingin <em>sharing </em>sedikit tentang pengalamannya yang menurut Penulis merupakan contoh dari keluar dari zona nyaman. Sekali lagi, ini hanya opini pribadi Penulis dan Penulis terbuka untuk definisi lainnya.</p>



<p>Ketika <a href="https://whathefan.com/pengalaman/salah-jurusan-sampai-lulus/">baru lulus dari bangku kuliah</a>, Penulis sempat melakukan banyak hal, mulai dari bekerja di kantor ayah hingga mengambil kursus di Kampung Inggris. Hanya saja, Penulis merasa benar-benar berada di zona nyaman sehingga kesulitan untuk mengembangkan dirinya.</p>



<p>Untuk itu, Penulis pun membulatkan tekat untuk keluar dari zona nyaman dengan pindah ke Jakarta. Awalnya memang karena menjadi <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-menjadi-volunteer-asian-games-awal-dari-segalanya/"><em>volunteer </em>di Asian Games</a>, tetapi selepas acara Penulis memutuskan untuk menetap dan mencari pekerjaan di sana.</p>



<p>Alhamdulillah, Penulis akhirnya mendapatkan pekerjaan pertama di Jakarta dan tinggal di sana selama kurang lebih dua tahun. Jika Penulis bertahan di zona nyamannya dan tidak berani ke Jakarta, mungkin Penulis tidak akan berada di posisinya sekarang (tentu semua ini kehendak Tuhan).</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-wp-embed is-provider-whathefan wp-block-embed-whathefan"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<blockquote class="wp-embedded-content" data-secret="4v8zs1KTQ0"><a href="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-melamar-kerja-di-mainspring-technology/">Pengalaman Melamar Kerja di Mainspring Technology</a></blockquote><iframe loading="lazy" class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted"  title="&#8220;Pengalaman Melamar Kerja di Mainspring Technology&#8221; &#8212; Whathefan!" src="https://whathefan.com/pengalaman/pengalaman-melamar-kerja-di-mainspring-technology/embed/#?secret=4v8zs1KTQ0" data-secret="4v8zs1KTQ0" width="600" height="338" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe>
</div></figure>



<p>Ketika di sana, Penulis bekerja sebagai <em>content writer</em>. Pekerjaan itu benar-benar zona nyaman karena Penulis memang hobi menulis. Untuk itu, Penulis memutuskan untuk kembali keluar dari zona nyaman dengan belajar <em>social media </em>di kantor. Kebetulan, Penulis punya mentor di sana.</p>



<p>Di tempat kerja yang sekarang, Penulis memiliki jabatan sebagai editor. Apakah Penulis kembali keluar dari zona nyamannya? Jawabannya iya. Penulis tidak hanya melakukan <em>editing </em>artikel di sini, Penulis juga mendalami <em>skill </em>SEO (<em>Search Engine Optimization</em>) dan <em>data analyst </em>kecil-kecilan.</p>



<p>Penulis memang terkesan sangat budak korporat karena seolah selalu memberikan lebih dari yang diminta. Hanya saja, selama itu <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kerja-secukupnya-atau-kasih-value-lebih/">menambah <em>value </em>untuk diri Penulis</a>, mengapa tidak? Penulis yang &#8220;murtad&#8221; dari jurusan kuliahnya merasa harus banyak belajar untuk bisa <em>survive </em>di dunia ini.</p>



<p>Dengan kata lain, Penulis berusaha <strong>memperluas zona nyamannya </strong>sendiri dengan belajar berbagai hal baru. Ketika mengenal dunia media sosial dan SEO, jujur saja rasanya sedikit menakutkan karena terlihat kompleks. Namun, perlahan-lahan Penulis berusaha memahaminya agar dirinya bisa lebih berkembang.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Lantas, apa jawaban dari &#8220;apakah sukses harus keluar dari zona nyaman?&#8221; Menurut Penulis, <strong>tidak</strong>. Mungkin keluar dari zona nyaman berhasil untuk Penulis, tetapi belum tentu akan berhasil juga untuk orang lain. Bisa saja ada yang bisa sukses dengan tetap bertahan di zona nyamannya sendiri.</p>



<p>Kalau kita merasa nyaman dengan pekerjaan yang sekarang (apalagi gajinya tinggi), mempertahankannya bukan hal yang salah. Mungkin saja kita tidak sadar bahwa setiap hari ada saja hal baru yang didapatkan. Ini semua tidak hanya terkait tentang <em>skill</em>, tapi juga pengalaman hidup.</p>



<p>Tentu ada kondisi-kondisi yang membuat kita merasa tidak bisa keluar dari zona nyaman. Misal, sudah punya tanggunan keluarga, ada hutang, <em>sandwich generation</em>, dan lain sebagainya. </p>



<p>Untuk itu, Penulis tidak setuju jika keluar dari zona nyaman menjadi satu-satunya cara agar orang bisa sukses. Sama seperti jalan ke Roma, ada ribuan cara untuk bisa menjadi sukses. Keluar dari zona nyaman hanya salah satunya.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 27 Oktober 2022, terinspirasi setelah membahas posting LinkedIn seorang kawan yang membahas tentang zona nyaman</p>



<p>Foto: <a href="https://psychology-spot.com/comfort-zone/">Psychology Spot</a></p>



<p>Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list"><li><a href="https://positivepsychology.com/comfort-zone/?utm_source=rss&amp;utm_medium=rss&amp;utm_campaign=comfort-zone#comfort-zone">How to Leave your Comfort Zone and Enter your ‘Growth Zone’ (positivepsychology.com)</a></li></ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-sukses-harus-keluar-dari-zona-nyaman/">Apakah Sukses Harus Keluar dari Zona Nyaman?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-sukses-harus-keluar-dari-zona-nyaman/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apakah Saya Manipulatif?</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-saya-manipulatif/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-saya-manipulatif/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 15 Apr 2022 03:35:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[manipulasi]]></category>
		<category><![CDATA[manipulatif]]></category>
		<category><![CDATA[pengembangan diri]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5643</guid>

					<description><![CDATA[<p>ma·nip·u·la·tive/məˈnipyəˌlādiv/ adjective: characterized by unscrupulous control of a situation or person. Dari seorang kawan, Penulis baru menyadari kalau dirinya (bisa jadi) memiliki beberapa ciri-ciri sifat manipulatif. Ketika melakukan kontemplasi, memang rasanya ada dan Penulis bertekad untuk mengubah sifat buruk itu. Sama seperti artikel Apakah Saya Toxic?, tulisan ini mengajak Penulis (dan Pembaca) untuk melihat ke [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-saya-manipulatif/">Apakah Saya Manipulatif?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>ma·nip·u·la·tive/məˈnipyəˌlādiv/</p><p><span style="font-size: 1.9rem; letter-spacing: -0.02em;"></span></p><cite><em>adjective</em>: characterized by unscrupulous control of a situation or person.<br></cite></blockquote>



<p>Dari seorang kawan, Penulis baru menyadari kalau dirinya (bisa jadi) memiliki beberapa ciri-ciri sifat manipulatif. Ketika melakukan kontemplasi, memang rasanya ada dan Penulis bertekad untuk mengubah sifat buruk itu.</p>



<p>Sama seperti artikel<em> <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-saya-toxic/">Apakah Saya Toxic?</a></em>, tulisan ini mengajak Penulis (dan Pembaca) untuk melihat ke dalam, apakah benar kita memiliki sifat manipulatif dengan mempelajari pengertian dan apa saja ciri-cirinya.</p>



<p>Harapannya dengan membuat tulisan seperti ini, Penulis jadi bisa mengubah sifat-sifat buruknya yang memiliki keterkaitan dengan sifat manipulatif dan tidak merugikan orang lain lagi.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Apa Itu Sifat Manipulatif?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/04/apakah-saya-manipulatif-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5657" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/04/apakah-saya-manipulatif-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/04/apakah-saya-manipulatif-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/04/apakah-saya-manipulatif-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/04/apakah-saya-manipulatif-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Ingin Mengendalikan Orang Lain (<a href="https://money.com/marketing-politicians-manipulation-psychology/">Money</a>)</figcaption></figure>



<p>Sesuai dengan namanya, manipulatif memiliki makna bagaimana kita <strong>memanipulasi orang lain agar ia atau mereka bertindak sesuai keinginan kita</strong>. Ini menjadi salah satu teknik psikologis yang sering digunakan oleh orang untuk berbagai kepentingan.</p>



<p>Orang dengan sifat manipulatif akan <strong>menyerang sisi emosional dan mental orang yang ingin mereka manipulasi</strong>. Membuat orang lain merasa bersalah, merasa takut, membuat orang lain tidak bisa membedakan benar salah, hanyalah beberapa caranya.</p>



<p>Seringnya, sifat ini digunakan untuk <strong>mendapatkan keuntungan tertentu atau minimal sesuatu yang ia inginkan</strong>. Ini bisa dimulai dari yang sepele seperti mendapatkan perhatian hingga meraup keuntungan berupa harta.</p>



<p>Bisa jadi, kita tak sadar kalau pernah bersikap manipulatif kepada orang lain. Banyak yang mengira (termasuk Penulis) menganggap itu adalah hal yang biasa dalam sebuah hubungan. Untuk itu, penting untuk mengetahui apa saja ciri-ciri dari sifat manipulatif.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Ciri-Ciri Sifat Manipulatif?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/04/apakah-saya-manipulatif-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5658" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/04/apakah-saya-manipulatif-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/04/apakah-saya-manipulatif-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/04/apakah-saya-manipulatif-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/04/apakah-saya-manipulatif-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Gemar Menanamkan Rasa Bersalah ke Orang Lain (<a href="https://thesecondangle.com/society-blame-women-end-relationship/">The Second Angle</a>)</figcaption></figure>



<p>Penulis membaca beberapa sumber (bisa dibaca di bawah) untuk mengetahui apa saja ciri yang dimiliki oleh seseorang dengan sifat manipulatif. Berikut adalah beberapa rangkumannya:</p>



<ul class="wp-block-list"><li><strong>Membuat orang lain merasa bersalah</strong>, dengan berbagai cara. Bisa dibilang ini adalah ciri yang paling sering dilakukan oleh seorang manipiulator untuk menghindari tanggung jawab. Mengacak-acak perasaan kita akan dilakukan oleh mereka. Bahkan, tak jarang mereka menuntut maaf.</li><li><strong>Berbuat baik (secara tidak ikhlas) dan sering mengungkitnya</strong>, di mana kita akan dibuat untuk terus mengingat-ingat kebaikannya. Akibatnya, kita dilanda perasaan bersalah karena tidak mampu menghargai kebaikan yang telah mereka lakukan kepada kita.</li><li><strong>Membuat kita merasa bingung</strong>, karena dengan begitu kita akan menjadi sulit untuk membuat keputusan. Situasi ini akan disukai oleh para manipulator, karena dengan begitu <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apa-yang-bisa-kita-kendalikan/">urusan mengendalikan kita akan menjadi lebih mudah</a>.</li><li><strong>Dramatis</strong>, di mana ciri ini terlihat dari perkataan yang ia lontarkan terdengar berlebihan. Hal ini bisa menimbulkan perasaan bersalah bagi korban, apalagi jika menggunakan senjata berupa tangisan.</li><li><strong>Membuat kita bergantung pada mereka</strong>, karena dengan mereka bergantung pada mereka, mereka seolah memiliki kontrol kepada kita. Untuk tingkat yang parah, si manipulatif akan membuat suasana yang menekan si korban agar bergantung padanya. </li><li><strong>Membuat kita merasa tidak berguna</strong>, sekali lagi agar kita menjadi bergantung pada mereka. Mereka seolah-olah dengan sengaja ingin kita percaya kalau kita ini lemah dan butuh mereka. Ada penanaman doktrin kalau kita tidak bisa apa-apa tanpa mereka.</li><li><strong>Menuntut pembuktian rasa sayang</strong>, di mana ini bisa menimbulkan perasaan bersalah jika tidak bisa membuktikannya dengan cara yang mereka inginkan.</li><li><strong>Mengontrol keputusan</strong>, seolah-olah kita tidak boleh mandiri menentukan hal-hal yang sebenarnya bisa diputuskan sendiri. Bahkan, tak jarang kita dibuat merasa tidak enak jika keputusan yang diambil tidak sesuai dengan yang mereka inginkan.</li><li><strong>Memanfaatkan kelemahan kita</strong>, sehingga orang terdekat kita pun bisa jadi seorang manipulator yang handal. Misal mereka tahu kita mudah merasa bersalah, mereka akan semakin gencar untuk membuat kita merasa bersalah.</li><li><strong>Pandai memutarbalikkan fakta</strong>, bahkan tak ragu untuk menggunakan kebohongan asal tujuan mereka tercapai. Cara untuk membalikkan keadaan dan membuat kita merasa bersalah adalah hal yang mudah untuk mereka.</li></ul>



<h2 class="wp-block-heading">Apakah Saya Memiliki Sifat Manipulatif?</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/04/apakah-saya-manipulatif-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5659" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/04/apakah-saya-manipulatif-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/04/apakah-saya-manipulatif-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/04/apakah-saya-manipulatif-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/04/apakah-saya-manipulatif-3.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Bertanya Kepada Diri Sendiri, Apakah Saya Manipulatif? (<a href="https://economictimes.indiatimes.com/magazines/panache/failure-goals-and-hopes-the-everyday-things-that-people-regret/articleshow/64385681.cms">The Economic Times</a>)</figcaption></figure>



<p>Penulis tidak pernah merasa kalau dirinya memiliki sifat manipulatif dalam dirinya. Hanya saja, setelah membaca beberapa sumber, Penulis jadi menyadari ada beberapa ciri seorang manipulatif yang dimilikinya. </p>



<p><strong>Bahkan, mungkin hampir semuanya.</strong></p>



<p>Setidaknya yang Penulis tahu pasti, ada orang-orang dekat Penulis yang merasa kalau dirinya sering merasa bersalah dan itu diakibatkan dari tindakan yang Penulis lakukan kepada mereka. Penulis tidak menyadari telah melakukan hal ini dan benar-benar merasa menyesal.</p>



<p>Terkadang jika sedang emosi, Penulis akan mengungkit kebaikan yang sudah dilakukan. Walau menyesal setelah emosi mereda, tetap saja Penulis telah melakukannya. Penulis juga terkadang bereaksi berlebihan dan dramatis jika sedang bertengkar dengan seseorang.</p>



<p>Penulis suka jika ada orang yang meminta bantuan ke Penulis, tapi bukan berarti Penulis berharap mereka akan selalu bergantung kepada Penulis. Kadang Penulis juga terlalu ikut campur jika ada orang lain yang ingin membuat keputusan, tapi tidak pernah memaksanya.</p>



<p>Untuk masalah menuntut pembuktian perasaan sayang, mungkin Penulis tidak pernah memintanya secara gamblang. Hanya saja, Penulis merasa selama ini dirinya kerap meminta untuk mendapatkan perhatian, kepedulian, ada ketika butuh, dan lain sebagainya.</p>



<p>Selain itu, ciri-ciri lain sepertinya tidak Penulis miliki. Penulis tidak pernah berniat jahat ingin membuat orang merasa dirinya tidak berguna atau memanfaatkan kelemahan mereka.</p>



<p>Penulis bisa berkata kalau dirinya tidak melakukan semua hal di atas secara sengaja. Penulis hanya tidak menyadari kalau sikapnya (terutama ke orang-orang dekat) begitu buruk, sehingga wajar jika ada yang berpendapat kalau Penulis memiliki sifat manipulatif.</p>



<p>Penulis jadi banyak belajar dari hal ini, dan berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak melakukannya lagi.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Cara menghadapi seorang manipulator adalah dengan menyadari berbagai teknik manipulasinya. Kita harus bisa memosisikan diri secara objektif tanpa terpengaruh mereka agar bisa berpikir secara jernih.</p>



<p>Jika kita merasa ada manipulator di sekitar kita dan merasa tidak mampu mengalahkan mereka, ada baiknya kita menghindari orang tersebut. Rasanya, tidak ada yang mau dekat-dekat dengan seorang manipulator.</p>



<p>Dengan mengetahui ciri-cirinya di atas, kita pun bisa menghindari jebakan-jebakan yang mereka buat. Lantas, kita pun dapat menjalani hidup dengan lebih tenang tanpa terbebani rasa bersalah yang mereka ciptakan.</p>



<p>Kalau Pembaca merasa memiliki beberapa ciri seorang manipulator di atas, coba lakukan refleksi diri seperti yang Penulis lakukan. Rasanya tidak ada orang yang suka dirinya dimanipulasi, bahkan orang terdekat sekalipun.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 15 April 2022, terinspirasi setelah mendapatkan masukan dari seorang kawan</p>



<p>Foto: <a href="https://voi.id/en/lifestyle/89911/dont-be-lulled-by-appeal-know-the-5-characteristics-of-manipulative-people">VOI.id</a></p>



<p>Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list"><li><a href="https://satupersen.net/blog/arti-manipulatif">Memahami Arti Manipulatif dalam Toxic Relationship di Layangan Putus (satupersen.net)</a></li><li><a href="https://www.liputan6.com/health/read/4690702/kenali-apa-itu-manipulatif-dan-ciri-cirinya">Kenali Apa Itu Manipulatif dan Ciri-Cirinya &#8211; Health Liputan6.com</a></li><li><a href="https://www.momsmoney.id/news/kenali-ciri-ciri-orang-yang-manipulatif-patut-diwaspadai">Kenali Ciri-Ciri Orang yang Manipulatif, Patut Diwaspadai! (momsmoney.id)</a></li><li><a href="https://www.qubisa.com/article/ciri-orang-manipulatif#showContent">Ciri Orang Manipulatif | QuBisa</a></li><li><a href="https://lifestyle.kontan.co.id/news/ada-di-layangan-putus-apa-itu-manipulatif-inilah-ciri-cirinya?page=all">Ada di Layangan Putus, Apa Itu Manipulatif? Inilah Ciri-cirinya (kontan.co.id)</a></li></ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-saya-manipulatif/">Apakah Saya Manipulatif?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-saya-manipulatif/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Belajar Menerima Keadaan dari Peter Parker</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-menerima-keadaan-dari-peter-parker/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-menerima-keadaan-dari-peter-parker/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 28 Mar 2022 14:00:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[menerima keadaan]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[pengembangan diri]]></category>
		<category><![CDATA[Peter Parker]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<category><![CDATA[Spider-Man]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5636</guid>

					<description><![CDATA[<p>Menurut standar Penulis, film Spider-Man: No Way Home yang rilis pada akhir tahun lalu adalah salah satu film terbaik yang pernah dirilis Marvel. Bukan hanya karena fans service yang menjual nostalgia, tapi memang jalan ceritanya yang menarik dan sedikit pedih. Salah satu adegan yang Penulis sukai adalah adegan ketika Peter Parker (Tom Holland) hendak memperkenalkan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-menerima-keadaan-dari-peter-parker/">Belajar Menerima Keadaan dari Peter Parker</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Menurut standar Penulis, film <em><a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-spider-man-no-way-home/">Spider-Man: No Way Home</a> </em>yang rilis pada akhir tahun lalu adalah salah satu film terbaik yang pernah dirilis Marvel. Bukan hanya karena <em>fans service </em>yang menjual nostalgia, tapi memang jalan ceritanya yang menarik dan sedikit pedih.</p>



<p>Salah satu adegan yang Penulis sukai adalah adegan ketika Peter Parker (Tom Holland) hendak memperkenalkan dirinya ke MJ (Zendaya) yang telah melupakan dirinya karena efek sihir <a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-teaser-doctor-strange-in-the-multiverse-of-madness/">Doctor Strange</a> (Benedict Cumberbatch) di kafe tempat MJ bekerja.</p>



<p>Peter terlihat gugup hingga akhirnya memesan kopi ke MJ, lantas mendengar percakapan MJ dengan Ned (Jacob Batalon) tentang MIT. Setelah mengantarkan kopi, Peter dan MJ melakukan sedikit percakapan.</p>



<p>Setelah membayar kopinya, Peter melihat luka yang ada di dahi MJ yang muncul akibat pertarungan sebelumnya. Melihat itu, Peter mengurungkan niatnya. Sembari tersenyum dan mata yang berkaca-kaca, ia pun meninggalkan kafe tersebut.</p>



<p>Pembaca bisa menonton videonya di bawah ini:</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Peter and MJ Final Goodbye | Spider-Man: No Way Home | 4K UHD" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/aYMYl4ryTCY?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Adegan ini bisa dibilang adegan yang paling mengharukan sepanjang film. Kita bisa melihat Peter, walau konflik di dalam film akibat ulahnya, akhirnya mengambil tanggung jawab dan berusaha menerima keadaan yang menimpanya.</p>



<p>Nah, di tulisan kali ini Penulis ingin menyoroti bagaimana kita seharusnya bisa menerima keadaan yang menimpa kita.</p>





<h2 class="wp-block-heading">Belajar Menerima Keadaan dari Peter Parker</h2>



<p>Sebelum film ini tayang, banyak yang menyebutkan kalau film ini cukup <em>dark </em>dan menyedihkan. Penulis setuju, setidaknya untuk film-film Marvel yang terkenal ringan dan penuh lelucon.</p>



<p>Peter harus kehilangan Bibi May, lantas diterpa fakta kalau seluruh orang di dunia melupakan kalau dirinya pernah ada, termasuk kekasihnya MJ dan sahabatnya Ned. Bayangkan, tiba-tiba tidak ada satu pun orang yang punya memori tentang kita.</p>



<p>Skenario awalnya, Peter akan memperkenalkan dirinya ke MJ dan Ned dan berusaha menjelaskan apa yang terjadi. Namun, pada akhirnya Peter mengurungkan niat tersebut karena tidak ingin orang yang disayanginya tersakiti.</p>



<p>Di sini, kita bisa melihat bagaimana Peter memilih untuk menerima keadaan yang menimpanya dan tidak terpuruk karenanya. Ia pindah ke apartemen baru, lantas segera belajar untuk ujian penyetaraan karena data sekolahnya hilang sama sekali.</p>



<p>Menerima keadaan yang berat seperti itu jelas bukan perkara mudah. Kita pun dalam hidup kerap dihadapkan dengan keadaan-keadaan yang rasanya begitu memberatkan kita. Terkadang, rasanya sulit sekali untuk menerima kenyataan yang ada.</p>



<p>Hanya saja, begitulah hidup. Tidak semua yang kita inginkan bisa kita dapatkan. Ada momen-momen berat yang mungkin harus kita hadapi untuk membentuk kita menjadi pribadi yang lebih kuat lagi.</p>



<p>Peter memutuskan untuk menerima keadaan demi melindungi orang-orang yang ia sayangi. Ia tidak ingin mereka tersakiti lagi, dan dengan menjauh dari mereka akan mengurangi risiko tersebut.</p>



<p>Peter menanggung semua beban ini sendirian. Ia rela berkorban demi orang-orang yang berharga baginya. Bagi banyak orang, ini adalah contoh <a href="https://whathefan.com/filmserial/setelah-menonton-teaser-doctor-strange-in-the-multiverse-of-madness/">tingkat sayang yang tertinggi</a>, yakni keikhlasan. Penulis sungguh ingin bisa seperti ini.</p>



<p>Dalam kehidupan, terkadang kita juga berjumpa dengan perpisahan seperti yang dialami oleh Peter, bahkan mungkin lebih &#8220;drama&#8221;. Kadang kita merasa susah untuk bisa melepaskan karena mereka orang yang berharga untuk kita.</p>



<p>Hanya saja, perlu kita ingat kalau <em>people come and go. </em>Kita harus bisa menerima kenyataan ketika takdir sudah menentukan kita harus berpisah dengan orang yang kita sayangi dan berusaha menerimanya dengan ikhlas.</p>



<p>Kita seharusnya bisa belajar menerima dan beradaptasi dengan keadaan seperti Peter Parker. Mau segetir apapun yang sedang kita hadapi, <em>life must go on</em>. Sedih secukupnya, marah secukupnya, lantas kita harus berani melanjutkan langkah.</p>



<p>Ada satu lagi hal lagi yang Penulis petik dari film <em>Spider-Man: No Way Home</em>. Namun, itu akan Penulis bahas di tulisan selanjutnya.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 28 Maret 2022, terinspirasi setelah menonton film <em>Spider-Man: No Way Home</em></p>



<p>Foto: <a href="https://www.youtube.com/watch?v=aYMYl4ryTCY">YouTube</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-menerima-keadaan-dari-peter-parker/">Belajar Menerima Keadaan dari Peter Parker</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-menerima-keadaan-dari-peter-parker/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menghargai Kebaikan Orang Lain Itu Enggak Susah, kok</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menghargai-kebaikan-orang-lain-itu-enggak-susah-kok/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menghargai-kebaikan-orang-lain-itu-enggak-susah-kok/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 20 Feb 2022 03:07:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[baik]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[kebaikan]]></category>
		<category><![CDATA[menghargai]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[pengembangan diri]]></category>
		<category><![CDATA[sifat]]></category>
		<category><![CDATA[terima kasih]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5570</guid>

					<description><![CDATA[<p>Menghargai kebaikan orang lain itu enggak susah, kok. Cukup ucapkan terima kasih kepada mereka yang sudah berbaik hati mau menolong kita. Bisa secara langsung, bisa melalui pesan singkat dari ponsel. Menghargai kebaikan orang lain itu enggak susah, kok. Cukup berusaha menerima kebaikan yang ingin ia berikan kepada kita tanpa merasa sungkan berlebihan. Jika tidak merasa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menghargai-kebaikan-orang-lain-itu-enggak-susah-kok/">Menghargai Kebaikan Orang Lain Itu Enggak Susah, kok</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Menghargai kebaikan orang lain itu enggak susah, kok. <strong>Cukup ucapkan terima kasih</strong> kepada mereka yang sudah berbaik hati mau menolong kita. Bisa secara langsung, bisa melalui pesan singkat dari ponsel.</p>



<p>Menghargai kebaikan orang lain itu enggak susah, kok. <strong>Cukup berusaha menerima kebaikan</strong> yang ingin ia berikan kepada kita tanpa merasa sungkan berlebihan. Jika tidak merasa butuh atau cocok dengan bantuan tersebut, coba katakan terus terang tanpa perlu menyakiti.</p>



<p>Menghargai kebaikan orang lain itu enggak susah, kok. <strong>Cukup tidak mencela kebaikan </strong>yang mereka lakukan kepada kita. Mereka sudah mau meluangkan waktu dan tenaganya untuk berbuat baik kepada kita, jangan menuntut lebih dari itu.</p>



<p>Menghargai kebaikan orang lain itu enggak susah, kok. <strong>Cukup dengan bersikap</strong> baik kepadanya dan berusaha untuk tidak menyakiti perasaannya. Jika ia membutuhkan bantuan kita, cobalah bantu semampu kita.</p>



<p>Menghargai kebaikan orang lain itu enggak susah, kok. Jika mampu, <strong>coba kita balas kebaikan </strong>tersebut sesuai dengan kemampuan kita. Coba cari cara, bagaimana cara membalasnya yang tidak terlalu memberatkan kita, tapi bermanfaat untuk orang tersebut.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>





<p>Kita semua tentu ingin dikelilingi oleh orang-orang baik yang tak segan untuk menolong di saat kita membutuhkannya. Bahkan, terkadang ada saja orang yang memiliki inisiatif untuk menolong kita tanpa diminta.</p>



<p>Sebagai pihak yang menerima kebaikan orang lain, sudah seharusnya kita menghargai kebaikan tersebut. Entah dengan mengucapkan terima kasih atau berusaha membalas kebaikannya di masa depan.</p>



<p>Meskipun idealnya seperti itu, ada saja orang-orang yang tidak (atau belum) bisa menghargai kebaikan orang lain. Mereka merasa<strong> kebaikan yang diberikan oleh orang lain adalah hal yang biasa</strong> sehingga tidak perlu diapresiasi.</p>



<p>Tentu itu hal yang kurang elok dan tidak sepantasnya dilakukan. Di dunia yang kesannya orang jahat makin banyak, kita harus percaya kalau masih banyak orang-orang baik yang tersisa. Mereka seolah menjadi pelita yang menghangatkan.</p>



<p>Oleh karena itu, yuk kita belajar untuk bisa lebih <strong>menghargai kebaikan orang lain</strong> yang mereka lakukan untuk kita. Ada banyak cara untuk mengapresiasi bentuk kebaikan tersebut, tergantung kemampuan kita masing-masing mampu melakukan yang mana.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 20 Februari 2022, terinspirasi setelah menyadari ada orang-orang yang terlihat susah untuk menghargai kebaikan orang lain</p>



<p>Foto:&nbsp;<strong><a href="https://www.pexels.com/@gabby-k?utm_content=attributionCopyText&amp;utm_medium=referral&amp;utm_source=pexels">Monstera</a></strong>&nbsp;from&nbsp;<strong><a href="https://www.pexels.com/photo/crop-black-man-with-gift-box-5876621/?utm_content=attributionCopyText&amp;utm_medium=referral&amp;utm_source=pexels">Pexels</a></strong></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menghargai-kebaikan-orang-lain-itu-enggak-susah-kok/">Menghargai Kebaikan Orang Lain Itu Enggak Susah, kok</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menghargai-kebaikan-orang-lain-itu-enggak-susah-kok/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menghargai Prioritas Orang Lain</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menghargai-prioritas-orang-lain/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menghargai-prioritas-orang-lain/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 Dec 2021 14:19:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[pengembangan diri]]></category>
		<category><![CDATA[pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[prioritas]]></category>
		<category><![CDATA[self-improvement]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=5511</guid>

					<description><![CDATA[<p>pri.o.ri.tas n&#160;yang didahulukan dan diutamakan daripada yang lain: Jika direnungkan, hidup ini sebenarnya tentang apa yang kita prioritaskan. Semua pilihan dan tindakan yang kita ambil kemungkinan besar dipengaruhi dari daftar prioritas yang kita miliki. Misal, kita memilih untuk seharian rebahan dan tidak produktif sama sekali. Artinya, kita memilih untuk memprioritaskan rasa malas kita dibandingkan melakukan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menghargai-prioritas-orang-lain/">Menghargai Prioritas Orang Lain</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h2 class="wp-block-heading">pri.o.ri.tas</h2>



<ul class="wp-block-list"><li><em>n&nbsp;</em>yang didahulukan dan diutamakan daripada yang lain:</li></ul>



<p>Jika direnungkan, hidup ini sebenarnya tentang <strong>apa yang kita prioritaskan</strong>. Semua pilihan dan tindakan yang kita ambil kemungkinan besar dipengaruhi dari daftar prioritas yang kita miliki.</p>



<p>Misal, kita memilih untuk <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rebahan-terus-kapan-suksesnya/">seharian rebahan</a> dan tidak produktif sama sekali. Artinya, kita memilih untuk memprioritaskan <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/saya-ini-pemalas/">rasa malas</a> kita dibandingkan melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk diri kita.</p>



<p>Kita memilih untuk menonton film dengan pacar dibandingkan dengan sahabat, artinya kita lebih memprioritaskan pacar daripada sahabat. Mau menggunakan alasan apapun, intinya kita lebih mengutamakan salah satu pihak.</p>



<p>Ketika diberikan pilihan antara menyelesaikan pekerjaan dan bermain gim, kita memilih untuk bermain gim. Kita memprioritaskan aktivitas tersebut (mungkin) dikarenakan kita merasa butuh <em>refreshing</em> dari penatnya pekerjaan.</p>





<p>Semua orang berhak membuat daftar prioritasnya masing-masing, karena hanya kita sendirilah yang tahu mana yang lebih berhak untuk diprioritaskan. Seharusnya, orang lain tidak boleh ikut campur masalah ini.</p>



<p>Oleh karena itu, sudah sewajarnya jika kita harus menghargai prioritas orang lain. Hanya saja, dalam praktiknya terkadang susah untuk dilakukan karena satu hal: <strong>Kita ingin diprioritaskan</strong>.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Ketika Kita Ingin Diprioritaskan</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/menghargai-prioritas-orang-lain-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5514" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/menghargai-prioritas-orang-lain-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/menghargai-prioritas-orang-lain-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/menghargai-prioritas-orang-lain-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/menghargai-prioritas-orang-lain-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Merasa Tidak Diprioritaskan (<a href="https://www.pexels.com/@budgeron-bach">Budgeron Bach</a>)</figcaption></figure>



<p>Masalah seputar prioritas biasanya terjadi dalam sebuah hubungan. Entah apa alasannya, rasanya seolah kita harus menjadi prioritasnya. Contoh gampangnya adalah dalam sebuah hubungan pacaran, izin bermain dengan teman terasa agak susah.</p>



<p>Alasan yang paling umum adalah karena pihak yang melarang ingin menghabiskan waktunya dengan sang kekasih. Dirinya ingin kekasihnya lebih memprioritaskan dirinya dibandingkan teman-temannya, yang mungkin hanya punya kesempatan bertemu satu bulan sekali.</p>



<p>Sekilas, ini menjadi salah satu tanda sebuah <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/apakah-saya-toxic/">hubungan yang <em>toxic</em></a>. Harusnya,<strong> kita tidak boleh memaksakan diri untuk masuk ke dalam prioritas orang</strong>, walau kepada orang terdekat sekalipun.</p>



<p>Untuk menghindari hal ini, kita harus belajar untuk <strong>menghargai prioritas orang lain</strong>. Kita harus tahu, orang lain juga memiliki dunianya sendiri, memiliki lingkar pertemanannya sendiri, memiliki kesibukannya sendiri, dan lain sebagainya.</p>



<p><em>We&#8217;re not the center of the universe</em>. Jangan merasa kalau perhatian dari orang sekitar hanya boleh ditujukan kepada kita. Jangan merasa kalau hanya kita yang layak untuk diprioritaskan. Ini hanya akan menjadi sebuah racun dalam hubungan, apapun bentuknya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kewajiban yang (Memang) Harus Diprioritaskan</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/menghargai-prioritas-orang-lain-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-5515" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/menghargai-prioritas-orang-lain-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/menghargai-prioritas-orang-lain-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/menghargai-prioritas-orang-lain-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/12/menghargai-prioritas-orang-lain-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Wajib Diprioritaskan (<a href="https://unsplash.com/@under_afiq">afiq fatah</a>)</figcaption></figure>



<p>Memang ada kasus-kasus di mana <strong>kita harus memprioritaskan sesuatu karena menjadi sebuah kewajiban</strong>. Misal, sebagai seorang umat muslim, kita harus memprioritaskan sholat dibandingkan aktivitas duniawi.</p>



<p>Contoh lain, sebagai seorang anak, sudah selayaknya kita memprioritaskan orang tua kita di atas segalanya (selain Tuhan, tentunya). Seorang suami memprioritaskan kebutuhan keluarganya dibandingkan membeli mainan favoritnya.</p>



<p>Sebagai seorang karyawan, sudah sewajarnya kita memprioritaskan selesainya pekerjaan dibandingkan menamatkan sebuah <em>game</em>. Seorang pemuda memprioritaskan menyimpan uangnya dibandingkan secangkir Starbucks.</p>



<p>Dalam kasus-kasus seperti ini, kita yang harus memiliki kesadaran untuk menempatkan kewajiban-kewajiban kita sebagai prioritas. Setelah menyadari hal ini, kita pun bisa menyusun daftar prioritas kita dengan baik dan benar.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Masalah prioritas ini memang sedang sering Penulis renungkan akhir-akhir ini. Ada banyak penyebabnya, salah satunya adalah melihat ke dalam diri sendiri apakah daftar prioritas yang dibuat sudah benar atau belum.</p>



<p>Ketika merasa tidak diprioritaskan oleh orang yang Penulis prioritaskan, Penulis segera menegur diri kalau memang tidak ada kewajiban baginya untuk memprioritaskan Penulis.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p><strong>Hanya karena kita memprioritaskan orang lain, bukan berarti ia juga wajib memprioritaskan kita</strong>.</p></blockquote>



<p>Sekali lagi, semua orang berhak membuat daftar prioritasnya masing-masing. Yang bisa kita lakukan dan kita kendalikan adalah menghargai prioritas orang lain tersebut. Berharap agar kita diprioritaskan hanya akan menimbulkan rasa kecewa.</p>



<hr class="wp-block-separator"/>



<p>Lawang, 22 Desember 2021, terinspirasi setelah merenungkan masalah prioritas</p>



<p>Foto: <a href="https://www.pexels.com/@polina-zimmerman">Polina Zimmerman</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menghargai-prioritas-orang-lain/">Menghargai Prioritas Orang Lain</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menghargai-prioritas-orang-lain/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
