Buku
Setelah Membaca Berani Tidak Disukai
Hidup dengan ekspetasi orang lain itu tidak menyenangkan. Kita akan merasa tidak bisa melangkahkan kaki sesuai dengan keinginan kita sendiri.
Salah satu contoh kita terkekang dengan keinginan orang lain adalah berusaha menyenangkan semua orang, baik dari pihak keluarga, lingkaran pertemanan, hingga kolega kantor.
Hal ini sering Penulis lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Padahal jika direnungi, rasanya hampir mustahil untuk bisa memuaskan semua pihak.
Oleh karena itu, Penulis memutuskan untuk membeli buku berjudul Berani Tidak Disukai yang ditulis oleh Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga. Buku ini juga menjadi bagian dari buku-buku bertemakan self-caring yang sedang Penulis dalami.
Apa Isi Buku Ini?
Buku ini ditulis berdasarkan pemikiran salah satu psikolog paling berpengaruh di abad ke-19 bernama Alfred Adler, terutama yang berkaitan dengan kebahagiaan dan pola pikir yang mendukungnya.
Berbeda dengan Freud, Adler mengatakan bahwa kita cenderung hidup dan bertindak oleh harapan-harapan di masa depan dibandingkan pengaruh pengalaman masa lalu, termasuk yang menimbulkan trauma.
Pemikiran tersebut dikemas dalam bentuk dialog antara seorang pemuda yang merasa tak puas dengan hidupnya dengan seorang filsuf tua yang hidup soliter di sebuah tempat terpencil.
Pertemuan tersebut dibagi menjadi lima malam, di mana tiap malam terbagi menjadi beberapa subbab yang saling terhubung satu sama lain. Artinya, kita harus membaca secara runtut untuk bisa memahami buku ini.
Karena bukunya sudah berada di Malang, Penulis hanya bisa menjabarkan isinya berdasarkan ingatan semata.
Malam Pertama
Yang jelas, pada malam pertama kita akan diajak untuk menyangkal yang namanya trauma. Menurut Adler, sebenarnya tidak ada yang namanya trauma.
Kita sering kali menggunakan alasan trauma untuk tetap berada di zona di mana kita berada sekarang. Mungkin ini cukup kontroversial, bahkan sang pemuda di dalam buku ini juga menyangkal habis-habisan,
Sebenarnya yang ingin disampaikan adalah kita memiliki pilihan antara terjebak ke dalam trauma atau justru menjadikannya sebagai batu loncatan menuju masa depan.
Malam Kedua
Kalau tidak salah, malam kedua akan berusaha menjelaskan bahwa hidup ini bukan sekadar kompetisi. Apalagi di era media sosial seperti sekarang, kita akan mudah merasa inferior (termasuk Penulis).
Sama seperti trauma, inferior juga bisa dijadikan pembenaran bagi sebagian orang. Contohnya:
“Ah, mana bisa aku seperti dia, aku kan hitam dan jelek.”
“Dia mah enak anak orang kaya, bisa dapat apa aja enggak kayak aku yang miskin.”
Kalau kata mantan atasan Penulis di Surabaya, pemikiran-pemikiran seperti ini akan memunculkan mental block yang hanya akan menjadi penghambat kita.
Daripada terus membandingkan diri dengan orang lain, kenapa kita tidak membandingkan kita dengan diri sendiri? Apakah diri kita hari ini telah lebih baik dari diri kita kemarin?
Malam Ketiga
Pernah berusaha mencampuri urusan orang lain? Penulis merasa sering melakukannya. Isi dari diskusi dari malam ketiga adalah mengenai pembagian tugas.
Intinya, sebagian besar orang tidak akan suka jika “tugasnya” harus dicampuri oleh orang lain. Contohnya adalah masalah sekolah. Mungkin ada orangtua yang terlalu memaksa anaknya untuk bisa jadi juara satu.
Padahal, belajar bukanlah tugas orangtua, melainkan sang anak. Dorongan yang terlalu keras seperti itu justru akan membuat sang anak akan merasa kalau “tugasnya” diambil alih oleh orang lain.
Penulis tidak terlalu ingat malam keempat ataupun kelima. Intinya, kalau tidak salah, adalah mengajak kita untuk bisa menikmati hidup hari ini tanpa perlu berusaha disukai oleh semua orang.
Tidak apa-apa menjadi orang biasa, kita tidak harus selalu menjadi yang nomor satu. Poin-poin inilah yang menjadi inti dari buku yang satu ini.
Setelah Membaca Buku Berani Tidak Disukai
Awalnya, Penulis akan mengira buku ini akan terasa berat dan membosankan. Ternyata, buku ini cukup menarik, mampu memberikan sudut pandang yang berbeda, dan terasa sangat dinamis meskipun penuh istilah teknis dan terkesan filosofis.
Buku ini akan mengajak kita untuk menyederhanakan kehidupan kita. Jika terlihat rumit dan memusingkan, mungkin kitalah yang membuatnya seperti itu. Terdengar utopis memang.
Banyak kalimat-kalimat dari sang filsuf yang akan membuat kita ingin mengajukan protes, namun hal tersebut langsung diwakili oleh sang pemuda yang digambarkan sangat keras kepala. Jadi, kita tidak perlu capek-capek mengirim email ke penulis buku ini.
Buku ini Penulis rekomendasikan bagi pembaca yang sedang mencari makna kehidupan ataupun kebahagiaan. Penulis menyarankan untuk membacanya secara perlahan dan meresapi maknanya.
Nilainya: 4.0/5.0
Kebayoran Lama, 18 Januari 2020, terinspirasi setelah menamatkan buku Berani Tidak Disukai karya Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga
Nonfiksi
[REVIEW] Setelah Membaca Merawat Luka Batin
Kesehatan mental menjadi salah satu concern Penulis dalam beberapa tahun terakhir ini. Bukan hanya demi dirinya sendiri, tapi juga karena ingin tahu bagaimana Penulis harus bersikap jika ada orang dekatnya yang sedang mengalami struggle dengan hal tersebut.
Tak hanya itu, Penulis juga ingin memahami dunia psikologi lebih dalam lagi, walaupun mungkin Penulis hanya akan paham dari sisi permukaan. Penulis jelas tidak berniat ingin jadi psikolog abal-abal, hanya ingin pengetahuannya seputar hal tersebut semakin luas.
Dengan alasan-alasan tersebut, Penulis pun mencoba untuk membaca buku-buku yang berhubungan dengan kesehatan mental. Salah satunya adalah Merawat Luka Batin karya dr. Jiemy Adrian Sp.KJ.
Disclaimer: Penulis mengetahui bahwa belum lama ini, penulis buku ini yakni dr. Jiemy baru saja mendapatkan tuduhan pelecehan seksual dan terbukti tidak bersalah. Buku ini hanya akan fokus membahas isi bukunya.

Detail Buku Merawat Luka Batin
- Judul: Merawat Luka Batin
- Penulis: dr. Jiemy Adrian Sp.KJ
- Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
- Cetakan:
- Tanggal Terbit:
- Tebal: 326 halaman
- ISBN: 9786020661520
- Harga: Rp98.000
Apa Isi Buku Merawat Luka Batin?
Melalui sinopsis yang ada di bagian belakang buku ini, sebenarnya inti dari Merawat Luka Batin adalah tentang proses berpikir. Namun, kita tidak diajak untuk selalu berpikir positif seperti kata-kata motivator, tapi juga memahami saat kita berpikir negatif.
Buku ini dibagi menjadi 8 bab, yakni:
- Apa Itu Depresi?
- Memersepsi Realitas
- Memahami Sisi Gelap Diri Kita: Pikiran yang Liar
- Menerangi Gelapnya Pikiran dan Perasaan
- Berlatih Mindfullness
- Bagaimana Menghadapi Dorongan untuk Menyakiti Diri Sendiri
- Mencegah Depresi Hidup Kembali
- Mengasihi Seseorang dengan Depresi: Sebuah Langkah bagi Keluarga dan Sahabat
Dari daftar isi di atas, kita bisa mendapatkan gambaran apa saja langkah-langkah yang diberikan oleh dr. Jiemy untuk bisa memahami pikiran dan perasaan kita sendiri. Kita diberi deskripsi dan mengapa hal tersebut muncul terlebih dahulu untuk lebih bisa memahaminya.
Depresi bisa dibilang menjadi salah satu pusat buku ini, terutama yang disebabkan oleh trauma masa lalu, sehingga memiliki bab tersendiri dan ditaruh paling depan pula. Banyak informasi dasar seputar depresi mulai dari definisi, ciri-ciri, hingga cara mengatasinya.
Setelah lebih memahami apa yang terjadi dengan proses berpikir kita dan mengapa perasaan kita bereaksi secara tertentu, ada bagian-bagian yang membagikan tips praktis untuk menangani hal tersebut. Jadi sederhananya, kita harus mengenali dan memahami sesuatu terlebih dahulu untuk bisa mencari solusinya.
Selain itu, buku ini juga menyiapkan bab khusus untuk membantu para caregiver yang mungkin memiliki keluarga atau teman yang sedang bermasalah dengan kesehatan mentalnya. Bukan untuk menggantikan profesional tentu saja, tapi setidaknya kita bisa melakukan beberapa hal untuk membantu mereka.
Setelah Membaca Merawat Luka Batin
Sepanjang membaca buku ini, Penulis menemukan banyak sekali langkah-langkah praktis yang bisa kita lakukan, bahkan buat yang merasa tidak memiliki masalah dengan kesehatan mental sekali pun. Sarannya pun bisa dipertanggungjawabkan mengingat daftar pustaka di bagian belakang buku ini cukup panjang.
Contoh, pola tidur yang buruk bisa memengaruhi kesehatan mental kita, sehingga ada beberapa bagian buku ini yang memberikan beberapa tips untuk membantu kita bisa tidur melalui penerapan Sleep Hygiene. Tips tersebut bisa digunakan siapa saja, bukan?
Tak hanya itu, sepanjang buku ini kita tidak akan merasa dihakimi atau digurui, mungkin karena yang menulis memang seorang psikolog yang kerap berhadapan dengan berbagai jenis pasien. Jadinya, ya kita merasa enjoy ketika membacanya.
Bahasanya juga sebisa mungkin menghindari kata-kata yang sulit dipahami, sehingga Penulis pun bisa menandaskan buku ini dengan lumayan cepat. Mungkin di bab 1 ada beberapa bagian yang lumayan teknis, tapi selain itu semua relatif mudah dicerna oleh orang awam.
Penulis merasa setuju kalau buku ini berusaha mengajak kita untuk memahami proses berpikir, apalagi Penulis adalah orang yang mudah overthinking. Ada banyak hal yang dijelaskan mengenai cara mengatasi pikiran-pikiran “liar” yang kerap muncul tiba-tiba tanpa diundang.
Apalagi, ada beberapa quote menarik di buku ini yang bisa menjadi pengingat di masa-masa sulit. Berikut beberapa di antaranya:
- (h. 221) “Tidak ada yang baru dari masa lalu. Tidak ada yang pasti dari masa depan. Yang kita miliki hanya masa kini, di sini.”
- (h. 226) “Kita akan mendapatkan kontrol dengan melepaskan keinginan untuk mengontrol. Tenangkan egomu dan menyerahlah.”
Salah satu poin yang benar-benar masuk ke kepala Penulis adalah memahami mengapa orang berpikiran untuk mengakhiri hidupnya. Menurut dr. Jiemy, sebenarnya mereka bukan ingin mati begitu saja, tapi ingin menghilangkan rasa sakit yang mereka alami. Bunuh diri adalah cara permanen untuk mengatasi masalah yang sementara.
Nah, buku ini banyak sekali memberikan tips apa yang perlu dilakukan jika “serangan” depresi maupun keinginan untuk mengakhiri hidup datang. Tidak hanya dari sisi korban, tapi juga dari sisi kita sebagai orang-orang terdekatnya.
Kesimpulannya, buku ini membuat kita merasa dipahami tanpa merasa dihakimi. Membaca buku ini sedikit terasa seperti sesi psikologi yang menyenangkan, walau tentu saja bagi orang-orang tertentu disarankan untuk tetap datang ke psikolog sungguhan.
Penulis merasa kalau buku ini bisa membantu banyak orang yang sedang struggle dengan kesehatan mentalnya, terutama di era modern seperti sekarang. Tak perlu merasa malu jika kita merasa butuh membaca buku ini, karena hidup ini memang tanggung jawab kita, bukan orang lain.
Selain itu, buku ini juga mengajak kita untuk lebih bisa berempati kepada orang-orang yang mengalami masalah kesehatan mental. Hal tersebut terjadi bukan sekadar karena “kurang bersyukur” atau “kurang dekat dengan Tuhan.” Kalau tidak bisa membantu, minimal berempati dengan keadaannya, tidak perlu menghakimi seenak hati.
SKOR: 8/10
Lawang, 19 Oktober 2026, terinspirasi setelah membaca Merawat Luka Batin karya dr. Jiemy Adrian Sp.KJ
Fiksi
[REVIEW] Setelah Membaca The Tokyo Zodiac Murders
Sejauh ini, Penulis sudah mencoba membaca novel misteri Jepang dari dua novelis, yakni Keigo Higashino dan Uketsu. Penulis menyukai beberapa karya mereka, tapi ada juga yang sayangnya terasa kurang.
Nah, Penulis pun memutuskan untuk melakukan eksplorasi dengan mencari penulis Jepang lain yang juga terkenal di genre misteri. Pilihan Penulis pun jatuh kepada Soji Shimada, dengan novelnya yang berjudul The Tokyo Zodiac Murders.
Salah satu alasan mengapa Penulis memilih novel ini adalah karena sinopsisnya yang menarik sekaligus mengerikan. Lantas, apakah cerita yang disajikan benar-benar semenarik apa yang tertulis di belakang buku?

Detail Buku The Tokyo Zodiac Murders
- Judul: The Tokyo Zodiac Murders
- Penulis: Soji Shimada
- Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
- Cetakan: Ke-23
- Tanggal Terbit: Agustus 2025
- Tebal: 360 halaman
- ISBN: 9789792285918
- Harga: Rp99.000
Apa Isi Buku The Tokyo Zodiac Murders
Cerita The Tokyo Zodiac Murders sebenarnya terbagi menjadi dua waktu, yakni di tahun 1936 dan 1979. Kasus pembunuhan terjadi di tahun 1936, lantas ada detektif amatir yang berusaha memecahkan kasus tersebut pada tahun 1976.
Di tahun 1936, ada seorang seniman bernama Heikichi Umezawa yang ditemukan tewas di balik pintu studionya. Namun, pihak kepolisian menemukan surat wasiat aneh di mana ia berencana untuk menciptakan Azoth, alias “sang wanita sempurna”.
Nah, sosok Azoth tersebut ia rencanakan menggunakan potongan-potongan tubuh keluarganya sendiri, termasuk anak dan keponakannya sendiri. Surat wasiat ini memakan halaman yang cukup tebal, dari halaman 11 hingga 41, dengan gaya font mesin ketik jadul.
Setelah kematian Heikichi, putri tertuanya juga terbunuh. Setelah itu, anak dan keponakannya yang lain juga menghilang, yang kemudian ditemukan dalam kondisi termutilasi secara mengerikan. Semua dikubur sesuai yang tertulis di wasiat Azoth milik Heikichi.
Misteri tersebut selama hampir 40 tahun sama sekali tidak terungkap kebenarannya, hingga di tahun 1976, ada seorang detektif, peramal nasib, dan astrolog yang tertarik dengan kasus ini. Namanya adalah Kiyoshi Mitarai, sosok yang dikenal berwatak eksentrik.
Didampingi oleh Kazumi Ishioka, yang terkesan sebagai “Dr. Watson-nya” cerita ini, Kiyoshi pun mencoba untuk membongkar kasus Pembunuhan Zodiak Tokyo yang telah menjadi misteri selama puluhan tahun.
Setelah Membaca Buku The Tokyo Zodiac Murders
Saat membaca bagian prolognya, yang merupakan surat wasiat sekaligus obsesi Heikichi terhadap Azoth, jujur ada perasaan bergidik sekaligus jijik. Banyak bagian diceritakan secara eksplisit, sehingga mampu menghadirkan sensasi disturbing yang lumayan.
Walau begitu, Penulis berusaha untuk menguatkan diri untuk terus membaca hingga akhirnya mencapai bagian Kiyoshi dan Kazumi, yang pada satu titik sedang mendiskusikan kasus yang telah terjadi puluhan tahun lalu.
Menurut Penulis, bagian tersebut memang sangat ditonjolkan sejak awal cerita dengan berbagai detailnya untuk membuat kita fokus ke Azoth. Semua kasus pembunuhan yang terjadi adalah demi terciptanya Azoth, entah oleh Heikichi maupun orang lain.
Dari sini, mungkin Pembaca sudah bisa menebak kalau akan ada sebuah plot twist di akhir cerita. Namun, Penulis tidak akan menceritakannya secara detail karena salah satu keunggulan utama novel ini memang dari plot twist-nya.
Nah, Soji Shimada sebagai penulis novel ini juga beberapa kali seperti menantang pembacanya untuk membongkar kasus yang ada di sini. Ajakan tersebut dikemas dalam bentuk semacam surat terbuka, yang belum pernah Penulis temukan di novel mana pun sebelumnya.
Mungkin, saat sang pelaku akhirnya terungkap, Pembaca akan merasa bingung dengan berbagai plot holes yang ada. Untungnya, di bagian akhir, ada bagian yang akan menjelaskan semuanya, termasuk motif dan metode pelaku.
Salah satu bagian yang mencuri perhatian Penulis dari novel ini adalah adegan di mana Kiyoshi mengolok-olok Sherlock Holmes, detektif favorit Kazumi. Ia sempat menyebut beberapa kasus dan membongkar apa saja kejanggalan yang terjadi pada cerita tersebut.
Omong-omong soal dinamika mereka berdua, bisa dibilang mereka benar-benar terasa sebagai Sherlock dan Holmes versi Jepang. Kazumi kerap heran dengan metode Kiyoshi, serta beberapa kali sampai ke kesimpulan yang salah.
Secara alur cerita, novel ini cukup seru dan pace-nya juga lumayan cepat. Tidak adanya kehadiran pihak kepolisian membuat proses investigasinya tidak terasa bertele-tele. Apalagi, interaksi antara Kiyoshi dan Kazumi juga terasa seru, love-hate relationship gitu.
Bagian lain yang cukup membantu adalah adanya daftar nama beserta perannya di bagian awal buku. Mengingat jumlah karakter di novel ini cukup banyak, tentu akan sulit untuk menghafal semuanya sekaligus.
Hanya saja, Penulis tidak bisa memahami apa perlunya background Kiyoshi sebagai peramal nasib dan astrologi. Memang, Azoth dibuat berdasarkan astrologi, tapi sepanjang cerita background tersebut tidak terlalu terasa berguna.
Justru, apa yang kerap menjadi inspirasi atau petunjuk bagi Kiyoshi datang dari hal-hal yang sepele dan tidak terduga, seperti yang sering kita temukan dalam cerita Detective Conan. Tidak pernah terjadi astrologi membantunya memecahkan misteri.
Kekurangan lainnya adalah penggunaan font mesin ketik yang walau penggunaannya masuk akal, bagi mata Penulis cukup terasa melelahkan. Nantinya di bagian akhir novel, akan ada juga bagian cerita yang ditulis menggunakan font tersebut.
Secara overall, Penulis cukup menikmati novel ini dan membuat impresi pertama terhadap Soji Shimada menjadi positif. Penulis pun memutuskan untuk membeli novel lainnya yang berjudul The Crooked House, yang juga merupakan salah satu judul novel Agatha Christie.
SKOR: 8/10
Lawang, 14 Oktober 2026, terinspirasi setelah membaca buku The Tokyo Zodiac Murders karya Soji Shimada
Nonfiksi
[REVIEW] Setelah Membaca Esensialisme
Setelah membaca buku Effortless yang cukup berkesan, Penulis pun memutuskan untuk membeli buku Greg McKeown lainnya yang telah dirilis terlebih dahulu, yakni Esensialisme. Apalagi, buku ini disebutkan beberapa kali di buku Effortless.
Selain karena alasan tersebut, Penulis juga merasa dirinya kadang kurang bisa memilah mana yang penting bagi dirinya dan mana yang tidak perlu diperhatikan. Oleh karena itu, Penulis berharap kalau buku ini dapat menjadi semacam panduan untuk itu.
Sayangnya, tampaknya ekspektasi Penulis terlalu tinggi, yang salah satunya disebabkan oleh buku Effortless. Secara singkat, impresi Penulis terhadap buku ini sama dengan buku Start with Why. Penulis akan menjabarkan alasannya di bawah ini.
Detail Buku Esensialisme
- Judul: Esensialisme
- Penulis: Greg McKeown
- Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
- Cetakan: Ke-7
- Tanggal Terbit: Desember 2025
- Tebal: 354 halaman
- ISBN: 9786020656151
- Harga: Rp108.000
Apa Isi Buku Esensialisme?
Dengan tagline “Pentingkan yang Penting Saja”, sebenarnya kita bisa menebak kalau isi buku ini akan mengajak kita belajar memprioritaskan mana yang penting dan mengabaikan apa yang kurang esensial.
Buat orang yang suka ruwet dengan pikirannya sendiri, jelas buku ini terasa menarik. Apalagi, di bagian cover ini terdapat semacam ilustrasi garis ruwet dengan tanda panah mengarah ke sebuah lingkaran dengan tulisan “ini” di tengah-tengahnya.
Berbeda dengan buku Effortless, buku ini terbagi menjadi ke dalam empat bagian, yakni:
Bagian I: Intisari
- Esensialis
- MEMILIH: Kekuatan Tak Terkalahkan dari Kemampuan Memilih
- MELIHAT DAN MENCERMATI: Yang Tidak Penting pada Hampir Segala Hal
- TRADE-OFF: Masalah Mana yang Ingin Saya Pecahkan?
Bisa dibilang, ini adalah bagian “pembukaan” untuk memahami apa yang dimaksud dengan Esensialisme. Akan ada banyak istilah di bagian ini yang akan muncul kembali di bab selanjutnya, terutama bagian trade-off atau menukar apa yang tidak esensial menjadi esensial.
Bagian II: Eksplorasi
- MEMBEBASKAN DIRI: Manfaat Tak Terduga dari Menjadi yang Tak Tersedia
- MENCERMATI: Melihat Mana yang Sungguh Penting
- BERMAIN: Mengambil Kearifan Kanak-Kanak Dalam Diri Anda
- TIDUR: Melindungi Aset
- MEMILIH: Kedahsyatan Kriteria Ekstrem
Dalam bagian ini, kita diajak untuk mengeksplorasi diri untuk menemukan apa yang benar-benar penting dalam kehidupan kita. Ada dua bab yang menarik di sini, yakni “bermain” dan “tidur”. Aktivitas yang kerap dianggap tidak produktif ini ternyata esensial!
Bagian III: Eliminasi
- KLARIFIKASI: Sebuah Keputusan yang Meniadakan Seribu Keputusan
- BERANI: Kedahsyatan Jawaban “Tidak” yang Anggun
- MELEPAS KOMITMEN: Menang Besar dengan Menghentikan Proyek Rugi
- MENYUNTING: Seni yang Tidak Kelihatan
- BATAS: Kebebasan Berkat Menetapkan Batasan-Batasan
Selain melakukan eksplorasi untuk menemukan yang esensial, memahami mana yang tidak esensial juga tak kalah penting. Oleh karena itu, bagian ini akan mengajak kita untuk melakukan eliminasi terhadap hal-hal yang tidak esensial.
Bagian IV: Eksekusi
- PENYANGGA: Keunggulan yang Tidak Wajar
- MENGURANGI: Maju Lebih Pesat dengan Menghilangkan Hambatan
- KEMAJUAN: Kedahsyatan Kemenangan-Kemenangan Kecil
- ALIRAN (FLOW): Hebatnya Sebuah Rutin
- FOKUS: Apa yang Penting Sekarang?
- JADILAH: Hidup Seorang Esensialis
Menemukan apa yang esensial, sudah. Mengetahui apa yang tidak esensial, sudah. Maka langkah terakhir yang perlu kita ketahui adalah bagaimana mengeksekusi semua teori Esensialisme ke dalam hidup kita sehari-hari.
Setelah Membaca Buku Esensialisme
Sebenarnya, pekerjaan Penulis sebagai seorang editor juga berkaitan erat dengan Esensialisme. Dalam menyunting artikel, tentu Penulis harus cermat dalam menentukan mana yang Esensial, mana yang Nonesensial dan dihapus dari artikel. Mungkin itu juga yang membuat Penulis tertarik untuk membaca buku ini.
Karena buku Effortless, jujur ekspektasi Penulis terhadap buku ini cukup tinggi. Sayangnya, ekspektasi tersebut harus runtuh karena secara keseluruhan, isi buku ini cukup “umum” dan penuh dengan hal-hal klise yang mungkin kita sudah tahu.
Memang, setiap babnya diceritakan dengan mudah dan aplikatif. Hanya saja, banyak yang terasa terlalu general dan kurang spesifik. Lebih parahnya lagi, terkadang beberapa bab terasa dragging dan cukup repetitif.
Ketika membaca buku ini, Penulis merasakan sensasi seperti ketika membaca buku Start with Why, di mana penulis buku ini terlalu menglorifikasi teori Esensialisme yang sedang dibahas sekaligus terlalu menyederhanakan semua permasalahan yang disebutkan di sini.
Di setiap babnya, ada semacam tabel yang terdiri dari dua kolom, yakni Nonesensialis dan Esensialis. Tentu saja bagian Nonesensialis menjadi bagian yang buruk dan Esensialis menjadi bagian yang baik.
Jadinya, cuma ada dua kutub ekstrem antara Nonesensialis dan Esensialis. Kalau bukan seorang Esensialis, berarti otomatis kita adalah Nonesensialis. Padahal, dalam kenyataannya hidup tidak sehitam-putih dan sesederhana itu.
Secara konsep, teori Esensialisme memang penting, apalagi bagi orang yang kerap overthinking seperti Penulis. Justru karena merasa itu penting, Penulis butuh elaborasi yang lebih mendalam.
Ketika membaca buku ini, Penulis sudah membiasakan diri untuk mencatat berbagai hal menarik dari buku yang sedang dibaca. Nah, buku ini termasuk yang catatannya sedikit karena jujur tidak banyak poin menarik yang Penulis temukan.
Walau begitu, ada satu quote dari buku ini yang Penulis benar-benar ingat dari halaman 135, yakni “No more yes, it’s either HELL YEAH or no!” yang maknanya adalah kita harus melakukan sesuatu yang benar-benar membuat kita langsung bersemangat.
Di halaman 192, yang termasuk ke dalam bagian Eliminasi, ada juga pengingat tentang komitmen yang sangat masuk untuk Penulis. Ternyata, salah satu hal yang membuat kita melepaskan komitmen adalah sink-cost bias.
Singkatnya, sink-cost bias adalah kondisi di mana kita sudah merasa “berinvestasi” banyak sehingga merasa sayang jika melepaskan suatu komitmen. Padahal, jika kita terus mempertahankan komitmen tersebut, kerugian yang kita derita akan semakin besar.
Penulis memang merasa kurang puas dengan buku ini karena berharap isinya bisa lebih detail. Namun, buat Pembaca yang kerap merasa overwhelmed dengan kehidupannya, buku ini akan memberi cara bagaimana mengurainya secara sistematis.
Skor: 6/10
Lawang, 9 Agustus 2026, terinspirasi setelah membaca Esensialisme karya Greg McKeown
-
Produktivitas11 bulan agoProductivity Hack #4: Kalau Cuma Butuh 5 Menit, Lakukan Sekarang
-
Olahraga12 bulan agoKita Selalu Senang Jika Ada Pembalap yang Raih Podium Perdana
-
Musik11 bulan agoTier List Lagu-Lagu IVE Versi Saya (Bagian 1: Single dan EP Jepang)
-
Permainan11 bulan agoKoleksi Board Game #31: Scrabble/Scrabble Together
-
Olahraga11 bulan agoLando Norris Memang Layak untuk Menjadi Juara Dunia 2025
-
Olahraga10 bulan ago“Saya Kira Situasi Membaik, Saya Kira Kondisi yang Sekarang Ini Sudah Cukup”
-
Nonfiksi11 bulan ago[REVIEW] Setelah Membaca Effortless
-
Nonfiksi7 bulan ago[REVIEW] Setelah Membaca The Let Them Theory

