Setelah Membaca Bliss dan A Dash of Magic

Kata orang, don’t judge a book by its cover. Jangan menilai sebuah buku hanya dari sampulnya saja. Walaupun begitu, Penulis tetap mempertimbangkan sampul buku sebelum membelinya, selain melihat sinopsis, penulis, dan penerbitnya.

Oleh karena itu, Penulis merasa penasaran dengan trilogi novel The Bliss Bakery karya Kathryn Littlewood karena warna bukunya yang serba biru (termasuk pinggirannya) dan menarik perhatian.

Penulis sudah lama ingin membeli novel-novel tersebut sejak zaman kuliah, namun baru terealiasi ketika sudah bekerja di Jakarta. Dari tiga buku yang dimiliki, Penulis sudah membaca dua buku: Bliss dan A Dash of Magic.

Pada tulisan kali ini, Penulis ingin membahas keduanya sekaligus karena pada dasarnya tidak banyak yang bisa diceritakan. SPOILER ALERT

Apa Isi Kedua Buku Ini?

Novel ini berpusat pada keluarga Bliss yang terkenal karena memiliki toko roti lezat. Pasangan suami istri Albert dan Purdy Bliss memiliki empat orang anak, di mana yang menjadi tokoh utama adalah anak kedua yang bernama Rosemary Bliss.

Rose memiliki seorang kakak bernama Ty dan dua orang adik, yakni Sage dan Leigh. Secara umum, mereka semua hidup harmonis meskipun Rose tidak akur-akur amat dengan saudara-saudaranya.

Mereka sekeluarga memiliki rahasia besar: roti-roti mereka dibuat dengan kekuatan sihir yang diwariskan secara turun-temurun! Setiap resep bahkan memiliki sebuah efek yang bisa menyelesaikan berbagai masalah.

Bahan-bahan yang harus dikumpulkan pun sangat ajaib, bukan sesuatu yang bisa ditemukan di kebun belakang rumah. Contohnya? Menangkap petir.

Sayangnya, Rose sama sekali tidak diizinkan untuk mengutak-atik buku resep tersebut karena orangtuanya khawatir akan terjadi masalah jika sampai mereka salah resep. Padahal, Rose ingin mendapatkan pengakuan sebagai pembuat roti yang handal.

Suatu hari, suami istri Bliss dimintai oleh walikota dari kota tetangga untuk menyembuhkan sebuah penyakit aneh. Mereka berdua pun harus meninggalkan anak-anak mereka dan menyerahkan kunci buku resep rahasia ke Rose.

Di saat yang bersamaan, datanglah bibi mereka yang bernama Lily. Ia terlihat begitu anggun dan bersikap manis seperti selayaknya seorang bibi yang baik.

Ternyata, ada udang di balik batu. Bibi Lily sejak awal mengincar buku resep rahasia Bliss dan ia berhasil melakukannya di bagian akhir buku sehingga Rose dan keluarganya pun harus mampu merebut kembali buku resep tersebut.

Cerita pun bersambung ke buku kedua, A Dash of Magic, yang bercerita tentang perjuangan Rose merebut kembali buku resep keluarga dengan mengikuti sebuah kompetisi. Ia harus bisa mengalahkan bibinya dalam kompetisi membuat roti di Eropa.

Karena buku resep berada di tangan Bibi Lily, keluarga Bliss pun harus sampai meminta tolong kerabat mereka yang berada jauh di selatan. Alasannya, ia memiliki salinan resep tersebut walaupun belum selesai.

Setelah itu, mereka sekeluarga pun harus mengumpulkan berbagai bahan unik bin ajaib di Eropa agar bisa membuat roti yang mampu mengalahkan Bibi Lily.

Banyak sekali kejadian unik di petualangan mereka, mulai hewan yang bisa berbicara hingga pertemuan dengan makhluk dari dunia lain. Singkat cerita, mereka pun berhasil mengalahkan Bibi Lily dan merebut kembali buku resep keluarga.

Udah, gitu aja ceritanya.

Setelah Membaca Bliss dan A Dash of Magic

Trilogi novel ini jelas bergenre fantasi. Bedanya, novel ini tidak mengambil tema “isekai” seperti Harry Potter. Novel ini berfokus pada seorang remaja yang tinggal di sebuah kota kecil dan berkeinginan untuk menjadi pembuat roti yang hebat.

Hanya saja, Penulis merasa trilogi ini menargetkan remaja usia SMP sampai SMA sebagai pembacanya karena cerita dan konfliknya yang sangat-sangat ringan.

Petualangan yang dilakukan Rose bersama keluarganya mudah ditebak dan selalu bisa keluar dari permasalahan yang menghadang, sesulit apapun masalahnya.

Penulis hampir tidak merasakan ketegangan yang dialami tokoh utama. Sewaktu membaca novel ini, rasanya datar saja. Tidak ada perasaan ingin segera menamatkan novel ini cepat-cepat.

Penulis juga tidak menemukan adanya plot twist yang membuat kita terkejut. Rasanya semua lurus begitu saja, seolah permasalahan dan solusinya sudah terlihat sejak kita mulai membaca novel ini.

Selain itu, konflik utama di buku pertama (hilangnya buku resep rahasia) juga terselesaikan di buku kedua. Lantas, kenapa harus ada buku ketiga? Untuk alasan inilah Penulis belum akan membaca bukunya yang ketiga dalam waktu dekat ini.

Tempo buku ini juga berjalan cukup lambat sehingga akan membuat kita merasa bosan. Penulis memaksakan diri untuk menamatkan novel ini demi konten blog.

Buku ini Penulis rekomendasikan untuk pembaca pemula yang sedang menginginkan bacaan segar. Seri novel ini kurang cocok untuk pembaca dewasa seperti Penulis yang terbiasa dengan buku-buku berat.

Nilainya: 3.2/5.0

 

Note: Foto sampul hanya menggunakan buku A Dash of Magic karena buku pertama berada di Malang

 

Kebayoran Lama, 25 Januari 2020, terinspirasi setelah membaca buku Bliss dan A Dash of Magic karya Kathryn Littlewood