Anime & Komik
Kenapa Suka Lucky Luke?
Selain Tintin dan Donal Bebek (terutama karya Don Rosa), Penulis juga suka membaca komik Lucky Luke. Petualangan samg koboi bersama kudanya Jolly Jumper di era western ini sangat menarik dan menghibur untuk diikuti.
Namun, Penulis baru mulai mengoleksi komiknya ketika sudah berkepala dua, itu pun karena biasanya ada pameran yang mengobral murah komik ini, hanya 10 ribuan per judul. Selain itu, Penulis juga kadang membelinya secara online.
Berhubung sebelumnya Penulis telah membahas tentang Tintin dan Donal Bebek, tentu rasanya tidak adil jika Penulis tidak membuat tulisan serupa tentang Lucky Luke dan berbagai kisahnya sebagai pengelana yang membasmi kejahatan.
Awal Bertemu dengan Lucky Luke

Seperti yang sudah Penulis singgung di atas, pertemuan pertama Penulis dengan Lucky Luke jauh terjadi sebelum Penulis membaca komiknya. Kemungkinan besar, karena alasan-alasan inilah Lucky Luke begitu menempel di alam bawah sadar Penulis.
Ini memang sedikit aneh, tapi Penulis mengenal karakter ini melalui sebuah permainan tebak ingatan, di mana kita harus menyocokkan kartu bergambar sama yang berada di dalam kondisi tertutup. Nah, Lucky Luke menjadi salah satu gambar yang ada di permainan tersebut.
Setelah itu, ketika bermain PlayStation 1, salah satu game yang sering Penulis mainkan adalah Lucky Luke. Game ini cukup sulit bagi Penulis karena seumur hidupnya Penulis tidak pernah menamatkannya. Bahkan game seperti Tomba berhasil Penulis tamatkan berkali-kali.
Sejauh ingatan Penulis, itulah interaksi Penulis dengan Lucky Luke. Setelah melalui masa kecil, rasanya lama sekali hingga akhirnya Penulis bertemu dengan komik-komik Lucky Luke dan membaca kisahnya yang menarik.
Ketika artikel ini ditulis, total komik Lucky Luke yang Penulis miliki berjumlah 26. Penulis akan sedikit bercerita mengapa kisah-kisah Lucky Luke begitu menarik, sehingga Penulis membeli komiknya sebanyak itu.
Selipan Sejarah di Komik Lucky Luke

Sama seperti Tintin, Lucky Luke juga merupakan karya seseorang dari Belgia. Namanya adalah Morris, dan ia menciptakan Lucky Luke pada tahun 1946. Salah satu slogan terkenal dari Lucky Luke adalah “penembak yang lebih cepat dari bayangannya sendiri“.
Penulis melihat ada keunikan di sini, di mana seseorang dari Belgia justru membuat komik ala wild west di Amerika sana, yang jaraknya sangat jauh. Mungkin ia memiliki semacam obsesi dengan Amerika, mengingat ia juga kerap menyisipkan sejarah sungguhan di komiknya.
Salah satu kisah sejarah yang paling Penulis ingat adalah di komik Pony Express, di mana ada suatu perusahaan yang ingin mempercepat proses pengiriman pesan atau barang dari kota ke kota. Ingat, ini zaman wild west di era 1800-an.
Tentu, para pengusaha yang merasa usahanya terganggu dengan kehadiran Pony Express ini berusaha menyabotase mereka. Di sinilah peran Lucky Luke muncul, untuk menjaga agar sabotase tersebut gagal dan Pony Express bisa beroperasi dengan tenang.
Kesan wild west di komik-komik Lucky Luke juga benar-benar disesuaikan dengan zamannya. Oleh karena itu, Penulis tidak heran jika cerita-ceritanya kerap tentang penemuan tambang emas, konflik dengan suku Indian, berkelahi di bar, dan sebagainya.
Beberapa tokoh sejarah pun pernah dimasukkan Morris ke dalam komiknya, seperti Mark Twain, Ulysses S. Grant, hingga Abraham Lincoln. Beberapa villain dari Lucky Luke juga diambil dari kisah nyata, termasuk Billy the Kid, Jesse James, dan Dalton Bersaudara.
Namun, satu kisah tokoh sejarah yang paling memorable adalah mengenai Hadji Ali yang muncul sebagai komik pendek di judul Tali Gantungan. Ia merupakan seorang imigran muslim yang berusaha memperkenalkan unta ke masyarakat Amerika.
Tentu saja banyak kisah pertemuan Lucky Luke dengan para suku Indian, di mana mereka kerap digambarkan sebagai suatu kaum yang primitif. Tak jaran Lucky Luke ditangkap oleh mereka, walau pada akhirnya selalu bisa lolos bahkan bersahabat dengan mereka.
Menggabungkan sejarah asli dengan kisah fiksi seorang koboi tentu tidak mudah. Namun, percayalah kalau Morris berhasil melakukan pekerjaan tersebut dengan sangat baik. Setiap kisah sejarah yang ia selipkan selalu terasa natural dan tidak dipaksakan.
Mengapa Lucky Luke Begitu Istimewa?

Sebagai protagonis, Lucky Luke selalu berada di jalan kebenaran. Tak heran jika banyak musuh yang membencinya karena selain sangat handal dalam menggunakan senjatanya, Lucky Luke juga termasuk cerdas dan pandai bersiasat.
Sebagai seorang pengelana, Lucky Luke hanya ditemani oleh kudanya yang bernama Jolly Jumper, yang juga tak kalah cerdiknya. Mereka berdua selalu bersama-sama dalam perjalanan menyusuri daratan Amerika, yang saat itu masih memiliki banyak wilayah misterius.
Di antara banyaknya musuh yang pernah dihadapi oleh Lucky Luke, favorit Penulis tentu saja Dalton Bersaudara yang terdiri dari empat orang, yakni Joe, William, Jack, dan Averell. Joe yang paling pendek dan cerdik, sedangkan Averell paling tinggi dan tolol.
Mau sebusuk apapun rencana jahat mereka (maupun para penjahat lain), Lucky Luke selalu punya akal untuk menangkap mereka. Mau duel pun percuma, kemampuan menembak Lucky Luke jelas di atas mereka. Akurasi dan kecepatannya tiada duanya.
Setiap berhasil menyelesaikan suatu permasalahan di suatu kota, Lucky Luke akan kembali melanjutkan perjalanan mengembaranya, sembari mendengungkan lirik lagunya yang sangat khas, yakni:
I’m a poor lonesome cowboy, and a long long way from home…
Sebagai sebuah komik, Lucky Luke berhasil memadukan petualangan yang seru dengan komedi yang pas. Banyak adegan yang terkesan sepele berhasil menimbulkan gelak tawa, atau minimal senyum tipis di bibir. Bagi Penulis, komedi yang dihadirkan terasa segar.
Jika dibandingkan dengan Tintin, Lucky Luke terasa lebih ringan. Hal ini wajar, mengingat komik-komik Tintin banyal menyelipkan unsur misteri yang membuat pembacanya merasa penasaran. Di Lucky Luke, murni petualangan wild west yang “liar”.
Oleh karena itulah, Penulis menganggap Lucky Luke begitu istimewa. Setelah menulis artikel ini, rasanya Penulis akan kembali “berburu” komik-komik Lucky Luke di marketplace dan menambah jumlah koleksinya.
Lawang, 7 Juli 2023, terinspirasi setelah menyadari artikel ini telah ada di draft untuk waktu yang cukup lama
Foto Featured Image: Comics.ha
Anime & Komik
Madara Uchiha Lebih Layak Jadi Final Villain di Naruto
Meskipun sudah lama tamat dan memiliki sekuel, Naruto rupanya tetap populer hingga saat ini. Penulis sempat menuliskan artikel panjangnya di tempat kerja yang membahas alasan-alasan mengapa serial ini tetap relevan hingga kini.
Di media sosial seperti YouTube Shorts, Penulis kerap menemukan konten yang membahas mengenai Naruto, entah itu callback cerita-cerita lama, membahas teori-teori liar, hingga membedah chapter yang masih menimbulkan tanda tanya.
Bagi Penulis sendiri, hingga saat ini ada satu hal yang mengganjal dari serial ini, yakni bagaimana Madara Uchiha tidak menjadi final villain-nya. Masashi Kishimoto justru memunculkan karakter yang selama ini hampir tidak pernah disebut, yakni Kaguya Ōtsutsuki.

Alasan Mengapa Madara Lebih Cocok Jadi Final Villain

Bagi Penulis, salah satu yang membuat Naruto bagus adalah para villain-nya. Mulai dari Zabuza, Orochimaru, Gaara, Itachi, Akatsuki, Pain, hingga Obito, semua begitu membekas karena latar belakang maupun motifnya menjadi seorang villain.
Madara Uchiha juga salah satunya. Ia adalah villain yang cukup kompleks. Sebagai rival dari Hashirama Senju, tujuan utamanya sebenarnya adalah menciptakan perdamaian abadi melalui Mugen Tsuyokomi, ketika semua manusia berada di alam mimpi.
Untuk hal itu, ia berkali-kali selamat dari kematian, terutama dalam pertarungan melawan Hashirama. Ia hidup cukup lama hingga bisa memanipulasi Obito untuk mendirikan Akatsuki demi melancarkan rencana Mugen Tsuyokomi-nya.
Kemunculan Madara juga tidak mendadak begitu saja. Sebelum dibangkitkan kembali melalui Edo Tensei dari Kabuto, ia telah beberapa kali disebutkan dalam ceritanya (foreshadowing) sebelum kemunculan perdananya.
Kita bisa melihat patungnya bersama Hashirama Senju di Lembah Akhir di chapter 217. Kyuubi juga pernah menyebutkannya ketika Naruto menyerang markas Orochimaru demi menyelamatkan Sasuke di chapter 309.
Obito sewaktu masih bertopeng juga sempat mendeklarasikan diri sebagai Madara. Hal ini menjadi twist yang menarik setelah Madara yang asli muncul pertama kali, tentu dalam wujud Edo Sensei.
Oleh karena itu, efek plot twist-nya ketika ia menjadi dalang dari semua peristiwa di Naruto terasa masuk akal. Apalagi, ia telah berkali-kali aura farming sejak kemunculannya, dengan segala kemampuannya yang di luar nalar bahkan sebelum menjadi Jinchuriki Juubi!
Sayangnya, Madara justru menjadi “korban penipuan” dari Zetsu Hitam. Ternyata, semua rencananya selama ini telah diatur oleh mereka demi bisa membangkitkan kembali Kaguya Ōtsutsuki.
Mari Kita Bandingkan dengan Kaguya Ōtsutsuki

Sekarang mari kita bandingkan Madara dengan final villain yang sesungguhnya, Kaguya Ōtsutsuki. Dari motivasinya, Kaguya ingin seluruh chakra manusia di dunia kembali ke dirinya karena merasa bumi ini adalah miliknya.
Dari sisi motivasi, jelas ini lebih pure chaos dibandingkan motivasi “perdamaian” dari Madara. Kaguya sebenarnya adalah “alien” yang datang ke bumi, lalu menamam Pohon Dewa (Shinju) demi bisa memakan Buah Chakra secara ilegal. Dibandingkan dengan Madara, motivasi Kaguya ini jelas lebih egois.
Selain itu, Kaguya benar-benar baru disebutkan menjelang akhir cerita. Madara yang menyebutkan pertama kali ketika menjelaskan tentang Shinju di chapter 646. Namun, kemunculannya sendiri baru terjadi pada chapter 679.
Sebagai analogi, bayangkan Thanos yang telah di-tease sejak film pertama Avengers. Namun, di film Avengers: Infinity War, sewaktu Thanos hendak menjentikkan jarinya, tiba-tiba ia ditikam dari belakang oleh Doctor Doom dan mengatakan rencananya selama ini berhasil!
Oleh karena itu, Penulis sering berprasangka buruk kalau Kaguya dihadirkan hanya agar Naruto bisa dilanjutkan oleh Boruto. Seperti yang kita tahu, klan Ōtsutsuki menjadi pusat konflik di sekuel tersebut.
Penutup
Penulis saat ini sedang mengoleksi ulang komik-komik Naruto versi Bind Up-nya. Saat artikel ini ditulis, Perang Dunia Ninja ke-4 baru saja dimulai. Penulis tak sabar ingin membaca ulang kisah Madara dan Kaguya ini, siapa tahu dulu ada detail yang terlewat.
Hanya saja, Penulis merasa kalau Madara tetap lebih layak menjadi final villain. Kalau memang klan Ōtsutsuki mau menjadi musuh utama di Boruto, ya buat build up-nya di sana, jangan di Naruto.
Bayangkan saja Madara dengan kemampuan dewanya yang berhasil ia dapatkan harus bertarung dengan Naruto dan Sasuke. Bahkan, ia memang terlihat kalah dalam pertarungan tersebut, sebelum akhirnya malah dikhianati oleh Zetsu Hitam.
Seandainya tidak melawan Kagura, mungkin pertarungan terakhir antara Naruto dan Sasuke juga akan berlangsung lebih lama dan seru, bukan dalam kondisi kehabisan stamina dan chakra seperti yang kita dapatkan.
Yah, pada akhirnya kita harus tetap menerima keputusan Masashi Kishimoto. Walau agak ngedumel, Penulis tetap menjadikan Naruto sebagai salah satu komik favoritnya setelah Dragon Ball.
Lawang, 30 Agustus 2026, terinspirasi setelah merenungi kalau Madara Uchiha lebih cocok menjadi final villain daripada Kaguya.
Anime & Komik
Saya Memutuskan untuk Mengoleksi Komik Detektif Conan Premium
Setelah memutuskan untuk mengoleksi komik Dragon Ball Super dan Naruto Bind Up Edition, ternyata keinginan masa kecil untuk mengoleksi komik secara lengkap kembali bergelora.
Yang ingin Penulis kumpulkan bukan hanya komiknya secara fisik, tapi juga memori-memori masa kecil ketika membaca cerita-ceritanya secara lebih utuh. Ada banyak hal yang dulu tidak Penulis pahami, kini bisa jadi lebih dimengerti.
Selain Dragon Ball dan Naruto, Penulis juga besar dengan komik Detektif Conan. Bahkan, Penulis cukup banyak memiliki komiknya. Nah, Penulis sekarang memutuskan untuk mengoleksi lagi komiknya, tapi kali ini yang versi Premium.
Awalnya Cuma Beli Satu untuk Nostalgia, tapi…

Sama seperti Naruto, Penulis juga “lompat” dalam membaca cerita-cerita Detektif Conan. Kalau ingatan Penulis tidak keliru, maka volume pertama yang Penulis baca adalah Volume 41, di mana case pertama mempertemukan Yukiko (ibu Conan/Shinichi) dan Eri (ibu Ran).
Nah, waktu itu, kebetulan juga komik yang Penulis baca adalah versi bajakannya, karena waktu kecil Penulis belum benar-benar paham mana komik asli dan tidak. Untungnya, Penulis membeli versi asli untuk Volume 42.
Oleh karena itu, ketika akhirnya memutuskan untuk membeli komik Detektif Conan Premium, Penulis pun memutuskan untuk membeli Volume 21 karena mencakup cerita-cerita dari Volume 41 dan 42 di versi aslinya. Nostalgia menjadi alasan utamanya, yang akan Penulis jabarkan di poin berikutnya.
Penulis ingin mundur sebentar sebelum akhirnya membeli komik tersebut. Sebenarnya, keinginan untuk mengoleksi Detektif Conan Premium telah terbit sejak volume-volume awalnya rilis. Namun, waktu itu Penulis mengurungkan niatnya.
Ada beberapa alasan yang menahan Penulis untuk tidak membeli komik Detektif Conan Premium, seperti telah mengetahui sebagian besar ceritanya, tidak ada lagi tempat untuk menyimpan, hingga dorongan untuk berhemat.
Sebagai pelipur lara, Penulis sempat memutuskan untuk membeli komik Conan edisi Selection. Kebetulan, waktu itu Ai Haibara sebagai karakter favorit Penulis di serial ini memiliki edisi ini, bahkan hingga dua Volume. Ada juga beberapa judul Selection lain yang Penulis miliki.
Hanya saja, meskipun sudah membeli seri Selection, dorongan untuk membeli Detektif Conan Premium masih begitu besar. Alhasil, kembali lagi ke atas, Penulis pun memutuskan untuk membeli Volume 21 sebagai awal.
Vermouth vs. Jodie, Arc Favorit Penulis

Salah satu alasan mengapa Volume 41-42 begitu memorable bagi Penulis adalah adanya klimaks antara konflik yang berpusat pada agen FBI, Jodie Starling, dan Vermouth, salah satu anggota Organisasi Hitam yang memiliki seribu wajah.
Waktu masih kecil, Penulis tentu masih belum benar-benar paham apa konflik di antara mereka selain yang diceritakan di dua volume tersebut. Yang Penulis tangkap, Vermouth menyamar sebagai Dokter Araide untuk bisa mengulik tentang Ai.
Selain itu, ternyata Jodie memiliki sejarah panjang dengan Vermouth, karena ia adalah orang yang bertanggung jawab atas kematian ayahnya. Vermouth yang terlihat muda tersebut ternyata sebenarnya adalah aktris Sharon Vineyard yang memalsukan kematiannya sendiri.
Di klimaks yang terjadi di dermaga, ternyata Ai yang dibawa oleh Jodie merupakan Conan yang menyamar. Sayangnya, rencananya buyar karena Ai yang asli datang menyusul menggunakan kacamata pencari jejak cadangan.
Ai telah siap menyerahkan diri ke Vermouth demi menyelamatkan teman-temannya. Namun, tiba-tiba dari bagasi mobil Jodie, ada Ran yang langsung berlari dan melindungi Ai. Kejadian tersebut membuat Ai teringat oleh mendiang kakaknya, Akemi Miyano.
Jodie terluka akibat ditembak Calvados, Conan pingsan karena jam biusnya sendiri, Ran diancam tembak oleh Vermouth. Di tengah kejadian tegang tersebut, tiba-tiba Shuichi Akai datang dari belakang! Sayang, Vermouth berhasil kabur dengan menyandera Conan.
Bisa dilihat, rentetan kejadian yang menegangkan inilah yang membuat arc ini menjadi favorit Penulis hingga kini.
Penutup
Bagi Penulis yang pada dasarnya suka cerita detektif, Detektif Conan telah menemani Penulis sejak kecil dan hingga kini masih belum menunjukkan tanda-tanda akan tamat. Memang, ada banyak sekali hal yang bikin geleng-geleng kepala, seperti:
- Trik pembunuhan yang terasa ribet dan tidak masuk akal
- Motif pembunuhan yang “gitu doang?”
- Timeline yang tidak jelas seolah tidak maju-maju
- Inkonsistensi teknologi, di awal-awal teknologinya teknologi akhir 90-an atau awal 2000-an, sekarang malah pakai smartphone (dan Conan tetap saja kelas 1 SD!)
- Karakter yang terus bertambah, dan setiap ada yang baru, langsung muncul tiga orang untuk membiarkan Pembaca menebak-nebak siapa yang baik siapa yang jahat
Terlepas dari sederet kekurangannya, Penulis tetap menyukai Detektif Conan, sehingga memutuskan untuk membeli versi premiumnya. Hingga artikel ini ditulis, Penulis telah memiliki Volume 14 hingga 33.
Karena berangkatnya dari volume 21, Penulis membeli volume lainnya “maju dan mundur” secara urut. Jujur ada kekhawatiran Penulis akan kesulitan menemukan volume-volume awal, tapi biarlah, anggap saja sebagai “perburuan” harta karun.
Dengan demikian, saat ini ada lima seri komik yang sedang Penulis koleksi, yakni Naruto, Detektif Conan, Spy x Family, Dragon Ball Super, dan Dragon Ball Ultimate Edition. Apakah di masa depan daftar ini akan bertambah? Entahlah.
Lawang, 4 Agustus 2026, terinspirasi setelah melihat koleksi komik Detektif Conan-nya
Anime & Komik
Ai Haibara adalah Karakter Favorit Saya di Detective Conan
Sejak kecil, Penulis suka membaca komik, baik itu komik Jepang maupun Barat. Seperti yang sudah sering dibahas pada blog ini, favorit Penulis adalah Dragon Ball dan Naruto. Bahkan, sekarang Penulis kembali mengoleksi komik-komik tersebut.
Selain genre shounen, salah satu komik lain yang suka Penulis baca adalah Detective Conan. Sejak kecil, sudah banyak komiknya yang Penulis baca walaupun tidak yakin pernah membaca semuanya, mengingat hingga kini serinya masih berjalan hingga lebih dari 1.000 chapter.
Ketika komik Detective Conan merilis versi premiumnya, Penulis sempat terpikirkan untuk kembali mengoleksinya, mengingat koleksi Detective Conan Penulis banyak yang hilang dan rusak. Namun, wacana tersebut terganjal budget karena harga per komiknya cukup mahal.

Detective Conan Ai Haibara Selection

“Jalan tengah” muncul ketika Penulis berencana untuk membeli komik Naruto Bind Up Edition Vol. 1. Saat hendak mengambil komik tersebut, mata Penulis menemukan komik spesial Detective Conan Ai Haibara Selection.
Mengingat Ai Haibara merupakan salah satu karakter favorit Penulis di serial Detective Conan, Penulis pun memutuskan untuk membelinya. Apalagi, beberapa bulan setelah membeli volume pertamanya, volume keduanya juga rilis.
Jika di volume pertama lebih membahas perjalanan Ai Haibara sejak pertemuan pertama hingga memanasnya konflik dengan Organisasi Hitam, maka di volume kedua ini lebih membahas hubungan dan petualangan Ai dengan Kelompok Detektif Cilik.
Di kedua komik edisi spesial ini, selalu dilampirkan fakta-fakta seputar Ai secara ringkas, tapi menyeluruh. Hal ini sangat membantu Penulis untuk lebih mengenal karakter yang juga mengecil karena obat APTX 4869 ini.
Untuk kisahnya sendiri, sesuai judulnya, merupakan pilihan editor. Tentu saja cerita yang dipilih melibatkan Ai Haibara cukup banyak, bahkan terkadang ia seolah menggeser Conan Edogawa sebagai tokoh utamanya.
Karena sudah banyak membaca komik Detective Conan, mayoritas cerita yang ada di komik ini sudah pernah Penulis baca sebelumnya. Namun, justru hal tersebut menimbulkan efek nostalgia yang menyenangkan, karena memang sudah cukup lama Penulis tidak membacanya.
Sayangnya, ada beberapa arc yang cukup melibatkan Ai, tapi tidak disajikan secara lengkap. Contohnya adalah arc ketika Conan pertama kali dengan Vermouth, yang sejujurnya tetap menjadi salah satu cerita favorit Penulis di keseluruhan serinya.
Selain itu, Penulis juga masih menantikan cerita The Jet-Black Mystery Train yang hingga dua volume ini masih belum diperlihatkan. Bahkan di volume dua, cerita ini hanya di-mention singkat tanpa ada kisah utuhnya.
Penulis berharap jika ada Detective Conan Ai Haibara Selection volume tiga, kisah tersebut akan dimunculkan. Untuk sekarang, Penulis cukup puas dengan dua komik yang merangkum kisah Ai Haibara ini.
Mengapa Suka Ai Haibara?

Ada banyak hal yang membuat Penulis memfavoritkan karakter Ai Haibara, yang nama aslinya adalah Akemi Miyano. Pertama, mari kita bahas terlebih dahulu dengan masa lalunya yang cukup kelam dan misterius.
Ai awalnya merupakan ilmuwan yang bekerja untuk Organisasi Hitam, menggantikan peran orang tuanya yang juga ilmuwan, Atsuhi dan Elena Miyano, yang tewas karena “kecelakaan”. Selama di organisasi, ia memiliki codename Sherry.
Ai juga memiliki seorang kakak perempuan bernama Akemi Miyano, yang tewas di awal-awal cerita di tangan Gin. Conan sempat bertemu dengan Akemi di awal-awal cerita seri, tetapi ketika itu ia belum mengetahui hubungannya dengan Ai.
Kematian seluruh anggota keluarganya inilah yang memicu Ai untuk kabur dari organisasi, dengan menelan pil APTX 4869 seperti Conan. Sejak itu, ia harus hidup sebagai anak kecil dan menghadapi berbagai petualangan dengan Conan dan kawan-kawan.
Latar belakangnya yang seperti itu mungkin membuat Ai menjadi sosok yang bermulut tajam, cenderung dingin, dan sinis. Namun, ia juga seseorang yang dewasa dan mampu berpikiran tenang. Saat tidak ada Conan, kemampuan analisis Ai bisa cukup diandalkan.
Ai juga memiliki kemampuan yang cukup unik, yakni bisa merasakan hawa keberadaan anggota Organisasi Hitam. Kemampuan ini sangat berguna jika ada anggota organisasi yang menyamar, mengingat mereka memiliki Vermouth yang memang ahli di sana.
Walaupun begitu, Ai juga memiliki sisi manis yang jarang terungkap. Ia bisa menjadi fangirl yang sangat bucin ke pemain sepak bola Ryusuke Higo. Terkadang ia juga menunjukkan sisi pedulinya kepada para anggota Detektif Cilik, terutama dalam keadaan genting.
Di sisi lain, Conan juga sering menunjukkan kekhawatiran apabila tiba-tiba Ai menghilang, terutama khawatir jika Ai diculik oleh Organisasi Hitam. Jika Ai dalam keadaan genting, Conan pasti akan mati-matian menyelamatkannya, seperti yang terlihat pada film The Iron Submarine.
Kurang lebih itulah yang membuat Penulis memfavoritkan karakter Ai Haibara di serial Detective Conan, melebihi karakter-karakter menarik lainnya. Semoga saja di masa depan, akan lebih banyak hal lagi yang terungkap seputar dirinya.
Lawang, 26 November 2024, terinspirasi setelah membaca dua komik spesial Detective Conan yang khusus membahas Ai Haibara
Foto Featured Image: Alpha Coders
-
Produktivitas10 bulan agoProductivity Hack #4: Kalau Cuma Butuh 5 Menit, Lakukan Sekarang
-
Olahraga11 bulan agoKita Selalu Senang Jika Ada Pembalap yang Raih Podium Perdana
-
Musik10 bulan agoTier List Lagu-Lagu IVE Versi Saya (Bagian 1: Single dan EP Jepang)
-
Permainan10 bulan agoKoleksi Board Game #31: Scrabble/Scrabble Together
-
Olahraga10 bulan agoLando Norris Memang Layak untuk Menjadi Juara Dunia 2025
-
Olahraga9 bulan ago“Saya Kira Situasi Membaik, Saya Kira Kondisi yang Sekarang Ini Sudah Cukup”
-
Fiksi10 bulan ago[REVIEW] Setelah Membaca Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop
-
Nonfiksi10 bulan ago[REVIEW] Setelah Membaca Effortless


You must be logged in to post a comment Login