Connect with us

Buku

[REVIEW] Setelah Membaca The 5 AM Club

Published

on

Menyadari dirinya kesulitan untuk bisa bangun pagi secara konsisten, Penulis pun mencari motivasi untuk bisa melakukannya. Salah satunya adalah dengan membaca buku berjudul The 5 AM Club karya Robin Sharma.

Salah satu alasan lain Penulis memutuskan untuk membeli buku ini adalah karena Maudy Ayunda merekomendasikannya di kanal YouTube-nya. Bahkan, Penulis tidak mengintip isinya ketika di toko buku karena merasa percaya saja dengan rekomendasinya.

Alhasil, Penulis pun terkejut ketika membuka buku ini untuk pertama kalinya karena ternyata buku self-improvement ini dibalut dalam bentuk novel. Sempat tergeletak lama karena terasa membosankan, akhirnya Penulis berhasil menamatkan buku ini.

Detail Buku

  • Judul: The 5 AM Club
  • Penulis: Robin Sharma
  • Penerbit: Penerbit Bhuana Ilmu Populer (BIP)
  • Cetakan: Ke-2
  • Tanggal Terbit: Agustus 2019
  • Tebal: 450 halaman
  • ISBN: 9786232161368

Apa Isi Buku Ini?

Secara garis besar, hanya ada empat karakter yang ada di buku ini, yaitu Sang Pemikat, Miliuner, Pengusaha, dan Seniman. Sepanjang novel, hanya sang Miliuner yang memiliki nama, yakni Mr. Riley.

Di awal buku, diceritakan kalau Sang Pemikat sedang mengadakan sebuah “seminar motivasi”, di mana Pengusaha dan Seniman menjadi salah satu pesertanya. Miliuner juga hadir, walaupun ia menyamar menjadi seorang gelandangan nyentrik.

Ketika sedang mengisi seminar tersebut, tiba-tiba Sang Pemikat jatuh sakit dan acara pun berhanti. Lantas, terjadi pembicaraan tiga arah antara Pengusaha, Seniman, dan Miliuner. Singkat cerita, Pengusaha dan Seniman pun diundang oleh Miliuner ke Mauritania.

Selama di pulau tersebut, Miliuner dan Sang Pemikat (yang ternyata merupakan guru dari Miliuner) pun membagikan ilmu-ilmu terkait bagaimana bangun pagi pukul 5 pagi sangat berpengaruh dalam hidup yang sukses. Beberapa di antaranya adalah:

  • Prinsip 20/20/20, di mana satu jam pertama setelah bangun jam 5 pagi adalah 20 menit aktivitas fisik seperti olahraga, 20 menit refleksi diri dan ibadah, dan 20 menit belajar
  • Prinsip 90/90/1, di mana selama 90 hari ke depan, fokuskan 90 menit untuk mengerjakan 1 hal yang paling penting
  • Prinsip 60/10, di mana setiap bekerja/belajar selama 60 menit, ambil istirahat selama 10 menit

Di sela-sela penjabaran tersebut, terselip cerita dari para karakternya, termasuk kisah cinta antara Pengusaha dan Seniman, perjalanan keliling dunia mereka, bagaimana masalah perusahaan si Pengusaha akhirnya dibantu oleh Miliuner, dan lain sebagainya.

Setelah Membaca The 5 AM Club

Penulis memiliki ekspektasi yang cukup tinggi terhadap buku ini, mengingat Maudy Ayunda merekomendasikannya. Kenyataannya, bisa dibilang buku ini cukup mengecewakan di berbagai aspeknya.

Pertama dari segi penceritaan, bisa dibilang jalan ceritanya cukup buruk dan sama sekali tidak realistis. Coba bayangkan, seberapa besar kemungkinan kita diajak oleh seorang Miliuner “berlibur” ke pulau eksotis sembari mendapatkan ilmunya? Near zero.

Selain itu, permasalahan kantor yang dialami oleh Pengusaha juga terasa cuma “tempelan”. Ending dari permasalahan tersebut juga klise, di mana si Miliuner membantu penyelesaian tersebut dengan sangat mudahnya.

Pengembangan karakter Pengusaha dan Seniman pun terasa tidak smooth dan berubah secara drastis hanya dengan mendengar beberapa nasihat dari orang yang baru dikenal. Kisah cinta mereka juga sama sekali tidak berkesan.

Untuk segi self-improvement-nya, bisa dibilang buku ini terlalu bertele-tele. Poin-poin yang ingin disampaikan sebenarnya tidak terlalu banyak, sehingga ada banyak bagian yang seolah hanya untuk mempertebal buku saja.

Bagian 20/20/20 bisa dibilang menjadi bagian yang paling “berguna”, meskipun tentu untuk penerapannya bisa berbeda-beda. Penulis sendiri biasanya memiliki rutinitas pagi yang dibagi menjadi 30 menit ibadah, 45 menit olahraga, dan 30 menit baca buku.

Oleh karena itu, rasanya Penulis susah untuk merekomendasikan buku ini. Apalagi, buku ini cukup tebal dengan isi yang tidak seberapa. Jika ingin bangun pagi, yang paling penting adalah NIAT.

★★★★★

Lawang, 16 Juli 2023, terinspirasi setelah membaca buku The 5 AM Club karya Robin Sharma

Fiksi

[REVIEW] Setelah Membaca The Tokyo Zodiac Murders

Published

on

By

Sejauh ini, Penulis sudah mencoba membaca novel misteri Jepang dari dua novelis, yakni Keigo Higashino dan Uketsu. Penulis menyukai beberapa karya mereka, tapi ada juga yang sayangnya terasa kurang.

Nah, Penulis pun memutuskan untuk melakukan eksplorasi dengan mencari penulis Jepang lain yang juga terkenal di genre misteri. Pilihan Penulis pun jatuh kepada Soji Shimada, dengan novelnya yang berjudul The Tokyo Zodiac Murders.

Salah satu alasan mengapa Penulis memilih novel ini adalah karena sinopsisnya yang menarik sekaligus mengerikan. Lantas, apakah cerita yang disajikan benar-benar semenarik apa yang tertulis di belakang buku?

Detail Buku The Tokyo Zodiac Murders

  • Judul: The Tokyo Zodiac Murders
  • Penulis: Soji Shimada
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan: Ke-23
  • Tanggal Terbit: Agustus 2025
  • Tebal: 360 halaman
  • ISBN: 9789792285918
  • Harga: Rp99.000

Apa Isi Buku The Tokyo Zodiac Murders

Cerita The Tokyo Zodiac Murders sebenarnya terbagi menjadi dua waktu, yakni di tahun 1936 dan 1979. Kasus pembunuhan terjadi di tahun 1936, lantas ada detektif amatir yang berusaha memecahkan kasus tersebut pada tahun 1976.

Di tahun 1936, ada seorang seniman bernama Heikichi Umezawa yang ditemukan tewas di balik pintu studionya. Namun, pihak kepolisian menemukan surat wasiat aneh di mana ia berencana untuk menciptakan Azoth, alias “sang wanita sempurna”.

Nah, sosok Azoth tersebut ia rencanakan menggunakan potongan-potongan tubuh keluarganya sendiri, termasuk anak dan keponakannya sendiri. Surat wasiat ini memakan halaman yang cukup tebal, dari halaman 11 hingga 41, dengan gaya font mesin ketik jadul.

Setelah kematian Heikichi, putri tertuanya juga terbunuh. Setelah itu, anak dan keponakannya yang lain juga menghilang, yang kemudian ditemukan dalam kondisi termutilasi secara mengerikan. Semua dikubur sesuai yang tertulis di wasiat Azoth milik Heikichi.

Misteri tersebut selama hampir 40 tahun sama sekali tidak terungkap kebenarannya, hingga di tahun 1976, ada seorang detektif, peramal nasib, dan astrolog yang tertarik dengan kasus ini. Namanya adalah Kiyoshi Mitarai, sosok yang dikenal berwatak eksentrik.

Didampingi oleh Kazumi Ishioka, yang terkesan sebagai “Dr. Watson-nya” cerita ini, Kiyoshi pun mencoba untuk membongkar kasus Pembunuhan Zodiak Tokyo yang telah menjadi misteri selama puluhan tahun.

Setelah Membaca Buku The Tokyo Zodiac Murders

Saat membaca bagian prolognya, yang merupakan surat wasiat sekaligus obsesi Heikichi terhadap Azoth, jujur ada perasaan bergidik sekaligus jijik. Banyak bagian diceritakan secara eksplisit, sehingga mampu menghadirkan sensasi disturbing yang lumayan.

Walau begitu, Penulis berusaha untuk menguatkan diri untuk terus membaca hingga akhirnya mencapai bagian Kiyoshi dan Kazumi, yang pada satu titik sedang mendiskusikan kasus yang telah terjadi puluhan tahun lalu.

Menurut Penulis, bagian tersebut memang sangat ditonjolkan sejak awal cerita dengan berbagai detailnya untuk membuat kita fokus ke Azoth. Semua kasus pembunuhan yang terjadi adalah demi terciptanya Azoth, entah oleh Heikichi maupun orang lain.

Dari sini, mungkin Pembaca sudah bisa menebak kalau akan ada sebuah plot twist di akhir cerita. Namun, Penulis tidak akan menceritakannya secara detail karena salah satu keunggulan utama novel ini memang dari plot twist-nya.

Nah, Soji Shimada sebagai penulis novel ini juga beberapa kali seperti menantang pembacanya untuk membongkar kasus yang ada di sini. Ajakan tersebut dikemas dalam bentuk semacam surat terbuka, yang belum pernah Penulis temukan di novel mana pun sebelumnya.

Mungkin, saat sang pelaku akhirnya terungkap, Pembaca akan merasa bingung dengan berbagai plot holes yang ada. Untungnya, di bagian akhir, ada bagian yang akan menjelaskan semuanya, termasuk motif dan metode pelaku.

Salah satu bagian yang mencuri perhatian Penulis dari novel ini adalah adegan di mana Kiyoshi mengolok-olok Sherlock Holmes, detektif favorit Kazumi. Ia sempat menyebut beberapa kasus dan membongkar apa saja kejanggalan yang terjadi pada cerita tersebut.

Omong-omong soal dinamika mereka berdua, bisa dibilang mereka benar-benar terasa sebagai Sherlock dan Holmes versi Jepang. Kazumi kerap heran dengan metode Kiyoshi, serta beberapa kali sampai ke kesimpulan yang salah.

Secara alur cerita, novel ini cukup seru dan pace-nya juga lumayan cepat. Tidak adanya kehadiran pihak kepolisian membuat proses investigasinya tidak terasa bertele-tele. Apalagi, interaksi antara Kiyoshi dan Kazumi juga terasa seru, love-hate relationship gitu.

Bagian lain yang cukup membantu adalah adanya daftar nama beserta perannya di bagian awal buku. Mengingat jumlah karakter di novel ini cukup banyak, tentu akan sulit untuk menghafal semuanya sekaligus.

Hanya saja, Penulis tidak bisa memahami apa perlunya background Kiyoshi sebagai peramal nasib dan astrologi. Memang, Azoth dibuat berdasarkan astrologi, tapi sepanjang cerita background tersebut tidak terlalu terasa berguna.

Justru, apa yang kerap menjadi inspirasi atau petunjuk bagi Kiyoshi datang dari hal-hal yang sepele dan tidak terduga, seperti yang sering kita temukan dalam cerita Detective Conan. Tidak pernah terjadi astrologi membantunya memecahkan misteri.

Kekurangan lainnya adalah penggunaan font mesin ketik yang walau penggunaannya masuk akal, bagi mata Penulis cukup terasa melelahkan. Nantinya di bagian akhir novel, akan ada juga bagian cerita yang ditulis menggunakan font tersebut.

Secara overall, Penulis cukup menikmati novel ini dan membuat impresi pertama terhadap Soji Shimada menjadi positif. Penulis pun memutuskan untuk membeli novel lainnya yang berjudul The Crooked House, yang juga merupakan salah satu judul novel Agatha Christie.

SKOR: 8/10


Lawang, 14 Oktober 2026, terinspirasi setelah membaca buku The Tokyo Zodiac Murders karya Soji Shimada

Continue Reading

Nonfiksi

[REVIEW] Setelah Membaca Esensialisme

Published

on

By

Setelah membaca buku Effortless yang cukup berkesan, Penulis pun memutuskan untuk membeli buku Greg McKeown lainnya yang telah dirilis terlebih dahulu, yakni Esensialisme. Apalagi, buku ini disebutkan beberapa kali di buku Effortless.

Selain karena alasan tersebut, Penulis juga merasa dirinya kadang kurang bisa memilah mana yang penting bagi dirinya dan mana yang tidak perlu diperhatikan. Oleh karena itu, Penulis berharap kalau buku ini dapat menjadi semacam panduan untuk itu.

Sayangnya, tampaknya ekspektasi Penulis terlalu tinggi, yang salah satunya disebabkan oleh buku Effortless. Secara singkat, impresi Penulis terhadap buku ini sama dengan buku Start with Why. Penulis akan menjabarkan alasannya di bawah ini.

Detail Buku Esensialisme

  • Judul: Esensialisme
  • Penulis: Greg McKeown
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan: Ke-7
  • Tanggal Terbit: Desember 2025
  • Tebal: 354 halaman
  • ISBN: 9786020656151
  • Harga: Rp108.000

Apa Isi Buku Esensialisme?

Dengan tagline “Pentingkan yang Penting Saja”, sebenarnya kita bisa menebak kalau isi buku ini akan mengajak kita belajar memprioritaskan mana yang penting dan mengabaikan apa yang kurang esensial.

Buat orang yang suka ruwet dengan pikirannya sendiri, jelas buku ini terasa menarik. Apalagi, di bagian cover ini terdapat semacam ilustrasi garis ruwet dengan tanda panah mengarah ke sebuah lingkaran dengan tulisan “ini” di tengah-tengahnya.

Berbeda dengan buku Effortless, buku ini terbagi menjadi ke dalam empat bagian, yakni:

Bagian I: Intisari

  1. Esensialis
  2. MEMILIH: Kekuatan Tak Terkalahkan dari Kemampuan Memilih
  3. MELIHAT DAN MENCERMATI: Yang Tidak Penting pada Hampir Segala Hal
  4. TRADE-OFF: Masalah Mana yang Ingin Saya Pecahkan?

Bisa dibilang, ini adalah bagian “pembukaan” untuk memahami apa yang dimaksud dengan Esensialisme. Akan ada banyak istilah di bagian ini yang akan muncul kembali di bab selanjutnya, terutama bagian trade-off atau menukar apa yang tidak esensial menjadi esensial.

Bagian II: Eksplorasi

  1. MEMBEBASKAN DIRI: Manfaat Tak Terduga dari Menjadi yang Tak Tersedia
  2. MENCERMATI: Melihat Mana yang Sungguh Penting
  3. BERMAIN: Mengambil Kearifan Kanak-Kanak Dalam Diri Anda
  4. TIDUR: Melindungi Aset
  5. MEMILIH: Kedahsyatan Kriteria Ekstrem

Dalam bagian ini, kita diajak untuk mengeksplorasi diri untuk menemukan apa yang benar-benar penting dalam kehidupan kita. Ada dua bab yang menarik di sini, yakni “bermain” dan “tidur”. Aktivitas yang kerap dianggap tidak produktif ini ternyata esensial!

Bagian III: Eliminasi

  1. KLARIFIKASI: Sebuah Keputusan yang Meniadakan Seribu Keputusan
  2. BERANI: Kedahsyatan Jawaban “Tidak” yang Anggun
  3. MELEPAS KOMITMEN: Menang Besar dengan Menghentikan Proyek Rugi
  4. MENYUNTING: Seni yang Tidak Kelihatan
  5. BATAS: Kebebasan Berkat Menetapkan Batasan-Batasan

Selain melakukan eksplorasi untuk menemukan yang esensial, memahami mana yang tidak esensial juga tak kalah penting. Oleh karena itu, bagian ini akan mengajak kita untuk melakukan eliminasi terhadap hal-hal yang tidak esensial.

Bagian IV: Eksekusi

  1. PENYANGGA: Keunggulan yang Tidak Wajar
  2. MENGURANGI: Maju Lebih Pesat dengan Menghilangkan Hambatan
  3. KEMAJUAN: Kedahsyatan Kemenangan-Kemenangan Kecil
  4. ALIRAN (FLOW): Hebatnya Sebuah Rutin
  5. FOKUS: Apa yang Penting Sekarang?
  6. JADILAH: Hidup Seorang Esensialis

Menemukan apa yang esensial, sudah. Mengetahui apa yang tidak esensial, sudah. Maka langkah terakhir yang perlu kita ketahui adalah bagaimana mengeksekusi semua teori Esensialisme ke dalam hidup kita sehari-hari.

Setelah Membaca Buku Esensialisme

Sebenarnya, pekerjaan Penulis sebagai seorang editor juga berkaitan erat dengan Esensialisme. Dalam menyunting artikel, tentu Penulis harus cermat dalam menentukan mana yang Esensial, mana yang Nonesensial dan dihapus dari artikel. Mungkin itu juga yang membuat Penulis tertarik untuk membaca buku ini.

Karena buku Effortless, jujur ekspektasi Penulis terhadap buku ini cukup tinggi. Sayangnya, ekspektasi tersebut harus runtuh karena secara keseluruhan, isi buku ini cukup “umum” dan penuh dengan hal-hal klise yang mungkin kita sudah tahu.

Memang, setiap babnya diceritakan dengan mudah dan aplikatif. Hanya saja, banyak yang terasa terlalu general dan kurang spesifik. Lebih parahnya lagi, terkadang beberapa bab terasa dragging dan cukup repetitif.

Ketika membaca buku ini, Penulis merasakan sensasi seperti ketika membaca buku Start with Why, di mana penulis buku ini terlalu menglorifikasi teori Esensialisme yang sedang dibahas sekaligus terlalu menyederhanakan semua permasalahan yang disebutkan di sini.

Di setiap babnya, ada semacam tabel yang terdiri dari dua kolom, yakni Nonesensialis dan Esensialis. Tentu saja bagian Nonesensialis menjadi bagian yang buruk dan Esensialis menjadi bagian yang baik.

Jadinya, cuma ada dua kutub ekstrem antara Nonesensialis dan Esensialis. Kalau bukan seorang Esensialis, berarti otomatis kita adalah Nonesensialis. Padahal, dalam kenyataannya hidup tidak sehitam-putih dan sesederhana itu.

Secara konsep, teori Esensialisme memang penting, apalagi bagi orang yang kerap overthinking seperti Penulis. Justru karena merasa itu penting, Penulis butuh elaborasi yang lebih mendalam.

Ketika membaca buku ini, Penulis sudah membiasakan diri untuk mencatat berbagai hal menarik dari buku yang sedang dibaca. Nah, buku ini termasuk yang catatannya sedikit karena jujur tidak banyak poin menarik yang Penulis temukan.

Walau begitu, ada satu quote dari buku ini yang Penulis benar-benar ingat dari halaman 135, yakni “No more yes, it’s either HELL YEAH or no!” yang maknanya adalah kita harus melakukan sesuatu yang benar-benar membuat kita langsung bersemangat.

Di halaman 192, yang termasuk ke dalam bagian Eliminasi, ada juga pengingat tentang komitmen yang sangat masuk untuk Penulis. Ternyata, salah satu hal yang membuat kita melepaskan komitmen adalah sink-cost bias.

Singkatnya, sink-cost bias adalah kondisi di mana kita sudah merasa “berinvestasi” banyak sehingga merasa sayang jika melepaskan suatu komitmen. Padahal, jika kita terus mempertahankan komitmen tersebut, kerugian yang kita derita akan semakin besar.

Penulis memang merasa kurang puas dengan buku ini karena berharap isinya bisa lebih detail. Namun, buat Pembaca yang kerap merasa overwhelmed dengan kehidupannya, buku ini akan memberi cara bagaimana mengurainya secara sistematis.

Skor: 6/10


Lawang, 9 Agustus 2026, terinspirasi setelah membaca Esensialisme karya Greg McKeown

Continue Reading

Fiksi

[REVIEW] Setelah Membaca Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

Published

on

By

Sewaktu berjalan-jalan di Gramedia Malang dengan seorang kawan, Penulis menemukan satu novel yang terlihat menarik. Bukan karena cover-nya unik atau judulnya bombastis, melainkan karena ada tulisan “Edisi Spesial Cetakan ke-100”.

Novel tersebut adalah Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna, yang sesungguhnya sudah sering Penulis lihat di rak toko buku. Penulis juga tahu kalau penulis novel ini telah menerbitkan banyak buku, hanya saja Penulis memang belum pernah mencoba membaca karyanya.

Oleh karena menemukan edisi spesial ini, Penulis pun jadi penasaran dan membelinya. Selain karena ingin tahu apa yang membuat buku ini bisa sampai dicetak sebanyak 100 kali, kata-kata yang terdapat di bagian belakang buku ini juga sedang related bagi Penulis:

“Semua hal bisa berakhir begitu saja. Meskipun kita sudah berjuang dengan sekuat tenaga, ada beberapa hal yang harus berakhir dan kita hanya bisa menerima.“

Detail Buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

  • Judul: Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati (Edisi Spesial Cetakan ke-100)
  • Penulis: Brian Khrisna
  • Penerbit: Gramedia Widiasarana Indonesia
  • Cetakan: Ke-100
  • Tanggal Terbit: April 2026 
  • Tebal: 216 halaman
  • ISBN: 9786020531328
  • Harga: Rp93.000

Apa Isi Buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati berpusat pada karakter bernama Ale, seorang laki-laki pekerja kantoran yang hidupnya sepi. Ia merasa tidak punya siapa-siapa. Jangankan kekasih, keluarga pun seolah enggan dengannya.

Ale juga merasa bahwa bentuk dirinya yang buruk rupa membuatnya tidak dicintai oleh siapa pun. Keberadaannya kerap dianggap tidak ada, termasuk di kantor. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya yang ia rasa tak ada artinya tersebut.

Sebelum mati, ia memiliki satu keinginan terakhir dalam hidupnya: makan mie ayam langganannya. Namun, ketika ia hendak melakukan niatnya tersebut, ternyata tempat mie ayam tersebut justru tutup, seolah semesta melarangnya untuk mati!

Ia pun menelusuri dan mencari info mengenai penjual mie ayam tersebut. Ternyata, bapak yang berjualan meninggal dunia. Siapa sangka, berawal dari peristiwa yang tampak sederhana itu, Ale akan menjalani kehidupan yang mengubah seluruh pemikirannya selama ini.

Ale harus mengalami rasanya dipenjara, bekerja untuk seorang kriminal, masuk ke tempat prostitusi, bertemu dengan OB dari kantornya, berjualan bolu kukus, hingga bertemu seorang buta yang bijaksana. Hidup yang ia ketahui selama ini pun menjadi terlihat berbeda.

Nah, di edisi spesial ini, ada satu “perjalanan tambahan” yang menurut Penulis diposisikan untuk memberi akhir yang jelas untuk karakter Ale. Penulis tidak yakin karena tidak membaca versi aslinya, tapi kemungkinan akhir dari versi aslinya diserahkan kepada pembaca.

Setelah Membaca Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

Karena belakangan ini suka membaca novel-novel dari penulis Jepang, sudah lama rasanya Penulis tidak membeli novel buatan penulis Indonesia. Oleh karena itu, Penulis merasa ini momen yang tepat untuk “berkenalan” dengan karya-karya Brian Khrisna.

Secara topik, isu yang diangkat oleh Brian rasanya akan related dengan kebanyakan orang di masa modern ini. Segala problematika yang menghantui kita saat ini terkadang membuat kita merasa buntu dan tidak tahu bagaimana cara keluar dari rasa sakit tersebut.

Alhasil, “kematian” pun seolah menjadi satu-satunya jalan keluar dari rasa sakit tersebut. Padahal, tidak sebanding rasanya jika masalah yang sementara harus diselesaikan dengan solusi yang permanen. Ini bukan kata Penulis, tapi kata Dr. Jiemi Ardian lewat bukunya yang berjudul Merawat Luka Batin.

Oleh karena itu, Penulis memandang buku ini sebagai “pelukan hangat” dari Brian untuk pembacanya yang juga kepikiran untuk mengakhiri hidupnya. Ia berusaha memperlihatkan kalau masih ada harapan jika kita berani untuk melanjutkan hidup.

Novel ini juga berusaha mengingatkan kepada kita bahwa apa pun kondisi kita saat ini, kita memiliki peran masing-masing. Mungkin kehidupan yang tidak kita anggap berharga ini, bisa jadi berarti bagi orang lain yang bahkan tidak pernah kita pikirkan.

Karena tema dari buku ini cukup gelap, wajar jika Penulis menemukan beberapa quote kehidupan yang bisa menjadi pengingat ketika kita sedang berada di masa-masa gelap. Selain yang telah disebutkan di atas, ada satu lagi yang menarik bagi Penulis:

“Setiap manusia seharusnya tidak perlu meminta orang lain untuk mencintainya atau bahkan sampai memohon agar dicintai. Sebab, di hadapan orang yang tepat kamu tidak perlu memohon apa-apa.”

Namun, ada beberapa hal yang terasa mengganjal bagi Penulis. Pertama, beberapa dialog di novel ini terasa kurang natural. Alih-alih terasa sebagai percakapan antara dua orang, dialognya terasa seperti textbook yang jika dibacakan dengan lantang akan terasa aneh.

Adegan ketika ia tanpa sengaja bertemu dengan mantan teman sekolahnya di sebuah tempat makan, jujur bagi Penulis rasanya cringe. Mungkin memang ada orang yang lama tidak ketemu, begitu ketemu langsung ngatain, tapi di novel ini terasa sekali dramatisirnya.

Selain itu, semua orang yang ditemui oleh Ale seolah-olah punya pekerja sampingan sebagai motivator. Mungkin, Brian ingin memperlihatkan kalau inspirasi dan motivasi itu bisa datang dari mana saja, termasuk dari kaum marjinal, tapi dosisnya menurut Penulis terlalu berlebihan.

“Petualangan Ale” dalam buku ini juga terasa terlalu mulus. Seperti kritik pada film Project Hail Mary, Penulis tidak menyukai cerita di mana karakter utamanya mulus-mulus saja dalam menghadapi tantangan yang ada di hadapannya. Apalagi, rentetan kejadiannya terasa kurang realistis.

Satu hal yang paling mengganjal adalah betapa mudahnya Ale “lolos” setelah memutuskan kabur dari Murad dan kelompok kriminalnya. Memang, di edisi spesial ini ada cerita tambahan bagaimana Murad pada akhirnya berhasil menemukan Ale, walau tetap ujungnya terlalu happy ending.

Murad mungkin merasa berhutang budi karena kebetulan adiknya bekerja di kantor yang sama dengan Ale, bahkan bisa masuk pun karena ada sedikit andil darinya. Di sini juga terjadi klise di mana seorang penjahat ternyata memiliki “kelemahan” berupa keluarga yang ia sayangi.

Terlepas dari kekurangannya tersebut, Penulis tetap menikmati novel ini, bahkan menandaskannya secara langsung hanya dalam waktu sekitar 2 jam. Tema yang dibawanya universal dan mungkin sedang kita rasakan juga saat ini.

Setelah menamatkannya, Penulis merasa kalau novel ini bisa sampai cetakan ke-100 adalah karena memang sangat mudah untuk dicerna, sehingga bisa menjangkau banyak orang. Sama sekali tidak ada bagian yang membuat otak berpikir keras, semua dijelaskan dengan gamblang.

Penulis merekomendasikan novel ini untuk siapa pun yang sedang merasa buntu dalam hidupnya dan melihat kalau kematian adalah solusi satu-satunya. Percayalah, Tuhan tidak akan memberikan ujian yang melebihi kemampuan umat-Nya.

Skor: 6/10


Lawang, 5 Agustus 2026, terinspirasi setelah membaca Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna

Continue Reading

Fanandi's Choice

Blog ini milik Fanandi Prima Ratriansyah sejak 2018