Sosial Budaya
Pro dan Kontra Boikot Produk (Pendukung) Israel
Semenjak serangan Hamas yang terjadi pada tanggal 7 Oktober 2023 silam, tensi dunia terhadap konflik yang berkepanjangan antara Palestina dan Israel pun meninggi. Banyaknya korban yang berjatuhan membuat aksi protes terjadi di mana-mana.
Salah satu gerakan yang paling masif dilakukan adalah BDS Movement, yang merupakan singkatan dari Boycott, Divestment, Sanction. Ini sudah terjadi di berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia sendiri yang merupakan negara dengan penduduk muslim terbanyak.
Namun, boikot yang dilakukan terhadap produk-produk pendukung Israel menuai pro dan kontra. Ada yang menganggap ini sebagai bentuk keberpihakan, ada yang menganggap ini tidak berpengaruh dan hanya menyusahkan tenaga kerja kita sendiri

Dalam tulisan kali ini, Penulis akan memberikan berbagai perspektif yang sudah dirinya pelajari dalam beberapa waktu terakhir ini. Disclaimer, tulisan ini tidak bertujuan untuk menggiring opini para Pembaca sekalian.
Selain itu, Penulis juga tidak akan membahas mengenai penyebab konflik Palestina dan Israel karena sudah pernah menuliskannya di tulisan lain. Untuk Pembaca yang belum sempat membacanya, tautannya Penulis letakkan di bawah ini:
Apa Itu Boikot dan Mengapa Dilakukan?

Secara sederhana, boikot adalah sebuah aksi yang dilancarkan oleh sejumlah massa untuk tidak membeli sebuah produk buatan atau yang berafiliasi dengan pihak yang diboikot. Dalam kasus ini, boikot ditargetkan kepada produk-produk buatan Israel dan yang mendukung Israel.
Boikot bisa dikatakan sebagai langkah untuk menekan Israel dari segi ekonomi atas tindakannya yang semakin menekan Gaza setelah serangan Hamas, dengan dalih ingin memberantas pasukan Hamas sampai ke akarnya.
Alhasil, sejumlah produk yang secara terang-terangan mendukung Israel pun mulai terkena dampaknya. Beberapa gerai makanan cepat saji di negara mayoritas muslim seperti Timur Tengah terlihat sepi, bahkan nyaris kosong.
Di Indonesia sendiri, dari yang sejauh Penulis amati baik di sekelilingnya maupun di media sosial, ajakan gerakan boikot ini juga terjadi cukup masif. Apalagi, telah beredar nama-nama produk yang masuk ke dalam daftar boikot.
Apakah Boikot Efektif?

Lantas, apakah boikot benar-benar efektif? Penulis, hingga artikel ini ditulis, belum menemukan data yang menjelaskan berapa kerugian yang diderita oleh Israel semenjak adanya boikot ini.
Namun, sebagian orang berpendapat kalau boikot ini memang sejak awal tidak menargetkan untuk melemahkan ekonomi Israel yang sejatinya cukup kuat dan mendapatkan backing-an dari negara-negara Barat. Boikot ini adalah tentang keberpihakan.
Penulis membuat analogi seperti ini. Misal Penulis memiliki dua orang tetangga, yang satu sahabat Penulis dan yang satu lagi pemilik toko kelontong. Penulis sering membeli di toko tersebut. Akan tetapi, suatu ketika si pemilik toko berkonflik dan menyerang sahabat Penulis.
Merasa tidak terima, Penulis pun memutuskan untuk tidak membeli lagi di toko tersebut. Penulis melakukan boikot karena solidaritas kepada sahabat Penulis yang disakiti. Toko tersebut kehilangan satu konsumennya atas konsekuensi yang dilakukan pemiliknya.
Lantas, apakah toko tersebut akan menjadi bangkrut begitu saja? Tentu tidak, karena masih ada banyak pembeli lainnya yang tetap membeli di sana karena berbagai alasan seperti harganya yang terjangkau. Penulis tidak lagi membeli di sana karena berpihak ke sahabatnya.
Itu pula yang terjadi saat ini di antara konflik Palestina dan Israel. Kaum Pro-Palestina melakukan boikot terhadap produk-produk yang menyatakan dukungan kepada Israel secara terang-terangan dan memberikan bantuan dalam peperangan.
Apa yang dilakukan oleh mereka adalah bentuk solidaritas kepada Palestina. “Karena kamu mendukung Israel yang merupakan musuh Palestina, maka kami tidak akan membeli lagi produk-produkmu,” kurang lebih seperti itu premisnya.
Kalaupun ada yang berniat ingin melumpuhkan ekonomi Israel, ya tidak apa-apa. Ketika Nabi Ibrahim dibakar, sekelompok semut berusaha memadamkannya dengan tenaganya yang kecil, menyiprat-nyipratkan air ke api tersebut.
Usaha mereka pun ditertawakan oleh burung gagak karena dianggap tidak akan memberikan pengaruh apa-apa. Namun, semut berkata, “Walaupun upayaku ini tidak terlalu berdampak, setidaknya Allah tahu di mana kami berpihak.”
Boikot kok Pilih-Pilih?

Bagi mereka yang kontra terhadap boikot, sering muncul pertanyaan, “Kalau begitu, boikot semuanya dong, jangan pilih-pilih!” Sebenarnya ekspresi ini wajar saja, di mana pihak pro-boikot dituntut untuk menunjukkan konsistensinya.
Seperti yang kita tahu, produk-produk teknologi dan digital seperti Google, Microsoft, Meta (Facebook) juga menjadi salah satu pendukung Israel yang paling vokal. Namun, produk-produk mereka masih digunakan untuk mereka yang mengklaim dirinya pro-boikot.
Mengutip dari berbagai ustaz yang Penulis lihat di media sosial (yang merupakan buatan Meta dan Google), pada dasarnya boikot yang dilakukan ini adalah meminimalisir penggunaan produk yang menjadi pendukung Israel.
Harus diakui kalau ada banyak sektor yang di mana kita sangat tergantung padanya. Contoh gampangnya adalah Instagram dan YouTube yang sudah menjadi keseharian kita. Apakah ada media lain yang sebanding dan bisa menggantikannya? Sampai saat ini belum ada.
Contoh lainnya adalah Windows buatan Microsoft atau Android buatan Google. Apakah ada sistem operasi alternatif yang bisa jadi penggantinya? Belum ada. Lantas, apakah kita bisa hidup tanpa produk tersebut? Bagi sebagian orang termasuk Penulis, jawabannya tidak.
Mengutip perkataan kawan Penulis, kita bisa menggunakan produk-produk tersebut untuk menyerukan kebaikan. Kita buat hal yang bermanfaat atau bahkan menyerukan kemerdekaan Palestina menggunakan media-media tersebut.
Nah, kalau sudah ada produk yang sebanding, maka para pro-boikot menganjurkan untuk menggantinya. Lebih baik lagi kalau menggantinya dengan produk-produk lokal, hitung-hitung mendukung produk buatan negeri sendiri.
Lantas, Bagaimana dengan Nasib Pekerja?

Salah satu dilema yang dihadapi oleh pro-boikot adalah dampak yang diterima oleh para pekerjanya, yang notabene menggantungkan hidup melalui produk-produk yang diboikot. Padahal, mereka semua belum tentu menjadi pendukung Israel.
Jika boikot berlangsung masif, bukan tidak mungkin omset perusahaan akan menurun yang akan memicu layoff besar-besaran. McDonald’s di Mesir mengatakan penjualan turun hingga 70%, sedangkan di Malaysia turun di kisaran 20%.
Harus diakui kalau boikot akan memengaruhi kehidupan banyak orang. Penulis pernah menemukan sebuah curhatan dari abang Grab yang mengatakan pendapatannya menurut drastis karena aksi boikot ini, apalagi Grab juga jadi salah satu sasaran boikot.
Namun, ini opini pribadinya, Penulis meyakini kalau rezeki itu diatur Tuhan, bukan oleh perusahaan-perusahaan tersebut. Penulis meyakini kalau Tuhan tidak akan diam saja jika boikot ini sampai membuat banyak saudara kita kehilangan pekerjaan.
Ketika kita melakukan boikot terhadap sebuah produk, otomatis kita akan beralih ke produk lain. Jadi, secara hitung-hitungan matematis sebenarnya kebutuhan masyarakat tidak berkurang, hanya berpindah saja.
Idealnya, ketika kita beralih ke produk lain (termasuk produk lokal), maka omset mereka naik. Karena demand naik, maka mereka akan membuka lowongan-lowongan pekerjaan baru. Ini memang too good to be true dan utopis, tapi Penulis meyakini kalau hal ini bisa terjadi.
Mungkin ada yang beranggapakan kalau Penulis bisa ngomong seenteng itu karena tidak bekerja di sana, dan itu ada benarnya. Jika Penulis bekerja di sana dan terancam terkena layoff karena boikot, mungkin Penulis tidak akan berpikir setenang itu.
Namun, sejauh yang Penulis temukan lewat media sosial, justru mereka yang bekerja di sana terlihat lebih legawa. Abang Grab yang Penulis sebutkan tadi justru berkata dirinya ikhlas karena itu bagian dari perjuangannya mendukung Palestina.
Dalam kasus lain, beberapa toko kelontong dan swalayan memutuskan untuk tidak menjual (bahkan membuang) produk-produk yang masuk ke dalam daftar boikot sebagai bentuk dukungan nyata mereka ke Palestina (walau ada yang tidak setuju karena jadi mubazir).
Pasti akan ada yang mengeluh mengapa di saat pekerjaan susah didapatkan seperti sekarang, kita justru membuat mereka kehilangan pekerjaan. Tak sedikit yang menuntut kepada pendukung boikot untuk “bertanggung jawab” atas hilangnya pekerjaan mereka.
Penutup
Jika sudah membaca sampai sini, mungkin para Pembaca akan menyimpulkan Penulis pro-boikot, dan itu memang benar. Jadi Penulis minta maaf jika Pembaca merasa opininya digiring, meskipun di atas sudah ada disclaimer kalau tidak ada niatan ke sana.
Yang perlu Pembaca ketahui, awalnya Penulis pun tidak pro-boikot. Sudah dampaknya tidak seberapa, yang kena getahnya justru masyarakat kita sendiri karena mereka berpotensi kehilangan pekerjaannya.
Hanya saja, semakin Penulis mendalami masalah perboikotan ini, hati nurani Penulis semakin terdorong untuk mendukung boikot yang sebenarnya bisa dianggap sebagai aksi paling damai dibandingkan mengangkat senjata yang belum tentu kita mampu.
Memang masih banyak aksi lain yang bisa kita lakukan untuk mendukung Palestina, seperti bersuara di media sosial dan memberikan sumbangan semampunya. Namun, tidak ada salahnya juga untuk menunjukkan keberpihakan kita dengan mendukung boikot.
Penulis juga berusaha mendengar bagaimana pendapat para ahli agama yang jelas iman dan ilmunya lebih tinggi dari Penulis. Karena mayoritas mendukung boikot, maka Penulis pun semakin mantap untuk pro-boikot.
Lantas, apakah yang kontra dengan boikot itu salah? Jelas tidak sama sekali. Mereka juga punya pertimbangan masing-masing yang Penulis yakini juga didasari atas kebaikan dan kemanusiaan.
Oleh karena itu, silakan mau pro ataupun kontra terhadap gerakan boikot produk-produk Israel dan pendukungnya. Mari kita saling menghargai pilihan masing-masing tanpa menghakimi dan merasa dirinya yang paling benar.
Foto Banner: Middle East Monitor
Sumber Artikel:
Sosial Budaya
Fenomena Joki “Unik”: Ketika Dahaga akan Validasi Jadi Ladang Cuan untuk Orang Lain
Penulis suka berdiskusi dengan teman-temannya, baik secara langsung maupun via WhatsApp. Topik yang didiskusikan pun bisa bermacam-macam, mulai yang serius hingga yang relatif santai. Senang saja jika ada teman untuk bertukar pikiran.
Nah, belum lama ini, Penulis berdiskusi dengan salah satu kawannya yang bernama Jojo. Topiknya pun menarik, di mana dia kerap membagikan berbagai fenomena joki yang “unik”. Penulis yang semakin jarang bermain media sosial ini pun sampai terkejut ketika diberi tahu.
Pada tulisan kali ini, Penulis ingin membagikan apa saja yang kami diskusikan terkait fenomena ini, termasuk apa penyebab dari menjamurnya joki-joki aneh ini hingga bagaimana dahaga akan validasi bisa menjadi ladang cuan untuk orang lain.

Fenomena Joki Bukanlah Hal Baru, tapi…

Sebenarnya, pekerjaan sebagai joki bukanlah hal baru. Waktu kecil, Penulis ingat ketika ada aturan 3-in-1 diberlakukan di jalan-jalan tertentu di Jakarta, ada joki-joki yang bisa disewa agar mobil kita bisa melintasi jalan tersebut.
Ada juga joki yang bisa menggantikan kita untuk mengerjakan soal ujian atau tes, walaupun rasanya sekarang akan terasa lebih sulit. Kalau contoh yang lebih modern, joki game tertentu juga cukup ramai. Belakangan juga ada jasa nemenin ngopi dan jalan-jalan.
Namun, alasan untuk menggunakan jasa joki-joki di atas masih terasa masuk akal. Joki 3-in-1 agar kita bisa melewati jalan yang memang harus dilewati, joki ujian biar bisa lulus ujian (tentu ini tidak dibenarkan), joki game pun karena pemainnya ingin melewati grinding yang melelahkan atau mencapai level tertentu.
Beberapa tahun lalu, mungkin Pembaca masih ingat dengan fenomena joki Strava, di mana orang akan memamerkan hasil larinya, tapi yang lari justru orang lain. Nah, joki-joki unik yang diberitahukan Jojo kepada Penulis bisa dibilang cukup membuat geleng-geleng kepala.
Penulis akan sebutkan beberapa joki tersebut: joki baca buku, joki minum kopi, hingga joki nonton konser. Penulis bahkan menemukan ada yang membuka jasa joki nonton Manchester United, tapi Penulis meyakini kalau ini hanya troll post.
Awal diskusi ini pun bermula dari Jojo yang merekomendasikan Penulis untuk menjadi joki baca buku, karena dia tahu betapa kutu bukunya Penulis. Nantinya, Penulis harus memberi banyak catatan atau menempel sticky notes agar pembayar jasa bisa terlihat pintar.
Dari tiga contoh di atas, ada kesamaan dengan joki Strava, yakni menggunakan orang lain untuk bisa mendapatkan sesuatu yang bisa dipamerkan ke orang lain, tanpa perlu melakukannya sendiri.
Mengapa Banyak Bermunculan Joki Aneh?

Penulis dan Jojo menemukan beberapa jawaban mengapa fenomena joki “unik” ini makin menjamur. Salah satunya adalah haus akan validasi dari orang lain. Di era media sosial yang makin memudahkan kita untuk melihat kehidupan orang lain, hal ini akan makin lumrah terjadi.
Kita mungkin bisa berlogika kalau memang ingin pamer buku yang sedang dibaca, ya baca bukunya. Kalau mau pamer lagi nonton konser, ya datang ke konsernya. Hanya saja, ternyata tidak semua bisa berpikiran seperti itu. Analoginya, ingin terlihat keren tanpa benar-benar berusaha untuk keren.
Alasan lainnya adalah fear out missing out alias FOMO. Mungkin karena melihat story orang membagikan buku yang dibaca, kopi yang diminum di kafe viral, atau konser yang seru, mereka jadi ingin ikut-ikutan agar dianggap keren atau cultured juga. Kalau kata Jojo, mereka ini “kebelet aesthetic.”
Selain itu, bisa juga orang-orang sampai harus “berbohong” sampai menggunakan jasa joki adalah demi mendapatkan engagement. Seperti yang kita tahu, ketika postingan kita mendapatkan banyak likes maupun komentar, hal tersebut akan memberikan suntikan dopamin. Itulah yang dikejar oleh mereka.
Fenomena ini makin diperparah dengan adanya jasa-jasa persewaan barang seperti iPhone, tas branded, lanyard, bahkan pacar. Bedanya, seringnya barang-barang tersebut didapat demi mendapatkan validasi secara luring, sedangkan jasa joki kebanyakan untuk mendapatkan validasi secara daring.
Kalau melihat ini dari sudut pandang lain, kebutuhan validasi orang lain justru menjadi ladang uang bagi orang lain. Bagi yang jeli melihat pasar dan apa yang sedang dibutuhkan, mereka akan menyediakan jasa joki tersebut. Terbukti, ada (kalau bukan banyak) yang menggunakan jasa tersebut.
Ketika Identitas Menjadi Penuh Kepalsuan
Penulis dan Jojo sama-sama merasa ada sesuatu yang lebih berbahaya dari fenomena joki ini, yakni bagaimana identitas manusia menjadi penuh kepalsuan. Demi mendapatkan pengakuan dari orang lain, kita jadi rela untuk menipu orang lain dan diri kita sendiri.
Sampai menulis artikel ini pun Penulis masih susah untuk menerima adanya fenomena ini, bagaimana kita rela mengeluarkan uang demi mendapatkan validasi dari orang lain. Padahal, sejatinya validasi terpenting itu harus datang dari diri sendiri.
Seandainya alasan mereka sampai berbuat seperti itu adalah karena tuntutan lingkungannya, ya mungkin yang salah memang lingkungannya. Lingkungan yang tepat tidak akan menuntut kita untuk berubah menjadi orang lain dan membuat kita memaksakan diri.
Kalau memang tidak suka lari pagi, tidak suka baca buku, lambungnya tidak kuat minum kopi, atau belum punya uang untuk nonton konser, ya tidak perlu upload story. Percayalah, hidup yang tenang (dan mungkin membosankan) itu juga bisa dinikmati, kok.
Mungkin Penulis juga bisa membuka jasa “joki” sebagai tambahan pemasukan in this economy. Penulis terpikir untuk menjadi joki “pemberi validasi yang soft-spoken“. Kira-kira, apakah ada pasarnya?
Lawang, 24 Oktober 2026, terinspirasi setelah ngobrol dengan Jojo terkait fenomena joki yang semakin hari semakin aneh ini
Sosial Budaya
Bahkan Hobi Baca Buku pun Tak Luput dari Nyinyiran Orang
Penulis selalu mem-branding dirinya sebagai orang yang gemar membaca buku. Bukan demi pencitraan, tapi memang benar-benar hobi membaca sejak kecil. Oleh karena itu, banyak artikel review buku di blog ini. Penulis juga suka membagikan buku yang sedang dibacanya di media sosial.
Seringnya, Penulis membaca di rumah tentu saja, terutama di kamar. Akan tetapi, waktu masih tinggal di Jakarta, Penulis sering membaca buku di transportasi umum seperti Trans Jakarta dan KRL. Daripada doomscrolling mulu, lebih baik baca sesuatu yang lebih bermanfaat.
Namun, belakangan ini Penulis kerap menemukan sebuah fenomena yang terkesan nyinyir terhadap orang-orang yang suka membaca buku di ruang publik. Menurut mereka, para pembaca ini hanya ingin terlihat sok keren di mata orang lain. Benarkah demikian?
Menengok Tingkat Literasi Kita

Indonesia memiliki tingkat literasi yang cukup rendah. Berdasarkan data terbaru dari skor literasi membaca PISA pada tahun 2025, kita hanya mendapatkan skor 365. Walaupun naik 6 poin, tapi kita tetap berada di peringkat 74 dari 90 negara yang berpartisipasi.
Jika menengok Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) pada bulan Maret 2026, skor kita hanya 40,6 dan tergolong rendah. Perpustakaan Nasional mengumumkan pada tahun 2025 kalau Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) nasional hanya berada di angka 54,80 atau tergolong rendah juga.
Jangan lupakan juga data dari World’s Most Literate Nations Ranked oleh Central Connecticut State University (CCSU) yang dilakukan pada Maret 2016 silam. Kita berada di peringkat 60 dari 61 negara, hanya berada di atas negara Botswana.
Data-data di atas menjelaskan bahwa kegiatan membaca memang bukan menjadi budaya kita. Bahkan di antara keluarga maupun teman Penulis, sangat sedikit orang yang menunjukkan kegemaran membaca mereka.
Hal ini makin diperparah dengan makin mahalnya harga buku. Ketika ke toko buku, Penulis kerap merasa kaget ketika melihat label harga di belakang buku. Seringnya, Penulis sampai harus menunggu ada momen diskon dari toko buku agar bisa mendapatkan bukunya dengan harga yang lebih terjangkau.
Memang, ketika ke acara pameran buku seperti Big Bad Wolf dan Semesta Buku, jumlah pengunjungnya cukup padat. Ketika Penulis ke Gramedia, pasti ada saja orang yang sedang mempertimbangkan buku mana yang akan dibeli.
Penulis mencoba untuk memperluas circle pertemanan bukunya. Belum sampai tahapan ikut sebuah komunitas, tapi sudah sering mutualan di Threads dengan orang-orang yang juga antusias membaca buku. Penulis sering meninggalkan komentar di pos-pos seputar buku.
Dari uraian di atas, kita bisa memahami kalau orang yang hobi membaca itu sudah termasuk langka. Sayangnya, justru jumlah yang sedikit tersebut masih harus kena nyinyir dari netizen yang menganggap mereka hanyalah performative reader.
Apakah Orang yang Membaca di Ruang Publik Selalu Performative Reader?

Istilah performative reader ditujukan untuk orang-orang yang kelihatannya membaca, tapi untuk tujuan agar terlihat intelektual, cultured, estetik, atau bahkan edgy. Mereka tidak benar-benar memahami apa yang dibaca, yang penting apa yang terlihat di mata orang lain.
Ada beberapa ciri dari performative reader ini, mulai hobi membawa buku tebal atau klasik ke tempat umum seperti kafe dan kereta, sering foto bukunya entah itu selfie maupun memamerkan bukunya yang jadi “warna-warni”, hingga membagikan kutipan yang dianggap keren atau related.
Fenomena ini semakin parah dengan adanya joki baca buku yang juga tak kalah ramai dibicarakan. Orang yang mau terlihat keren, tapi malas untuk menyelesaikan sebuah buku, bisa memanfaatkan jasa ini. Mereka juga akan mendapatkan berbagai foto estetik yang bisa dipamerkan ke media sosialnya.
Ada teman Penulis yang menyarankan Penulis menjajal opportunity ini, tapi Penulis menolak dengan alasan tak tega kalau harus mencoret-coret buku ataupun menempelinya dengan sticky notes. Catatan kecil Penulis tetap menjadi andalan untuk menulis semua poin penting yang Penulis temukan di buku.
Buku pun seolah hanya menjadi alat validasi bagi para performative reader ini. Mereka ingin dipandang sebagai sosok yang ini itu berdasarkan bacaan keren yang sedang mereka tunjukkan di ruang publik tanpa benar-benar memahami isi buku yang sedang dipegangnya.
Hanya saja, tidak semua orang yang membaca di tempat umum adalah performative reader. Itu adalah generalisasi yang cukup menghakimi. Bisa jadi orang tersebut memang benar-benar suka membaca. Mereka membaca di kafe karena ingin ganti suasana, mereka membaca di kereta agar waktunya bisa digunakan lebih produktif.
Hobi membaca itu sudah cukup langka, jadi jangan membuat hal tersebut semakin langka lagi. Alasan yang sama juga berlaku bagi orang-orang yang kerap menjadi “polisi” bacaan dan merendahkan bacaan orang lain, terutama buku-buku populer yang mainstream. Sudah mau membaca buku saja bagus, jangan malah dihakimi.
Penulis akan berusaha sesuai kapasitasnya untuk mendukung aktivitas membaca buku menjadi kebiasaan yang natural bagi masyarakat Indonesia. Siapa pun yang ingin meminjam buku milik Penulis, silakan, syaratnya hanya tolong kembalikan dalam kondisi yang tidak rusak!
Lawang, 20 Oktober 2026, terinspirasi setelah membaca di media sosial mengenai nyinyiran yang ditujukan kepada orang yang suka membaca buku di tempat umum
Sosial Budaya
Ketika Netizen Lompat ke Kesimpulan (dan Merasa Pasti Benar)
Setelah bermain biliard pada malam minggu kemarin, Penulis duduk santai bersama teman-temannya karena sedang menunggu pesanan makanan. Sambil iseng, Penulis cek Instagram.
Nah, di Instagram kan sering ada rekomendasi postingan Threads agar kita “main” ke sana. Pada waktu itu, yang muncul di laman Penulis adalah membahas masalah Jiwoo, leader dari girlband Hearts2Hearts (H2H) tempat Carmen bernaung.
Tentu Penulis kaget, ada apa ini, perasaan selama ini baik-baik saja tidak ada masalah. Apakah ada skandal besar yang menerpanya? Ternyata setelah Penulis baca detail, bisa dibilang masalahnya (bagi Penulis) cukup sepele.
Inti Masalah yang Menerpa Jiwoo

Untuk yang awam dengan dunia K-Pop, Hearts2Hearts adalah girlband di bawah agensi SM Entertainment yang baru debut tahun lalu, tepatnya tanggal 24 Februari 2025. Artinya, usia mereka baru satu tahun lebih sedikit.
Anggotanya pun muda-muda, dengan yang tertua (yakni Carmen dan Jiwoo) lahir tahun 2006 atau berusia 20 tahun (21 tahun umur Korea), sedangkan yang paling muda lahir di tahun 2010.
Lantas, apa masalah yang menerpa Jiwoo sebagai leader? Inti yang Penulis tangkap adalah ia dianggap oversharing tentang teman perempuannya, yang disebut dengan kode “Deep Green”.
Si Deep Green ini sebelumnya juga merupakan trainee bersama Jiwoo, bahkan disebut akan debut bersama. Hanya saja, beberapa sumber menyatakan perubahan manajerial di SM membuat rencana tersebut batal.
Alih-alih mendebutkan Deep Green, SM justru mendebutkan Carmen, Stella, dan Ye-On. Mereka bertiga bahkan dijuluki sebagai “pendobrak line-up” karena masa trainee mereka yang tergolong singkat.
Singkat cerita, H2H akhirnya debut. Seperti kebanyakan girlband lain, mereka pun punya channel YouTube sendiri yang juga berisi semacam variety show di luar kesibukan mereka sebagai idol. Gampangnya, banyak konten vlog di sana.
Dalam beberapa kesempatan (kalau tidak salah sekitar tiga kali secara total), Jiwoo ini sering bercerita tentang si Deep Green ini, termasuk menunjukkan wallpaper HP-nya yang menampilkan foto mereka berdua.
Nah, dari sinilah masalahnya dimulai.
Netizen yang Lompat ke Kesimpulan

Mungkin Pembaca yang tidak familier dengan dunia K-Pop akan merasa heran dengan cerita di atas karena tidak menemukan adanya masalah. Penulis pun merasa demikian.
Ternyata, netizen (yang tentunya penggemar K-Pop) mempermasalahkan sikap Jiwoo yang oversharing si Deep Green tersebut. Ada yang mengecap Jiwoo “gagal move on“ dari temannya tersebut hingga mengabaikan member-nya,
Mereka menggunakan sebuah potongan ucapan salah satu member H2H, A-na, yang mengatakan di salah satu vlog kurang lebih seperti ini: “lebih perhatikan lagi member-mu.” Ada juga katanya A-na pernah bilang, “oh, si Green itu lagi.”
Lebih parahnya lagi, ada yang langsung menuduh Jiwoo menjalin hubungan romantis dengan si Deep Green. Istilah yang sering digunakan adalah WLW atau woman love woman. Dengan kata lain, Jiwoo dianggap sebagai seorang lesbian.
Banyak yang berkata kalau kedekatan Jiwoo dan Deep Green “tidak normal”. Narasi yang sering digunakan adalah “gue juga punya temen deket, tapi enggak segitunya.”
Selain itu, hebohnya kasus ini juga membuat trio pendobrak line-up jadi sasaran hate karena dianggap menggagalkan debut Deep Green (dan beberapa orang lainnya). Padahal, kan, keputusannya dari manajemen, ya?
Tentu banyak hal lain yang akhirnya disasar ke Jiwoo, mulai dianggap kurang pantas jadi leader, enggak bisa menerima fakta, dicap sering blunder, kurang care ke anggotanya, dan lain sebagainya.
Dari penjelasan di atas, bisa dilihat betapa mudahnya kita sebagai manusia langsung lompat ke kesimpulan dan merasa kesimpulan tersebut pasti benar.
Padahal ya Belum Tentu Benar

Penggemar K-Pop memang sering “dikeroyok” oleh netizen lain karena hubungan parasosial mereka yang cukup parah. Bagi mereka, idol adalah milik mereka. Tingkah laku idol harus sesuai dengan kemauan dan standar mereka.
Penulis masih ingat betul kasus yang menerpa Karina aespa. Ada dua kasus besar di mana hidupnya seolah “diatur” oleh penggemar. Pertama, masalah ia pacaran yang ujungnya membuat ia harus putus. Kedua, masalah foto yang dianggap bentuk dukungan kepada salah satu calon presiden Korea Selatan.
Nah, kasus Jiwoo ini adalah contoh lain dari permasalahan ini. Apalagi, kesimpulan-kesimpulan netizen, menurut keyakinan Penulis, berasal dari asumsi-asumsi yang dasarnya kurang kuat, mong kebanyakan dari potongan video.
Pertama, Jiwoo memang leader H2H, sehingga punya tanggung jawab yang besar atas para member-nya. Hanya karena ia sering sharing Deep Green, bukan berarti ia menelantarkan anggota-anggotanya, apalagi sampai dicap kurang care.
Ucapan A-na pun belum tentu terkait hal tersebut, apalagi mereka berdua (Jiwoo dan A-na) dikenal sebagai Tom & Jerry-nya H2H karena sering berantem (dalam konteks bercanda, yang justru menunjukkan kedekatan mereka).
Kedua, kalau memang Jiwoo lebih dekat dengan orang lain dibandingkan dengan member-nya sendiri, ya biarin aja. Kan orang bebas memilih mau berteman dengan siapa. Toh, kita juga tidak selalu berteman dengan orang sekantor, kan?
Ketiga, tuduhan yang menurut Penulis paling parah adalah tentang WLW. Penulis benar-benar tidak habis pikir, kenapa ujungnya justru menuduh Jiwoo sampai segitunya?
Banyak yang mengatakan bahwa mereka juga punya teman dekat, tapi enggak sampai seperti Jiwoo dan Deep Green. Lah, cara orang mengekspresikan diri kan beda-beda, masa harus sama kayak kita semua?
Padahal, kita tidak tahu apa saja yang terjadi di balik layar. Kita hanya menyimpulkan berdasarkan apa yang ditampilkan di layar. Lantas, siapa kita bisa menghakimi orang lain sedemikian rupa dan merasa asumsi kita pasti benar?
Kalau kata teman Penulis, “They wanna believe what they want to believe.” Bagi fans (dan mungkin juga hater), mereka merasa yang paling tahu tentang idol-nya, seolah tidak ada batas di antara mereka.
***
Artikel ini bukan pembelaan ke Jiwoo, mong fans pun bukan. Artikel ini Penulis tulis sebagai pengingat bahwa kita sebagai manusia terkadang suka langsung melompat ke kesimpulan tanpa ada dasar yang kuat.
Kalau hanya berdasarkan asumsi, potongan-potongan video, dan bukti-bukti lemah lainnya, ya jangan langsung membuat kesimpulan. Toh, kita tidak benar-benar tahu apa yang terjadi di belakang layar.
Lagipula, daripada menghabiskan energi dan waktu untuk orang lain (yang bahkan tidak tahu kita hidup di dunia ini), lebih baik digunakan untuk upgrade diri sendiri. Toh, kita enggak bisa mengontrol Jiwoo mau berteman dengan siapa atau mau bersikap seperti apa.
Lawang, 15 Maret 2026, terinspirasi setelah melihat “drama” yang melibatkan Jiwoo
-
Produktivitas11 bulan agoProductivity Hack #4: Kalau Cuma Butuh 5 Menit, Lakukan Sekarang
-
Olahraga12 bulan agoKita Selalu Senang Jika Ada Pembalap yang Raih Podium Perdana
-
Musik11 bulan agoTier List Lagu-Lagu IVE Versi Saya (Bagian 1: Single dan EP Jepang)
-
Permainan11 bulan agoKoleksi Board Game #31: Scrabble/Scrabble Together
-
Olahraga11 bulan agoLando Norris Memang Layak untuk Menjadi Juara Dunia 2025
-
Olahraga10 bulan ago“Saya Kira Situasi Membaik, Saya Kira Kondisi yang Sekarang Ini Sudah Cukup”
-
Nonfiksi11 bulan ago[REVIEW] Setelah Membaca Effortless
-
Nonfiksi7 bulan ago[REVIEW] Setelah Membaca The Let Them Theory



You must be logged in to post a comment Login