Connect with us

Tak Berkategori

Koleksi Board Game #32: Splendor Duel

Published

on

Dalam memilih board game, biasanya salah satu pertimbangan Penulis adalah seberapa banyak pemain yang bisa bermain dalam satu waktu. Jumlah ideal adalah antara tiga sampai enam pemain, karena biasanya sebanyak itu teman bermain Penulis.

Nah, tapi ada beberapa momen di mana Penulis merasa membutuhkan board game yang spesifik untuk dimainkan dua orang, seperti ketika menunggu giliran bermain EA Sports FC 26 misalnya atau memang lagi ingin main berdua dengan adik.

Oleh karena itu, Penulis jadi ingin mencoba untuk memiliki board game seperti itu, dan Splendor Duel jadi pilihan pertamanya. Kebetulan, waktu jalan-jalan ke Grand Indonesia, board game ini ada!

Detail Board Game Splendor Duel

  • Judul: Splendor Duel
  • Desainer: Marc André, Bruno Cathala
  • Publisher: Space Cowboys
  • Tahun Rilis: 2022
  • Jumlah Pemain: 2 pemain
  • Waktu Bermain: 30 menit
  • Rating BGG: 7,9
  • Tingkat Kesulitan: 2,01/5
  • Harga: Rp390.000

Cara Bermain Splendor Duel

Sama seperti Splendor orisinal, Splendor Duel juga masih berkutat tentang pengumpulan “batu akik” alias Gem untuk meraih poin dalam jumlah tertentu. Batu akik ini akan digunakan untuk membeli kartu Jewel, yang bisa jadi resource tetap sekaligus sumber poin.

Di awal permainan, kita akan membuka tiga kartu level 3, empat kartu level 2, dan lima kartu level 1 (bukan semua lima kartu seperti Splendor orisinal). Setelah itu, letakkan papan permainan yang terdiri dari 25 kota, lalu isi dengan 25 batu akik secara acak mengikuti alur yang tertera di papan.

Sebagai pelengkap, letakkan 3 Privilege Scroll di dekat papan, lalu jejerkan 4 kartu Royal. Privilege Scroll digunakan untuk mengambil salah satu batu akik atau Pearl yang ada di papan. Artinya, kita mendapatkan satu token dalam satu giliran kita.

Bicara tentang Pearl, ini adalah jenis batu akik yang tidak ada di permainan aslinya. Fungsinya sama, karena beberapa kartu membutuhkannya. Hanya saja, jumlahnya terbatas (hanya ada dua), sehingga sering jadi rebutan.

Kita bisa menggunakan Privilege Scroll sebagai Optional Action di awal giliran kita. Selain itu, kita juga bisa mengisi ulang papan selama kantong batu akiknya tidak kosong. Jika pemain melakukan ini, maka lawan akan mendapatkan satu Privilege Scroll.

Nah, untuk Mandatory Action-nya, pemain harus melakukan satu dari ketiga aksi ini, yang sebenarnya masih sama seperti versi aslinya:

  1. Ambil 3 token Gem (batu akik)
  2. Ambil 1 token Gold dan 1 kartu Jewel untuk di-reserve
  3. Beli 1 kartu Jewel

Bedanya, kita tidak bisa sembarangan mengambil tokennya. Karena batu-batunya terpampang di papan berukuran 5×5, maka kita harus mengambil sesuai dengan posisinya.

Pemain hanya bisa mengambil tiga token yang terletak bersisian, entah itu horizontal, vertikal, bahkan diagonal. Pemain tidak boleh mengambil token Gold jika mengambil aksi ini. Selain itu, kalau yang bisa diambil hanya dua (atau bahkan satu), ya sudah, hanya itu yang bisa diambil.

Jumlah token maksimal yang bisa dimiliki pemain juga sama, yakni 10 token. Jika setelah mengambil token jumlah yang kita miliki lebih dari 10, maka kita harus mengembalikan kelebihannya ke kantong.

Peraturan tambahan adalah apabila ada pemain yang mengambil tiga token dengan warna yang sama atau mengambil dua Pearl sekaligus, maka lawan akan mendapatkan satu Privilege Scroll.

Untuk aturan pengambilan Gold dan kartu Jewel masih sama, di mana pemain maksimal memiliki tiga kartu Jewel yang bisa di-reserve. Token Gold bisa digunakan untuk menggantikan token lain dalam warna apa pun, termasuk Pearl.

Untuk pembelian kartu Jewel juga sama. Bedanya, ada beberapa kartu yang memiliki efek tambahan, yakni:

  • Ambil satu putaran lagi
  • Kartu Wild Card yang bisa jadi kartu Jewel mana pun (selama sudah punya satu kartu Jewel dari Gem tersebut)
  • Mengambil 1 token Gem sesuai dengan yang dihasilkan kartu tersebut
  • Ambil 1 Privilege atau curi punya lawan jika tidak ada yang tersisa
  • Curi 1 Gem atan Pearl milik lawan, tidak boleh digunakan untuk mencuri Gold

Hal baru lain yang ada di Splendor Duel adalan Crowns. Beberapa kartu Jewel memiliki lambang Crown, di mana pemain yang bisa mendapatkan 3 dan 6 Crown akan mendapatkan satu Royal Card.

Untuk penentuan menangnya sendiri, ada tiga cara untuk bisa memenangkan Splendor Duel, yakni:

  • Punya 20 poin atau lebih
  • Punya 10 Crown atau lebih
  • Punya 10 poin di kartu Gem dengan warna yang sama

Setelah Bermain Splendor Duel

Splendor Duel (via Board Game Geek)

Penulis pernah bermain Splendor, bahkan membeli versi digitalnya di Steam. Meskipun bisa dibilang minim unsur senggol-senggolan, Penulis menyukai beberapa unsur yang dimiliki oleh board game ini.

Pertama, manajemen sumber daya yang membuat kita harus berhitung bagaimana cara menggunakannya seefisien mungkin. Karena semakin tinggi nilai kartu semakin mahal, kita harus farming kartu murah dulu untuk mendapatkan infinity resource.

Kedua, meskipun Penulis bilang unsur senggol-senggolannya tipis, tetap saja rasanya kesal ketika kartu yang kita incar (dan sudah mengumpulkan resource-nya) ternyata malah diambil oleh orang lain.

Nah, kedua hal terebut berhasil dipertahankan oleh Splendor Duel. Meskipun mekanisme farming resource-nya berbeda, secara konsep masih sama. Apalagi, opsi pengambilan resource-nya lebih terbatas dan tidak sebebas Splendor orisinal.

Konsep untuk farming kartu murah juga masih sama, bahkan beberapa kartu memiliki efek tambahan yang membuat permainan menjadi lebih seru. Apalagi, ada beberapa cara untuk menang, tidak seperti Splendor orisinal yang hanya melalui 15 poin pertama.

Dari sisi batunya, adanya Pearl membuat permainan menjadi lebih sulit karena jumlahnya yang terbatas. Sepanjang Penulis bermain, keberadaan Pearl ini ternyata sangat krusial dan bisa menghambat permainan kita jika tidak memilikinya.

Hanya saja, Splendor Duel memiliki ukuran kartu yang lebih mungil dibandingkan versi orisinalnya. Hal ini menimbulkan perasaan kurang nyaman, walaupun memang jadi lebih hemat tempat.

Walau begitu, secara overall Penulis menikmati Splendor Duel sebagai board game yang santai, tapi tetap menguras otak. Hanay saja dalam beberapa kali main, Penulis jarang menang dari lawan-lawannya entah apa alasannya.

Skor: 8/10

Sewaktu menemukan board game ini di Grand Indonesia, Penulis juga menemukan board game lain yang bertema “duel”. Setelah mempertimbangkan berkali-kali, Penulis memutuskan untuk sekalian membeli King of Tokyo Duel!


Lawang, 10 Maret 2026, terinpirasi setelah ingin melanjutkan seri board game ini

Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Film & Serial

Gara-Gara Black Myth: Wukong, Saya Jadi Rewatch Kera Sakti

Published

on

By

Dalam beberapa minggu terakhir, bisa dibilang Black Myth: Wukong adalah salah satu judul game yang sedang banyak dibicarakan. Banyak pujian yang disematkan kepada game tersebut, baik karena gameplay, jalan cerita, maupun visualnya.

Penulis sendiri tidak ikut membelinya, meskipun sebenarnya cukup tertarik. Namun, Penulis bukan tipe gamer yang suka genre hack ‘n slash seperti itu. Apalagi, Penulis sedang menyiapkan dana untuk membeli game Dragon Ball: Sparking! ZERO yang rilis bulan depan.

Walaupun begitu, Black Myth: Wukong berhasil menimbulkan perasaan nostalgia karena mengingatkan dirinya akan satu serial legendaris yang juga mengangkat tema pergi ke barat untuk mengambil kitab suci: Kera Sakti. Penulis pun memutuskan untuk rewatch.

Mengapa Kera Sakti Sangat Membekas Bagi Penulis

Rombongan Biksu Tong (Tabloid Bintang)

Penulis tidak ingat pasti mengapa dulu dirinya menonton Kera Sakti, mungkin karena jam tayangnya saja yang pas dengan waktu nonton televisi. Apalagi, serial ini menghadirkan pertarungan yang seru untuk anak kecil.

Untuk yang asing dengan serial ini, Kera Sakti bercerita tentang perjalanan sekelompok orang ke barat untuk mengambil kitab suci Buddha. Kelompok ini terdiri dari biksu Tong Sam Cong, Sun Go Kong, Cut Pat Kai, dan Wu Cing. Maaf kalo penulisannya salah, karena Penulis menulisnya berdasarkan ingatannya.

Rombongan ini jelas unik karena Wu Kong berwujud kera, Pat Kai berwujud babi, dan Wu Cing, yah masih terlihat seperti manusia biasa. Kalau tidak salah, dalam perjalanan tersebut mereka harus melewati 33 rintangan dan 99 kesulitan.

Dalam perjalanannya, mereka bertemu dengan banyak sekali jenis siluman yang memberi kesulitan dan halangan. Memang Go Kong yang paling sering menjadi ujung tombak ketika menghadapi mereka, tapi peran karakter lain tak kalah penting.

Ada banyak alasan mengapa serial ini begitu membekas untuk Penulis. Selain pertarungannya yang seru, ada banyak petuah-petuah kehidupan yang sering diucapkan oleh Tong Sam Cong seperti “Kosong adalah Isi, Isi adalah Kosong.”

Bicara soal petuah, tentu jangan lupakan quote legendaris dari Patkai: “Begitulah cinta, deritanya tiada akhir.” Hingga saat ini, quote tersebut rasanya masih relevan bagi banyak orang.

Waktu kecil, Penulis menganggap animasi atau efek-efek pertarungan serial ini juga cukup oke. Namun, waktu rewatch, ternyata tidak bagus-bagus amat. Bahkan, beberapa animasinya terlihat kartun banget, beda dengan ingatan Penulis waktu kecil.

Selain itu, gara-gara rewatch, Penulis jadi bisa merangkai alur cerita serial ini dengan lebih baik, karena yang tersisa di ingatan hanya potongan-potongan. Bagi Penulis, alur cerita serial ini memang bagus, walau memang ada beberapa yang sejujurnya sudah tidak sesuai dengan standar saat ini.

Serial ini juga terkenal karena lagu opening-nya yang legendaris. Hampir semua orang pasti merasa familiar dengan lagu tersebut. Selain itu, musik-musik di background-nya juga sangat membekas bagi Penulis.

Arc Favorit di Kera Sakti

Kera Lok Yi dalam Wujud Raksasa (YouTube)

Dari sekian banyak pertarungan atau arc yang ada, ada dua yang menjadi favorit Penulis hingga saat ini dan rasanya menjadi favorit banyak penontonnya juga: “Arc Kera Lok Yi” dan “Arc Kera Tum Pei.”

Pada “Arc Kera Lok Yi,” Penulis menyukai bagian akhirnya di mana Sun Go Kong harus berhadapan dengan Kera Lok Yi yang berubah menjadi raksasa gara-gara ulah trio Siluman Elang, Singa, dan Gajah.

Kera Lok Yi dalam wujud raksasanya sebenarnya memiliki wujud yang cukup menyeramkan, bahkan sekarang pun tetap terlihat menyeramkan. Namun, pertarungannya dengan Go Kong seru karena kekuatan mereka setara.

Pertarungan sendiri berakhir ketika Wu Cing (dengan bantuan Pat Kai) berhasil memotong ekor Kera Lok Yi dan membuatnya kembali ke wujud semula. Bisa jadi, ini adalah inspirasi adegan Yajirobe memotong ekor Vegeta dalam wujud Great Ape di Dragon Ball.

Lalu pada “Arc Kera Tum Pei,” lagi-lagi menghadirkan pertempuran yang seru karena Go Kong menghadapi lawan yang setara. Apalagi, Go Kong sempat kehilangan semua kemampuannya demi melindungi gurunya.

Kera Tum Pei juga memiliki kemampuan untuk menyerap makhluk hidup dan mendapatkan kekuatannya seperti Buu. Ia menyerap Siluman Kerbau, Putri Kipas, Siluman Gagak, hingga Gajah Ting Ting. Yang terakhir bahkan ia simpan terus hingga pertarungan terakhirnya.

Selain itu, tentu masih banyak arc lain yang tak kalah menarik. Ketika melawan Siluman Lupan, ada Sze Sze yang merupakan Siluman Laba-Laba. Menurut Penulis, ia menjadi salah satu karakter paling cantik di sepanjang seri Kera Sakti.

Lalu di awal serial, pertikaian Go Kong dengan Ang Hai Ji yang merupakan anak dari Siluman Kerbau dan Putri Kipas juga menarik. Ia yang sangat nakal bekerja sama dengan Siluman Mimpi, tetapi akhirnya bertobat dan diangkat menjadi murid Dewi Kwan Im.

Saat rombongan biksu Tong membantu Dewa Erlang untuk menyelamatkan ibunya juga membekas. Dewa Erlang, yang dari awal cerita terlihat menjadi musuh utama Go Kong, nantinya justru akan menjadi sekutu yang berharga di arc terakhir.

Arc terakhir pun menegangkan, di mana Siluman Ular berhasil membuat Go Kong dimusuhi oleh banyak pihak. Namun, pada akhirnya Kera Sakti memiliki happy ending karena berhasil mendapatkan kitab suci dan menjadi buddha.

***

Saat menulis artikel ini, Penulis baru saja menyelesaikan “Arc Kera Lok Yi” dan akan berlanjut ke “Arc Siluman Gingseng.” Sejujurnya, Penulis sudah tidak sabar ingin segera masuk ke “Arc Kera Tum Pei,” tapi Penulis bertekad untuk menonton semua episodenya sampai tamat.

Kera Sakti jelas telah mewarnai masa kecil Penulis dan membekas hingga Penulis berkepala tiga. Mungkin ini bukan terakhir kalinya Penulis rewatch, bisa jadi di masa depan Penulis akan kembali melakukannya jika kangen dengan serial ini.


Lawang, 12 September 2024, teinspirasi setelah menonton ulang Kera Sakti

Continue Reading

Fanandi's Choice

Blog ini milik Fanandi Prima Ratriansyah sejak 2018