Connect with us

Buku

Setelah Membaca Selamat Tinggal

Published

on

Penulis berkali-kali mengungkapkan kekecewaan terhadap karya-karya terbaru Tere Liye, seperti novel Si Anak Badai, Si Anak Cahaya, Komet Minor, hingga Pergi.

Harusnya jika berkali-kali dikecewakan, Penulis berhenti membeli novel-novelnya. Ternyata, Penulis tetap membeli novel-novel karyanya.

Yang terbaru adalah Selamat Tinggal yang satu ini. Salah satu alasannya adalah buku ini merupakan novel yang berdiri sendiri, bukan serial.

Penulis memilki pengalaman bagus dengan novel Tere Liye yang berdiri sendiri, seperti Tentang Kamu, Rindu, Ayahku (Bukan) Pembohong, dan lainnya.

Setelah menamatkan novel ini, Penulis merasakan amarah yang menggebu-gebu dari Tere Liye terkait pembajakan buku!

SPOILER ALERT!

Apa Isi Buku Ini?

Menggunakan sudut pandang orang ketiga, tokoh utama dari buku ini adalah Sintong, seorang mahasiswa yang tak lulus-lulus sekaligus penjaga toko buku bajakan di dekat kampus negeri.

Sintong berasal dari Sumatera. Ia merantau jauh untuk kuliah di Jawa dan menumpang di rumah saudaranya. Karena kuliahnya dibiayai,

Terlihat berantakan dan tidak punya masa depan, sebenarnya Sintong merupakan salah satu penulis berbakat. Karyanya sudah banyak masuk ke media nasional.

Hidup Sintong mulai berubah sejak ia bertemu dengan Jess, salah satu adik tingkatnya yang berparas menarik. Kehadiran gadis tersebut membuat ia merasa semangat lagi.

Tidak hanya itu, Sintong juga menemukan sebuah draft berisikan tulisan Sutan Pane, seorang penulis besar yang keberadaannya tidak banyak yang tahu.

Sintong berniat untuk membuat skripsi yang membahas Sutan Pane, terutama mencari alasan mengapa Sutan Pane tiba-tiba berhenti menulis pada tahun 1965.

Inilah perjalanan Sintong menelusuri kehidupan penulis hebat di masa lalu, sembari memerangi dirinya sendiri yang sudah muak menjual buku bajakan.

Sindiran untuk Barang Bajakan

Begitu membaca novel ini, Penulis sadar kalau Tere Liye terinspirasi dari maraknya penyebaran file PDF buku-buku secara ilegal melalui WhatsApp dan media lainnya.

Sebagai salah satu penulis terpopuler di Indonesia, karya-karya Tere Liye tentu menjadi mangsa empuk bagi pembajak.

Penulis merasakan sedikit dampaknya karena artikel tentang novel Pulang dan Pergi mendapatkan lonjakan traffic. Padahal, padahal Penulis tidak mendapatkan link file PDF-nya.

Secara sarkas, Tere Liye mengatakan bahwa yang salah adalah penulis yang tidak ikhlas dalam menulis. Harusnya mereka senang-senang saja karya mereka dibagikan secara gratis dan dinikmati oleh banyak orang.

Sindiran yang sangat keras, bahkan Penulis yang hanya sekali membeli buku bajakan karena tidak tahu merasa tertampol.

Tidak hanya meluapkan emosinya tentang buku bajakan, semua hal yang sifatnya bajakan disenggol sama Tere Liye.

Mulai film, lagu, streaming sepakbola, aplikasi, semua kena. Siapapun yang membaca novel ini pasti akan merasa tersindir seandainya pernah membeli atau menggunakan barang bajakan.

Bahkan, marketplace online yang juga kerap menjadi tempat beredarnya buku bajakan kena semprot. Sebuah kekesalan bisa menjadi ide cerita, Tere Liye memang sesuatu.

Setelah Membaca Selamat Tinggal

Jika Tere Liye ingin menyampaikan kekesalannya terhadap pembajakan buku sekaligus edukasi kepada masyarakat, novel ini bisa dibilang berhasil melakukan tugasnya.

Dengan nada sarkas yang hampir muncul di setiap bab, kita akan dibuat berpikir ulang jika ingin membeli atau menggunakan barang-barang bajakan.

Ada banyak penulis buku yang sangat dirugikan dengan pembajakan. Bukan tidak mungkin, di masa depan jumlah penulis akan berkurang karena merasa jerih payahnya tidak dihargai.

Tere Liye sendiri mengakui bahwa segala upaya sudah dilakukan untuk meminimalisir pembajakan, namun hasilnya nihil. Buku bajakan tetap beredar luas, bahkan lebih masif karena bisa dijual daring.

Tokoh Sintong sendiri dibuat memiliki konflik internal di dalam dirinya sendiri. Ia menentang buku bajakan karena tahu itu tidak menghargai upaya penulis, tapi secara munafik ia malah berjualan buku bajakan demi menyelesaikan pendidikannya.

Menurut Penulis, konflik internal seperti ini sangat cocok untuk tema yang diangkat karena akan membuat pembacanya mengalami dilema yang sama.

Alur ceritanya memang mengangkat perjalanan “detektif” Sintong menyelesaikan skripsinya dengan mencari tahu lebih dalam tentang tokoh Sutan Pane, tapi Penulis justru merasa itu side-story-nya. Alur utamanya ya tentang buku bajakan.

Bumbu-bumbu cerita lain seperti perjalanan cinta Sintong hanya muncul sebagai pemanis. Di novel ini juga tidak terlalu banyak bab tidak penting yang tidak berpengaruh pada keseluruhan alur.

Bahasanya juga mudah dicerna sebagaimana karya-karya Tere Liye pada umumnya. Ringan, tapi ada nilai-nilai yang bisa dipetik. Ada saja dialog yang mengundang tawa ringan.

Hanya saja, Penulis merasa novel ini terasa datar. Hampir tidak ada konflik yang membuat Penulis merasa berdebar ataupun dibuat penasaran dengan kelanjutan halamannya.

Tidak ada pertarungan yang berdarah-darah, hanya ada konflik antar tokohnya. Antara Sintong dan dirinya sendiri, antara Sintong dan Jess, antara Sintong dan saudaranya, antara Sintong dan teman masa lalunya, dan lain sebagainya.

Lantas, mengapa novel ini diberi judul Selamat Tinggal? Karena mengandung major spoiler, Penulis tidak akan menjelaskannya di sini. Silakan baca novel yang satu ini, direkomendasikan untuk semua kalangan.

Tapi ingat, beli yang asli, jangan yang bajakan, kasian penulisnya!

Nilai: 4.2/5.0

 

 

Lawang, 11 Januari 2020, terinspirasi setelah menamatkan novel Selamat Tinggal karya Tere Liye

Nonfiksi

[REVIEW] Setelah Membaca Merawat Luka Batin

Published

on

By

Kesehatan mental menjadi salah satu concern Penulis dalam beberapa tahun terakhir ini. Bukan hanya demi dirinya sendiri, tapi juga karena ingin tahu bagaimana Penulis harus bersikap jika ada orang dekatnya yang sedang mengalami struggle dengan hal tersebut.

Tak hanya itu, Penulis juga ingin memahami dunia psikologi lebih dalam lagi, walaupun mungkin Penulis hanya akan paham dari sisi permukaan. Penulis jelas tidak berniat ingin jadi psikolog abal-abal, hanya ingin pengetahuannya seputar hal tersebut semakin luas.

Dengan alasan-alasan tersebut, Penulis pun mencoba untuk membaca buku-buku yang berhubungan dengan kesehatan mental. Salah satunya adalah Merawat Luka Batin karya dr. Jiemy Adrian Sp.KJ.

Disclaimer: Penulis mengetahui bahwa belum lama ini, penulis buku ini yakni dr. Jiemy baru saja mendapatkan tuduhan pelecehan seksual dan terbukti tidak bersalah. Buku ini hanya akan fokus membahas isi bukunya.

Detail Buku Merawat Luka Batin

  • Judul: Merawat Luka Batin
  • Penulis: dr. Jiemy Adrian Sp.KJ
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan:
  • Tanggal Terbit:
  • Tebal: 326 halaman
  • ISBN: 9786020661520
  • Harga: Rp98.000

Apa Isi Buku Merawat Luka Batin?

Melalui sinopsis yang ada di bagian belakang buku ini, sebenarnya inti dari Merawat Luka Batin adalah tentang proses berpikir. Namun, kita tidak diajak untuk selalu berpikir positif seperti kata-kata motivator, tapi juga memahami saat kita berpikir negatif.

Buku ini dibagi menjadi 8 bab, yakni:

  1. Apa Itu Depresi?
  2. Memersepsi Realitas
  3. Memahami Sisi Gelap Diri Kita: Pikiran yang Liar
  4. Menerangi Gelapnya Pikiran dan Perasaan
  5. Berlatih Mindfullness
  6. Bagaimana Menghadapi Dorongan untuk Menyakiti Diri Sendiri
  7. Mencegah Depresi Hidup Kembali
  8. Mengasihi Seseorang dengan Depresi: Sebuah Langkah bagi Keluarga dan Sahabat

Dari daftar isi di atas, kita bisa mendapatkan gambaran apa saja langkah-langkah yang diberikan oleh dr. Jiemy untuk bisa memahami pikiran dan perasaan kita sendiri. Kita diberi deskripsi dan mengapa hal tersebut muncul terlebih dahulu untuk lebih bisa memahaminya.

Depresi bisa dibilang menjadi salah satu pusat buku ini, terutama yang disebabkan oleh trauma masa lalu, sehingga memiliki bab tersendiri dan ditaruh paling depan pula. Banyak informasi dasar seputar depresi mulai dari definisi, ciri-ciri, hingga cara mengatasinya.

Setelah lebih memahami apa yang terjadi dengan proses berpikir kita dan mengapa perasaan kita bereaksi secara tertentu, ada bagian-bagian yang membagikan tips praktis untuk menangani hal tersebut. Jadi sederhananya, kita harus mengenali dan memahami sesuatu terlebih dahulu untuk bisa mencari solusinya.

Selain itu, buku ini juga menyiapkan bab khusus untuk membantu para caregiver yang mungkin memiliki keluarga atau teman yang sedang bermasalah dengan kesehatan mentalnya. Bukan untuk menggantikan profesional tentu saja, tapi setidaknya kita bisa melakukan beberapa hal untuk membantu mereka.

Setelah Membaca Merawat Luka Batin

Sepanjang membaca buku ini, Penulis menemukan banyak sekali langkah-langkah praktis yang bisa kita lakukan, bahkan buat yang merasa tidak memiliki masalah dengan kesehatan mental sekali pun. Sarannya pun bisa dipertanggungjawabkan mengingat daftar pustaka di bagian belakang buku ini cukup panjang.

Contoh, pola tidur yang buruk bisa memengaruhi kesehatan mental kita, sehingga ada beberapa bagian buku ini yang memberikan beberapa tips untuk membantu kita bisa tidur melalui penerapan Sleep Hygiene. Tips tersebut bisa digunakan siapa saja, bukan?

Tak hanya itu, sepanjang buku ini kita tidak akan merasa dihakimi atau digurui, mungkin karena yang menulis memang seorang psikolog yang kerap berhadapan dengan berbagai jenis pasien. Jadinya, ya kita merasa enjoy ketika membacanya.

Bahasanya juga sebisa mungkin menghindari kata-kata yang sulit dipahami, sehingga Penulis pun bisa menandaskan buku ini dengan lumayan cepat. Mungkin di bab 1 ada beberapa bagian yang lumayan teknis, tapi selain itu semua relatif mudah dicerna oleh orang awam.

Penulis merasa setuju kalau buku ini berusaha mengajak kita untuk memahami proses berpikir, apalagi Penulis adalah orang yang mudah overthinking. Ada banyak hal yang dijelaskan mengenai cara mengatasi pikiran-pikiran “liar” yang kerap muncul tiba-tiba tanpa diundang.

Apalagi, ada beberapa quote menarik di buku ini yang bisa menjadi pengingat di masa-masa sulit. Berikut beberapa di antaranya:

  • (h. 221) “Tidak ada yang baru dari masa lalu. Tidak ada yang pasti dari masa depan. Yang kita miliki hanya masa kini, di sini.”
  • (h. 226) “Kita akan mendapatkan kontrol dengan melepaskan keinginan untuk mengontrol. Tenangkan egomu dan menyerahlah.”

Salah satu poin yang benar-benar masuk ke kepala Penulis adalah memahami mengapa orang berpikiran untuk mengakhiri hidupnya. Menurut dr. Jiemy, sebenarnya mereka bukan ingin mati begitu saja, tapi ingin menghilangkan rasa sakit yang mereka alami. Bunuh diri adalah cara permanen untuk mengatasi masalah yang sementara.

Nah, buku ini banyak sekali memberikan tips apa yang perlu dilakukan jika “serangan” depresi maupun keinginan untuk mengakhiri hidup datang. Tidak hanya dari sisi korban, tapi juga dari sisi kita sebagai orang-orang terdekatnya.

Kesimpulannya, buku ini membuat kita merasa dipahami tanpa merasa dihakimi. Membaca buku ini sedikit terasa seperti sesi psikologi yang menyenangkan, walau tentu saja bagi orang-orang tertentu disarankan untuk tetap datang ke psikolog sungguhan.

Penulis merasa kalau buku ini bisa membantu banyak orang yang sedang struggle dengan kesehatan mentalnya, terutama di era modern seperti sekarang. Tak perlu merasa malu jika kita merasa butuh membaca buku ini, karena hidup ini memang tanggung jawab kita, bukan orang lain.

Selain itu, buku ini juga mengajak kita untuk lebih bisa berempati kepada orang-orang yang mengalami masalah kesehatan mental. Hal tersebut terjadi bukan sekadar karena “kurang bersyukur” atau “kurang dekat dengan Tuhan.” Kalau tidak bisa membantu, minimal berempati dengan keadaannya, tidak perlu menghakimi seenak hati.

SKOR: 8/10


Lawang, 19 Oktober 2026, terinspirasi setelah membaca Merawat Luka Batin karya dr. Jiemy Adrian Sp.KJ

Continue Reading

Fiksi

[REVIEW] Setelah Membaca The Tokyo Zodiac Murders

Published

on

By

Sejauh ini, Penulis sudah mencoba membaca novel misteri Jepang dari dua novelis, yakni Keigo Higashino dan Uketsu. Penulis menyukai beberapa karya mereka, tapi ada juga yang sayangnya terasa kurang.

Nah, Penulis pun memutuskan untuk melakukan eksplorasi dengan mencari penulis Jepang lain yang juga terkenal di genre misteri. Pilihan Penulis pun jatuh kepada Soji Shimada, dengan novelnya yang berjudul The Tokyo Zodiac Murders.

Salah satu alasan mengapa Penulis memilih novel ini adalah karena sinopsisnya yang menarik sekaligus mengerikan. Lantas, apakah cerita yang disajikan benar-benar semenarik apa yang tertulis di belakang buku?

Detail Buku The Tokyo Zodiac Murders

  • Judul: The Tokyo Zodiac Murders
  • Penulis: Soji Shimada
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan: Ke-23
  • Tanggal Terbit: Agustus 2025
  • Tebal: 360 halaman
  • ISBN: 9789792285918
  • Harga: Rp99.000

Apa Isi Buku The Tokyo Zodiac Murders

Cerita The Tokyo Zodiac Murders sebenarnya terbagi menjadi dua waktu, yakni di tahun 1936 dan 1979. Kasus pembunuhan terjadi di tahun 1936, lantas ada detektif amatir yang berusaha memecahkan kasus tersebut pada tahun 1976.

Di tahun 1936, ada seorang seniman bernama Heikichi Umezawa yang ditemukan tewas di balik pintu studionya. Namun, pihak kepolisian menemukan surat wasiat aneh di mana ia berencana untuk menciptakan Azoth, alias “sang wanita sempurna”.

Nah, sosok Azoth tersebut ia rencanakan menggunakan potongan-potongan tubuh keluarganya sendiri, termasuk anak dan keponakannya sendiri. Surat wasiat ini memakan halaman yang cukup tebal, dari halaman 11 hingga 41, dengan gaya font mesin ketik jadul.

Setelah kematian Heikichi, putri tertuanya juga terbunuh. Setelah itu, anak dan keponakannya yang lain juga menghilang, yang kemudian ditemukan dalam kondisi termutilasi secara mengerikan. Semua dikubur sesuai yang tertulis di wasiat Azoth milik Heikichi.

Misteri tersebut selama hampir 40 tahun sama sekali tidak terungkap kebenarannya, hingga di tahun 1976, ada seorang detektif, peramal nasib, dan astrolog yang tertarik dengan kasus ini. Namanya adalah Kiyoshi Mitarai, sosok yang dikenal berwatak eksentrik.

Didampingi oleh Kazumi Ishioka, yang terkesan sebagai “Dr. Watson-nya” cerita ini, Kiyoshi pun mencoba untuk membongkar kasus Pembunuhan Zodiak Tokyo yang telah menjadi misteri selama puluhan tahun.

Setelah Membaca Buku The Tokyo Zodiac Murders

Saat membaca bagian prolognya, yang merupakan surat wasiat sekaligus obsesi Heikichi terhadap Azoth, jujur ada perasaan bergidik sekaligus jijik. Banyak bagian diceritakan secara eksplisit, sehingga mampu menghadirkan sensasi disturbing yang lumayan.

Walau begitu, Penulis berusaha untuk menguatkan diri untuk terus membaca hingga akhirnya mencapai bagian Kiyoshi dan Kazumi, yang pada satu titik sedang mendiskusikan kasus yang telah terjadi puluhan tahun lalu.

Menurut Penulis, bagian tersebut memang sangat ditonjolkan sejak awal cerita dengan berbagai detailnya untuk membuat kita fokus ke Azoth. Semua kasus pembunuhan yang terjadi adalah demi terciptanya Azoth, entah oleh Heikichi maupun orang lain.

Dari sini, mungkin Pembaca sudah bisa menebak kalau akan ada sebuah plot twist di akhir cerita. Namun, Penulis tidak akan menceritakannya secara detail karena salah satu keunggulan utama novel ini memang dari plot twist-nya.

Nah, Soji Shimada sebagai penulis novel ini juga beberapa kali seperti menantang pembacanya untuk membongkar kasus yang ada di sini. Ajakan tersebut dikemas dalam bentuk semacam surat terbuka, yang belum pernah Penulis temukan di novel mana pun sebelumnya.

Mungkin, saat sang pelaku akhirnya terungkap, Pembaca akan merasa bingung dengan berbagai plot holes yang ada. Untungnya, di bagian akhir, ada bagian yang akan menjelaskan semuanya, termasuk motif dan metode pelaku.

Salah satu bagian yang mencuri perhatian Penulis dari novel ini adalah adegan di mana Kiyoshi mengolok-olok Sherlock Holmes, detektif favorit Kazumi. Ia sempat menyebut beberapa kasus dan membongkar apa saja kejanggalan yang terjadi pada cerita tersebut.

Omong-omong soal dinamika mereka berdua, bisa dibilang mereka benar-benar terasa sebagai Sherlock dan Holmes versi Jepang. Kazumi kerap heran dengan metode Kiyoshi, serta beberapa kali sampai ke kesimpulan yang salah.

Secara alur cerita, novel ini cukup seru dan pace-nya juga lumayan cepat. Tidak adanya kehadiran pihak kepolisian membuat proses investigasinya tidak terasa bertele-tele. Apalagi, interaksi antara Kiyoshi dan Kazumi juga terasa seru, love-hate relationship gitu.

Bagian lain yang cukup membantu adalah adanya daftar nama beserta perannya di bagian awal buku. Mengingat jumlah karakter di novel ini cukup banyak, tentu akan sulit untuk menghafal semuanya sekaligus.

Hanya saja, Penulis tidak bisa memahami apa perlunya background Kiyoshi sebagai peramal nasib dan astrologi. Memang, Azoth dibuat berdasarkan astrologi, tapi sepanjang cerita background tersebut tidak terlalu terasa berguna.

Justru, apa yang kerap menjadi inspirasi atau petunjuk bagi Kiyoshi datang dari hal-hal yang sepele dan tidak terduga, seperti yang sering kita temukan dalam cerita Detective Conan. Tidak pernah terjadi astrologi membantunya memecahkan misteri.

Kekurangan lainnya adalah penggunaan font mesin ketik yang walau penggunaannya masuk akal, bagi mata Penulis cukup terasa melelahkan. Nantinya di bagian akhir novel, akan ada juga bagian cerita yang ditulis menggunakan font tersebut.

Secara overall, Penulis cukup menikmati novel ini dan membuat impresi pertama terhadap Soji Shimada menjadi positif. Penulis pun memutuskan untuk membeli novel lainnya yang berjudul The Crooked House, yang juga merupakan salah satu judul novel Agatha Christie.

SKOR: 8/10


Lawang, 14 Oktober 2026, terinspirasi setelah membaca buku The Tokyo Zodiac Murders karya Soji Shimada

Continue Reading

Nonfiksi

[REVIEW] Setelah Membaca Esensialisme

Published

on

By

Setelah membaca buku Effortless yang cukup berkesan, Penulis pun memutuskan untuk membeli buku Greg McKeown lainnya yang telah dirilis terlebih dahulu, yakni Esensialisme. Apalagi, buku ini disebutkan beberapa kali di buku Effortless.

Selain karena alasan tersebut, Penulis juga merasa dirinya kadang kurang bisa memilah mana yang penting bagi dirinya dan mana yang tidak perlu diperhatikan. Oleh karena itu, Penulis berharap kalau buku ini dapat menjadi semacam panduan untuk itu.

Sayangnya, tampaknya ekspektasi Penulis terlalu tinggi, yang salah satunya disebabkan oleh buku Effortless. Secara singkat, impresi Penulis terhadap buku ini sama dengan buku Start with Why. Penulis akan menjabarkan alasannya di bawah ini.

Detail Buku Esensialisme

  • Judul: Esensialisme
  • Penulis: Greg McKeown
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan: Ke-7
  • Tanggal Terbit: Desember 2025
  • Tebal: 354 halaman
  • ISBN: 9786020656151
  • Harga: Rp108.000

Apa Isi Buku Esensialisme?

Dengan tagline “Pentingkan yang Penting Saja”, sebenarnya kita bisa menebak kalau isi buku ini akan mengajak kita belajar memprioritaskan mana yang penting dan mengabaikan apa yang kurang esensial.

Buat orang yang suka ruwet dengan pikirannya sendiri, jelas buku ini terasa menarik. Apalagi, di bagian cover ini terdapat semacam ilustrasi garis ruwet dengan tanda panah mengarah ke sebuah lingkaran dengan tulisan “ini” di tengah-tengahnya.

Berbeda dengan buku Effortless, buku ini terbagi menjadi ke dalam empat bagian, yakni:

Bagian I: Intisari

  1. Esensialis
  2. MEMILIH: Kekuatan Tak Terkalahkan dari Kemampuan Memilih
  3. MELIHAT DAN MENCERMATI: Yang Tidak Penting pada Hampir Segala Hal
  4. TRADE-OFF: Masalah Mana yang Ingin Saya Pecahkan?

Bisa dibilang, ini adalah bagian “pembukaan” untuk memahami apa yang dimaksud dengan Esensialisme. Akan ada banyak istilah di bagian ini yang akan muncul kembali di bab selanjutnya, terutama bagian trade-off atau menukar apa yang tidak esensial menjadi esensial.

Bagian II: Eksplorasi

  1. MEMBEBASKAN DIRI: Manfaat Tak Terduga dari Menjadi yang Tak Tersedia
  2. MENCERMATI: Melihat Mana yang Sungguh Penting
  3. BERMAIN: Mengambil Kearifan Kanak-Kanak Dalam Diri Anda
  4. TIDUR: Melindungi Aset
  5. MEMILIH: Kedahsyatan Kriteria Ekstrem

Dalam bagian ini, kita diajak untuk mengeksplorasi diri untuk menemukan apa yang benar-benar penting dalam kehidupan kita. Ada dua bab yang menarik di sini, yakni “bermain” dan “tidur”. Aktivitas yang kerap dianggap tidak produktif ini ternyata esensial!

Bagian III: Eliminasi

  1. KLARIFIKASI: Sebuah Keputusan yang Meniadakan Seribu Keputusan
  2. BERANI: Kedahsyatan Jawaban “Tidak” yang Anggun
  3. MELEPAS KOMITMEN: Menang Besar dengan Menghentikan Proyek Rugi
  4. MENYUNTING: Seni yang Tidak Kelihatan
  5. BATAS: Kebebasan Berkat Menetapkan Batasan-Batasan

Selain melakukan eksplorasi untuk menemukan yang esensial, memahami mana yang tidak esensial juga tak kalah penting. Oleh karena itu, bagian ini akan mengajak kita untuk melakukan eliminasi terhadap hal-hal yang tidak esensial.

Bagian IV: Eksekusi

  1. PENYANGGA: Keunggulan yang Tidak Wajar
  2. MENGURANGI: Maju Lebih Pesat dengan Menghilangkan Hambatan
  3. KEMAJUAN: Kedahsyatan Kemenangan-Kemenangan Kecil
  4. ALIRAN (FLOW): Hebatnya Sebuah Rutin
  5. FOKUS: Apa yang Penting Sekarang?
  6. JADILAH: Hidup Seorang Esensialis

Menemukan apa yang esensial, sudah. Mengetahui apa yang tidak esensial, sudah. Maka langkah terakhir yang perlu kita ketahui adalah bagaimana mengeksekusi semua teori Esensialisme ke dalam hidup kita sehari-hari.

Setelah Membaca Buku Esensialisme

Sebenarnya, pekerjaan Penulis sebagai seorang editor juga berkaitan erat dengan Esensialisme. Dalam menyunting artikel, tentu Penulis harus cermat dalam menentukan mana yang Esensial, mana yang Nonesensial dan dihapus dari artikel. Mungkin itu juga yang membuat Penulis tertarik untuk membaca buku ini.

Karena buku Effortless, jujur ekspektasi Penulis terhadap buku ini cukup tinggi. Sayangnya, ekspektasi tersebut harus runtuh karena secara keseluruhan, isi buku ini cukup “umum” dan penuh dengan hal-hal klise yang mungkin kita sudah tahu.

Memang, setiap babnya diceritakan dengan mudah dan aplikatif. Hanya saja, banyak yang terasa terlalu general dan kurang spesifik. Lebih parahnya lagi, terkadang beberapa bab terasa dragging dan cukup repetitif.

Ketika membaca buku ini, Penulis merasakan sensasi seperti ketika membaca buku Start with Why, di mana penulis buku ini terlalu menglorifikasi teori Esensialisme yang sedang dibahas sekaligus terlalu menyederhanakan semua permasalahan yang disebutkan di sini.

Di setiap babnya, ada semacam tabel yang terdiri dari dua kolom, yakni Nonesensialis dan Esensialis. Tentu saja bagian Nonesensialis menjadi bagian yang buruk dan Esensialis menjadi bagian yang baik.

Jadinya, cuma ada dua kutub ekstrem antara Nonesensialis dan Esensialis. Kalau bukan seorang Esensialis, berarti otomatis kita adalah Nonesensialis. Padahal, dalam kenyataannya hidup tidak sehitam-putih dan sesederhana itu.

Secara konsep, teori Esensialisme memang penting, apalagi bagi orang yang kerap overthinking seperti Penulis. Justru karena merasa itu penting, Penulis butuh elaborasi yang lebih mendalam.

Ketika membaca buku ini, Penulis sudah membiasakan diri untuk mencatat berbagai hal menarik dari buku yang sedang dibaca. Nah, buku ini termasuk yang catatannya sedikit karena jujur tidak banyak poin menarik yang Penulis temukan.

Walau begitu, ada satu quote dari buku ini yang Penulis benar-benar ingat dari halaman 135, yakni “No more yes, it’s either HELL YEAH or no!” yang maknanya adalah kita harus melakukan sesuatu yang benar-benar membuat kita langsung bersemangat.

Di halaman 192, yang termasuk ke dalam bagian Eliminasi, ada juga pengingat tentang komitmen yang sangat masuk untuk Penulis. Ternyata, salah satu hal yang membuat kita melepaskan komitmen adalah sink-cost bias.

Singkatnya, sink-cost bias adalah kondisi di mana kita sudah merasa “berinvestasi” banyak sehingga merasa sayang jika melepaskan suatu komitmen. Padahal, jika kita terus mempertahankan komitmen tersebut, kerugian yang kita derita akan semakin besar.

Penulis memang merasa kurang puas dengan buku ini karena berharap isinya bisa lebih detail. Namun, buat Pembaca yang kerap merasa overwhelmed dengan kehidupannya, buku ini akan memberi cara bagaimana mengurainya secara sistematis.

Skor: 6/10


Lawang, 9 Agustus 2026, terinspirasi setelah membaca Esensialisme karya Greg McKeown

Continue Reading

Fanandi's Choice

Blog ini milik Fanandi Prima Ratriansyah sejak 2018