Connect with us

Permainan

Koleksi Board Game #28: Point City

Published

on

Satu bulan setelah membeli Cascadia dan Here to Slay, akhirnya Penulis membeli satu board game lain yang waktu di Jakarta tidak sempat dibeli: Point City. Penulis membelinya di toko langganan, sekalian membeli sleeve untuk Here to Slay, pada Februari 2024.

Salah satu alasan mengapa Penulis tertarik untuk membeli board game ini adalah karena temanya yang mengangkat perkotaan. Ini bukan board game pertama yang bertema itu, karena sebelumnya Penulis sudah memiliki Machi Koro 2 dan Chinatown.

Board game ini memiliki kemiripan dengan Machi Koro 2, di mana salah satu mekanismenya adalah card drafting. Bedanya, ada unsur Splendor dalam board game ini yang akan membantu “perekonomian” kita sepanjang permainan.

Detail Board Game Point City

  • Judul: Point City
  • Desainer: Molly Johnson, Robert Melvin, Shawn Stankewich
  • Publisher: Flatout Games
  • Tahun Rilis: 2023
  • Jumlah Pemain: 1-4 pemain
  • Waktu Bermain: 15-30 menit
  • Rating BGG: 7,2
  • Tingkat Kesulitan: 1,69/5
  • Harga: Rp425.000

Cara Bermain Point City

Point City memiliki objektif yang sangat sederhana, yakni pemain dengan poin tertinggi di akhir permainan akan menjadi pemenang. Poin ini bisa didapatkan dengan beberapa cara, yang akan Penulis jelaskan lebih detail di bawah.

Untuk memulai permainan, jejerkan 16 kartu tier 1 dengan formasi 4 x 4 untuk membentuk Market. Setelah itu, sisa kartu akan ditumpuk secara berurutan sesuai tier-nya, di mana tier 1 paling atas dan tier 3 paling bawah.

Kartu pada permainan ini memiliki dua sisi, yakni sisi Sumber Daya (resource) dan Bangunan (building). Kartu Sumber Daya digunakan untuk bisa membeli kartu Bangunan. Beberapa kartu Bangunan bisa menghasilkan Sumber Daya secara permanen, mirip dengan Splendor.

Ada lima jenis Sumber Daya dalam permainan ini, yakni Energy, Industry, Economy, Community, dan Ecology. Ada juga kartu Ingenuity, yang bisa menggantikan semua jenis kartu Sumber Daya yang dibutuhkan alias menjadi kartu Joker dalam permainan ini. Kartu jenis ini bisa menjadi tambahan skor apabila masih dipegang oleh pemain di akhir permainan.

Di sisi lain, kartu Bangunan memiliki beberapa atribut yang dimiliki. Di bawah nama bangunan, ada cost atau biaya yang dibutuhkan untuk membeli kartu tersebut. Di bagian pojok atas, ada efek yang akan didapatkan pemain jika berhasil membangun kartu tersebut.

Ada beberapa efek yang bisa didapatkan pemain dengan membangun kartu Bangunan. Jika ada simbol Sumber Daya di bagian kiri atas, maka pemain akan mendapatkan Sumber Daya tersebut secara permanen hingga akhir permainan.

Di sisi lain, di bagian kanan atas, ada dua jenis efek yang bisa digunakan pemain. Jika menunjukkan angka, maka artinya bangunan tersebut akan memberi tambahan poin di akhir permainan.

Jika ada lambang token Civic, artinya pemain bisa mengambil satu token Civic, yang juga bisa digunakan untuk menambah poin dengan syarat-syarat tertentu. Syaratnya sering kali berputar di seberapa banyak bangunan yang menghasilkan Sumber Daya tertentu, walau ada juga yang lain.

Jumlah kartu yang digunakan dalam tiap permainan akan menyesuaikan dengan jumlah pemain. Semakin sedikit pemain, semakin sedikit kartu yang digunakan. Selain itu, ambil sejumlah token Civic (sesuai dengan jumlah pemain juga) dan letakkan dekat Market.

Setelah itu, permainan pun bisa langsung dimulai, di mana masing-masing pemain mendapatkan “modal” berupa satu kartu Ingenuity. Apabila semua kartu di Market meruapakan kartu Sumber Daya, maka pemain memiliki opsi untuk membalik kartu Sumber Daya menjadi kartu Bangunan.

Setiap putaran, pemain secara bergantian akan memilih dua kartu di Market yang terletak bersebelahan, entah secara horizontal maupun vertikal. Mengambil kartu bersebelahan secara diagonal tidak diperbolehkan.

Ketika pemain ingin mengambil kartu Bangunan, maka ia harus membayar Sumber Daya sesuai yang tertera di bagian bawah kartu. Jika kartu tersebut memiliki simbol token Civic, pemain harus memilih salah satu token Civic yang tersedia.

Apabila tidak ada kartu yang ingin atau bisa diambil, pemain bisa menarik dua kartu dari deck. Permainan akan terus berplangsung hingga sudah tidak ada lagi kartu di deck untuk me-refill Market. Masing-masing menghitung skornya dan yang tertinggi menjadi pemenangnya.

Setelah Bermain Point City

Point City (BGG)

Ada banyak hal yang Penulis sukai dari Point City. Selain tema perkotaan yang sudah disinggung di awal, Penulis menyukai gameplay-nya yang seimbang dan butuh sedikit keberuntungan.

Dengan mekanisme card drafting yang dimiliki, pemain diharuskan berpikir kartu mana yang paling menguntungkan untuk diambil. Pemilihan kartu ini berperan vital, karena bisa memengaruhi skor yang bisa diperoleh di akhir permainan.

Sama seperti Splendor, semakin lama permainan, maka cost kartu semakin tinggi. Nah, ada beberapa kartu yang akan bisa menghasilkan sumber daya secara permanen, yang akan sangat membantu kita membeli kartu-kartu yang tersedia.

Penulis juga menyukai desain minimalis yang dimiliki oleh Point City di setiap kartu bangunannya. Memang pemain akan jarang melihat bangunan apa yang mereka beli, karena lebih fokus dengan efeknya, tapi tetap saja sentuhan ini harus diapresiasi.

Memang Point City tidak terlalu kompetitif karena kurangnya unsur senggol-senggolan. Pemain akan lebih fokus untuk membangun “kotanya” sendiri. Namun, Penulis pribadi memang tidak menjadikan hal tersebut sebagai faktor utama dalam membeli board game.

Jeleknya, board game ini akan terasa cukup membosankan bagi pemain lain. Meskipun tingkat replaybility-nya tinggi karena setiap kartu unik, turn-based yang dimiliki harus diakui memang cukup monoton.

Point City bisa dianggap sebagai board game bergenre card drafting yang sederhana dan mudah dipahami. Tak butuh lama untuk menjelaskan cara bermainnya ke orang lain, sehingga cocok untuk dimainkan bersama keluarga.

Skor: 8/10

Setelah membeli Point City, intensitas membeli board game Penulis menurun drastis. Meskipun masih banyak yang diincar, entah mengapa Penulis jadi lebih sering mengerem dan menahan diri. Masih beli, tapi jarak waktunya semakin panjang.

Hingga artikel ini ditulis, hanya tersisa dua board game lagi yang belum diulas. Board game selanjutnya yang Penulis miliki adalah UNO! Blokus, yang menjadi board game pertama Penulis yang beli di Kidz Station.


Lawang, 5 Desember 2024, terinspirasi setelah ingin melanjutnkan seri board game ini

Permainan

Koleksi Board Game #35: Camel Up: The Card Game

Published

on

By

Dulu waktu masih kerja di tempat lama, teman Penulis yang bernama Pandu berhasil memperkenalkan Penulis ke dunia board game. Namun, waktu itu Penulis masih belum tergerak untuk mulai membeli board game karena harganya yang lumayan mahal.

Sewaktu pindah ke tempat kerja yang baru, kok ternyata atasan Penulis juga merupakan kolektor board game. Meskipun work from home (WFH) hingga hari ini, Penulis pernah beberapa kali datang ke kantor yang terletak di daerah Tangerang.

Nah, atasan Penulis ini sering membawa board game-nya untuk dimainkan ketika waktu istirahat kerja. Salah satu yang pernah dibawa dan berhasil membuat Penulis tertarik untuk memilikinya adalah Camel Up: The Card Game, yang akan Penulis bahas kali ini.

Detail Board Game Camel Up: The Card Game

  • Judul: Camel Up: The Card Game
  • Desainer: Steffen Bogen
  • Publisher: Pretzel Games
  • Tahun Rilis: 2023
  • Jumlah Pemain: 2 – 6 pemain
  • Waktu Bermain: 30 – 45 menit
  • Rating BGG: 6,8
  • Tingkat Kesulitan: 2,06/5
  • Harga: Rp250.000

Cara Bermain Camel Up: The Card Game

(Board Game Geek)

Di antara board game Penulis lain yang berukuran serupa, Camel Up: The Card Game bisa dianggap yang persiapannya paling ribet karena komponennya lumayan banyak. Yang jelas, hal pertama yang perlu dilakukan adalah menata kartu arena balapannya secara berurutan, yang tergantung jumlah pemain.

Setiap pemain akan mendapatkan 3 Egyptian Pound, 1 token Fennec, dan 1 token Shortcut. Setelah itu, jejerkan kartu bidding di dekat semua pemain. Ada beberapa jenis kartu bidding yang bisa diambil pemain setiap putaran, yakni:

  • Final Betting Overall Winner Card: Memilih unta yang akan finis pertama ketika Race berakhir
  • Final Betting Overall Loser Card: Memilih unta yang akan finis terakhir ketika Race berakhir
  • Leg Betting Winner Card: Memilih unta yang unggul di tiap Leg dengan jumlah koin yang berbeda-beda, termasuk juga Leg Betting Midfield Cards yang memilih unta yang berada di posisi ke-3

Akan ada 5 unta yang turut serta dalam balapan dan akan mulai dari belakang garis Start (kartu arena nomor 1), serta 1 unta gila yang berwarna hitam yang akan diletakkan pada kartu arena nomor 7. Di awal balapan, buka lima kartu untuk menentukan posisi awal unta.

Setiap pemain nanti akan mendapatkan kartu unta secara acak (baik warna maupun berapa langkah ia akan melangkah), lantas memilih beberapa untuk dimasukkan ke dalam Racing Deck dan satu kartu untuk diletakkan di depan.

Tergantung jumlah pemain, ada juga beberapa kartu tambahan secara acak yang akan ditambahkan ke Racing Deck. Tak hanya itu, kita juga akan memilih dua kartu unta yang berwarna hitam untuk dimasukkan ke dalam Racing Deck.

Setelah itu, permainan pun bisa dimulai. Dimulai dari pemain pertama, ia bisa memilih beberapa aksi untuk dilakukan, yakni:

  1. Memainkan token Fennec atau Shortcut
  2. Membuka kartu teratas dari Racing Deck
  3. Memainkan kartu yang ada di depan kita atau membeli kartu pemain lain seharga 1 koin

Setelah memilih salah satu aksi di atas, pemain bisa mengambil satu kartu Betting, baik Leg Betting Card maupun Final Betting Card. Untuk kartu Final Betting, baik Winner maupun Loser, pemain hanya bisa mengambil satu per jenisnya. Jadi, kita tidak boleh menjagokan dua unta untuk menjadi juaranya.

Leg akan berakhir ketika Racing Deck habis. Jika Leg berakhir, maka setup akan diulang lagi dari awal dan Leg berikutnya pun dimulai. Permainan pun akan terus berlangsung hingga salah satu unta berhasil melintasi garis finis.

Ada beberapa detail peraturan lain yang belum Penulis sebutkan, tapi secara garis besar seperti itulah cara bermain Camel Up: The Card Game. Pemenangnya adalah pemain yang memiliki koin terbanyak di akhir permainan.

Setelah Bermain Camel Up: The Card Game

(ComicBook)

Camel Up adalah salah satu board game yang menarik perhatian Penulis karena konsep “taruhan” yang diusung. Penulis bahkan pernah memainkan versi aslinya yang seharga Rp700 ribu-an dan memang seseru itu.

Nah, Camel Up: The Card Game adalah versi budget yang lebih ramah kantong. Meskipun mekanismenya jauh berbeda, inti dari permainannya berhasil dipertahankan dengan baik, sama-sama push your luck.

Namun, tingkat ke-random-an versi kartunya bisa dibilang lebih rendah jika dibandingkan dengan aslinya yang menggunakan dadu. Pasalnya, pemain bisa memilih kartu apa yang akan muncul di racing deck, sehingga setidaknya bisa menebak beberapa unta yang akan keluar.

Dengan demikian, kita bisa memilih strategi apa untuk bisa mendapatkan uang terbanyak. Misal, kita ingin unta ungu kalah, maka kita tidak akan memainkan kartu unta ungu. Contoh lain, kita tidak ingin unta kuning menang, maka kita akan membuang kartu unta ungu.

Strategi ini terasa makin deep karena kartu bidding-nya sangat bervariasi. Kita tidak hanya memilih mana unta yang akan menang, tapi juga bisa memilih unta yang akan kalah maupun berada di urutan 2 hingga 4, walau uang yang didapat relatif lebih sedikit.

Hanya saja, Penulis merasa dua token Fennec dan Shortcut terasa kurang berguna. Selain karena pemain terlalu fokus dengan unta yang sedang balapan, token yang sudah dipasang justru jarang kena ke untanya. Setidaknya, itu yang Penulis rasakan selama bermain board game ini.

Tidak hanya itu, peran unta gila di sini juga terasa kurang signifikan. Mungkin, karena ia naik ke atas unta (bukan ke bawahnya), jadinya jarang ada unta yang berada di atasnya. Ini berbeda dengan versi aslinya yang entah mengapa lebih mudah berada di atas unta hitam.

Untuk kualitas komponennya, unta-untanya terasa sangat solid dan begitu enak ketika digerakkan. Koinnya juga terasa cukup solid, mirip dengan kualitas koin dari Machi Koro 2. Kartunya standar saja, tapi cukup tebal agar tidak mudah tertekuk.

Yang jelas, Camel Up: The Card Game adalah versi singkat dari Camel Up yang cocok untuk dibawa ke tongkrongan karena ukurannya yang mungil. Hanya saja, board game ini butuh meja yang cukup luas karena arena balapannya cukup memakan ruang.

SKOR: 7/10

Seingat Penulis, ada jeda cukup panjang untuk membeli board game lagi setelah Penulis membeli Camel UP: The Card Game. Pilihan Penulis jatuh kepada board game lokal yang sebelumnya telah Penulis pernah mainkan: Waroong Wars!


Lawang, 7 September 2026, terinspirasi setelah ingin melanjutkan seri board game ini

Continue Reading

Permainan

Koleksi Board Game #34: Vendespil Memory Game

Published

on

By

Menjelang pernikahan adik Penulis, Penulis sempat mengajak teman-teman dan sepupunya untuk jalan-jalan di Jakarta. Salah satu tempat yang menjadi destinasi adalah Grand Indonesia (GI), salah satu mal terbesar di Indonesia.

Nah, di GI ada sebuah toko yang dari luar terlihat menarik bernama Flying Tiger Copenhagen. Banyak barang-barang lucu yang terlihat dari luar dan kebetulan Penulis menyukai benda-benda yang unik.

Di sanalah Penulis menemukan sebuah board game kecil bernama Vendespil Memory Game. Ukurannya mini, hanya segenggaman tangan. Harganya pun murah, kalau tidak salah waktu itu Rp60 ribu atau Rp80 ribu. Untuk itu, Penulis pun membelinya.

Detail Board Game Vendespil Memory Game

  • Judul: Vendespil Memory Game
  • Desainer: ?
  • Publisher: ?
  • Tahun Rilis: ?
  • Jumlah Pemain: Berapa aja boleh
  • Waktu Bermain: Tergantung yang main
  • Rating BGG: –
  • Tingkat Kesulitan: –
  • Harga: Rp60.000-Rp80.000

Cara Bermain Vendespil Memory Game

(Flying Tiger Copenhagen)

Sesuai namanya, ini adalah permainan daya ingat di mana kita harus mencocokkan gambar yang sama. Kebetulan, yang satu ini temanya adalah bendera negara. Total ada 68 kartu, yang artinya ada 34 bendera berbeda di mana mayoritasnya adalah negara Eropa.

Di awal permainan, kocok semua kartu dan letakkan secara tertutup semua kartunya. Secara bergiliran, setiap pemain akan membuka dua kartu pilihannya. Apabila kartu yang dibuka berbeda, kembalikan ke posisi menghadap bawah. Jika sama, ambil dan letakkan di dekat pemain untuk scoring nanti.

Peraturannya bisa berbeda-beda tergantung bermain dengan siapa, karena permainan ini bebas menggunakan house rule seperti apa pun. Kalau Penulis, pemain akan berkesempatan untuk memilih lagi apabila berhasil mendapatkan pasangan kartu yang sama.

Peletakkan kartu pun bebas, tidak ada aturan baku yang menentukan seperti apa posisi kartunya. Mau dibaris rapi biar gampang ingatnya, boleh. Mau diacak biar lebih menantang, juga boleh.

Pemain dengan jumlah pasangan kartu terbanyak akan keluar sebagai pemenangnya. Kalau seri, anggap saja menang bersama. Kurang lebih seperti itulah cara bermain Vendespil Memory Game yang sangat sederhana.

Setelah Bermain Vendespil Memory Game

(Mercari)

Awalnya, Penulis ragu-ragu mau memasukkan board game ini ke dalam daftar koleksi yang ingin dibuat tulisannya. Rasanya sama seperti memasukkan catur ke dalam daftar. Hanya saja, setelah melalui berbagai pertimbangan, Penulis memutuskan untuk tetap menuliskannya.

Sewaktu kecil, Penulis memiliki permainan serupa. Ukuran kartunya pun mirip, kotak dengan sudut yang sedikit melengkung. Kartu ini memiliki warna belakang biru dan di depannya dominan putih dengan berbagai gambar.

Nah, gambar-gambarnya inilah yang sangat Penulis ingat. Salah satu alasannya adalah adanya gambar Lucky Luke. Bisa dibilang, inilah pertemuan Penulis pertama dengan koboi tersebut.

Gambar lainnya adalah astronot dan berbagai macam hewan, dengan dominasi warna karakternya adalah kuning, biru, merah, dan hijau. Intinya, permainan ini sangat memorable bagi Penulis, sehingga permainan memori seperti ini tetap Penulis gemari hingga sekarang.

Oleh karena alasan sentimental tersebut, Penulis memutuskan untuk menulis tulisan ini. Memang tidak banyak yang bisa dibahas dari permainan sejuta umat seperti ini, tapi Penulis tetap menginginkannya.

Case dari permainan ini terbuat dari bahan semacam kaleng yang solid, walau minusnya mudah meninggalkan bekas gores terutama di bagian bawah. Kualitas kartunya sendiri bagus, berbahan kertas yang tebal dan licin. Gambar benderanya jelas, yang dilengkapi dengan informasi nama negara dan ibukotanya.

Vendespil Memory Game seru untuk dimainkan ramai-ramai, tapi juga bisa dimainkan sendirian di kala sedang tidak ada kegiatan lain. Ukurannya yang kecil membuat mobilitasnya sangat tinggi dan mudah dibawa ke tongkrongan.

Skor: 7/10

Setelah ini, Penulis akan membahas sebuah board game dengan tema perjudian. Tentu, bukan uang sungguhan yang digunakan di sini. Kita akan melihat pacuan unta (bukan kuda) dan bertaruh unta mana yang akan keluar sebagai juara. Board game tersebut adalah Camel Up The Card Game.


Lawang, 20 Juli 2026, terinspirasi setelah ingin melanjutkan seri board game

Continue Reading

Permainan

Koleksi Board Game #33: King of Tokyo: Duel

Published

on

By

Selain membeli Splendor Duel sewaktu jalan-jalan ke Grand Indonesia (GI), Penulis juga membeli satu lagi board game bertema “duel” untuk dimainkan dua orang, yakni King of Tokyo: Duel. Sebenarnya, Penulis tidak berencana membelinya. Namun, karena terlihat menarik, Penulis memutuskan untuk membelinya sekalian.

Penulis tidak punya King of Tokyo versi besarnya, tapi punya King of New York yang Penulis beli second. Jadi, mekanisme dasarnya pun Penulis sudah mengerti, meskipun di sini ada sedikit perbedaan yang mudah untuk dipelajari.

Jika dibandingkan dengan Splendor Duel yang lebih “damai” karena hanya rebutan resource, King of Tokyo: Duel jelas lebih rusuh dan memang harus saling senggol antarpemain. Apalagi, cara untuk menangnya ada beberapa cara!

Detail Board Game King of Tokyo: Duel

  • Judul: King of Tokyo Duel
  • Desainer: Richard Garfield
  • Publisher: IELLO
  • Tahun Rilis: 2024
  • Jumlah Pemain: 2 pemain
  • Waktu Bermain: 20 menit
  • Rating BGG: 7,1
  • Tingkat Kesulitan: 2,08/5
  • Harga: Rp350.000

Cara Bermain King of Tokyo: Duel

Board Game Geek

Mengingat King of Tokyo: Duel memiliki cukup banyak komponen permainan, Penulis akan coba bahas satu per satu secara umum. Tidak terlalu mendetail, tapi cukup untuk mendapatkan gambaran bagaimana permainannya berjalan.

Karakter-Karakter di King of Tokyo: Duel

Permainan dimulai dengan memilih karakter yang akan digunakan. Tidak ada cara tertentu untuk menentukan siapa yang memilih karakter duluan. Total, ada 6 karakter yang bisa dipilih oleh pemain, dengan masing-masing memiliki kemampuan yang unik.

Nah, ini salah satu hal yang membedakan King of Tokyo: Duel dengan versi orisinalnya, di mana karakternya tidak memiliki kemampuan spesial. Nyawa tiap karakter pun berbeda-beda. Keenam karakter yang bisa dipilih oleh pemain adalah:

  • Gigazaur (Nyawa 14 | Kesulitan 1): Bisa menarik marker Fame maupun Destruction dengan menggunakan setidaknya dua dadu [!]
  • Alienoid (Nyawa 14 | Kesulitan 1): Bisa menggunakan 2-3 dadu [!] untuk menjadi simbol dadu apa pun
  • Space Penguin (Nyawa 13 | Kesulitan 2): Bisa menghasilkan token dadu untuk mendapatkan dadu tambahan untuk setiap dadu [!]
  • Meka Dragon (Nyawa 12 | Kesulitan 2): Bisa mengalikan dadu Smash sebanyak jumlah dadu [!] yang muncul
  • Cyber Kitty (Nyawa 13 | Kesulitan 3): Bisa menggunakan dadu [!] untuk mendapatkan cube untuk membeli kartu Power
  • The King (Nyawa 15 | Kesulitan 3): Bisa menggunakan dua dadu [!] untuk meletakkan token Buzz yang akan menghambat pergerakan marker Fame maupun Destruction ke area lawan

Penjelasan Dadu King of Tokyo: Duel

Nah, mungkin Pembaca akan kebingungan membaca deskripsi kemampuan di atas, karena Penulis belum menjelaskan dadu yang digunakan di board game ini. Sama seperti versi orisinalnya, ada enam dadu utama yang digunakan tiap ronde, tapi mata dadunya sedikit berbeda.

Berikut penjelasan untuk setiap mata dadunya:

  • Smash (bergambar cakar): Mengurangi nyawa lawan (satu serangan per dadu Smash)
  • Heal (bergambar hati): Menambah nyawa kita sendiri (satu heal per dadu Heal)
  • Energy (bergambar petir): Memberi kita satu cube Power yang bisa digunakan untuk membeli kartu Power (satu cube per dadu Energy)
  • Fame (bergambar bintang): Untuk setiap tiga dadu Fame, gerakkan marker Fame di papan permainan sebanyak satu space ke arah kita
  • Destruction (bergambar gedung hancur): Untuk setiap tiga dadu Destruction, gerakkan marker Destruction di papan permainan sebanyak satu space ke arah kita
  • Special Power (bergambar tanda seru [!]_: Mengaktifkan kemampuan spesial karakter, seperti yang sudah dijelaskan di poin sebelumnya

Peraturan mengocok dadu pun sama seperti versi orisinalnya, di mana pemain memiliki kesempatan untuk melakukan reroll hingga dua kali untuk mengganti mata dadu yang tidak diinginkan. Ada dua dadu tambahan, yang bisa digunakan jika mengaktifkan efek kartu atau karakter tertentu.

Penjelasan Kartu Power King of Tokyo: Duel

Sekarang Penulis akan membahas tentang kartu Power. Di King of New York yang Penulis miliki, salah satu kesulitan dalam membeli kartu adalah harganya yang mahal. Apalagi kalau mau membuang semua pilihan kartu yang ada, harus membuang dua cube Power.

Mekanik tersebut sedikit diperbaiki di King of Tokyo: Duel. Pertama, jika tidak melakukan pembelian, kita otomatis mendapatkan satu tambahan cube. Kedua, kartu yang terletak di sebelah paling kanan (total 3 kartu yang bisa dibeli pemain) selalu lebih murah 1 cube.

Jenis kartunya pun masih sama, di mana dibagi menjadi Keep (aktif terus selama permainan berlangsung) dan Discard (hanya aktif sekali). Beberapa kartu memiliki simbol tertentu, yang akan mengaktifkan token untuk ditempatkan di papan permainan.

Cara Menang di King of Tokyo: Duel

Di King of New York, cara memenangkan permainan adalah dengan mengurangi semua nyawa pemain lain atau mencetak skor Fame hingga 20. Nah, kalau di King of Tokyo: Duel, ada tiga cara untuk menang, yakni:

  1. Nyawa lawan mencapai angka 0
  2. Kedua marker Fame maupun Destruction berada di Spotlight Zone kita (di papan akan ada bagian yang terlihat seperti disorot lampu)
  3. Salah satu antara marker Fame maupun Destruction berada di space Victory kita (space paling dekat dengan kita)

Jadi, pemain akan memulai permainan dengan memilih karakter, lalu mengocok dadu setiap giliran mereka, dengan kesempatan reroll hingga dua kali. Setelah itu, masing-masing akan mengandalkan strategi (dan tentunya keberuntungan) untuk bisa meraih kemenangan dengan salah satu cara di atas.

Setelah Bermain King of Tokyo: Duel

Board Game Geek

Bisa dibilang, King of Tokyo: Duel adalah board game yang mengusung mekanisme tug-of-war alias tarik tambang. Kedua pemain akan saling berusaha menarik marker untuk berada di wilayahnya, baik Fame maupun Destruction.

Tentu, ada sentuhan keberuntungan lemparan dadu yang sudah jadi ciri khas waralaba ini. Meskipun ada kesempatan reroll hingga dua kali, tetap saja kita tidak selalu berhasil mendapatkan mata dadu yang kita butuhkan.

Jika dibandingkan dengan King of New York maupun King of Tokyo versi aslinya, jelas King of Tokyo: Duel memiliki durasi bermain yang relatif cepat. Satu kali duel mungkin hanya butuh waktu 15 hingga 20 menit, sehingga pas dimainkan sembari menanti giliran main EA Sports FC 26.

Adanya cube Power gratisan dan pengurangan cost membuat pembelian kartu Power lebih terjangkau. Walau begitu, bisa dibilang kartu-kartu ini tidak memberikan dampak yang terlalu signifikan. Masalah serupa juga Penulis temukan di King of New York.

Satu hal yang sangat Penulis sukai dari King of Tokyo: Duel adalah karakternya yang masing-masing memiliki kemampuan unik. Apalagi, skill mereka juga cukup overpowered sehingga pemilihan karakter bisa menentukan pemenang permainan.

Untuk harganya yang 300 ribuan, komponen-komponen yang dimiliki oleh board game ini terbilang solid. Baik papan permainan, token, papan karakter, piringan yang mengindikasikan nyawa kita, hingga dadu memiliki kualitas yang sepadan dengan harganya. Mungkin ketebalan kartunya saja yang menurut Penulis terlalu tipis.

Desain kartu, papan permainan, dan karakter-karakter yang bisa kita gunakan juga mempertahankan ciri khas dari waralaba ini. Penulis sendiri menyukai desain rulebook-nya yang mirip desain cover majalah.

Sepanjang permainan, Penulis merasakan tekanan dalam menentukan jalur strategi mana yang harus diambil untuk meraih kemenangan. Menarik marker ke wilayah kita tak semudah yang terlihat. Mau menghabisi nyawa lawan juga ada dadu Heal.

Namun, itulah salah satu faktor yang membuat board game ini terasa seru dan intens seperti bermain catur. Langkah demi langkah harus dipikirkan secara matang, sembari memantau strategi yang dipilih oleh lawan.

Sama seperti Splendor Duel, entah mengapa Penulis justru jarang menang ketika bermain King of Tokyo: Duel. Padahal, kan Penulis yang menjelaskan peraturannya kepada teman-teman Penulis.

Skor: 8/10

Setelah ini, rasanya board game yang satu ini akan jadi tulisan terpendek dalam seri Koleksi Board Game. Pasalnya, ini adalah permainan yang paling gampang penjelasannya dan semua orang bisa memainkannya dengan mudah. Kebetulan, Penulis juga membelinya di GI. Board game tersebut adalah Vendespil Memory Game.


Lawang, 2 Juni 2026, terinspirasi setelah ingin melanjutkan seri board game ini

Continue Reading

Fanandi's Choice

Blog ini milik Fanandi Prima Ratriansyah sejak 2018