Connect with us

Buku

[REVIEW] Setelah Membaca Funiculi Funicula: Kisah-Kisah yang Baru Terungkap

Published

on

Setelah dua tulisan membahas tentang Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold, saatnya melanjutkan ke novel berikutnya, yaitu Funiculi Funicula: Kisah-Kisah yang Baru Terungkap karya Toshikazu Kawaguchi.

Meskipun efeknya tidak “sedahsyat” buku pertamanya, cerita-cerita yang terdapat di novel ini masih cukup menarik untuk diikuti sampai habis. Hal menarik yang didapatkan dari buku ini adalah terjawabnya pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab di buku pertama.

Bisa jadi, itulah alasan mengapa judul yang dipih adalah “Kisah-Kisah yang Baru Terungkap”, karena memang baru di buku inilah hal tersebut terungkap. Lantas, siapa yang kini pergi ke masa lalu (atau masa depan) di kedai Funiculi Funicula? SPOILER ALERT!!!

Detail Buku

  • Judul: Funiculi Funicula: Kisah-Kisah yang Baru Terungkap
  • Penulis: Toshikazu Kawaguchi
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan: Keempat
  • Tanggal Terbit: Februari 2023
  • Tebal: 200 halaman
  • ISBN: 9786020663852

Apa Isi Buku Ini?

Sama seperti buku pertama, Funiculi Funicula: Kisah-Kisah yang Baru Terungkap juga terbagi menjadi empat bagian, yakni “Sahabat”, “Ibu dan Putra”, “Kekasih“, dan “Suami dan Istrinya”. Bisa dilihat jika konsep dan formulanya masih tetap sama.

Buku ini mengambil latar waktu beberapa tahun setelah Kei Tokita meninggal dunia ketika melahirkan Miki. Kehidupan kedai Funiculi Funicula pun berjalan seperti biasa, di mana Miki sudah mulai bisa membantu sedikit-sedikit di kedai.

Mungkin karena di sini banyak karakter baru yang muncul, maka si penulis buku ini membuat semacam diagram hubungan antara karakternya untuk memudahkan para pembacanya. Penulis jujur saja tidak bisa menghafal mereka semua.

Yang jelas, ada beberapa karakter lama yang kembali, seperti Kazu Tokita sang pembuat kopi, Nagare Tokita si pemiliki kedai, hingga Fumiko Kiyokawa yang pernah pergi ke masa lalu untuk bertemu dengan kekasihnya.

Cerita-cerita yang diangkat di sini ada seorang pria yang pergi ke masa lalu untuk bertemu dengan sahabatnya yang telah meninggal, di mana ia mengasuh putrinya selama bertahun-tahun tanpa pernah mengungkapkan hal sebenarnya kepadanya.

Lalu ada seorang anak yang ingin pergi ke masa lalu untuk bertemu dengan ibunya yang telah meninggal, di mana ia tidak bisa datang ke pemakamannya karena terlilit masalah ekonomi demi mengejar ambisi sebagai pengrajin tembikar.

Cerita ketiga bercerita tentang seorang pria yang telah didiagnosis tidak berumur lama. Ia ingin pergi ke masa depan, tepatnya dua tahun kemudian, untuk mengetahui kalau kekasihnya yang ia tinggalkan bahagia

Penutup cerita ini adalah seorang detektif yang ingin pergi ke masa lalu untuk memberikan hadiah istrinya yang telah meninggal karena perampokan. Hadiah tersebut akan menjadi yang pertama sekaligus terakhir dalam pernikahan mereka yang singkat.

Setelah Membaca Funiculi Funicula: Kisah-Kisah yang Baru Terungkap

Apa yang Penulis suka dari novel ini adalah terungkapnya banyak fakta seputar Kazu Tokita. Ternyata, wanita bergaun putih yang menjadi hantu di kedai tersebut adalah ibunya! Ia menjadi hantu karena telat (atau menolak untuk) kembali ke masa kini.

Selain itu, diketahui kalau Kazu di cerita ini merasa bahwa dirinya tidak berhak untuk bahagia, karena ia adalah orang yang membuatkan kopi agar ibunya bisa pergi ke masa lalu. Sejak hari naas tersebut, Kazu menjadi sosok yang terus dihinggapi rasa bersalah.

Ini menjawab misteri mengenai mengapa Kazu terlihat menjadi sosok yang dingin dan sangat pendiam. Untungnya, di akhir novel ini, pada akhirnya Kazu mau belajar untuk memaafkan dirinya sendiri.

Hal menari kalinnya seputar Kazu adalah ia telah mengandung seorang anak. Ternyata, hal ini membuatnya kehilangan kekuatan untuk membuat kopi “super” tersebut, karena kekuatannya langsung menurun ke anak dalam kandungan tersebut.

Untungnya, Miki Tokita sudah berusia tujuh tahun di buku ini, sehingga ia telah memiliki kemampuan tersebut dan kedai pun tetap dapat berjalan kembali. Sebagai tambahan, peran Miki sebagai “pengundang tawa” di novel ini cukup terasa kental.

Jika cerita-cerita di novel pertama terasa berkesinambungan, maka cerita-cerita di novel ini lebih terasa berdiri sendiri. Tokoh-tokoh yang muncul untuk pergi ke masa lalu/masa depan tidak terlalu berkaitan satu sama lain.

Seperti yang sudah Penulis sebutkan di atas, cerita-cerita yang ada di novel ini masih terasa menarik, tapi dampak emosionalnya kurang nendang. Dibandingkan kisah orang-orang yang melakukan perjalanan waktu, Penulis lebih tertarik dengan kisah yang dimiliki oleh Kazu.

Meskipun begitu, buku ini tetap menyenangkan untuk dibaca. Dengan segala aturan yang tetap sama, kita akan menyaksikan orang-orang pergi ke masa lalu, meskipun tahu apa yang mereka lakukan tidak akan mengubah masa kini.


Lawang, 24 Mei 2023, terinspirasi setelah membaca Funiculi Funicula: Kisah-Kisah yang Baru Terungkap karya Toshikazu Kawaguchi

Fiksi

[REVIEW] Setelah Membaca Malice – Catatan Pembunuhan Sang Novelis

Published

on

By

Dalam beberapa tulisan ke depan, Penulis akan cukup sering mengulas novel-novel dari Keigo Higashino, karena memang sedang suka (lagi) membaca novel-novel detektif.

Sebelumnya, Penulis sudah pernah mengulas The Devotion of Suspect X dan A Midsummer’s Equation, di mana pendapat Penulis bisa dibilang cukup berbeda di antara keduanya.

Penulis sangat suka The Devotion of Suspect X, tapi kurang puas dengan A Midsummer’s Equation, bahkan sempat berpikir untuk tidak lanjut membaca buku-buku Keigo.

Namun, Penulis memutuskan untuk berubah pikiran dan akhirnya membeli novel ketiga yang berjudul Malice – Catatan Pembunuhan Sang Novelis. Tokoh utama di novel ini bukan Profesor Yukawa, tapi Detektif Kaga!

SPOILER ALERT!!!

Detail Buku Malice – Catatan Pembunuhan Sang Novelis

  • Judul: Malice – Catatan Pembunuhan Sang Novelis
  • Penulis: Keigo Higashino
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan: Ke-14
  • Tanggal Terbit: Mei 2025
  • Tebal: 224 halaman
  • ISBN: 9786020639321
  • Harga: Rp99.000

Apa Isi Buku Malice – Catatan Pembunuhan Sang Novelis

Pada kasus kali ini, seorang penulis novel bernama Hidaka Kunihiko ditemukan tewas di rumahnya yang terkunci, tepatnya di ruang kerjanya yang juga terkunci. Padahal, ia akan pindah dari Jepang ke Kanada keesokan harinya.

Mayatnya ditemukan oleh istri dan sahabatnya yang bernama Nonoguchi Osamu, tapi keduanya memiliki alibi yang kuat. Detektif Kaga Kyoichiro sendiri menaruh curiga kepada Osamu dan penyelidikan pun dimulai.

Nah, jika Profesor Yukawa lebih mirip Hercule Poirot, maka Detektif Kaga ini lebih mirip dengan Sherlock Holmes. Bagaikan anjing pelacak, ia akan menelusuri setiap sudut untuk menemukan fakta yang akan terlewatkan mayoritas orang.

Selain itu, Detektif Kaga juga sangat peduli terhadap detail kecil sekalipun. Bayangkan saja, kondisi jari orang bisa menjadi petunjuk penting untuk menemukan siapa pelaku pembunuhan.

Satu hal yang menarik begitu membaca novel ini adalah angle-nya yang dibuat seperti sebuah catatan tertulis. Namun, penulisnya berbeda-beda, terkadang Osamu sebagai sahabat korban, kadang catatan Detektif Kaga.

Novel ini mengingatkan Penulis akan novel Agatha Christie yang berjudul The Murder of Roger Ackroyd. Di novel tersebut, tokoh “aku” yang menulis novel tersebut ternyata terungkap menjadi pembunuhnya. Nah, formula tersebut sedikit mirip di sini.

Setelah Membaca Malice – Catatan Pembunuhan Sang Novelis

Berbeda dengan The Devotion of Suspect X yang pembunuhnya jelas-jelas ketahuan sejak awal atau A Midsummer’s Equation yang benar-benar gelap di awal cerita, novel ini mengambil jalan tengah (walau memang condong mengikuti formula The Devotion of Suspect X ).

Kecurigaan memang langsung menuju ke Osamu, tapi untuk membuktikan ia pelakunya tidak langsung dijelaskan. Ia bahkan memiliki alibi yang menunjukkan bahwa dirinya bukan pelaku pembunuhan, setidaknya di 1/3 awal buku.

Nah, hal paling seru di novel ini adalah bagaimana kita bisa melihat ada banyak reverse psychology di sini, di mana awalnya kita dibuat berpikir A, lalu ternyata kenyataannya adalah B, tapi ternyata itu adalah trik untuk menutupi kenyataan C, dan seterusnya.

Ketika membaca penjelasan bagian ini, Penulis harus mengakui bahwa hal tersebut ditulis dengan cerdas oleh Keigo. Penulis yang awalnya sudah terbawa arus pun dibuat terkejut ketika kenyataannya terbongkar.

Karena hal tersebut adalah hal paling seru di novel ini, maka Penulis tidak akan menceritakan detailnya. Intinya, jangan mudah percaya dengan apa yang dibaca, teruslah curiga dan amati setiap detail terkecil!

Mungkin salah satu hal yang paling melelahkan dari novel ini adalah bagian interogasi di 1/3 akhir novel, di mana ada banyak sekali catatan interogasi terhadap banyak narasumber. Bagi sebagian orang, mungkin bagian ini bisa terasa overwhelming.

Walau begitu, Penulis bisa memahami bahwa hal tersebut memang harus dilakukan oleh Detektif Kaga untuk menemukan motif pelaku, yang ternyata memang berakar dari masa lalunya. Motif masa lalu itulah yang ingin ditutupi oleh sang pelaku.

Yang jelas, ada satu pesan penting yang ingin disampaikan Keigo: stop bullying. Lho, apa hubungan kematian seorang novelis dengan kasus perundungan? Jawabannya akan ketemu jika Pembaca membaca novel ini.

Kesimpulannya, Malice – Catatan Pembunuhan Sang Novelis mengulang formula Devotion of Mr. X yang pelakunya ketahuan secara cepat. Kedua novel tersebut bukan tentang siapa pelakunya, bukan tentang bagaimana cara melakukan pembunuhannya, tapi tentang mengapa melakukannya.

SKOR: 8/10

Penulis akhirnya memutuskan untuk terus membaca novel-novel Keigo, karena cerita misterinya yang cukup ringan cocok untuk Penulis. Novel selanjutnya yang Penulis pilih adalah Salvation of a Saint – Dosa Malaikat.


Lawang, 14 Maret 2026, terinspirasi setelah membaca Malice karya Keigo Higashino

Continue Reading

Non-Fiksi

[REVIEW] Setelah Membaca Makanya, Mikir!

Published

on

By

Sebenarnya, Penulis bukan merupakan penggemar Abigail Limuria dan Cania Citta, meskipun tentu harus diakui kalau keduanya adalah generasi muda yang hebat dan inspiratif.

Walau begitu, ketika tahu mereka berdua merilis buku berjudul Makanya, Mikir!, tentu Penulis jadi penasaran. Apalagi, acara launching buku ini berhasil mempertemukan Anies Baswedan dan Ahok dalam satu forum!

Ekspektasi Penulis ketika membeli buku ini adalah Penulis jadi mengetahui bagaimana kerangka berpikir yang benar. Jangan-jangan, ada yang salah dari cara Penulis berpikir selama ini.

Apakah ekspektasi ini tercapai? Sayangnya tidak.

Detail Buku Makanya, Mikir!

  • Judul: Makanya, Mikir!
  • Penulis: Abigail Limuria dan Cania Citta
  • Penerbit:
  • Cetakan: Ke-7
  • Tanggal Terbit: September 2025
  • Tebal: 290 halaman
  • ISBN: 9786238944026
  • Harga: Rp138.000

Apa Isi Buku Makanya, Mikir!

Berdasarkan sinopsis yang terletak di bagian belakang, buku ini berusaha untuk memberikan berbagai kerangka berpikir (mental models) beserta studi kasusnya. Ini selaras dengan judulnya, yang mengajak kita untuk berpikir.

Sebenarnya bukan berarti kedua penulis buku ini menuduh kita tidak pernah berpikir. Bisa saja selama ini kita berpikir, tapi tidak berpikir dengan benar. Nah, buku ini berusaha memberi insight mengenai bagaimana berpikir yang benar.

Ada total delapan bab di buku ini, yakni:

  1. Peta Realitas dan Cara Menentukan Tujuan Hidup
  2. Kerangka Berpikir Dua Ranah: Pentingnya Membedakan Realitas dan Preferensi
  3. Pola Pikir Ilmiah: Yang Pede dan Ngotot Belum Tentu yang Pintar
  4. Bagaimana Menentukan Cost dan Benefit: Kenalan dengan Objective-Oriented Principle
  5. Sesat Pikir dan Bias dalam Pengambilan Keputusan
  6. Menentukan Prioritas: Sumber Daya Terbatas, Mana yang Harus Diutamakan?
  7. Kecerdasan Sosial: Buat Apa Pintar Kalau Nyebelin

Di bab-bab tersebut, ada banyak sekali teori berpikir yang akan kita pelajari, walau memang bisa dibilang hanya di permukaan saja. Semuanya dipaparkan dengan bahasa sederhana yang tidak membuat kita kebingungan.

Beberapa hal yang dijabarkan di buku ini adalah bagaimana menentukan tujuan hidup, perbedaan ranah realitas dan preferensi (yang kerap menjadi sumber utama polarisasi), konsep Cost-Benefit Analysis (CBA) yang membantu kita membuat keputusan dan prioritas, bias berpikir, dan lain sebagainya.

Setelah Membaca Makanya, Mikir!

Dua nama yang menulis buku ini adalah orang-orang yang Penulis anggap cerdas, sehingga ada ekspektasi tinggi ketika membaca buku ini. Jika membaca buku self-improvement dari Barat, biasanya Penulis tidak mengenal siapa penulisnya.

Nah, Penulis membutuhkan waktu yang relatif cukup singkat untuk menyelesaikan buku ini. Apakah itu tanda kalau buku ini begitu menarik? Sayangnya bukan, karena memang isinya yang bagi Penulis relatif sedikit.

Dengan harga yang relatif cukup mahal (hampir Rp140 ribu), sayang isi buku ini bisa dibilang terasa hanya permukaan saja. Sebenarnya wajar, karena buku ini full color dan memiliki banyak sekali gambar, yang terkadang memakan hampir dua halaman penuh.

Memang, dalam podcast bersama Raditya Dika, Abigail Limuria mengatakan bahwa buku ini memang berusaha tidak mengintimidasi pembacanya dengan buku yang full dengan tulisan. (FYI, Radit yang pernah punya percetakan juga terlihat kaget dengan harganya yang cukup mahal).

Jika memang target pasarnya adalah pembaca baru atau yang baru ingin membangun kebiasaan pembaca, maka keputusan tersebut tepat. Hanya saja, bagi Penulis yang memang dari dulu hobinya membaca, Penulis merasa sedikit rugi telah mengeluarkan uang sebanyak itu untuk isi yang “hanya” segini.

Penulis adalah tipe reviewer buku yang menilai buku berdasarkan dampak yang diberikan oleh buku tersebut dan membandingkan dengan “investasi” yang Penulis keluarkan untuk membeli buku tersebut. Jujur saja, ini adalah “investasi” yang kurang worth it.

Tentu ada banyak insight-insight menarik yang Penulis temukan di buku ini, terutama bagian CBT yang pernah Penulis praktekkan. Hanya saya, ya kembali lagi, rasanya kurang sepadan dengan uang yang sudah dikeluarkan.

Gaya penulisannya yang seperti mendengarkan teman yapping juga menjadi salah satu kelebihan buku ini, terutama untuk pembaca pemula. Setiap poin yang ingin dibahas berusaha dijabarkan dengan bahasa yang sesederhana mungkin.

Seperti yang sudah disebutkan di atas, buku ini juga selalu memberikan studi kasus agar kita lebih paham lagi. Hanya saja, terkadang Penulis merasa studi kasus yang diberikan terlalu banyak dan berulang-ulang.

Buku ini mungkin cocok bagi banyak orang, apalagi di Indonesia yang tingkat literasinya cukup rendah. Namun, bagi orang yang memang sudah lama hobi membaca seperti Penulis, buku ini akan terasa kurang “daging”.

Skor: 6/10


Lawang, 26 Februari 2026, terinspirasi setelah membaca Makanya, Mikir! karya Abigail Limuria dan Cania Citta

Continue Reading

Fiksi

[REVIEW] Setelah Membaca Teka-Teki Rumah Aneh

Published

on

By

Sebenarnya sudah sejak lama novel Teka-Teki Rumah Aneh karya Uketsu mencuri perhatian Penulis. Namun, entah mengapa Penulis belum merasa terdorong untuk membelinya, meskipun sebenarnya suka dengan novel “teka-teki”.

Nah, membaca novel-novel detektif Keigo Higashino yang akhirnya membuat Penulis memutuskan untuk membeli dan membaca novel ini. Toh, novel ini tidak terlalu tebal, sehingga bisa cepat ditandaskan.

Benar saja, tak butuh lama Penulis menghabiskan novel ini karena misterinya yang membuat penasaran. Dengan durasi sekitar 3-4 jam, Penulis bisa langsung menyelesaikan novel ini. Lantas, apakah novel ini sebagus kata orang?

SPOILER ALERT!!!

Detail Buku Teka-Teki Rumah Aneh

  • Judul: Teka-Teki Rumah Aneh
  • Penulis: Uketsu
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan: Ke-14
  • Tanggal Terbit: Mei 2025
  • Tebal: 224 halaman
  • ISBN: 9786020669960
  • Harga: Rp79.000

Apa Isi Buku Teka-Teki Rumah Aneh?

Novel ini berkisah dari sudut pandang orang pertama seorang penulis (namanya tidak pernah disebutkan) spesialis occult alias hal-hal gaib. Nah, suatu ketika, ia dimintai tolong kenalannya untuk memeriksa suatu denah rumah yang menurutnya aneh.

Dari sini, kita bisa melihat kalau konsep “rumah aneh” langsung disajikan di awal cerita, bahkan di halaman pertama. Denah rumah yang awalnya tampak normal-normal saja langsung diperlihatkan begitu mulai membaca.

Sang penulis tersebut tentu merasa kebingungan dengan denah rumah tersebut, sehingga ia minta bantuan kenalannya yang bernama Kurihara-san, seorang arsitek, yang akhirnya menunjukkan apa keanehan pada denah rumah tersebut.

Nantinya, kita akan sering melihat percakapan antara keduanya di novel ini. Bukan dalam bentuk paragraf, melainkan menggunakan format nama karakter, titik dua (:), baru kalimatnya. Semua percakapan menggunakan format tersebut, sehingga membuat pace novel ini terasa cepat.

Di novel ini, denah rumah kerap diperlihatkan berkali-kali, terkadang hanya sebagian saja. Dengan demikian, kita tidak perlu capek-capek membolak-balikkan halaman, walau kekurangannya membuat novel ini cepat habis.

Berangkat dari keanehan tersebut, tokoh penulis pun membuat artikel tentang rumah tersebut dengan harapan akan ada orang yang memiliki informasi lebih. Tak lama kemudian, ia pun menerima email dari seseorang yang akan membawa mereka ke sebuah misteri yang kelam.

Penulis tidak akan bercerita terlalu dalam mengenai isi buku ini, mengingat apa yang membuat novel misteri menarik adalah misterinya. Namun, Penulis bisa mengatakan kalau denah rumah yang aneh di sini tidak hanya satu.

Selain itu, nanti akan terungkap kalau ada alasan khusus kenapa rumah-rumah tersebut memiliki denah yang aneh. Bisa dibilang, konklusi cerita yang dibagi menjadi empat bab ini tidak tertebak, kalau bukan jadi terlalu jauh.

Di bab selanjutnya, akan ada lebih banyak spoiler yang akan mengurangi keseruan jika Pembaca berniat membaca buku ini. Jadi, spoiler alert!

Setelah Membaca Teka-Teki Rumah Aneh

Penulis pada dasarnya memang menyukai novel detektif dan misteri. Jauh sebelum kenalan dengan novel-novel Keigo, Penulis sudah membaca semua novel Agatha Christie dan Sherlock Holmes.

Oleh karena itu, standar Penulis jadi agak tinggi. Penulis menganggap Teka-Teki Rumah Aneh adalah cerita misteri yang menarik, tapi tidak sampai membuat Penulis menganggap sebagai salah satu yang terbaik yang pernah Penulis baca.

Yang Plus dari Teka-Teki Rumah Aneh

Seperti yang sudah Penulis singgung, kita langsung disuguhi denah rumah yang awalnya terlihat normal, tapi ternyata memiliki keanehan. Apalagi, “rumah anehnya” bukan hanya itu, sehingga kita jadi menyadari kalau ini adalah sebuah pola tertentu, bukan sekadar kesalahan arsitektur saja.

Itulah hal yang berhasil membuat penasaran bagi tokoh penulis dan Kurihara-san. Berawal dari pertanyaan, mereka justru jadi melakukan penyelidikan untuk mengulik apa maksud dari denah rumah aneh tersebut.

Buat Penulis, salah satu kekuatan utama novel ini adalah bagaimana kita mampu dibuat merasa penasaran seperti tokoh di dalamnya. Terlalu banyak pertanyaan yang muncul ketika melihat fakta yang ada, sehingga kita terus ingin tahu seperti apa jawabannya.

Itu juga menjadi salah satu alasan lain mengapa pace cerita ini cepat dan tidak terlalu bertele-tele. Tidak ada polisi yang melakukan wawancara seperti di novel-novel Keigo. Apalagi, kita tidak perlu susah-susah membayangkan denahnya karena gambarnya selalu tersedia.

Selain itu, entah bagaimana novel ini juga bisa terasa lumayan “horor” hingga Penulis merasa merinding ketika membacanya. Padahal, sama sekali tidak ada adegan hantu atau gangguan makhluk halus.

Yang Kurang dari Teka-Teki Rumah Aneh

Sayangnya, Penulis kurang menyukai konklusi dari cerita ini yang memiliki hubungan dengan okultisme. Keluarga pembunuh yang terjebak “ritual” memakan korban tersebut terasa agak bodoh karena mau termakan kata “orang pintar”.

Apalagi, semua itu berawal dari hubungan inses yang dialami oleh keluarga tersebut, yang menjadi awal dari semua tragedi yang terjadi selanjutnya. Jumlah korban berjatuhan hanya karena kepercayaan yang sesat.

Mungkin ada pembaca novel ini yang menyukai konklusi seperti itu. Namun, Penulis sendiri tidak menyukai unsur-unsur seperti itu, karena misteri bisa terjadi karena ketidaktahuan orang, bukan karena disusun secara cerdik.

Oh iya, di bagian akhir setelah cerita terkesan berakhir, ternyata Uketsu justru memilih memberikan open ending kepada Pembaca terhadap salah satu karakter kunci di cerita ini. Padahal, Penulis berharap kalau misterinya harus tuntas tanpa menimbulkan pertanyaan baru.

Walau begitu, novel ini tetap menjadi bacaan misteri yang menegangkan dan akan membuat kita kesulitan untuk berhenti membaca karena penasaran. Setelah membaca Teka-Teki Rumah Aneh, rasanya kita akan jadi memperhatikan setiap detail denah rumah yang kita lihat!

SKOR: 7/10

Saat menulis artikel ini, Penulis sempat ke Gramedia dan melihat ada “sekuel” novel ini dengan judul Teka-Teki Gambar Aneh. Menarik untuk ditunggu apakah novel ini juga mampu membuat Penulis merasa merinding dan tak bisa berhenti membaca.


Lawang, 24 Februari 2026, terinspirasi setelah membaca buku Teka-Teki Rumah Aneh karya Uketsu

Continue Reading

Fanandi's Choice

Blog ini milik Fanandi Prima Ratriansyah sejak 2018