Budaya Menghargai di Indonesia

Ketika masih aktif di pers mahasiswa (bernama Kavling 10) di Universitas Brawijaya, ada satu momen yang tidak terlupakan di memori penulis. Tidak ada kaitannya dengan kegiatan jurnalistik, tapi sangat melekat karena berkaitan dengan budaya menghargai di Indonesia.

Salah satu anggota Kavling 10 bercerita bahwa dirinya baru saja menemani bule di Indonesia. Penulis lupa, dalam rangka apa anggota tersebut menemani sang tamu asing dan bagaimana dia bisa menjadi semacam tour guide.

Kericuhan terjadi ketika anggota tersebut berkata hold on dengan aksen yang Indonesia banget. Teman-teman lain yang sedang mendengarkan langsung nyolot dengan tujuan mengoreksi pengucapan yang benar, tentu konteksnya bercanda.

Nah, di sinilah anggota tersebut merasa heran, kenapa orang Indonesia itu tidak bisa menghargai orangnya sendiri. Bulenya saja memaklumi pengucapan kita, kok ini sama-sama orang Indonesia malah protes.

Hehehe, ketika itu penulis hanya mengamati dalam diam sembari mencatatnya di salah satu sudut otak penulis karena merasa adegan ini akan terjadi pada diri penulis sendiri. Hal itu sudah terbukti sekarang ketika penulis menjadi sukarelawan di Asian Games 2018.

Berbincang dengan Wartawan Asing

Penulis mendapatkan pengalaman berbincang dengan beberapa wartawan dari luar negeri, sebut saja dari Taiwan, Qatar, hingga Bangladesh, meskipun dengan bahasa yang tertatih-tatih. Lama tidak berbicara dalam bahasa Inggris selepas dari Pare, Kediri, ternyata lumayan membuat lidak penulis kaku.

Yang paling berkesan adalah ketika berbincang dengan wartawan dari Taiwan, yang memuji kemampuan speaking penulis. Bukan karena jago, melainkan karena di negaranya, tidak semua anak bisa berbahasa Inggris. Penulis berasumsi, alasan di balik hal tersebut sama dengan anak-anak di Jepang maupun Prancis: Mereka bangga dengan bahasa mereka sendiri.

Dengan Wartawan Taiwan

Dengan wartawan lain pun, penulis merasa sangat dihargai. Mereka seolah memaklumi keterbatasan kata penulis, karena memang bahasa Inggris bukan bahasa utama kami. Mereka tidak marah jika kita tidak mengerti maksud mereka.

Hal yang sebaliknya terjadi pada wartawan dari negara kita sendiri.

Protes dari Bangsa Sendiri

Berawal dari keengganan dua rekan penulis untuk menjadi tranlator, penulis memutuskan untuk bersedia menerima tanggungjawab besar tersebut. Dua rekan tersebut merasa tertekan dengan perlakuan wartawan yang gencar melakukan protes ketika terjadi kesalahan penerjemahan.

Translator sendiri merupakan salah satu jobdesk untuk para sukarelawan Asian Games yang bertugas melakukan penerjemahan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia (ataupun sebaliknya) ketika press conference berlangsung.

Ketika mencoba menjadi translator, penulis menyadari betapa sulitnya mendengarkan apa kata pelatih maupun pemain yang sedang berbicara. Selain terdapat aksen yang sangat susah untuk dicerna, penempatan translator yang berdiri di belakang speaker juga mempersulit.

Suasana Konferensi Pers

Penulis mengalami sendiri bagaimana wartawan melakukan protes ketika terjemahan yang diucapkan oleh rekan penulis dianggap salah. Pun ketika rekan penulis salah menerjemahkan pertanyaan dalam bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris.

Memang, menjadi penerjemah adalah salah satu tugas kami, sehingga wajar jika wartawan mengharapkan kami tampil dengan sempurna. Tapi kami bukan penerjemah profesional. Bagi kami, ini adalah pengalaman pertama kali menjadi penerjemah, sehingga wajar jika kami melakukan kesalahan-kesalahan.

Alangkah baiknya jika wartawan-wartawan lokal justru membantu kami jika ada kesalahan-kesalahan, misal memberitahu kepada rekan wartawan yang lain bahwa maksud dari pernyataan pelatih adalah bla bla bla tanpa perlu menghardik para translator.

Tentu hanya beberapa wartawan yang berlaku seperti itu. Ada juga beberapa wartawan yang justru memberi kami tips-tips bagaimana menerjemahkan dengan baik. Seandainya semua seperti itu dan bisa memaklumi kekurangan kami, tentu akan lebih membantu kami daripada sekedar protes.

Budaya Menghargai Kurang Mengakar

Dari kacamata penulis (penulis memang memakai kacamata), penulis melihat perbedaan ini terjadi karena budaya menghargai yang kurang mengakar. Contoh beda perlakukan dari wartawan tadi hanya satu contoh kecil yang terjadi di negara ini.

Bisa jadi salah satu penyebabnya adalah kurangnya pendidikan karakter di Indonesia, sehingga masyarakatnya tidak terbiasa memberikan apresiasi kepada bangsanya sendiri.

Menghargai adalah salah satu karakter yang seharusnya wajib dimiliki oleh setiap individu. Bayangkan seandainya semua orang bisa menghargai masing-masing pasangan capres-cawapres, tentu media sosial tidak akan ricuh seperti sekarang.

Lantas, bagaimana caranya menghargai orang lain? Ya gampangnya, ketika orang tersebut melakukan sesuatu yang baik, pujilah sewajarnya. Ketika orang lain berbuat kesalahan, kita maklumi dan kita koreksi dengan sehalus mungkin.

Semoga saja di masa depan, pendidikan karakter akan masuk ke dalam kurikulum pendidikan Indonesia. Tentu peran dari orang tua dan lingkungan juga dibutuhkan untuk mengasah kemampuan kita agar dapat menghargai orang lain.

 

 

Grand Metropolitan Mal, 21 Agustus 2018, terinspirasi dari cerita rekan penulis yang bertugas menjadi translator dan dari pengalaman pribadi

Photo by Tiago Felipe Ferreira on Unsplash

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.