Chapter 33 Hari Di Mana Hukuman Dilaksanakan

Pelajaran olahraga dimulai setelah istirahat pertama. Artinya, matahari cukup terik untuk menyinari kami semua. Doaku tadi pagi agar cuaca sedikit sejuk nampaknya tidak terkabulkan. Artinya, ada orang yang lebih membutuhkan panas ini dibandingkan sejuk yang kami butuhkan.

Guru kami, bu Rima, sangat disiplin perihal waktu. Pernah Juna terlambat satu menit memasuki lapangan, langung diusir olehnya. Juna yang responnya terkenal lambat itu hanya bisa terbengong, sebelum dibisiki oleh Bejo sebagai ketua kelas. Suatu saat aku akan menyelidiki lebih dalam, bagaimana seorang Juna bisa mendapatkan nilai begitu tingginya.

Pagi menjelang siang hari ini pun begitu. Begitu jam olahraga dimulai, kami sudah berbaris untuk melakukan pemanasan di lapangan. Kebetulan hari ini kami kebagian di lapangan basket, sehingga nanti Sica tidak perlu terlalu jauh berlari. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana Sica mengelilingi dua lapangan voli.

Setelah pemanasan yang dipimpin oleh Bejo selesai, seseorang menepuk punggungku. Kutoleh dan ternyata Sica pelakunya.

“Le, maaf ya yang kemarin, tiba-tiba aku menutup telepon begitu saja. Aku benar-benar dalam kondisi kacau.”

“Oh iya Sica, aku bisa memahami itu. Tapi apa kau sudah siap untuk keliling lapangan?”

“Iya disiap-siapkan aja Le. Janji tetaplah janji.” jawabnya dengan tatapan mata yang menerawang entah kemana. Aku merasa Sica menutup-nutupi sesuatu.

“Semangat ya Sica.”

Sica membalas dengan senyumnya yang paling manis. Jika saja aku sebongkah es batu, pasti sudah meleleh karena terangnya senyum Sica. Namun setidaknya, aku sudah tidak gugup lagi jika berbicara dengan Sica.

Setelah penilaian melempar bola basket ke dalam ring, bu Rima meninggalkan kami, menyisakan waktu 30 menit sebelum jam olahraga berakhir. Artinya masih ada cukup waktu untuk Sica melaksanakan hukumannya. Tidak ada satupun dari kami meninggalkan lapangan.

“Sarah, bisakah hukumannya ditunda? Kita sudah banyak menggunakan energi kita untuk penilaian hari ini.” Kenji mencoba untuk berdiplomasi dengan Sarah. Mungkin ia khawatir Sica kelelahan.

“Huh enak aja, gue udah baik hati kemarin mau nunda sampe hari ini, masa mau ditunda lagi?”

“Tapi Sarah…”

“Alah diem lo cebol, gak perlu ikut campur.”

Mendengar Kenji dihina seperti itu, instingku langsung maju dengan mengepalkan tangan ,yang untungnya ditahan oleh Andra.

“Sabar bung, jangan kamu ladeni anjing betina itu. Pasti kita punya kesempatan untuk balas dendam atas keburukan sifatnya. Tapi tahan dulu bung, kita ada di lingkungan sekolah, apalagi ia wanita.” bisiknya sembari menahan tanganku dan mendorongku agar kembali duduk di bangku penonton.

“Sudah Kenji, aku kalah dalam ulangan matematika kemarin, artinya aku harus mau menerima hukumannya. Doakan saja ya.” kata Sica dengan melempar senyum ke Kenji.

Kenji hanya terdiam mendengar perkataan Sica, dan aku merasa Kenji lebih khawatir daripada diriku. Entah mulai kapan, tapi aku bisa merasakan aura seseorang dan seringkali hasilnya tepat.

“Udah, sana mulai lari.” omel Sarah dengan mengibas-ngibaskan tangannya.

Sica mengambil posisi untuk bersiap lari, dan dalam hitungan ketiga ia mulai berlari. Ketika melihatnya berlari, aku seolah melihat sisi lain dari Sica. Ia terlihat begitu rapuh, seolah-olah ia akan terbawa angin jika ada yang berhembus. Aku belum pernah melihat Sica dari sisi ini dan itu membuatku terkejut. Ternyata sosok yang selama ini terlihat begitu kuat, bisa terlihat begitu lemah seperti ini.

Putaran kedua, Sica sudah terlihat ngos-ngosan. Masih ada delapan putaran lagi dan ia sudah terlihat begitu kepayahan. Aku berdiri dari tempat dudukku, menghampiri Sarah yang terlihat sangat menikmati pemandangan ini.

“Kau perempuan, sepertinya ini sudah cukup. Apa kau tidak bisa melihatnya kepayahan?”

“Diam, aturan tetap aturan.”

Ia menjawab tanpa menoleh ke arahku. Aku selalu merasa Sarah merasa segan denganku, mungkin karena ia takut terhadapku.

“Kau ini punya hati atau tidak, dengar ya…”

Omonganku terputus karena mendengar teriakan dari teman-teman yang lain. Sontak aku menoleh ke belakang, Jessica sudah jatuh tersungkur. Semua berlarian berusaha menolong Sica untuk berdiri lagi, namun aku hanya berdiri mematung. Setelah jatuh ia tidak bergerak sama sekali. Jessica pingsan, kehilangan kesadaran.

***

Sica langung dilarikan ke rumah sakit karena pihak UKS tidak memiliki peralatan yang cukup memadai. Aku tidak tahu siapa saja yang ikut mengantarnya ke rumah sakit, namun ketika kami kembali ke kelas, ada beberapa yang tidak hadir di kelas. Bejo, Kenji, Dea tidak ada di tempat. Aku tidak tahu mengapa aku tidak ikut mengantarnya. Mungkin karena aku terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri yang berlalu begitu cepat. Ketika aku tersadar, Sica sudah dimasukkan ke dalam mobil seorang guru. Maka dengan keadaan kosong aku kembali ke kelas, bersama teman-teman lain yang tidak ikut mengantar.

Namun aku menangkap ada satu orang lagi yang tidak ada di kelas, si penyebab masalah ini, si bedebah Sarah. Ke mana ia? Aku tidak akan menahan diri lagi, ini sudah keterlaluan. Aku akan membuatnya bertanggungjawab atas kejadian ini. Tetapi perempuan brengsek itu justru kabur, menghilang dan tidak ada tanda-tanda akan kembali ke kelas. Hingga sekolah berakhir, ia tidak muncul. Begitulah pengecut, kabur tanpa bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya, sama saja dengan ayahku.

Aku memanggil Andra, yang duduknya tepat di depanku.

“Andra, kau tau ke mana Sarah?”

“Mana kutahu Le, tadi kami semua sibuk mengurus Sica. Kamu malah bengong kayak kerasukan.”

“Mungkin ia ketakutan Le.” Gita ikut menimbrung pembicaraan kami.

“Perempuan itu harus diberi pelajaran.” kataku geram.

“Mau kamu apakan Sarah? Meskipun begitu ia tetap wanita kan, dan tidak seharusnya laki-laki memukul wanita.” Gita berbicara dengan tatapan seolah berusaha menyabarkanku.

“Berarti aku boleh dong?” tanya Rika dengan senyum khas Sudarwono bersaudara.

“Tidak Rika, kita tidak boleh membalas kekerasan dengan kekerasan. Mungkin kita bisa aja dia bicara baik-baik. Semoga saja dengan kejadian ini ia tersadarkan.” Gita mengalihkan tatapannya ke Rika.

Ketika mereka berdua bercakap-cakap, aku menatap ke buku di atas meja Gita. Terlihat olehku sebuah sketsa wajah seorang laki-laki dan menurutku yang awam dalam hal seni, sangatlah bagus, ia terlihat sangat tampan dan berwibawa.

“Gita, siapakah yang kau gambar itu?” tanyaku mengalihkan pembicaraan mereka berdua.

“Itu, oh ini, hanya tokoh imajiner yang ada di kepalaku kok.” jawabnya dengan pipi memerah. Mungkin ia merasa malu karyanya diketahui orang lain.

“Bagus sekali Gita, kamu pintar menggambar ya ternyata, gimana kalau kita kolaborasi bikin komik? Aku yang bikin cerita kamu yang nggambar.” tawar Rika.

“Hehehe, boleh juga tuh, tapi setelah kita tahu kondisi Sica ya.” jawab Gita semakin merona.

Ternyata, masih banyak hal yang belum aku ketahui tentang teman-teman satu kelas. Bahkan aku baru tahu Gita yang duduk di dekatku bisa menggambar seindah itu. Nampaknya usahaku untuk lebih mengenal mereka harus ditingkatkan lagi.

***

Bejo dan Dea kembali ke kelas sekitar pukul tiga sore. Mereka langsung dihujani pertanyaan oleh teman-teman yang lain mengenai keadaan Sica. Secara garis besar, asma Sica kambuh, dan ia terlalu memaksakan diri hingga pingsan. Aku berusaha tersenyum mendengar jawaban mereka, hingga menyadari ada yang kurang.

“Di mana Kenji?”

“Kenji? Dia tidak ikut kami kok. Cuma aku dan Bejo yang mengantar Sica. Kalau Bejo kan karena dia ketua kelas, kalau aku karena malas ikut kelas aja.” Dea menjawab dengan ringannya.

Aku langsung berlari meninggalkan mereka menuju rumah Kenji.

***

Nihil, Kenji tidak ada di rumahnya. Ke mana ia? Jika bukan mengantar Sica, ke mana tujuan perginya hingga ia tidak menghadiri kelas? Aku berusaha tanya ke tetangga sekitar, namun sayangnya tidak ada yang sedang berada di beranda rumahnya dan aku terlalu malu untuk mengetuk pintu mereka. Karena tidak ada yang bisa kulakukan, aku kembali ke sekolah.

***

Sepulang sekolah aku segera menyegarkan diriku dengan mandi. Terlalu banyak hal yang terjadi hari ini, dan aku butuh penyegaran untuk menenangkan diri. Dengan kepala dingin, aku akan bisa memutuskan langkah apa yang perlu diambil selanjutnya.

Benar saja, begitu aku selesai mandi dan akan makan malam dengan Gisel, aku tahu apa yang harus kulakukan. Setelah ini, aku akan mengunjungi rumah Kenji lagi, kemungkinan besar ia sudah kembali ke rumahnya. Lalu aku akan mengunjungi Sica setelahnya. Aku akan mengajak Gisel, hitung-hitung mengajaknya jalan-jalan.

“Kakak kenapa sih daritadi diam aja?” Gisel memecah lamunku.

“Sica tadi pingsan Gisel, lalu Kenji tidak ada di rumahnya.”

“Apa? Kok bisa kak?”

“Panjang ceritanya Gisel, nanti kakak ceritakan, habis ini kakak mau ke rumah Kenji, lalu mengunjungi Sica di rumah sakit.”

“Gisel boleh ikut kak?”

“Memang begitu rencananya.”

Dengan membawa Gisel, sekali lagi aku mengecek rumah Kenji. Rumah Kenji tetap kosong, padahal sekarang sudah pukul delapan malam. Pikiranku benar-benar kacau, aku tidak bisa berpikir dengan jernih. Ke mana bocah satu ini?

“Kak, Gisel kedinginan, kita segera pulang yuk. Mungkin kak Kenji ada urusan ke mana.”

Kugandeng tangan Gisel untuk meninggalkan rumah Kenji dan melanjutkan perjalanan ke rumah sakit. Namun begitu sampai di depan rumahku, aku baru teringat satu hal. Aku tidak tahu dimana Sica dirawat!

“Ya udah kak besok aja ke rumah sakitnya habis pulang sekolah.”

Kuturuti perkataan Gisel, kami pun masuk ke dalam rumah. Terlalu banyak hal yang terjadi hari ini, hari di mana hukuman dilaksanakan.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.