Chapter 52 Hari Penuh Gejolak

Aku mengetuk pagar rumah tersebut sebanyak tiga kali dengan keras. Kenji terlihat sedikit menyimpan takut berhadapan dengan pak Toro, sehingga aku memutuskan untuk memasang badan. Tidak mendapatkan respon, aku mengulangi ketukanku dengan lebih kencang. Setelah percobaan ke tujuh, barulah terdengar suara kunci pintu terbuka. Dari celah yang sempit, aku bisa melihat sekilas sosok pak Toro.

“Siapa itu?” tanyanya sambil berteriak.

“Kami teman-teman Rika pak, mau menjenguk Rika.” kataku tak kalah keras, terprovokasi dari suara pak Toro.

“Rika tidak sakit, pergi kalian!” bentak pak Toro dengan suara yang bisa membuat gentar anjing doberman sekalipun. Sayangnya, aku lebih galak dari jenis hewan apapun.

“Tapi Rika tidak masuk tiga hari pak, pasti ada apa-apa!”

“Dasar kurang ajar, kalau saya bilang tidak apa-apa yang tidak apa-apa, pergi kalian semua!” teriaknya sambil membanting pintunya.

Aku meresponnya dengan memukul pagar rumah Rika dengan kencangnya, sehingga tanganku terasa sedikit sakit. Selain melampiaskan emosi, aku berharap pak Toro terpancing sehingga ia keluar lagi. Benar saja, terdengar suara pintu terbuka dengan tergesa-gesa dan sekali lagi terdengar suara bantingan pintu. Kali ini, pak Toro melangkah ke arah pagar dengan langkah-langkah penuh emosi.

“Heh bocah gak tau aturan, mau saya panggilkan polisi? Bocah keparat, kalau pagar saya rusak gimana hah!”

Dalam hatiku aku bergumam, saya sudah bawa polisi untuk menangkap Anda. Tapi sekuat mungkin aku menahan gumaman tersebut untuk tidak keluar karena takut merusak rencana yang telah kami rancang. Dengan tingginya suara kami yang saling bersahutan, pasti bapak-bapak tersebut bisa mendengar dengan jelas percakapan kami.

“Silahkan panggil, saya tidak takut. Saya hanya ingin ketemu Rika, titik.”

“Kamu belum pernah diajari sopan santun sama orangtuamu ya! Dasar kurang ajar!”

Akhirnya ia membuka pagar dengan tergesa-gesa, seolah-olah bernafsu untuk segera melumatku habis. Aku segera menyuruh Kenji, yang dari tadi hanya diam dan mengamati kami, untuk mundur. Jelas aku tak mau ia terluka hanya karena provokasi yang telah kubuat. Memang ini tidak ada di dalam skenario, namun mendengar bagaimana peringai pak Toro membuatku untuk berimprovisasi. Ia adalah tipe otot yang sama sekali tidak bisa diajak bicara dengan baik-baik.

Pak Toro segera menerjang ke arahku dengan buas, hendak menerkam leherku. Tanganku segera menahan terkaman tersebut hingga terseret ke belakang beberapa langkah. Gila, orang ini jelas mempunyai kekuatan yang lumayan. Aku merasa kesulitan untuk mengimbangi kekuatannya.

“Dasar bocah, mau kamu itu apa siang-siang gini cari masalah sama orang hah!”

Tercium aroma alkohol dari mulutnya. Ah, dasar pemabuk, mungkin itulah yang menyebabkan ia sering menyiksa Rika. Pasti ia tipe laki-laki yang kabur dari masalah kehidupan dengan minum bir dan melampiaskan kekesalannya dengan memukuli siapa saja yang ada di dekatnya. Brengsek, selama ini Rika harus hidup dengan orang seperti dia?

Melihat aku bisa menahan tangannya, pak Toro langsung mengarahkan tendangan ke arah pinggang kiriku. Lumayan terasa, namun aku masih bisa menahan sakitnya dan berusaha mendorong pak Toro balik. Ia  berhasil melepaskan tangannya dariku dan segera mendaratkan sebuah pukulan keras ke wajahku. Aku telat menghindarinya, sehingga akhirnya pukulan tersebut mendarat di sisi kiri atas kepalaku. Aku pun terhuyung dibuatnya.

Di saat itulah, pak Rudi, pak Basuki, dan pak RT datang menghampiri kami. Melihat ia dikerumuni orang banyak, pak Toro justru semakin menjadi-jadi.

“Mau apa kalian? Ini bukan urusan kalian, pergi kalian semua, ini bukan tontonan.”

“Pak Toro, serahkan kepada kami Rika yang telah Anda siksa selama ini. Bapak akan kami jerat dengan pasal 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak, dan kami harap bapak bisa kooperatif dengan kami untuk meringankan hukuman untuk bapak.” pak Basuki yang berbadan kecil dengan gemetar berusaha mengancam pak Toro.

“Kalian ngomong apa saya enggak paham! Rika baik-baik saja, jangan ngarang kalian.”

“Kami sudah mendapatkan laporan secara tertulis, kami juga sudah mendengarkan keterangan saksi. Diharap kerjasamanya pak.” pak Basuki semakin bergetar suaranya.

“Kurang ajar, mau kalian apa heh? Mau merebut harta warisan kami? Enggak usah ikut campur, urus urusan kalian sendiri!”

“Tolong kerjasamanya pak.” sekarang pak Rudi yang berbicara dengan suara tegasnya. Hal tersebut sama sekali tidak membuat takut pak Toro.

“Kalian ini siapa, enggak kenal tiba-tiba ikut campur!” raung pak Toro semakin keras.

“Bapak Basuki ini merupakan orang dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia. Beliau sudah mendapatkan laporan tentang adanya penganiayaan terhadap anak bernama Rika. Sedangkan saya dari pihak kepolisian Lawang, ikut membantu proses penyelamatan Rika dari tangan Anda.”

Mendengar ada polisi, pak Toro jadi terlihat gentar walau hanya sekilas. Segera ia memasang badan lebih tegap untuk menunjukkan bahwa dirinya tidak takut walaupun berhadapan dengan polisi. Mungkinkah ia mantan preman? Dilihat dari kelakukannya, hal tersebut sangat mungkin untuk terjadi.

“Walau bapak dari kepolisian, saya tidak takut. Rika itu keluarga saya, bapak-bapak sekalian enggak punya hak untuk ikut campur.”

“Tentu kami harus ikut campur jika terjadi penganiayaan pak.” tegas pak Rudi dengan langkah yang perlahan mendekat ke pak Toro.

“Mana buktinya? Jangan asal main tuduh dong.” suara pak Toro sudah tidak segarang sebelumnya. Semua sikap soknya tadi lama kelamaan hanyut karena ketegasan sikap pak Rudi.

“Tunjukkan Rika terlebih dahulu, baru saya tunjukkan mana buktinya.”

“Rika tidak bisa keluar, ia sedang sakit keras.” jawab pak Toro tidak meyakinkan sembari mundur secara bertahap.

“Bapak-bapak, mungkin bisa menanyakannya langsung kepada Rika.”

Tanpa disangka-sangka, Kenji tiba-tiba muncul dengan memapah Rika di sampingnya. Karena menggunakan kaos lengan pendek, nampak dengan jelas bekas pukulan yang telah membiru di sekujur tangannya. Begitupula di kakinya. Itu yang terlihat, bagaimana dengan yang tidak terlihat?

“Ba…bagaimana bisa?” pak Toro tergagap melihat Kenji bisa menemukan Rika.

“Sebelumnya saya mohon maaf atas kelancangan saya memasuki rumah Anda tanpa izin pak, tapi itu harus saya lakukan demi menyelamatkan Rika. Untunglah istri bapak tidak ada di rumah, sehingga saya bisa menyelinap tanpa ketahuan.”

“Sebaiknya, kita selesaikan di kantor polisi.” kata pak Rudi sambil memasangkan borgol di kedua tangan pak Toro, yang nampaknya sudah memutuskan untuk pasrah digiring masuk ke dalam mobil.

***

“Minumlah ini Rika, semoga membantumu merasa lebih baik lagi.” kata Kenji sewaktu kami bertiga (aku, Kenji, Rika) telah berada di rumahku ketika matahari telah menyembunyikan diri, digantikan oleh bulan yang bersinar lemah.

Rika mengambil secangkir teh yang disodorkan oleh Kenji dan meminumnya sedikit. Matanya masih terlihat kosong. Segala yang terjadi selama tiga hari terakhir jelas membekas dengan kuat menjadi sebuah trauma. Tak tampak lagi wajah Rika yang biasanya selalu ceria. Gisel yang tidak tahu apa-apa pun hanya bisa berusaha menghibur wajah teman kakaknya yang sedang murung tersebut.

Setelah memborgol pak Toro, kami semua menuju kantor polisi untuk menahan sementara pak Toro. Rumah pak Toro dititipkan kepada pak RT, termasuk menitip pesan untuk bu Toro bahwa suaminya dibawa pihak kepolisian karena terbukti melakukan penganiayaan terhadap anak-anak. Sepanjang perjalanan, ia terus merengek mohon ampun agar dilepaskan. Telah sirna secara sempurna segala kebengisannya yang ia tunjukkan kepadaku tadi siang.

Kami membawa Rika ke rumah pak Rudi agar istrinya bisa mengobati luka-luka yang diderita Rika. Rudi sempat terkejut sewaktu melihat kondisi Rika yang begitu memprihatinkan, namun ia tidak menanyakan lebih lanjut. Pak Rudi mengatakan bahwa ia akan menunggu beberapa hari lagi untuk menanyai Rika, setidaknya hingga kondisi psikis Rika kembali normal.

Setelah dibicarakan, kami sepakat untuk malam ini Rika akan menginap rumahku. Untuk barang-barang pribadi Rika, beberapa sudah dibawa oleh Kenji. Pada hari Senin, kami baru akan berbicara kepada Sarah terkait rencana kami menitipkan Rika di rumahnya untuk sementara waktu.

“Bagaimana kau bisa menyelinap masuk ke rumah Rika?” tanyaku kepada Kenji setelah kami bertiga sama-sama terdiam dalam waktu yang cukup lama.

“Hahaha, aku hanya memanfaatkan situasi Le. Begitu melihat kamu menggedor pagar pak Toro dengan keras, aku langsung membuat rencana baru. Aku menduga akan terjadi baku hantam antara kalian, sehingga keberadaanku tidak menjadi perhatian kalian. Ternyata benar kan? Hahaha.”

“Bagaimana jika ternyata ada bu Toro ataupun keluarga lain yang berada di dalam rumah?”

“Tentu aku sudah menyiapkan rencana jika itu terjadi. Untung saja bu Toro tidak sedang berada di rumah, dan aku dari awal yakin tidak ada anggota keluarga lain.”

“Bagaimana kau bisa yakin?”

“Dari ceritamu tentang Rika Le. Ia tak pernah menyinggung sedikitpun tentang saudara-saudaranya, atau lebih tepatnya sepupu-sepupunya. Dari sana aku menyimpulkan bahwa pak Toro tidak memiliki anak. Selain itu dengan sikap kasarnya, aku yakin tidak ada asisten rumah tangga yang betah bekerja di sana.”

“Lalu kau mencari ruangan di mana Rika berada?”

“Benar sekali, aku memanggil-manggil namanya. Untunglah dia masih sanggup untuk memberikan respon. Ia memang dikunci dari luar.”

“Bagaimana kau bisa membuka pintu Rika?”

“Ya mencarinya Le, hahaha.”

“Bagaimana kau bisa menemukan kunci itu?”

“Hanya dengan pengamatan sekilas kok, tidak ada yang spesial. Setelah berhasil membuka pintu, aku segera melihat Rika yang benar-benar dalam kondisi yang mengenaskan. Maka aku segera mengambil koper kecil yang ada di kamarnya dan memasukkan barang-barang penting yang sekiranya dibutuhkan oleh Rika. Ia jelas butuh keluar dari ruangan itu dan tinggal di tempat lain untuk sementara waktu.”

Aku mengalihkan pandanganku ke Rika. Kekosongan pada matanya mulai berkurang, mungkin karena telah sadar bahwa ia telah keluar dari penjaranya tersebut. Otaknya mulai kembali berfungsi secara normal. Aku memutuskan untuk bertanya sesuatu kepadanya.

“Rika, sudah merasa enakan?”

“Ya, terima kasih buat kalian berdua karena telah menyelamatkanku. Tiga hari terakhir benar-benar buruk untukku.” jawabnya dengan suara lemah.

“Baguslah kalau begitu.”

“Kalau aku boleh tahu, apakah kamu mengancam om dan tantemu sepulang dari rumahku?” tanya Kenji

“Benar Ken, pulang dari sini aku ditampar karena pulang terlalu malam. Karena emosi, akhirnya aku memberitahu mereka bahwa aku akan mengadukan perlakukan mereka ke KPAI. Ternyata itu justru membuat mereka kalap dan membekapku di kamarku sendiri. Mereka hanya membukakan pintu ketika waktu makan telah datang, itupun dilempar begitu saja tanpa piring. Aku benar-benar diperlakukan seperti binatang.”

Air mata tumpah dari kedua matanya. Menceritakan pengalaman buruk tentu berat baginya. Gisel yang dari tadi hanya diam menyimak berusaha menyabarkan Rika dengan menggenggam erat tangannya.

“Kakak imut jangan sedih ya, kakak tinggal di sini aja sama Gisel.”

Rika membalasnya dengan mengelus rambut Gisel. Ia menyeka air matanya dan berusaha untuk menghentikan tangisnya. Ia menerawang ke arah luar jendela, meskipun aku yakin pikirannya tengah mengembara.

“Sebagai informasi Le, kamar Rika hanya berukuran dua kali dua meter dengan kamar mandi di dalamnya. Bangunannya terpisah dari bangunan utama, dan aku rasa sebelumnya tempat tersebut dijadikan sebagai gudang.” kata Kenji.

“Malam ini kau tidur bersama Gisel ya Rika. Besok kita bicara dengan Sarah.”

Ia hanya mengangguk lemah, seolah tidak peduli ia akan tidur di mana asal bukan di rumahnya sendiri. Kenji juga memutuskan untuk menginap di rumahku malam ini untuk sekadar berjaga-jaga. Aku sedikit merasa lega karena rasanya akan aneh jika ada seorang wanita menginap di rumahku walau dalam keadaan terpaksa.

Aku yakin bahwa drama ini belum selesai. Masalah ini belum bertemu dengan ujungnya. Setidaknya di malam yang tenang ini, kami membutuhkan istirahat setelah menjalani hari yang penuh dengan gejolak.