Chapter 50 Rencana yang Telah Disusun

“Aku benar-benar salah perhitungan Le, inilah akibatnya jika aku terlalu percaya diri dengan kemampuanku sendiri. Astaga.” kata Kenji pada hari ketiga absennya Rika dari kelas. Teman-teman juga sudah mulai khawatir ke mana perginya Rika. Semua anggota di kelas ini belum pernah ada yang absen tanpa keterangan karena memang kami semua bukan tipikal siswa yang gemar membolos tanpa alasan.

“Apa yang lain sudah mulai bertanya kepadamu?” tanyaku kepada Kenji.

“Iya beberapa, tapi rasanya lebih tepat jika bertanya kepadamu Le. Mereka menganggap kamu yang paling dekat dengan Rika.”

“Ya, namun aku pun tak bisa menjawab pertanyaan mereka.”

“Kamu tidak bercerita tentang kejadian di rumahku kan Le?”

“Tentu tidak, aku tidak sebodoh itu Kenji.”

“Hahaha, maaf maaf, aku hanya memastikan.”

Hening kembali menghampiri kami kembali. Percakapan ini terjadi di kelas, di bangku belakang sewaktu isitrahat kedua. Tidak ada orang lain di kelas selain kami berdua, sehingga kami merasa bisa mendiskusikan masalah ini dengan bebas. Bahkan Juna yang seringkali lebih memilih untuk tetap di kelas dan menyibukkan diri dengan segala tulisannya pun memutuskan untuk keluar kelas. Seolah mereka semua mengerti bahwa aku butuh waktu berdua dengan Kenji.

“Kau punya ide ke mana Rika?” tanyaku pada akhirnya.

“Aku takut salah berasumsi lagi Le.” jawabnya dengan posisi masih menutup mata dan menghadapkan wajahnya ke langit-langit.

“Tidak apa, aku hanya penasaran. Kemampuan analisamu hanya salah sekali Kenji.”

“Sekali yang kamu tahu Le.”

“Utarakan saja apa yang ada di benakmu.”

“Menurutku, kemungkinan besar Rika merasa senang ada peluang untuk keluar dari rumahnya, sehingga ia kelewat percaya diri. Bisa jadi, Rika berkata kepada om dan tantenya itu bahwa ia akan melaporkan mereka ke KPAI. Mendengar itu, tentu mereka berdua bisa saja kalap dan melakukan sesuatu yang buruk kepada Rika.”

“Bukan dibunuh kan?”

“Semoga saja bukan Le, mungkin hanya dikurung di suatu tempat. Ah, kita harus segera bertindak atau semuanya menjadi lebih buruk lagi.”

“Hanya berdua? Apa yang bisa kita lakukan? Membawa orang KPAI ke rumah Rika?”

“Tidak Le, yang pertama perlu kita lakukan adalah menemukan rumahnya. Itu bisa kita lakukan dengan bertanya kepada wali kelas kita. Setelah itu, kita mencari informasi dari tetangga-tetangga keluarga Rika.”

“Untuk apa?”

“Untuk dijadikan saksi Le. Tidak mungkin kan bocah SMA tiba-tiba bertanya di mana Rika berada. Bisa-bisa kita diusir begitu saja. Yang kita butuhkan adalah bantuan dari pihak kepolisian.”

“Tapi apakah pihak kepolisian mau membantu kita tanpa adanya bukti?”

“Justru itulah peran tetangga yang kita butuhkan Le. Mereka akan menjadi saksi.”

“Bagaimana jika ternyata Rika hanya sakit biasa Ken?”

“Aku pun berharap seperti itu Le, tapi aku rasa kamu tahu apa yang ada di pikiranku sekarang. Rasanya tidak mungkin sesederhana itu.”

Aku menatap keluar kelas melalui jendela di sisi samping kelas. Tidak ada yang bisa dipandang di sini karena hanya berupa pondasi kantin yang berada di atasnya. Terkadang jika hari Sabtu terdapat beberapa murid yang melintas, biasanya anak band yang memang studionya terletak di gang sempit tersebut. Tiba-tiba aku melihat Rudi lewat, dan secara reflek aku memanggil namanya dengan cukup keras. Untunglah ia mendengar panggilanku.

“Aku hanya mengantar teman kelasku Le yang mau mengambil barang di studio.” jawab Rudi sewaktu ia telah masuk ke kelas akselerasi kami.

“Ah begitu.”

“Kamu ada urusan lain denganku? Jika tidak rasanya aku harus segera kembali ke kelas karena sebentar lagi waktu istirahat akan habis.”

“Tidak Rud, aku hanya ingin menyapamu. Kita sudah cukup lama tidak berbicara selain di kelas ilmiah remaja. Sudah selesai dengan penelitianmu tentang sorgum?”

“Hampir Le, teman bapakku di kepolisian memiliki peternakan sapi, sehingga aku bisa minta contoh sampelnya. Lucu sebenarnya meneliti sorgum sebagai pakan ternak, karena sorgum di beberapa daerah dijadikan makanan pokok seperti nasi.”

“Hahaha, baiklah Rud, semoga sukses dengan penelitianmu. Penelitianku juga sudah masuk ke tahap pengujian.”

Maka melangkahlah Rudi keluar kelas dengan santai, sebelum terkaget dengan panggilan dari Kenji. Aku yang sedang duduk di sebelahnya pun ikut terkejut.

“Rudi, maaf, kamu bilang ayahmu bekerja di kepolisian?” tanya Kenji sewakti Rudi kembali menghampiri kami berdua.

“Iya, kenapa Ken?” Rudi bertanya balik.

“Boleh aku minta alamatmu? Aku rasa aku butuh bantuan bapakmu Rud. Nanti akan kujelaskan detailnya. Besok hari Minggu bukan? Bolehkan aku dan Leon berkunjung?”

“Tentu, tentu silahkan datang. Bapakku rasanya juga akan ada di rumah.”

Great! Oke Rud, sekali lagi terima kasih.” kata Kenji sewaktu menerima kertas bertuliskan alamat rumah Rudi dan menyalaminya dengan semangat.

“Bantuan selalu datang tanpa bisa diduga ya Le.” kata Kenji lagi sewaktu teman-teman sekelas mulai memasuki kelas. Jam istirahat telah berakhir, dan aku merasa sedikit lega karena kami berdua menemukan secercah cahaya untuk mengetahui di mana Rika berada.

***

Sepulang sekolah, Bejo selaku ketua kelas bertanya apakah kami ingin mengunjungi Rika ke rumahnya. Jelas tingkat kekhawatiran mereka sudah mencapai puncaknya. Aku tentu tidak bisa bilang bahwa kami akan diusir oleh om dan tantenya jika memutuskan untuk ke rumah Rika. Untunglah ada Kenji yang bisa menahan mereka dengan menyuruh kami menunggu hingga hari Senin lusa. Masuk akal, karena besok kami akan bertindak sesuai dengan rencana, sehingga kemungkinan Rika sudah bisa terselamatkan. Semoga saja semua dugaan kami benar, dan langkah-langkah yang kami pilih sudah tepat.

“Kita ulangi lagi ya Le susunan rencana yang sudah kita buat.” kata Kenji sewaktu aku berada di rumahnya. Topik pembicaraan yang berat ini sengaja tidak didiskusikan di rumahku karena aku khawatir Gisel akan mendengarnya. Tentu tidak baik anak sekecil dia mendengar hal-hal seperti penyekapan dan penyiksaan.

“Pertama, pagi-pagi sekali kita akan ke rumah Rudi untuk menemui bapaknya. Kita jelaskan kronologis kejadiannya secara lengkap.” jawabku dengan akurat.

“Lalu yang kedua, kita mencari ketua RT di daerah rumah Rika. Tentu sebagai ketua RT sedikit banyak ia tahu tentang keluarga Rika. Setelah itu, barulah kita menuju rumah Rika dan melakukan penggerebekan.” lanjutku.

“Hahaha, bukan penggerebekan Le, itu terlalu kasar. Anggap saja kita sedang melakukan konfirmasi.

“Terserah, menurutku sama saja.”

“Baiklah, lalu menurutmu apa kekurangan dari rencana kita?”

“Entahlah.”

“Baiklah, menurutku ada setidaknya dua hal yang bisa menggagalkan rencana kita. Pertama, bapaknya Rudi tidak berkenan untuk membantu kita. Kedua, ketua RT tidak melihat ada hal yang ganjil dari keluarga Rika.”

“Lalu apa rencana Bnya?”

“Percayalah Le aku juga belum tahu rencana cadangannya, hahaha. Masalah ini sangat rumit karena menyangkut keluarga. Entahlah, rasanya kelas akselerasi ini seringkali memiliki permasalahan dengan keluarga. Pertama kamu, Sarah, dan sekarang Rika.”

“Lalu seandainya dua hal tersebut benar-benar terjadi, apa yang akan kita lakukan? Pulang begitu saja?”

“Sebenarnya ada satu hal yang bisa kita lakukan.”

“Apa itu?”

“Ya langsung saja ke rumahnya dan menanyakan keadaan Rika. Wajar bukan jika ada teman kelasnya yang menjenguk temannya yang sudah tiga hari tidak masuk?”

“Jika ada rencana sesederhana itu, kenapa tidak kita lakukan terlebih dahulu? Jika omnya Rika main fisik aku yakin bisa mengimbanginya.”

“Karena kita sudah mendengar cerita Rika Le. Seandainya kita tidak pernah mendengar cerita Rika, pasti kita satu kelas sudah pergi ke rumah Rika sore ini. Kamu pun dalam hati meyakini telah terjadi sesuatu yang buruk bukan?”

Aku hanya menganggukkan kepala. Instingku yang seringkali tepat memang meyakini Rika sedang berada di dalam bahaya dari keluarganya sendiri. Aku berharap Rika bisa dengan sabar menghadapi ujian ini. Semoga saja ia tidak mendapatkan perlakuan yang terlalu parah.

“Lalu bagaimana dengan KPAI?” tanyaku kepada Kenji sewaktu kami berdua sama-sama terdiam selama beberapa menit.

“Itu kita pikirkan nanti Le. Fokus kita sekarang adalah memastikan keadaan Rika.”

“Seandainya saja rencana kita berjalan lancar dan Rika berhasil keluar dari rumah itu, apa yang akan kita lakukan?”

“Tentu seperti yang kita sepakati, kita akan meminta bantuan Sarah untuk menampung Rika. Aku pernah ke rumahnya sekali, dan aku yakin pasti ada kamar kosong untuk Rika.”

“Bukan itu yang aku tanyakan Kenji, yang aku maksudkan adalah bagaimana kita bisa menuntut om dan tante Rika ke pengadilan?”

“Ah, itu bukan ranah kita Le. Biarkan Rika yang memutuskan untuk berbuat apa. Aku justru berharap setelah semua kejadian ini, om dan tantenya Rika akan berubah sehingga Rika tidak perlu keluar dari rumah.”

“Kau yakin mereka bisa berubah?”

“Tentu saja, mengapa tidak? Tuhan bisa membolak-balik hati orang kan Le.”

“Ya, kau benar.”

Hening sesaat menghampiri kami berdua. Aku menatap langit-langit rumah Kenji, membayangkan wajah Rika di sana yang sedang sendiri dan ketakutan. Semoga aku bisa menolongnya sesegera mungkin. Semoga gadis yang selalu ceria itu bisa kembali tertawa bersama teman-temannya seperti biasa.

“Jika Rika bersikukuh keluar dari rumah itu, bukankah keluarganya yang lain akan bertanya-tanya?” tanyaku lagi pada Kenji.

“Tentu Le, yang jelas masalah keluarga Rika ini berada di skala yang berbeda dengan masalahmu maupun Sarah. Karena itulah rencana yang telah kita berdua susun harus benar-benar matang. Mungkin saja nanti akan ada sanak keluarga yang bersedia menampung Rika dengan baik.”

Aku menyandarkan punggungku di kursi Kenji. Kututup kedua mataku, membayangkan kejadian yang akan kami alami besok. Kami berdua hanya ingin Rika baik-baik saja, tidak ada sama sekali niat buruk. Absen selama tiga hari setelah Rika menceritakan itu semua tentu menandakan bahwa memang sedang terjadi sesuatu yang buruk padanya. Semoga saja rencana yang telah disusun ini bisa berjalan dengan lancar.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.