Connect with us

Pengembangan Diri

Cara Menghargai Diri Sendiri

Published

on

Ketika sedang menelusuri linimasa Instagram, tanpa sengaja Penulis menemukan sebuah pos dari akun @komikin_ajah. Ada yang berbeda dengan pos tersebut sehingga menarik minat Penulis.

Biasanya, akun ini akan mengunggah komik bergenre komedi. Akan tetapi, di pos ini mereka mengunggah gambar berjudul Beberapa Cara Berpikir yang Membuatmu Sulit Menghargai Dirimu Sendiri.

Ketika di-swipe ke kiri, poin-poin yang disampaikan oleh komik karya @petualanganmenujusatu ini sangat related dengan kehidupan Penulis. Pembaca bisa membacanya melalui embed link berikut ini:

Karena merasa related, Penulis pun berpikir untuk menjabarkan poin-poin yang disampaikan berdasarkan pengalaman dan pemikiran Penulis. Harapannya, tulisan ini bisa menjadi motivasi untuk kita semua yang kesulitan untuk menghargai diri kita sendiri.

1. Negative Self-Labeling

Negative Self-Labeling (@petualanganmenujusatu)

Hal pertama yang membuat kita susah untuk menghargai diri kita sendiri adalah adanya negative self-labeling alias mengecap diri kita dengan hal-hal negatif.

Semua sudah mengetahui kalau manusia memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Sialnya, kita terkadang terlalu fokus dengan kekurangan diri hingga lupa dengan kelebihan yang dimiliki.

Mungkin kita merasa diri ini emosian, mudah baper, kurang percaya diri, ceroboh, malas, peragu, egois, toxic, dan lain sebagainya. Akibatnya, kita merasa kalau diri kita hanya terdiri dari sifat-sifat negatif tersebut.

Padahal, mungkin kita orang yang suka menolong orang lain, punya empati, tulus, pekerja keras, memiliki etos kerja yang baik, ramah, tidak sombong, dan lainnya. Sikap-sikap positif tersebut seolah tertutup dengan label negatif yang kita sematkan ke diri sendiri.

Jika kita kesulitan untuk menemukan apa kelebihan diri sendiri, tidak ada salahnya minta tolong kepada orang lain untuk menunjukkan apa kelebihan kita. Dengan mengetahui apa kelebihan diri, kita pun bisa menghindari untuk melabeli diri secara negatif.

2. Disqualifying the Positives

Disqualifying the Positives (@petualanganmenujusatu)

Salah satu penyebab mengapa kita dengan mudahnya melabeli diri sendiri secara negatif adalah kita yang kerap melakukan disqualifying the positive atau mengerdilkan hal positif yang terjadi.

Entah mengapa ketika kita meraih achievement atau suatu keberhasilan, ada saja bisikan-bisikan negatif yang seolah melakukan denial kalau kita berhasil meraih atau mendapatkan sesuatu.

Jika tidak begitu, kita akan mencari alasan eksternal yang menyebabkan kita berhasil, seperti berkat bantuan orang lain, keberuntungan, dan lain-lain. Sebenarnya tidak salah, tapi kalau sampai membuat tidak menghargai diri sendiri ya jangan.

Terkadang, kita juga berpikir seperti ini gara-gara omongan dan nyinyiran orang lain. Kita yang cenderung susah untuk mengabaikan perkataan orang pun jadi terpengaruh dan memercayai kata mereka.

Bisa dibilang, poin kedua ini adalah poin yang paling tidak related dengan kehidupan Penulis. Setidaknya, Penulis masih mengapresiasi dirinya ketika berhasil melakukan sesuatu.

3. Personalisation & Blaming

Personalisation & Blaming ( @petualanganmenujusatu)

Di antara empat poin yang ada di artikel ini, bisa dibilang personalisation & blaming adalah yang paling sering Penulis lakukan. Setiap ada sesuatu, dikit-dikit akan menyalahkan dirinya sendiri.

Parahnya, kita menyalahkan diri terhadap sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan. Teman balas singkat, merasa kita merusak mood-nya. Bertengkar sama pasangan, kita terus merasa bersalah sudah membuat dia marah.

Kita perlu menyadari bahwa ada banyak sekali yang tidak bisa kita kendalikan, termasuk orang lain. Yang benar-benar bisa kita kendalikan hanya diri kita sendiri, pikiran kita sendiri, perasaan kita sendiri.

Bisa dibilang, hanya menyalahkan diri sendiri tidak akan memberikan manfaat apa-apa bagi kita. Ia hanya akan merusak diri dan membuat kita melabeli diri secara negatif yang ujung-ujungnya susah untuk menghargai diri sendiri.

Merasa bersalah itu normal, tapi lebih baik kita gunakan untuk interopeksi dan memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik lagi. Percuma saja jika merasa bersalah, tapi tidak ada aksi untuk memperbaiki kesalahan tersebut.

4. Jumping to Conclusions

Jumping to Conclusion (@petualanganmenujusatu)

Poin-poin yang ada artikel ini memiliki sumber yang sama: overthinking. Kita ini kadang terlalu banyak berpikir sehingga hal-hal yang sederhana dibuat rumit, hingga susah untuk mengapresiasi diri sendiri.

Jumping to conclusion atau kerap membuat kesimpulan terlalu dini adalah buah dari overthinking. Poin di nomor 3 bisa terjadi karena kita langsung loncat ke kesimpulan yang kita buat sendiri.

Parahnya, kesimpulan yang kita buat kerap bernada negatif ke arah diri sendiri. Padahal, tidak ada yang bukti konkrit yang mendukung kesimpulan tersebut. Semua hanya pikiran kita sendiri yang belum tentu benar dan seringnya tidak pernah benar.

Ketika menghadapi sesuatu yang kurang menyenangkan, seperti mood teman yang tiba-tiba berubah, berusahalah untuk mendiamkan otak dan tidak berpikir yang macam-macam. Alihkan perhatian ke hal lain agar kita tidak membuat kesimpulan sembarangan.

Cobalah untuk berhenti berpikir. Tidak semua terjadi karena salah kita. Tidak perlu menyimpulkan sesuatu di dalam otak kita. Biarkan semua mengalir saja, tidak perlu disimpulkan.

Penutup

Sudah lama Penulis menyadari bahwa dirinya kerap melakukan empat poin di atas. Oleh karena itu, Penulis coba mempelajari Stoik melalui beberapa buku seperti Filosofi Teras yang intinya mengajari bahwa banyak hal yang tidak bisa kita kendalikan.

Hanya saja, untuk bisa mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari memang tidak mudah. Bagi kaum pemikir seperti Penulis, berhenti overthinking itu sama susahnya dengan berhentinya orang yang kecanduan opium.

Sifat overthinking tersebut memicu kita untuk susah menghargai diri sendiri. Belum lagi adanya faktor lain seperti lingkungan yang toxic, trauma, ataupun situasi lain yang membuat kita susah untuk melakukannya.

Hanya saja, kitalah yang paling mampu untuk menghargai diri sendiri. Kalau kita saja tidak menghargai diri sendiri, gimana orang lain bisa menghargai kita?

Semoga saja setelah membuat tulisan ini, Penulis dan para Pembaca yang merasa related bisa lebih menghargai diri sendiri. Memang susah, tapi bisa. Ayo kita sama-sama belajar dan mendukung satu sama lain.


Lawang, 11 Agustus 2021, terinspirasi setelah menemukan sebuah pos dari @petualanganmenujusatu

Foto: Giulia Bertelli

Produktivitas

Saya Mulai Mencatat Apa yang Sedang Saya Baca

Published

on

By

Membaca telah menjadi hobi Penulis sejak lama. Penulis belum pernah menghitung jumlah pastinya, tapi Penulis yakin kalau jumlah buku yang pernah dibaca seumur hidup sudah mencapai ratusan.

Walau begitu, tidak semua buku yang Penulis baca benar-benar Penulis ingat. Terkadang, terutama buku-buku yang sudah lama dibaca, Penulis lupa apa saja isinya dan poin-poin penting yang dibahas. Penulis baru ingat kalau isinya benar-benar berkesan.

Oleh karena itu, ditambah dengan semakin bertambahnya usia, Penulis mencoba untuk mencatat apa yang sedang dibaca. Jadi, ketika sedang membaca buku (terutama nonfiksi), Penulis akan menyiapkan sebuah catatan kecil beserta bolpoin.

Bagaimana Penulis Mencatat Apa yang Sedang Dibaca

Penulis memulai mencatat apa yang sedang dibaca pada tanggal 29 April 2026. Judul pertama yang Penulis catat adalah Merawat Luka Batin yang ditulis oleh dr. Jiemi Ardian, Sp.KJ. Penulis tidak menulis sejak halaman pertama, tapi melanjutkan saja dari yang terakhir dibaca.

Apa yang Penulis catat adalah apa yang menurut Penulis penting atau menarik. Jadi, ketika membaca sesuatu Penulis sampai bergumam “ooooh”, biasanya akan Penulis catat. Bentuk kalimatnya pun sesuai yang ada di kepala, bukan ditulis ulang (kecuali ada quote yang menarik).

Contoh di buku Merawat Luka Batin, di halaman 186 Penulis mencatat: Hindari “seharusnya” jika sesuatu terjadi di luar keinginan kita. Bagi Penulis, kalimat itu cukup menggugah hati, bahkan Penulis sudah membuat draft artikel yang terinspirasi dari kalimat tersebut.

Penulis berusaha untuk membuat catatan buku ini sesederhana mungkin agar tidak memberatkan, seperti yang diungkap buku Atomic Habits maupun Effortless. Cukup ada keterangan judul, tanggal buku dibaca, dan halaman yang sedang disorot, lalu baru menulis poin-poin yang ingin dicatat.

Selain agar bisa mengingat poin-poin penting dari buku yang sedang dibaca, salah satu tujuan mencatat ini adalah untuk memudahkan proses pembuatan artikel review di blog ini. Seringnya karena selesainya sudah agak lama, jadi ada poin-poin yang terlewat untuk dibahas.

Alasan lain mengapa Penulis membutuhkan catatan ini adalah Penulis hobi berpindah-pindah bacaan, tergantung dirinya sedang ingin membaca genre atau topik apa. Bisa saja satu buku baru dibaca lagi satu bulan kemudian atau bahkan lebih.

Dengan adanya catatan ini, Penulis setidaknya bisa me-review secara singkat apa saja yang terakhir Penulis baca dari buku ini. Dengan begitu, Penulis bisa lebih nyambung dengan bab selanjutnya yang akan dibaca.

Lantas, mengapa harus capek-capek mencatat di sebuah buku? Karena Penulis tidak akan tega mencoret-coret buku atau sekadar menempelkan notes. Mungkin tidak akan selengkap yang dilakukan oleh “joki buku” yang sedang viral saat ini.

Pemilihan notes kecil berukuran A5 pun ada alasannya, yaitu biar mudah dibawa ke mana-mana. Walaupun punya kamar yang bisa dibilang nyaman untuk membaca, Penulis kerap berpindah lokasi ketika membaca untuk berganti suasana.

Memindahkan Catatan Fisik ke Digital

Karena ditulis sesuai dengan urutan buku yang sedang dibaca, maka posisi catatan buku pun tersebar-sebar. Contoh buku Merawat Luka Batin yang tadi, catatan pertama bertanggal 29 April 2026. Penulis baru membaca buku itu lagi pada tanggal 11 Mei 2026.

Di sela-sela itu, Penulis membaca banyak buku nonfiksi lain yang juga dicatat, mulai dari Islam, Otoritarianisme, dan Ketertinggalan, Mengapa Negara Gagal, hingga Start with Why. Seperti yang sudah disinggung, Penulis memang hobi berpindah-pindah bacaan sesuai mood.

Oleh karena itu, Penulis butuh platform lain untuk merapikan catatan buku ini. Notion menjadi jawaban dari permasalahan ini. Penulis bisa menyalin catatan fisiknya dalam format digital, tapi kali ini diurutkan berdasarkan bukunya. Jadi, tak masalah meskipun ada jeda panjang ketika membaca bukunya.

Dengan kombinasi fisik dan digital ini, Penulis bisa memperkecil kemungkinan untuk melupakan apa yang pernah dibaca. Misal sedang membutuhkan inspirasi atau informasi, Penulis juga tinggal membaca ulang catatannya ini.

Penulis tidak setiap hari menyalin catatan fisiknya ke digital. Bisa dibilang, Penulis melakukannya hanya ketika ingin saja. Bahkan, catatan di Notion ini baru sampai bulan Juni, padahal sekarang sudah bulan Oktober. Ada cukup banyak yang belum Penulis salin ke Notion.

Penutup

Sejauh ini, Penulis hanya mencatat buku-buku nonfiksi karena ingin menjadikan fiksi sebagai murni hiburan. Apalagi, jika sebuah cerita fiksi bagus atau berkesan, Penulis pasti akan lebih mudah mengingatnya. Ini berbeda dengan nonfiksi yang memiliki banyak sekali poin penting yang bisa sulit untuk terus diingat.

Selain itu, Penulis rasanya juga perlu mengutarakan kekurangan metode ini. Adanya “beban” untuk mencatat buku terkadang justru menghentikan Penulis membaca buku. Jika seperti itu, maka Penulis memutuskan untuk membaca saja tanpa mencatat, nanti kalau sudah mood baru direkap.

Semoga tulisan ini bisa sedikit “menginspirasi” Pembaca yang kerap mengalami keresahan yang sama dengan Penulis, alias suka lupa dengan apa yang sedang dibaca. Buat yang baru ingin mulai rutin membaca, metode pencatatan ini rasanya tidak terlalu direkomendasikan.


Lawang, 6 Oktober 2026, terinspirasi setelah telah mencatat apa yang sedang dibaca dalam sebuah catatan kecil

Continue Reading

Pengembangan Diri

Saya Membiasakan Diri Duduk Tegak Gara-gara Jang Wonyoung

Published

on

By

Jika membicarakan tentang IVE, tentu kita tidak bisa lepas dari nama Jang Wonyoung. Sebelum bergabung dengan Starship Entertainment, ia sudah debut duluan di IZ*ONE bersama An Yujin, yang sekarang jadi leader IVE.

Nah, salah satu hal yang paling sering Penulis dengar tentang Wonyoung adalah bagaimana ia dianggap pick me dan dianggap sebagai anak emas agensinya. Hal ini bisa benar, bisa tidak, mong Penulis enggak kenal.

Memang, berdasarkan hasil riset kawan Penulis yang merupakan pengamat dunia K-Pop, pemasukan yang dihasilkan Wonyoung seorang diri lebih besar dari keseluruhan IVE, sehingga terkesan “wajar” kalau ia diistimewakan oleh agensinya.

Namun, di tulisan kali ini, Penulis tidak akan membahas hal tersebut. Penulis justru akan membahas tentang hal yang agak nyeleneh, yakni tentang kebiasaan duduk Wonyoung yang ingin Penulis tiru.

Postur Duduk Jang Wonyoung

Sebenarnya, tidak ada yang istimewa dari postur duduk Wonyoung. Ia hanya membiasakan diri untuk duduk tegak dan menjaga postur tubuhnya tetap “sempurna”, bahkan ketika duduk yang tidak memiliki sandaran sekalipun.

Penulis mengetahui hal ini pertama kali ketika menonton acara reality show 1,2,3 IVE 5 Ep. 1, ketika semua member sedang bersauna. Ketika sedang duduk lesehan, terlihat kalau postur Wonyoung paling tegak di antara member yang lain.

Lihat Postur Duduk Wonyoung di Sebelah Paling Kiri (YouTube)

Hal ini juga terlihat di ajang-ajang penghargaan K-Pop, yang biasanya lewat di YouTube Shorts Penulis. Memang idol yang lain juga berusaha menjaga image dengan postur duduk yang baik, tapi Wonyoung memang yang paling terlihat.

Terbaru, ketika IVE menjadi bintang tamu di acara milik musisi Epic High, hal ini juga kembali dibahas (yang menjadi inspirasi tulisan ini). Bahkan, host-nya pun menanyakan apakah nyaman duduk dengan postur seperti itu.

Wonyoung (dan Rei yang ketika itu juga duduk dengan tegak) pun dengan enteng menjawab bahwa duduk dengan postur tersebut justru posisi yang paling nyaman. Jawaban tersebut membuat Liz yang duduk senden langsung membetulkan postur duduknya.

IVE di Channel YouTube Epic High (YouTube)

Sebagai orang yang kerjanya bisa 8 jam di depan layar monitor, posisi duduk menjadi krusial. Waktu awal-awal work from home (WFH) sekitar lima tahun lalu, Penulis kerap mengalami sakit punggung dan tangan.

Beberapa tahun ini, hal tersebut sudah berkurang drastis karena Penulis membeli beberapa aksesoris untuk meminimalisir timbulnya rasa sakit. Apalagi, Penulis sekarang menggunakan kursi ergonomis yang dibeli di IKEA.

Walau sudah menggunakan kursi yang ergonomis, posisi duduk Penulis masih kerap kurang ergonomis. Seringnya, Penulis justru duduk terlalu maju dan tidak menempatkan punggungnya di sandaran punggung yang sebenarnya sudah sangat ideal untuk menopang punggung Penulis.

Nah, entah mengapa ketika berada dalam posisi seperti ini, Penulis langsung teringat postur duduk Wonyoung dan akhirnya memperbaiki posisi duduknya. Ketika mendengarkan khotbah Jumatan pun Penulis sering teringat hal tersebut dan membetulkan posisi duduknya.

Dengan membiasakan diri duduk tegak seperti Wonyoung, Penulis berharap bisa mengurangi risiko untuk menjadi bungkuk dan memiliki postur tubuh yang buruk. Memang awalnya tidak nyaman dan terasa melelahkan, tapi harus dibiasakan.

Mindset ala Lucky Vicky

Lucky Vicky (Crast FM)

Selain postur duduk, satu hal lain yang ingin Penulis tiru dari Wonyoung adalah mindset Lucky Vicky yang dimilikinya. Sebenarnya, konsepnya sama dengan idiom every cloud has a sliver lining, di mana di setiap kejadian buruk, pasti ada hal baiknya.

Lucky Vicky menjadi identik dengan Wonyoung karena hal tersebut memang kerap diucapkannya. Ia jadi dikenal sebagai pribadi yang punya pikiran positif terhadap apa pun yang dihadapinya, mungkin juga ketika menghadapi para haters-nya.

Memang ia bukan membawa konsep baru, hanya melakukan rebranding yang sudah ada menjadi versinya sendiri. Alhasil, jadi banyak orang yang berusaha untuk mengikuti mindset positifnya tersebut.

Penutup

Sebetulnya, dua hal dari Wonyoung yang Penulis sebut di atas tersebut adalah contoh bagaimana kita sebenarnya memiliki pilihan ketika melihat sesuatu, mau melihat baiknya atau fokus ke buruknya.

Kalau kita fokus dengan hal buruknya, maka kita akan terus membenci Wonyoung yang dianggap pick me, dianakemaskan, obsesi untuk menjadi center, dan lain sebagainya. Padahal, ada hal-hal baik yang bisa kita jadikan inspirasi, yang terlupakan karena terlalu fokus dengan sisi buruknya (mindset Lucky Vicky).

Penulis bukan penggemar Wonyoung secara khusus, toh di IVE bias Penulis adalah Rei. Walau begitu, Penulis tidak menutup mata jika ada hal-hal baik yang bisa Penulis panutan di kehidupan sehari-hari.


Lawang, 15 Maret 2026, terinspirasi setelah melihat postur duduk Jang Wonyoung yang tegak

Continue Reading

Produktivitas

Productivity Hack #4: Kalau Cuma Butuh 5 Menit, Lakukan Sekarang

Published

on

By

Jika ada satu kekurangan pada dirinya sendiri yang begitu ingin dihilangkan, mungkin salah satunya adalah kebiasaan untuk menunda segala sesuatu. Mulai dari hal-hal remeh sampai pekerjaan penting, Penulis punya kecenderungan untuk menundanya (prokrastinasi).

Untuk pekerjaan yang ada deadline-nya, Penulis bisa bilang bisa menyelesaikannya, walau kadang juga harus mepet deadline. Namun, untuk pekerjaan yang tidak memiliki deadline, ada peluang besar dari later menjadi never.

Menyadari hal ini, Penulis pun mencoba melakukan metode sederhana yang sedang berusaha diterapkan di kesehariannya. Metode tersebut adalah “Aturan 5 Menit”, di mana jika sebuah pekerjaan bisa diselesaikan dalam waktu kurang dari 5 menit, kerjakan sekarang juga.

Contoh Aplikasi Aturan 5 Menit

Jangan Tunda Kalau Cuma Butuh Sebentar Melakukannya (Photo by cottonbro studio)

Sebelum menulis artikel ini, Penulis mencoba menerapkan metode ini agar tulisan ini terasa lebih nyata. Ada beberapa aktivitas yang Penulis lakukan di mana beberapa di antaranya sudah diniati sejak lama, tapi belum dikerjakan. Berikut daftarnya:

  • Mengisi ulang botol Cleo di ruang tamu
  • Merapikan tas-tas yang menumpuk dan berserakan dekat kasur
  • Menggantung sweater dan celana training di atas kasur
  • Mengubah posisi lampu LED di kamar (karena terbalik)
  • Membersihkan sarang laba-laba dekat meja kerja (suprisingly ada laba-laba betina beserta anak-anaknya)
  • Membersihkan sarang laba-laba dekat televisi (ada banyak bangkai semut yang mati)

Semua aktivitas tersebut jika waktu mengerjakannya digabung, tidak sampai 15 menit untuk selesai. Akan tetapi, waktu menundanya sudah berminggu-minggu atau lebih parahnya lagi berbulan-bulan. Padahal, tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikannya.

Bagi orang yang suka menunda seperti Penulis, di pikirannya selalu ada kata nanti. Ah, nanti aja dikerjakan. Ah, nanti aja diselesaikan. Ah, nanti aja dipikir. Pada akhirnya, “nanti” ini pun menjadi sesuatu yang tidak pernah dikerjakan dan akhirnya dilupakan.

“Tidak ada nanti”

Mengutip perkataan Shikamaru Nara di atas (manga Naruto Chapter 325) ketika ia berhadapan dengan Hidan, Penulis juga berusaha menghilangkan kata “nanti” dalam kesehariannya. Jika bisa dikerjakan sekarang, kerjakan sekarang.

Ketika sudah berkomitmen untuk menerapkannya, Penulis jadi lebih jarang untuk menunda-nunda pekerjaan terutama yang remeh (tentu terkadang masih ndableg). Alhasil, jadi lebih banyak pekerjaan yang terselesaikan.

Ada banyak hal sehari-hari yang hanya butuh kurang dari 5 menit untuk menyelesaikannya. Membersihkan tempat tidur, merapikan kabel charger setelah digunakan, cuci piring selesai makan, mengembalikan buku setelah selesai membaca, masih banyak lagi lainnya. Bisa dilihat kalau metode ini juga bisa digunakan untuk melatih disiplin diri.

Ketika bekerja pun, metode ini sangat membantu. Penulis terbiasa melakukan time block secara bulat, sehingga selalu ingin mengakhiri jam kerja di waktu bulan seperti jam 12 siang atau setidaknya 12:30. Rasanya sangat tidak enak jika berhenti kerja di jam 12:14, misalnya.

Nah, katakan jam 11:52 Penulis sudah menyelesaikan pekerjaan utamanya yang memakan waktu banyak, Penulis akan mencari pekerjaan-pekerjaan ringan yang bisa selesai dalam waktu singkat sembari menunggu jam 12:00.

Pekerjaan ringan di tempat kerja, walau ringan, bisa menumpuk juga dan membuat Penulis merasa overwhelming. Alhasil, pekerjaan yang ringan pun bisa menjadi penghambat untuk menyelesaikan pekerjaan yang lebih berat.

Sisi Buruk Aturan 5 Menit untuk Orang yang Mudah Terdistraksi

Kuncinya FOCUS (via YouTube)

Ada satu loop hole dari metode ini. Terkadang, karena ada mindset untuk segera mengerjakan pekerjaan-pekerjaan remeh, pekerjaan utama yang harusnya menjadi fokus utama justru jadi terpinggirkan. Ini sangat mudah terjadi ke orang yang mudah terdistraksi seperti Penulis.

Misal Penulis sedang membuat satu artikel di tempat kerja. Ketika ingin upload gambar, Penulis jadi melihat file-file di komputernya yang belum dirapikan. Penulis pun membuat folder baru untuk memisahkan file-file tersebut berdasarkan tanggalnya.

Setelah itu, Penulis jadi teringat belum melengkapi to-do list kantor untuk disetor. Karena cuma butuh waktu sebentar, Penulis pun jadi menyelesaikan hal tersebut terlebih dahulu. Ketika selesai, Penulis ingat belum cek surel redaksi, sehingga Penulis membuka Outlook dulu.

Bisa dilihat hanya karena satu distraksi kecil, pekerjaan menulis yang menjadi fokus utama pun jadi terpinggirkan. Alokasi waktu yang harusnya untuk menyelesaikan tulisan jadi digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan lain yang secara deadline lebih longgar.

Lantas, bagaimana cara mengatasinya? Time block menjadi pilihan utama Penulis. Jika sudah mengalokasikan waktu untuk menulis, maka tidak boleh ada pekerjaan lain yang dikerjakan sampai pekerjaan utama selesai (kecuali ada yang urgent).

Untuk pekerjaan-pekerjaan kecil yang hanya butuh waktu sebentar, Penulis bisa mencatatnya dulu di catatan agar tidak terlupa. Kalau bisa, di catatan fisik yang selalu terlihat mata. Kalau mencatatnya di ponsel, kemungkinan untuk melupakannya akan lebih besar.

Memang terdengar kontradiksi karena pada akhirnya pekerjaan <5 menit tersebut ditunda juga. Namun, skala prioritas juga menjadi sesuatu yang tidak boleh diabaikan. Kita harus tahu mana pekerjaan yang diutamakan, bukan hanya dari durasi untuk menyelesaikannya.

Sejauh ini, Penulis merasakan manfaat dari penerapan metode ini dalam kesehariannya. Sekarang yang menjadi PR adalah bagaimana konsisten melakukannya. Tidak ada nanti.


Lawang, 9 Desember 2025, terinspirasi dari dirinya yang sedang berusaha untuk menghilangkan kebiasaan menunda-nunda

Featured Image Photo by Moose Photos

Continue Reading

Fanandi's Choice

Blog ini milik Fanandi Prima Ratriansyah sejak 2018