Cinta Tak Perlu Merasa Berkorban

“Aaaaaah, cinta tak perlu pengorbanan!!! Saat kau mulai merasa berkorban, saat itulah cintamu mulai pudar!!!”

Sepenggal kalimat dari buku Sujiwo Tedjo yang berjudul Talijiwo. Penulis menyukai kalimat tersebut dan berupaya untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan.

Terdapat dua kata kunci di sini: cinta dan korban. Banyak orang ketika sedang dilanda cinta, ia akan merasa rela untuk berkorban melakukan apa saja demi yang ia cintai.

Sebagai contoh, penulis rela berkorban tidak makan demi membeli satu box set Agatha Christie yang berharga sekitar 400 ribu. Setelah membeli, ia merasa bangga karena berhasil mengorbankan perutnya demi sesuatu yang ia cintai.

Contoh lainnya, seorang pria rela berkorban hujan-hujanan demi memberikan kejutan untuk pujaan hati. Saat bertengkar, ia ungkit pengorbanannya tersebut di masa lampau.

Nah, ini yang mbah Tedjo anggap salah, karena ketika merasa berkorban, sejatinya cinta tersebut mulai pudar, karena cinta sejati tidak akan membuat pelakunya merasa berkorban.

Ilustrasi dari tulisan ini adalah salah satu episode dari Dragon Ball, di mana Picollo mengorbankan dirinya untuk melindungi Gohan. Apakah setelah mati Picollo mengatakan “Ingat, aku sudah melindungimu dari kematian.”? Tidak, ia justru berterimakasih kepada Gohan. Itulah cinta, tak pernah merasa berkorban.

Contoh lain yang lebih nyata? Coba saja lihat orangtua kita. Ibu kita tak pernah mengharapkan timbal balik dalam bentuk apapun sebagai biaya ganti perawatan kita, baik sejak di kandungan hingga beranjak dewasa. Ayah kita tak pernah mengeluh di hadapan kita banyaknya peluh yang beliau keluarkan ketika mencari nafkah.

Itulah cinta sejati, ia memiliki keterikatan yang kuat dengan ketulusan. Paragraf sebelumnya hanya merupakan contoh, yang mungkin tidak semua orang mengalaminya. Tapi penulis yakin, setiap manusia akan menemukan orang yang mencintainya dengan tulus, tanpa pernah merasa telah berkorban.

Ketika dirimu mulai merasa berkorban dalam mencintai seseorang, tengoklah ke dalam diri. Siapa tahu, cinta tersebut telah bermetamorfosis menjadi nafsu belaka.

 

 

Lawang, 18 Juni 2018, terinspirasi dari buku Sujiwo Tedjo berjudul Talijiwo.

Sumber Foto: youtube.com

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.