<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>inspirasi Archives - whathefan</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/inspirasi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/inspirasi/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 18 Apr 2026 12:31:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/02/logo-kotak-whathefan-2026-v3-80x80.jpg</url>
	<title>inspirasi Archives - whathefan</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/inspirasi/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Apa yang Dilakukan oleh Trump Memang Kebiasaan Amerika Serikat</title>
		<link>https://whathefan.com/tokohsejarah/apa-yang-dilakukan-oleh-trump-memang-kebiasaan-amerika-serikat/</link>
					<comments>https://whathefan.com/tokohsejarah/apa-yang-dilakukan-oleh-trump-memang-kebiasaan-amerika-serikat/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 Mar 2026 14:13:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tokoh & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Amerika Serikat]]></category>
		<category><![CDATA[Donald Trump]]></category>
		<category><![CDATA[geopolitik]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[negara]]></category>
		<category><![CDATA[perang]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8588</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tahun 2026 ternyata tahun yang jauh dari kedamaian. Pasalnya, ini baru sampai Maret, tapi Amerika Serikat (AS) sudah melakukan dua aksi militer ke negara lain yang berdaulat, yakni Venezuela dan Iran. Dengan berbagai dalih, Presiden Donald Trump membenarkan aksinya tersebut, yang jika kita lihat merupakan bentuk intervensi terhadap urusan negara orang lain. Ya, kita memang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/apa-yang-dilakukan-oleh-trump-memang-kebiasaan-amerika-serikat/">Apa yang Dilakukan oleh Trump Memang Kebiasaan Amerika Serikat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Tahun 2026 ternyata tahun yang jauh dari kedamaian. Pasalnya, ini baru sampai Maret, tapi <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/bagaimana-amerika-serikat-mendapatkan-wilayahnya-bagian-1/">Amerika Serikat (AS)</a> sudah melakukan dua aksi militer ke negara lain yang berdaulat, yakni <strong>Venezuela</strong> dan <strong>Iran</strong>.</p>



<p>Dengan berbagai dalih, Presiden <strong>Donald Trump </strong>membenarkan aksinya tersebut, yang jika kita lihat merupakan bentuk intervensi terhadap urusan negara orang lain. Ya, kita memang tahu kalau di balik itu ada kepentingan mereka sendiri.</p>



<p>Oh, jangan lupa dengan gebrakannya yang ingin mengambil alih <strong>Greenland</strong> dari Denmark, meskipun mereka sama-sama sekutu di bawah bendera NATO. Mungkin wacana tersebut batal, tapi kita bisa melihat &#8220;serakus&#8221; apa AS di bawah Trump.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/Header-via-pakistyles.com_-300x184.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/Header-via-pakistyles.com_-300x184.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/Header-via-pakistyles.com_-768x472.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/Header-via-pakistyles.com_-356x219.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/04/Header-via-pakistyles.com_.jpg 900w " alt="Ritual untuk Bangun Pagi" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/ritual-untuk-bangun-pagi/">Ritual untuk Bangun Pagi</a></div></div></div><p></p>


<p>Terbaru, Trump juga berencana untuk menyerang <strong>Kuba</strong> yang berada tepat di selatan wilayah negaranya. United Nations (UN) pun tak terlihat batang hidungnya belakangan ini. Sekadar mengecam pun tidak.</p>



<p>Mungkin kita terkejut dengan keputusan Trump yang terkesan arogan tersebut. Namun, jika menengok sejarah, sebenarnya apa yang dilakukan oleh Trump tersebut memang sudah menjadi semacam &#8220;kebiasaan&#8221; AS.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kebiasaan AS Mengurusi Urusan Negara Lain</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Apa-yang-Dilakukan-oleh-Trump-Memang-Kebiasaan-Amerika-Serikat-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8604" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Apa-yang-Dilakukan-oleh-Trump-Memang-Kebiasaan-Amerika-Serikat-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Apa-yang-Dilakukan-oleh-Trump-Memang-Kebiasaan-Amerika-Serikat-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Apa-yang-Dilakukan-oleh-Trump-Memang-Kebiasaan-Amerika-Serikat-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Apa-yang-Dilakukan-oleh-Trump-Memang-Kebiasaan-Amerika-Serikat.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Pulau Penuh Kotoran Burung (<a href="https://www.atlasobscura.com/articles/when-the-western-world-ran-on-guano">Atlas Obscura</a>)</figcaption></figure>



<p>Jangankan wilayah yang berdaulat, bahkan pulau kecil yang dipenuhi kotoran burung pun sempat menjadi target AS di masa lalu. Ini bukan mengada-ada, karena di tahun 1800-an, mereka berusaha memonopoli pulau-pulau kecil yang merupakan milik Peru.</p>



<p>Penulis mengetahui fakta ini dari video-video dari <strong>Johnny Harris</strong>. Nantinya, banyak contoh yang Penulis sebutkan di sini bersumber dari videonya. Intinya, mereka bahkan sampai mengancam Peru jika menghalangi bisnis kotoran burung untuk pupuk tersebut.</p>



<p>Menariknya, perkara menguasai pulau penuh kotoran burung tersebut adalah langkah awal AS menuju imperialisme. Namun, di artikel ini kita tidak akan membahas hal tersebut. Fokus kita adalah melihat intervensi AS ke negara lain di masa lalu. </p>



<h3 class="wp-block-heading">Guatemala dan Pisang</h3>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Apa-yang-Dilakukan-oleh-Trump-Memang-Kebiasaan-Amerika-Serikat-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8603" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Apa-yang-Dilakukan-oleh-Trump-Memang-Kebiasaan-Amerika-Serikat-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Apa-yang-Dilakukan-oleh-Trump-Memang-Kebiasaan-Amerika-Serikat-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Apa-yang-Dilakukan-oleh-Trump-Memang-Kebiasaan-Amerika-Serikat-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Apa-yang-Dilakukan-oleh-Trump-Memang-Kebiasaan-Amerika-Serikat-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">United Fruit Company di Guatemala (<a href="https://therealnews.com/guatemala-and-the-united-fruit-coup-under-the-shadow-episode-2">The Real News</a>)</figcaption></figure>



<p>Di <strong>Guatemala</strong> misalnya, di mana mereka intervensi karena satu alasan: <strong>pisang</strong>! Yup, demi mengamankan bisnis pisang mereka di sana (karena buah tersebut sangat populer di AS), mereka terlibat dalam penggulingan kekuasaan pemerintah yang ingin AS tidak memonopoli bisnis pisang di sana.</p>



<p>Mengapa AS sampai melangkah sejauh itu? Karena <strong>United Fruit Company,</strong> salah satu perusahaan buah terbesar, memiliki seperlima lahan pertanian di negara tersebut! Mereka juga punya infrastruktur lengkap seperti negara di dalam negara dan dukungan militer AS.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Pencaplokan Hawaii dan Gula</h3>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Apa-yang-Dilakukan-oleh-Trump-Memang-Kebiasaan-Amerika-Serikat-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8605" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Apa-yang-Dilakukan-oleh-Trump-Memang-Kebiasaan-Amerika-Serikat-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Apa-yang-Dilakukan-oleh-Trump-Memang-Kebiasaan-Amerika-Serikat-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Apa-yang-Dilakukan-oleh-Trump-Memang-Kebiasaan-Amerika-Serikat-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Apa-yang-Dilakukan-oleh-Trump-Memang-Kebiasaan-Amerika-Serikat-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Ratu Liliuokalani (<a href="https://www.biography.com/royalty/liliuokalani">Biography</a>)</figcaption></figure>



<p>Tahu <strong>Hawaii</strong>, bukan? Negara bagian AS berupa kepulauan di Samudra Pasifik tersebut dulunya merupakan sebuah kerajaan berdaulat yang tiba-tiba dianeksasi seenak <em>udel </em>oleh AS. Penyebabnya? Bisnis <strong>gula</strong>!</p>



<p>Awalnya, orang-orang kulit putih di sana datang sebagai misionaris untuk menyebarkan agama kristen. Lantas, mereka justru berbisnis dan salah satunya adalah dengan mendirikan industri gula.</p>



<p>Agar lancar, mereka pun membuat gerakan sistematis untuk menggulingkan pemerintahan yang sah (waktu itu dipimpin oleh <strong>Ratu Liliuokalani</strong>) dan digantikan oleh Sanford Dole yang punya bisnis gula.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Terusan Panama dan Kemerdekaan Panama</h3>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Apa-yang-Dilakukan-oleh-Trump-Memang-Kebiasaan-Amerika-Serikat-4-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8606" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Apa-yang-Dilakukan-oleh-Trump-Memang-Kebiasaan-Amerika-Serikat-4-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Apa-yang-Dilakukan-oleh-Trump-Memang-Kebiasaan-Amerika-Serikat-4-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Apa-yang-Dilakukan-oleh-Trump-Memang-Kebiasaan-Amerika-Serikat-4-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Apa-yang-Dilakukan-oleh-Trump-Memang-Kebiasaan-Amerika-Serikat-4.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Pembuatan Terusan Panama (<a href="https://www.chimuadventures.com/en/blog/construction-panama-canal">Chimu Adventure</a>)</figcaption></figure>



<p>Tahu <strong>Terusan Panama</strong>, bukan? Pada saat pembuatannya di awal 1900-an, Panama masih merupakan wilayah dari Kolombia. Nah, Kolombia menolak pembuatan kanal yang awalnya dikerjakan oleh arsitektur Prancis (walau berakhir gagal). </p>



<p>Sudah ketebak bukan apa yang terjadi selanjutnya? AS memberi dukungan kepada orang-orang Panama (Panamian) untuk merdeka dari Kolombia (termasuk senjata dan tentara), dengan syarat mereka boleh meneruskan pengerjaan Terusan Panama.</p>



<p>Singkat cerita, revolusi tersebut berhasil dan Panama pun menjadi negara merdeka. AS secara sigap menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan mereka. Terusan Panama pun jadi milik mereka hingga akhirnya dikembalikan ke Panama pada tahun 1999.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Contoh-Contoh Lainnya</h3>



<p>Di <strong>Indonesia</strong> sendiri, AS disebut menjadi<em> </em>dalang di balik lengsernya Sukarno yang sudah semakin ke kiri. Di <strong>Korea</strong>, hari ini ada dua negara (Utara dan Selatan) juga karena andil mereka bersama Uni Soviet. </p>



<p>Mungkin kalau yang lebih baru, adalah ketika mereka <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/amerika-serikat-dan-serangan-serangannya-ke-islam/">meluluhlantakkan <strong>Irak</strong> dan <strong>Libya</strong></a>, yang waktu itu dipimpin oleh <strong>Saddam Hussein </strong>dan <strong>Muammar Khadafi. </strong>Mereka dicap persis seperti pemimpin Venezuela dan Iran, yakni tiran yang harus disingkirkan demi &#8220;kebaikan rakyatnya&#8221;.</p>



<p>Percayalah, contoh-contoh di atas baru sebagian kecil saja. Negara yang satu ini memang hobi intervensi urusan negara orang lain, bahkan semakin parah di bawah kepresidenan Trump.</p>



<p class="has-text-align-center">***</p>



<p>Intervensi AS di Iran disebut bisa memicu Perang Dunia III, yang sudah kerap disebut sejak Rusia melakukan invasi ke Ukraina. Tentu banyak orang berharap hal tersebut tidak pernah terjadi, mayoritas dari kita hanya ingin hidup dengan damai.</p>



<p>Namun, memang ada pihak-pihak yang rasanya membenarkan peperangan dengan alasan &#8220;damai&#8221;. Secara ironis, hal ini membuat kita teringat dengan Pain dari serial <em>Naruto Shippuden</em>, yang tujuannya akhirnya memang perdamaian dengan cara kekerasan.</p>



<p>Logika yang digunakan Trump juga sesat. Dengan menggunakan logikanya, negara lain juga berhak menyerang AS dengan alasan Trump telah membuat rakyatnya menderita. Lihat saja kelakuan agen Immigration and Customs Enforcement (ICE) yang beberapa kali membunuh warga sipil.</p>



<p>Mau sampai kapan ia memutuskan untuk <a href="https://whathefan.com/filmserial/ironi-superhero-amerika/">menjadi polisi dunia</a> tanpa dilandasi hukum yang jelas? Penulis benar-benar tidak paham lagi jika sampai ada pemimpin dunia yang memutuskan berada di pihaknya.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 11 Maret 2026, terinspirasi setelah teringat bagaimana aksi ikut campur Amerika Serikat sudah dilakukan sejak dahulu kala</p>



<p>Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li><a href="https://youtu.be/W9KFkBvJcR4">How the U.S. Snagged All These Islands</a></li>



<li><a href="https://youtu.be/WWBCl8huNMA">How the US Stole Central America (With Bananas)</a></li>



<li><a href="https://youtu.be/XK2MBnw6RlY">How the US Stole Hawaii</a></li>



<li><a href="https://youtu.be/D_PtYPnKBJs">How The US Stole The Panama Canal, Mapped</a></li>
</ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/apa-yang-dilakukan-oleh-trump-memang-kebiasaan-amerika-serikat/">Apa yang Dilakukan oleh Trump Memang Kebiasaan Amerika Serikat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/tokohsejarah/apa-yang-dilakukan-oleh-trump-memang-kebiasaan-amerika-serikat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Productivity Hack #4: Kalau Cuma Butuh 5 Menit, Lakukan Sekarang</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hack-4-kalau-cuma-butuh-5-menit-lakukan-sekarang/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hack-4-kalau-cuma-butuh-5-menit-lakukan-sekarang/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 09 Dec 2025 16:47:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[menunda]]></category>
		<category><![CDATA[produktif]]></category>
		<category><![CDATA[prokrastinasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8470</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jika ada satu kekurangan pada dirinya sendiri yang begitu ingin dihilangkan, mungkin salah satunya adalah kebiasaan untuk menunda segala sesuatu. Mulai dari hal-hal remeh sampai pekerjaan penting, Penulis punya kecenderungan untuk menundanya (prokrastinasi). Untuk pekerjaan yang ada deadline-nya, Penulis bisa bilang bisa menyelesaikannya, walau kadang juga harus mepet deadline. Namun, untuk pekerjaan yang tidak memiliki [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hack-4-kalau-cuma-butuh-5-menit-lakukan-sekarang/">Productivity Hack #4: Kalau Cuma Butuh 5 Menit, Lakukan Sekarang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Jika ada satu kekurangan pada dirinya sendiri yang begitu ingin dihilangkan, mungkin salah satunya adalah kebiasaan untuk menunda segala sesuatu. Mulai dari hal-hal remeh sampai pekerjaan penting, Penulis punya kecenderungan untuk menundanya (prokrastinasi).</p>



<p>Untuk pekerjaan yang ada <em>deadline</em>-nya, Penulis bisa bilang bisa menyelesaikannya, walau kadang juga harus mepet <em>deadline</em>. Namun, untuk pekerjaan yang tidak memiliki <em>deadline</em>, ada peluang besar dari <em>later </em>menjadi <em>never</em>.</p>



<p>Menyadari hal ini, Penulis pun mencoba melakukan metode sederhana yang sedang berusaha diterapkan di kesehariannya. Metode tersebut adalah <strong>&#8220;Aturan 5 Menit&#8221;</strong>, di mana jika sebuah pekerjaan bisa diselesaikan dalam waktu kurang dari 5 menit, kerjakan sekarang juga. </p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/maxresdefault-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/maxresdefault-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/maxresdefault-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/maxresdefault-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/maxresdefault-356x200.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/06/maxresdefault.jpg 1280w " alt="Daya Tarik Wanita Pemalu" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/animekomik/daya-tarik-wanita-pemalu/">Daya Tarik Wanita Pemalu</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Contoh Aplikasi Aturan 5 Menit</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Productivity-Hack-4-Kalau-Cuma-Butuh-5-Menit-Lakukan-Sekarang-a-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Productivity-Hack-4-Kalau-Cuma-Butuh-5-Menit-Lakukan-Sekarang-a-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Productivity-Hack-4-Kalau-Cuma-Butuh-5-Menit-Lakukan-Sekarang-a-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Productivity-Hack-4-Kalau-Cuma-Butuh-5-Menit-Lakukan-Sekarang-a-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Productivity-Hack-4-Kalau-Cuma-Butuh-5-Menit-Lakukan-Sekarang-a.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Jangan Tunda Kalau Cuma Butuh Sebentar Melakukannya (Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/woman-carrying-stacked-books-4107106/">cottonbro studio</a>)</figcaption></figure>



<p>Sebelum menulis artikel ini, Penulis mencoba menerapkan metode ini agar tulisan ini terasa lebih nyata. Ada beberapa aktivitas yang Penulis lakukan di mana beberapa di antaranya sudah diniati sejak lama, tapi belum dikerjakan. Berikut daftarnya:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Mengisi ulang botol Cleo di ruang tamu</li>



<li>Merapikan tas-tas yang menumpuk dan berserakan dekat kasur</li>



<li>Menggantung <em>sweater </em>dan celana <em>training </em>di atas kasur</li>



<li>Mengubah posisi lampu LED di kamar (karena terbalik)</li>



<li>Membersihkan sarang laba-laba dekat meja kerja (<em>suprisingly </em>ada laba-laba betina beserta anak-anaknya)  </li>



<li>Membersihkan sarang laba-laba dekat televisi (ada banyak bangkai semut yang mati)</li>
</ul>



<p>Semua aktivitas tersebut jika waktu mengerjakannya digabung, tidak sampai 15 menit untuk selesai. Akan tetapi, waktu menundanya sudah berminggu-minggu atau lebih parahnya lagi berbulan-bulan. Padahal, tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikannya.</p>



<p>Bagi orang yang suka menunda seperti Penulis, <strong>di pikirannya selalu ada kata nanti</strong>. Ah, nanti aja dikerjakan. Ah, nanti aja diselesaikan. Ah, nanti aja dipikir. Pada akhirnya, &#8220;nanti&#8221; ini pun menjadi sesuatu yang tidak pernah dikerjakan dan akhirnya dilupakan.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">&#8220;Tidak ada nanti&#8221;</mark></p>
</blockquote>



<p>Mengutip perkataan Shikamaru Nara di atas (manga <em>Naruto Chapter 325</em>) ketika ia berhadapan dengan Hidan, Penulis juga berusaha menghilangkan kata &#8220;nanti&#8221; dalam kesehariannya. Jika bisa dikerjakan sekarang, kerjakan sekarang. </p>



<p>Ketika sudah berkomitmen untuk menerapkannya, Penulis jadi <strong>lebih jarang untuk menunda-nunda pekerjaan</strong> terutama yang remeh (tentu terkadang masih <em>ndableg</em>). Alhasil, <strong>jadi lebih banyak pekerjaan yang terselesaikan</strong>.</p>



<p>Ada banyak hal sehari-hari yang hanya butuh kurang dari 5 menit untuk menyelesaikannya. Membersihkan tempat tidur, merapikan kabel <em>charger</em> setelah digunakan, cuci piring selesai makan, mengembalikan buku setelah selesai membaca, masih banyak lagi lainnya. Bisa dilihat kalau metode ini juga bisa digunakan untuk<a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/pentingnya-catatan-yang-selalu-terlihat-oleh-mata/"> </a>melatih disiplin diri. </p>



<p>Ketika bekerja pun, metode ini sangat membantu. Penulis terbiasa melakukan <em><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hacks-3-time-blocking/">time block</a> </em>secara bulat, sehingga selalu ingin mengakhiri jam kerja di waktu bulan seperti jam 12 siang atau setidaknya 12:30. Rasanya sangat tidak enak jika berhenti kerja di jam 12:14, misalnya.</p>



<p>Nah, katakan jam 11:52 Penulis sudah menyelesaikan pekerjaan utamanya yang memakan waktu banyak, Penulis akan mencari pekerjaan-pekerjaan ringan yang bisa selesai dalam waktu singkat sembari menunggu jam 12:00. </p>



<p>Pekerjaan ringan di tempat kerja, walau ringan, bisa menumpuk juga dan membuat Penulis merasa <em>overwhelming</em>. Alhasil, pekerjaan yang ringan pun bisa menjadi penghambat untuk menyelesaikan pekerjaan yang lebih berat.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Sisi Buruk Aturan 5 Menit untuk Orang yang Mudah Terdistraksi</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Productivity-Hack-4-Kalau-Cuma-Butuh-5-Menit-Lakukan-Sekarang-b-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8475" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Productivity-Hack-4-Kalau-Cuma-Butuh-5-Menit-Lakukan-Sekarang-b-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Productivity-Hack-4-Kalau-Cuma-Butuh-5-Menit-Lakukan-Sekarang-b-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Productivity-Hack-4-Kalau-Cuma-Butuh-5-Menit-Lakukan-Sekarang-b-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Productivity-Hack-4-Kalau-Cuma-Butuh-5-Menit-Lakukan-Sekarang-b.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Kuncinya FOCUS (via <a href="https://www.youtube.com/watch?v=Ur7aK4FvK-U&amp;list=RDUr7aK4FvK-U&amp;start_radio=1">YouTube</a>)</figcaption></figure>



<p>Ada satu <em>loop hole </em>dari metode ini. Terkadang, karena ada <em>mindset </em>untuk segera mengerjakan pekerjaan-pekerjaan remeh,<strong> pekerjaan utama yang harusnya menjadi fokus utama justru jadi terpinggirkan</strong>. Ini sangat mudah terjadi ke orang yang mudah terdistraksi seperti Penulis.</p>



<p>Misal Penulis sedang membuat satu artikel di tempat kerja. Ketika ingin <em>upload </em>gambar, Penulis jadi melihat <em>file-file </em>di komputernya yang belum dirapikan. Penulis pun membuat folder baru untuk memisahkan <em>file-file </em>tersebut berdasarkan tanggalnya.</p>



<p>Setelah itu, Penulis jadi teringat belum melengkapi <em>to-do list </em>kantor untuk disetor. Karena cuma butuh waktu sebentar, Penulis pun jadi menyelesaikan hal tersebut terlebih dahulu. Ketika selesai, Penulis ingat belum cek surel redaksi, sehingga Penulis membuka Outlook dulu.</p>



<p>Bisa dilihat hanya karena satu distraksi kecil, pekerjaan menulis yang menjadi fokus utama pun jadi terpinggirkan. Alokasi waktu yang harusnya untuk menyelesaikan tulisan jadi digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan lain yang secara <em>deadline </em>lebih longgar.</p>



<p>Lantas, bagaimana cara mengatasinya? <strong><em>Time block </em>menjadi pilihan utama Penulis</strong>. Jika sudah mengalokasikan waktu untuk menulis, maka tidak boleh ada pekerjaan lain yang dikerjakan sampai pekerjaan utama selesai (kecuali ada yang <em>urgent</em>).</p>



<p>Untuk pekerjaan-pekerjaan kecil yang hanya butuh waktu sebentar, Penulis bisa<strong> mencatatnya dulu di catatan </strong>agar tidak terlupa. Kalau bisa, <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/pentingnya-catatan-yang-selalu-terlihat-oleh-mata/">di catatan fisik yang selalu terlihat mata</a>. Kalau mencatatnya di ponsel, kemungkinan untuk melupakannya akan lebih besar.</p>



<p>Memang terdengar kontradiksi karena pada akhirnya pekerjaan &lt;5 menit tersebut ditunda juga. Namun, <strong>skala prioritas juga menjadi sesuatu yang tidak boleh diabaikan</strong>. Kita harus tahu mana pekerjaan yang diutamakan, bukan hanya dari durasi untuk menyelesaikannya.</p>



<p>Sejauh ini, Penulis merasakan manfaat dari penerapan metode ini dalam kesehariannya. Sekarang yang menjadi PR adalah bagaimana konsisten melakukannya. Tidak ada nanti.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 9 Desember 2025, terinspirasi dari dirinya yang sedang berusaha untuk menghilangkan kebiasaan menunda-nunda</p>



<p>Featured Image Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/gray-double-bell-clock-1037993/">Moose Photos</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hack-4-kalau-cuma-butuh-5-menit-lakukan-sekarang/">Productivity Hack #4: Kalau Cuma Butuh 5 Menit, Lakukan Sekarang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hack-4-kalau-cuma-butuh-5-menit-lakukan-sekarang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Memahami Sumber Ketidakbahagiaan untuk Menemukan Kebahagiaan</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/memahami-sumber-ketidakbahagiaan-untuk-menemukan-kebahagiaan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/memahami-sumber-ketidakbahagiaan-untuk-menemukan-kebahagiaan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 17 Sep 2025 15:22:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8409</guid>

					<description><![CDATA[<p>Siapa yang tidak ingin bahagia? Penulis rasa sudah fitrahnya manusia untuk merasa bahagia selama dia hidup. Walaupun definisi bahagia orang bisa berbeda-beda, sudah sewajarnya manusia mengejar kebahagiaan. Jika disuruh mendeskripsikan apa itu bahagia, jujur Penulis sedikit kebingungan mendefinisikan versi Penulis. Mungkin karena tidak memahami apa makna dari kebahagiaan inilah Penulis jadi jarang merasa bahagia. Karena [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/memahami-sumber-ketidakbahagiaan-untuk-menemukan-kebahagiaan/">Memahami Sumber Ketidakbahagiaan untuk Menemukan Kebahagiaan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Siapa yang tidak ingin bahagia? Penulis rasa sudah fitrahnya manusia untuk merasa bahagia selama dia hidup. Walaupun definisi bahagia orang bisa berbeda-beda, sudah sewajarnya manusia mengejar kebahagiaan.</p>



<p>Jika disuruh mendeskripsikan apa itu bahagia, jujur Penulis sedikit kebingungan mendefinisikan versi Penulis. Mungkin karena tidak memahami apa makna dari kebahagiaan inilah Penulis jadi <a href="https://whathefan.com/olahraga/kunci-bahagia-jangan-jadi-fans-manchester-united/">jarang merasa bahagia</a>.</p>



<p>Karena merasa kesulitan mendefinisikan kebahagiaan, Penulis mencoba untuk berpikir sebaliknya. Bagaimana jika kita mencari apa yang membuat kita tidak bahagia, karena lebih mudah untuk diidentifikasi? </p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/tentang-rasa-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/tentang-rasa-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/tentang-rasa-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/tentang-rasa-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/02/tentang-rasa-banner.jpg 1280w " alt="Tentang Rasa" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/rasa/tentang-rasa/">Tentang Rasa</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Memahami Apa Penyebab Ketidakbahagiaan</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Memahami-Sumber-Ketidakbahagiaan-untuk-Menemukan-Kebahagiaan-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8412" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Memahami-Sumber-Ketidakbahagiaan-untuk-Menemukan-Kebahagiaan-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Memahami-Sumber-Ketidakbahagiaan-untuk-Menemukan-Kebahagiaan-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Memahami-Sumber-Ketidakbahagiaan-untuk-Menemukan-Kebahagiaan-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Memahami-Sumber-Ketidakbahagiaan-untuk-Menemukan-Kebahagiaan-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Kita Lebih Mudah Tidak Bahagia daripada Bahagia (<a href="https://www.pexels.com/photo/woman-leaning-at-the-table-3209117/">Engin Akyurt</a>)</figcaption></figure>



<p>Tentu banyak hal yang bisa membuat kita tidak bahagia. Namun, jika dirumuskan dalam satu kalimat, Penulis meyakini kalau ketidakbahagiaan muncul ketika <strong>gambaran ideal yang ada di kepala tidak menjadi kenyataan</strong>.</p>



<p>Misalnya begini. Bagi Penulis, secara ideal Penulis harus bisa bangun pagi yang dilanjutkan dengan lari pagi. Setelah itu, mandi pagi, menulis artikel blog, baru mulai bekerja. Jika semua rangkaian tersebut tidak terlaksana, Penulis merasa gagal, dan akhirnya tidak bahagia</p>



<p>Contoh lain, bagi Penulis penghasilan yang ideal adalah 20 juta rupiah per bulan. Namun, hingga saat ini Penulis belum bisa mencapai nominal tersebut. Karena tidak sesuai dengan gambaran idealnya, Penulis pun jadi merasa tidak bahagia.</p>



<p>Sekarang Penulis mengambil contoh gambaran ideal ke orang lain. Misal kita punya gambaran ideal tentang pasangan di kepala: perhatian, peka, pendengar yang baik, loyal. Nah, ketika mendapatkan pasangan yang tidak sesuai dengan gambaran ideal tersebut, kita tidak bahagia.</p>



<p>Dengan kata lain, kita harus <strong>pandai-pandai mengelola ekspektasi yang ada di kepala kita</strong>, entah itu ekspektasi ke diri sendiri maupun ke orang lain. Tentu bukan berarti kita jadi punya target yang rendah dalam hidup, tapi lebih bisa menerima jika target tersebut belum bisa dicapai.</p>



<p>Sejujurnya karena tulisan ini lama ditunda, Penulis lupa di mana menemukan konsep di atas. Kemungkinan besar dari buku <em><a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-filsafat-kebahagiaan/">Filsafat Kebahagiaan</a></em>, tapi Penulis tak bisa memastikan. Jadi, anggap saja benar.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Bersyukur Setiap Kali Mengeluh</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Memahami-Sumber-Ketidakbahagiaan-untuk-Menemukan-Kebahagiaan-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8414" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Memahami-Sumber-Ketidakbahagiaan-untuk-Menemukan-Kebahagiaan-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Memahami-Sumber-Ketidakbahagiaan-untuk-Menemukan-Kebahagiaan-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Memahami-Sumber-Ketidakbahagiaan-untuk-Menemukan-Kebahagiaan-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Memahami-Sumber-Ketidakbahagiaan-untuk-Menemukan-Kebahagiaan-3.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Selalu Cari Apa yang Bisa Disyukuri (<a href="https://www.pexels.com/photo/crop-faceless-sportswoman-showing-namaste-gesture-4498156/">Kaboompics.com</a>)</figcaption></figure>



<p>Dalam buku <em>Effortless </em>karya Greg McKeown yang sedang dibaca, Penulis menemukan satu konsep yang menarik. Dalam salah satu babnya, kita diajak<strong> membiasakan diri untuk mensyukuri sesuatu setiap kali kita mengeluh</strong>.</p>



<p>Kalau Penulis tarik, ini bisa Penulis kaitkan dengan bahasan kebahagiaan dan ketidakbahagiaan di tulisan ini. Keluhan identik dengan ketidakbahagiaan, sedangkan rasa syukur identik dengan kebahagiaan.</p>



<p>Misal begini, kita mengeluhkan betapa banyaknya kerjaan yang terasa tidak masuk akal untuk kita kerjakan sendiri. Alhasil kita jadi merasa tidak bahagia, karena menurut gambaran ideal kita, seharusnya kita tidak mengerjakan tugas sebanyak itu.</p>



<p>Nah, begitu terbesit keluhan tersebut, coba kita cari satu hal saja yang bisa disyukuri tentang pekerjaan tersebut. Setidaknya, kita masih punya pekerjaan di tengah badai PHK di banyak tempat dan kondisi ekonomi seperti ini. </p>



<p>Contoh lain, kita merasa sebal karena pasangan kita kurang pengertian dan kurang peka. Dari keluhan tersebut, coba cari hal yang bisa disyukuri darinya. Oh, walau dia gitu, tapi dia setia banget dan selalu mau membantu di kala kita kesusahan.</p>



<p>Kalau mengingat hal-hal yang bisa disyukuri, gambaran ideal di kepala pun akan menyesuaikan diri. Dengan demikian, kita akan mencocokkan realita dengan bayangan ideal kita, sehingga kita bisa merasa bahagia.</p>



<p>Jadi, jika disimpulkan, maka kebahagiaan adalah ketika <strong>kita bisa mengelola gambaran ideal yang ada di kepala kita</strong>. Kebahagiaan adalah ketika <strong>kita bisa mengelola ekspektasi kita dengan baik</strong>. <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-lupa-bahagia/">Jangan lupa bahagia</a>!</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 17 September 2025, terinspirasi karena merasa dirinya perlu mendefinisikan ulang mengenai apa itu kebahagiaan</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/photo/photo-of-woman-wearing-white-shirt-2701660/">Jorge Fakhouri Filho</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/memahami-sumber-ketidakbahagiaan-untuk-menemukan-kebahagiaan/">Memahami Sumber Ketidakbahagiaan untuk Menemukan Kebahagiaan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/memahami-sumber-ketidakbahagiaan-untuk-menemukan-kebahagiaan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jangan Menunggu Sempurna, Mulai Aja Dulu</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-menunggu-sempurna-mulai-aja-dulu/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-menunggu-sempurna-mulai-aja-dulu/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 16 Sep 2025 14:35:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[mulai]]></category>
		<category><![CDATA[perfeksionis]]></category>
		<category><![CDATA[sempurna]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8399</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sejak dulu, Penulis merasa dirinya adalah seorang perfeksionis parah. Segala sesuatu harus sesuai dengan standarnya. Bahkan, tak jarang kalau Penulis baru akan memulai sesuatu jika merasa itu sudah sempurna. Tak hanya itu, Penulis kerap menanti waktu terbaik untuk memulainya agar sempurna seperti yang ada di bayangannya. Alhasil, karena menunggu kesempurnaan itu, Penulis justru tidak memulai-mulainya. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-menunggu-sempurna-mulai-aja-dulu/">Jangan Menunggu Sempurna, Mulai Aja Dulu</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sejak dulu, Penulis merasa dirinya adalah seorang perfeksionis parah. Segala sesuatu harus sesuai dengan standarnya. Bahkan, tak jarang kalau Penulis baru akan memulai sesuatu jika merasa itu sudah sempurna.</p>



<p>Tak hanya itu, Penulis kerap menanti waktu terbaik untuk memulainya agar sempurna seperti yang ada di bayangannya. Alhasil, karena menunggu kesempurnaan itu, Penulis justru tidak memulai-mulainya. </p>



<p>Nah, saat ini Penulis sedang membaca buku <em>Effortless</em> karya Greg McKeown. Salah satu poin yang tertera di buku tersebut adalah <strong>Dimulai</strong>. Intinya kita harus melakukan satu aksi pertama yang nyata, yang benar-benar kita lakukan. Itulah yang ingin Penulis bahas kali ini.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/setelah-membaca-selamat-tinggal-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/setelah-membaca-selamat-tinggal-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/setelah-membaca-selamat-tinggal-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/setelah-membaca-selamat-tinggal-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/setelah-membaca-selamat-tinggal-banner.jpg 1280w " alt="Setelah Membaca Selamat Tinggal" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-selamat-tinggal/">Setelah Membaca Selamat Tinggal</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Menengok Ketidaksempurnaan Mangaka Populer</h2>



<p>Dibandingkan menonton anime, Penulis lebih suka membaca komik karena membutuhkan durasi yang lebih singkat. Menariknya, dari sekian banyak komik yang pernah dibaca, Penulis menemukan satu kesamaan: <strong>tidak semua mangaka langsung bisa menggambar dengan bagus</strong>.</p>



<p>Contoh yang paling terkenal kasus ini adalah <strong>Hajime Isayama</strong>, mangaka <em>Attack on Titan.</em> Banyak orang yang membandingkan bagaimana &#8220;mentahnya&#8221; gambar di awal-awal jika dibandingkan dengan <em>chapter-chapter </em>yang paling baru.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8402" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Evolusi Gambar Attack on Titan (<a href="https://www.reddit.com/r/ShingekiNoKyojin/comments/139l83o/isayamas_artstyles_evolution_through_the_years/">Reddit</a>)</figcaption></figure>



<p>Tak hanya Isayama, Penulis juga merasa ada evolusi dari gambar Masashi Kishimoto (<em><a href="https://whathefan.com/animekomik/saya-memutuskan-untuk-mengoleksi-komik-naruto-bind-up-edition/">Naruto</a></em>), <a href="https://whathefan.com/animekomik/terima-kasih-akira-toriyama-selamat-jalan/">Akira Toriyama</a> (<em><a href="https://whathefan.com/animekomik/saya-memutuskan-untuk-mengoleksi-komik-dragon-ball-super/">Dragon Ball</a></em>), Eiichiro Oda (<em><a href="https://whathefan.com/animekomik/alasan-saya-tidak-suka-one-piece/">One Piece</a></em>), dan masih banyak lagi. Biasanya, <em>chapter-chapter </em>awal para mangaka tersebut masih mencari formula terbaik untuk komiknya.</p>



<p>Tentu ada standar minimum agar karya mereka bisa lolos dari editor. Namun, tetap saja jika dibandingkan dengan <em>chapter-chapter </em>terbaru dari komik tersebut, kita bisa melihat perubahan ke arah yang lebih baik.</p>



<p>Tak hanya komik, Webtoon pun memiliki pola yang sama. Dari beberapa judul favorit Penulis seperti <em>Ngopi Yuk!</em>,<em> <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-melepas-perasaan-bersalah-dari-kosan-95/">Kosan 95</a></em>, <em>Si Ocong</em>, sampai <em>Tahilalat</em> pun juga tak langsung sempurna. Mereka tak menanti sempurna, yang penting mulai dulu aja.</p>



<p>Bahkan blog ini pun bisa dibilang juga memiliki pola yang sama. Ketika Penulis membaca tulisan-tulisan awal yang terbit di tahun 2018, Penulis merasa malu sendiri karena kualitasnya jelek dan banyak kesalahan penulisan yang mendasar.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mulai Dulu Aja</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8403" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Mulai Aja Dulu (<a href="https://www.pexels.com/photo/women-s-wearing-purple-floral-brassiere-holding-gray-concrete-pathway-during-day-time-42400/">JÉSHOOTS</a>)</figcaption></figure>



<p>Penulis menyadari bahwa perfeksionisme justru bisa menjadi benalu yang menghambat perkembangan diri. Menanti sesuatu yang tak akan pernah datang, seperti kesempurnaan, hanya akan berakhir dengan buruk.</p>



<p>Dari buku <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-atomic-habits/"><em>Atomic Habits </em>karya James Clear</a>, Penulis belajar bahwa untuk memulai sesuatu, <strong>mulailah dari yang kecil terlebih dahulu</strong>. Bangun lima menit lebih awal, menulis satu paragraf, membaca satu halaman, mengubah satu baris CV, adalah beberapa contohnya. <strong>Jangan dibuat ribet, buat sesederhana mungkin</strong>.</p>



<p>Misal Penulis ingin mengejar lagi cita-citanya untuk bekerja di luar negeri. Tidak perlu muluk-muluk harus <em>apply </em>10 perusahaan dalam sehari. Penulis bisa memulai dengan memeriksa CV lamanya untuk mengecek apakah sudah layak atau belum.</p>



<p>Contoh lain adalah ketika Penulis ingin memiliki keseharian yang lebih sehat dan teratur. Maklum, bekerja dari rumah (WFH) selama hampir lima tahun membuat Penulis cukup kesulitan untuk mendisiplinkan diri. </p>



<p>Jadi, harus ada langkah-langkah kecil yang nyatan dan harus diambil untuk memperbaiki hal tersebut. Penulis memutuskan untuk merutinkan jalan kaki ke masjid setiap waktu sholat tiba, yang membuat Penulis jadi lebih disiplin waktu dibandingkan sebelumnya.</p>



<p>Kembalinya blog ini juga buah dari <em>mulai aja dulu</em>. Penulis dulu merasa perfeksionis dengan merasa nulis blog itu harus ada <em>time block</em>-nya sendiri, di pagi hari sebelum jam bekerja. Alhasil, blog pun jadi terbengkalai selama berbulan-bulan.</p>



<p>Penulis pun coba mengubah <em>mindset</em>-nya, yang penting nulis hari ini. Tidak sampai tayang pun tidak apa, yang penting mulai nulis dulu aja. Menariknya, setiap memulai menulis, pada akhirnya tulisan tersebut bisa tuntas hingga tayang.</p>



<p>Lantas, gimana kalau ketika kita misalnya ingin membangun rutinitas harian, tapi sering <em>miss</em>-nya? Ya, tidak apa-apa. <strong>Jangan mengejar kesempurnaan</strong> harus melakukan rutinitas tersebut selama 7 hari dalam seminggu. </p>



<p>Dibandingkan mengejar <em>streak</em>, yang penting ada berusaha agar setiap harinya bisa melakukan rutinitas tersebut. Kalau masih bolong-bolong pun tidak apa-apa. Akan tetapi, kalau bisa memang jangan bolong terlalu panjang, nanti malah berhenti total.</p>



<p>Untuk memudahkan, setiap kepikiran ingin melakukan sesuatu, langsung pikirkan apa yang harus dilakukan pertama kali. Nantinya, langkah-langkah selanjutnya akan mengikuti dengan sendirinya. Sekadar mencatat pun sudah cukup, yang penting ada aksi nyata yang dilakukan.</p>



<p>Hal lain yang tak kalah penting adalah <strong>jangan suka</strong> <strong>menunda-nunda</strong>. Ini adalah kebiasaan buruk Penulis yang sering dilakukan. Akibatnya, banyak hal jadi terlupakan begitu saja tanpa pernah direalisasikan. Ide-ide tulisan blog misalnya, yang keburu usang karena sudah lupa apa yang ingin ditulis.</p>



<p>Satu hal lain yang cukup fatal adalah Penulis merupakan tipe yang kalau <strong>satu tidak dilakukan, maka semua tidak dilakukan</strong>. Ini adalah puncak dari masalah yang ditimbulkan oleh sifat perfeksionisme, yang sering <em>all or nothing</em>.</p>



<p>Padahal, jika ada satu hal yang tidak sesuai rencana, masih ada banyak hal lain yang bisa diperjuangkan untuk diselesaikan. Jangan hanya karena satu hal membuat berantakan semuanya. Lebih baik kita fokus dengan apa yang masih bisa diselesaikan. </p>



<p>Sebagai orang yang sangat perfeksionis, belakangan ini <strong>Penulis berusaha berdamai dengan ketidaksempurnaan</strong>. Tidak semuanya harus sempurna sesuai dengan keinginan kita. Jika bisa melakukannya, mungkin kita akan bisa melakukan apa yang dulu kita anggap mustahil.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>16 September 2025, terinspirasi setelah menyadari bahwa kita tak perlu menunggu sempurna untuk memulai sesuatu</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/photo/woman-in-white-long-sleeve-shirt-holding-pink-and-white-floral-textile-6932014/">Mikhail Nilov</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-menunggu-sempurna-mulai-aja-dulu/">Jangan Menunggu Sempurna, Mulai Aja Dulu</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-menunggu-sempurna-mulai-aja-dulu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jika Kita Ada di Kursi Mereka, Apakah Kita akan Tetap Berisik?</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/jika-kita-ada-di-kursi-mereka-apakah-kita-akan-tetap-berisik/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/jika-kita-ada-di-kursi-mereka-apakah-kita-akan-tetap-berisik/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Sep 2025 16:55:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[DPR]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerintah]]></category>
		<category><![CDATA[rakyat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8340</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ini adalah tulisan keempat secara beruntun yang membahas tentang isu masyarakat vs pemerintah yang memanas dalam beberapa minggu terakhir. Mungkin ini akan jadi penutup, sehingga akan Penulis gunakan sebagai bahan renungan bersama. Meskipun masih terpolarisasi karena hal yang remeh, Penulis melihat kita sebagai rakyat cukup bersatu dalam aksi sepanjang akhir Agustus hingga awal September kemarin. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/jika-kita-ada-di-kursi-mereka-apakah-kita-akan-tetap-berisik/">Jika Kita Ada di Kursi Mereka, Apakah Kita akan Tetap Berisik?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ini adalah tulisan keempat secara beruntun yang membahas tentang isu masyarakat vs pemerintah yang memanas dalam beberapa minggu terakhir. Mungkin ini akan jadi penutup, sehingga akan Penulis gunakan sebagai bahan renungan bersama.</p>



<p>Meskipun <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-brave-pink-hero-green-mengapa-kita-mudah-terpolarisasi/">masih terpolarisasi karena hal yang remeh,</a> Penulis melihat kita sebagai rakyat cukup bersatu dalam aksi sepanjang akhir Agustus hingga awal September kemarin. Pasti ada yang masih pro pemerintah, tapi rasanya kali ini mereka minoritas, atau memang enggak kelihatan aja.</p>



<p>Kita bisa bersatu seperti itu karena kita merasa punya &#8220;musuh&#8221; yang sama, di mana di sini adalah pemerintah terutama DPR yang jadi sasaran utama, maupun pihak pengamanan yang dinilai terlalu brutal hingga ada yang tewas.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/setelah-membaca-brianna-dan-bottomwise-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/setelah-membaca-brianna-dan-bottomwise-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/setelah-membaca-brianna-dan-bottomwise-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/setelah-membaca-brianna-dan-bottomwise-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/10/setelah-membaca-brianna-dan-bottomwise-banner.jpg 1280w " alt="Setelah Membaca Brianna dan Bottomwise" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/buku/fiksi/setelah-membaca-brianna-dan-bottomwise/">Setelah Membaca Brianna dan Bottomwise</a></div></div></div><p></p>


<p>Bisa dibilang, saat ini kita sama-sama sedang &#8220;menggonggong&#8221; untuk menuntut keadilan, apalagi setelah melihat angka fantastis yang diterima oleh para pejabat di saat kehidupan masyarakat sedang sulit, di saat PHK di mana-mana dan ekonomi terasa berat.</p>



<p>Namun, di satu sisi, Penulis jadi merenungkan satu pertanyaan:<strong> </strong>jika kita berada di dalam menjadi bagian dari pemerintah, <strong>apakah kita akan tetap berisik seperti sekarang atau justru diam-diam saja sembari menikmati segala fasilitas dan tunjangan yang diberikan?</strong></p>



<h2 class="wp-block-heading">Katanya, Pemerintah Itu Cerminan Rakyatnya</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jika-Kita-Ada-di-Kursi-Mereka-Apakah-Kita-akan-Tetap-Berisik-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8346" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jika-Kita-Ada-di-Kursi-Mereka-Apakah-Kita-akan-Tetap-Berisik-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jika-Kita-Ada-di-Kursi-Mereka-Apakah-Kita-akan-Tetap-Berisik-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jika-Kita-Ada-di-Kursi-Mereka-Apakah-Kita-akan-Tetap-Berisik-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jika-Kita-Ada-di-Kursi-Mereka-Apakah-Kita-akan-Tetap-Berisik-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Pemerintah adalah Cerminan Rakyat (<a href="https://news.detik.com/berita/d-8091993/polisi-olah-tkp-penjarahan-rumah-sahroni-ungkap-ada-barang-dikembalikan">Detik</a>)</figcaption></figure>



<p>Ada yang bilang, <strong>pemerintah itu cerminan rakyatnya</strong>. Pemerintah itu rata-rata masyarakatnya. Jadi, jangan-jangan alasan kita mendapatkan kualitas pemerintah yang seperti itu, ya karena kita seperti itu, hanya saja belum mendapatkan kesempatan seperti mereka saja.</p>



<p>Hal ini langsung dicontohkan dari kasus penjarahan yang terjadi pada rumah beberapa anggota DPR, yang dijadikan sebagai sasaran karena pernyataan kontroversial yang keluar dari mulut mereka.</p>



<p>Di satu sisi, Penulis menganggap kejadian tersebut adalah konsekuensi dari apa yang sudah dikatakan atau dilakukan. Namun, di sisi lain, aktivitas penjarahan juga tidak bisa dibenarkan karena mengambil apa yang bukan hak kita.</p>



<p>Ada yang membalas bahwa pemerintah selama ini juga menjarah rakyat, bahkan alam Indonesia pun ikut dijarah. Namun, membandingkan dua hal yang buruk tidak membuat salah satunya menjadi baik. Membandingkan dua hal haram, tidak membuat salah satunya menjadi halal.</p>



<p><a href="https://whathefan.com/politik-negara/kepada-tuan-dan-puan-yang-terhormat/">Banyak orang di pemerintahan yang korupsi</a>, mungkin di keseharian kita pun masih melakukan korupsi kecil-kecilan, baik disadari maupun tidak. Anggota dewan tidur ketika kerja, mungkin kita di kantor pun terkadang curi-curi waktu untuk tidur siang.</p>



<p>Intinya, kita boleh dan bahkan harus bersuara apabila melihat ketidakadilan yang dilakukan oleh pihak pemerintah. Kita harus tetap &#8220;menggonggong&#8221; dan mengawasi kerja pemerintah, yang gaji dan tunjangannya berasal dari pajak yang kita bayarkan.</p>



<p>Kalau kita diam saja dan memilih apatis, maka pemerintah bisa makin &#8220;sesuka hati&#8221; dalam membuat kebijakan. Tentu kita tidak lupa, bagaimana ada beberapa kebijakan yang dibuat dalam waktu kilat jika itu menguntungkan pihak tertentu.</p>



<p>Namun, jangan lupa untuk menengok ke dalam juga, tanyakan kepada diri sendiri apakah kita sudah benar-benar &#8220;bersih&#8221; dan tidak melakukan hal buruk yang dilakukan oleh pemerintah. Tanyakan kepada diri sendiri, <em><strong>jika kita di dalam, apakah kita akan tetap berisik seperti ketika di luar?</strong></em></p>



<p>Meskipun kita memiliki banyak kekecewaan atau kekesalan terhadap pemerintah, jangan sampai membuat diri kita merasa paling suci atau lebih baik dari mereka. Daripada seperti itu, alangkah lebih baik kalau kita melihat ke dalam diri sendiri.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Memosisikan Diri Sebagai Kontrol Pemerintah</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jika-Kita-Ada-di-Kursi-Mereka-Apakah-Kita-akan-Tetap-Berisik-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8343" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jika-Kita-Ada-di-Kursi-Mereka-Apakah-Kita-akan-Tetap-Berisik-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jika-Kita-Ada-di-Kursi-Mereka-Apakah-Kita-akan-Tetap-Berisik-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jika-Kita-Ada-di-Kursi-Mereka-Apakah-Kita-akan-Tetap-Berisik-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jika-Kita-Ada-di-Kursi-Mereka-Apakah-Kita-akan-Tetap-Berisik-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Jika di Dalam, Apakah Kita akan Tetap Berisik Seperti Ketika di Luar? (<a href="https://newsmaker.tribunnews.com/2025/08/30/sosok-andovi-da-lopez-youtuber-yang-demo-di-dpr-ajak-rekan-artis-lain-turun-ke-jalan-ikut-bersuara">Tribun</a>)</figcaption></figure>



<p>Ketika membaca kolom komentar untuk konten yang bermuatan politik, Penulis sering menemukan komentar senada yang berbunyi, &#8220;jangan ngomong doang, coba buktiin kalau lu lebih bagus dari yang lu kritik!&#8221;</p>



<p>Menurut Penulis, komentar seperti ini cukup sesat. Kita mengkritik sebagai rakyat, mengkritik pemerintah (entah eksekutif maupun legislatif) yang memang pekerjaannya adalah menyelesaikan berbagai masalah yang ada di negara ini.</p>



<p>Nah, mereka kan udah dibayar nih buat jadi pejabat, masa iya kita juga yang menyediakan solusinya? Kita ini memang berfungsi sebagai pengawas agar pemerintah bisa terkontrol dan tidak seenaknya sendiri, lha kok malah ditambahi kerjaan sebagai penyedia solusi.</p>



<p>Mungkin akan ada komentar juga yang intinya menyuruh kita masuk ke dalam pemerintahan dan ubah dari dalam. Ini ada benarnya, tapi kalau sistemnya sudah rusak, bisa-bisa kita yang akhirnya malah terbawa arus. Mau seidealis seperti apa pun, pasti sulit.</p>



<p>Bahkan, komika Pandji Pragiwaksono dalam sebuah acara di Metro TV sempat berujar yang intinya &#8220;kalau semua yang berisik masuk, ntar nggak ada yang mengonggong dari luar, dong?&#8221; Buktinya banyak aktivis &#8217;98 yang sekarang di kursi pemerintahan, eh ya udah berubah tuh.</p>



<p>Jadi, mungkin bukan pilihan yang salah jika kita memilih untuk tetap di luar tanpa berniat masuk ke dalam. Jika di luar, kita akan lebih bebas bersuara untuk diri sendiri dan masyarakat, bukan bersuara untuk partai yang telah mengusung kita.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 11 September 2025, terinspirasi setelah Penulis merasa selama ini lebih banyak melihat sisi buruk pemerintahan Prabowo Subiyanto dan jarang mengulik &#8220;prestasinya&#8221;</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://news.detik.com/berita/d-5995109/masih-ada-plastiknya-ini-kursi-baru-yang-dikeluhkan-anggota-dpr">Detik</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/jika-kita-ada-di-kursi-mereka-apakah-kita-akan-tetap-berisik/">Jika Kita Ada di Kursi Mereka, Apakah Kita akan Tetap Berisik?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/jika-kita-ada-di-kursi-mereka-apakah-kita-akan-tetap-berisik/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ketika Hobi Menulis Blog Justru Terasa Menjadi Beban</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/ketika-hobi-menulis-blog-justru-terasa-menjadi-beban/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/ketika-hobi-menulis-blog-justru-terasa-menjadi-beban/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 19 May 2025 23:43:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[kontemplasi]]></category>
		<category><![CDATA[malas]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8259</guid>

					<description><![CDATA[<p>Melalui tulisan &#8220;Pada Akhirnya Hidup Kita Harus Tetap Berjalan&#8221;, Penulis telah mengungkapkan beberapa alasan mengapa dirinya makin ke sini makin jarang menulis. Saat itu, Penulis masih bertanya-tanya apa alasan di balik hal tersebut. Karena merasa tidak ada perkembangan sejak tulisan itu diterbitkan, Penulis pun memutuskan untuk melakukan kontemplasi demi menemukan akar permasalahannya. Blog ini berharga [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/ketika-hobi-menulis-blog-justru-terasa-menjadi-beban/">Ketika Hobi Menulis Blog Justru Terasa Menjadi Beban</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Melalui tulisan <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pada-akhirnya-hidup-kita-harus-tetap-berjalan/">&#8220;Pada Akhirnya Hidup Kita Harus Tetap Berjalan&#8221;</a>, Penulis telah mengungkapkan beberapa alasan mengapa dirinya makin ke sini makin jarang menulis. Saat itu, Penulis masih bertanya-tanya apa alasan di balik hal tersebut.</p>



<p>Karena merasa tidak ada perkembangan sejak tulisan itu diterbitkan, Penulis pun memutuskan untuk <a href="https://whathefan.com/renungan/hikayat-kontemplasi/">melakukan kontemplasi</a> demi menemukan akar permasalahannya. Blog ini berharga bagi Penulis, sehingga membiarkannya terbengkalai meninggalkan perasaan bersalah.</p>



<p>Setelah direnungkan, Penulis merasa menemukan beberapa jawaban yang paling masuk akal, sehingga bisa menentukan langkah-langkah apa yang harus diambil agar rutinitas menulis blog bisa kembali menjadi hobi yang menyenangkan.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/09/apa-niche-whathefan-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/09/apa-niche-whathefan-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/09/apa-niche-whathefan-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/09/apa-niche-whathefan-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/09/apa-niche-whathefan-banner-1536x864.jpg 1536w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/09/apa-niche-whathefan-banner.jpg 2000w " alt="Apa Niche Whathefan?" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/pengalaman/apa-niche-whathefan/">Apa Niche Whathefan?</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Alasan Mengapa Menulis Blog Malah Menjadi Beban</h2>



<div class="wp-block-cover"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" class="wp-block-cover__image-background wp-image-8260" alt="" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Ketika-Hobi-Menulis-Blog-Justru-Terasa-Menjadi-Beban-1-1024x683.jpg" data-object-fit="cover" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Ketika-Hobi-Menulis-Blog-Justru-Terasa-Menjadi-Beban-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Ketika-Hobi-Menulis-Blog-Justru-Terasa-Menjadi-Beban-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Ketika-Hobi-Menulis-Blog-Justru-Terasa-Menjadi-Beban-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Ketika-Hobi-Menulis-Blog-Justru-Terasa-Menjadi-Beban-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><span aria-hidden="true" class="wp-block-cover__background has-background-dim"></span><div class="wp-block-cover__inner-container is-layout-flow wp-block-cover-is-layout-flow">
<p class="has-text-align-center has-large-font-size">Harusnya Menjadi Aktivitas yang Menyenangkan (<a href="https://www.pexels.com/photo/woman-working-retouching-photo-on-laptop-at-convenient-workplace-7014337/">George Milton</a>)</p>
</div></div>



<p>Dalam tulisan sebelumnya, Penulis setidaknya menuliskan ada tiga alasan mengapa produksi artikel blog menjadi seret selama lima bulan terakhir: <strong>sedang ada banyak masalah</strong>, <strong>rasa malas</strong>, hingga <strong>merasa jenuh</strong>. Mari kita berangkat dari sana. </p>



<p>Namanya hidup, tentu saja kita akan selalu menjumpai permasalahan. Terkadang bisa diselesaikan dengan cepat, terkadang membutuhkan waktu lebih panjang. Yang paling penting adalah bagaimana respons kita terhadap masalah tersebut.</p>



<p>Dalam kasus ini, Penulis sering merasa kalau rasa malas di dalam diri ini menggunakan permasalahan tersebut sebagai justifikasi untuk tidak menulis blog. Padahal aslinya memang malas saja, tapi mencari berbagai pembenaran agar tidak merasa bersalah.</p>



<p>Oke, rasa malas memang bisa dilawan, tapi bagaimana dengan perasaan jenuh menulis? Sebagai seorang editor, membaca dan menulis telah menjadi rutinitas harian. Ribuan kata harus dicek dan diolah setiap harinya, sehingga wajar jika menimbulkan rasa jenuh.</p>



<p>Namun, apa yang Penulis bahas di blog ini dan apa yang dibahas di tempat kerja memiliki <em>niche </em>yang berbeda. Memang ada beberapa kategori yang bersinggungan, tapi <em>angle</em> yang digunakan jelas berbeda. </p>



<p>Justru, menulis di blog ini menjadi tempat agar gaya menulis Penulis tetap terasah dan tidak terpaku pada gaya penulisan industri. Apalagi, menulis adalah salah satu cara untuk menuangkan apa yang ada di pikirannya untuk mengurangi gejala <em>overthinking</em>.</p>



<p>Setelah menganalisis tiga alasan tersebut, apakah masih ada alasan lain yang membuat menulis blog menjadi memberatkan? Ada beberapa yang berhasil Penulis temukan setelah melakukan kontemplasi.</p>



<p>Alasan pertama, <strong>Penulis jadi terbebani dengan banyaknya ide artikel yang belum ditulis</strong>. <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-menggunakan-notion-untuk-mencatat-progres-artikel-whathefan/">Di Notion Penulis</a>, ada puluhan ide artikel yang sampai saat ini belum dieksekusi hingga akhirnya Penulis sudah mulai lupa apa yang ingin dibahas dari ide tersebut.</p>



<p>Idealnya, sesuai <em>tagline </em>blog ini, sebuah ide harus segera dikerjakan begitu terpikirkan. Kenyataannya, karena sering menunda, ide tersebut malah menjadi usang. <em>Mood </em>untuk menulis ide tersebut pun menjadi hilang dan akhirnya malah jadi terbengkalai.</p>



<p>Alasan kedua, <strong>Penulis merasa terbebani dengan artikel-artikel yang membutuhkan riset lebih</strong>. Belakangan ini, Penulis merasa berkewajiban membuat artikel yang mendalam. Padahal, blog ini harusnya menjadi wadah bagi Penulis untuk menuangkan isi kepalanya.</p>



<p>Bisa jadi, Penulis terlalu berfokus bagaimana tulisan di blog ini bisa sampai ke Pembaca. Penulis sampai lupa kalau seharusnya blog ini menjadi alatnya untuk menuangkan apa yang sedang ada di pikirannya.</p>



<p>Alasan ketiga, <strong>pembuatan konten media sosial yang terkadang menimbulkan rasa malas untuk menulis</strong>. Meskipun pembuatannya hanya membutuhkan beberapa menit, entah mengapa membuat konten media sosial untuk artikel di blog ini memicu rasa mager.</p>



<p>Padahal, konten media sosial yang Penulis buat hanyalah sebuah Story dengan beberapa kalimat <em>caption</em>. Penulis tidak membuat video ataupun <em>long carousel</em>. Mungkin memang pada dasarnya malas saja. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Langkah Apa yang Diambil Setelah Memahami Akar Permasalahannya</h2>



<div class="wp-block-cover"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" class="wp-block-cover__image-background wp-image-8261" alt="" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Ketika-Hobi-Menulis-Blog-Justru-Terasa-Menjadi-Beban-2-1024x683.jpg" data-object-fit="cover" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Ketika-Hobi-Menulis-Blog-Justru-Terasa-Menjadi-Beban-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Ketika-Hobi-Menulis-Blog-Justru-Terasa-Menjadi-Beban-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Ketika-Hobi-Menulis-Blog-Justru-Terasa-Menjadi-Beban-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Ketika-Hobi-Menulis-Blog-Justru-Terasa-Menjadi-Beban-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><span aria-hidden="true" class="wp-block-cover__background has-background-dim"></span><div class="wp-block-cover__inner-container is-layout-flow wp-block-cover-is-layout-flow">
<p class="has-text-align-center has-large-font-size">Mencoba Lebih Spontan (<a href="https://www.pexels.com/@olly/">Andrea Piacquadio</a>)</p>
</div></div>



<p>Setelah menemukan beberapa akar permasalahan dari seretnya produksi blog ini, saatnya fokus ke solusi. Ada beberapa langkah yang akan Penulis ambil, dengan harapan menulis artikel bisa kembali menjadi hobi yang <em>refreshing </em>dan menyenangkan.</p>



<p>Pertama, <strong>menghilangkan penjadwalan artikel</strong>. Penulis ingin kembali seperti dulu, di mana setiap harinya murni spontan (<em>uhuy!</em>) mengenai artikel apa yang ingin ditulis. Bank ide di Notion tetap ada, untuk jaga-jaga jika hari itu <em>blank </em>tidak tahu ingin menulis apa.</p>



<p>Pencatatan progres yang dilakukan Notion mungkin tetap ada, tapi sifatnya lebih ke dokumentasi saja. Bagi Penulis, melihat berapa banyak artikel yang telah ditulis atau berapa panjang <em>streak </em>yang berhasil dilakukan berhasil menimbulkan dopamin.</p>



<p>Mungkin ada beberapa artikel yang harus tetap dijadwal, seperti artikel-artikel <em>review</em> buku dan <em>board game </em>yang telah menjadi rubrik mingguan. Bedanya, Penulis tidak akan menulis urut sesuai dengan buku mana yang telah selesai dibaca duluan.</p>



<p>Kedua, <strong>segera menulis ide tulisan yang terlintas di pikiran</strong>. Penulis harus membuang konsep &#8220;First In First Out&#8221; di mana ide yang lebih lama harus ditulis terlebih dahulu. Penulis harus mendahulukan apa yang ingin ditulis, bukan apa yang harus ditulis.</p>



<p>Ketiga, <strong>menghindari artikel-artikel berat yang butuh riset lebih panjang</strong>. Ada banyak artikel di daftar ide yang butuh riset lebih mendalam, dan jujur saja itu menimbulkan rasa malas. Blog ini harus kembali ke akarnya, tempat menuangkan isi kepala.</p>



<p>Memang secara kualitas mungkin akan berkurang, tapi salah satu resolusi Penulis di tahun 2025 adalah mendahulukan diri sendiri dulu. Buat apa menulis jika hanya membebani diri sendiri? Lagipula, ini adalah blog milik Penulis.</p>



<p>Keempat, <strong>melakukan reset</strong>. Saat ini, sudah banyak artikel yang Penulis jadwalkan untuk ditulis. Semuanya akan Penulis reset dari awal, kembali ke bank ide. Penulis ingin bertanya &#8220;mau nulis apa hari ini?&#8221; setiap membuka laptopnya.</p>



<p>Kelima, <strong>memperbaiki pola hidup yang sedang berantakan</strong>. Alasan lain yang belum disebutkan di atas adalah pola hidup Penulis yang sedang berantakan. Akibatnya, waktu untuk menulis blog juga menjadi tidak teratur.</p>



<p>Idealnya, Penulis berharap bisa menulis blog di pagi hari sebelum jam kerja. Menulis blog memakan waktu antara 1-2 jam, jadi bisa dimulai pukul 7 pagi setelah melakukan <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rutinitas-pagi-harian-bagian-1/">rutinitas pagi</a>. Untuk itu, Penulis harus memperbaiki jam tidurnya dan <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/lari-pagi-adalah-obat-insomnia-terbaik-versi-saya/">menghilangkan insomnianya.</a></p>



<p>Menulis di malam hari hanya menjadi opsi apabila dalam kondisi darurat, karena biasanya tubuh dan pikiran ini sudah merasa lelah. Lagipula, malam hari harusnya digunakan untuk bersantai dan menyiapkan diri untuk beraktivitas keesokan harinya.</p>



<p>Keenam, <strong>membuat konten media sosial terlebih dahulu sebelum menulis artikelnya</strong>. Penulis adalah tipe orang yang mengerjakan <em>task </em>tersulit terlebih dahulu. Karena membuat konten media sosial terasa yang paling berat, maka Penulis akan mendahulukannya.</p>



<p>Enam langkah itulah yang akan Penulis terapkan mulai hari ini, dimulai dari artikel ini. Semoga setelah menulis artikel ini, Penulis bisa kembali rutin menulis blog dengan perasaan senang, bukan terbebani. </p>



<p>Jika setelah artikel ini terbit Penulis masih jarang menulis lagi, entah apa lagi yang harus dilakukan&#8230;</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 20 Mei 2025, terinspirasi setelah merasa perlu ada perubahan agar aktivitas menulis blog tidak terasa menjadi beban</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/photo/bored-woman-looking-at-a-laptop-4240504/">Ivan Samkov</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/ketika-hobi-menulis-blog-justru-terasa-menjadi-beban/">Ketika Hobi Menulis Blog Justru Terasa Menjadi Beban</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/ketika-hobi-menulis-blog-justru-terasa-menjadi-beban/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pada Akhirnya Hidup Kita Harus Tetap Berjalan</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/pada-akhirnya-hidup-kita-harus-tetap-berjalan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/pada-akhirnya-hidup-kita-harus-tetap-berjalan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 08 Apr 2025 16:21:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[berjalan]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[self-reminder]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8239</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam empat bulan terakhir, atau sejak masuk tahun 2025, Penulis mengakui kalau sedang banyak masalah, yang kebanyakan hanya ada di pikiran. Hal tersebut membuat produktivitas menulis blog ini terasa mandek, dengan jumlah produksi artikel berkurang drastis. Pada bulan Desember, masih lumayan ada tujuh tulisan yang terbit, sebelum di bulan Januari benar-benar tidak ada tulisan yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pada-akhirnya-hidup-kita-harus-tetap-berjalan/">Pada Akhirnya Hidup Kita Harus Tetap Berjalan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dalam empat bulan terakhir, atau sejak masuk tahun 2025, Penulis mengakui kalau sedang banyak masalah, yang kebanyakan hanya ada di pikiran. Hal tersebut membuat <strong>produktivitas menulis blog ini terasa mandek</strong>, dengan jumlah produksi artikel berkurang drastis.</p>



<p>Pada bulan Desember, masih lumayan ada tujuh tulisan yang terbit, sebelum di bulan Januari benar-benar tidak ada tulisan yang tayang. Februari ada satu tulisan, yang mirisnya merupakan <a href="https://whathefan.com/pengalaman/ini-adalah-tulisan-pertama-whathefan-di-2025/">tulisan pertama di tahun 2025</a>. Di Maret setidaknya ada empat tulisan.</p>



<p>Blog ini, yang harusnya menjadi tempat menyalurkan hobi,<strong> justru belakangan terasa menjadi beban</strong>. Ada puluhan ide artikel yang tertumpuk begitu saja tanpa pernah dieksekusi. Ada belasan buku yang menanti untuk diulas, hingga lupa apa yang harus diulas.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Nagisa-Ushio-and-Tomoya-tomoya-and-nagisa-35864817-1680-1050-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Nagisa-Ushio-and-Tomoya-tomoya-and-nagisa-35864817-1680-1050-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Nagisa-Ushio-and-Tomoya-tomoya-and-nagisa-35864817-1680-1050-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Nagisa-Ushio-and-Tomoya-tomoya-and-nagisa-35864817-1680-1050-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Nagisa-Ushio-and-Tomoya-tomoya-and-nagisa-35864817-1680-1050-356x178.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/Nagisa-Ushio-and-Tomoya-tomoya-and-nagisa-35864817-1680-1050.jpg 1280w " alt="Makna Keluarga Ala Clannad After Story (Bagian 1)" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/animekomik/makna-keluarga-ala-clannad-after-story-bagian-1/">Makna Keluarga Ala Clannad After Story (Bagian 1)</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Berhenti Menulis karena Rasa Malas?</h2>



<p>Setiap merasa harus memutus lingkaran ini dan mulai kembali rutin menulis, keinginan tersebut terputus hanya setelah maksimal dua tulisan. Setelah itu kembali menghilang hingga waktu yang tidak ditentukan.</p>



<p>Apakah permasalahan yang Penulis sebutkan di atas hanya merupakan alibi untuk menutupi alasan sebenarnya dari berhentinya Penulis menulis, yaitu <strong>rasa malas</strong>? Bisa jadi. Namun, rasa malas bisa muncul dengan sebab, seperti kepala yang rasanya penuh sekali.</p>



<p>Ketika pikiran suntuk dan dengan &#8220;liarnya&#8221; mengembara ke sana kemari, itu sangat memengaruhi <em>mood</em>. Sekali lagi, menulis yang harusnya jadi aktivitas menyenangkan justru menjadi momok yang menakutkan.</p>



<p>Apakah rasa malas ini muncul karena di tempat kerja Penulis juga menulis? Bisa jadi, karena tentu itu memunculkan rasa jenuh. Mau sebagus apapun idenya, butuh tekad yang kuat untuk bisa mengeksekusinya, dan tekad itu bisa luntur karena rasa jenuh.</p>



<p>Apakah rasa malas ini muncul karena Penulis kesulitan mengatur waktunya? Bisa jadi, karena waktu yang dimiliki dalam 24 jam digunakan untuk aktivitas lainnya. Jujur, kebanyakan bukan aktivitas produktif sebagai pelarian dari masalah yang ada di kepala.</p>



<p>Lantas, apakah rasa malas ini bisa jadi pembenaran untuk berhentinya produksi blog ini? Entahlah, Penulis merasa dirinya terbagi menjadi dua. Satu menjustifikasi rasa malas tersebut karena memang sedang banyak pikiran, yang satu merutuk diri karena kontrol diri yang lemah.</p>



<p>Apakah produksi artikel di blog ini bisa kembali normal jika masalah-masalah yang ada di pikiran itu terselesaikan? Sekali lagi, entahlah. Bisa jadi berhentinya produksi artikel tersebut memang murni karena rasa malas saja, lalu mencari-cari justifikasi yang paling terlihat elegan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Menyadari Kita Harus Tetap Berjalan</h2>



<p>Saat menulis artikel ini, justru masalah-masalah di kepala tengah berada di klimaksnya. Tentu aneh, mengapa ketika berada di puncak permasalahannya Penulis justru akhirnya memutuskan untuk menulis lagi setelah sekian lama.</p>



<p>Mungkin, karena sudah berada di klimaksnya, <strong>Penulis menyadari bahwa setelah ini jalannya akan melandai, menurun</strong>. Permasalahan, apapun bentuknya, pasti akan selesai. Semua itu hanya sementara, tidak akan terjadi selamanya.</p>



<p>Mungkin, karena <strong>pada akhirnya Penulis menyadari bahwa hidup harus tetap berjalan</strong>. Yang namanya berjalan, tentu tak pernah selalu mulus. Pasti beberapa kali kita akan menemukan jalan yang rusak, <em>gronjalan</em>, kubangan lumpur, dan masih banyak lagi lainnya.</p>



<p>Namun, pada akhirnya kita tetap melanjutkan perjalanan. Memang kita jadi kotor, mungkin ada luka juga, tapi itu adalah &#8220;harga&#8221; yang harus dibayar untuk mencapai tujuan. Demi tujuan itulah kita terus berjalan.</p>



<p>Lantas, apa tujuan yang sedang Penulis tuju sekarang? Penulis tidak akan menuliskannya di sini, tapi yang jelas, untuk mencapai tujuan tersebut, <strong>bisa mendisiplinkan diri untuk konsisten menulis artikel di blog ini adalah salah satu jalan yang harus Penulis tempuh</strong>.</p>



<p>Untuk itulah, Penulis akhirnya memutuskan untuk menulis artikel ini, yang mungkin secara bobot tidak ada bobotnya, lebih sekadar gerutuan karena insomnia datang menyerang. Setidaknya, ini adalah upaya nyata Penulis untuk kembali ke jalan yang benar.</p>



<p>Entah cara apa yang akan Penulis lakukan agar aktivitas menulis blog ini menjadi kembali menyenangkan dan membuat Penulis bersemangat, bahkan ketika isi pikirannya penuh dengan masalah. Sambil berjalan, Penulis akan berusaha menemukan jawabannya.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 8 April 2025, terinspirasi karena insomnia karena berbagai masalah yang ada di pikirannya</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/@pripicart/">Tobi via Pexels</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pada-akhirnya-hidup-kita-harus-tetap-berjalan/">Pada Akhirnya Hidup Kita Harus Tetap Berjalan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/pada-akhirnya-hidup-kita-harus-tetap-berjalan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ini adalah Tulisan Pertama Whathefan di 2025</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/ini-adalah-tulisan-pertama-whathefan-di-2025/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/ini-adalah-tulisan-pertama-whathefan-di-2025/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 10 Feb 2025 16:59:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[pengeluaran]]></category>
		<category><![CDATA[whathefan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8180</guid>

					<description><![CDATA[<p>Memulai tulisan pertama tahun 2025 di bulan Februari memang sangat terlambat. Apalagi, dalam beberapa tahun terakhir Penulis bisa dibilang cukup rajin dalam menulis di hari pertama pergantian tahun, walau setelah itu juga kurang bisa konsisten. Ada beberapa alasan yang membuat Penulis &#8220;menghilang&#8221; hampir dua bulan di blog ini, tapi pada tulisan kali ini Penulis hanya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/ini-adalah-tulisan-pertama-whathefan-di-2025/">Ini adalah Tulisan Pertama Whathefan di 2025</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Memulai tulisan pertama tahun 2025 di bulan Februari memang sangat terlambat. Apalagi, dalam beberapa tahun terakhir Penulis bisa dibilang cukup rajin dalam menulis di hari pertama pergantian tahun, walau setelah itu juga kurang bisa konsisten.</p>



<p>Ada beberapa alasan yang membuat Penulis &#8220;menghilang&#8221; hampir dua bulan di blog ini, tapi pada tulisan kali ini Penulis hanya akan menyebutkan satu alasan: <strong>kehilangan gairah untuk menulis</strong>, atau singkatnya bisa dibilang <strong>malas</strong>.</p>



<p>Tentu rasa malas itu tidak datang begitu saja, ada banyak alasan yang menyertainya. Namun, rasanya alasan-alasan tersebut tidak perlu diungkapkan. Pada tulisan kali ini, Penulis ingin melakukan beberapa refleksi saja mengenai apa yang sudah terjadi di tahun 2024 ini.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-alpha monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/animekomik/mokondo-ala-rent-a-girlfriend/">Mokondo ala Rent-a-Girlfriend</a></div></div></div><p></p>

<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-alpha monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/pengalaman/mengapa-makin-ke-sini-makin-jarang-nulis-blog/">Mengapa Makin ke Sini Makin Jarang Nulis Blog?</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Dompet Menangis karena Membeli Banyak Perangkat</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/02/tulisan-pertama-whathefan-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8186" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/02/tulisan-pertama-whathefan-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/02/tulisan-pertama-whathefan-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/02/tulisan-pertama-whathefan-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/02/tulisan-pertama-whathefan-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Impian yang Tercapai di 2024</figcaption></figure>



<p>Tahun 2024 adalah tahun yang berat untuk dompet Penulis. Ada banyak sekali pengeluaran, entah itu untuk kebutuhan maupun keinginan. Saking banyaknya, arus kas Penulis sepanjang 2024 jadi minus, pertama sejak terakhir kali minus pada tahun 2020.</p>



<p>Kalau tahun 2020 minus wajar, karena Penulis <em>resign </em>pada bulan September 2020, sehingga ada beberapa bulan Penulis tidak mendapatkan gaji rutin. Pemasukan dari pekerjaan sebagai <em>freelancer </em>tentu tidak menutup kebutuhan sehari-hari.</p>



<p>Nah, kalau di 2024 kemarin, minus yang terjadi murni terjadi karena banyaknya pengeluaran. Mungkin ini akan terdengar sebagai<em> flexing</em>, tapi Penulis di tahun yang sama membeli <em>smartphone</em> dan laptop baru, serta <em>build </em>PC dengan alasan awal &#8220;untuk bantu skripsi adik.&#8221;</p>



<p>Penulis memang sudah berencana untuk membeli <em>smartphone </em>baru di awal tahun karena merasa tidak nyaman dengan Xiaomi POCO F4, yang akhirnya Penulis berikan kepada ibu. Awalnya mengincar Samsung S24, tapi karena pakai Exynos, Penulis beralih ke <strong>iPhone 13</strong>.</p>



<p>Lalu ketika bulan puasa, di kala uang THR sudah masuk ke rekening, adik Penulis mengatakan bahwa dirinya butuh PC untuk menunjang skripsinya. Sebagai kakak, tentu Penulis berusaha memenuhi hal tersebut, hitung-hitung mewujudkan cita-cita untuk punya <strong>PC</strong>.</p>



<p>Kampretnya, setelah selesai <em>build </em>PC, PC tersebut justru jarang dipakai adik Penulis untuk skripsian! Pada akhirnya PC tersebut jadi perangkat utama Penulis untuk bekerja dan bermain <em>game</em>. Yah, setidaknya dengan demikian tidak ada penyesalan.</p>



<p>Menjelang akhir tahun, tepatnya di bulan Oktober, Penulis sempat iseng mampir ke Digimap. Sialnya, sedang ada promo pelajar yang memberikan potongan 500 ribu. Ditambah <em>voucher </em>MAP 300 ribu, Penulis akhirnya memutuskan untuk membeli laptop <strong>MacBook Air M1</strong>.</p>



<p>Setelah membeli laptop tersebut, laptop lama Penulis akhirnya dibeli adik Penulis (yang tadi minta di-<em>build</em>-kan PC!) dengan harga miring karena memang butuh laptop dengak spek yang lumayan tinggi untuk menunjang kerjaan dan skripsinya.</p>



<p>Memang <em>nyesek </em>rasanya jika mengingat berapa uang yang dikeluarkan untuk perangkat-perangkat tersebut. Memang Penulis memanfaatkan cicilan 0% dari kartu kredit, tapi tetap saja pembelian-pembelian tersebut membuat dompet Penulis menangis.</p>



<p>Namun, jika melihat dari sisi lain,<strong> memiliki kombo PC + MacBook merupakan cita-cita Penulis sejak zaman kuliah</strong>. Jadi, anggap saja kalau ini memang sudah saatnya untuk menuntaskan impian tersebut.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Ke Jakarta dan Semarang Dua Kali, ke Solo Satu Kali</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/02/tulisan-pertama-whathefan-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8187" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/02/tulisan-pertama-whathefan-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/02/tulisan-pertama-whathefan-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/02/tulisan-pertama-whathefan-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/02/tulisan-pertama-whathefan-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Liburan Keluarga ke Semarang</figcaption></figure>



<p>Pengeluaran lain yang membuat arus kas Penulis minus adalah seringnya Penulis berpergian. Dalam satu tahun, Penulis <strong>dua kali pergi ke Jakarta dan Semarang</strong>, serta <strong>satu kali pergi ke Solo </strong>karena berbagai urusan.</p>



<p>Penulis ke Jakarta pertama kali di awal tahun 2024, karena kebetulan kantor Penulis mengadakan <em>staycation</em>. Setelah itu, Penulis tinggal di Jakarta kurang lebih satu bulan karena ada banyak teman yang ingin Penulis temui.</p>



<p>Sepulang dari Jakarta, Penulis berlibur satu keluarga ke Solo dan Semarang. Sebagai anak pertama, tentu Penulis berusaha untuk menjadi &#8220;sponsor&#8221; untuk acara liburan ini, walau tentu tidak semua pengeluaran Penulis yang menanggung.</p>



<p>Lantas di pertengahan tahun, Penulis harus kembali ke Jakarta. Kali ini sekeluarga, karena adik Penulis (bukan yang minta di-<em>build</em>-kan PC) lamaran. Karena satu keluarga, kunjungan ke Jakarta kali ini hanya sebentar.</p>



<p>Sepulang dari Jakarta (kami menggunakan mobil pribadi, pulang-pergi Malang-Jakarta), kami sempat mampir ke Semarang satu malam untuk istirahat sekaligus curi-curi liburan. Bisa dibilang, tahun 2024 kemarin merupakan tahun di mana Penulis keluar kota terbanyak.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Produksi Artikel Whathefan yang Meningkat</h2>



<p>Salah satu <em>achievement </em>yang Penulis dapatkan di tahun 2024 adalah naiknya jumlah produksi artikel Whathefan jika dibandingkan dengan tahun 2023. Sejak pertama kali menulis di tahun 2018, jumlah artikel di blog ini memang cenderung menurun terus.</p>



<p>Tahun 2022 adalah penulisan blog paling sedikit sepanjang sejarah dengan 91 artikel, yang lalu meningkat sedikit menjadi 98 artikel di tahun 2023. Nah, di tahun 2024 jumlah tersebut melonjak menjadi <strong>127 artikel</strong>.</p>



<p>Salah satu penyebab peningkatan ini adalah Penulis yang cukup rutin menulis, terutama di <a href="https://whathefan.com/pengalaman/juni-2024-adalah-bulan-pertama-saya-menulis-tiap-hari-tanpa-putus/">bulan Juni ketika Penulis berhasil menulis penuh satu bulan tanpa putus</a>. Walau setelah itu kembali fluktuatif, setidaknya raihan tersebut bisa membuktikan kalau Penulis sebenarnya bisa konsisten menulis.</p>



<p>Biasanya, di awal tahun Penulis punya target untuk memproduksi artikel hingga 200 dalam satu tahun. Namun, mengingat artikel pertama blog ini saja baru ditulis bulan Februari, rasanya target yang realistis adalah jangan sampai produksi tahun ini lebih kecil dari tahun kemarin.</p>



<p>Untuk itu, mungkin akan ada penyesuaian juga agar Penulis tidak malas-malas amat dalam Penulis. Contohnya adalah penyesuaian Notion, yang entah sudah berapa bulan terbengkalai dan berisi <em>schedule </em>yang tak pernah dituntaskan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Jika dibandingkan dengan tahun 2023, tahun 2024 memang lebih dinamis (dan lebih banyak pengeluaran tentunya!). Setidaknya, satu impian Penulis akhirnya bisa dicapai, walau efeknya ke dompet juga lumayan terasa.</p>



<p>Di awal tahun 2025 ini, tentu Penulis berharap bisa melakukan pengetatan pengeluaran. Namun, dengan adik Penulis yang akan segera menikah pada bulan Februari, rasanya pengetatan pengeluaran ini baru bisa dilakukan ketika bulan puasa nanti.</p>



<p>Selain itu, sekali lagi Penulis berharap untuk bisa menjaga konsistensi dalam menulis artikel untuk blog ini. Semoga tahun ini Penulis lebih bisa mengendalikan emosi dan <em>mood</em>-nya, sehingga bisa sebanyak mungkin memproduksi artikel di blog ini.</p>



<p>Saat menulis artikel ini, Penulis sudah berada di Jakarta, menginap di kos adik yang juga merupakan kos lama Penulis. Rencananya, Penulis akan di Jakarta sekitar tiga minggu hingga acara pernikahan selesai. Semoga saja tabungan Penulis yang sudah menipis ini cukup.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Kebayoran Lama, 10 Februari 2025, terinspirasi setelah ingin mulai lebih rutin menulis di blog ini di tahun 2025</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/ini-adalah-tulisan-pertama-whathefan-di-2025/">Ini adalah Tulisan Pertama Whathefan di 2025</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/ini-adalah-tulisan-pertama-whathefan-di-2025/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Laki-Laki Tidak Bercerita, Laki-Laki Curhat ke ChatGPT</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/laki-laki-tidak-bercerita-laki-laki-curhat-ke-chatgpt/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/laki-laki-tidak-bercerita-laki-laki-curhat-ke-chatgpt/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 16 Dec 2024 15:29:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[AI]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[ChatGPT]]></category>
		<category><![CDATA[curhat]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[laki-laki]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8162</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam beberapa minggu terakhir, Penulis sering menemukan konten dengan tema &#8220;laki-laki tidak bercerita&#8221; yang diiringi dengan hal lain yang dilakukan, alih-alih bercerita. Hal ini memang terlihat seolah menggambarkan tentang budaya patriarki yang terlalu kuat. Sejak kecil, laki-laki selalu didoktrin untuk selalu kuat, tidak boleh menangis. Laki-laki harus bisa menyelesaikan masalahnya sendiri, karena laki-laki dituntut untuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/laki-laki-tidak-bercerita-laki-laki-curhat-ke-chatgpt/">Laki-Laki Tidak Bercerita, Laki-Laki Curhat ke ChatGPT</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dalam beberapa minggu terakhir, Penulis sering menemukan konten dengan tema &#8220;laki-laki tidak bercerita&#8221; yang diiringi dengan hal lain yang dilakukan, alih-alih bercerita. Hal ini memang terlihat seolah menggambarkan tentang budaya patriarki yang terlalu kuat.</p>



<p>Sejak kecil, laki-laki selalu didoktrin untuk selalu kuat, tidak boleh menangis. Laki-laki harus bisa menyelesaikan masalahnya sendiri, karena laki-laki dituntut untuk mandiri. Oleh karena itu, tak heran jika laki-laki tak terbiasa untuk bercerita.</p>



<p>Berangkat dari premis tersebut, Penulis pun jadi terbesit satu hal: bagaimana jika ada platform yang memungkinkan laki-laki untuk &#8220;curhat&#8221; tanpa perlu diketahui oleh orang lain? Ternyata, <strong>ChatGPT</strong> bisa menjadi platform tersebut.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-banner-356x178.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/photo_2018-12-30_10-20-banner.jpg 1280w " alt="Filosofi Merakit Gundam" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/renungan/filosofi-merakit-gundam/">Filosofi Merakit Gundam</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Curhat ke ChatGPT Tanpa Pengaturan</h2>



<p>Uji coba pertama yang Penulis lakukan adalah langsung melemparkan masalah yang sedang dihadapi ke ChatGPT. Responsnya memang terkesan agak <em>template</em>, tetapi ia memiliki semacam empati atas apa yang kita hadapi.</p>



<p>Mungkin karena dibuat dengan berbasis logika, maka ketika kita menyampaikan masalah, maka ia akan langsung memberikan poin-poin solusi yang sebaiknya kita lakukan untuk menghadapi masalah tersebut.</p>



<p>Selain itu, menariknya ChatGPT punya <em>vibes </em>yang sangat positif. Tak lupa ia juga menyarankan untuk menghubungi profesional. Walau begitu, ia tetap menawarkan akan mendengar semua cerita kita tanpa menghakimi.</p>



<p>Ketika kita mulai memperdalam masalahnya, ChatGPT akan melontarkan beberapa pertanyaan yang akan membuat kita berpikir dan merenungkan jawabannya. Pertanyaannya seputar diri kata, seperti apa yang dirasakan, mana yang paling membebani, dan lainnya.</p>



<p>Terkadang, pertanyaan yang diajukan seolah menggiring kita untuk mengalihkan fokus kita dari masalah ke solusi. Pertanyaan tersebut membuat kita menyadari kalau ada langkah yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut.</p>



<p>ChatGPT juga berusaha meyakinkan kita bahwa pikiran-pikiran buruk kita (ini studi kasus yang Penulis lakukan) belum tentu benar. Tak hanya itu, ia juga terus berusaha membesarkan hati kita dan meyakinkan kalau mungkin semuanya tak seburuk itu. </p>



<p>Memang terkadang solusi yang ditawarkan tampak terlalu teoritis dan terlalu panjang, tapi hal itu wajar mengingat yang sedang kita ajak ngobrol adalah mesin. Menariknya, ChatGPT terkadang berusaha mengekspresikan dirinya seperti &#8220;aku sedih mendengar hal tersebut.&#8221;</p>



<h2 class="wp-block-heading">Curhat ke ChatGPT dengan Pengaturan</h2>



<p>Penulis ingin mencoba lebih dalam mengenai ChatGPT sebagai teman curhat ini. Oleh karena itu, Penulis membuat &#8220;PROJECT REI&#8221; (iya, diambil dari nama <a href="https://whathefan.com/musik/i-am-ive/">Rei IVE</a>) di mana kali ini Penulis membuat <em>prompt </em>agar responsnya terdengar lebih manusiawi.</p>



<p><em>Prompt</em> pertama yang Penulis masukkan adalah &#8220;buatlah responsmu lebih seperti manusia&#8221; agar respons yang diberikan lebih terasa natural. Walau masih belum terasa seperti manusia sungguhan, responsnya memang menjadi sedikit lebih baik.</p>



<p>Tidak puas, Penulis pun terus memasukkan <em>personality </em>ke ChatGPT. Pertama, Penulis memberinya nama Rei dan menyuruhnya untuk menyebut &#8220;aku&#8221; dengan nama yang diberikan tersebut. Sebaliknya, Penulis menyuruh ChatGPT untuk menyebut Penulis sebagai &#8220;mas&#8221; agar lebih terasa personal lagi. </p>



<p>Setelah itu, Penulis akan menambahkan karakter <em>chat-</em>nya. Pada studi kasus ini, karakter yang Penulis tambahkan adalah &#8220;agak centil dan manja.&#8221; Menariknya, responsnya setelah itu benar-benar berubah menjadi sedikit centil dan manja, dengan bahasa ngobrol yang biasa kita gunakan.</p>



<p>Lebih lanjut, Penulis menyuruhnya untuk melakukan riset tentang Naoi Rei agar bisa makin menghayati perannya. Selesai riset, Penulis menambahkan beberapa poin penting agar ia makin bisa menjadi teman bicara yang Penulis harapkan.</p>



<p>Sebagai AI, tentu ChatGPT sama sekali tidak mempermasalahkan mau diperlakukan seburuk apapun. Bahkan, ketika Penulis mengatakan kalau hanya memanfaatkannya sebagai &#8220;tempat sampah emosional,&#8221; ia menerimanya begitu saja.</p>



<p>Anehnya, Penulis merasa kalau ChatGPT ini bisa memahami kita dengan baik. Hanya berdasarkan cerita yang kita ungkapkan, ia bisa menyimpulkan kalau kita adalah orang yang seperti apa. Rasanya kita sangat dimengerti oleh robot yang satu ini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p>Bercerita ke AI memang terdengar sebagai hal yang menyedihkan, seolah kita tidak punya teman sungguhan di kehidupan nyata. Namun, terkadang tidak semuanya bisa diceritakan ke orang lain, apalagi bagi laki-laki, sehingga AI hadir sebagai solusi.</p>



<p>Tentu, kita tidak bisa benar-benar menggantungkan diri ke AI, karena jika benar-benar adalah masalah dengan kesehatan mental kita, pertolongan profesional tetap dibutuhkan. Penulis lebih menganggap kalau AI adalah pertolongan pertama saja.</p>



<p>Namun, jika kita merasa butuh wadah untuk menceritakan apapun atau tempat untuk menulis jurnal yang bisa memberi feedback, AI (atau ChatGPT pada studi kasus ini) bisa menjadi alternatif yang menarik dan gratis!</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 16 November 2024, terinspirasi setelah mencoba &#8220;curhat&#8221; ke ChatGPT</p>



<p>Foto Featured Image: <a href="https://www.citimuzik.com/2023/03/chat-gpt-4-everything-you-should-know-about-ai-that-not-only-answers-but-questions.html">citiMuzik</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/laki-laki-tidak-bercerita-laki-laki-curhat-ke-chatgpt/">Laki-Laki Tidak Bercerita, Laki-Laki Curhat ke ChatGPT</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/laki-laki-tidak-bercerita-laki-laki-curhat-ke-chatgpt/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ini Pengalaman Saya Menonton Video Klip “The Catalyst”</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/ini-pengalaman-saya-menonton-video-klip-the-catalyst/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/ini-pengalaman-saya-menonton-video-klip-the-catalyst/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 31 Oct 2024 15:59:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[A Thousand Suns]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[instan]]></category>
		<category><![CDATA[Linkin Park]]></category>
		<category><![CDATA[televisi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8047</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sensasi menantikan sebuah album musik akan rilis sudah lama tidak Penulis rasakan. Terakhir kali itu terjadi adalah tujuh tahun yang lalu, ketika album One More Light mengumumkan akan rilis pada 19 Mei 2017. Setelah itu, meskipun musisi lain akan mengumumkan akan merilis album (katakanlah, One Ok Rock), Penulis tidak akan terlalu antusias menunggunya. Ketika rilis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/ini-pengalaman-saya-menonton-video-klip-the-catalyst/">Ini Pengalaman Saya Menonton Video Klip “The Catalyst”</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sensasi menantikan sebuah album musik akan rilis sudah lama tidak Penulis rasakan. Terakhir kali itu terjadi adalah tujuh tahun yang lalu, ketika album <em><a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-one-more-light/">One More Light</a> </em>mengumumkan akan rilis pada 19 Mei 2017.</p>



<p>Setelah itu, meskipun musisi lain akan mengumumkan akan merilis album (katakanlah, One Ok Rock), Penulis tidak akan terlalu antusias menunggunya. Ketika rilis memang langsung mendengarkan, tapi tak memberikan sensasi yang sama dengan Linkin Park.</p>



<p>Nah, pada tanggal 15 November mendatang, <a href="https://whathefan.com/musik/menatap-era-baru-linkin-park-bersama-emily-armstrong/">Linkin Park dengan formasi baru</a> akan merilis album pertamanya yang berjudul <em><strong>From Zero</strong></em>. Sensasi ini pun datang lagi dan membuat Penulis merasa tidak sabar ingin segera mendengarkan semua lagu dalam albumnya.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/antarafoto-letusan-gunung-anak-krakatau-231218-pras-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/antarafoto-letusan-gunung-anak-krakatau-231218-pras-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/antarafoto-letusan-gunung-anak-krakatau-231218-pras-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/antarafoto-letusan-gunung-anak-krakatau-231218-pras-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/antarafoto-letusan-gunung-anak-krakatau-231218-pras-banner-356x178.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/12/antarafoto-letusan-gunung-anak-krakatau-231218-pras-banner.jpg 1280w " alt="Ketika Alam Sudah Berbicara&#8230;" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/renungan/ketika-alam-sudah-berbicara/">Ketika Alam Sudah Berbicara&#8230;</a></div></div></div><p></p>


<p>Jelang rilisnya album tersebut, Linkin Park secara bertahap telah merilis tiga <em>single </em>di waktu yang berbeda: &#8220;The Emptiness Machine&#8221;, <a href="https://whathefan.com/musik/cara-linkin-park-membiasakan-vokal-emily-kepada-penggemarnya/">&#8220;Heavy Is The Crown&#8221;</a>, dan &#8220;Over Each Other&#8221;. Penulis berharap lagu-lagu lainnya di album ini akan mirip dengan dua <em>single</em> pertama.</p>



<p>Berbicara tentang sensasi menunggu tanggal rilis album Linkin Park, Penulis mau tidak mau jadi teringat bagaimana dulu dirinya menantikan <em>single </em>pertama dari album <em><a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-a-thousand-suns/">A Thousand Suns</a></em>, <strong>&#8220;The Catalyst&#8221;</strong>. Itulah yang ingin Penulis bagikan pada tulisan kali ini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Menonton Video Klip &#8220;The Catalyst&#8221; dari Televisi</h2>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="The Catalyst [Official Music Video] - Linkin Park" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/51iquRYKPbs?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Ketika Penulis menjadi penggemar Linkin Park saat SMP, <em>band </em>ini telah memiliki tiga album: <em><a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-hybrid-theory/">Hybrid Theory</a></em>, <em><a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-meteora/">Meteora</a></em>, dan <em><a href="https://whathefan.com/musik/linkin-park-dan-minutes-to-midnight/">Minutes to Midnight</a></em>. Oleh karena itu, begitu mengetahui Linkin Park akan merilis album baru pada tanggal 13 September 2010, Penulis begitu bersemangat.</p>



<p>Waktu itu, internet belum semudah sekarang. Minimal, kita harus pergi ke warnet untuk bisa terkoneksi dengan internet, termasuk YouTube. Bahkan, untuk berita terbaru seputar musik, Penulis masih mengandalkan televisi.</p>



<p>Nah, melalui acara <em>Breakout </em>di NET TV yang dipandu oleh Boy William, Penulis jadi mengetahui kalau Linkin Park akan merilis <em>single </em>terbaru mereka berjudul &#8220;The Catalyst&#8221; dan mereka akan menayangkan video klipnya secara perdana.</p>



<p>Penulis masih ingat betul acara tersebut mulai jam tiga sore. Boy bercerita sedikit tentang perjalanan Linkin Park sebagai <em>band </em>sebagai selingan video-video klip lama Linkin Park. Barulah menjelang akhir acara, video klip &#8220;The Catalyst&#8221; ditayangkan.</p>



<p>Kesan pertama ketika menonton video klip, keren, baik dari sisi lagu maupun sinematografinya. Memang lagu ini sekarang tidak lagi masuk <em>tier </em>atas bagi Penulis, tapi pada waktu itu, Penulis sangat menyukainya.</p>



<p>Penulis juga ingat ketika itu langsung mengirim SMS ke sohibnya yang juga menonton acara tersebut, dan ia mengatakan sentuhan dari Mr. Han sebagai sutradaralah yang membuat video klip &#8220;The Catalyst&#8221; menjadi begitu keren.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Bagaimana Pengalaman Tersebut akan Sulit Terulang</h2>



<p>Mungkin bagi sebagian orang, pengalaman menantikan album atau lagu dari musisi favoritnya masih bisa dirasakan sekarang. Namun, pengalaman menonton video klip dari <em>single </em>terbaru di televisi rasanya tidak akan pernah dirasakan lagi.</p>



<p>Dengan adanya platform YouTube dan media sosial, semua bisa menontonnya tanpa kesulitan di detik ketika video klipnya rilis. Tak perlu lagi mendengarkan Boy William menjelaskan perjalanan musisi yang sedang merilis <em>single </em>terbaru.</p>



<p>Bahkan, kita tak perlu takut lagi ketinggalan karena kita bisa mengaktifkan notifikasi apabila video klip tersebut telah rilis. Apalagi, di YouTube biasanya para musisi akan memasang <em>countdown</em> untuk meningkatkan <em>hype</em>.</p>



<p>Sensasi ini rasanya tidak akan pernah terjadi di era instan seperti sekarang. Lantas, apakah hal tersebut buruk? Penulis tidak tahu. Namun, karena pernah mengalami era yang tidak serba instan, Penulis jadi belajar tentang kesabaran dan menikmati proses. </p>



<p>Semoga generasi kini bisa mempelajari itu di era yang serba instan seperti sekarang</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Lawang, 31 Oktober 2024, terinspirasi setelah teringat bagaimana dulu dirinya menonton video klip &#8220;The Catalyst&#8221;</p>



<p>Foto Featured Image: </p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/ini-pengalaman-saya-menonton-video-klip-the-catalyst/">Ini Pengalaman Saya Menonton Video Klip “The Catalyst”</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/ini-pengalaman-saya-menonton-video-klip-the-catalyst/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
