<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>inspirasi Archives - whathefan</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/inspirasi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/inspirasi/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Thu, 06 Aug 2026 16:51:45 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.3</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/02/logo-kotak-whathefan-2026-v3-80x80.jpg</url>
	<title>inspirasi Archives - whathefan</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/inspirasi/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Pemujaan Berlebihan ala Bambang Ekalaya</title>
		<link>https://whathefan.com/tokohsejarah/pemujaan-berlebihan-ala-bambang-ekalaya/</link>
					<comments>https://whathefan.com/tokohsejarah/pemujaan-berlebihan-ala-bambang-ekalaya/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 06 Aug 2026 16:51:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tokoh & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Arjuna]]></category>
		<category><![CDATA[Bambang Ekalaya]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Mahabharata]]></category>
		<category><![CDATA[wayang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8812</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis baru saja menamatkan novel Bharatayudha karya Sujiwo Tejo. Buku tersebut menceritakan cerita Mahabharata, tapi dari sudut pandang Karna yang sejatinya merupakan anak Kunti, tapi pada akhirnya dihanyutkan hingga akhirnya berkubu dengan Kurawa. Namun, ada satu cerita di luar Karna yang menarik perhatian Penulis, yakni tentang seorang karakter bernama Bambang Ekalaya. Penulis memang pernah membaca [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/pemujaan-berlebihan-ala-bambang-ekalaya/">Pemujaan Berlebihan ala Bambang Ekalaya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Penulis baru saja menamatkan novel <em>Bharatayudha </em>karya Sujiwo Tejo. Buku tersebut menceritakan cerita Mahabharata, tapi dari sudut pandang Karna yang sejatinya merupakan anak Kunti, tapi pada akhirnya dihanyutkan hingga akhirnya berkubu dengan Kurawa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, ada satu cerita di luar Karna yang menarik perhatian Penulis, yakni tentang seorang karakter bernama <strong>Bambang Ekalaya</strong>. Penulis memang pernah membaca kisahnya dulu secara sekilas dan tidak sedetail sekarang. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Membaca kisahnya membuat Penulis ingin membandingkannya dengan fenomena saat ini, di mana ketika pemujaan berlebihan membuat kita seakan rela melakukan apa saja demi yang dipuja. Sebelum itu, mari kita tengok dulu kisah Bambang Ekalaya yang tragis.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/10/mengapa-yudhistira-yang-bijak-bermain-dadu-banner-300x169.jpeg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/10/mengapa-yudhistira-yang-bijak-bermain-dadu-banner-300x169.jpeg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/10/mengapa-yudhistira-yang-bijak-bermain-dadu-banner-1024x576.jpeg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/10/mengapa-yudhistira-yang-bijak-bermain-dadu-banner-768x432.jpeg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/10/mengapa-yudhistira-yang-bijak-bermain-dadu-banner.jpeg 1280w " alt="Mengapa Yudhistira yang Bijak Bermain Dadu?" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/tokohsejarah/mengapa-yudhistira-yang-bijak-bermain-dadu/">Mengapa Yudhistira yang Bijak Bermain Dadu?</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Kisah Bambang Ekalaya dan Pemujaannya ke Dorna</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/pemujaan-berlebihan-bambang-ekalaya-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8816" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/pemujaan-berlebihan-bambang-ekalaya-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/pemujaan-berlebihan-bambang-ekalaya-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/pemujaan-berlebihan-bambang-ekalaya-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/pemujaan-berlebihan-bambang-ekalaya-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Bambang Ekalaya dan Patung Dorna (<a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Ekalawya">Wikipedia</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Bambang Ekalaya</strong>, dikenal juga sebagai <strong>Palgunadi</strong>, bukanlah dari kalangan Kesatria. Ia berasal dari Kaum Nisada, kaum pemburu yang kadang belum diakui sebagai manusia alias dianggap sebagai lebih rendah dari kasta Sudra sekali pun. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Sejak muda, Ekalaya berambisi untuk menjadi seorang pemanah terbaik di dunia. Untuk itu, ia membutuhkan seorang guru yang terbaik pula. Siapa lagi kalau bukan <strong>Resi Dorna</strong>, guru para Kurawa dan Pandawa? Maka ia pun menempuh perjalanan untuk menjadi murid Dorna.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sayangnya, ketika pada akhirnya berhasil bertemu, Ekalaya ditolak oleh Dorna karena ia telah bersumpah hanya akan mengajar turunan Kuru, yaitu Kurawa dan Pandawa. Apalagi, ia juga telah berjanji akan menjadikan Arjuna menjadi pemanah terbaik di dunia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ekalaya tidak patah semangat. Ia pun <strong>membuat patung yang menyerupai Dorna dan memujanya </strong>seolah yang bersangkutan benar-benar ada di hadapannya. Ajaibnya, Ekalaya benar-benar mendapatkan ilmu memanah yang luar biasa, bahkan mengalahkan Arjuna.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Suatu hari, Pandawa termasuk Arjuna dan Drona sedang berburu di hutan dan tanpa sengaja bertemu dengan Ekalaya. Mereka pun terkejut, karena ada orang seandal itu dalam memanah di tengah hutan. Ekalaya pun ditanya siapa gurunya, dan ia menjawab Dorna.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Arjuna pun <em>rewel </em>dan protes ke gurunya. Ia menganggap gurunya melanggar janjinya karena ada orang yang lebih jago darinya. Dorna dengan siasat liciknya pun meminta semacam upeti kepada Ekalaya karena telah menjadikan dirinya gurunya. <strong>Ia meminta jempol kanan Ekalaya!</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Tanpa ragu sedikit pun, Ekalaya langsung memotong jempol kanannya dan menyerahkannya kepada Dorna. Dengan demikian, kemampuan memanahnya pun menjadi tidak sempurna dan Dorna bisa tetap menjaga janjinya ke Arjuna.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Pemujaan yang Berujung ke Kematian</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/pemujaan-berlebihan-bambang-ekalaya-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8817" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/pemujaan-berlebihan-bambang-ekalaya-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/pemujaan-berlebihan-bambang-ekalaya-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/pemujaan-berlebihan-bambang-ekalaya-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/pemujaan-berlebihan-bambang-ekalaya-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Bambang Ekalaya (<a href="https://www.salamyogyakarta.com/bambang-ekalaya/">Salam Yogyakarta</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Ekalaya tampaknya memang ditakdirkan kerap berkonflik dengan Arjuna. Beberapa lama setelah kejadian tersebut, ada sebuah kejadian ketika istri Ekalaya, <strong>Dewi Anggraeni</strong>, hendak pergi ke Indraprastha untuk bertemu dengan para Pandawa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun di tengah jalan, mereka diserang sekelompok raksasa. Anggraeni kabur hingga sampai ke tempat Arjuna bertapa. Ia melanggar sopan santun dengan mengganggu orang yang bertapa, tapi Arjuna tetap mengalahkan raksasa yang mengejar Anggraeni.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Arjuna yang telah lama berada di hutan sendirian tiba-tiba merasakan gejolak yang luar biasa ketika melihat kecantikan Anggraeni, bahkan terus memaksanya meskipun tahu Anggraeni telah bersuami. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Anggraeni pun sampai memutuskan terjun dari lebih daripada dilecehkan Arjuna, tapi ia diselamatkan oleh ibunya yang merupakan dewi khayangan. Ekalaya yang marah besar akibat perlakuan Arjuna ke istrinya pun memutuskan untuk berduel dengannya, bahkan sempat ingin perang dengan Pandawa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam pertarungan 1 vs 1 tersebut, <strong>Arjuna kalah telak dari Ekalaya hingga tewas</strong>. Sri Khrisna segera mengambil tubuhnya dan pulang ke Indraprastha. Karena Arjuna dibutuhkan dalam perang di Kurusetra, Arjuna pun dihidupkan kembali menggunakan pusaka Wijayakusuma.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Arjuna yang merasa malu pun berkata bahwa dirinya tidak ingin hidup selama Ekalaya masih hidup. Khrisna pun memutuskan untuk menggunakan siasat licik agar Arjuna hidup, dengan merasuk ke patung Dorna milik Ekalaya!</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yups, Ekalaya masih menyimpan patung Dorna yang ia puja setiap hari. Oleh karena itu, tentu ia kaget ketika patung tersebut tiba-tiba berbicara. Khrisna dalam suara Dorna pun <strong>meminta Cincin Mustika Ampal </strong>yang ia kenakan, cincin yang membuatnya tidak bisa mati.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sekali lagi tanpa ragu, ia menyerahkan cincin tersebut ke patung Dorna. Begitu cincin dilepaskan, keris yang ia bawa<strong> tiba-tiba melayang dan membunuh Ekalaya begitu saja</strong>. Di mata Ekalaya,<strong> ia telah ditipu oleh orang yang ia puja selama ini</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Alhasil, Ekalaya pun mengutuk Dorna akan mati karena tipuan juga. Padahal, yang menipunya adalah Khrisna! Nantinya ketika perang Bharatayudha, kematian Dorna memang disebabkan oleh tipuan. Secara tidak langsung, peristiwa ini juga memudahkan Pandawa menang perang atas Kurawa.</p>



<h2 class="wp-block-heading">&#8220;Pemujaan yang Berlebihan Tidak Sehat&#8221;</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/pemujaan-berlebihan-bambang-ekalaya-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8815" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/pemujaan-berlebihan-bambang-ekalaya-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/pemujaan-berlebihan-bambang-ekalaya-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/pemujaan-berlebihan-bambang-ekalaya-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/08/pemujaan-berlebihan-bambang-ekalaya-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Patrick Sedang Menasehati SpongeBob (<a href="https://www.youtube.com/watch?v=hDs9Z0S-MB0">YouTube</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam salah satu episode <em>SpongeBob SquarePants </em>yang berjudul &#8220;I&#8217;m Your Biggest Fanatic&#8221;, Patrick mengatakan ke SpongeBob kalau <strong>&#8220;pemujaan yang berlebihan tidak sehat.&#8221;</strong> <em>Quote</em> tersebut sangat cocok diucapkan kepada Ekalaya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita bisa melihat bahwa pada dasarnya, Ekalaya tidak pernah mendapatkan ilmu secara langsung dari Resi Dorna. Ia hanya menggunakan <em>mindset </em>bahwa patung Dorna yang ia buat dari tanah liat adalah benar-benar representasi dari sang resi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Padahal, sejatinya Ekalaya bisa menjadi pemanah ulung dan kesatria hebat adalah <strong>karena kemampuannya sendiri</strong>, hasil latihan dan kerja kerasnya sendiri. Ia tidak memiliki<em> privilege </em>seperti para Pandawa dan Kurawa, tapi tetap berhasil melatih dirinya sendiri dengan baik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, tampaknya <em>mindset </em>Ekalaya sudah terpaku bahwa ia bisa sekuat itu karena menjadikan Dorna versi patung sebagai gurunya. Ia merasa berhutang budi, sehingga sebagai murid ia rela menyerahkan apa pun, termasuk jempol kanan dan cincin saktinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari dua kisah di atas, kita bisa belajar kalau sejatinya<strong> pemujaan yang berlebihan itu tidak pernah baik</strong>. Di dunia modern sekarang, mungkin bentuk pemujaannya bisa berbeda-beda, mulai dari <a href="https://whathefan.com/politik-negara/akar-fanatisme-membabi-buta/">tokoh politik</a>, pacar, <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/safa-fanatisme-idola-dan-hubungan-parasosial/"><em>idol </em>K-Pop</a>, VTuber, gebetan, dan lain sebagainya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Coba bayangkan seandainya idola yang kita puja setiap hari tiba-tiba muncul dan meminta kita menyerahkan jempol kanan kita, apakah kita rela melakukannya? Mungkin tidak sampai seekstrem itu, tapi fenomena saat ini menunjukkan bahwa banyak yang rela melakukan banyak hal demi yang dipujanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Obsesi Ekalaya ke Dorna juga tidak sehat, bahkan sampai membuat patungnya dan terus dijaga dan dipuja selama bertahun-tahun. Kalau di dunia modern, mungkin seperti kita membawa <em>photocard </em>idola kita ke mana-mana dan memandangnya dengan penuh cinta.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kisah Ekalaya ini bisa kita jadikan pelajaran berharga di masa kini. Kalau mengagumi seseorang, ya yang sewajarnya saja, jangan berlebihan. Nantinya malah kecewa, seperti Ekalaya menjelang ajalnya.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 6 Agustus 2026, terinspirasi setelah membaca kısah Bambang Ekalaya dari berbagai sumber</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/pemujaan-berlebihan-ala-bambang-ekalaya/">Pemujaan Berlebihan ala Bambang Ekalaya</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/tokohsejarah/pemujaan-berlebihan-ala-bambang-ekalaya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Terima Kasih, Keigo Higashino, Selamat Jalan</title>
		<link>https://whathefan.com/tokohsejarah/terima-kasih-keigo-higashino-selamat-jalan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/tokohsejarah/terima-kasih-keigo-higashino-selamat-jalan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 27 Jul 2026 14:56:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tokoh & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Keigo Higashino]]></category>
		<category><![CDATA[penulis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8769</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sewaktu iseng scroll media sosial hari ini setelah jam kerja, Penulis begitu terkejut ketika membaca berita meninggal dunianya Keigo Higashino, novelis Jepang yang belakangan bukunya sering Penulis baca. Menurut berita yang penulis baca, ia meninggal akibat kanker kolorektal pada hari Kamis (23/7/26), tapi berita kematiannya sendiri baru diumumkan hari ini (27/7/26). Ia meninggal pada usia 68 [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/terima-kasih-keigo-higashino-selamat-jalan/">Terima Kasih, Keigo Higashino, Selamat Jalan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Sewaktu iseng <em>scroll </em>media sosial hari ini setelah jam kerja, Penulis begitu terkejut ketika membaca berita meninggal dunianya <strong>Keigo Higashino</strong>, novelis Jepang yang belakangan bukunya sering Penulis baca.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut berita yang penulis baca, ia meninggal akibat kanker kolorektal pada hari Kamis (23/7/26), tapi berita kematiannya sendiri baru diumumkan hari ini (27/7/26). Ia meninggal pada usia 68 tahun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis memang baru &#8220;berkenalan&#8221; dengan Keigo sekitar tahun 2024 melalui novel <em>Keajaiban Toko Kelontong Namiya</em>. Walau begitu, Penulis langsung menyukai karya-karyanya dan mulai mengoleksinya. Total, Penulis telah memiliki 6 dari total 106 buku yang ditulisnya.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/03/mu-sedih-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/03/mu-sedih-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/03/mu-sedih-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/03/mu-sedih-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2024/03/mu-sedih.jpg 1280w " alt="Kenapa Fans Manchester United Banyak yang Sombong?" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/olahraga/kenapa-fans-manchester-united-banyak-yang-sombong/">Kenapa Fans Manchester United Banyak yang Sombong?</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Daftar Buku Keigo yang Penulis Baca</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/07/koleksi-keigo-higashino-1024x683.png" alt="" class="wp-image-8773" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/07/koleksi-keigo-higashino-1024x683.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/07/koleksi-keigo-higashino-300x200.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/07/koleksi-keigo-higashino-768x512.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/07/koleksi-keigo-higashino.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Koleksi Higashino Penulis</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika melihat novel <em><strong><a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-keajaiban-toko-kelontong-namiya/">Keajaiban Toko Kelontong Namiya</a></strong></em> di toko buku, entah mengapa ada dorongan untuk membelinya. Padahal, Penulis tidak menyukai unsur supranatural yang langsung dijelaskan di sinopsis buku ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tak salah Penulis mengikuti dorongan tersebut. Pasalnya, buku ini langsung menjadi salah satu favorit Penulis, bahkan mungkin yang terbaik. Penulis merasa &#8220;dipeluk&#8221; oleh buku ini karena ceritanya yang <em>heartwarming </em>dan emosional. Penulis pun memberi buku ini nilai 11/10 (bukan 11/100).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, Penulis memutuskan untuk mencoba buku Keigo lainnya yang bergenre misteri, salah satu genre favorit Penulis. Setelah melakukan riset, Penulis memilih <em><a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-the-devotion-of-suspect-x/"><strong>The Devotion of Suspect X</strong></a></em>. Penulis benar-benar terkejut dengan <em>plot twist </em>yang ada di buku ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Buku selanjutnya yang Penulis pilih adalah <em><strong><a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-a-midsummers-equation/">A Midsummer&#8217;s Equation</a></strong></em>. Namun, Penulis cukup lama meletakkan novel ini karena alurnya terasa sangat lambat dan terlalu berputar-putar. Walau begitu, Penulis tetap memutuskan untuk lanjut membeli novel Keigo.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em><strong><a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-malice-catatan-pembunuhan-sang-novelis/">Malice</a></strong></em> menjadi pilihan Penulis selanjutnya. Kali ini, tokoh utamanya bukan Profesor Yukawa seperti di dua novel sebelumnya, melainkan Detektif Kaga. Novel ini juga menjadi salah satu karya Keigo yang mampu memutar-mutar otak kita karena banyaknya <em>reverse psychology</em> di sini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis masih memiliki dua novel Keigo lain yang belum sempat Penulis tuliskan <em>review-</em>nya di blog ini, yakni <em><strong>Salvation of a Saint </strong>(Dosa Malaikat) </em>dan <em><strong>The Newcomer </strong>(Pembunuhan di Nihonbashi).</em> Penulis menyukai judul yang pertama, tapi menganggap judul kedua sebagai yang terburuk dari semua karya Keigo yang pernah Penulis baca.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Pandangan Penulis Terhadap Gaya Menulis Keigo</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah membaca beberapa novelnya, Penulis berkesimpulan kalau tidak berfokus pada apa yang dilakukan oleh pelaku, tapi <strong>mengapa pelaku melakukannya</strong>. Motif-motif yang dihadirkan di novelnya selalu memiliki dampak emosional yang cukup besar, bukan karena khilaf semata.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Trik yang digunakan tidak akan se-<em>njelimet </em>cerita-cerita di <em>Detective Conan </em>maupun <em>Sherlock Holmes</em>. Terkadang, triknya sederhana saja, tapi <strong>alasan mengapa pelaku sampai melakukan trik tersebut untuk membunuh yang menjadi poin utamanya</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seringnya, yang menjadi <em>plot twist </em>bukan ketika kebenaran akhirnya terungkap, melainkan <strong>mengapa hal tersebut dilakukan</strong>. Apalagi, Keigo kerap menunjukkan siapa pelakunya sejak di awal novel, hanya caranya (dan alasannya) yang masih disembunyikan. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Kritik Penulis hampir di semua artikel <em>review </em>novelnya sama, yakni <strong>terkadang proses investigasinya berbelit-belit</strong>. Pihak kepolisian seolah punya daftar panjang siapa saja yang harus diwawancarai. Bagian tersebut adalah bagian yang paling menjenuhkan dari semua karyanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pengecualian jelas terdapat pada <em>Keajaiban Toko Kelontong Namiya</em>, karena memang beda genre. Penulis sebenarnya penasaran, apakah ada karyanya yang lain yang bergenre <em>slice of life </em>seperti novel ini?</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">***</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jujur, Penulis merasa sedih ketika mendengar kabar kematian Keigo Higashino hari ini. Walau baru membaca enam bukunya, beberapa di antaranya benar-benar memberi dampak yang luar biasa bagi Penulis. Efek setelah membaca bukunya itu yang membuat Penulis terus membeli karyanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karya terakhir Keigo yang berjudul <em><strong>Eternal Memory</strong></em> akan mulai rilis pada bulan Agustus mendatang. Novel terakhirnya tersebut seolah memberikan pesan walau ia telah meninggalkan kita semua, karyanya akan menjadi kenangan yang abadi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selamat jalan Keigo Higashino, terima kasih atas semua karyamu selama ini.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 27 Juli 2026, terinspirasi setelah mendengar kabar meninggal dunianya Keigo Higashino</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber Artikel: </p>



<ul class="wp-block-list">
<li><a href="https://www.japantimes.co.jp/culture/2026/07/27/books/keigo-higashino-obituary/">Japanese author Keigo Higashino, known for penning intricate mystery novels, dies at 68 &#8211; The Japan Times</a></li>
</ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/terima-kasih-keigo-higashino-selamat-jalan/">Terima Kasih, Keigo Higashino, Selamat Jalan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/tokohsejarah/terima-kasih-keigo-higashino-selamat-jalan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Saya Habis Kena Tipu, Waspadai Modus Ini</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/saya-habis-kena-tipu-waspadai-modus-ini/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/saya-habis-kena-tipu-waspadai-modus-ini/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 12 Jul 2026 08:27:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[JNE]]></category>
		<category><![CDATA[penipuan]]></category>
		<category><![CDATA[scam]]></category>
		<category><![CDATA[Tokopedia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8755</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sejujurnya, Penulis merasa malu ketika menuliskan tulisan ini. Bagi Penulis, ini adalah pengalaman yang memalukan dan seharusnya bisa Penulis hindari. Apalagi, selama ini Penulis dengan angkuhnya merasa tidak mungkin kena penipuan. Namun, setelah dipertimbangkan, ada baiknya Penulis membagikan hal ini agar yang lain tidak menjadi korban seperti Penulis (walau kerugiannya memang tidak seberapa). Ini juga [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/saya-habis-kena-tipu-waspadai-modus-ini/">Saya Habis Kena Tipu, Waspadai Modus Ini</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Sejujurnya, Penulis merasa malu ketika menuliskan tulisan ini. Bagi Penulis, ini adalah <strong>pengalaman yang memalukan </strong>dan seharusnya bisa Penulis hindari. Apalagi, selama ini Penulis dengan angkuhnya merasa tidak mungkin kena penipuan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, setelah dipertimbangkan, ada baiknya Penulis membagikan hal ini <strong>agar yang lain tidak menjadi korban</strong> seperti Penulis (walau kerugiannya memang tidak seberapa). Ini juga sebagai pengingat bagi Penulis bahwa <strong>jangan merasa kita pasti tidak akan kena kasus penipuan</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, Penulis akan bercerita tentang kronologi kejadiannya selengkap mungkin, sekaligus memberi tanda-tanda mulai mana penipuan bisa dideteksi. Semoga kisah yang memalukan ini bisa menjadi pelajaran bersama.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/yang-salah-dari-privilege-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/yang-salah-dari-privilege-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/yang-salah-dari-privilege-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/yang-salah-dari-privilege-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/12/yang-salah-dari-privilege-banner.jpg 1280w " alt="Yang Salah dari Privilege" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/sosial-budaya/yang-salah-dari-privilege/">Yang Salah dari Privilege</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Berawal dari Pembelian di Tokopedia</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Kejadian penipuan yang Penulis alami terjadi pada hari Jumat, 12 Juni 2026, atau sekitar satu bulan yang lalu. Pada hari itu, sekitar siangnya, kebetulan Penulis membelikan <em>casing </em>untuk <em>smartwatch </em>Huawei milik ayah Penulis karena dimintai tolong melalui Tokopedia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, tiba-tiba malamnya sekitar jam 10, ketika Penulis masih bekerja, tiba-tiba ada pesan WhatsApp masuk. Pesan tersebut mengatasnamakan dari pihak ekspedisi. Kebetulan, waktu itu paket Penulis dikirim oleh JNE.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Inti dari pesan tersebut adalah <strong>ada kesalahan pengiriman</strong>, sehingga paket Penulis <em>nyasar </em>ke orang lain. Oleh karena itu, sang penipu mengatakan akan mengganti rugi barang yang salah kirim tersebut. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis pun diberi semacam <em>link </em>yang jelas alamatnya tidak jelas. Mengingat nomornya tidak dikenal, harusnya Penulis sudah langsung curiga, bukan? Harusnya begitu, tapi entah mengapa Penulis lengah malam itu dan mengeklik <em>link</em> tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mungkin, penulis lengah karena waktu itu sudah malam dan fokus Penulis sudah menurun. Namun, ada satu hal lagi yang membuat Penulis sempat percaya: <strong>pesan WhatsApp tersebut mencantumkan nomor resi paket Penulis beserta nama Penulis secara lengkap</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kembali ke <em>link</em>. Jadi, setelah mengeklik <em>link </em>yang diberikan, Penulis melihat semacam halaman yang sangat mirip dengan halaman Tokopedia. Sebenarnya, <strong>beberapa kali <em>link </em>tersebut <em>error </em></strong>dan<strong> memunculkan pesan Malware</strong>. Bodohnya, Penulis mengabaikan peringatan tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis pun memasukkan nomor telepon dan PIN Tokopedia-nya di laman tersebut. Lalu, muncullah SMS masuk dari Tokopedia yang memberikan kode OTP (One-Time Password). Setelah sempat beberapa kali lamannya <em>error,</em> <strong>Penulis pun memasukkan kode OTP di laman tersebut</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#930b0f" class="has-inline-color">Di sinilah kebodohan terbesar Penulis, bahkan ketika menuliskan paragraf di atas, rasa malu tiba-tiba muncul begitu hebatnya hingga dada terasa sesak.</mark></em> </p>



<h2 class="wp-block-heading">Berlanjut ke Barcode BCA</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Singkat cerita, intinya laman tersebut berkali-kali <em>error</em>, sehingga pihak penipu mengatakan akan <strong>melanjutkan proses melalui transfer via bank</strong>, bahkan sampai menelepon Penulis. Nah, di sini kecurigaan Penulis mulai muncul kalau ini benar-benar penipu dan secara sadar ingin mengerjai balik. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Sang penipu <strong>mengirimkan sebuah kode <em>barcode </em>yang katanya akan mengirimkan uang sejumlah nominal pembelian </strong>Penulis. Ketika ditanya Penulis menggunakan bank apa, Penulis menjawab BCA karena tahu kalau di rekening tersebut hampir tidak ada uangnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Percobaan pertama, <em>barcode </em>tersebut <em>error</em>, sehingga dikirimlah kode yang baru. Bedanya, kode yang baru ini jelas-jelas<strong> memperlihatkan nominal sekitar Rp9 juta</strong>, yang tentunya kita yang melakukan <em>scan</em>-lah yang melakukan pembayaran.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menariknya, sang penipu mengatakan bahwa itu adalah <strong>jumlah saldo yang mereka miliki</strong>, dan Penulis diminta secara jujur untuk mentransfer hanya sejumlah pembelian Penulis. Tentu ironi, bagaimana <strong>seorang penipu berharap yang ditipu bisa jujur!</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Walau begitu, Penulis pura-pura terjebak dalam permainannya. Penulis pura-pura tidak tahu kalau kita tidak bisa menerima uang dengan melakukan <em>scan</em>. Penulis pun melakukan <em>scan</em> <em>barcode </em>tersebut hingga memasukkan <em>password </em>di dalam aplikasi mBCA.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu, apa yang terjadi? Tentu saja muncul notifikasi <strong>SALDO ANDA TIDAK CUKUP! </strong>Notifikasi tersebut Penulis bacakan kepada sang penipu, lalu ia mulai berkelit ini-itu yang intinya mau kirim <em>barcode </em>baru karena yang itu <em>error</em>. Penulis yang merasa cukup pun langsung mematikan telepon tersebut dan memblokir nomor sang penipu.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kerugian yang Penulis Alami</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Apakah sampai di situ? Ternyata tidak. Ingat kode OTP yang Penulis masukkan ke <em>link </em>di atas? Penulis baru sadar ketika menelepon <em>bestie </em>Penulis tentang kejadian tersebut, bahwa <strong>akun dan PIN Penulis digunakan untuk <em>login </em>di HP-nya</strong> dan <strong>memasukkan kode OTP</strong> yang Penulis masukkan di <em>link </em>tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jadi, secara garis besar, <em>link </em>yang mereka kirimkan digunakan untuk mendapatkan informasi mengenai nomor telepon dan PIN ke dalam <em>database </em>mereka, lalu mereka <em>login </em>menggunakan perangkat mereka sendiri menggunakan kode OTP yang Penulis masukkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika Penulis mengecek emailnya (yang sebenarnya memang jarang dicek), ternyata memang ada notifikasi kalau ada<strong> perangkat Android yang mencoba masuk ke akun Tokopedia </strong>Penulis. Sayangnya, Penulis tidak memperhatikan waktu itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untungnya, Penulis tidak menautkan segala jenis Paylater dan lain-lain, hanya ada GoPay. Lumayan, waktu itu tiba-tiba ada pembelian pulsa 50 ribu untuk nomor Axis sebanyak tiga kali, sehingga total kerugian yang Penulis derita adalah sekitar <strong>Rp150 ribu</strong>. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, karena Penulis membuat laporan resmi ke pihak Tokopedia, <strong>akun Penulis di Tokopedia pun dinonaktifkan</strong> demi keamanan. Penulis sudah mengganti semua PIN (bahkan termasuk PIN aplikasi mBCA dan <em>password</em> email), tapi ternyata pembekuan akun tetap dibutuhkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hingga kini, Penulis masih kehilangan akun Tokopedia-nya, karena proses pengembalian akun membutuhkan banyak dokumen penting. Mengingat Penulis baru saja ditipu, ada sedikit trauma sehingga memutuskan untuk membiarkan saja akun Tokopedia-nya tidak bisa digunakan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fakta menarik tambahannya, setelah kejadian tersebut, ada <strong>tiga nomor lain dengan menggunakan modus serupa yang mengirimi pesan WhatsApp</strong> ke Penulis. Karena sudah merasa cukup dengan pengalaman yang sudah dialami, Penulis pun langsung memblokir semuanya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Penutup</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Itulah kronologi kejadian bagaimana Penulis, yang selama ini merasa tidak bakal bisa kena tipu, ternyata bisa kena tipu. Dua hal yang meyakinkan Penulis, yakni <strong>nomor resi </strong>dan <strong>UI ala Tokopedia</strong>, ternyata bisa menurunkan kewaspadaan Penulis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis bahkan harusnya masih bisa bersyukur, karena kehilangan uang dalam nominal yang tidak terlalu besar plus akun Tokopedia-nya. Anggap saja akunnya hilang agar tidak impulsif belanja <em>online</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Semoga tulisan di atas bisa menjadi pelajaran dan jangan sampai ada lagi yang tertipu seperti Penulis. Cukup Penulis saja yang mengalami penipuan dengan modus tersebut.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 12 Juli 2026, terinspirasi karena ingin membagikan pengalamannya kena tipu</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/saya-habis-kena-tipu-waspadai-modus-ini/">Saya Habis Kena Tipu, Waspadai Modus Ini</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/saya-habis-kena-tipu-waspadai-modus-ini/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ketika Sherlock Holmes Diolok-olok Detektif Lain</title>
		<link>https://whathefan.com/tokohsejarah/ketika-sherlock-holmes-diolok-olok-detektif-lain/</link>
					<comments>https://whathefan.com/tokohsejarah/ketika-sherlock-holmes-diolok-olok-detektif-lain/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 Jun 2026 14:24:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tokoh & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[detektif]]></category>
		<category><![CDATA[Hercule Poirot]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[Sherlock Holmes]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8693</guid>

					<description><![CDATA[<p>Seri Sherlock Holmes adalah cerita detektif pertama yang Penulis baca. Penulis pernah membahas tentang bagaimana awal mula bertemu Sherlock di tulisan lama, jadi Penulis tidak akan mengulangnya pada tulisan ini. Nah, belakangan ini, Penulis melakukan re-read cerita-cerita Sherlock Holmes dan juga Agatha Christie, yang terpicu dari sebuah diskusi dengan teman. Ketika dibaca ulang, metode Sherlock [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/ketika-sherlock-holmes-diolok-olok-detektif-lain/">Ketika Sherlock Holmes Diolok-olok Detektif Lain</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Seri Sherlock Holmes adalah cerita detektif pertama yang Penulis baca. <a href="https://whathefan.com/buku/berteriak-karena-buku/">Penulis pernah membahas tentang bagaimana awal mula bertemu Sherlock di tulisan lama</a>, jadi Penulis tidak akan mengulangnya pada tulisan ini. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, belakangan ini, Penulis melakukan <em>re-read </em>cerita-cerita Sherlock Holmes dan juga Agatha Christie, yang terpicu dari sebuah diskusi dengan teman. Ketika dibaca ulang, metode Sherlock yang terlihat keren kok jadi agak mengkhayal dan terlalu dipaksakan, hahaha.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan Hercule Poirot di novel <em>The Big Four</em> (<em>Empat Besar</em>), yang kebetulan juga sedang Penulis baca lagi. Tak hanya itu, tokoh di novel <em>The Tokyo Zodiac Murders </em>juga membongkar kejanggalan dari metode Sherlock!</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/tur-kamar-saya-sisi-timur-banner-300x150.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/tur-kamar-saya-sisi-timur-banner-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/tur-kamar-saya-sisi-timur-banner-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/tur-kamar-saya-sisi-timur-banner-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/03/tur-kamar-saya-sisi-timur-banner.jpg 1280w " alt="Tur Kamar Saya (Sisi Timur)" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/pengalaman/tur-kamar-saya-sisi-timur/">Tur Kamar Saya (Sisi Timur)</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Ketika Hercule Poirot Mengolok-olok Sherlock Holmes</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/06/ketika-sherlock-holmes-diolok-olok-detektif-lain-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8696" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/06/ketika-sherlock-holmes-diolok-olok-detektif-lain-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/06/ketika-sherlock-holmes-diolok-olok-detektif-lain-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/06/ketika-sherlock-holmes-diolok-olok-detektif-lain-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/06/ketika-sherlock-holmes-diolok-olok-detektif-lain-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Hercule Poirot dalam Sebuah Adaptasi The Big Four (<a href="https://greatoldmovies.blogspot.com/2014/07/the-big-four.html">GREAT OLD MOVIES</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Di antara 80 novel Agatha Christie yang Penulis miliki, <em><strong>The Big Four </strong></em>adalah salah satu favorit Penulis. Penulis masih ingat pertama kali membaca novel ini di perpustakaan Kota Malang sewaktu kuliah, tapi waktu itu Penulis tidak membacanya sampai tuntas sebelum akhirnya memilikinya sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di novel ini, <strong>Hercule Poirot </strong>adalah bintang utamanya dan seperti biasa kita akan mengikuti petualangannya melalui kacamata sahabatnya, <strong>Arthur Hastings</strong> (seperti John Watson di seri Sherlock Holmes). Ada banyak kasus &#8220;mini&#8221; di novel ini, tapi semua terhubung ke organisasi The Big Four yang disebut menguasai dunia. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, di halaman 9, ada bagian cerita yang menurut Penulis seperti &#8220;menyindir&#8221; metode yang dilakukan oleh Holmes. Waktu itu, Hastings menyebut bahwa Poirot selalu menolak metode yang umumnya dilakukan oleh detektif, seperti:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Manusia berlagak seperti anjing pemburu</li>



<li>Memakai berbagai samaran hebat untuk mencari jejak penjahat</li>



<li>Berhenti pada setiap jejak untuk mengukurnya</li>
</ul>



<p class="wp-block-paragraph">Kalau Pembaca familier dengan cerita-cerita Sherlock Holmes atau pernah menonton adaptasi filmnya yang dibintangi oleh Robert Downey Jr., pasti memahami kalau poin-poin yang disebutkan di atas memang kerap dilakukannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;<em>Teratur, bermetode, ditambah dengan &#8216;sel-sel kecil kelabu&#8217;. Sambil duduk nyaman di rumah kita sendiri pun, kita bisa melihat hal-hal yang mungkin tak terlihat oleh orang lain, dan kita tidak mengambil kesimpulan terlalu cepat seperti Japp (polisi di cerita ini) yang jempolan itu,</em>&#8221; ungkap Poirot di novel ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ironisnya, <em>The Big Four </em>adalah novel Hercule Poirot yang paling &#8220;Sherlock Holmes&#8221; menurut Penulis. Jika Poirot biasanya hanya mengandalkan sel-sel kelabunya dan &#8220;kurang gerak&#8221;, di novel ini justru kita akan melihat berbagai aksinya ke sana kemari dalam membongkar kejahatan organisasi The Big Four.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Ketika Tokoh di Novel The Tokyo Zodiac Murders Mengolok-olok Sherlock Holmes</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/06/ketika-sherlock-holmes-diolok-olok-detektif-lain-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8697" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/06/ketika-sherlock-holmes-diolok-olok-detektif-lain-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/06/ketika-sherlock-holmes-diolok-olok-detektif-lain-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/06/ketika-sherlock-holmes-diolok-olok-detektif-lain-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/06/ketika-sherlock-holmes-diolok-olok-detektif-lain-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Novel The Tokyo Zodiac Murders (<a href="https://www.gramedia.com/products/pembunuhan-zodiak-tokyo-the-tokyo-zodiac-murders">Gramedia</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Serangan&#8221; Poirot kepada Holmes di novel <em>The Big Four </em>masih sopan dan tidak menyebut nama. Lain halnya dengan tokoh di novel <em>The Tokyo Zodiac Murders </em>yang baru saja Penulis tamatkan. Selain terang-terangan menyebut Holmes, metode dan ketidaklogisannya dibongkar total!</p>



<p class="wp-block-paragraph">Novel ini mengambil sudut pandang orang kedua melalui mata <strong>Kazumi Ishioma</strong>, yang berusaha memecahkan misteri Pembunuhan Zodiak Tokyo yang terjadi sekitar 40 tahun lalu. Ia pun berdiskusi dengan temannya, <strong>Kiyoshi Mitarai</strong>, seorang astrolog sekaligus detektif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, kejadian yang ingin Penulis bahas terjadi di halaman 168. Ceritanya, Kazumi merupakan penggemar Sherlock Holmes. Ketika progres mereka memecahkan misteri tersebut buntu, ia mengatakan kalau Holmes pasti bisa memecahkannya dengan mudah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mendengar hal tersebut, Kiyoshi langsung menyebut kalau detektif asal Inggris tersebut adalah &#8220;pembohong, barbar, dan pecandu kokain yang selalu keliru membedakan antara kenyataan dengan khayalan.&#8221;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tentu Kazumi langsung panas mendengar idolanya dihujat seperti itu dan minta menjelaskan. Kiyoshi meminta Kazumi menyebutkan satu kasus favorit yang dipecahkan Holmes, dan dijawab kasus &#8220;Lilitan Bintik-Bintik&#8221; dari buku <em>The Adventure of Sherlock Holmes</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kebetulan, Penulis juga baru membaca ulang cerita tersebut, sehingga langsung paham dengan apa yang akan dibahas oleh Kiyoshi. Menurutnya, jika pelaku dalam kasus tersebut menyimpan ular dalam brankas, harusnya ular tersebut mati kehabisan oksigen! Anehnya lagi, ular tersebut diberi semangkuk susu, padahal ular tidak minum susu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, metode pelaku yang memanggil ular dengan siulan juga janggal, karena ular tidak memiliki telinga! Karena hal tersebut, Kiyoshi menyebutkan bahwa antara Dokter Watson hanya mengarang cerita atau Holmes sedang berada di bawah pengaruh kokain ketika menceritakan hal tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kemampuan Holmes dalam menebak berbagai macam hal hanya melalui pengamatan juga diolok-olok oleh Kiyoshi karena banyak yang tidak masuk akal jika dipikirkan ulang. Penyamaran Holmes menjadi berbagai macam wujud juga dianggap tidak realistis. </p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">***</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apakah Penulis marah karena detektif favoritnya diolok-olok oleh penulis lain? Tentu tidak, karena seperti yang sudah Penulis singgung di awal tulisan, Penulis juga merasakan hal yang sama ketika membaca ulang cerita-cerita Sherlock Holmes!</p>



<p class="wp-block-paragraph">Walau begitu, Penulis tetap menyukai cerita-cerita Sherlock Holmes. Ketika menikmati sebuah cerita, sering kali kita memisahkannya dengan realita. Kalau terus dihubungkan dengan logika, keseruannya malah jadi berkurang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sherlock Holmes telah menjadi bagian dari masa kecil dan remaja Penulis, sehingga sangat <em>memorable</em> dan tak tergantikan. Meskipun belakangan suka membaca <a href="https://whathefan.com/buku/fiksi/review-setelah-membaca-malice-catatan-pembunuhan-sang-novelis/">cerita-cerita detektif dari penulis Jepang</a> (termasuk <em>The Tokyo Zodiac Murders</em>), Sherlock akan selalu di hati.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 3 Juni 2026, terinspirasi setelah membaca dua novel detektif yang sama-sama &#8220;mengolok-olok&#8221; metode Sherlock Holmes</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/ketika-sherlock-holmes-diolok-olok-detektif-lain/">Ketika Sherlock Holmes Diolok-olok Detektif Lain</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/tokohsejarah/ketika-sherlock-holmes-diolok-olok-detektif-lain/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apa yang Dilakukan oleh Trump Memang Kebiasaan Amerika Serikat</title>
		<link>https://whathefan.com/tokohsejarah/apa-yang-dilakukan-oleh-trump-memang-kebiasaan-amerika-serikat/</link>
					<comments>https://whathefan.com/tokohsejarah/apa-yang-dilakukan-oleh-trump-memang-kebiasaan-amerika-serikat/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 Mar 2026 14:13:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tokoh & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Amerika Serikat]]></category>
		<category><![CDATA[Donald Trump]]></category>
		<category><![CDATA[geopolitik]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[negara]]></category>
		<category><![CDATA[perang]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8588</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tahun 2026 ternyata tahun yang jauh dari kedamaian. Pasalnya, ini baru sampai Maret, tapi Amerika Serikat (AS) sudah melakukan dua aksi militer ke negara lain yang berdaulat, yakni Venezuela dan Iran. Dengan berbagai dalih, Presiden Donald Trump membenarkan aksinya tersebut, yang jika kita lihat merupakan bentuk intervensi terhadap urusan negara orang lain. Ya, kita memang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/apa-yang-dilakukan-oleh-trump-memang-kebiasaan-amerika-serikat/">Apa yang Dilakukan oleh Trump Memang Kebiasaan Amerika Serikat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Tahun 2026 ternyata tahun yang jauh dari kedamaian. Pasalnya, ini baru sampai Maret, tapi <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/bagaimana-amerika-serikat-mendapatkan-wilayahnya-bagian-1/">Amerika Serikat (AS)</a> sudah melakukan dua aksi militer ke negara lain yang berdaulat, yakni <strong>Venezuela</strong> dan <strong>Iran</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan berbagai dalih, Presiden <strong>Donald Trump </strong>membenarkan aksinya tersebut, yang jika kita lihat merupakan bentuk intervensi terhadap urusan negara orang lain. Ya, kita memang tahu kalau di balik itu ada kepentingan mereka sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oh, jangan lupa dengan gebrakannya yang ingin mengambil alih <strong>Greenland</strong> dari Denmark, meskipun mereka sama-sama sekutu di bawah bendera NATO. Mungkin wacana tersebut batal, tapi kita bisa melihat &#8220;serakus&#8221; apa AS di bawah Trump.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/Logo-Square-300x300.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/Logo-Square-300x300.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/Logo-Square-150x150.jpg 150w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/Logo-Square-768x768.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/Logo-Square-255x255.jpg 255w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/03/Logo-Square.jpg 1000w " alt="Di Balik Nama Whathefan" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/pengalaman/di-balik-nama-whathefan/">Di Balik Nama Whathefan</a></div></div></div><p></p>


<p class="wp-block-paragraph">Terbaru, Trump juga berencana untuk menyerang <strong>Kuba</strong> yang berada tepat di selatan wilayah negaranya. United Nations (UN) pun tak terlihat batang hidungnya belakangan ini. Sekadar mengecam pun tidak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mungkin kita terkejut dengan keputusan Trump yang terkesan arogan tersebut. Namun, jika menengok sejarah, sebenarnya apa yang dilakukan oleh Trump tersebut memang sudah menjadi semacam &#8220;kebiasaan&#8221; AS.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kebiasaan AS Mengurusi Urusan Negara Lain</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Apa-yang-Dilakukan-oleh-Trump-Memang-Kebiasaan-Amerika-Serikat-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8604" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Apa-yang-Dilakukan-oleh-Trump-Memang-Kebiasaan-Amerika-Serikat-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Apa-yang-Dilakukan-oleh-Trump-Memang-Kebiasaan-Amerika-Serikat-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Apa-yang-Dilakukan-oleh-Trump-Memang-Kebiasaan-Amerika-Serikat-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Apa-yang-Dilakukan-oleh-Trump-Memang-Kebiasaan-Amerika-Serikat.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Pulau Penuh Kotoran Burung (<a href="https://www.atlasobscura.com/articles/when-the-western-world-ran-on-guano">Atlas Obscura</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Jangankan wilayah yang berdaulat, bahkan pulau kecil yang dipenuhi kotoran burung pun sempat menjadi target AS di masa lalu. Ini bukan mengada-ada, karena di tahun 1800-an, mereka berusaha memonopoli pulau-pulau kecil yang merupakan milik Peru.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis mengetahui fakta ini dari video-video dari <strong>Johnny Harris</strong>. Nantinya, banyak contoh yang Penulis sebutkan di sini bersumber dari videonya. Intinya, mereka bahkan sampai mengancam Peru jika menghalangi bisnis kotoran burung untuk pupuk tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menariknya, perkara menguasai pulau penuh kotoran burung tersebut adalah langkah awal AS menuju imperialisme. Namun, di artikel ini kita tidak akan membahas hal tersebut. Fokus kita adalah melihat intervensi AS ke negara lain di masa lalu. </p>



<h3 class="wp-block-heading">Guatemala dan Pisang</h3>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Apa-yang-Dilakukan-oleh-Trump-Memang-Kebiasaan-Amerika-Serikat-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8603" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Apa-yang-Dilakukan-oleh-Trump-Memang-Kebiasaan-Amerika-Serikat-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Apa-yang-Dilakukan-oleh-Trump-Memang-Kebiasaan-Amerika-Serikat-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Apa-yang-Dilakukan-oleh-Trump-Memang-Kebiasaan-Amerika-Serikat-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Apa-yang-Dilakukan-oleh-Trump-Memang-Kebiasaan-Amerika-Serikat-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">United Fruit Company di Guatemala (<a href="https://therealnews.com/guatemala-and-the-united-fruit-coup-under-the-shadow-episode-2">The Real News</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Di <strong>Guatemala</strong> misalnya, di mana mereka intervensi karena satu alasan: <strong>pisang</strong>! Yup, demi mengamankan bisnis pisang mereka di sana (karena buah tersebut sangat populer di AS), mereka terlibat dalam penggulingan kekuasaan pemerintah yang ingin AS tidak memonopoli bisnis pisang di sana.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mengapa AS sampai melangkah sejauh itu? Karena <strong>United Fruit Company,</strong> salah satu perusahaan buah terbesar, memiliki seperlima lahan pertanian di negara tersebut! Mereka juga punya infrastruktur lengkap seperti negara di dalam negara dan dukungan militer AS.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Pencaplokan Hawaii dan Gula</h3>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Apa-yang-Dilakukan-oleh-Trump-Memang-Kebiasaan-Amerika-Serikat-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8605" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Apa-yang-Dilakukan-oleh-Trump-Memang-Kebiasaan-Amerika-Serikat-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Apa-yang-Dilakukan-oleh-Trump-Memang-Kebiasaan-Amerika-Serikat-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Apa-yang-Dilakukan-oleh-Trump-Memang-Kebiasaan-Amerika-Serikat-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Apa-yang-Dilakukan-oleh-Trump-Memang-Kebiasaan-Amerika-Serikat-3.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Ratu Liliuokalani (<a href="https://www.biography.com/royalty/liliuokalani">Biography</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Tahu <strong>Hawaii</strong>, bukan? Negara bagian AS berupa kepulauan di Samudra Pasifik tersebut dulunya merupakan sebuah kerajaan berdaulat yang tiba-tiba dianeksasi seenak <em>udel </em>oleh AS. Penyebabnya? Bisnis <strong>gula</strong>!</p>



<p class="wp-block-paragraph">Awalnya, orang-orang kulit putih di sana datang sebagai misionaris untuk menyebarkan agama kristen. Lantas, mereka justru berbisnis dan salah satunya adalah dengan mendirikan industri gula.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Agar lancar, mereka pun membuat gerakan sistematis untuk menggulingkan pemerintahan yang sah (waktu itu dipimpin oleh <strong>Ratu Liliuokalani</strong>) dan digantikan oleh Sanford Dole yang punya bisnis gula.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Terusan Panama dan Kemerdekaan Panama</h3>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Apa-yang-Dilakukan-oleh-Trump-Memang-Kebiasaan-Amerika-Serikat-4-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8606" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Apa-yang-Dilakukan-oleh-Trump-Memang-Kebiasaan-Amerika-Serikat-4-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Apa-yang-Dilakukan-oleh-Trump-Memang-Kebiasaan-Amerika-Serikat-4-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Apa-yang-Dilakukan-oleh-Trump-Memang-Kebiasaan-Amerika-Serikat-4-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2026/03/Apa-yang-Dilakukan-oleh-Trump-Memang-Kebiasaan-Amerika-Serikat-4.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Pembuatan Terusan Panama (<a href="https://www.chimuadventures.com/en/blog/construction-panama-canal">Chimu Adventure</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Tahu <strong>Terusan Panama</strong>, bukan? Pada saat pembuatannya di awal 1900-an, Panama masih merupakan wilayah dari Kolombia. Nah, Kolombia menolak pembuatan kanal yang awalnya dikerjakan oleh arsitektur Prancis (walau berakhir gagal). </p>



<p class="wp-block-paragraph">Sudah ketebak bukan apa yang terjadi selanjutnya? AS memberi dukungan kepada orang-orang Panama (Panamian) untuk merdeka dari Kolombia (termasuk senjata dan tentara), dengan syarat mereka boleh meneruskan pengerjaan Terusan Panama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Singkat cerita, revolusi tersebut berhasil dan Panama pun menjadi negara merdeka. AS secara sigap menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan mereka. Terusan Panama pun jadi milik mereka hingga akhirnya dikembalikan ke Panama pada tahun 1999.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Contoh-Contoh Lainnya</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Di <strong>Indonesia</strong> sendiri, AS disebut menjadi<em> </em>dalang di balik lengsernya Sukarno yang sudah semakin ke kiri. Di <strong>Korea</strong>, hari ini ada dua negara (Utara dan Selatan) juga karena andil mereka bersama Uni Soviet. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Mungkin kalau yang lebih baru, adalah ketika mereka <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/amerika-serikat-dan-serangan-serangannya-ke-islam/">meluluhlantakkan <strong>Irak</strong> dan <strong>Libya</strong></a>, yang waktu itu dipimpin oleh <strong>Saddam Hussein </strong>dan <strong>Muammar Khadafi. </strong>Mereka dicap persis seperti pemimpin Venezuela dan Iran, yakni tiran yang harus disingkirkan demi &#8220;kebaikan rakyatnya&#8221;.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Percayalah, contoh-contoh di atas baru sebagian kecil saja. Negara yang satu ini memang hobi intervensi urusan negara orang lain, bahkan semakin parah di bawah kepresidenan Trump.</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">***</p>



<p class="wp-block-paragraph">Intervensi AS di Iran disebut bisa memicu Perang Dunia III, yang sudah kerap disebut sejak Rusia melakukan invasi ke Ukraina. Tentu banyak orang berharap hal tersebut tidak pernah terjadi, mayoritas dari kita hanya ingin hidup dengan damai.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, memang ada pihak-pihak yang rasanya membenarkan peperangan dengan alasan &#8220;damai&#8221;. Secara ironis, hal ini membuat kita teringat dengan Pain dari serial <em>Naruto Shippuden</em>, yang tujuannya akhirnya memang perdamaian dengan cara kekerasan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Logika yang digunakan Trump juga sesat. Dengan menggunakan logikanya, negara lain juga berhak menyerang AS dengan alasan Trump telah membuat rakyatnya menderita. Lihat saja kelakuan agen Immigration and Customs Enforcement (ICE) yang beberapa kali membunuh warga sipil.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mau sampai kapan ia memutuskan untuk <a href="https://whathefan.com/filmserial/ironi-superhero-amerika/">menjadi polisi dunia</a> tanpa dilandasi hukum yang jelas? Penulis benar-benar tidak paham lagi jika sampai ada pemimpin dunia yang memutuskan berada di pihaknya.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 11 Maret 2026, terinspirasi setelah teringat bagaimana aksi ikut campur Amerika Serikat sudah dilakukan sejak dahulu kala</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber Artikel:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li><a href="https://youtu.be/W9KFkBvJcR4">How the U.S. Snagged All These Islands</a></li>



<li><a href="https://youtu.be/WWBCl8huNMA">How the US Stole Central America (With Bananas)</a></li>



<li><a href="https://youtu.be/XK2MBnw6RlY">How the US Stole Hawaii</a></li>



<li><a href="https://youtu.be/D_PtYPnKBJs">How The US Stole The Panama Canal, Mapped</a></li>
</ul>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/apa-yang-dilakukan-oleh-trump-memang-kebiasaan-amerika-serikat/">Apa yang Dilakukan oleh Trump Memang Kebiasaan Amerika Serikat</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/tokohsejarah/apa-yang-dilakukan-oleh-trump-memang-kebiasaan-amerika-serikat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Productivity Hack #4: Kalau Cuma Butuh 5 Menit, Lakukan Sekarang</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hack-4-kalau-cuma-butuh-5-menit-lakukan-sekarang/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hack-4-kalau-cuma-butuh-5-menit-lakukan-sekarang/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 09 Dec 2025 16:47:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[menunda]]></category>
		<category><![CDATA[produktif]]></category>
		<category><![CDATA[prokrastinasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8470</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jika ada satu kekurangan pada dirinya sendiri yang begitu ingin dihilangkan, mungkin salah satunya adalah kebiasaan untuk menunda segala sesuatu. Mulai dari hal-hal remeh sampai pekerjaan penting, Penulis punya kecenderungan untuk menundanya (prokrastinasi). Untuk pekerjaan yang ada deadline-nya, Penulis bisa bilang bisa menyelesaikannya, walau kadang juga harus mepet deadline. Namun, untuk pekerjaan yang tidak memiliki [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hack-4-kalau-cuma-butuh-5-menit-lakukan-sekarang/">Productivity Hack #4: Kalau Cuma Butuh 5 Menit, Lakukan Sekarang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Jika ada satu kekurangan pada dirinya sendiri yang begitu ingin dihilangkan, mungkin salah satunya adalah kebiasaan untuk menunda segala sesuatu. Mulai dari hal-hal remeh sampai pekerjaan penting, Penulis punya kecenderungan untuk menundanya (prokrastinasi).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk pekerjaan yang ada <em>deadline</em>-nya, Penulis bisa bilang bisa menyelesaikannya, walau kadang juga harus mepet <em>deadline</em>. Namun, untuk pekerjaan yang tidak memiliki <em>deadline</em>, ada peluang besar dari <em>later </em>menjadi <em>never</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menyadari hal ini, Penulis pun mencoba melakukan metode sederhana yang sedang berusaha diterapkan di kesehariannya. Metode tersebut adalah <strong>&#8220;Aturan 5 Menit&#8221;</strong>, di mana jika sebuah pekerjaan bisa diselesaikan dalam waktu kurang dari 5 menit, kerjakan sekarang juga. </p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/kobaran-api-akibat-ledakan-bom-di-gki-jalan-diponegoro_20180513_183533-300x168.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/kobaran-api-akibat-ledakan-bom-di-gki-jalan-diponegoro_20180513_183533-300x168.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/kobaran-api-akibat-ledakan-bom-di-gki-jalan-diponegoro_20180513_183533-356x200.jpg 356w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2018/05/kobaran-api-akibat-ledakan-bom-di-gki-jalan-diponegoro_20180513_183533.jpg 700w " alt="Terorisme Bukan Islam" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/renungan/terorisme-bukan-islam/">Terorisme Bukan Islam</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Contoh Aplikasi Aturan 5 Menit</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Productivity-Hack-4-Kalau-Cuma-Butuh-5-Menit-Lakukan-Sekarang-a-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Productivity-Hack-4-Kalau-Cuma-Butuh-5-Menit-Lakukan-Sekarang-a-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Productivity-Hack-4-Kalau-Cuma-Butuh-5-Menit-Lakukan-Sekarang-a-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Productivity-Hack-4-Kalau-Cuma-Butuh-5-Menit-Lakukan-Sekarang-a-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Productivity-Hack-4-Kalau-Cuma-Butuh-5-Menit-Lakukan-Sekarang-a.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Jangan Tunda Kalau Cuma Butuh Sebentar Melakukannya (Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/woman-carrying-stacked-books-4107106/">cottonbro studio</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Sebelum menulis artikel ini, Penulis mencoba menerapkan metode ini agar tulisan ini terasa lebih nyata. Ada beberapa aktivitas yang Penulis lakukan di mana beberapa di antaranya sudah diniati sejak lama, tapi belum dikerjakan. Berikut daftarnya:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Mengisi ulang botol Cleo di ruang tamu</li>



<li>Merapikan tas-tas yang menumpuk dan berserakan dekat kasur</li>



<li>Menggantung <em>sweater </em>dan celana <em>training </em>di atas kasur</li>



<li>Mengubah posisi lampu LED di kamar (karena terbalik)</li>



<li>Membersihkan sarang laba-laba dekat meja kerja (<em>suprisingly </em>ada laba-laba betina beserta anak-anaknya)  </li>



<li>Membersihkan sarang laba-laba dekat televisi (ada banyak bangkai semut yang mati)</li>
</ul>



<p class="wp-block-paragraph">Semua aktivitas tersebut jika waktu mengerjakannya digabung, tidak sampai 15 menit untuk selesai. Akan tetapi, waktu menundanya sudah berminggu-minggu atau lebih parahnya lagi berbulan-bulan. Padahal, tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi orang yang suka menunda seperti Penulis, <strong>di pikirannya selalu ada kata nanti</strong>. Ah, nanti aja dikerjakan. Ah, nanti aja diselesaikan. Ah, nanti aja dipikir. Pada akhirnya, &#8220;nanti&#8221; ini pun menjadi sesuatu yang tidak pernah dikerjakan dan akhirnya dilupakan.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph"><mark style="background-color:rgba(0, 0, 0, 0);color:#9e0b0f" class="has-inline-color">&#8220;Tidak ada nanti&#8221;</mark></p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Mengutip perkataan Shikamaru Nara di atas (manga <em>Naruto Chapter 325</em>) ketika ia berhadapan dengan Hidan, Penulis juga berusaha menghilangkan kata &#8220;nanti&#8221; dalam kesehariannya. Jika bisa dikerjakan sekarang, kerjakan sekarang. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika sudah berkomitmen untuk menerapkannya, Penulis jadi <strong>lebih jarang untuk menunda-nunda pekerjaan</strong> terutama yang remeh (tentu terkadang masih <em>ndableg</em>). Alhasil, <strong>jadi lebih banyak pekerjaan yang terselesaikan</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada banyak hal sehari-hari yang hanya butuh kurang dari 5 menit untuk menyelesaikannya. Membersihkan tempat tidur, merapikan kabel <em>charger</em> setelah digunakan, cuci piring selesai makan, mengembalikan buku setelah selesai membaca, masih banyak lagi lainnya. Bisa dilihat kalau metode ini juga bisa digunakan untuk<a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/pentingnya-catatan-yang-selalu-terlihat-oleh-mata/"> </a>melatih disiplin diri. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika bekerja pun, metode ini sangat membantu. Penulis terbiasa melakukan <em><a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hacks-3-time-blocking/">time block</a> </em>secara bulat, sehingga selalu ingin mengakhiri jam kerja di waktu bulan seperti jam 12 siang atau setidaknya 12:30. Rasanya sangat tidak enak jika berhenti kerja di jam 12:14, misalnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, katakan jam 11:52 Penulis sudah menyelesaikan pekerjaan utamanya yang memakan waktu banyak, Penulis akan mencari pekerjaan-pekerjaan ringan yang bisa selesai dalam waktu singkat sembari menunggu jam 12:00. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Pekerjaan ringan di tempat kerja, walau ringan, bisa menumpuk juga dan membuat Penulis merasa <em>overwhelming</em>. Alhasil, pekerjaan yang ringan pun bisa menjadi penghambat untuk menyelesaikan pekerjaan yang lebih berat.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Sisi Buruk Aturan 5 Menit untuk Orang yang Mudah Terdistraksi</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Productivity-Hack-4-Kalau-Cuma-Butuh-5-Menit-Lakukan-Sekarang-b-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8475" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Productivity-Hack-4-Kalau-Cuma-Butuh-5-Menit-Lakukan-Sekarang-b-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Productivity-Hack-4-Kalau-Cuma-Butuh-5-Menit-Lakukan-Sekarang-b-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Productivity-Hack-4-Kalau-Cuma-Butuh-5-Menit-Lakukan-Sekarang-b-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/12/Productivity-Hack-4-Kalau-Cuma-Butuh-5-Menit-Lakukan-Sekarang-b.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Kuncinya FOCUS (via <a href="https://www.youtube.com/watch?v=Ur7aK4FvK-U&amp;list=RDUr7aK4FvK-U&amp;start_radio=1">YouTube</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Ada satu <em>loop hole </em>dari metode ini. Terkadang, karena ada <em>mindset </em>untuk segera mengerjakan pekerjaan-pekerjaan remeh,<strong> pekerjaan utama yang harusnya menjadi fokus utama justru jadi terpinggirkan</strong>. Ini sangat mudah terjadi ke orang yang mudah terdistraksi seperti Penulis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Misal Penulis sedang membuat satu artikel di tempat kerja. Ketika ingin <em>upload </em>gambar, Penulis jadi melihat <em>file-file </em>di komputernya yang belum dirapikan. Penulis pun membuat folder baru untuk memisahkan <em>file-file </em>tersebut berdasarkan tanggalnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah itu, Penulis jadi teringat belum melengkapi <em>to-do list </em>kantor untuk disetor. Karena cuma butuh waktu sebentar, Penulis pun jadi menyelesaikan hal tersebut terlebih dahulu. Ketika selesai, Penulis ingat belum cek surel redaksi, sehingga Penulis membuka Outlook dulu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bisa dilihat hanya karena satu distraksi kecil, pekerjaan menulis yang menjadi fokus utama pun jadi terpinggirkan. Alokasi waktu yang harusnya untuk menyelesaikan tulisan jadi digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan lain yang secara <em>deadline </em>lebih longgar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lantas, bagaimana cara mengatasinya? <strong><em>Time block </em>menjadi pilihan utama Penulis</strong>. Jika sudah mengalokasikan waktu untuk menulis, maka tidak boleh ada pekerjaan lain yang dikerjakan sampai pekerjaan utama selesai (kecuali ada yang <em>urgent</em>).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk pekerjaan-pekerjaan kecil yang hanya butuh waktu sebentar, Penulis bisa<strong> mencatatnya dulu di catatan </strong>agar tidak terlupa. Kalau bisa, <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/pentingnya-catatan-yang-selalu-terlihat-oleh-mata/">di catatan fisik yang selalu terlihat mata</a>. Kalau mencatatnya di ponsel, kemungkinan untuk melupakannya akan lebih besar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Memang terdengar kontradiksi karena pada akhirnya pekerjaan &lt;5 menit tersebut ditunda juga. Namun, <strong>skala prioritas juga menjadi sesuatu yang tidak boleh diabaikan</strong>. Kita harus tahu mana pekerjaan yang diutamakan, bukan hanya dari durasi untuk menyelesaikannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sejauh ini, Penulis merasakan manfaat dari penerapan metode ini dalam kesehariannya. Sekarang yang menjadi PR adalah bagaimana konsisten melakukannya. Tidak ada nanti.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 9 Desember 2025, terinspirasi dari dirinya yang sedang berusaha untuk menghilangkan kebiasaan menunda-nunda</p>



<p class="wp-block-paragraph">Featured Image Photo by <a href="https://www.pexels.com/photo/gray-double-bell-clock-1037993/">Moose Photos</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hack-4-kalau-cuma-butuh-5-menit-lakukan-sekarang/">Productivity Hack #4: Kalau Cuma Butuh 5 Menit, Lakukan Sekarang</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/productivity-hack-4-kalau-cuma-butuh-5-menit-lakukan-sekarang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Memahami Sumber Ketidakbahagiaan untuk Menemukan Kebahagiaan</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/memahami-sumber-ketidakbahagiaan-untuk-menemukan-kebahagiaan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/memahami-sumber-ketidakbahagiaan-untuk-menemukan-kebahagiaan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 17 Sep 2025 15:22:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8409</guid>

					<description><![CDATA[<p>Siapa yang tidak ingin bahagia? Penulis rasa sudah fitrahnya manusia untuk merasa bahagia selama dia hidup. Walaupun definisi bahagia orang bisa berbeda-beda, sudah sewajarnya manusia mengejar kebahagiaan. Jika disuruh mendeskripsikan apa itu bahagia, jujur Penulis sedikit kebingungan mendefinisikan versi Penulis. Mungkin karena tidak memahami apa makna dari kebahagiaan inilah Penulis jadi jarang merasa bahagia. Karena [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/memahami-sumber-ketidakbahagiaan-untuk-menemukan-kebahagiaan/">Memahami Sumber Ketidakbahagiaan untuk Menemukan Kebahagiaan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Siapa yang tidak ingin bahagia? Penulis rasa sudah fitrahnya manusia untuk merasa bahagia selama dia hidup. Walaupun definisi bahagia orang bisa berbeda-beda, sudah sewajarnya manusia mengejar kebahagiaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika disuruh mendeskripsikan apa itu bahagia, jujur Penulis sedikit kebingungan mendefinisikan versi Penulis. Mungkin karena tidak memahami apa makna dari kebahagiaan inilah Penulis jadi <a href="https://whathefan.com/olahraga/kunci-bahagia-jangan-jadi-fans-manchester-united/">jarang merasa bahagia</a>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena merasa kesulitan mendefinisikan kebahagiaan, Penulis mencoba untuk berpikir sebaliknya. Bagaimana jika kita mencari apa yang membuat kita tidak bahagia, karena lebih mudah untuk diidentifikasi? </p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Polemik-Brave-Pink-Hero-Green-Mengapa-Kita-Mudah-Terpolarisasi-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Polemik-Brave-Pink-Hero-Green-Mengapa-Kita-Mudah-Terpolarisasi-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Polemik-Brave-Pink-Hero-Green-Mengapa-Kita-Mudah-Terpolarisasi-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Polemik-Brave-Pink-Hero-Green-Mengapa-Kita-Mudah-Terpolarisasi-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Polemik-Brave-Pink-Hero-Green-Mengapa-Kita-Mudah-Terpolarisasi-banner.jpg 1200w " alt="Polemik Brave Pink Hero Green: Mengapa Kita Mudah Terpolarisasi" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-brave-pink-hero-green-mengapa-kita-mudah-terpolarisasi/">Polemik Brave Pink Hero Green: Mengapa Kita Mudah Terpolarisasi</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Memahami Apa Penyebab Ketidakbahagiaan</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Memahami-Sumber-Ketidakbahagiaan-untuk-Menemukan-Kebahagiaan-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8412" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Memahami-Sumber-Ketidakbahagiaan-untuk-Menemukan-Kebahagiaan-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Memahami-Sumber-Ketidakbahagiaan-untuk-Menemukan-Kebahagiaan-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Memahami-Sumber-Ketidakbahagiaan-untuk-Menemukan-Kebahagiaan-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Memahami-Sumber-Ketidakbahagiaan-untuk-Menemukan-Kebahagiaan-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Kita Lebih Mudah Tidak Bahagia daripada Bahagia (<a href="https://www.pexels.com/photo/woman-leaning-at-the-table-3209117/">Engin Akyurt</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Tentu banyak hal yang bisa membuat kita tidak bahagia. Namun, jika dirumuskan dalam satu kalimat, Penulis meyakini kalau ketidakbahagiaan muncul ketika <strong>gambaran ideal yang ada di kepala tidak menjadi kenyataan</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Misalnya begini. Bagi Penulis, secara ideal Penulis harus bisa bangun pagi yang dilanjutkan dengan lari pagi. Setelah itu, mandi pagi, menulis artikel blog, baru mulai bekerja. Jika semua rangkaian tersebut tidak terlaksana, Penulis merasa gagal, dan akhirnya tidak bahagia</p>



<p class="wp-block-paragraph">Contoh lain, bagi Penulis penghasilan yang ideal adalah 20 juta rupiah per bulan. Namun, hingga saat ini Penulis belum bisa mencapai nominal tersebut. Karena tidak sesuai dengan gambaran idealnya, Penulis pun jadi merasa tidak bahagia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sekarang Penulis mengambil contoh gambaran ideal ke orang lain. Misal kita punya gambaran ideal tentang pasangan di kepala: perhatian, peka, pendengar yang baik, loyal. Nah, ketika mendapatkan pasangan yang tidak sesuai dengan gambaran ideal tersebut, kita tidak bahagia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan kata lain, kita harus <strong>pandai-pandai mengelola ekspektasi yang ada di kepala kita</strong>, entah itu ekspektasi ke diri sendiri maupun ke orang lain. Tentu bukan berarti kita jadi punya target yang rendah dalam hidup, tapi lebih bisa menerima jika target tersebut belum bisa dicapai.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sejujurnya karena tulisan ini lama ditunda, Penulis lupa di mana menemukan konsep di atas. Kemungkinan besar dari buku <em><a href="https://whathefan.com/buku/non-fiksi/setelah-membaca-filsafat-kebahagiaan/">Filsafat Kebahagiaan</a></em>, tapi Penulis tak bisa memastikan. Jadi, anggap saja benar.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Bersyukur Setiap Kali Mengeluh</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Memahami-Sumber-Ketidakbahagiaan-untuk-Menemukan-Kebahagiaan-3-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8414" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Memahami-Sumber-Ketidakbahagiaan-untuk-Menemukan-Kebahagiaan-3-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Memahami-Sumber-Ketidakbahagiaan-untuk-Menemukan-Kebahagiaan-3-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Memahami-Sumber-Ketidakbahagiaan-untuk-Menemukan-Kebahagiaan-3-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Memahami-Sumber-Ketidakbahagiaan-untuk-Menemukan-Kebahagiaan-3.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Selalu Cari Apa yang Bisa Disyukuri (<a href="https://www.pexels.com/photo/crop-faceless-sportswoman-showing-namaste-gesture-4498156/">Kaboompics.com</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam buku <em>Effortless </em>karya Greg McKeown yang sedang dibaca, Penulis menemukan satu konsep yang menarik. Dalam salah satu babnya, kita diajak<strong> membiasakan diri untuk mensyukuri sesuatu setiap kali kita mengeluh</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kalau Penulis tarik, ini bisa Penulis kaitkan dengan bahasan kebahagiaan dan ketidakbahagiaan di tulisan ini. Keluhan identik dengan ketidakbahagiaan, sedangkan rasa syukur identik dengan kebahagiaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Misal begini, kita mengeluhkan betapa banyaknya kerjaan yang terasa tidak masuk akal untuk kita kerjakan sendiri. Alhasil kita jadi merasa tidak bahagia, karena menurut gambaran ideal kita, seharusnya kita tidak mengerjakan tugas sebanyak itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, begitu terbesit keluhan tersebut, coba kita cari satu hal saja yang bisa disyukuri tentang pekerjaan tersebut. Setidaknya, kita masih punya pekerjaan di tengah badai PHK di banyak tempat dan kondisi ekonomi seperti ini. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Contoh lain, kita merasa sebal karena pasangan kita kurang pengertian dan kurang peka. Dari keluhan tersebut, coba cari hal yang bisa disyukuri darinya. Oh, walau dia gitu, tapi dia setia banget dan selalu mau membantu di kala kita kesusahan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kalau mengingat hal-hal yang bisa disyukuri, gambaran ideal di kepala pun akan menyesuaikan diri. Dengan demikian, kita akan mencocokkan realita dengan bayangan ideal kita, sehingga kita bisa merasa bahagia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jadi, jika disimpulkan, maka kebahagiaan adalah ketika <strong>kita bisa mengelola gambaran ideal yang ada di kepala kita</strong>. Kebahagiaan adalah ketika <strong>kita bisa mengelola ekspektasi kita dengan baik</strong>. <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-lupa-bahagia/">Jangan lupa bahagia</a>!</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 17 September 2025, terinspirasi karena merasa dirinya perlu mendefinisikan ulang mengenai apa itu kebahagiaan</p>



<p class="wp-block-paragraph">Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/photo/photo-of-woman-wearing-white-shirt-2701660/">Jorge Fakhouri Filho</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/memahami-sumber-ketidakbahagiaan-untuk-menemukan-kebahagiaan/">Memahami Sumber Ketidakbahagiaan untuk Menemukan Kebahagiaan</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/memahami-sumber-ketidakbahagiaan-untuk-menemukan-kebahagiaan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jangan Menunggu Sempurna, Mulai Aja Dulu</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-menunggu-sempurna-mulai-aja-dulu/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-menunggu-sempurna-mulai-aja-dulu/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 16 Sep 2025 14:35:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[mulai]]></category>
		<category><![CDATA[perfeksionis]]></category>
		<category><![CDATA[sempurna]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8399</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sejak dulu, Penulis merasa dirinya adalah seorang perfeksionis parah. Segala sesuatu harus sesuai dengan standarnya. Bahkan, tak jarang kalau Penulis baru akan memulai sesuatu jika merasa itu sudah sempurna. Tak hanya itu, Penulis kerap menanti waktu terbaik untuk memulainya agar sempurna seperti yang ada di bayangannya. Alhasil, karena menunggu kesempurnaan itu, Penulis justru tidak memulai-mulainya. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-menunggu-sempurna-mulai-aja-dulu/">Jangan Menunggu Sempurna, Mulai Aja Dulu</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Sejak dulu, Penulis merasa dirinya adalah seorang perfeksionis parah. Segala sesuatu harus sesuai dengan standarnya. Bahkan, tak jarang kalau Penulis baru akan memulai sesuatu jika merasa itu sudah sempurna.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tak hanya itu, Penulis kerap menanti waktu terbaik untuk memulainya agar sempurna seperti yang ada di bayangannya. Alhasil, karena menunggu kesempurnaan itu, Penulis justru tidak memulai-mulainya. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, saat ini Penulis sedang membaca buku <em>Effortless</em> karya Greg McKeown. Salah satu poin yang tertera di buku tersebut adalah <strong>Dimulai</strong>. Intinya kita harus melakukan satu aksi pertama yang nyata, yang benar-benar kita lakukan. Itulah yang ingin Penulis bahas kali ini.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/2023-05-05_165920.bak_-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/2023-05-05_165920.bak_-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/2023-05-05_165920.bak_-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/2023-05-05_165920.bak_-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2023/05/2023-05-05_165920.bak_.jpg 1280w " alt="Pada Akhirnya, Kebaikan yang Kita Lakukan akan Kembali ke Diri Sendiri" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/pada-akhirnya-kebaikan-yang-kita-lakukan-akan-kembali-ke-diri-sendiri/">Pada Akhirnya, Kebaikan yang Kita Lakukan akan Kembali ke Diri Sendiri</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Menengok Ketidaksempurnaan Mangaka Populer</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Dibandingkan menonton anime, Penulis lebih suka membaca komik karena membutuhkan durasi yang lebih singkat. Menariknya, dari sekian banyak komik yang pernah dibaca, Penulis menemukan satu kesamaan: <strong>tidak semua mangaka langsung bisa menggambar dengan bagus</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Contoh yang paling terkenal kasus ini adalah <strong>Hajime Isayama</strong>, mangaka <em>Attack on Titan.</em> Banyak orang yang membandingkan bagaimana &#8220;mentahnya&#8221; gambar di awal-awal jika dibandingkan dengan <em>chapter-chapter </em>yang paling baru.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8402" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Evolusi Gambar Attack on Titan (<a href="https://www.reddit.com/r/ShingekiNoKyojin/comments/139l83o/isayamas_artstyles_evolution_through_the_years/">Reddit</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Tak hanya Isayama, Penulis juga merasa ada evolusi dari gambar Masashi Kishimoto (<em><a href="https://whathefan.com/animekomik/saya-memutuskan-untuk-mengoleksi-komik-naruto-bind-up-edition/">Naruto</a></em>), <a href="https://whathefan.com/animekomik/terima-kasih-akira-toriyama-selamat-jalan/">Akira Toriyama</a> (<em><a href="https://whathefan.com/animekomik/saya-memutuskan-untuk-mengoleksi-komik-dragon-ball-super/">Dragon Ball</a></em>), Eiichiro Oda (<em><a href="https://whathefan.com/animekomik/alasan-saya-tidak-suka-one-piece/">One Piece</a></em>), dan masih banyak lagi. Biasanya, <em>chapter-chapter </em>awal para mangaka tersebut masih mencari formula terbaik untuk komiknya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tentu ada standar minimum agar karya mereka bisa lolos dari editor. Namun, tetap saja jika dibandingkan dengan <em>chapter-chapter </em>terbaru dari komik tersebut, kita bisa melihat perubahan ke arah yang lebih baik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tak hanya komik, Webtoon pun memiliki pola yang sama. Dari beberapa judul favorit Penulis seperti <em>Ngopi Yuk!</em>,<em> <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/belajar-melepas-perasaan-bersalah-dari-kosan-95/">Kosan 95</a></em>, <em>Si Ocong</em>, sampai <em>Tahilalat</em> pun juga tak langsung sempurna. Mereka tak menanti sempurna, yang penting mulai dulu aja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bahkan blog ini pun bisa dibilang juga memiliki pola yang sama. Ketika Penulis membaca tulisan-tulisan awal yang terbit di tahun 2018, Penulis merasa malu sendiri karena kualitasnya jelek dan banyak kesalahan penulisan yang mendasar.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mulai Dulu Aja</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8403" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jangan-Menunggu-Sempurna-Mulai-Aja-Dulu-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Mulai Aja Dulu (<a href="https://www.pexels.com/photo/women-s-wearing-purple-floral-brassiere-holding-gray-concrete-pathway-during-day-time-42400/">JÉSHOOTS</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis menyadari bahwa perfeksionisme justru bisa menjadi benalu yang menghambat perkembangan diri. Menanti sesuatu yang tak akan pernah datang, seperti kesempurnaan, hanya akan berakhir dengan buruk.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari buku <a href="https://whathefan.com/buku/setelah-membaca-atomic-habits/"><em>Atomic Habits </em>karya James Clear</a>, Penulis belajar bahwa untuk memulai sesuatu, <strong>mulailah dari yang kecil terlebih dahulu</strong>. Bangun lima menit lebih awal, menulis satu paragraf, membaca satu halaman, mengubah satu baris CV, adalah beberapa contohnya. <strong>Jangan dibuat ribet, buat sesederhana mungkin</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Misal Penulis ingin mengejar lagi cita-citanya untuk bekerja di luar negeri. Tidak perlu muluk-muluk harus <em>apply </em>10 perusahaan dalam sehari. Penulis bisa memulai dengan memeriksa CV lamanya untuk mengecek apakah sudah layak atau belum.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Contoh lain adalah ketika Penulis ingin memiliki keseharian yang lebih sehat dan teratur. Maklum, bekerja dari rumah (WFH) selama hampir lima tahun membuat Penulis cukup kesulitan untuk mendisiplinkan diri. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Jadi, harus ada langkah-langkah kecil yang nyatan dan harus diambil untuk memperbaiki hal tersebut. Penulis memutuskan untuk merutinkan jalan kaki ke masjid setiap waktu sholat tiba, yang membuat Penulis jadi lebih disiplin waktu dibandingkan sebelumnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kembalinya blog ini juga buah dari <em>mulai aja dulu</em>. Penulis dulu merasa perfeksionis dengan merasa nulis blog itu harus ada <em>time block</em>-nya sendiri, di pagi hari sebelum jam bekerja. Alhasil, blog pun jadi terbengkalai selama berbulan-bulan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penulis pun coba mengubah <em>mindset</em>-nya, yang penting nulis hari ini. Tidak sampai tayang pun tidak apa, yang penting mulai nulis dulu aja. Menariknya, setiap memulai menulis, pada akhirnya tulisan tersebut bisa tuntas hingga tayang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lantas, gimana kalau ketika kita misalnya ingin membangun rutinitas harian, tapi sering <em>miss</em>-nya? Ya, tidak apa-apa. <strong>Jangan mengejar kesempurnaan</strong> harus melakukan rutinitas tersebut selama 7 hari dalam seminggu. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Dibandingkan mengejar <em>streak</em>, yang penting ada berusaha agar setiap harinya bisa melakukan rutinitas tersebut. Kalau masih bolong-bolong pun tidak apa-apa. Akan tetapi, kalau bisa memang jangan bolong terlalu panjang, nanti malah berhenti total.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk memudahkan, setiap kepikiran ingin melakukan sesuatu, langsung pikirkan apa yang harus dilakukan pertama kali. Nantinya, langkah-langkah selanjutnya akan mengikuti dengan sendirinya. Sekadar mencatat pun sudah cukup, yang penting ada aksi nyata yang dilakukan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal lain yang tak kalah penting adalah <strong>jangan suka</strong> <strong>menunda-nunda</strong>. Ini adalah kebiasaan buruk Penulis yang sering dilakukan. Akibatnya, banyak hal jadi terlupakan begitu saja tanpa pernah direalisasikan. Ide-ide tulisan blog misalnya, yang keburu usang karena sudah lupa apa yang ingin ditulis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Satu hal lain yang cukup fatal adalah Penulis merupakan tipe yang kalau <strong>satu tidak dilakukan, maka semua tidak dilakukan</strong>. Ini adalah puncak dari masalah yang ditimbulkan oleh sifat perfeksionisme, yang sering <em>all or nothing</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Padahal, jika ada satu hal yang tidak sesuai rencana, masih ada banyak hal lain yang bisa diperjuangkan untuk diselesaikan. Jangan hanya karena satu hal membuat berantakan semuanya. Lebih baik kita fokus dengan apa yang masih bisa diselesaikan. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai orang yang sangat perfeksionis, belakangan ini <strong>Penulis berusaha berdamai dengan ketidaksempurnaan</strong>. Tidak semuanya harus sempurna sesuai dengan keinginan kita. Jika bisa melakukannya, mungkin kita akan bisa melakukan apa yang dulu kita anggap mustahil.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">16 September 2025, terinspirasi setelah menyadari bahwa kita tak perlu menunggu sempurna untuk memulai sesuatu</p>



<p class="wp-block-paragraph">Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/photo/woman-in-white-long-sleeve-shirt-holding-pink-and-white-floral-textile-6932014/">Mikhail Nilov</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-menunggu-sempurna-mulai-aja-dulu/">Jangan Menunggu Sempurna, Mulai Aja Dulu</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengembangan-diri/jangan-menunggu-sempurna-mulai-aja-dulu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jika Kita Ada di Kursi Mereka, Apakah Kita akan Tetap Berisik?</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/jika-kita-ada-di-kursi-mereka-apakah-kita-akan-tetap-berisik/</link>
					<comments>https://whathefan.com/renungan/jika-kita-ada-di-kursi-mereka-apakah-kita-akan-tetap-berisik/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Sep 2025 16:55:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[DPR]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerintah]]></category>
		<category><![CDATA[rakyat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8340</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ini adalah tulisan keempat secara beruntun yang membahas tentang isu masyarakat vs pemerintah yang memanas dalam beberapa minggu terakhir. Mungkin ini akan jadi penutup, sehingga akan Penulis gunakan sebagai bahan renungan bersama. Meskipun masih terpolarisasi karena hal yang remeh, Penulis melihat kita sebagai rakyat cukup bersatu dalam aksi sepanjang akhir Agustus hingga awal September kemarin. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/jika-kita-ada-di-kursi-mereka-apakah-kita-akan-tetap-berisik/">Jika Kita Ada di Kursi Mereka, Apakah Kita akan Tetap Berisik?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Ini adalah tulisan keempat secara beruntun yang membahas tentang isu masyarakat vs pemerintah yang memanas dalam beberapa minggu terakhir. Mungkin ini akan jadi penutup, sehingga akan Penulis gunakan sebagai bahan renungan bersama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meskipun <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/polemik-brave-pink-hero-green-mengapa-kita-mudah-terpolarisasi/">masih terpolarisasi karena hal yang remeh,</a> Penulis melihat kita sebagai rakyat cukup bersatu dalam aksi sepanjang akhir Agustus hingga awal September kemarin. Pasti ada yang masih pro pemerintah, tapi rasanya kali ini mereka minoritas, atau memang enggak kelihatan aja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita bisa bersatu seperti itu karena kita merasa punya &#8220;musuh&#8221; yang sama, di mana di sini adalah pemerintah terutama DPR yang jadi sasaran utama, maupun pihak pengamanan yang dinilai terlalu brutal hingga ada yang tewas.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/pexels-photo-1321287-300x169.jpeg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/pexels-photo-1321287-300x169.jpeg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/pexels-photo-1321287-1024x576.jpeg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/pexels-photo-1321287-768x432.jpeg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2022/08/pexels-photo-1321287.jpeg 1280w " alt="Gejolak Nafsu Kawula Muda" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/sosial-budaya/gejolak-nafsu-kawula-muda/">Gejolak Nafsu Kawula Muda</a></div></div></div><p></p>


<p class="wp-block-paragraph">Bisa dibilang, saat ini kita sama-sama sedang &#8220;menggonggong&#8221; untuk menuntut keadilan, apalagi setelah melihat angka fantastis yang diterima oleh para pejabat di saat kehidupan masyarakat sedang sulit, di saat PHK di mana-mana dan ekonomi terasa berat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, di satu sisi, Penulis jadi merenungkan satu pertanyaan:<strong> </strong>jika kita berada di dalam menjadi bagian dari pemerintah, <strong>apakah kita akan tetap berisik seperti sekarang atau justru diam-diam saja sembari menikmati segala fasilitas dan tunjangan yang diberikan?</strong></p>



<h2 class="wp-block-heading">Katanya, Pemerintah Itu Cerminan Rakyatnya</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jika-Kita-Ada-di-Kursi-Mereka-Apakah-Kita-akan-Tetap-Berisik-2-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8346" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jika-Kita-Ada-di-Kursi-Mereka-Apakah-Kita-akan-Tetap-Berisik-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jika-Kita-Ada-di-Kursi-Mereka-Apakah-Kita-akan-Tetap-Berisik-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jika-Kita-Ada-di-Kursi-Mereka-Apakah-Kita-akan-Tetap-Berisik-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jika-Kita-Ada-di-Kursi-Mereka-Apakah-Kita-akan-Tetap-Berisik-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Pemerintah adalah Cerminan Rakyat (<a href="https://news.detik.com/berita/d-8091993/polisi-olah-tkp-penjarahan-rumah-sahroni-ungkap-ada-barang-dikembalikan">Detik</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Ada yang bilang, <strong>pemerintah itu cerminan rakyatnya</strong>. Pemerintah itu rata-rata masyarakatnya. Jadi, jangan-jangan alasan kita mendapatkan kualitas pemerintah yang seperti itu, ya karena kita seperti itu, hanya saja belum mendapatkan kesempatan seperti mereka saja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal ini langsung dicontohkan dari kasus penjarahan yang terjadi pada rumah beberapa anggota DPR, yang dijadikan sebagai sasaran karena pernyataan kontroversial yang keluar dari mulut mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di satu sisi, Penulis menganggap kejadian tersebut adalah konsekuensi dari apa yang sudah dikatakan atau dilakukan. Namun, di sisi lain, aktivitas penjarahan juga tidak bisa dibenarkan karena mengambil apa yang bukan hak kita.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada yang membalas bahwa pemerintah selama ini juga menjarah rakyat, bahkan alam Indonesia pun ikut dijarah. Namun, membandingkan dua hal yang buruk tidak membuat salah satunya menjadi baik. Membandingkan dua hal haram, tidak membuat salah satunya menjadi halal.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://whathefan.com/politik-negara/kepada-tuan-dan-puan-yang-terhormat/">Banyak orang di pemerintahan yang korupsi</a>, mungkin di keseharian kita pun masih melakukan korupsi kecil-kecilan, baik disadari maupun tidak. Anggota dewan tidur ketika kerja, mungkin kita di kantor pun terkadang curi-curi waktu untuk tidur siang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Intinya, kita boleh dan bahkan harus bersuara apabila melihat ketidakadilan yang dilakukan oleh pihak pemerintah. Kita harus tetap &#8220;menggonggong&#8221; dan mengawasi kerja pemerintah, yang gaji dan tunjangannya berasal dari pajak yang kita bayarkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kalau kita diam saja dan memilih apatis, maka pemerintah bisa makin &#8220;sesuka hati&#8221; dalam membuat kebijakan. Tentu kita tidak lupa, bagaimana ada beberapa kebijakan yang dibuat dalam waktu kilat jika itu menguntungkan pihak tertentu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, jangan lupa untuk menengok ke dalam juga, tanyakan kepada diri sendiri apakah kita sudah benar-benar &#8220;bersih&#8221; dan tidak melakukan hal buruk yang dilakukan oleh pemerintah. Tanyakan kepada diri sendiri, <em><strong>jika kita di dalam, apakah kita akan tetap berisik seperti ketika di luar?</strong></em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Meskipun kita memiliki banyak kekecewaan atau kekesalan terhadap pemerintah, jangan sampai membuat diri kita merasa paling suci atau lebih baik dari mereka. Daripada seperti itu, alangkah lebih baik kalau kita melihat ke dalam diri sendiri.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Memosisikan Diri Sebagai Kontrol Pemerintah</h2>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jika-Kita-Ada-di-Kursi-Mereka-Apakah-Kita-akan-Tetap-Berisik-1-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-8343" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jika-Kita-Ada-di-Kursi-Mereka-Apakah-Kita-akan-Tetap-Berisik-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jika-Kita-Ada-di-Kursi-Mereka-Apakah-Kita-akan-Tetap-Berisik-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jika-Kita-Ada-di-Kursi-Mereka-Apakah-Kita-akan-Tetap-Berisik-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/09/Jika-Kita-Ada-di-Kursi-Mereka-Apakah-Kita-akan-Tetap-Berisik-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Jika di Dalam, Apakah Kita akan Tetap Berisik Seperti Ketika di Luar? (<a href="https://newsmaker.tribunnews.com/2025/08/30/sosok-andovi-da-lopez-youtuber-yang-demo-di-dpr-ajak-rekan-artis-lain-turun-ke-jalan-ikut-bersuara">Tribun</a>)</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika membaca kolom komentar untuk konten yang bermuatan politik, Penulis sering menemukan komentar senada yang berbunyi, &#8220;jangan ngomong doang, coba buktiin kalau lu lebih bagus dari yang lu kritik!&#8221;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut Penulis, komentar seperti ini cukup sesat. Kita mengkritik sebagai rakyat, mengkritik pemerintah (entah eksekutif maupun legislatif) yang memang pekerjaannya adalah menyelesaikan berbagai masalah yang ada di negara ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, mereka kan udah dibayar nih buat jadi pejabat, masa iya kita juga yang menyediakan solusinya? Kita ini memang berfungsi sebagai pengawas agar pemerintah bisa terkontrol dan tidak seenaknya sendiri, lha kok malah ditambahi kerjaan sebagai penyedia solusi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mungkin akan ada komentar juga yang intinya menyuruh kita masuk ke dalam pemerintahan dan ubah dari dalam. Ini ada benarnya, tapi kalau sistemnya sudah rusak, bisa-bisa kita yang akhirnya malah terbawa arus. Mau seidealis seperti apa pun, pasti sulit.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bahkan, komika Pandji Pragiwaksono dalam sebuah acara di Metro TV sempat berujar yang intinya &#8220;kalau semua yang berisik masuk, ntar nggak ada yang mengonggong dari luar, dong?&#8221; Buktinya banyak aktivis &#8217;98 yang sekarang di kursi pemerintahan, eh ya udah berubah tuh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jadi, mungkin bukan pilihan yang salah jika kita memilih untuk tetap di luar tanpa berniat masuk ke dalam. Jika di luar, kita akan lebih bebas bersuara untuk diri sendiri dan masyarakat, bukan bersuara untuk partai yang telah mengusung kita.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 11 September 2025, terinspirasi setelah Penulis merasa selama ini lebih banyak melihat sisi buruk pemerintahan Prabowo Subiyanto dan jarang mengulik &#8220;prestasinya&#8221;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Foto Featured Image: <a href="https://news.detik.com/berita/d-5995109/masih-ada-plastiknya-ini-kursi-baru-yang-dikeluhkan-anggota-dpr">Detik</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/jika-kita-ada-di-kursi-mereka-apakah-kita-akan-tetap-berisik/">Jika Kita Ada di Kursi Mereka, Apakah Kita akan Tetap Berisik?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/renungan/jika-kita-ada-di-kursi-mereka-apakah-kita-akan-tetap-berisik/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ketika Hobi Menulis Blog Justru Terasa Menjadi Beban</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/ketika-hobi-menulis-blog-justru-terasa-menjadi-beban/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/ketika-hobi-menulis-blog-justru-terasa-menjadi-beban/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 19 May 2025 23:43:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[kontemplasi]]></category>
		<category><![CDATA[malas]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=8259</guid>

					<description><![CDATA[<p>Melalui tulisan &#8220;Pada Akhirnya Hidup Kita Harus Tetap Berjalan&#8221;, Penulis telah mengungkapkan beberapa alasan mengapa dirinya makin ke sini makin jarang menulis. Saat itu, Penulis masih bertanya-tanya apa alasan di balik hal tersebut. Karena merasa tidak ada perkembangan sejak tulisan itu diterbitkan, Penulis pun memutuskan untuk melakukan kontemplasi demi menemukan akar permasalahannya. Blog ini berharga [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/ketika-hobi-menulis-blog-justru-terasa-menjadi-beban/">Ketika Hobi Menulis Blog Justru Terasa Menjadi Beban</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Melalui tulisan <a href="https://whathefan.com/pengalaman/pada-akhirnya-hidup-kita-harus-tetap-berjalan/">&#8220;Pada Akhirnya Hidup Kita Harus Tetap Berjalan&#8221;</a>, Penulis telah mengungkapkan beberapa alasan mengapa dirinya makin ke sini makin jarang menulis. Saat itu, Penulis masih bertanya-tanya apa alasan di balik hal tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena merasa tidak ada perkembangan sejak tulisan itu diterbitkan, Penulis pun memutuskan untuk <a href="https://whathefan.com/renungan/hikayat-kontemplasi/">melakukan kontemplasi</a> demi menemukan akar permasalahannya. Blog ini berharga bagi Penulis, sehingga membiarkannya terbengkalai meninggalkan perasaan bersalah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah direnungkan, Penulis merasa menemukan beberapa jawaban yang paling masuk akal, sehingga bisa menentukan langkah-langkah apa yang harus diambil agar rutinitas menulis blog bisa kembali menjadi hobi yang menyenangkan.</p>


<div class="monsterinsights-inline-popular-posts monsterinsights-inline-popular-posts-beta monsterinsights-popular-posts-styled" ><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-image"><img decoding="async" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/03/rookie-f1-banner-300x169.jpg" srcset=" https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/03/rookie-f1-banner-300x169.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/03/rookie-f1-banner-1024x576.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/03/rookie-f1-banner-768x432.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/03/rookie-f1-banner.jpg 1200w " alt="Tergelincirnya Para Rookie F1 di Balapan Debut Mereka" /></div><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-text"><span class="monsterinsights-inline-popular-posts-label" >Trending</span><div class="monsterinsights-inline-popular-posts-post"><a class="monsterinsights-inline-popular-posts-title"  href="https://whathefan.com/olahraga/tergelincirnya-para-rookie-f1-di-balapan-debut-mereka/">Tergelincirnya Para Rookie F1 di Balapan Debut Mereka</a></div></div></div><p></p>


<h2 class="wp-block-heading">Alasan Mengapa Menulis Blog Malah Menjadi Beban</h2>



<div class="wp-block-cover"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" class="wp-block-cover__image-background wp-image-8260" alt="" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Ketika-Hobi-Menulis-Blog-Justru-Terasa-Menjadi-Beban-1-1024x683.jpg" data-object-fit="cover" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Ketika-Hobi-Menulis-Blog-Justru-Terasa-Menjadi-Beban-1-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Ketika-Hobi-Menulis-Blog-Justru-Terasa-Menjadi-Beban-1-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Ketika-Hobi-Menulis-Blog-Justru-Terasa-Menjadi-Beban-1-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Ketika-Hobi-Menulis-Blog-Justru-Terasa-Menjadi-Beban-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><span aria-hidden="true" class="wp-block-cover__background has-background-dim"></span><div class="wp-block-cover__inner-container is-layout-flow wp-block-cover-is-layout-flow">
<p class="has-text-align-center has-large-font-size wp-block-paragraph">Harusnya Menjadi Aktivitas yang Menyenangkan (<a href="https://www.pexels.com/photo/woman-working-retouching-photo-on-laptop-at-convenient-workplace-7014337/">George Milton</a>)</p>
</div></div>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam tulisan sebelumnya, Penulis setidaknya menuliskan ada tiga alasan mengapa produksi artikel blog menjadi seret selama lima bulan terakhir: <strong>sedang ada banyak masalah</strong>, <strong>rasa malas</strong>, hingga <strong>merasa jenuh</strong>. Mari kita berangkat dari sana. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Namanya hidup, tentu saja kita akan selalu menjumpai permasalahan. Terkadang bisa diselesaikan dengan cepat, terkadang membutuhkan waktu lebih panjang. Yang paling penting adalah bagaimana respons kita terhadap masalah tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam kasus ini, Penulis sering merasa kalau rasa malas di dalam diri ini menggunakan permasalahan tersebut sebagai justifikasi untuk tidak menulis blog. Padahal aslinya memang malas saja, tapi mencari berbagai pembenaran agar tidak merasa bersalah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oke, rasa malas memang bisa dilawan, tapi bagaimana dengan perasaan jenuh menulis? Sebagai seorang editor, membaca dan menulis telah menjadi rutinitas harian. Ribuan kata harus dicek dan diolah setiap harinya, sehingga wajar jika menimbulkan rasa jenuh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, apa yang Penulis bahas di blog ini dan apa yang dibahas di tempat kerja memiliki <em>niche </em>yang berbeda. Memang ada beberapa kategori yang bersinggungan, tapi <em>angle</em> yang digunakan jelas berbeda. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Justru, menulis di blog ini menjadi tempat agar gaya menulis Penulis tetap terasah dan tidak terpaku pada gaya penulisan industri. Apalagi, menulis adalah salah satu cara untuk menuangkan apa yang ada di pikirannya untuk mengurangi gejala <em>overthinking</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah menganalisis tiga alasan tersebut, apakah masih ada alasan lain yang membuat menulis blog menjadi memberatkan? Ada beberapa yang berhasil Penulis temukan setelah melakukan kontemplasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Alasan pertama, <strong>Penulis jadi terbebani dengan banyaknya ide artikel yang belum ditulis</strong>. <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/saya-menggunakan-notion-untuk-mencatat-progres-artikel-whathefan/">Di Notion Penulis</a>, ada puluhan ide artikel yang sampai saat ini belum dieksekusi hingga akhirnya Penulis sudah mulai lupa apa yang ingin dibahas dari ide tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Idealnya, sesuai <em>tagline </em>blog ini, sebuah ide harus segera dikerjakan begitu terpikirkan. Kenyataannya, karena sering menunda, ide tersebut malah menjadi usang. <em>Mood </em>untuk menulis ide tersebut pun menjadi hilang dan akhirnya malah jadi terbengkalai.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Alasan kedua, <strong>Penulis merasa terbebani dengan artikel-artikel yang membutuhkan riset lebih</strong>. Belakangan ini, Penulis merasa berkewajiban membuat artikel yang mendalam. Padahal, blog ini harusnya menjadi wadah bagi Penulis untuk menuangkan isi kepalanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bisa jadi, Penulis terlalu berfokus bagaimana tulisan di blog ini bisa sampai ke Pembaca. Penulis sampai lupa kalau seharusnya blog ini menjadi alatnya untuk menuangkan apa yang sedang ada di pikirannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Alasan ketiga, <strong>pembuatan konten media sosial yang terkadang menimbulkan rasa malas untuk menulis</strong>. Meskipun pembuatannya hanya membutuhkan beberapa menit, entah mengapa membuat konten media sosial untuk artikel di blog ini memicu rasa mager.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Padahal, konten media sosial yang Penulis buat hanyalah sebuah Story dengan beberapa kalimat <em>caption</em>. Penulis tidak membuat video ataupun <em>long carousel</em>. Mungkin memang pada dasarnya malas saja. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Langkah Apa yang Diambil Setelah Memahami Akar Permasalahannya</h2>



<div class="wp-block-cover"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" class="wp-block-cover__image-background wp-image-8261" alt="" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Ketika-Hobi-Menulis-Blog-Justru-Terasa-Menjadi-Beban-2-1024x683.jpg" data-object-fit="cover" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Ketika-Hobi-Menulis-Blog-Justru-Terasa-Menjadi-Beban-2-1024x683.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Ketika-Hobi-Menulis-Blog-Justru-Terasa-Menjadi-Beban-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Ketika-Hobi-Menulis-Blog-Justru-Terasa-Menjadi-Beban-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2025/05/Ketika-Hobi-Menulis-Blog-Justru-Terasa-Menjadi-Beban-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><span aria-hidden="true" class="wp-block-cover__background has-background-dim"></span><div class="wp-block-cover__inner-container is-layout-flow wp-block-cover-is-layout-flow">
<p class="has-text-align-center has-large-font-size wp-block-paragraph">Mencoba Lebih Spontan (<a href="https://www.pexels.com/@olly/">Andrea Piacquadio</a>)</p>
</div></div>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah menemukan beberapa akar permasalahan dari seretnya produksi blog ini, saatnya fokus ke solusi. Ada beberapa langkah yang akan Penulis ambil, dengan harapan menulis artikel bisa kembali menjadi hobi yang <em>refreshing </em>dan menyenangkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertama, <strong>menghilangkan penjadwalan artikel</strong>. Penulis ingin kembali seperti dulu, di mana setiap harinya murni spontan (<em>uhuy!</em>) mengenai artikel apa yang ingin ditulis. Bank ide di Notion tetap ada, untuk jaga-jaga jika hari itu <em>blank </em>tidak tahu ingin menulis apa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pencatatan progres yang dilakukan Notion mungkin tetap ada, tapi sifatnya lebih ke dokumentasi saja. Bagi Penulis, melihat berapa banyak artikel yang telah ditulis atau berapa panjang <em>streak </em>yang berhasil dilakukan berhasil menimbulkan dopamin.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mungkin ada beberapa artikel yang harus tetap dijadwal, seperti artikel-artikel <em>review</em> buku dan <em>board game </em>yang telah menjadi rubrik mingguan. Bedanya, Penulis tidak akan menulis urut sesuai dengan buku mana yang telah selesai dibaca duluan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kedua, <strong>segera menulis ide tulisan yang terlintas di pikiran</strong>. Penulis harus membuang konsep &#8220;First In First Out&#8221; di mana ide yang lebih lama harus ditulis terlebih dahulu. Penulis harus mendahulukan apa yang ingin ditulis, bukan apa yang harus ditulis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketiga, <strong>menghindari artikel-artikel berat yang butuh riset lebih panjang</strong>. Ada banyak artikel di daftar ide yang butuh riset lebih mendalam, dan jujur saja itu menimbulkan rasa malas. Blog ini harus kembali ke akarnya, tempat menuangkan isi kepala.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Memang secara kualitas mungkin akan berkurang, tapi salah satu resolusi Penulis di tahun 2025 adalah mendahulukan diri sendiri dulu. Buat apa menulis jika hanya membebani diri sendiri? Lagipula, ini adalah blog milik Penulis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keempat, <strong>melakukan reset</strong>. Saat ini, sudah banyak artikel yang Penulis jadwalkan untuk ditulis. Semuanya akan Penulis reset dari awal, kembali ke bank ide. Penulis ingin bertanya &#8220;mau nulis apa hari ini?&#8221; setiap membuka laptopnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kelima, <strong>memperbaiki pola hidup yang sedang berantakan</strong>. Alasan lain yang belum disebutkan di atas adalah pola hidup Penulis yang sedang berantakan. Akibatnya, waktu untuk menulis blog juga menjadi tidak teratur.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Idealnya, Penulis berharap bisa menulis blog di pagi hari sebelum jam kerja. Menulis blog memakan waktu antara 1-2 jam, jadi bisa dimulai pukul 7 pagi setelah melakukan <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/rutinitas-pagi-harian-bagian-1/">rutinitas pagi</a>. Untuk itu, Penulis harus memperbaiki jam tidurnya dan <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/produktivitas/lari-pagi-adalah-obat-insomnia-terbaik-versi-saya/">menghilangkan insomnianya.</a></p>



<p class="wp-block-paragraph">Menulis di malam hari hanya menjadi opsi apabila dalam kondisi darurat, karena biasanya tubuh dan pikiran ini sudah merasa lelah. Lagipula, malam hari harusnya digunakan untuk bersantai dan menyiapkan diri untuk beraktivitas keesokan harinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keenam, <strong>membuat konten media sosial terlebih dahulu sebelum menulis artikelnya</strong>. Penulis adalah tipe orang yang mengerjakan <em>task </em>tersulit terlebih dahulu. Karena membuat konten media sosial terasa yang paling berat, maka Penulis akan mendahulukannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Enam langkah itulah yang akan Penulis terapkan mulai hari ini, dimulai dari artikel ini. Semoga setelah menulis artikel ini, Penulis bisa kembali rutin menulis blog dengan perasaan senang, bukan terbebani. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika setelah artikel ini terbit Penulis masih jarang menulis lagi, entah apa lagi yang harus dilakukan&#8230;</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph">Lawang, 20 Mei 2025, terinspirasi setelah merasa perlu ada perubahan agar aktivitas menulis blog tidak terasa menjadi beban</p>



<p class="wp-block-paragraph">Foto Featured Image: <a href="https://www.pexels.com/photo/bored-woman-looking-at-a-laptop-4240504/">Ivan Samkov</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/ketika-hobi-menulis-blog-justru-terasa-menjadi-beban/">Ketika Hobi Menulis Blog Justru Terasa Menjadi Beban</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">whathefan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/ketika-hobi-menulis-blog-justru-terasa-menjadi-beban/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
