Connect with us

Tokoh & Sejarah

Amerika Serikat dan Serangan-Serangannya ke Islam

Published

on

Dalam buku berjudul Krisis Peradaban Islam tulisan Ali A. Allawi, disebutkan bahwa semenjak runtuhnya Uni Soviet dengan ideologi Sosialis-Komunismenya, Amerika Serikat berdiri sebagai satu-satunya negara superpower yang bertahan sekaligus pemenang perang dingin. Apakah semenjak itu dunia menjadi damai?

Tidak.

AS membutuhkan pihak lain untuk dijadikan sebagai public enemy masyarakat dunia agar mereka dapat tampil sebagai pahlawan, seperti sosok-sosok yang muncul dalam komik Marvel maupun DC Comics. Apalah arti pahlawan tanpa penjahat? Lalu, siapakah pihak yang dianggap layak untuk dianggap sebagai penjahat?

Islam.

Dengan berbagai ideologi serta kebangkitannya setelah jatuhnya kerajaan Ottoman, Islam layak dianggap rival yang mampu menyaingi hegemoni AS. Penemuan sumber minyak di berbagai titik dapat menjadi modal untuk membangun kekuatan, dan ini tidak bisa dibiarkan oleh AS. Serangan mereka pun hanya berupa satu label: Teroris.

Dalam buku Demokrasi yang ditulis William Blum, hampir semua negara di Timur Tengah menjadi sasaran invasi AS. Sebut saja Irak, Afganistan hingga Suriah. Lucunya, alasan invasi pun hampir serupa: negara tersebut sarang teroris; negara tersebut menciptakan senjata pemusnah massal; negara tersebut memiliki senjata nuklir. Banyak dari tudingan-tudingan ini tidak terbukti hingga sekarang.

Lebih jauh, AS menganggap apa yang mereka lakukan adalah “kebaikan untuk masyrakat dunia”. Semua presiden AS mulai era 90an hingga yang terkini kompak untuk mengatakan hal yang serupa. Bahaya bukan apabila kita menganggap baik perbuatan buruk kita? Apapun alasannya, merusak kehidupan bangsa lain merupakan bentuk kejahatan, sebuah bentuk terorisme yang sesungguhnya.

 

Lawang, 9 Januari 2018, setelah memberi makan Kipli

Sumber Foto: https://www.cnbc.com/2014/01/28/a-new-cold-war-in-the-middle-east.html

Tokoh & Sejarah

Bagaimana Oppenheimer (Secara Tidak Langsung) Membantu Indonesia Merdeka

Published

on

Oppenheimer benar-benar membekas bagi Penulis. Melalui film yang digarap oleh Christopher Nolan tersebut, Penulis jadi bisa mengetahui sosok J. Robert Oppenheimer secara lebih mendalam lagi. Selama ini, Penulis hanya tahu secara sekilas saja.

Kisah hidupnya memang menarik dan penuh gejolak, sehingga sah-sah saja jika ia menjadi biopik pertama yang dibuat oleh Nolan. Oppenheimer bukan manusia sempurna yang layak jadi teladan, tapi harus diakui kalau drama kehidupannya layak untuk disimak.

Setelah menonton Oppenheimer, ada banyak hal yang Penulis renungkan, mulai dari bagaimana Linkin Park telah menggunakan pidatonya di tahun 2010 hingga bagaimana bahaya perang nuklir selalu mengintai kita.

Namun, ada satu hal yang cukup menggelitik Penulis hingga membuat Penulis ingin membuat artikel khusus tentangnya, yaitu tentang bagaimana Oppenheimer, secara tidak langsung, membantu Indonesia berhasil meraih kemerdekaannya.

Hegemoni Jepang di Kawasan Asia Pasifik

Kekuasaan Jepang di Era Perang Dunia 2 (Classroom)

Indonesia mulai dijajah oleh Jepang sejak tahun 1942. Dalam waktu yang relatif singkat, banyak yang menyebutkan kalau penderitaan yang diakibatkan oleh mereka jauh lebih parah dibandingkan dengan waktu penjajahan Belanda.

Para pahlawan tentu berusaha mengusir Jepang dengan berbagai cara, baik dengan cara diplomasi maupun kekerasan melalui perang. Namun, Jepang ketika Perang Dunia 2 menjadi yang tertangguh di kawasan Asia Pasifik.

Bukan hanya Indonesia, wilayah jajahan Jepang sangat luas karena mencakup Korea, China (wilayah Manchuria), pulau-pulau kecil di Samudera Pasifik, Vietnam, dan tentu saja Indonesia. Mereka butuh sumber daya sebanyak-banyaknya untuk memperkuat supremasinya.

Berhubung Eropa sedang fokus menghadapi Jerman (dan Italia) yang membabi buta, waktu itu seolah tidak ada yang bisa menghentikan Jepang. Negara yang paling dekat saat itu adalah Amerika Serikat, yang di masa awal Perang Dunia 2 mengambil sikap netral.

Namun, semuanya berubah ketika pasukan Jepang menyerang Pearl Harbour pada 7 Desember 1941. Amerika Serikat pun memutuskan masuk ke medan perang di kawasan Pasifik, berupaya dengan pasukan yang tersisa untuk memukul mundur pasukan Jepang.

Oppenheimer dan Proyek Manhattan yang Dipimpinnya

Trinity Test (YouTube)

Di tengah masa perang, tersiar kabar kalau Jerman yang dipimpin oleh Adolf Hitler dan NAZI sedang mengembangkan sebuah bom nuklir yang memiliki daya hancur luar biasa. Tentu ini menimbulkan ketakutan yang luar biasa bagi dunia.

Hal ini akhirnya mendorong Oppenheimer, yang terkenal apatis dengan politik dan ekonomi, mau menerima tawaran untuk menjadi pemimpin Manhattan Project. Secara sederhana, ini adalah sebuah proyek pembuatan bom atom untuk menyaingi bom milik Jerman

Oppenheimer pun memilih lokasi di tengah gurun, tepatnya di Los Alamos, New Mexico. Dengan bantuan dari berbagai ilmuwan di Amerika Serikat, proyek tersebut akhirnya rampung dalam waktu kurang lebih tiga tahun.

Namun, sebelum bom atom itu selesai, Jerman sudah lebih dulu menyerah setelah Hitler bunuh diri pada bulan April 1945. Walaupun begitu, proyek tersebut tetap berjalan, hingga akhirnya tes pertama yang dinamai Trinity Test dilaksanakan pada bulan Juli 1945.

Pada akhirnya, bom atom yang diberi nama Fat Man dan Little Boy tersebut dijatuhkan masing-masing di kota Hiroshima (6 Agustus) dan Nagasaki (8 Agustus). Beberapa hari kemudian, pada tanggal 15 Agustus 1945, Jepang resmi menyerah.

Jepang Menyerah, Indonesia Gercep

Merdeka karena Gercep (VOI)

Kerusakan yang diakibatkan oleh bom atom ke Hiroshima dan Nagasaki sangat masif. Menurut pembelaan pihak Amerika Serikat, tindakan tersebut harus diambil untuk menghindari lebih banyak nyawa yang harus hilang jika perang terus berlangsung tanpa berkesudahan.

Memang, banyak yang menganggap itu adalah keputusan yang tepat dan terbukti karena Jepang akhirnya menyerah. Kehilangan ratusan ribu penduduk dalam sekejap jelas sebuah pengingat yang sangat keras, dan Jepang tidak ingin bom atom dijatuhkan lagi ke wilayahnya.

Siapa yang mendapatkan “berkah” dari peristiwa ini? Salah satunya adalah Indonesia, yang langsung gercep memproklamirkan kemerdekaannya. Mengapa gercep, karena negara-negara lain baru beberapa tahun kemudian bisa merdeka. Korea saja baru merdeka tahun 1947.

Awalnya, para pemuda Indonesia mendesak para tokoh senior untuk melakukannya pada tanggal 16 Agustus, sehari setelah tersiar kabar Jepang telah menyerah. Namun, para tokoh senior sempat menolaknya karena ingin berunding dulu dengan Jepang.

Hal ini sebenarnya dapat dimaklumi, mengingat Jepang sudah berulang kali berjanji akan menghadiahkan kemerdekaan untuk Indonesia. Namun, tampaknya para pemuda tidak ingin kemerdekaan Indonesia menjadi pemberian bangsa lain, harus dari upaya sendiri.

Pada akhirnya, disepakati kalau pembacaan naskah proklamasi akan dilakukan pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh Ir. Sukarno. Selanjutnya, seperti yang sudah banyak di buku teks sejarah, Indonesia terus berjuang untuk mempertahankan kemerdekaannya secara heroik.

Peran Oppenheimer dalam Membantu Indonesia Merdeka

Meskipun Jerman telah kalah, Jepang belum menunjukkan tanda-tanda akan mundur dan mengibarkan bendera putih. Apa yang membuat Jepang akhirnya menyerah di Perang Dunia 2 adalah dijatuhkannya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki.

Dengan begitu, harus diakui kalau Oppenheimer (dan AS) memiliki andil dalam kemerdekaan Indonesia. Jika Manhattan Project yang dipimpin oleh Oppenheimer tidak berhasil, mungkin Jepang tidak akan menyerah dan Indonesia tidak akan merdeka pada tahun 1945.

Walaupun begitu, tentu bukan berarti kemerdekaan kita hanya sekadar “pemberian” dari bangsa lain. Ingat, sudah banyak perjuangan yang dilakukan oleh para pahlawan, baik ketika merebut kemerdekaan hingga mempertahankannya mati-matian.


Lawang, 24 Juli 2023, terinspirasi setelah menonton Oppenheimer

Foto Featured Image: Vanity Fair

Continue Reading

Tokoh & Sejarah

Ke Huy Quan dan Kisah Luar Biasa yang Dimilikinya

Published

on

Pada pertengahan Maret lalu, Oscar 2023 mengumumkan para pemenangnya. Film Everything Everywhere All At Once berhasil mendapatkan tujuh penghargaan dalam ajang tersebut, termasuk Best Picture dan Best Actrees yang diraih oleh Michelle Yeoh.

Namun, menurut Penulis yang berhasil mencuri perhatian adalah peraih penghargaan Best Actor in a Supporting Role yang diraih oleh Ke Huy Quan. Setelah namanya disebut oleh Ariana DeBose, standing ovation untuknya terjadi cukup lama.

Kemenangannya ini benar-benar terasa spesial karena film Everything Everywhere All At Once adalah film pertamanya setelah 20 tahun hiatus dari industri perfilman. Bukan karena pilihan, melainkan karena terbatasnya kesempatan yang ada.

Penulis benar-benar merasa tersentuh dengan kisahnya, sehingga memutuskan untuk menuliskan secara singkat tentangnya.

Aktor Cilik yang Telah Lama Menghilang

Dari namanya saja, kita tahu kalau Ke Huy Quan bukan asli Amerika Serikat. Ia merupakan imigran yang berasal dari Vietnam, lantas sempat berada di camp pengungsian di Hong Kong selama satu tahun, sebelum akhirnya bisa berlabuh di Amerika Serikat.

Keluarga Quan tinggal di sebuah “kampung Cina” di Los Angeles, di mana tempat tersebut ternyata membawa berkah. Pasalnya, ternyata film Indiana Jones: Temple of the Doom sedang mencari seorang bocah Asia di tempat tersebut untuk bermain di film.

Seperti kisah pada umumnya, awalnya Quan tidak berniat untuk mendaftar. Ia hanya mengantar saudaranya casting. Namun, karena ia terlihat terus mengarahkan saudaranya, tim casting pun mengajaknya dan akhirnya ia mendapatkan peran tersebut.

Bayangkan, awal karir aktingnya, ia langsung bermain bersama aktor sekaliber Harrison Ford dan disutradrai oleh Steven Spielberg (dan jangan lupakan George Lucas!). Tentu hal tersebut bagi Quan.

Tidak cukup di situ, ia kembali diajak oleh Spielberg bermain di film The Goonies yang cukup populer. Setelah itu, ia bermain di beberapa film seperti The Encino Man, sebelum akhirnya menghilang selama kurang lebih 20 tahun.

Epic Comeback Melalui Everything Everywhere All At Once

Quan menjelaskan bahwa hilangnya dirinya dari dunia akting bukan karena keinginannya, melainkan karena minimnya kesempatan yang ada. Ia tak pernah mendapatkan panggilan, ponselnya berhenti berdering.

Ia pun sempat banting setir, termasuk menjadi stuntman coordinator di sejumlah film termasuk X-Men (2000). Namun, secara keseluruhan namanya terlupakan saja oleh Hollywood, hingga kemunculannya di film Everything Everywhere All At Once.

Di film tersebut, ia berperan sebagai suami dari Evelyn yang diperankan oleh Michelle Yeoh bernama Waymond. Ia digambarkan sebagai laki-laki yang “lembek”, tetapi baik hati. Tentu, ia memerankan beberapa varian Waymond juga, termasuk versi kaya dan versi Alpha.

Berperan sebagai “Beta Male”, karakter Waymond mampu membantu Evelyn memenangkan pertempuran melawan Jobu Tupaki, dengan mengingatkan kalau kita harus “menjadi baik, terutama ketika kita tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi”.

Siapa yang menyangka jika comeback-nya di film tersebut langsung membawanya berhasil mendapatkan piala Oscar. Bayangkan, 20 tahun lebih tidak berakting, sekalinya comeback langsung menang penghargaan paling bergengsi di Hollywood.

Ke Huy Quan dan Jangan Menyerah pada Impian

Suara Ariana DeBose terdengar menahan tangis ketika ia menyebutkan nama pemenang dari kategori Best Actor in Supporting Role, Ke Huy Quan. Seperti yang sudah disebutkan di atas, Quan pun mendapat standing ovation yang cukup lama.

Quan tak bisa menyembunyikan rasa harunya di atas panggung. Sambil menahan tangis, ia mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang selama ini telah mendukungnya terus. Ia juga bercerita sedikit tentang masa lalunya yang telah Penulis rangkum di atas.

Tidak lupa ia juga memberikan motivasi tentang mengejar mimpi. Quan mengakui kalau dirinya sempat berpikir untuk menyerah mengejar mimpinya di dunia akting. Piala Oscar yang ia raih menjadi bukti kalau mimpi adalah sesuatu yang layak untuk dikejar.

Penutup

Biasanya, ketika para pemenang Oscar diumumkan, akan selalu ada nada sumbang yang tidak menyetujui hasilnya. Tahun ini pun ada, tetapi rasanya tertutupi dengan kemenangan yang berhasil diraih oleh Ke Huy Quan dan Everything Everywhere All At Once.

Hampir mayoritas netizen merasa kalau ia memang layak untuk mendapatkan Oscar. Penampilannya di film bertema multiverse tersebut memang cukup luar biasa, ditambah latar belakangnya yang menimbulkan simpati bagi orang lain.

Netizen juga menyanjung bagaimana Ke Huy Quan begitu humble dan lovable. Dalam setiap kesempatan maupun wawancara, ia selalu rendah hati dan tidak membanggakan diri. Benar-benar sosok yang patut untuk diteladani.

Setelah kemenangan ini, tentu Penulis (dan netizen) berharap kalau karir Ke Huy Quan akan berlanjut dan tidak berhenti sampai di sini saja. Jarang ada tokoh di Hollywood yang memiliki kisah dan kepribadian yang luar biasa seperti dirinya.


Lawang, 23 Maret 2023, terinspirasi setelah melihat kemenangan yang berhasil diraih oleh Ke Huy Quan

Foto: YouTube

Continue Reading

Tokoh & Sejarah

Kelihaian Apple dalam Menutupi Kekurangannya

Published

on

Minggu kemarin, Apple baru saja merilis lini smartphone terbarunya, iPhone 14. Seperti biasa, tidak banyak perubahan yang dimiliki oleh iPhone terbaru ini, hanya beberapa peningkatan minor yang mungkin tidak terlalu dipedulikan orang.

Bahkan, Apple tampaknya merasa tidak perlu repot-repot mengganti posisi kamera belakangnya, seperti yang mereka lakukan untuk membedakan iPhone 12 dan iPhone 13. Posisinya sama, diagonal.

Namun, untuk seri Pro ada sedikit perubahan yang mungkin akan membuat Apple fanboy/fangirl akan bersorak gembira. Alasannya, sudah tidak ada lagi notch yang ketinggalan zaman, digantikan fitur Dynamic Island yang tampak fluid dan interaktif.

Menurut Penulis, fitur baru yang dihadirkan ini adalah bukti kalau Apple memang “lihai” dalam menutupi kekurangannya, sekaligus ingin mempertegas kalau mereka tidak hanya sekadar menyalin fitur dari kompetitor.

Fitur Dynamic Island pada iPhone

Inti dari fitur Dynamic Island pada iPhone adalah sebuah notch “melayang” yang mirip dengan konsep punch hole di HP-HP Android. Bedanya, ada berbagai gestur menarik yang akan menampilkan berbagai macam hal.

Beberapa di antaranya adalah notifikasi, pemutar musik, indikasi pairing terhadap perangkat-perangkat Apple, direksi aplikasi peta, dan lain-lainnya. Semua terlihat begitu fluid sehingga kita akan lupa ada sebuah “lubang” besar di layar iPhone kita.

Yah, kurang lebih seperti itu. Penulis kesulitan untuk menulis hal lain yang bisa diungkapkan terkait fitur tersebut, karena memang terkesan “begitu saja”. Intinya adalah bagaimana mengoptimalkan punch hole yang ada di layar supaya tidak terkesan menganggu.

Bagi Penulis, ini adalah langkah lihai yang berhasil dilakukan Apple untuk menutupi kekurangannya: Fakta bahwa 5 tahun sejak merilis iPhone X, barulah Apple berhasil menyingkirkan notch yang sudah menjadi ciri khasnya.

Orang akan jadi fokus terhadap apa saja yang bisa dilakukan oleh Dynamic Island tersebut, dan melupakan fakta bahwa sejak bertahun-tahun lalu penempatan kamera depan seperti itu sudah dilakukan oleh HP-HP Android.

Namun, harus diakui Apple sangat baik dalam mengaplikasikan fitur ini. Selain interface-nya yang sangat menarik, kita juga benar-benar bisa memanfaatkannya dengan baik. Penulis yakin akan ada banyak orang yang senang dengan fitur ini.

Makin ke Sini, Makin Sekadar Gimmick

Meskipun banyak yang mencibir, Penulis yakin kalau fitur terbaru dari Apple ini akan segera diadaptasi oleh HP-HP Android. Buktinya, Xiaomi pun terlihat sudah meniru fitur ini untuk smartphone keluaran terbaru mereka.

Penulis merasa kalau inovasi di bidang smartphone sudah mencapai peak-nya. Bisa dibilang, hampir tidak ada lagi aspek yang bisa menjadi semacam pendobrak seperti yang dilakukan oleh Apple 15 tahun lalu, saat mereka merilis iPhone pertama mereka.

Bagaimana dengan smartphone lipat yang tengah populer? Menurut Penulis, itu pun hanya sekadar fungsi gimmick tanpa fungsi yang benar-benar dibutuhkan. Untungnya, banyak orang yang senang dengan fitur tersebut sehingga banyak yang berlomba membuatnya.

Penulis tidak akan kaget jika di waktu yang akan datang Apple akan merilis smartphone lipat perdananya. Penulis juga tidak akan terkejut jika Apple mengklaim hal tersebut sebagai sesuatu yang “revolusioner”.

Dalam beberapa tahun ke depan, rasanya perkembangan smartphone yang dirilis ke pasar akan cukup stuck dan begitu-begitu saja. Apple, yang dulu terkenal akan inovasinya, tampaknya juga akan cukup kesulitan untuk mengejutkan kita.

Penutup

Fitur lain yang baru ada di iPhone 14 adalah Always on Display, yang di mana fitur ini juga sudah lama ada di HP-HP Android. Memang milik Apple terlihat lebih canggih dan estetik, tapi tetap saja konsep dasarnya sama dengan yang sudah-sudah.

Selain itu, hampir tidak ada yang baru dari iPhone 14. Ada beberapa fitur keren seperti crash detection dan beberapa fitur kamera, tapi tetap saja Penulis merasa kalau Apple tetap mengeluarkan smartphone yang begitu-begitu saja,

Penulis akan tetap merasa penasaran dengan satu hal, yakni bagaimana Apple akan kembali menutupi kekurangannya. Apakah mereka akan bisa kembali bermain lihai?


Lawang, 14 September 2022, terinspirasi dari fitur Dynamic Island yang terdapat pada iPhone 14 Pro

Foto: Gizchina

Continue Reading

Fanandi's Choice