<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>lingkungan Archives - Whathefan!</title>
	<atom:link href="https://whathefan.com/tag/lingkungan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://whathefan.com/tag/lingkungan/</link>
	<description>Apa yang Terpikir Apa yang Tertuang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 21 Jul 2024 11:30:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.6.2</generator>

<image>
	<url>https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/01/cropped-Logo-Square-32x32.jpg</url>
	<title>lingkungan Archives - Whathefan!</title>
	<link>https://whathefan.com/tag/lingkungan/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kemunafikan Berbalut &#8220;Demi Lingkungan&#8221;</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/kemunafikan-berbalut-demi-lingkungan/</link>
					<comments>https://whathefan.com/sosial-budaya/kemunafikan-berbalut-demi-lingkungan/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 28 Jan 2021 09:21:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Apple]]></category>
		<category><![CDATA[charger]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[munafik]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[Samsung]]></category>
		<category><![CDATA[smartphone]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[Xiaomi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=4321</guid>

					<description><![CDATA[<p>Waktu iPhone 12 rilis pada bulan Oktober tahun 2020 kemarin, produk tersebut langsung menerima banyak kritik dan hujatan dari banyak pihak. Bukan karena barangnya jelek (jarang ada iPhone yang mengecewakan), melainkan untuk pertama kalinya Apple tidak menyertakan kepala charger di dalam kotak penjualannya! Bayangkan, kotak charger yang menjadi benda esensial sebuah smartphone justru ditiadakan. Iya kalau kita [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kemunafikan-berbalut-demi-lingkungan/">Kemunafikan Berbalut &#8220;Demi Lingkungan&#8221;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Waktu <strong>iPhone 12</strong> rilis pada bulan Oktober tahun 2020 kemarin, produk tersebut langsung menerima banyak kritik dan hujatan dari banyak pihak.</p>
<p>Bukan karena barangnya jelek (jarang ada <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/sejarah-kelam-di-balik-revolusi-iphone-bagian-1/">iPhone yang mengecewakan</a>), melainkan untuk pertama kalinya <strong>Apple tidak menyertakan kepala charger di dalam kotak penjualannya!</strong></p>
<p>Bayangkan, kotak charger yang menjadi benda esensial sebuah <em>smartphone </em>justru ditiadakan. Iya kalau kita sudah punya seri yang lama, kalau baru pertama kali beli iPhone?</p>
<p>Dulu <em>earphone </em>karena lubang <em>audio jack </em>telah dihilangkan (dan demi mendongkrak penjualan AirPods, tentu saja), sekarang ini.</p>
<p>Penulis tidak akan kaget kalau suatu saat kabel <em>lighthing</em> atau kabel USB-C juga tidak dimasukkan ke dalam kotak penjualan.</p>
<p>Alasannya? Apalagi kalau bukan <strong>&#8220;demi lingkungan&#8221;</strong>.</p>
<h3>Yakin Demi Lingkungan?</h3>
<div id="attachment_4322" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4322" class="size-large wp-image-4322" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/kemunafikan-berbalut-demi-lingungan-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/kemunafikan-berbalut-demi-lingungan-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/kemunafikan-berbalut-demi-lingungan-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/kemunafikan-berbalut-demi-lingungan-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/kemunafikan-berbalut-demi-lingungan-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4322" class="wp-caption-text">iPhone 12 (<a href="https://www.apple.com/newsroom/2020/10/apple-introduces-iphone-12-pro-and-iphone-12-pro-max-with-5g/">Apple</a>)</p></div>
<p>Alasan klise <strong>&#8220;demi lingkungan&#8221;</strong> sudah sering terdengar keluar dari merek-merek teknologi. Logikanya memang masuk karena peralatan elektronik beserta aksesorisnya kerap <strong>menjadi sampah</strong> yang sulit untuk diurai kembali.</p>
<p>Hanya saja, kita ini kan ya enggak bodoh-bodoh amat. Kita semua tahu kalau &#8220;demi lingkungan&#8221; hanya digunakan sebagai pemanis.</p>
<p>Kita tahu tujuan asli menghilangkan kotak charger adalah <strong>&#8220;demi duit&#8221;</strong> atau<strong> &#8220;demi profit yang lebih besar lagi&#8221;</strong>. Enggak usah munafik lah.</p>
<p>Kenapa bisa seperti itu? Pertama, mereka bisa mendapatkan uang lebih dari penjualan kepala charger yang terpisah.</p>
<p><em>Lah, kalau dijual terpisah berarti kardus yang digunakan nambah, dong? </em></p>
<p>Selain itu, dengan kotak iPhone yang tipis, distribusi produk pun bisa lebih banyak sekali muat. Yang biasanya cuma bisa mengirim 100 kotak, sekarang bisa 150 kotak atau lebih.</p>
<p><em>Jadi lebih irit kan buat mereka?</em></p>
<p>Kalau memang Apple benar-benar niat memberikan sumbangsih terhadap kelestarian lingkungan, ganti dulu lah itu colokannya dengan USB-C yang digunakan merek HP lain.</p>
<p>Dengan keputusan Apple yang tetap mempertahankan kabel <em>lightning</em>, artinya kita ya harus punya kabel khusus itu, enggak bisa pinjam kabel USB-C punya teman atau saudara.</p>
<h3>Dan Akhirnya Diikuti Oleh Merek Lain&#8230;</h3>
<div id="attachment_4323" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-4323" class="size-large wp-image-4323" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/kemunafikan-berbalut-demi-lingungan-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/kemunafikan-berbalut-demi-lingungan-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/kemunafikan-berbalut-demi-lingungan-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/kemunafikan-berbalut-demi-lingungan-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2021/01/kemunafikan-berbalut-demi-lingungan-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-4323" class="wp-caption-text">Samsung Galaxy S21 (<a href="https://klgadgetguy.com/2021/01/27/galaxy-s21-get-started/">KLGadgetGuy</a>)</p></div>
<p>Ketika tahu Apple tidak menyertakan kepala charger di dalam paket penjualannya, <strong>Samsung</strong> dan <strong>Xiaomi</strong> menyindir habis-habisan pesaingnya itu.</p>
<p>Melihat hal tersebut, kita tentu bisa bernapas lega karena kedua merek tersebut akan tetap menyertakan kepala charger di HP-HP terbaru mereka nanti.</p>
<p><strong><em>Dan ternyata salah.</em></strong></p>
<p>Kedua merek tersebut mengikuti jejak langkah Apple dengan tidak menyertakan kepala charger di HP <em>flagship </em>terbaru mereka!</p>
<p>Alasan yang digunakan? Sama, <strong>&#8220;demi lingkungan&#8221;</strong>!</p>
<p>Xiaomi masih lebih baik karena memberikan pembeli pilihan mau memilih yang ada chargernya atau tidak dengan harga yang sama.</p>
<p>Samsung? Sama seperti Apple persis! <strong>Galaxy S21</strong> menjadi seri pertama yang tidak akan memiliki kepala charger.</p>
<p><em>Kalau ujung-ujungnya ngikutin (sama seperti sebelum-sebelumnya), ngapain nyindir Appple? <strong>Bisnis oh bisnis!</strong></em></p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Seandainya merek-merek teknologi tersebut benar-benar peduli terhadap isu lingkungan, ya jangan banyak-banyak lah mengeluarkan <em>smartphone.</em></p>
<p>Coba <strong>rilis <em>smartphone </em>baru setiap lima tahun sekali</strong>, jadi orang-orang hanya akan mengganti gawainya setiap lima tahun.</p>
<p>Apakah ini mungkin terjadi? Enggak lah, kalau enggak ada produk baru dan kita disuruh terus beli, <strong>mau dapat <em>cuan </em>dari mana mereka?</strong></p>
<p>Berbisnis dengan cara apapun selama legal silakan saja. Mau cuma ngirim <em>smartphone </em>baru tanpa kotak sama sekali juga silakan saja.</p>
<p>Namanya perusahaan pasti ingin dapat <strong>untung sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya</strong>. Itu hukum ekonomi yang rasanya sudah diketahui oleh semua orang.</p>
<p>Cuma alasan <strong>&#8220;demi lingkungan&#8221;</strong> itu loh yang bikin Penulis geli. <em>Mbok </em>ya pakai alasan lain yang enggak munafik tapi masih bisa diterima.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lawang, 28 Januari 2021, terinspirasi setelah melihat banyaknya merek teknologi yang menggunakan alasan &#8220;demi lingkungan&#8221; untuk menambah profit mereka</p>
<p><strong>Foto:</strong> <a href="https://appleinsider.com/articles/20/10/31/review-iphone-12-and-iphone-12-pro-are-massive-upgrades-even-not-including-5g">Apple Insider</a></p>
<p><strong>Sumber Artikel:</strong></p>
<p><a href="https://www.androidauthority.com/xiaomi-mi-11-charger-1188270/">Xiaomi will offer Mi 11 without charger, but you can get one for free (androidauthority.com)</a></p>
<p><a href="https://www.theverge.com/2020/12/26/22200610/xiaomi-ceo-phone-no-charger-mocking-apple-iphone">Xiaomi’s Mi 11 won’t come with charger after it mocked Apple for not including a charger &#8211; The Verge</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/kemunafikan-berbalut-demi-lingkungan/">Kemunafikan Berbalut &#8220;Demi Lingkungan&#8221;</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/sosial-budaya/kemunafikan-berbalut-demi-lingkungan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bumi (Tanpa) Manusia</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/bumi-tanpa-manusia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 18 Apr 2020 12:05:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[alam]]></category>
		<category><![CDATA[bumi]]></category>
		<category><![CDATA[Corona]]></category>
		<category><![CDATA[kerusakan]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[perang]]></category>
		<category><![CDATA[revolusi industri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3748</guid>

					<description><![CDATA[<p>Apakah ada hal positif yang muncul akibat meruaknya virus Corona ke segala penjuru dunia? Tanpa mengurangi empati kepada korban dan keluarganya, Penulis merasa ada. Dengan adanya virus ini, kebanyakan orang harus mengurangi kegiatannya dan berdiam diri di rumah. Banyak tempat kerja menerapkan kebijakan Work from Home sehingga jalanan lebih lenggang. Akibatnya, tingkat polusi berkurang secara signifikan, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/bumi-tanpa-manusia/">Bumi (Tanpa) Manusia</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Apakah ada hal positif yang muncul akibat meruaknya <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/corona-dan-dampak-sosial-ekonominya/">virus Corona</a> ke segala penjuru dunia? Tanpa mengurangi empati kepada korban dan keluarganya, Penulis merasa ada.</p>
<p>Dengan adanya virus ini, kebanyakan orang harus mengurangi kegiatannya dan berdiam diri di rumah. Banyak tempat kerja menerapkan kebijakan <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/agar-wfh-tetap-produktif/"><em>Work from Home</em></a> sehingga jalanan lebih lenggang.</p>
<p>Akibatnya, tingkat polusi berkurang secara signifikan, hewan-hewan yang dulu tidak bebas bergerak jadi berani untuk muncul, dan masih banyak lainnya.</p>
<p>Penulis menjadi terpikir sesuatu, <strong>apakah Bumi memang lebih baik tanpa kehadiran manusia?</strong></p>
<h3>Zaman Dinosaurus dan Era Peperangan</h3>
<p>Jika mau percaya kepada para arkeolog, pernah ada suatu masa ketika reptil raksasa menguasai dunia. Alam bekerja secara baik hingga muncul bencana yang memusnahkan mereka.</p>
<p>Lantas, Bumi perlahan diambil oleh mamalia. Menurut penganut teori evolusi Charles Darwin, ada makhluk-makhluk yang akan menjadi cikal bakal manusia modern seperti sekarang.</p>
<div id="attachment_3751" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3751" class="wp-image-3751 size-large" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3751" class="wp-caption-text">Manusia dan Perang (<a class="o5rIVb irc_hol irc_lth" tabindex="0" href="https://en.wikipedia.org/wiki/Napoleonic_Wars" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwj8huy59vHoAhXd4XMBHX1pCQcQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Wikipedia</span></a>)</p></div>
<p>Kalau menurut keyakinan Penulis, Nabi Adam dan Hawa diturunkan dari surga karena melanggar perintah Tuhan. Mereka lah nenek moyang manusia, berawal dari dua orang hingga menjadi milyaran seperti sekarang.</p>
<p>Penulis banyak membaca buku sejarah, termasuk sejarah peradaban. Semenjak kemunculan manusia dan perlahan membangun peradaban, <strong>ada saja bentuk kerusakan yang ditimbulkan</strong>.</p>
<p>Tak terhitung berapa jumlah perang yang sudah dilakukan umat manusia. Ada yang demi memperluas kekuasaan, fasisme, menyebarkan ajaran agama, perebutan sumber daya, dan lain sebagainya.</p>
<p>Siapa yang dirugikan? Selain rakyat sipil yang tidak bersalah, alam pun turut menjadi korban. Kerusakan yang dihasilkan oleh perang jelas tidak sedikit.</p>
<h3>Revolusi Industri</h3>
<p>Selain perang, kerusakan alam secara masif juga dipicu oleh <strong>Revolusi Industri</strong> yang terjadi di sekitar abad 18 yang bermula di Britania Raya dan menyebar ke seluruh dunia.</p>
<div id="attachment_3752" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3752" class="size-large wp-image-3752" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3752" class="wp-caption-text">Revolusi Industri (<a class="ZsbmCf" tabindex="0" role="button" href="https://www.history.com/news/second-industrial-revolution-advances" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-ved="0CAMQjB1qFwoTCOiPo8328egCFQAAAAAdAAAAABAD" aria-label="Visit History.com"><span class="pM4Snf">History.com</span></a>)</p></div>
<p>Pertumbuhan penduduk meningkat pesat, roda ekonomi berputar lebih cepat, terjadinya perubahan besar-besaran di berbagai bidang, mulai dari pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, hingga teknologi.</p>
<p>Salah satu faktor yang mendorong hal tersebut adalah penemuan mesin uap oleh James Watt. Mesin tersebut membuat pekerjaan manusia bisa selesai lebih efisien dan cepat.</p>
<p>Efek sampingnya? Polusi yang gila-gilaan. Mesin uap membutuhkan batu bara sebagai bahan bakar, salah satu jenis bahan bakar fosil. Otomatis, dibutuhkan proses penambangan yang jelas merusak alam.</p>
<p>Kehidupan manusia memang menjadi lebih baik. Akan tetapi, ada tumbal yang harganya tidak murah.</p>
<h3>Bumi (Tanpa) Manusia</h3>
<p>Hanya dari dua contoh di atas (perang dan revolusi industri), kita bisa melihat betapa besar kerusakan alam yang dihasilkan oleh manusia untuk Bumi kita tercinta.</p>
<p><em>Apakah berarti Bumi akan lebih baik tanpa manusia?</em> Bisa jadi iya, bisa jadi tidak.</p>
<div id="attachment_3753" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3753" class="size-large wp-image-3753" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-3-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-3-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-3-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-3-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/04/bumi-tanpa-manusia-3.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3753" class="wp-caption-text">Beruang Kutub Mencari Makan (<a class="o5rIVb irc_hol irc_lth" tabindex="0" href="https://www.nytimes.com/2019/06/19/world/europe/polar-bear-norilsk-russia.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwiq0t7U9vHoAhUX63MBHczcAKYQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">The New York Times</span></a>)</p></div>
<p>Di dalam keyakinan Penulis, telah ditakdirkan bahwa manusia diturunkan ke Bumi untuk menjadi pemimpin di Bumi. Tidak ada makhluk lain yang secerdas dan sehebat manusia.</p>
<p>Hanya saja dalam prosesnya, banyak perbuatan kita yang menyimpang dan membuat alam kita rusak. Hutan semakin habis, laut semakin kotor, binatang banyak yang punah dan terancam punah, dan masih banyak contoh lainnya.</p>
<p>Untungnya di era modern seperti sekarang, kesadaran untuk peduli terhadap lingkungan semakin meningkat. Orang-orang seperti <strong>Greta Thunberg</strong> bisa menginspirasi banyak orang dengan aksinya.</p>
<p>Jadi, Bumi memang bisa lebih baik tanpa ada manusia. Namun faktanya, manusia telah ditakdirkan untuk menjadi pemimpin di Bumi dan sudah seharusnya kita menjalankan amanat tersebut dengan baik.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 18 April 2020, terinspirasi dengan banyaknya makhluk hidup lain yang bisa bergerak bebas selama pandemik Corona ini</p>
<p>Foto: <a href="https://www.thehour.com/news/article/As-humans-stay-indoors-wild-animals-take-back-15201739.php?src=nwkhpcp">TheHour</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/bumi-tanpa-manusia/">Bumi (Tanpa) Manusia</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bencana Datang karena Maksiat?</title>
		<link>https://whathefan.com/renungan/bencana-datang-karena-maksiat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 12 Jan 2020 14:40:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[alam]]></category>
		<category><![CDATA[azab]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[kerusakan]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=3259</guid>

					<description><![CDATA[<p>Awal tahun 2020 harus dibuka dengan banyaknya bencana di berbagai tempat, mulai dari banjir di Indonesia hingga kebakaran di Australia yang seolah tak kunjung padam. Di Twitter, sempat ramai cuitan salah satu komedian yang tujuannya menyindir orang-orang yang kerap menghubung-hubungkan terjadinya bencana dengan kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia. Sepengamatan Penulis, cuitan tersebut mendapatkan respon negatif [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/bencana-datang-karena-maksiat/">Bencana Datang karena Maksiat?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Awal tahun 2020 harus dibuka dengan banyaknya bencana di berbagai tempat, mulai dari banjir di Indonesia hingga kebakaran di Australia yang seolah tak kunjung padam.</p>
<p>Di Twitter, sempat ramai cuitan salah satu komedian yang tujuannya menyindir orang-orang yang kerap menghubung-hubungkan terjadinya bencana dengan kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia.</p>
<p>Sepengamatan Penulis, cuitan tersebut mendapatkan respon negatif dan kebanyakan netizen merutuknya, walaupun tak sedikit yang membelanya (mungkin dari para fansnya yang &#8220;<em>open-minded</em>&#8220;).</p>
<p>Terlepas dari kontroversi tersebut, benarkah bencana bisa datang karena perbuatan maksiat yang dilakukan oleh manusia?</p>
<h3>Definisi Maksiat</h3>
<div id="attachment_3261" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3261" class="size-large wp-image-3261" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/bencana-datang-karena-maksiat-1-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/bencana-datang-karena-maksiat-1-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/bencana-datang-karena-maksiat-1-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/bencana-datang-karena-maksiat-1-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/bencana-datang-karena-maksiat-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3261" class="wp-caption-text">Apa Itu Maksiat? (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.ibiza-spotlight.com/magazine/2019/08/clubbing-on-ibiza-on-budget" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwj4gpWIpP7mAhWQdn0KHQ5pBNUQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Ibiza Spotlight</span></a>)</p></div>
<p>Dalam pemahaman sehari-hari, kata &#8220;<strong>maksiat</strong>&#8221; sering diidentikkan dengan perbuatan tercela yang biasanya dilarang oleh agama. Contohnya yang paling mudah adalah berzina dan mabuk-mabukan.</p>
<p>Jika menggunakan logika manusia, jelas seolah tidak ada hubungannya antara berzina dan timbulnya bencana alam. Paling mentok kita akan menganggap bencana tersebut datang sebagai bentuk azab kepada manusia.</p>
<p>Penulis pernah menemukan lelucon di media sosial yang mengatakan bahwa jika memang seperti itu, maka orang Kalimantan adalah orang yang baik-baik karena jarang terkena bencana.</p>
<p>Setahu Penulis, gempa bumi hampir tidak pernah mampir ke sana, beda dengan mayoritas daerah lain di wilayah Indonesia. Mungkin itu yang menjadi salah satu alasan mengapa <a href="https://whathefan.com/politik/analogi-perpindahan-ibu-kota/">ibu kota akan dipindahkan ke sana</a>.</p>
<p>Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pemahaman tersebut menjadi lebih luas seperti yang tertera di bawah ini:</p>
<blockquote><p><b class="main highlight">maksiat</b><span class="per-suku">/mak·si·at/</span> <em class="jk" title="nomina (kata benda)">n</em> perbuatan yang melanggar perintah Allah; perbuatan dosa (tercela, buruk, dan sebagainya): <em>salat itu mencegah &#8211;;</em></p></blockquote>
<p>Artinya, semua perbuatan yang melanggar aturan agama adalah perbuatan maksiat. Nah, ketika sholat Jumat kemarin, Penulis mendapatkan pencerahan dari sang khotib mengenai korelasi antara bencana dan maksiat.</p>
<h3>Merusak Alam adalah Bentuk Kemaksiatan</h3>
<div id="attachment_3262" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-3262" class="size-large wp-image-3262" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/bencana-datang-karena-maksiat-2-1024x607.jpg" alt="" width="800" height="474" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/bencana-datang-karena-maksiat-2-1024x607.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/bencana-datang-karena-maksiat-2-300x178.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/bencana-datang-karena-maksiat-2-768x455.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2020/01/bencana-datang-karena-maksiat-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-3262" class="wp-caption-text">Greta Thunberg (<a class="o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth" tabindex="0" href="https://www.businessinsider.com/greta-thunberg-nobel-peace-prize-why-she-didnt-win-2019-10" target="_blank" rel="noopener noreferrer" data-veid="3724" data-noload="" data-ved="2ahUKEwiyzbeOpP7mAhUVVH0KHa7tCDcQjB16BAgBEAM"><span class="irc_ho" dir="ltr">Business Insider</span></a>)</p></div>
<p>Penulis yakin semua agama mengajarkan kita untuk menjaga dan melestarikan alam. Kita adalah bagian mereka, sehingga tak patut bagi kita untuk merusaknya dengan berbagai aktivitas.</p>
<p>Perusakan alam, menurut sang khotib sholat Jumat, merupakan <strong>salah satu bentuk kemaksiatan yang kita lakukan kepada lingkungan</strong>. Bisa berupa hal besar seperti deforestasi hingga yang sepele seperti membuang sampah tidak pada tempatnya.</p>
<p>Jika kita sudah mengedapan ego dan melupakan tugas kita untuk menjaganya, alam pun akan murka dan memberikan balasan kepada kita. Sudah banyak sekali contoh yang menghampiri kita.</p>
<p>Lantas, apa yang bisa kita lakukan sekarang? Jika tidak bisa melakukan hal besar seperti yang dilakukan oleh <strong>Greta Thunberg</strong>, mulailah dari hal-hal yang sepele dan ada di sekitar kita.</p>
<p>Mengurangi penggunaan sampah plastik, hidup secukupnya tanpa perlu berlebihan, hingga menanam pohon merupakan contoh-contoh kecil yang bisa kita lakukan untuk tidak melakukan kemaksiatan kepada alam.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Di dalam kepercayaan yang Penulis yakini, memang ada yang menyebutkan bahwa kemaksiatan bisa menimbulkan azab berupa bencana alam. Akan tetapi, Penulis tidak menganggap hanya kemaksiatan seperti berzina yang bisa menimbulkan azab tersebut.</p>
<p>Perusakan lingkungan menjadi salah satu bentuk kemaksiatan yang fatal karena dampaknya bisa mengenai semua orang, termasuk yang tidak melakukannya. Bahkan makhluk hidup lain yang tak bersalah pun menjadi korbannya.</p>
<p>Yang bisa kita lakukan adalah mengurangi perusakan lingkungan dan melakukan antisipasi agar dampak yang ditimbulkan bencana tersebut bisa diminimalisir di masa depan. Jika mampu, berilah bantuan kepada korban bencana sesuai kemampuan kita.</p>
<p>Semoga saudara-saudara kita yang terdampak bencana, di mana pun mereka berada, segera diberikan kemudahan dan ketabahan untuk menghadapinya. Amin.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 12 Januari 2020, terinspirasi setelah mendengarkan khotbah Sholat Jumat di masjid Gandaria City</p>
<p>Foto: <a href="https://www.google.com/url?sa=i&amp;source=imgres&amp;cd=&amp;cad=rja&amp;uact=8&amp;ved=2ahUKEwiGkLj7o_7mAhXTbX0KHS_dATcQjB16BAgBEAM&amp;url=https%3A%2F%2Fwww.nbcnews.com%2Fnews%2Fworld%2Faustralia-wildfire-map-2020-n1109741&amp;psig=AOvVaw2K6fdiVFIb1OHXp1mcRo24&amp;ust=1578926031404097">NBC News</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/renungan/bencana-datang-karena-maksiat/">Bencana Datang karena Maksiat?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jahat Karena Tersakiti</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/jahat-karena-tersakiti/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 06 Oct 2019 15:44:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[baik]]></category>
		<category><![CDATA[jahat]]></category>
		<category><![CDATA[joker]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Naruto]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2824</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setelah film Joker tayang di bioskop, ada banyak komentar yang muncul dari netizen. Penulis membaca beberapa pendapat tersebut, terutama yang membuat thread di Twitter. Film ini dianggap mampu memengaruhi psikologi orang, terutama yang kesehatan mentalnya sedang sedikit sakit. Yang lain mengatakan bahwa Joker related dengan kehidupannya. Penulis pernah menemukan video adegan intrograsi antara Batman dan Joker di film The [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/jahat-karena-tersakiti/">Jahat Karena Tersakiti</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah <a href="https://whathefan.com/musikfilm/setelah-menonton-joker/">film Joker</a> tayang di bioskop, ada banyak komentar yang muncul dari netizen. Penulis membaca beberapa pendapat tersebut, terutama yang membuat <em>thread </em>di Twitter.</p>
<p>Film ini dianggap mampu memengaruhi psikologi orang, terutama yang kesehatan mentalnya sedang sedikit sakit. Yang lain mengatakan bahwa Joker <em>related </em>dengan kehidupannya.</p>
<p>Penulis pernah menemukan video adegan intrograsi antara Batman dan Joker di film <a href="https://whathefan.com/musikfilm/film-favorit-saya-the-dark-knight/">The Dark Knight</a> yang terjemahannya salah sama sekali. Di video tersebut, Joker seolah-olah mengatakan bahwa <em>orang jahat adalah orang baik yang tersakiti</em>.</p>
<p>Padahal, Joker sama sekali tidak mengatakan hal tersebut. Penulis tahu karena adegan tersebut sudah puluhan kali penulis tonton. Dengan munculnya film Joker terbaru ini, kalimat tersebut kembali mencuat di linimasa media sosial penulis.</p>
<h3>Benarkah Orang Jahat Lahir Karena Tersakiti?</h3>
<div id="attachment_2825" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2825" class="size-large wp-image-2825" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/jahat-karena-tersakiti-1-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/jahat-karena-tersakiti-1-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/jahat-karena-tersakiti-1-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/jahat-karena-tersakiti-1-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/jahat-karena-tersakiti-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2825" class="wp-caption-text">Sirius dan Harry (<a href="https://www.wizardingworld.com/features">Wizarding World</a>)</p></div>
<p>Bahwa ada orang jahat lahir karena tersakiti, penulis mengakui memang ada. Akan tetapi, penulis rasa jumlahnya sedikit walau perlu dibuktikan dengan melakukan survei.</p>
<p>Kalau tidak percaya, lihatlah para koruptor yang kalau ditangkap <em>cengengas-cengenges</em>. Apakah pembaca yakin mereka adalah orang baik, lalu memutuskan mencuri uang rakyat karena tersakiti? Penulis rasa tidak.</p>
<p>Di dalam serial <em>Harry Potter</em>, penulis sangat menyukai karakter Sirius Black yang diperankan oleh Gary Oldman. Salah satu kutipan terbaiknya adalah sebagai berikut:</p>
<blockquote><p>“<em>We’ve all got both light and dark inside us. What matter is the part we choose to act on.”</em></p></blockquote>
<p>Kita semua memiliki sisi terang dan gelapnya masing-masing. Kita lah yang memutuskan untuk memilih sisi yang mana. Mayoritas orang jahat <em>memilih </em>sisi buruknya dibandingkan dengan sisi baiknya.</p>
<p>Memang ada faktor eksternal yang memengaruhi orang berbuat jahat, seperti tekanan ekonomi, tak tahan dengan kondisi yang dialami, dan lain sebagainya. Tapi penulis meyakini bahwa pengaruh terbesar adalah dari dalam diri sendiri.</p>
<h3>Antara Joker dan Naruto</h3>
<div id="attachment_2826" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2826" class="size-large wp-image-2826" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/jahat-karena-tersakiti-2-1024x512.png" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/jahat-karena-tersakiti-2-1024x512.png 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/jahat-karena-tersakiti-2-300x150.png 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/jahat-karena-tersakiti-2-768x384.png 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/10/jahat-karena-tersakiti-2.png 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2826" class="wp-caption-text">Naruto Sang Motivator (<a href="https://naruto.fandom.com/wiki/Rift">Naruto Fandom</a>)</p></div>
<p>Di dalam film Joker, kita bisa melihat bagaimana seorang Arthur Fleck mengalami kepahitan hidup yang bertubi-tubi hingga mengubahnya menjadi sosok seperti Joker.</p>
<p>Akan tetapi, perlu diingat bahwa ia adalah <strong>karakter fiksi </strong>yang tak benar-benar ada di dunia. Tempatnya ia tinggal, Gotham, juga hanya sekadar buah imajinasi penciptanya.</p>
<p>Kebanyakan dari kita harusnya merasa beruntung karena tidak mengalami kepahitan hidup yang dirasakan oleh Arthur. Berbagai bentuk perlakuan buruk yang kita terima tidak seharusnya mengubah kita menjadi sosok yang jahat.</p>
<p>Penulis menemukan <em>thread </em>yang menarik di Twitter. Ada yang berusaha menghubungkan Joker dengan salah satu karakter anime paling populer, <strong>Naruto</strong>.</p>
<p>Naruto adalah contoh terbaik tentang bagaimana seseorang menjadikan perlakuan buruk yang ia terima menjadi sesuatu yang positif. Sejak kecil, ia hidup sebatang kara, dijauhi oleh orang-orang, tidak punya teman, dikhianati sahabat, dan lain sebagainya.</p>
<p>Apakah itu menjadikan Naruto sebagai orang jahat? Tidak! Ia menjadikan hal tersebut sebagai motivasinya untuk menjadi Hokage agar orang-orang mengakui keberadaannya.</p>
<p>Naruto juga terkenal karena bakatnya menjadi seorang motivator. Entah sudah berapa musuh yang berhasil ia kembalikan ke jalan yang benar berkat <em>bacotan</em>-nya. Semua itu bisa terjadi karena ia adalah orang yang optimistik dan penuh dengan energi positif.</p>
<p><em>Tapi kan Naruto cuma <a href="https://whathefan.com/animekomik/tulisan-kurang-penting-tentang-karakter-anime-favorit/">karakter anime</a>!</em></p>
<p>Mohon maaf, Joker juga lahirnya dari komik di tahun 1940. Jadi, menurut penulis kedudukan Joker dan Naruto sama, walaupun mungkin Naruto masih dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya.</p>
<h3>Penutup</h3>
<p>Disakiti oleh orang lain memang lumrah terjadi dalam hidup ini. Ada yang dosisnya kecil, tapi ada juga yang luar biasa menyakitkan. Akan tetapi, menjadikan karakter Joker sebagai pembenaran juga tidak penulis sepakati.</p>
<p>Kita hidup di lingkungan yang bhineka. Kita tinggal era di mana <em>society </em>mungkin bisa seburuk Gotham City. Walaupun begitu, penulis tetap meyakini bahwa pilihan untuk menjadi baik atau jahat ada di tangan kita.</p>
<p>Memang tidak bisa sehitam putih seperti itu. Keyakinan dan pendapat penulis pun bisa jadi salah. Mungkin penulis termasuk yang beruntung karena tidak sering mengalami peristiwa yang mengguncang jiwa.</p>
<p>Yang tidak penulis inginkan adalah ada orang-orang yang memanfaatkan eksistensi Joker sebagai tameng perbuatan jahat mereka. Penulis tidak ingin ada orang memutuskan berbuat jahat karena merasa tersakiti dan ingin balas dendam.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 6 Oktober 2019, terinspirasi setelah melihat banyaknya netizen yang membuat status seperti itu.</p>
<p>Foto: <a href="https://youtu.be/t433PEQGErc">YouTube</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/jahat-karena-tersakiti/">Jahat Karena Tersakiti</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Analogi Perpindahan Ibu Kota</title>
		<link>https://whathefan.com/politik-negara/analogi-perpindahan-ibu-kota/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 31 Aug 2019 05:05:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik & Negara]]></category>
		<category><![CDATA[ibu kota]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Kalimantan]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[negara]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerintah]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2657</guid>

					<description><![CDATA[<p>Alkisah di suatu negeri, hidup seseorang bernama Budi. Ia tinggal di sebuah rumah yang kondisinya sudah mengenaskan. Atap bocor, dinding berlubang, kualitas airnya buruk, barangnya penuh di mana-mana, banyak hewan pengerat, dan lain sebagainya. Karena kondisinya yang seperti itu, Budi berniat untuk pindah rumah. Ia merasa rumahnya sudah tidak terselamatkan lagi. Mau direnovasi seperti apapun, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/analogi-perpindahan-ibu-kota/">Analogi Perpindahan Ibu Kota</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>Alkisah di suatu negeri, hidup seseorang bernama <strong>Budi</strong>. Ia tinggal di sebuah rumah yang kondisinya sudah mengenaskan. Atap bocor, dinding berlubang, kualitas airnya buruk, barangnya penuh di mana-mana, banyak hewan pengerat, dan lain sebagainya.</em></p>
<p><em>Karena kondisinya yang seperti itu, Budi berniat untuk pindah rumah. Ia merasa rumahnya sudah tidak terselamatkan lagi. Mau direnovasi seperti apapun, hasilnya akan tetap sama saja.</em></p>
<p><em>Masalahnya, Budi bukan orang kaya. Ia adalah orang miskin yang hutangnya tersebar hingga menumpuk tidak karuan. Tak jarang ia melakukan gali lubang tutup lubang.</em></p>
<p><em>Walaupun begitu, ada tetangganya yang tajir melintir bersedia meminjam uang ke Budi dengan syarat mudah. Namanya adalah <strong>Tomingsek</strong>, terkenal sebagai pengusaha yang sukses karena bisnisnya yang telah mendunia.</em></p>
<p><em>Tomingsek pun meminjami uang kepada Budi agar bisa memiliki rumah baru yang lebih layak huni. Budi, yang sudah terbayang-bayang akan memiliki rumah baru, langsung saja menandatangani surat perjanjian yang tidak dibacanya dengan cermat.</em></p>
<p><em>Maka setelah pembangunan yang dilakukan cukup cepat, Budi pindah ke rumah baru yang lebih bagus. Awalnya, ia merasa nyaman sekali di rumah tersebut.</em></p>
<p><em>Sayang, Budi tidak bisa menjaga rumahnya dengan baik. Satu per satu permasalahan yang muncul di rumah lamanya kini muncul di rumah barunya. Beberapa tetangganya mulai mengajukan protes akibat terkena imbas dari kebiasaan buruk Budi.</em></p>
<p><em>Belum lagi Tomingsek yang mulai menagih Budi untuk membayar hutangnya dengan bunga berlipat ganda. Di dalam surat perjanjian, apabila Budi tak mampu melunasi hutangnya dalam kurun waktu tertentu, maka rumah tersebut akan menjadi milik Tomingsek</em></p>
<p><em>Karena tak sanggup membayar, maka Budi harus merelakan rumahnya diambil alih oleh Tomingsek. Budi masih diiziinkan untuk tinggal di rumah tersebut, namun menjadi seorang jongos yang harus menjaga dan merawat rumah tersebut.</em></p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Berawal dari pertanyaan <strong>Ayu</strong> di pagi hari, penulis mendapatkan inspirasi untuk membuat analogi di atas. Ayu bertanya, apa alasan yang mengharuskan Indonesia harus memiliki ibu kota baru di Kalimantan sana.</p>
<p>Karena tidak ingin mengecewakan, penulis pun melakukan riset kecil-kecilan. Dirangkum dari berbagai sumber, inilah alasan-alasan mengapa Indonesia harus memiliki ibu kota baru:</p>
<ol>
<li>Beban Jakarta sebagai ibu kota dan pusat bisnis terlalu berat</li>
<li>Jakarta mempunyai segudang permasalahan klasik seperti polusi, macet, dan lain-lain</li>
<li>Jakarta rawan bencana alam seperti banjir dan gempa bumi</li>
<li>Jumlah penduduk Jakarta sudah terlampau padat</li>
<li>Mengurangi <em>jawasentris</em> (56% penduduk Indonesia tinggal di Jawa, Produk Domestik Bruto (PDB) juga sangat dominan di mana 20.85% di Jabodetabek)</li>
<li>Tanah yang semakin sempit karena konversi lahan menjadi hunian penduduk</li>
<li>Kalau bukan sekarang, kapan lagi?</li>
</ol>
<p>Masalah yang dimiliki oleh Jakarta, ibu kota Indonesia yang sekarang, memang ada banyak sekali. Mau gubernurnya 10 orang pun belum tentu masalah tersebut dapat diselesaikan.</p>
<h3><strong><em>Benarkah Sudah Mendesak?</em></strong></h3>
<p>Jika kondisi ekonomi negara kita sedang baik-baik saja, tentu penulis sama sekali tidak merasa keberatan karena pada dasarnya penulis menyetujui permasalahan-permasalahan yang diajukan sebagai dasar perpindahan ibu kota.</p>
<p>Masalahnya, menurut penulis ekonomi negara kita tidak sedang baik-baik saja. Tidak perlu membayangkan hutang negara yang jumlahnya ribuan triliun, di berita banyak judul tulisan yang menunjukkan tunggakan negara di berbagai sektor.</p>
<p>Contohnya adalah BPJS. Banyaknya tunggakan di sektor ini pada akhirnya membuat pemerintah memutuskan untuk menaikkan iuran BPJS Kesehatan sebanyak <strong>100 persen</strong>, walaupun katanya <a href="https://finance.detik.com/moneter/d-4687979/istana-pastikan-kenaikan-iuran-bpjs-kesehatan-belum-final">belum keputusan final</a>.</p>
<p>Kabar ini penulis dengar dari teman kantor penulis, dan jujur membuat terkejut. Tentu muncul pertanyaan, mengapa anggaran untuk memindahkan ibu kota tidak digunakan untuk melunasi tunggakan-tunggakan semacam ini?</p>
<h3><strong><em>Uangnya Darimana?</em></strong></h3>
<p>Dilansir dari <a href="https://www.cnbcindonesia.com/news/20190826183219-4-94856/pindah-ibu-kota-baru-telan-rp-466-t-uangnya-dari-mana-saja">CNBC Indonesia</a>, dibutuhkan kurang lebih <strong>466 triliun rupiah</strong> untuk memindahkan ibu kota ke Kalimantan. Dari mana kita bisa mendapatkan dana tersebut?</p>
<p>Sebanyak <strong>19,2% atau Rp89,472 triliun </strong>diambil dari APBN, <strong>26,2% atau Rp122,092 triliun </strong>dari swasta, dan <strong>54,6% atau Rp254,436 triliun </strong>dari KPBU atau Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha.</p>
<p>Tidak ada secara eksplisit menyatakan bahwa negara akan menggunakan hutang untuk membangun ibu kota baru. Tapi, secara implisit?</p>
<p>Dana tersebut digunakan untuk berbagai hal, seperti membangun infrastuktur gedung, jalan, pembukaan lahan baru, jalur transportasi umum, penyediaan listrik dan air bersih, dan masih banyak lainnya.</p>
<p>Jika rencana ini benar-benar akan direalisasikan dalam waktu dekat, semoga kita bisa banyak belajar dari negara-negara lain yang sukses memindahkan ibu kotanya.</p>
<h3 style="text-align: left;">Penutup</h3>
<p>Ayu, yang memang <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/severn-cullis-suzuki-the-girl-who-silenced-the-world-for-5-minutes/">cukup menyoroti permasalahan lingkungan</a>, melihat sisi lain dari rencana ini. Gadis tersebut mengkhawatirkan tentang ancaman terulangnya &#8220;kerusakan&#8221; Jakarta di Kalimantan.</p>
<p>Menurutnya, masyarakat kita belum memiliki kesadaran lingkungan terlalu tinggi. Hal remeh seperti buang sampah pada tempatnya saja susahnya minta ampun. Jika sampai Kalimantan menjadi rusak karena itu, tentu akan menjadi pukulan bagi kita semua.</p>
<p>Kami berdua menutup diskusi dengan mengatakan tidak ada yang bisa kita lakukan untuk mencegah pemerintah memindahkan ibu kota ini. Sebagai warga negara yang baik, kami hanya bisa mengeluarkan aspirasi seperti ini.</p>
<p>Yang jelas, penulis berharap perpindahan ibu kota yang telah diteken ini akan membawa kebaikan sebesar-besarnya bagi masyarakat kita, bukan menguntungkan pihak lain yang dari dulu selalu berebut kue lezat bernama Indonesia.</p>
<p>Semoga saja, kejadian yang menimpa Budi pada cerita di atas tidak akan sampai terjadi pada bangsa kita.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 31 Agustus 2019, terinspirasi dari diskusi dengan Ayu terkait masalah perpindahan ibu kota</p>
<p>Photo by <a href="https://unsplash.com/@ghvni?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Ghani Noorputrawan</a> on <a href="https://unsplash.com/search/photos/jakarta?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/politik-negara/analogi-perpindahan-ibu-kota/">Analogi Perpindahan Ibu Kota</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kok Mainnya Sama Anak Kecil?</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/kok-mainnya-sama-anak-kecil/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 25 Aug 2019 14:15:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[karang taruna]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[penngalaman]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[teman]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2627</guid>

					<description><![CDATA[<p>FANANDI MAINNYA SAMA ANAK KECIL! Tidak jarang penulis mendengarkan kalimat seperti itu. Tentu, anak kecil yang dimaksudkan adalah kawan-kawan di Karang Taruna yang memang rentang usianya cukup jauh di bawah penulis, sekitar 5 hingga 10 tahun. Mau dianggap seperti itu sebenarnya juga tidak masalah. Toh, penulis juga tidak mungkin menjelaskan mengapa penulis bisa dekat dengan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/kok-mainnya-sama-anak-kecil/">Kok Mainnya Sama Anak Kecil?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>FANANDI MAINNYA SAMA ANAK KECIL!</strong></p>
<p>Tidak jarang penulis mendengarkan kalimat seperti itu. Tentu, anak kecil yang dimaksudkan adalah kawan-kawan di Karang Taruna yang memang rentang usianya cukup jauh di bawah penulis, sekitar 5 hingga 10 tahun.</p>
<p>Mau dianggap seperti itu sebenarnya juga tidak masalah. Toh, penulis juga tidak mungkin menjelaskan mengapa penulis bisa dekat dengan mereka semua semenjak <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/kelahiran-gen-x-swi/">Karang Taruna berdiri</a> di lingkungan RW.</p>
<h3><strong><em>Jadi, kenapa penulis sering bermain bersama mereka?</em></strong></h3>
<p>Ya, karena sering kumpul sama mereka aja. Semenjak <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/menghayati-kemerdekaan-melalui-karang-taruna/">rangkaian acara kemerdekaan Indonesia</a> pada tahun 2016, kami semua sering bekerja sama dalam menyukseskan acara.</p>
<p>Mulanya pada rapat pendahuluan, penulis dan teman yang seumuran sempat gusar karena oleh salah satu pihak dari pengurus RW. Alasannya, semua konsep yang sudah kami siapkan ditolak mentah-mentah.</p>
<p>Beliau justru mengajukan <strong>Ekky</strong>, teman baik adik penulis yang waktu itu masih kelas 2 SMK. Yang membuat terkejut, banyak sekali anak-anak remaja (SMP dan SMA) yang sebelumnya tidak terlalu penulis kenal ketika rapat perdana tersebut.</p>
<p>Singkat cerita, penulis pun berusaha membantu mereka dari belakang dan membuat kami sering berinteraksi. Eh, berawal dari kegusaran, kami jadi dekat satu sama lain hingga sekarang.</p>
<p>Selang beberapa hari setelah pembubaran panitia, Karang Taruna pun resmi dibentuk pada tanggal <strong>3 September 2016</strong>. Kami pun jadi semakin dekat satu sama lain, lengkap dengan sekelumit permasalahannya.</p>
<p>Waktu itu, penulis yang terpilih sebagai ketua pertama paham apa tugas terberatnya: <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/membangun-fondasi-organisasi/">membangun fondasi organisasi</a>. Salah satu caranya adalah dengan membuat banyak program kerja seperti <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/swi-mengajar/">SWI Mengajar</a>, <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/swi-barang-bekas/">SWI Barang Bekas</a>, dan lain sebagainya.</p>
<p>Kalau hanya mengerjakan program kerja tentu akan menjenuhkan. Maka dari itu, biasanya setiap malam minggu kami berkumpul untuk meningkatkan <em>chemistry </em>antar anggota (bahkan ada yang menumbuhkan perasaan suka antar anggota).</p>
<p>Bahkan, dengan alasan agar ketika kumpul tidak sibuk dengan HP-nya sendiri-sendiri, penulis berinisiatif untuk membuat berbagai permainan, mulai dari <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/werewolf-ala-sumber-wuni-indah/">Werewolf dengan penambahan karakter</a>, <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/permainan-perekat-kebersamaan-tebak-satu-kata-dan-hexagon-war/">tebak satu kata</a>, hingga merancang <em>board game <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/stars-and-rabbits-sebuah-permainan/">Stars &amp; Rabbits</a>.</em></p>
<h3><strong><em>Dengan demikian, sudah jelas bukan kenapa penulis begitu dekat dan sayang ke mereka? </em></strong></h3>
<p>Penulis berusaha memosisikan diri sebagai kakak sekaligus teman bagi mereka semua. Jika ada yang membutuhkan saran atau sekadar ingin bercerita, penulis berusaha untuk menjadi <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/bukan-pendengar-yang-baik/">pendengar yang baik</a>.</p>
<p>Penulis mengakui mungkin sedikit lebih dekat dengan anggota-anggota perempuan yang ada di Karang Taruna. Obsesi ingin memiliki adik perempuan bisa menjadi salah satu alasannya. Belum punya pacar menjadi alasan lainnya.</p>
<p>Kedekatan dengan orang lain seperti ini baru penulis rasakan ketika sudah berkepala dua. Seperti yang sudah penulis curhatkan panjang lebar di tulisan <a href="https://whathefan.com/pengalaman/rasa-takut-akan-sendirian-emotional-dependency-disorder/"><em>Rasa Takut Akan Sendirian</em></a>, penulis tidak punya banyak teman sewaktu sekolah.</p>
<p>Kehadiran mereka di kehidupan penulis membuat penulis merasa menemukan kepingan <em>puzzle </em>yang hilang. Berkumpul dengan mereka mungkin membuat penulis menjadi <em>childish</em>, tapi semoga penulis bisa mengubahnya dengan <a href="https://whathefan.com/pengalaman/keluar-dari-zona-nyaman/">keluar dari zona nyaman</a>.</p>
<p>Yang jelas, penulis menyayangi mereka semua. Maka dari itu, penulis rela menghabiskan jatah cutinya demi pulang dan berkumpul dengan mereka pada acara peringatan kemerdekaan Indonesia yang ke-74.</p>
<p><em>Dan itu sangat menyenangkan, walaupun ketika kembali ke Jakarta harus menambah beban rindu yang berat.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 25 Agustus 2019, terinspirasi setelah pulang ke Lawang selama 9 hari</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/kok-mainnya-sama-anak-kecil/">Kok Mainnya Sama Anak Kecil?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menjadi Keberadaan yang Dibutuhkan Orang Lain</title>
		<link>https://whathefan.com/pengembangan-diri/menjadi-keberadaan-yang-dibutuhkan-orang-lain/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 18 May 2019 15:40:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[ada]]></category>
		<category><![CDATA[berubah]]></category>
		<category><![CDATA[butuh]]></category>
		<category><![CDATA[keberadaan]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[manfaat]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[tiada]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2377</guid>

					<description><![CDATA[<p>Penulis kerap berbagi seputar Karang Taruna yang pernah dipimpin. Melalui tulisan-tulisan tersebut, penulis ingin menyebarkan semangat untuk membangun lingkungan kita tinggal dimulai dari hal yang terkecil. Pada tulisan Kenapa Menghabiskan Waktu untuk Karang Taruna? penulis sudah menjabarkan beberapa alasan mengapa penulis melakukannya. Tapi ketika direnungi sekali lagi, ada satu alasan lain. Penulis merasa keberadaannya dibutuhkan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menjadi-keberadaan-yang-dibutuhkan-orang-lain/">Menjadi Keberadaan yang Dibutuhkan Orang Lain</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis kerap berbagi seputar Karang Taruna yang pernah dipimpin. Melalui tulisan-tulisan tersebut, penulis ingin menyebarkan semangat untuk membangun lingkungan kita tinggal dimulai dari hal yang terkecil.</p>
<p>Pada tulisan <a href="https://whathefan.com/karang-taruna/kenapa-menghabiskan-waktu-untuk-karang-taruna/">Kenapa Menghabiskan Waktu untuk Karang Taruna?</a> penulis sudah menjabarkan beberapa alasan mengapa penulis melakukannya.</p>
<p>Tapi ketika direnungi sekali lagi, ada satu alasan lain. Penulis merasa <strong>keberadaannya dibutuhkan oleh orang lain</strong>.</p>
<h3>Ada yang Sama dengan Tiada</h3>
<div id="attachment_2382" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2382" class="size-large wp-image-2382" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/pribadi-yang-dibutuhkan-1-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/pribadi-yang-dibutuhkan-1-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/pribadi-yang-dibutuhkan-1-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/pribadi-yang-dibutuhkan-1-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/pribadi-yang-dibutuhkan-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2382" class="wp-caption-text">Rindu Sekolah? (<a href="https://unsplash.com/@flpschi">Feliphe Schiarolli</a>)</p></div>
<p>Penulis termasuk orang yang masa sekolahnya biasa saja. Bisa dibilang, penulis tidak pernah merasa rindu dengan masa-masa sekolah seperti kebanyakan orang.</p>
<p>Mungkin, salah satu alasannya adalah karena tidak memiliki teman yang benar-benar dekat. Ada sih teman SMP yang dekat, tapi itupun karena kami tinggal di satu kompleks yang sama. Untunglah seperti itu.</p>
<p>Ketika insomnia, penulis sering teringat ke masa lalu. Sedihnya, lebih banyak hal buruk yang melintas di ingatan penulis. Salah satu yang paling sering adalah betapa <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/untuk-kamu-yang-merasa-terbuang/"><strong>tidak dianggapnya keberadaan penulis</strong></a>.</p>
<p>Dengan kata lain, penulis merasa <strong>ada dan tidak adanya</strong> diri penulis di suatu lingkungan itu <strong>sama saja</strong>. Teman-teman sekolah penulis tidak akan menyadari ketiadaan penulis. Istilah lainnya, penulis hanyalah <strong>pelengkap </strong>kelas.</p>
<p>Pada waktu itu, penulis tidak terlalu mempedulikan hal tersebut karena pada dasarnya penulis merupakan orang introvert yang lebih betah sendirian di rumah. Bahkan, termasuk yang susah untuk diajak main.</p>
<p>Akan tetapi, ketika beranjak dewasa, penulis merasakan adanya sedikit penyesalan, terutama ketika melihat teman-teman sekolah bisa berkumpul di antara mereka untuk reuni kecil-kecilan.</p>
<p>Berkumpul dengan teman-teman lama seperti itu nampaknya hampir mustahil terjadi kepada diri penulis, kecuali ada <strong>perubahan</strong>.</p>
<h3>Berubah Dimulai dari Diri Sendiri</h3>
<div id="attachment_2381" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2381" class="size-large wp-image-2381" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/pribadi-yang-dibutuhkan-2-1024x512.jpg" alt="" width="800" height="400" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/pribadi-yang-dibutuhkan-2-1024x512.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/pribadi-yang-dibutuhkan-2-300x150.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/pribadi-yang-dibutuhkan-2-768x384.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/05/pribadi-yang-dibutuhkan-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2381" class="wp-caption-text">Berubah (<a href="https://unsplash.com/@rossf">Ross Findon</a>)</p></div>
<p>Pada waktu kuliah, penulis mencoba untuk lebih membuka diri. Hasilnya, penulis bisa berteman dengan lebih baik, setidaknya dari kacamata penulis sendiri.</p>
<p>Penulis berusaha menjaga relasi baik dengan mereka, sesuatu yang tidak penulis lakukan di masa sekolah. Hal ini membuktikan, bahwa <strong>perubahan</strong> memang harus dilakukan <strong>dari diri sendiri terlebih dahulu</strong>.</p>
<p>Selain itu, penulis percaya dengan yang namanya hukum kasualitas, <strong>semua akibat berawal dari sebuah atau beberapa sebab</strong>. Segala hal yang terjadi memiliki pemicunya, bukan terjadi karena secara acak.</p>
<p>Bisa jadi, penulis mendapatkan perlakukan buruk karena penulis <strong>pernah memperlakukan orang lain secara buruk pula</strong>. Bisa jadi, penulis merasa tidak dianggap keberadaannya karena pernah <strong>tidak menganggap keberadaan orang lain juga</strong>.</p>
<p>Hanya merutuk diri sendiri dan menyesali masa lalu tidak akan membawa dampak apa-apa. Lebih baik, berfokus dengan apa yang bisa kita perbaiki saat ini agar kejadian-kejadian tersebut tidak terulang di masa depan.</p>
<p>Salah satu cara yang bisa menopang perubahan tersebut adalah dengan membuang segala <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/satu-hari-untuk-pikiran-negatif/"><strong>pikiran negatif</strong></a> yang tidak diperlukan dan hanya berdasarkan asumsi semata.</p>
<p>Contoh, melihat foto teman-teman lama sedang berkumpul, tak perlu berpikir &#8220;kok aku enggak diajak ya, apa mereka benci sama aku&#8221;. Mungkin kita memang tidak terlalu dekat dengan mereka, sehingga lebih baik tidak usah terlalu dipikirkan.</p>
<p>Alangkah lebih baik jika kita memiliki inisiatif untuk membuat acara sendiri dengan teman-teman dekat tanpa diiringi perasaan ingin balas dendam. Kalau niatnya buruk seperti itu, kita hanya akan menambah dosa yang tidak perlu.</p>
<h3>Menjadi Keberadaan yang Dibutuhkan Orang Lain</h3>
<p>Mungkin penulis merasa senang menjadi <strong>keberadaan yang dibutuhkan orang lain</strong> karena pernah merasakan pahitnya tidak dianggap oleh orang lain.</p>
<p>Ketika merasa dibutuhkan, penulis akan berusaha untuk memberikan yang terbaik, entah menjadi <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/bukan-pendengar-yang-baik/">pendengar dengan penuh empati</a>, entah menyisihkan tenaga untuk membantu semaksimal mungkin, atau hal-hal lain yang bisa bermanfaat untuk orang lain.</p>
<p>Daripada memikirkan orang-orang yang tidak peduli dengan kita, lebih baik kita mencurahkan diri untuk orang-orang yang berarti dalam hidup ini, yang menyayangi kita, dan mungkin membutuhkan bantuan kita.</p>
<p>Dengan demikian, kita bisa menjadi <a href="https://whathefan.com/tips-motivasi/definisi-sukses-nomer-1-bermanfaat-bagi-orang-lain/">pribadi yang bermanfaat untuk orang lain</a>, bahkan bagi lingkungan sekitar kita. Kita bisa menjadi keberadaan yang dibutuhkan oleh orang lain.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 18 Mei 2019, terinspirasi setelah merenungi masa-masa lalu yang penuh dengan kesuraman</p>
<p>Foto: <a class="_3XzpS _1ByhS _4kjHg _1O9Y0 _3l__V _1CBrG xLon9" href="https://unsplash.com/@emotional_discord">J W</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengembangan-diri/menjadi-keberadaan-yang-dibutuhkan-orang-lain/">Menjadi Keberadaan yang Dibutuhkan Orang Lain</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Permasalahan Bangsa di Mata Gadis 14 Tahun</title>
		<link>https://whathefan.com/sosial-budaya/permasalahan-bangsa-di-mata-gadis-14-tahun/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 17 Mar 2019 05:17:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[moral]]></category>
		<category><![CDATA[negara]]></category>
		<category><![CDATA[permasalahan bangsa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://whathefan.com/?p=2204</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kalau pembaca sudah mengikuti Whathefan cukup lama, pasti tahu yang namanya Ayu. Gadis berusia 14 tahun itu sering menjadi teman diskusi penulis di berbagai bidang dan beberapa kali diskusi tersebut penulis jadikan bahan tulisan. Diskusi kok sama anak SMP? Coba baca contoh tulisan yang terinspirasi dari diskusi tersebut: Severn Cullis-Suzuki: The Girl Who Silenced the [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/permasalahan-bangsa-di-mata-gadis-14-tahun/">Permasalahan Bangsa di Mata Gadis 14 Tahun</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau pembaca sudah mengikuti Whathefan cukup lama, pasti tahu yang namanya Ayu. Gadis berusia 14 tahun itu sering menjadi teman diskusi penulis di berbagai bidang dan beberapa kali diskusi tersebut penulis jadikan bahan tulisan.</p>
<p>Diskusi kok sama anak SMP? Coba baca contoh tulisan yang terinspirasi dari diskusi tersebut: <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/severn-cullis-suzuki-the-girl-who-silenced-the-world-for-5-minutes/">Severn Cullis-Suzuki: The Girl Who Silenced the World for 5 Minutes</a> dan <a href="https://whathefan.com/renungan/bagaimana-tuhan-diciptakan/">Bagaimana Tuhan Diciptakan?</a></p>
<p>Mungkin bagi anak humaniora atau filsafat, topik tersebut termasuk hal yang paling dasar untuk didiskusikan. Tapi bagi penulis, generasi milenial yang memikirkan hal tersebut adalah prestasi tersendiri.</p>
<p>Terakhir, ia menjabarkan permasalahan bangsa ini dari matanya sebagai gadis berusia 14 tahun.</p>
<h3>Permasalahan Bangsa di Mata Ayu</h3>
<p>Diskusi berawal ketika kami membahas tentang beasiswa ke luar negeri. Ia menjelaskan bahwa salah satu motivasinya ingin kuliah di luar negeri adalah karena merasa <strong>muak </strong>dengan kondisi masyarakat kita.</p>
<p>Muak karena apa? Di sini Ayu menjelaskan secara panjang dan lengkap, yang akan penulis salin di bawah ini tanpa ada pengurangan atau penambahan kata (kecuali ada kata yang <em>typo</em>):</p>
<p><em>Tapi mas, bukannya ayu benci sama indonesia, ayu hanya muak dengan masyarakatnya, ayu sama way terkadang berunding tentang berbagai masalah di indonesia, dan kita juga punya tujuan sama untuk lepas dari indo :v</em></p>
<p><em>Ayu cinta dengan negrinya ayu, ayu bangga terlahir di indonesia, tetapi semakin tumbuhnya ayu, semakin berkembangnya globalisasi, semakin hilang nilai moral di indonesia, berbagai budaya sudah banyak yang terlupakan, dimana mereka tidak peduli dengan masalah kecil yang bisa berdampak besar, dimana masyarakat umumnya selalu menyalahkan orang lain, atas kesalahan mereka sendiri, ayu jijik? </em></p>
<p><em>Nilai moral di indonesia mulai menghilang, dimana banyaknya generasi muda yang terlibat pergaulan bebas, merasa semuanya gampang, dimana mereka dengan gampangnya melakukan hubungan &#8216;sex&#8217; yang bahkan mereka belum memiliki ikatan, ayu jijik dengan banyaknya manusia yang membuang sampah sembarangan, walaupun kecil tetap ayu kesal, ayu merasa untuk apa mereka pernah bersekolah, tetapi membuang sampah pun gatau dimana tempatnya</em></p>
<p><em>Disisi lain ayu gak ingin ninggalin indonesia, ayu bangga dengan perjuangan para pahlawan yang susah susah memperjuangkan kemerdekaan indonesia, tetapi ayu merasa sedih membayangkan para pahlawan menilat generasi penerusnya yang gagal, tapi mungkin bakal sangat bahagia melihat para penerusnya yang berusaha mati matian untuk indonesia .z.</em></p>
<p>Sebagai tambahan, ia juga mengungkapkan pandangannya tentang perayaan kemerdekaan di Indonesia.</p>
<p><em>Kita kehilangan semangat kemerdekaan, kita sangat santai akan hal yang terjadi sekarang, kita hanya bergantung pada tokoh tokoh masyarakat, karna yakin mereka bisa melindungi indonesia, tapi bukankah ituh semua gak berguna, untuk mencapai kemerdekaan berabad-abad kita memerlukan perjuangan, tapi apakah sekarang banyak orang yang ingin berjuang, mungkin beberapa tetap berusaha berjuang, tapi pada umumnya, jawabannya adalah tidak, untuk menjaga bangsa inih, diperlukan semangat dan perjuangan masyarakatnya, tidak hanya bergantung pada tokoh tokoh masyarakat</em></p>
<p>Terakhir, penulis melontarkan pertanyaan apakah keluar dari Indonesia menjadi satu-satunya cara menghadapi permasalahan ini. Ia menjawab:</p>
<p><em>Jika tambah parah jawabannya iya, tapi bagaimana solusi untuk semuanya ? Sangat susah untuk benerinnya, ayu bukanlah orang yang bisa mendorong orang lain untuk melakukan sesuatu, dan semua orang tidak mungkin bisa diajak bekerja sama bukan ? Dan dari dulu ayu pingin selalu traveling, menetap di berbagai negara, berteman dengan orang orang yang berbeda, mencari suasana baru :v</em></p>
<h3>Tanggapan Penulis</h3>
<p>Di sini, Ayu meresahkan masyarakatnya yang membuat kita menjadi tidak nyaman tinggal di sini. Poin utama yang disampaikan olehnya adalah semakin memudarnya nilai moral yang dimiliki masyarakat, terutama generasi mudanya.</p>
<p>Selain itu, kesadaran terhadap  lingkungan juga menjadi perhatiannya, alasan mengapa Ayu sangat mengagumi sosok Severn Suzuki-Cullis. Terkait masalah ini penulis sudah pernah menjabarkannya di <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/severn-cullis-suzuki-the-girl-who-silenced-the-world-for-5-minutes/">tulisan sebelumnya</a>.</p>
<p>Perayaan kemerdekaan yang selalu meriah seolah tak memberikan dampak apapun untuk permasalahan ini. Merasa tak bisa membawa perubahan apa-apalah yang membuat Ayu ingin pindah ke luar negeri.</p>
<div id="attachment_2206" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2206" class="size-large wp-image-2206" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/03/permasalahan-bangsa-1-1024x545.jpg" alt="" width="800" height="426" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/03/permasalahan-bangsa-1-1024x545.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/03/permasalahan-bangsa-1-300x160.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/03/permasalahan-bangsa-1-768x409.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/03/permasalahan-bangsa-1.jpg 1280w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2206" class="wp-caption-text">Tinggal di Kanada (<a href="https://unsplash.com/photos/ahHn48-zKWo">Hermes Rivera</a>)</p></div>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sewaktu penulis seusia Ayu, sempat terlintas pikiran untuk tinggal di luar negeri juga karena merasa <em>sumpek </em>di sini. Bahkan, penulis membeli sebuah buku berjudul &#8220;Tinggal dan Bekerja di Kanada&#8221;.</p>
<p>Akan tetapi, dengan seiring bertambahnya usia, penulis menyadari bahwa kita tidak bisa membenci bangsa ini. Sebobrok apapun masyarakatnya, inilah tempat kita lahir dan dibesarkan.</p>
<p>Kalaupun pada akhirnya kita tinggal di luar negeri dengan berbagai alasan, kita akan selalu merindukan untuk pulang karena Indonesia adalah rumah kita bersama.</p>
<p>Penulis tidak menganggap keinginan Ayu untuk tinggal di luar negeri adalah hal yang salah. Alasannya cukup rasional dan penulis menghargai hal tersebut.</p>
<div id="attachment_2205" style="width: 810px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" aria-describedby="caption-attachment-2205" class="size-large wp-image-2205" src="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/03/permasalahan-bangsa-2-1024x682.jpg" alt="" width="800" height="533" srcset="https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/03/permasalahan-bangsa-2-1024x682.jpg 1024w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/03/permasalahan-bangsa-2-300x200.jpg 300w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/03/permasalahan-bangsa-2-768x512.jpg 768w, https://whathefan.com/wp-content/uploads/2019/03/permasalahan-bangsa-2.jpg 1280w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><p id="caption-attachment-2205" class="wp-caption-text">Mengajak Kebaikan (<a href="https://unsplash.com/photos/-Xv7k95vOFA">Alexis Brown</a>)</p></div>
<p>Penulis juga bukan tipe orang yang pandai menggerakkan orang banyak untuk berbuat hal baik. Penulis tidak akan sanggup jika disuruh untuk mengubah bangsa ini menjadi lebih baik (bahkan, penulis ragu calon presiden pun mampu mengubah bangsa ini secara total).</p>
<p>Akan tetapi, setidaknya penulis bisa mulai dari diri sendiri. Terkadang, memulai dari diri sendiri pun sudah cukup susah apabila tidak diiringi dengan tekad yang kuat.</p>
<p>Penulis berusaha mengatasinya dengan mengajak orang lain berbuat baik juga, salah satunya ya lewat blog ini. Dengan mengajak orang lain, penulis merasa bertanggungjawab untuk melakukan apa yang penulis tulis.</p>
<p>Penulis yakin semua orang memiliki caranya masing-masing untuk mengubah negara ini menjadi lebih baik, entah melakukan hal sepele ataupun membuat gebrakan-gebrakan yang mampu menggerakkan orang banyak.</p>
<p>Memiliki kesadaran seperti yang dimiliki Ayu pun juga merupakan nilai tambah, karena tidak semua orang memiliki tingkat kesadaran yang sama, bahkan yang lebih tua dari dia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 17 Maret 2019, terinspirasi dari diskusi dengan Ayu pada suatu malam</p>
<p>Foto: <a href="https://www.pexels.com/photo/woman-sitting-next-to-table-and-right-hand-on-ear-1326946/">George Dolgikh</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/sosial-budaya/permasalahan-bangsa-di-mata-gadis-14-tahun/">Permasalahan Bangsa di Mata Gadis 14 Tahun</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kenapa Menghabiskan Waktu untuk Karang Taruna?</title>
		<link>https://whathefan.com/pengalaman/kenapa-menghabiskan-waktu-untuk-karang-taruna/</link>
					<comments>https://whathefan.com/pengalaman/kenapa-menghabiskan-waktu-untuk-karang-taruna/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 04 Feb 2019 17:39:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[alasan]]></category>
		<category><![CDATA[gen x swi]]></category>
		<category><![CDATA[karang taruna]]></category>
		<category><![CDATA[katar]]></category>
		<category><![CDATA[ketua]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[organigasi]]></category>
		<category><![CDATA[pemuda]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=2132</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jika sudah pernah membaca artikel Dulu Kerja di Mana?, mungkin para pembaca sekalian sudah paham bahwa penulis telah mengalokasikan sebagian (besar) waktunya setelah lulus untuk Karang Taruna. Pertanyaannya, mengapa? Karang Taruna yang pernah penulis pimpin berdiri sejak tahun 2016 setelah rangkaian acara peringatan kemerdekaan Indonesia berakhir. Penulis melihat adanya potensi yang dimiliki oleh remaja-remaja di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/kenapa-menghabiskan-waktu-untuk-karang-taruna/">Kenapa Menghabiskan Waktu untuk Karang Taruna?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Jika sudah pernah membaca artikel <a href="http://whathefan.com/pengalaman/dulu-kerja-di-mana/">Dulu Kerja di Mana?</a>, mungkin para pembaca sekalian sudah paham bahwa penulis telah mengalokasikan sebagian (besar) waktunya setelah lulus untuk Karang Taruna. Pertanyaannya, mengapa?</p>
<p>Karang Taruna yang pernah penulis pimpin berdiri sejak tahun 2016 setelah <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/menghayati-kemerdekaan-melalui-karang-taruna/">rangkaian acara peringatan kemerdekaan Indonesia</a> berakhir. Penulis melihat adanya potensi yang dimiliki oleh remaja-remaja di tempat penulis tinggal (untuk cerita lengkapnya, bisa dibaca di artikel <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/kelahiran-gen-x-swi/">Kelahiran Gen X SWI</a>).</p>
<p>Semenjak kelahirannya, Karang Taruna memiliki begitu banyak program kerja seperti <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/swi-mengajar/">SWI Mengajar</a>, <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/swi-english-day/">SWI English Day</a>, hingga <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/swi-barang-bekas/">SWI Barang Bekas</a>. Ada juga acara spesial seperti <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/next-gen-development-project/">Next Gen Development Project</a> dan <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/gen-x-swi-awards/">Gen X SWI Awards</a>.</p>
<p>Semua proker tersebut tentu bukan tanpa kendala. Mengatur anggota yang rata-rata masih berada di usia sekolah bukan perkara mudah. Salah satu yang sering memicu emosi penulis adalah kurang aktifnya anggota ketika sedang rapat.</p>
<p>Beberapa anggota cenderung pasif ketika rapat dan menerima apapun keputusan yang diambil. Padahal, diadakannya rapat internal bertujuan untuk meningkatkan sikap kritis anggota. Jika di forum kecil saja tak bersuara, bagaimana di tempat yang lebih besar?</p>
<p>Selain itu, banyaknya anggota yang enggan untuk ikut serta ketika ada kegiatan Karang Taruna juga cukup membuat penulis stres. Memang itu hak mereka untuk tidak berpartisipasi, tapi bukankah salah satu tujuan dibentuknya Karang Taruna adalah sebagai tempat berkumpulnya para remaja?</p>
<p>Contoh dua masalah tersebut tidak membuat penulis patah semangat. Sebaliknya, penulis jadi semakin ingin membantu mereka untuk berkembang menjadi generasi yang lebih aktif (walaupun yang bersangkutan belum tentu ingin dibantu).</p>
<p>Jadi, mungkin jawaban pertanyaan &#8220;kenapa menghabiskan waktu untuk Karang Taruna?&#8221; adalah penulis ingin menyalurkan kepedulian penulis terhadap perkembangan generasi muda Indonesia mulai dari lingkup terkecil, yakni lingkungan penulis sendiri.</p>
<p>Untuk pribadi penulis sendiri, dengan aktif di Karang Taruna (apalagi sebagai ketua), penulis bisa berkontribusi untuk lingkungan penulis. Penulis tidak ingin hanya hidup sekadar &#8220;menumpang tidur&#8221;. Penulis ingin meninggalkan jejak, jejak yang kini sedang dilanjutkan oleh <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/tim-transisi-gen-x-swi/">ketua baru</a>.</p>
<p>Jawaban terakhir dari pertanyaan tersebut adalah penulis memiliki misi pribadi sebagai seorang ketua untuk <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/membangun-fondasi-organisasi/">membangun fondasi organisasi</a> yang kuat. Demi kuatnya fondasi tersebut, penulis harus mengalokasikan waktu dan tenaga yang tidak sedikit.</p>
<p>Karang Taruna dengan kepengurusan yang baru sudah berjalan sekitar enam bulan. Tentu mereka akan mengalami kendala, apalagi penulis cukup dominan ketika memimpin, dan itu merupakan <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/satu-kesalahan-saya-sebagai-pemimpin/">satu kesalahan penulis sebagai ketua</a>.</p>
<p>Penulis sekarang hanya bisa <a href="http://whathefan.com/karang-taruna/memantau-dari-jauh/">memantau mereka dari jauh</a>, mengamati bagaimana mereka mengelola organisasi yang telah kami bangun bersama-sama. Tentu penulis mengharapkan mereka bisa lebih sukses, karena dengan demikian, penulis tidak perlu menyesal telah mengorbankan waktu demi mereka.</p>
<p>Ah, seharusnya penulis tak perlu merasa menyesal apapun yang terjadi. Bukankah yang namanya cinta <a href="http://whathefan.com/renungan/cinta-tak-perlu-merasa-berkorban/">sejatinya tidak perlu merasa berkorban</a>?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebayoran Lama, 5 Februari 2019, terinspirasi setelah mengamati perkembangan Karang Taruna setelah 6 bulan penulis tinggal</p>
<p>Foto:</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/pengalaman/kenapa-menghabiskan-waktu-untuk-karang-taruna/">Kenapa Menghabiskan Waktu untuk Karang Taruna?</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/pengalaman/kenapa-menghabiskan-waktu-untuk-karang-taruna/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Severn Cullis-Suzuki: The Girl Who Silenced the World for 5 Minutes</title>
		<link>https://whathefan.com/tokohsejarah/severn-cullis-suzuki-the-girl-who-silenced-the-world-for-5-minutes/</link>
					<comments>https://whathefan.com/tokohsejarah/severn-cullis-suzuki-the-girl-who-silenced-the-world-for-5-minutes/?noamp=mobile#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fanandi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 14 Sep 2018 08:00:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tokoh & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[konferensi]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[pidato]]></category>
		<category><![CDATA[severn suzuki]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[United Nations]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://whathefan.com/?p=1315</guid>

					<description><![CDATA[<p>Berawal dari Ayu (dan lagi-lagi Ayu) yang membacakan sebuah pidato dari buku cetaknya ketika kami melakukan video call, penulis mengetahui sosok luar biasa bernama Severn Cullis-Suzuki. Keistimewaannya terjadi dua tahun sebelum penulis lahir, ketika ia kelak dikenal dengan The Girl Who Silenced the World for 5 Minutes karena peristiwa tersebut. Lalu siapakah Severn ini? Ia baru berusia 12 [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/severn-cullis-suzuki-the-girl-who-silenced-the-world-for-5-minutes/">Severn Cullis-Suzuki: The Girl Who Silenced the World for 5 Minutes</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Berawal dari Ayu (dan lagi-lagi Ayu) yang membacakan sebuah pidato dari buku cetaknya ketika kami melakukan <em>video call</em>, penulis mengetahui sosok luar biasa bernama <strong>Severn Cullis-Suzuki</strong>. Keistimewaannya terjadi dua tahun sebelum penulis lahir, ketika ia kelak dikenal dengan <em>The Girl Who Silenced the World for 5 Minutes </em>karena peristiwa tersebut.</p>
<p>Lalu siapakah Severn ini? Ia baru berusia 12 tahun pada tahun 1992 ketika ia mewakili <em>Environmental Children’s Organization</em> (ECO) yang ia dirikan sendiri bersama teman-temannya ketika Severn berusia 9 tahun.</p>
<p><em>Iya, usia 9 tahun sudah bisa mendirikan organisasi lingkungan.</em></p>
<p>ECO sendiri merupakan organisasi yang berisikan anak-anak yang bertujuan untuk mengampanyekan kepedulian terhadap lingkungan. Severn hadir pada acara <em>U.N. Conference on Environment and Development </em>yang diadakan di Rio de Janeiro, Brasil.</p>
<p>Hebatnya, Severn dan rekan-rekannya terbang dari daerah asal mereka, Kanada, menuju Brasil dengan biaya mereka sendiri. Mereka rela pergi sejauh 5.000 mil (sekitar 8.000 km) agar dapat mengeluarkan aspirasi mereka terhadap lingkungan.</p>
<p>Ada beberapa poin yang ia sampaikan, namun yang paling mengena adalah:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><em>If you don’t know how to fix it, please stop breaking it</em></p>
</blockquote>
<p>Apa yang diperbaiki? Banyak yang ia sebutkan, seperti berlubangnya lapisan ozon dan terancam punahnya hewan maupun tumbuhan.</p>
<p>Selain itu, terdapat pula kalimat yang pernah penulis pikirkan pada tulisan lain:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><em>I am only a child, yet I know if all the money spent on war was spent on finding environmental answers ending poverty and in finding treaties, what a wonderful place this Earth would be</em></p>
</blockquote>
<p>Ia mengucapkan itu dengan tegasnya, membuat semua peserta konferensi terdiam selama kurang lebih 5 menit, sehingga ia mendapatkan julukan tersebut.</p>
<p>Pidato lengkapnya dapat disaksikan melalui video berikut:</p>
<p><iframe loading="lazy" src="https://www.youtube.com/embed/oJJGuIZVfLM?ecver=1" width="696" height="522" frameborder="0" allowfullscreen="allowfullscreen"></iframe></p>
<p>Sekarang, Sever Cullis-Suzuki dikenal sebagai aktivis lingkungan Kanada, pembicara, pembawa acara, dan seorang penulis</p>
<p><strong>Kepedulian Lingkungan Pada Alam Bawah Sadar</strong></p>
<p>Lalu, kita yang sudah lebih dewasa dibandingan Severn ketika berpidato bisa berbuat apa? Ikut-ikutan memuat organisasi lingkungan dan mengumpulkan uang untuk mengikuti konferensi tingkat internasional?</p>
<p>Tidak, tak perlu muluk-muluk. Memiliki kepedulian terhadap lingkungan tidak selalu harus melakukan hal heroik yang akan tercatat di sejarah. Cukup menjaga kebersihan di lingkungan kita dan saling mengingatkan orang-orang terdekat kita akan pentingnya menjaga lingkungan. Tapi kalau bisa lebih, mengapa tidak?</p>
<p>Yang ingin penulis petik dari sosok Severn Cullis-Suzuki adalah, di usianya yang belia, topik yang ia pikirkan sudah begitu berbobot. Bagaimana dengan kita? Galau karena permasalahan cinta? <em>Nggrundel</em> karena ditegur orangtua? Merasa diri kita adalah orang yang paling menderita di dunia?</p>
<p>Kita seringkali memenuhi pikiran dengan pikiran-pikiran yang tidak penting, tidak bisa memilih mana yang patut diberi perhatian mana yang harus disikapi dengan sikap masa bodo.</p>
<p><em>Emang apa pentingnya mikirin lingkungan? Toh udah banyak orang yang mikirin itu?.</em></p>
<p>Mungkin orang yang berpikiran seperti itu belum pernah mendengar teori tentang alam bawah sadar. Jika kita terus menanamkan kepedulian tentang lingkungan, maka segala tindakan kita akan mencerminkan kepedulian tersebut, entah sekecil apapun itu.</p>
<p>Manusia yang hanya menyibukkan pikiran dengan &#8220;aku tak bisa hidup tanpamu&#8221;, ya tindakan-tindakannya mencerminkan pola pikir yang ia tanamkan pada alam bawah sadarnya itu. Contohnya, rela berbuat apa saja demi dia atau rela mengeluarkan uang berapapun untuk hadiah untuknya.</p>
<p><em>Penulis jomblo sih, makanya syirik sama orang yang punya pacar!</em></p>
<p>Ya terserah sih kalau ada yang berpendapat seperti itu. Penulis hanya ingin mengajak kita semua untuk berbuat baik sebanyak mungkin melalui tulisan-tulisan ini. Penulis pun masih banyak belajar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk kepedulian terhadap lingkungan.</p>
<p>Orang-orang luar biasa seperti Severn, secara tidak langsung menjadi guru dalam mempelajari ilmu kehidupan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jelambar, 12 September 2018, terinspirasi setelah Ayu membacakan pidato Severn Suzuki yang tercetak di buku pelajarannya.</p>
<p>Sumber Foto:</p>
<p><a href="https://www.piquenewsmagazine.com/whistler/speaking-truth-gives-youth-great-power/Content?oid=2640180">https://www.piquenewsmagazine.com/whistler/speaking-truth-gives-youth-great-power/Content?oid=2640180</a></p>
<p>Sumber Artikel:</p>
<p><a href="https://www.americanrhetoric.com/speeches/severnsuzukiunearthsummit.htm">https://www.americanrhetoric.com/speeches/severnsuzukiunearthsummit.htm</a></p>
<p><a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Severn_Cullis-Suzuki">https://id.wikipedia.org/wiki/Severn_Cullis-Suzuki</a></p>
<p>The post <a href="https://whathefan.com/tokohsejarah/severn-cullis-suzuki-the-girl-who-silenced-the-world-for-5-minutes/">Severn Cullis-Suzuki: The Girl Who Silenced the World for 5 Minutes</a> appeared first on <a href="https://whathefan.com">Whathefan!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://whathefan.com/tokohsejarah/severn-cullis-suzuki-the-girl-who-silenced-the-world-for-5-minutes/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
