Connect with us

Fiksi

[REVIEW] Setelah Membaca Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold (Spoiler Version)

Published

on

Sebelumnya, Penulis sudah membuat artikel review tentang novel Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold. Nah, Penulis merasa kalau artikel tersebut belum terlalu menggambarkan bagaimana pendapat Penulis karena takut memberikan spoiler.

Oleh karena itu, untuk pertama kalinya Penulis pun membuat review kedua dari novel tersebut, di mana Penulis bisa menuliskan semua yang dirasakan selama membaca cerita-cerita sederhana yang getir dalam novel ini.

Kalau Pembaca berniat untuk membaca novel ini, Penulis sarankan jangan melanjutkan membaca karena artikel ini akan full spoiler. Kalau tidak keberatan, monggo dibaca sampai habis.

Cerita-Cerita Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold

Total ada empat cerita di dalam novel ini, di mana judul-judulnya terdengar sederhana saja. Namun, di balik kesederhanaan tersebut, terdapat cerita yang cukup menyayat hati. Penulis yang hampir tidak pernah merasa terharu ketika membaca novel pun jadi merasakannya.

1. Kekasih

Cerita yang pertama berfungsi sebagai perkenalan kepada pembaca bagaimana konsep time travel dalam novel ini berjalan. Untuk itu, kasus yang dibawa pun tidak terlalu berat dan tergolong ringan saja.

Karakter utama di sini adalah Fumiko Kiyokawa, seorang wanita karir yang harus menerima kenyataan kalau kekasihnya harus pergi ke luar negeri untuk mengejar impiannya. Sosoknya yang tsundere membuatnya tak bisa mengatakan apa yang ia ingin dikatakan saat berpisah.

Karena menyesal, Fumiko pun datang ke kafe Funiculi Funicula dengan harapan bisa menemui kekasihnya dan mengatakan hal yang sebenarnya. Untungnya, mereka berdua memang berpisah di kafe kecil tersebut.

Ketika bertemu di masa lalu, Fumiko pun baru menyadari kalau kekasihnya sebenarnya merasa minder dan khawatir kalau Fumiko akan tertarik dengan pria lain. Fumiko pun jadi tahu kalau yang ia perlu lakukan hanyalah menanti kekasihnya tersebut pulang.

Dengan ceritanya yang ringan, detail-detail seperti persyaratan pergi ke masa lalu pun bisa disajikan dengan lengkap di sini. Oleh karena itu, meskipun ceritanya biasa saja, fungsinya sebagai perkenalan mampu berjalan dengan baik.

2. Suami-Istri

Kotaro Fusagi menjadi sosok berikutnya yang memutuskan untuk pergi ke masa lalu di kafe Funiculi Funicula. Ia merupakan seorang perawat yang suaminya terkena Alzeimer, sehingga ia lupa kalau punya Kotaro sebagai istrinya.

Meskipun suaminya melupakannya, Kotaro tetap dengan sabar mampu merawatnya. Namun, ia penasaran dengan sebuah surat yang pernah ditulis oleh suaminya, tetapi belum pernah diberikan kepadanya. Itulah alasannya untuk pergi ke masa lalu ketika suaminya belum sakit.

Ternyata, sang suami telah menyadari penyakitnya dan mengkhawatirkan hal tersebut. Untuk itu, ia membuat surat yang mengharukan kepada Kotaro, di mana ia mengungkapkan semua perasaan cintanya, bahkan mempersilakan Kotaro pergi jika penyakit lupanya makin parah.

Baru di cerita kedua, damage-nya sudah cukup terasa. Penulis benar-benar merasa terhanyut dalam ceritanya dan merasakan simpati kepada sosok suami-istri ini. Penulis begitu terharu bagaimana hebatnya kesetiaan Kotaro kepada suaminya tersebut.

Sebelumnya, Kotaro memilih untuk dipanggil dengan nama depannya untuk tidak membingungkan suaminya. Setelah kembali dari masa lalu, ia dengan mantap ingin dipanggil dengan Fusagi juga, agar suaminya yakin kalau mereka memang sepasang suami-istri.

3. Kakak-Adik

Satu hal yang menarik dari novel ini adalah adanya semacam clue siapa yang akan pergi ke masa lalu selanjutnya di judul berikutnya. Yaeko Hirai, pemilik bar di depak kafe ini, telah diperlihatkan sejak cerita kedua ketika ia menghindari adiknya, Kumi.

Alasan Yaeko menghindari adiknya sendiri adalah karena dirinya tidak ingin pulang ke kampung halamannya dan melanjutkan usaha keluarga. Ia ingin hidup bebas, sehingga usaha keluarga tersebut diurus oleh adiknya.

Namun, saat Kumi hendak pulang setelah gagal menemui kakaknya, ia mengalami kecelakaan dan membuatnya tewas. Yaeko, meskipun terkesan cuek, ternyata menyimpan perasaan bersalah yang mendalam sehingga ingin pergi ke masa lalu dan menemui adiknya tersebut.

Dalam pertemuan tersebut, ia menyadari betapa adiknya menyayanginya, bahkan sempat terbesit pikiran untuk tidak kembali ke masa kini. Namun, pada akhirnya ia memutuskan untuk kembali dan melanjutkan kerja adiknya selama ini dalam melanjutkan usaha keluarga.

Dibandingkan dua cerita sebelumnya, cerita ketiga cukup terasa kelam karena baru ini pelanggan kafe pergi ke masa lalu untuk menemui orang yang telah meninggal. Jika tidak diingatkan, mungkin Yaeko akan terjebak di masa lalu selamanya.

4. Ibu dan Anak

Sudah ada tiga pengunjung yang pergi ke masa lalu, tapi bagaimana jika yang pergi adalah pemilik kafenya sendiri? Kafe Funiculi Funicula dimiliki oleh Nagare Tokita, yang memiliki istri bernama Kei Tokita. Nah, Kei menjadi tokoh utama di cerita keempat ini.

Kei yang periang dan ceria sedang mengandung anak dari pernikannya dengan Nagare. Namun, muncul kekhawatiran kalau Kei yang secara fisik memang lemah mampu melahirkan anak tersebut tanpa kehilangan nyawanya.

Merasa dirinya tidak akan pernah berkesempatan untuk bertemu dengan anak yang dikandungnya, ia pun memutuskan untuk pergi ke masa depan untuk melihat anaknya setidaknya satu kali seumur hidup. Iya, kafe ini bisa membawa kita ke masa depan juga.

Sayangnya, terdapat kesalahan dalam prosesnya, sehingga Kei datang bukan di waktu yang telah ditentukan. Untungnya, ia tetap bertemu dengan anak perempuannya yang bernama Miki, yang awalnya terlihat canggung ketika bertemu dengan ibunya yang telah meninggal.

Sebelumnya, sosok Miki telah di-tease di cerita ketiga, di mana ia datang dari masa depan untuk bisa bertemu dan berfoto dengan ibunya. Nah, di cerita keempat ini kita kembali melihat Miki yang telah berusia belasan tahun.

Bisa dibayangkan betapa menyedihkannya cerita seorang ibu yang tahu dirinya akan meninggal bertemu dengan anaknya yang sudah beranjak remaja. Miki pun harus menerima kenyataan kalau wanita yang di depannya adalah orang yang melahirkannya di dunia.

Sebagai penutup, cerita ini benar-benar mampu memberikan akhir yang sangat mengharukan. Perasaan Penulis terasa diaduk-aduk dan ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh karakter-karakter yang ada di dalam novel ini.

Penutup

Jika membaca ringkasan cerita di atas, memang kisah-kisahnya terkesan sederhana. Namun, penulis buku ini, Toshikazu Kawaguchi, mampu memberikan dialog-dialog yang ngena dan mampu menghadirkan suasana dramatis yang kuat.

Tidak hanya itu, isi pikiran orang-orang yang pergi ke masa lalu pun berhasil digambarkan dengan baik. Kita jadi bisa merasakan berbagai macam dilema yang muncul ketika mereka berada di situasi yang pelik.

Selain itu, karakter Kazu Tokita, pembuat kopi yang mampu membawa peminumnya pergi ke masa lalu atau masa depan, juga masih terkesan misterius di novel ini. Di buku keduanya, Funiculi Funicula: Kisah-Kisah yang Baru Terungkap, barulah kisah Kazu terungkap.


Lawang, 11 Maret 2023, terinspirasi karena ingin menulis lebih banyak lagi tentang novel Funiculi Funicula: Before the Coffee Gets Cold

Fiksi

[REVIEW] Setelah Membaca Malice – Catatan Pembunuhan Sang Novelis

Published

on

By

Dalam beberapa tulisan ke depan, Penulis akan cukup sering mengulas novel-novel dari Keigo Higashino, karena memang sedang suka (lagi) membaca novel-novel detektif.

Sebelumnya, Penulis sudah pernah mengulas The Devotion of Suspect X dan A Midsummer’s Equation, di mana pendapat Penulis bisa dibilang cukup berbeda di antara keduanya.

Penulis sangat suka The Devotion of Suspect X, tapi kurang puas dengan A Midsummer’s Equation, bahkan sempat berpikir untuk tidak lanjut membaca buku-buku Keigo.

Namun, Penulis memutuskan untuk berubah pikiran dan akhirnya membeli novel ketiga yang berjudul Malice – Catatan Pembunuhan Sang Novelis. Tokoh utama di novel ini bukan Profesor Yukawa, tapi Detektif Kaga!

SPOILER ALERT!!!

Detail Buku Malice – Catatan Pembunuhan Sang Novelis

  • Judul: Malice – Catatan Pembunuhan Sang Novelis
  • Penulis: Keigo Higashino
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan: Ke-14
  • Tanggal Terbit: Mei 2025
  • Tebal: 224 halaman
  • ISBN: 9786020639321
  • Harga: Rp99.000

Apa Isi Buku Malice – Catatan Pembunuhan Sang Novelis

Pada kasus kali ini, seorang penulis novel bernama Hidaka Kunihiko ditemukan tewas di rumahnya yang terkunci, tepatnya di ruang kerjanya yang juga terkunci. Padahal, ia akan pindah dari Jepang ke Kanada keesokan harinya.

Mayatnya ditemukan oleh istri dan sahabatnya yang bernama Nonoguchi Osamu, tapi keduanya memiliki alibi yang kuat. Detektif Kaga Kyoichiro sendiri menaruh curiga kepada Osamu dan penyelidikan pun dimulai.

Nah, jika Profesor Yukawa lebih mirip Hercule Poirot, maka Detektif Kaga ini lebih mirip dengan Sherlock Holmes. Bagaikan anjing pelacak, ia akan menelusuri setiap sudut untuk menemukan fakta yang akan terlewatkan mayoritas orang.

Selain itu, Detektif Kaga juga sangat peduli terhadap detail kecil sekalipun. Bayangkan saja, kondisi jari orang bisa menjadi petunjuk penting untuk menemukan siapa pelaku pembunuhan.

Satu hal yang menarik begitu membaca novel ini adalah angle-nya yang dibuat seperti sebuah catatan tertulis. Namun, penulisnya berbeda-beda, terkadang Osamu sebagai sahabat korban, kadang catatan Detektif Kaga.

Novel ini mengingatkan Penulis akan novel Agatha Christie yang berjudul The Murder of Roger Ackroyd. Di novel tersebut, tokoh “aku” yang menulis novel tersebut ternyata terungkap menjadi pembunuhnya. Nah, formula tersebut sedikit mirip di sini.

Setelah Membaca Malice – Catatan Pembunuhan Sang Novelis

Berbeda dengan The Devotion of Suspect X yang pembunuhnya jelas-jelas ketahuan sejak awal atau A Midsummer’s Equation yang benar-benar gelap di awal cerita, novel ini mengambil jalan tengah (walau memang condong mengikuti formula The Devotion of Suspect X ).

Kecurigaan memang langsung menuju ke Osamu, tapi untuk membuktikan ia pelakunya tidak langsung dijelaskan. Ia bahkan memiliki alibi yang menunjukkan bahwa dirinya bukan pelaku pembunuhan, setidaknya di 1/3 awal buku.

Nah, hal paling seru di novel ini adalah bagaimana kita bisa melihat ada banyak reverse psychology di sini, di mana awalnya kita dibuat berpikir A, lalu ternyata kenyataannya adalah B, tapi ternyata itu adalah trik untuk menutupi kenyataan C, dan seterusnya.

Ketika membaca penjelasan bagian ini, Penulis harus mengakui bahwa hal tersebut ditulis dengan cerdas oleh Keigo. Penulis yang awalnya sudah terbawa arus pun dibuat terkejut ketika kenyataannya terbongkar.

Karena hal tersebut adalah hal paling seru di novel ini, maka Penulis tidak akan menceritakan detailnya. Intinya, jangan mudah percaya dengan apa yang dibaca, teruslah curiga dan amati setiap detail terkecil!

Mungkin salah satu hal yang paling melelahkan dari novel ini adalah bagian interogasi di 1/3 akhir novel, di mana ada banyak sekali catatan interogasi terhadap banyak narasumber. Bagi sebagian orang, mungkin bagian ini bisa terasa overwhelming.

Walau begitu, Penulis bisa memahami bahwa hal tersebut memang harus dilakukan oleh Detektif Kaga untuk menemukan motif pelaku, yang ternyata memang berakar dari masa lalunya. Motif masa lalu itulah yang ingin ditutupi oleh sang pelaku.

Yang jelas, ada satu pesan penting yang ingin disampaikan Keigo: stop bullying. Lho, apa hubungan kematian seorang novelis dengan kasus perundungan? Jawabannya akan ketemu jika Pembaca membaca novel ini.

Kesimpulannya, Malice – Catatan Pembunuhan Sang Novelis mengulang formula Devotion of Mr. X yang pelakunya ketahuan secara cepat. Kedua novel tersebut bukan tentang siapa pelakunya, bukan tentang bagaimana cara melakukan pembunuhannya, tapi tentang mengapa melakukannya.

SKOR: 8/10

Penulis akhirnya memutuskan untuk terus membaca novel-novel Keigo, karena cerita misterinya yang cukup ringan cocok untuk Penulis. Novel selanjutnya yang Penulis pilih adalah Salvation of a Saint – Dosa Malaikat.


Lawang, 14 Maret 2026, terinspirasi setelah membaca Malice karya Keigo Higashino

Continue Reading

Fiksi

[REVIEW] Setelah Membaca Teka-Teki Rumah Aneh

Published

on

By

Sebenarnya sudah sejak lama novel Teka-Teki Rumah Aneh karya Uketsu mencuri perhatian Penulis. Namun, entah mengapa Penulis belum merasa terdorong untuk membelinya, meskipun sebenarnya suka dengan novel “teka-teki”.

Nah, membaca novel-novel detektif Keigo Higashino yang akhirnya membuat Penulis memutuskan untuk membeli dan membaca novel ini. Toh, novel ini tidak terlalu tebal, sehingga bisa cepat ditandaskan.

Benar saja, tak butuh lama Penulis menghabiskan novel ini karena misterinya yang membuat penasaran. Dengan durasi sekitar 3-4 jam, Penulis bisa langsung menyelesaikan novel ini. Lantas, apakah novel ini sebagus kata orang?

SPOILER ALERT!!!

Detail Buku Teka-Teki Rumah Aneh

  • Judul: Teka-Teki Rumah Aneh
  • Penulis: Uketsu
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan: Ke-14
  • Tanggal Terbit: Mei 2025
  • Tebal: 224 halaman
  • ISBN: 9786020669960
  • Harga: Rp79.000

Apa Isi Buku Teka-Teki Rumah Aneh?

Novel ini berkisah dari sudut pandang orang pertama seorang penulis (namanya tidak pernah disebutkan) spesialis occult alias hal-hal gaib. Nah, suatu ketika, ia dimintai tolong kenalannya untuk memeriksa suatu denah rumah yang menurutnya aneh.

Dari sini, kita bisa melihat kalau konsep “rumah aneh” langsung disajikan di awal cerita, bahkan di halaman pertama. Denah rumah yang awalnya tampak normal-normal saja langsung diperlihatkan begitu mulai membaca.

Sang penulis tersebut tentu merasa kebingungan dengan denah rumah tersebut, sehingga ia minta bantuan kenalannya yang bernama Kurihara-san, seorang arsitek, yang akhirnya menunjukkan apa keanehan pada denah rumah tersebut.

Nantinya, kita akan sering melihat percakapan antara keduanya di novel ini. Bukan dalam bentuk paragraf, melainkan menggunakan format nama karakter, titik dua (:), baru kalimatnya. Semua percakapan menggunakan format tersebut, sehingga membuat pace novel ini terasa cepat.

Di novel ini, denah rumah kerap diperlihatkan berkali-kali, terkadang hanya sebagian saja. Dengan demikian, kita tidak perlu capek-capek membolak-balikkan halaman, walau kekurangannya membuat novel ini cepat habis.

Berangkat dari keanehan tersebut, tokoh penulis pun membuat artikel tentang rumah tersebut dengan harapan akan ada orang yang memiliki informasi lebih. Tak lama kemudian, ia pun menerima email dari seseorang yang akan membawa mereka ke sebuah misteri yang kelam.

Penulis tidak akan bercerita terlalu dalam mengenai isi buku ini, mengingat apa yang membuat novel misteri menarik adalah misterinya. Namun, Penulis bisa mengatakan kalau denah rumah yang aneh di sini tidak hanya satu.

Selain itu, nanti akan terungkap kalau ada alasan khusus kenapa rumah-rumah tersebut memiliki denah yang aneh. Bisa dibilang, konklusi cerita yang dibagi menjadi empat bab ini tidak tertebak, kalau bukan jadi terlalu jauh.

Di bab selanjutnya, akan ada lebih banyak spoiler yang akan mengurangi keseruan jika Pembaca berniat membaca buku ini. Jadi, spoiler alert!

Setelah Membaca Teka-Teki Rumah Aneh

Penulis pada dasarnya memang menyukai novel detektif dan misteri. Jauh sebelum kenalan dengan novel-novel Keigo, Penulis sudah membaca semua novel Agatha Christie dan Sherlock Holmes.

Oleh karena itu, standar Penulis jadi agak tinggi. Penulis menganggap Teka-Teki Rumah Aneh adalah cerita misteri yang menarik, tapi tidak sampai membuat Penulis menganggap sebagai salah satu yang terbaik yang pernah Penulis baca.

Yang Plus dari Teka-Teki Rumah Aneh

Seperti yang sudah Penulis singgung, kita langsung disuguhi denah rumah yang awalnya terlihat normal, tapi ternyata memiliki keanehan. Apalagi, “rumah anehnya” bukan hanya itu, sehingga kita jadi menyadari kalau ini adalah sebuah pola tertentu, bukan sekadar kesalahan arsitektur saja.

Itulah hal yang berhasil membuat penasaran bagi tokoh penulis dan Kurihara-san. Berawal dari pertanyaan, mereka justru jadi melakukan penyelidikan untuk mengulik apa maksud dari denah rumah aneh tersebut.

Buat Penulis, salah satu kekuatan utama novel ini adalah bagaimana kita mampu dibuat merasa penasaran seperti tokoh di dalamnya. Terlalu banyak pertanyaan yang muncul ketika melihat fakta yang ada, sehingga kita terus ingin tahu seperti apa jawabannya.

Itu juga menjadi salah satu alasan lain mengapa pace cerita ini cepat dan tidak terlalu bertele-tele. Tidak ada polisi yang melakukan wawancara seperti di novel-novel Keigo. Apalagi, kita tidak perlu susah-susah membayangkan denahnya karena gambarnya selalu tersedia.

Selain itu, entah bagaimana novel ini juga bisa terasa lumayan “horor” hingga Penulis merasa merinding ketika membacanya. Padahal, sama sekali tidak ada adegan hantu atau gangguan makhluk halus.

Yang Kurang dari Teka-Teki Rumah Aneh

Sayangnya, Penulis kurang menyukai konklusi dari cerita ini yang memiliki hubungan dengan okultisme. Keluarga pembunuh yang terjebak “ritual” memakan korban tersebut terasa agak bodoh karena mau termakan kata “orang pintar”.

Apalagi, semua itu berawal dari hubungan inses yang dialami oleh keluarga tersebut, yang menjadi awal dari semua tragedi yang terjadi selanjutnya. Jumlah korban berjatuhan hanya karena kepercayaan yang sesat.

Mungkin ada pembaca novel ini yang menyukai konklusi seperti itu. Namun, Penulis sendiri tidak menyukai unsur-unsur seperti itu, karena misteri bisa terjadi karena ketidaktahuan orang, bukan karena disusun secara cerdik.

Oh iya, di bagian akhir setelah cerita terkesan berakhir, ternyata Uketsu justru memilih memberikan open ending kepada Pembaca terhadap salah satu karakter kunci di cerita ini. Padahal, Penulis berharap kalau misterinya harus tuntas tanpa menimbulkan pertanyaan baru.

Walau begitu, novel ini tetap menjadi bacaan misteri yang menegangkan dan akan membuat kita kesulitan untuk berhenti membaca karena penasaran. Setelah membaca Teka-Teki Rumah Aneh, rasanya kita akan jadi memperhatikan setiap detail denah rumah yang kita lihat!

SKOR: 7/10

Saat menulis artikel ini, Penulis sempat ke Gramedia dan melihat ada “sekuel” novel ini dengan judul Teka-Teki Gambar Aneh. Menarik untuk ditunggu apakah novel ini juga mampu membuat Penulis merasa merinding dan tak bisa berhenti membaca.


Lawang, 24 Februari 2026, terinspirasi setelah membaca buku Teka-Teki Rumah Aneh karya Uketsu

Continue Reading

Fiksi

[REVIEW] Setelah Membaca Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop

Published

on

By

Entah mengapa belakangan ini, Penulis merasa kalau novel dengan latar belakang “toko buku” (atau kadang hanya “buku” saja) sedang banyak dijual. Banyak sekali di rak buku judul-judul yang mengandung frase ini, sehingga tentu menimbulkan rasa penasaran.

Oleh karena itu, Penulis pun memutuskan untuk membeli salah satu, di mana pilihan jatuh kepada Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop karya Hwang Bo-reum. Yups, lagi-lagi penulis Asia, bedanya kali ini dari Korea Selatan.

Ketika dan setelah membaca novel ini, Penulis berpikir, “oh, ternyata jadinya begini jika genre slice of life menjadi sebuah cerita.” Jadi, jangan harap akan menemukan konflik yang menegangkan atau plot twist yang mengejutkan di sini!

[SPOILER ALERT!!!]

Detail Buku Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop

  • Judul: Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop (Selamat Datang di Toko Buku Hyunam-dong)
  • Penulis: Hwang Bo-reum
  • Penerbit: Gramedia Widiasarana Indonesia
  • Cetakan: Ke-5
  • Tanggal Terbit: Januari 2025
  • Tebal: 408 halaman
  • ISBN: 9786020530444
  • Harga: Rp119.000

Sinopsis Buku Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop

“Kisah orang-orang yang berjuang untuk menjalin hubungan baru dan menyembuhkan diri melalui buku dan toko buku terungkap secara mendalam.”

Toko buku di lingkungan biasa, yang berdiri di antara rumah-rumah di mana tidak banyak orang datang dan pergi. Inilah toko buku di Hyunam-dong! Selama beberapa bulan pertama, pemilik toko buku, Young-joo, yang wajahnya tidak menunjukkan antusiasme, seperti seseorang yang selalu larut dalam kesedihan, duduk diam dan membaca buku seolah-olah dia adalah seorang pelanggan. Dia menghabiskan setiap hari di toko buku dengan perasaan seperti mendapatkan kembali hal-hal yang hilang satu per satu. Perasaan lelah dan hampa dalam batin perlahan menghilang. Sejak saat itu, toko buku di Hyunam-dong menjadi tempat yang benar-benar baru. Ruang tempat orang berkumpul, berbagai emosi berkumpul, dan cerita tiap individu.

Isi Buku Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop

Sesuai dengan sinopsis di bagian belakang bukunya, Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop berpusat pada toko buku kecil yang berada di daerah Hyunam-Dong. Pemiliknya adalah Yeong-ju, seorang perempuan yang berusia 30 tahunan.

Ia tak sendirian di toko buku tersebut. Ada Min-joon, yang bekerja sebagai barista di sana. Lalu, ada Jimmy (ini karakter cewek!) yang menjadi supplier biji kopi untuk toko buku tersebut, yang juga menjadi teman dekat Yeong-ju.

Tentu ada banyak pengunjung setia toko buku kecil yang nyaman tersebut, seperti anak SMA yang benama Min-Cheol beserta ibunya (yang namanya baru terkuak jelang akhir buku), Jung-seo yang hobi merajut, Seong-cheol, dan lain sebagainya.

Meskipun berkesan “santai”, tentu masing-masing karakter memiliki masalahnya sendiri. Yeong-ju misalnya, mengalami burnout karena pekerjaan lamanya dan kegagalam rumah tangganya. Toko buku yang ia dirikan seolah menjadi sarana pelariannya.

Tema pernikahan yang tidak bahagia juga dialami oleh Jimmy, sedangkan sang barista berada di krisis eksistensial karena merasa dirinya gagal. Toko buku kecil tersebut seolah menjadi semacam “oasis” bagi mereka dan pengunjung.

Untuk menghidupkan suasana toko buku, Yeong-ju membuat semacam berbagai acara di sana, termasuk bedah buku dan diskusi antara sesama pembaca buku. Ia bahkan mengundang penulis seperti Seung-woo yang sepertinya memiliki ketertarikan dengannya.

Itu semua dibalut dengan aktivitas ringan yang terjadi di sekeliling kita, bagaimana obrolan-obrolan ringan keluar ketika bertemu kenalan di suatu tempat, bagaimana kita curhat ke teman yang kita percaya, bagaimana proses penerimaan diri, dan lain sebagainya.

Setelah Membaca Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop

Seperti yang sudah Penulis singgung di awal tulisan, genre novel ini adalah slice-of-life. Mungkin baru kali ini Penulis membaca buku dengan genre seperti ini. Apakah Penulis menyukainya? Jawabannya iya dan tidak secara bersamaan.

Sebagai novel santai yang tidak terus-menerus menimbulkan rasa penasaran, Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop adalah teman yang menarik terutama ketika kepala kita sedang penuh dengan berbagai permasalahan.

Apalagi, gaya bahasanya juga terasa lembut dan cozy, sehingga terkadang membuat Penulis merasa kalau novel ini seperti lullaby pengantar tidur. Ini bisa menjadi kelebihan sekaligus kekurangan, karena di satu sisi akan menimbulkan kesan membosankan.

Itulah yang Penulis rasakan selama membaca buku ini. Awal-awal membaca, Penulis merasa bersemangat untuk membaca tiap babnya secara perlahan dan menikmati aktivitas-aktivitas sederhana yang disajikan.

Namun, setelah lewat setengah buku, rasa bosan itu muncul sehingga proses menamatkan novel ini pun menjadi lebih lama. Apalagi, ceritanya lumayan dragging. Penulis bahkan sudah tidak seberapa ingat ada kisah apa saja yang sudah Penulis baca di novel ini.

Cerita antarbabnya tidak nyambung, terutama di bagian awal-awal, seolah ceritanya berdiri sendiri-sendiri. Namun, makin ke belakang, buku ini semakin terasa linier dan utuh sebagai novel, bukan kumpulan cerita pendek.

Oleh karena itu, bisa dibilang novel ini tidak memiliki konflik utama. Konfliknya ya ada di masing-masing karakter, di mana sepanjang novel mereka mulai mengalami perkembangan seiring berjalannya waktu menjadi lebih baik dalam menghadapi masalahnya.

Bisa dibilang, konflik yang ada di novel ini lebih banyak ke pergulatan batin dibandingkan dengan konflik eksternal. Tidak ada cerita Yeong-ju pusing karena penjualan toko seret, yang ada bagaimana ia berusaha untuk berdamai dengan keadaan dan terutama dirinya sendiri.

Buat yang sedang mengalami masalah internal, bisa jadi ada bagian-bagian di buku ini yang akan memberikan jawabannya. Mungkin bukan jawaban gamblang, tapi bisa menjadi inspirasi apa yang harus dilakukan pada situasi tertentu.

Bagian yang paling menarik bagi Penulis tentu saja mengetahui bagaimana Yeong-ju mengelola toko bukunya. Setiap aktivitas yang dia lakukan, baik sekadar merapikan rak buku ataupun membuat komunitas, berhasil Penulis bayangkan dengan baik

Mungkin novel ini bisa memberikan rasanya nyaman untuk pembacanya yang merasa related dengan konflik di dalamnya. Sayangnya, Penulis tidak merasakan rasa nyaman itu, setidaknya setelah membaca cukup banyak halamannya.

Walau begitu, novel ini tetap Penulis rekomendasikan untuk Pembaca yang sedang mencari bacaan ringan. Walau latarnya di Korea Selatan, buku ini cukup terasa dekat, walau tidak sampai membuat kita merasa memiliki koneksi khusus dengan karakter-karakter di dalamnya.

Skor: 6/10


Lawang, 2 Desember 2025, terinspirasi setelah membaca Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop karya Hwang Bo-reum

Continue Reading

Fanandi's Choice

Blog ini milik Fanandi Prima Ratriansyah sejak 2018