Connect with us

Buku

Belajar Mencintai Bahasa Indonesia Pada Xe.no.glo.so.fi.lia

Published

on

Kalau pembaca sekalian bermain Twitter, tentu tidak asing dengan yang namanya Ivan Lanin. Beliau sering kali muncul dengan memberikan pengetahuan terkait bahasa Indonesia.

Selain itu, beliau juga rajin memberikan padanan kata bahasa-bahasa asing (terutama bahasa Inggris) agar kita menggunakan bahasa Indonesia 100% tanpa perlu nginggris.

Penulis tidak ingat kapan mulai mengikuti beliau, yang jelas penulis tertarik dengan cuitan-cuitannya karena banyak membantu penulis, baik untuk pekerjaan maupun menulis blog ini.

Satu waktu, penulis tahu bahwa Ivan Lanin menulis sebuah buku berjudul Xe.no.glo.so.fi.lia yang membahas berbagai macam hal tentang bahasa Indonesia.

Karena tidak menemukannya di toko buku, penulis memutuskan untuk memberinya secara online daring. Buku ini menjadi teman perjalanan penulis sewaktu kembali ke Jakarta seusai lebaran kemarin.

Apa Isi Buku Ini?

Sesuai dengan ekspetasi, buku ini banyak berisi mengenai tata bahasa Indonesia terutama yang sering mengalami salah kaprah di masyarakat. Ada yang sudah penulis ketahui, tapi tidak sedikit pengetahuan baru yang penulis dapatkan.

Yang sedikit mengejutkan, ternyata buku ini merupakan semacam rangkuman dari blog milik Ivan Lanin. Tidak masalah, toh penulis tidak pernah suka membaca melalui laptop ataupun ponsel.

Buku ini terdiri dari tiga bab utama, yakni:

  • Xenoglosofilia, menjabarkan tentang penggunaan bahasa Indonesia alih-alih bahasa asing, banyak berisikan padanan kata yang bisa digunakan untuk mengganti kata asing tersebut
  • Tanja, akronim dari Tanya Jawab yang berisi seputar permasalahan bahasa Indonesia yang sering dibingungkan oleh masyarakat
  • Mana Bentuk yang Tepat, menjelaskan tentang dua kata (atau bentuk kata) yang sering membuat orang bingung mana yang benar

Setiap bab terdiri dari banyak subbab yang berjumlah puluhan. Tenang, setiap subbab hanya berisi sekitar 2 halaman saja, sehingga buku ini tidak akan terasa berat.

Di buku ini, banyak sekali istilah-istilah yang sangat jarang digunakan oleh kita, bahkan akan dianggap aneh jika kita menggunakannya dalam keseharian.

Contohnya yang paling mudah adalah gawai. Kata ini merupakan padanan kata dari gadget. Tentu kita jarang sekali mendengar orang menggunakan kata gawai, sehingga kata ini dianggap tidak lazim untuk digunakan.

Contoh lain adalah tetikus untuk menggantikan kata mouse yang digunakan untuk komputer. Bayangkan jika ada toko daring yang menjual wireless mouse menjadi tetikus tanpa kabel, rasanya tidak banyak calon pembeli yang tertarik.

Hal ini membuat kita mau tidak mau merenungi permasalahan tentang bahasa ini.

Kenapa Harus Nginggris?

Penulis bukannya orang yang sudah bisa berbicara dan menulis dalam bahasa Indonesia dengan baik. Terkadang, penulis juga masih menyisipkan kata-kata dalam bahasa Inggris (bahkan terkadang bahasa Jepang).

Akan tetapi, penulis menyadari bahwa apa yang sering digalakkan oleh Ivan Lanin mengenai penggunaan bahasa Indonesia secara lebih baik ada benarnya. Kita sering keminggris dengan mencampuradukkan bahasa.

Contoh yang paling sering penulis dengar (dan kadang dilakukan) adalah which is, literally, dan lain sebagainya. Ada yang beranggapan bahwa dengan mengombinasikan bahasa, kalimat kita terlihat lebih modern dan canggih.

Padahal sebenarnya tidak.

Kita sering kali berkiblat kepada negara maju, maka mari kita lihat bagaimana mereka berbahasa sehari-hari. Apakah orang Inggris, Jepang, Korea Selatan, Prancis, menggunakan bahasa yang campur-campur?

Entah bagaimana dengan negara Barat, tapi ketika menonton berbagai acara Jepang dan Korea, mereka sangat jarang menggunakan bahasa asing dalam berbicara. Lantas, apakah mereka terlihat norak dan kampungan? Penulis rasa tidak.

Salah satu permasalahan bangsa ini adalah kepercayaan diri. Kita mungkin kurang percaya diri dengan bahasa kita sendiri, sehingga meminjam bahasa milik bangsa lain.

Tidak ada yang salah dengan mempelajari bahasa lain dan menggunakannya. Akan tetapi, jangan mencampur aduk bahasa. Jika ingin berbicara dalam bahasa Inggris, ya sudah gunakan secara utuh sesuai dengan tata bahasa yang benar.

Apa Pendapat Penulis Tentang Buku Ini?

Meskipun terdengar teknis, nyatanya buku ini ditulis dengan bahasa yang cukup ringan seperti blog-blog pada umumnya. Pembaca buku ini tidak akan dibuat berpikir keras untuk mencerna apa makna kalimat demi kalimatnya.

Gaya bahasanya yang santai membuat buku ini bisa dinikmati oleh pembaca muda, meskipun ada beberapa bagian yang cukup teknis sehingga butuh dibaca beberapa kali.

Banyak kata-kata yang sangat awam dan jarang digunakan oleh masyarakat. Bahkan penulis, yang sering berkutat dengan buku, banyak menemukan istilah-istilah baru, yang terkadang diusulkan oleh Ivan Lanin sendiri.

Hanya saja, karena memang disadur dari blog, kita akan serasa membaca blog. Contohnya adalah pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Ivan Lanin pada akhir subbab. Kita hanya bisa menjawabnya dalam hati, bukan?

Terlepas dari itu, penulis sangat menyarankan buku ini untuk dibaca oleh siapapun, terutama pelajar dan orang-orang yang berkutat dengan dunia tulis-menulis.

Ivan Lanin mungkin berharap dengan bukunya ini, ia mampu mengampanyekan penggunaan bahasa Indonesia yang lebih baik lagi. Kita bisa harus mencintai bahasa kita sendiri dengan lebih layak.

Penulis mendukung 100% kampanye tersebut, dimulai dari diri sendiri dan lingkungan sekitar penulis.

Nilainya: 4.2/5.0

 

 

Kebayoran Lama, 22 Juni 2019, terinspirasi setelah membaca buku Xe.no.glo.so.fi.lia karya Ivan Lanin

Fiksi

[REVIEW] Setelah Membaca Teka-Teki Gambar Aneh

Published

on

By

Meskipun tidak terlalu terkesan setelah membaca Teka-Teki Rumah Aneh, Penulis memutuskan untuk tetap membeli novel terbaru Uketsu. Kali ini, judulnya adalah Teka-Teki Gambar Aneh.

Saat membaca ulasan sekilas yang beredar di media sosia, banyak yang menyebutkan kalau cerita di novel ini lebih gila dibandingkan novel yang pertama. Ekspektasi Penulis pun jadi meninggi, meskipun tetap menyiapkan ruang untuk merasa kecewa.

Untungnya, setelah menamatkan novel ini dalam durasi yang relatif singkat, Penulis bisa mengatakan kalau Teka-Teki Gambar Aneh memang lebih gila dari Teka-Teki Rumah Aneh! Penulis akan jelaskan alasannya pada tulisan kali ini.

SPOILER ALERT!!!

Detail Buku Teka-Teki Gambar Aneh

  • Judul: Teka-Teki Gambar Aneh
  • Penulis: Uketsu
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan: Ke-2
  • Tanggal Terbit: Februari 2026
  • Tebal: 312 halaman
  • ISBN: 9786020687209
  • Harga: Rp99.000

Apa Isi Buku Teka-Teki Gambar Aneh?

Sesuai dengan judulnya, kali ini kita akan disuguhi banyak gambar aneh yang jika dilihat sekilas tidak memiliki makna yang berarti. Memang, denah rumah bisa disebut sebagai “gambar” juga, tapi ini literally gambar berbagai macam hal.

Melansir dari sinopsis resminya, ada gambar yang dibuat seorang wanita hamil di internet, gambar yang dibuat seorang anak kecil sebagai hadiah Hari Ibu, dan gambar yang dibuat seorang korban pembunuhan di saat-saat terakhirnya.

Cerita dibagi menjadi ke dalam empat bab, yang pada awalnya tidak terlihat seperti terhubung satu sama lain. Alurnya sendiri maju mundur, karena satu bab ke bab lainnya tidak linear dalam satu lini masa. Berikut adalah judul dari keempat bab di novel ini:

  1. Gambar Wanita Berdiri Diterpa Angin
  2. Gambar Kabut yang Menutupi Unit Mansion
  3. Gambar Terakhir Guru Seni Rupa
  4. Gambar Pohon Pelindung Burung Gelatik

Jadi, setidaknya akan ada empat gambar berbeda yang akan menjadi pusat dari masing-masing cerita, karena masih ada gambar-gambar lainnya juga. Yang menggambar pun juga berbeda-beda, tapi tidak akan Penulis jelaskan di sini karena berpotensi spoiler.

Penulis telah sering mengatakan kalau format seperti ini adalah salah satu favoritnya, apalagi kalau keterhubungannya benar-benar tak terpikirkan. Nah, novel ini pun begitu, di mana tiap-tiap cerita memiliki karakter yang berbeda.

Di cerita pertama misalnya, ceritanya berpusat pada karakter Sasaki dan Kurihara (orang yang sama di novel pertama), yang sama-sama merupakan anggota dari kelompok occult. Mereka berdua mendiskusikan sebuah blog yang terasa janggal bernama “Catatan Hati Nanashino Ren”.

Di blog tersebutlah mereka menemukan sekumpulan gambar aneh yang berusaha mereka pecahkan, apalagi jika membaca tulisan-tulisan pemilik blog. Total ada lima gambar yang terlihat tidak memiliki hubungan sama sekali di cerita pertama ini.

Fun Fact: Blog tersebut benar-benar ada! Pembaca bisa mengaksesnya di https://nanashinoren.blog.jp/

Lalu di cerita kedua, angle-nya bergeser ke seorang anak bernama Yuta yang baru akan menginjak usia enam tahun. Di cerita ketiga, bergeser lagi ke kematian seorang guru seni rupa bernama Miura. Bisa dibayangkan, bukan, bagaimana cerita-cerita di buku ini seolah berdiri sendiri?

Yang bisa Penulis katakan adalah, gambar-gambar aneh di novel ini bukanlah sekadar gambar biasa. Gambar-gambar di sini adalah sebuah petunjuk, baik untuk mengetahui watak seseorang, pesan kematian, hingga petunjuk tentang adanya kasus pembunuhan.

Setelah Membaca Teka-Teki Gambar Aneh

Penulis cukup terperangah setelah menamatkan novel ini. Plot twist yang dimiliki benar-benar mengejutkan dan sama sekali tak terpikirkan. Bahkan, Penulis bisa bilang kalau setiap bab memiliki twist-nya sendiri.

Keterhubungan antara empat bab di novel ini sebenarnya berpusat pada satu karakter, yang tidak akan Penulis ungkap di sini. Namun, kita tidak akan menyadarinya hingga akhir bab kedua, atau bahkan ketika akhir bab tiga.

Begitu semuanya terungkap, kita baru menyadari betapa besarnya skema kriminal yang terjadi sepanjang novel ini. Tulisan dan gambar-gambar aneh di blog yang ditemukan Sasaki dan Kurihara ternyata hanya tip of the iceberg.

Selain itu, motif tiap pembunuhan yang terjadi di novel ini pun bukan karena dendam, harta, atau hal-hal yang kerap kita jumpai pada cerita-cerita detektif pada umumnya. Ketika motifnya terkuak di bab empat, kita akan sulit memercayainya.

Bahkan, keberadaan pihak polisi baru muncul menjelang akhir cerita. Artinya, kejahatan yang dilakukan oleh pelaku berhasil ia sembunyikan dengan baik selama bertahun-tahun, walau pada akhirnya ada seseorang yang berhasil membongkar semuanya.

Pace cerita di sini pun cukup cepat, apalagi jika mengingat ada empat cerita yang berbeda. Itulah yang membuat Penulis hanya membutuhkan waktu singkat untuk menamatkannya, karena selalu ada hal yang menimbulkan rasa penasaran. Mungkin juga karena terjemahan buku ini mudah untuk dicerna.

Penulis bersyukur bahwa konklusi dari novel ini tidak memiliki keterkaitan dengan dunia okultisme, seperti yang Penulis temukan di Teka-Teki Rumah Aneh. Penulis merasa cukup puas dengan penjelasan akhirnya yang lebih ke sisi psikologis yang mindblowing.

Jika disuruh membicarakan kekurangannya, jujur Penulis kesulitan menemukannya. Penulis tidak menemukan plot hole atau hal ganjil yang membuat Penulis tidak puas dengan novel ini. Penulisannya rapi dan tertata, sehingga semua hal telah mendapatkan penjelasan yang cukup.

Mungkin, justru motif pelaku di novel ini menjadi tanda tanya besar bagi Penulis. Benarkah ada orang yang tega melakukan pembunuhan-pembunuhan dengan motif seperti itu? Apakah itu karena sang pelaku seorang psikopat yang sadis sekaligus overprotective?

Kesimpulannya, Penulis menikmati novel ini dan merekomendasikannya kepada Pembaca yang menyukai kisah detektif yang di permukaan terlihat sederhana, tapi memiliki kerumitan di dalamnya.

Skor: 9/10


Lawang, 6 Juni 2026, terinspirasi setelah membaca Teka-Teki Gambar Aneh karya Uketsu

Continue Reading

Non-Fiksi

[REVIEW] Setelah Membaca The Let Them Theory

Published

on

By

Pada bulan November tahun lalu, Penulis mendengar istilah “The Let Them Theory” untuk pertama kali dari seorang teman. Saat itu, kami memang sedang mendiskusikan tentang melepaskan kemelekatan.

Nah, lantas pada waktu ke Gramedia pada bulan Februari tahun ini, Penulis menemukan buku berjudul The Let Them Theory karya Mel Robbins. Waktu itu, Penulis belum tahu kalau istilah tersebut ternyata merupakan judul buku.

Karena penasaran dengan isinya (dan merasa butuh belajar melepaskan juga), Penulis akhirnya memutuskan untuk membelinya. Alhasil, buku ini berhasil Penulis tamatkan dalam waktu yang relatif singkat.

Disclaimer: Saat menulis artikel ini, Penulis menyadari ada isu plagiarisme yang ditujukan ke buku ini. Walau begitu, tulisan ini hanya akan fokus membahas isi buku ini.

Detail Buku The Let Them Theory

  • Judul: The Let Them Theory
  • Penulis: Mel Robbins dan Sawyer Robbins
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan: Ke-3
  • Tanggal Terbit: Januari 2026
  • Tebal: 328 halaman
  • ISBN: 625221049
  • Harga: Rp119.000

Apa Isi Buku The Let Them Theory

Inti dari buku The Let Them Theory sebenarnya sangat stoik, yakni tentang bagaimana kita fokus tentang diri kita sendiri dan menaruh “kekuasaan” kepada diri sendiri.

Selama ini, jangan-jangan kita menaruh “kekuasaan” tersebut ke orang lain, sehingga kehidupan kita pun jadi terpengaruh oleh orang lain. Buku ini pun menjadi pengingat kalau kita harus kembali merebut kendali atas kehidupan kita sendiri.

Meskipun judulnya “Let Them” atau “Biarkan Mereka”, sebenarnya ada satu lagi bagian yang akan dibahas hampir di setiap babnya, yakni “Let Me” atau “Biarkan Aku”.

Jadi, selain “Biarkan Mereka” yang sifatnya eksternal, kita juga akan belajar tentang “Biarkan Aku” yang berfokus pada apa yang bisa kita lakukan. Kalau dua hal tersebut bisa kita terapkan dalam keseharian, buku ini menjanjikan kehidupan yang lebih tenang.

Secara garis besar, buku ini dibagi menjadi tiga bagian utama, yakni Teori Biarkan Saja, Kau dan Teori Biarkan Saja, dan Hubunganmu dan Teori Biarkan Saja. Setiap bagian akan memiliki beberapa bab dan sub-bab.

Teori Biarkan Saja akan memaparkan dasar-dasar teori yang akan dibahas secara berulang sepanjang buku ini. Nah, di bagian selanjutnya, kita akan melihat bagaimana menerapkan teori tersebut ke diri kita sendiri.

Ada empat bab utama di bagian ini, yakni Mengelola Stres, Takut akan Pendapat Orang Lain, Menghadapi Reaksi Emosianal Orang Lain, dan Mengatasi Perbandingan Kronis.

Bagian terakhir adalah tentang bagaimana menerapkan teori ini dalam konteks berhadapan dengan orang lain, entah itu keluarga, teman, pasangan, maupun orang asing yang menyebalkan.

Bagian ini juga ada empat bab, yakni Memahami Pertemanan Orang Dewasa, Memotivasi Orang Lain untuk Berubah, Membantu Orang Lain yang Sedang Mengalami Kesulitan, dan Memilih Cinta yang Layak Kau Dapatkan.

Setelah Membaca The Let Them Theory

The Let Them Theory adalah bacaan yang ringan, sehingga cocok untuk dibaca pembaca pemula yang kerap overthinking seperti Penulis. Isinya sendiri sebenarnya menurut Penulis hanya “varian” dari konsep Dikotomi Kendali dari stoikisme.

Hanya saja, Penulis terkadang merasa bisa mendapatkan buku yang tepat di waktu yang tepat. Nah, buku ini termasuk salah satunya. Penulis membaca buku ini di saat yang tepat, sehingga isinya pun bisa related dengan dirinya.

Selama membaca, Penulis jadi sering berpikir, “Iya, ya?” ke dirinya sendiri. Mungkin Penulis sebenarnya sudah tahu akan hal tersebut dan buku ini hadir sebagai pengingat.

Perkara Menolong Orang Lain

Salah satu bab paling menohok bagi Penulis adalah “Membantu Orang Lain yang Sedang Mengalami Kesulitan”. Karena trauma masa kecil, Penulis cenderung extra effort untuk orang lain, terutama yang meminta bantuan ke Penulis.

Jadi, misal dimintai tolong sesuatu, Penulis akan memberikan lebih dari yang diminta. Tak jarang hal ini justru menimbulkan rasa risih dari orang yang meminta tolong.

Kasus yang sama juga terjadi jika ada orang yang cerita masalahnya. Penulis sering overthinking bagaimana jika orang tersebut tidak bisa menyelesaikan masalahnya tersebut, sehingga Penulis berinisiatif untuk melakukan sesuatu (yang juga bisa menimbulkan perasaan risih).

Setelah membaca buku ini, Penulis jadi sadar kalau orang ada masalah, ya sudah, biarkan saja mereka melewati masalahnya. Jika memang butuh bantuan, mereka akan bilang. Tidak perlu melakukannya secara berlebihan, sewajarnya saja.

Tak hanya dalam hal menolong, menasehati pun juga menjadi hal yang dibahas di buku ini. Tentu kalau kita merasa perlu menasehati tidak masalah, tapi jangan berharap kalau orang tersebut akan langsung berubah begitu mendengar nasehat kita.

Fokus ke Diri Sendiri

Hal lain yang Penulis berusaha terapkan setelah membaca buku ini adalah bagaimana Penulis berusaha meletakkan fokus hidupnya ke diri sendiri, bukan ke orang lain. Penulis merasa dirinya selama ini terlalu berorientasi ke orang lain

Misal, jika Penulis ingin menolong orang lain, ya karena Penulis ingin, bukan karena berharap orang tersebut akan ini itu di masa depan. Jika ingin melakukan sesuatu, ya karena kita ingin, bukan karena orang lain.

Perubahan logo whatheFAN pun terinspirasi setelah membaca buku ini. Penulis ingin blog ini tetap jadi wadah tulisan apa yang ingin Penulis tulis, bukan apa yang Penulis pikir akan dibaca oleh orang lain.

Perkara Perbandingan Kronis

Bab lain yang sangat masuk ke Penulis adalah bagian “Mengatasi Perbandingan Kronis”. Penulis yang pada dasarnya punya low esteem kerap membandingkan hidupnya dengan orang lain yang dianggap lebih hebat.

Penulis sering merasa kalau “kemenangan” orang lain berarti “kekalahan” kita. Padahal, itu kesimpulan yang salah karena “kemenangan” orang lain ya “kemenangan” mereka, tidak berpengaruh apa-apa ke kita, tidak menjadikan kita “kalah”.

Kekurangan Buku Ini

Hanya saja, tentu buku ini jauh dari sempurna. Sama seperti kebanyakan buku self-help yang merasa punya satu teori hebat, buku ini juga cenderung repetitif. Setelah membaca beberapa bab, maka kita akan merasa isinya “ini lagi ini lagi”.

Selain itu, isu plagiarisme buku ini memang cukup kencang terdengar. Memang bisa jadi benar kalau Mel Robbins terinspirasi dari buku tersebut, lalu mengklaim itu jadi miliknya. Namun, hal tersebut rasanya akan sulit untuk dibuktikan.

Sebenarnya buku ini juga mencantumkan daftar pustaka yang cukup panjang, serta ada juga wawancara dengan pakar. Jadi, semisal memang benar Robbins terinspirasi dari orang lain, ia tetap melakukan riset untuk memperdalam teori tersebut.

Walau mengandung kata “teori” di judulnya, sebenarnya tidak ada teori rumit di dalamnya. Buku ini ya buku motivasi pada umumnya, bahkan kalau boleh kritik, buku ini malah memperumit “teori” sederhana yang ingin dijelaskan.

***

Bagi Penulis, The Let Them Theory adalah buku yang menyenangkan untuk dibaca. Walau rasanya tak semua orang akan cocok dengan buku ini, Penulis merasa mendapatkan “pencerahan” ketika membaca isinya.

Buku ini menjadi pengingat kalau kita tidak boleh meletakkan kendali hidup kita orang lain. Kita yang harus bertanggung jawab atas diri kita sendiri, atas kebahagiaan kita sendiri, atas mood kita sendiri, dan lain sebagainya.

Sebaliknya, buku ini juga mengingatkan kalau kita tidak punya kendali atas hidup orang lain, jadi jangan berusaha untuk mengendalikannya. Sekali lagi, hanya diri kitalah yang benar-benar berada di bawah kendali kita.

Skor: 8/10


Lawang, 10 April 2026, terinspirasi setelah membaca The Let Them Theory karya Mel Robbins

Continue Reading

Fiksi

[REVIEW] Setelah Membaca Malice – Catatan Pembunuhan Sang Novelis

Published

on

By

Dalam beberapa tulisan ke depan, Penulis akan cukup sering mengulas novel-novel dari Keigo Higashino, karena memang sedang suka (lagi) membaca novel-novel detektif.

Sebelumnya, Penulis sudah pernah mengulas The Devotion of Suspect X dan A Midsummer’s Equation, di mana pendapat Penulis bisa dibilang cukup berbeda di antara keduanya.

Penulis sangat suka The Devotion of Suspect X, tapi kurang puas dengan A Midsummer’s Equation, bahkan sempat berpikir untuk tidak lanjut membaca buku-buku Keigo.

Namun, Penulis memutuskan untuk berubah pikiran dan akhirnya membeli novel ketiga yang berjudul Malice – Catatan Pembunuhan Sang Novelis. Tokoh utama di novel ini bukan Profesor Yukawa, tapi Detektif Kaga!

SPOILER ALERT!!!

Detail Buku Malice – Catatan Pembunuhan Sang Novelis

  • Judul: Malice – Catatan Pembunuhan Sang Novelis
  • Penulis: Keigo Higashino
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan: Ke-14
  • Tanggal Terbit: Mei 2025
  • Tebal: 224 halaman
  • ISBN: 9786020639321
  • Harga: Rp99.000

Apa Isi Buku Malice – Catatan Pembunuhan Sang Novelis

Pada kasus kali ini, seorang penulis novel bernama Hidaka Kunihiko ditemukan tewas di rumahnya yang terkunci, tepatnya di ruang kerjanya yang juga terkunci. Padahal, ia akan pindah dari Jepang ke Kanada keesokan harinya.

Mayatnya ditemukan oleh istri dan sahabatnya yang bernama Nonoguchi Osamu, tapi keduanya memiliki alibi yang kuat. Detektif Kaga Kyoichiro sendiri menaruh curiga kepada Osamu dan penyelidikan pun dimulai.

Nah, jika Profesor Yukawa lebih mirip Hercule Poirot, maka Detektif Kaga ini lebih mirip dengan Sherlock Holmes. Bagaikan anjing pelacak, ia akan menelusuri setiap sudut untuk menemukan fakta yang akan terlewatkan mayoritas orang.

Selain itu, Detektif Kaga juga sangat peduli terhadap detail kecil sekalipun. Bayangkan saja, kondisi jari orang bisa menjadi petunjuk penting untuk menemukan siapa pelaku pembunuhan.

Satu hal yang menarik begitu membaca novel ini adalah angle-nya yang dibuat seperti sebuah catatan tertulis. Namun, penulisnya berbeda-beda, terkadang Osamu sebagai sahabat korban, kadang catatan Detektif Kaga.

Novel ini mengingatkan Penulis akan novel Agatha Christie yang berjudul The Murder of Roger Ackroyd. Di novel tersebut, tokoh “aku” yang menulis novel tersebut ternyata terungkap menjadi pembunuhnya. Nah, formula tersebut sedikit mirip di sini.

Setelah Membaca Malice – Catatan Pembunuhan Sang Novelis

Berbeda dengan The Devotion of Suspect X yang pembunuhnya jelas-jelas ketahuan sejak awal atau A Midsummer’s Equation yang benar-benar gelap di awal cerita, novel ini mengambil jalan tengah (walau memang condong mengikuti formula The Devotion of Suspect X ).

Kecurigaan memang langsung menuju ke Osamu, tapi untuk membuktikan ia pelakunya tidak langsung dijelaskan. Ia bahkan memiliki alibi yang menunjukkan bahwa dirinya bukan pelaku pembunuhan, setidaknya di 1/3 awal buku.

Nah, hal paling seru di novel ini adalah bagaimana kita bisa melihat ada banyak reverse psychology di sini, di mana awalnya kita dibuat berpikir A, lalu ternyata kenyataannya adalah B, tapi ternyata itu adalah trik untuk menutupi kenyataan C, dan seterusnya.

Ketika membaca penjelasan bagian ini, Penulis harus mengakui bahwa hal tersebut ditulis dengan cerdas oleh Keigo. Penulis yang awalnya sudah terbawa arus pun dibuat terkejut ketika kenyataannya terbongkar.

Karena hal tersebut adalah hal paling seru di novel ini, maka Penulis tidak akan menceritakan detailnya. Intinya, jangan mudah percaya dengan apa yang dibaca, teruslah curiga dan amati setiap detail terkecil!

Mungkin salah satu hal yang paling melelahkan dari novel ini adalah bagian interogasi di 1/3 akhir novel, di mana ada banyak sekali catatan interogasi terhadap banyak narasumber. Bagi sebagian orang, mungkin bagian ini bisa terasa overwhelming.

Walau begitu, Penulis bisa memahami bahwa hal tersebut memang harus dilakukan oleh Detektif Kaga untuk menemukan motif pelaku, yang ternyata memang berakar dari masa lalunya. Motif masa lalu itulah yang ingin ditutupi oleh sang pelaku.

Yang jelas, ada satu pesan penting yang ingin disampaikan Keigo: stop bullying. Lho, apa hubungan kematian seorang novelis dengan kasus perundungan? Jawabannya akan ketemu jika Pembaca membaca novel ini.

Kesimpulannya, Malice – Catatan Pembunuhan Sang Novelis mengulang formula Devotion of Mr. X yang pelakunya ketahuan secara cepat. Kedua novel tersebut bukan tentang siapa pelakunya, bukan tentang bagaimana cara melakukan pembunuhannya, tapi tentang mengapa melakukannya.

SKOR: 8/10

Penulis akhirnya memutuskan untuk terus membaca novel-novel Keigo, karena cerita misterinya yang cukup ringan cocok untuk Penulis. Novel selanjutnya yang Penulis pilih adalah Salvation of a Saint – Dosa Malaikat.


Lawang, 14 Maret 2026, terinspirasi setelah membaca Malice karya Keigo Higashino

Continue Reading

Fanandi's Choice

Blog ini milik Fanandi Prima Ratriansyah sejak 2018