Akhir yang Pekat Pada Suara

Gara-gara padatnya rutinitas kerja, penulis sudah lama tidak menamatkan buku, sehingga rubrik Buku lama tidak memiliki tulisan baru. Untunglah, penulis membeli sebuah novel karya teman sekantor yang terbilang singkat, namun cukup memikat.

Novel Suara merupakan novel karangan Ridho Ibadurrahman. Buku ini diterbitkan secara mandiri dan dibanderol dengan harga yang cukup terjangkau, Rp50.000. Bagi pembaca yang tertarik untuk membeli buku ini, bisa dibeli di Shopee maupun BookIndie.

Apa Isi Buku Ini?

Nah, sekarang kita akan mulai menjabarkan, apa sih isi novel yang kovernya sok misterius dengan dominasi warna hitam ini. Menggunakan point of view orang pertama, Suara berpusat pada seorang soundman sinetron bernama Goro.

Tokoh Goro ini memiliki rasa terhadap salah satu artis yang sedang syuting bersamanya. Ia bernama Bela. Ketika membaca, penulis membayangkan sosok Goro seperti Ridho, dan membayangkan Bela seperti Bella Saphira. Maklum, hanya Bella itu yang terlintas di pikiran penulis.

Ketertarikan yang dimiliki oleh Ridho Goro ternyata disambut oleh Bela. Maka kedua pasangan ini memutuskan untuk pergi berlibur berdua ke salah satu daerah eksotis di Indonesia untuk meningkatkan chemistry di antara mereka.

Di sela-sela perjalanan, terungkap bahwa adik kandung Goro tengah hilang diculik oleh sekelompok orang. Hilangnya adik Goro inilah yang menurut penulis menjadi arah cerita novel ini. Lalu, apa hubungannya dengan kehidupan asmara Goro dan Bela? Jawabannya ada di novel Suara ini.

Kesimpulan

Jika ditanya orang, ber-genre apakah novel ini, maka penulis akan menjawab romance-thriller. Balutan romansa antara Goro dan Bela dituliskan dengan sedikit vulgar yang sebenarnya agak nanggung (penulis berpendapat demikian karena pernah membaca Saman-nya Ayu Utami).

Setelah dimanjakan dengan cerita romantis di bagian awal hingga tengah buku, kita akan dibuat tegang dengan berbagai adegan seputar perjuangan dan dilema Goro demi  menyelamatkan adik perempuannya tersebut.

Untuk pemilihan judul Suara sendiri, penulis memiliki beberapa pendapat. Bisa jadi Suara dipilih karena tokoh utama bekerja sebagai soundman, bisa juga karena “suara-suara yang tidak sengaja terdengar” oleh tokoh Goro berhasil mengungkap keberadaan adiknya.

Lebih dari itu, mungkin berkat suara-suara yang didengar oleh Goro, kehidupannya menjadi berubah secara dramatis. Suara-suara yang didengar oleh Goro menjadi saksi bisu kejadian-kejadian yang menimpa Goro.

Yang jelas, walaupun alur ceritanya berhasil penulis tebak (karena penulis penggemar berat serial detektif seperti Agatha Christie), ending yang dimiliki novel ini cukup membuat penulis berkata “wow”. Penulis yakin para pembaca akan merasakan sensasi yang sama.

Untuk kekurangannya, tentu ada beberapa. Selain typo yang bertebaran, peletakkan dialog yang kurang tepat membuat penulis harus membaca ulang. Contohnya seperti ini:

“Beb.”

“Beb.”

“Apaan sih?”

Dua kata beb di atas diucapkan oleh orang yang sama. Seharusnya, kedua dialog tersebut bisa dijadikan satu atau dipisah dengan sepenggal kalimat seperti ini:

“Beb.”

Ia tak bergeming meskipun aku yakin ia mendengarku. Aku coba untuk memanggilnya sekali lagi.

“Beb.”

“Apaan sih?” 

Itu pendapat penulis karena novel-novel yang selama ini penulis baca seperti itu. Adapun novel seperti Sherlock Holmes yang memiliki dialog panjang, biasanya memang dibagi menjadi beberapa tanda kutip yang bersambung. Bingung? Ya sudah tidak apa-apa.

Untuk alur ceritanya sendiri, penulis merasakan sedikit ada ketergesa-gesaan pada novel ini. Banyak bagian yang sebenarnya masih bisa dikembangkan lagi, sehingga tebal buku ini bisa bertambah dan kompleksitas yang dimiliki juga semakin membuat para pembacanya penasaran.

Lalu, apakah novel ini penulis rekomendasikan? Jawabannya adalah iya, jika pembaca adalah orang yang suka sebuah novel singkat namun memiliki alur cerita yang memikat dengan ending yang pekat.

Nilainya 3.5/5.0

 

NB: Bagi yang ingin membaca novel karangan penulis, bisa mampir ke tautan yang ada di bawah ini

 

 

Kebayoran Lama, 5 Februari 2019, terinspirasi setelah menamatkan novel Suara dalam waktu 1 jam 15 menit

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.