Connect with us

Nonfiksi

[REVIEW] Setelah Membaca Buku Building a Second Brain

Published

on

Penulis merasa dirinya cukup terobsesi dengan produktivitas karena merasa dirinya selama ini masih jauh dari kata tersebut. Salah satu alasan Penulis membuat rubrik Produktivitas di blog ini adalah untuk memotivasi dirinya sendiri.

Tidak hanya itu, Penulis pun banyak membeli buku-buku seputar topik produktivitas. Salah satu yang baru saja Penulis selesaikan adalah Building a Second Brain karya Tiago Forte. Buku ini langsung menarik perhatian Penulis begitu membaca sinopsisnya.

Apalagi, di atas sinopsisnya, ada testimoni dari seorang content creator terkenal, Kevin Anggara. Ia mengatakan kalau buku ini telah memberikan pelajaran untuknya yang bisa diaplikasikan dalam keseharian untuk hidup yang lebih produktif.

Detail Buku Building a Second Brain

  • Judul: Building a Second Brain
  • Penulis: Tiago Forte
  • Penerbit: Renebook
  • Cetakan: Pertama
  • Tanggal Terbit: Februari 2024
  • Tebal: 302 halaman
  • ISBN: 9786236083772
  • Harga: Rp115.000

Sinopsis Buku Building a Second Brain

Sudah saatnya kita memaksimalkan kemampuan otak kedua. Setiap hari, kita menyerap berbagai informasi melalui media sosial, siniar, media massa, dan kanal video digital. Namun, jarang sekali kita mampu mengingat seluruh informasi itu.

Pada akhirnya, banyak hal yang telah kita dapatkan hilang begitu saja. Bahkan, sering kali kita kesulitan untuk menemukan kembali informasi tersebut saat dibutuhkan.

Oleh karena itu, melalui buku Building a Second Brain, Tiago Forte mengajak kita untuk membangun otak kedua. Sebuah kemampuan memanfaatkan perangkat digital yang terbukti ampuh untuk menyortir, mengelola, dan menyimpan semua ide kita.

Akhirnya, kita tidak akan lagi kesulitan dalam mengingat hal-hal yang diperlukan. Bersiaplah menjadi pribadi yang produktif dan kreatif ketika otak kedua telah aktif.

Isi Buku Building a Second Brain

Buku ini menekankan mengenai betapa butuhnya kita sebuah “otak kedua” karena otak yang berada di dalam kepala kita tidak akan mampu menampung semua informasi dan data yang masuk. Sering kan merasa lupa akan suatu informasi ketika dibutuhkan?

Tiago Forte hadir untuk memberikan solusi atas permasalahan tersebut melalui buku ini. Pertama, kita tentu membutuhkan sebuah platform digital yang akan dipilih untuk menjadi otak kedua kita.

Platform tersebut tentu harus mudah diakses dan bisa digunakan kapan saja dan di mana saja, jadi harus tersedia di gawai yang kita gunakan sehari-hari. Ada banyak sekali aplikasi catatan yang bisa digunakan, tapi Penulis pribadi memilih untuk menggunakan Notion.

Dalam buku ini, ada banyak tips-tips yang bisa diaplikasikan ke dalam sehari-hari, tapi poin utama dari buku ini adalah sebuah metode bernama CODE, yakni Capture (Menangkap Ide), Organize (Mengorganisir), Distrill (Menemukan Inti Sari), Express (Mengekspresikan)

Dengan adanya metode ini, ide-ide yang muncul di benak kita pun akan tersimpan dengan lebih rapi. Peluang untuk terlupakan pun menjadi lebih kecil. Namun perlu diingat, ide yang disimpan pun akan menjadi percuma jika tidak ada realisasinya.

Tidak hanya CODE, Forte juga memberikan tips menyimpan informasi dengan sistem PARA, yakni Projects, Areas, Resources, Archives. Intinya, semua data dan informasi yang kita miliki dibagi menjadi ke dalam empat folder tersebut.

Projects berisi apapun seputar proyek yang sedang kita kerjakan dalam waktu dekat. Areas berisi apapun seputar proyak yang sifatnya jangka panjang. Resources berisi apapun yang menarik bagi kita dan tidak memiliki tenggat waktu. Archives berisi apapun yang tidak masuk ke dalam kategori di atas.

Setelah Membaca Building a Second Brain

Building a Second Brain ditulis dengan tujuan membantu pembacanya untuk menciptakan sebuah otak kedua agar semua ide, informasi, data, dan sebagainya bisa terkumpul dalam satu platform yang mudah diakses. Tujuan tersebut menurut Penulis berhasil dicapai.

Meskipun belum menerapkan semua isi buku ini, Penulis sudah mulai “mencicil” untuk membuat otak kedua melalui Notion. Meskipun baru sebatas untuk kebutuhan blog, ke depannya Penulis akan mengembangkan otak keduanya tersebut untuk hal lain.

Dalam menjabarkan poin-poinnya, Forte memberikan contoh berdasarkan apa yang telah ia lakukan. Jadi, contoh-contoh yang ada benar-benar konkrit dan jelas karena sudah dilakukan oleh si penulis buku ini.

Sayangnya, bagi Penulis buku ini cukup teknis dan ribet. Forte seolah ingin mengatakan bahwa proses membuat otak kedua tidak mudah dan memiliki banyak tahapan, sehingga orang-orang malas seperti Penulis pun tak akan mengikuti semua tipsnya.

Selain itu, Penulis juga merasa setiap bab yang membahas CODE terlampau panjang, sehingga esensi poinnya jadi kurang bisa tertangkap. Jika disuruh menjelaskan dengan detail apa itu CODE, jujur Penulis tidak sanggup.

Namun, secara garis besar, buku ini berhasil memberikan insight mengenai betapa butuhnya kita akan otak kedua di era yang keberlimpahan informasi seperti sekarang ini. Meskipun beberapa isinya terlalu teknis, tetap ada banyak hal-hal yang bisa kita terapkan dalam keseharian.

Penulis merekomendasikan buku ini untuk Pembaca yang merasa selama ini sering melupakan banyak hal karena otak utamanya tidak sanggup menyimpan semuanya. Membangun otak kedua secara efektif menjadi salah satu solusi terbaiknya.

Skor: 7/10


Lawang, 7 September 2024, terinspirasi setelah membaca buku Building a Second Brain karya Tiago Forte

Nonfiksi

[REVIEW] Setelah Membaca Esensialisme

Published

on

By

Setelah membaca buku Effortless yang cukup berkesan, Penulis pun memutuskan untuk membeli buku Greg McKeown lainnya yang telah dirilis terlebih dahulu, yakni Esensialisme. Apalagi, buku ini disebutkan beberapa kali di buku Effortless.

Selain karena alasan tersebut, Penulis juga merasa dirinya kadang kurang bisa memilah mana yang penting bagi dirinya dan mana yang tidak perlu diperhatikan. Oleh karena itu, Penulis berharap kalau buku ini dapat menjadi semacam panduan untuk itu.

Sayangnya, tampaknya ekspektasi Penulis terlalu tinggi, yang salah satunya disebabkan oleh buku Effortless. Secara singkat, impresi Penulis terhadap buku ini sama dengan buku Start with Why. Penulis akan menjabarkan alasannya di bawah ini.

Detail Buku Esensialisme

  • Judul: Esensialisme
  • Penulis: Greg McKeown
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan: Ke-7
  • Tanggal Terbit: Desember 2025
  • Tebal: 354 halaman
  • ISBN: 9786020656151
  • Harga: Rp108.000

Apa Isi Buku Esensialisme?

Dengan tagline “Pentingkan yang Penting Saja”, sebenarnya kita bisa menebak kalau isi buku ini akan mengajak kita belajar memprioritaskan mana yang penting dan mengabaikan apa yang kurang esensial.

Buat orang yang suka ruwet dengan pikirannya sendiri, jelas buku ini terasa menarik. Apalagi, di bagian cover ini terdapat semacam ilustrasi garis ruwet dengan tanda panah mengarah ke sebuah lingkaran dengan tulisan “ini” di tengah-tengahnya.

Berbeda dengan buku Effortless, buku ini terbagi menjadi ke dalam empat bagian, yakni:

Bagian I: Intisari

  1. Esensialis
  2. MEMILIH: Kekuatan Tak Terkalahkan dari Kemampuan Memilih
  3. MELIHAT DAN MENCERMATI: Yang Tidak Penting pada Hampir Segala Hal
  4. TRADE-OFF: Masalah Mana yang Ingin Saya Pecahkan?

Bisa dibilang, ini adalah bagian “pembukaan” untuk memahami apa yang dimaksud dengan Esensialisme. Akan ada banyak istilah di bagian ini yang akan muncul kembali di bab selanjutnya, terutama bagian trade-off atau menukar apa yang tidak esensial menjadi esensial.

Bagian II: Eksplorasi

  1. MEMBEBASKAN DIRI: Manfaat Tak Terduga dari Menjadi yang Tak Tersedia
  2. MENCERMATI: Melihat Mana yang Sungguh Penting
  3. BERMAIN: Mengambil Kearifan Kanak-Kanak Dalam Diri Anda
  4. TIDUR: Melindungi Aset
  5. MEMILIH: Kedahsyatan Kriteria Ekstrem

Dalam bagian ini, kita diajak untuk mengeksplorasi diri untuk menemukan apa yang benar-benar penting dalam kehidupan kita. Ada dua bab yang menarik di sini, yakni “bermain” dan “tidur”. Aktivitas yang kerap dianggap tidak produktif ini ternyata esensial!

Bagian III: Eliminasi

  1. KLARIFIKASI: Sebuah Keputusan yang Meniadakan Seribu Keputusan
  2. BERANI: Kedahsyatan Jawaban “Tidak” yang Anggun
  3. MELEPAS KOMITMEN: Menang Besar dengan Menghentikan Proyek Rugi
  4. MENYUNTING: Seni yang Tidak Kelihatan
  5. BATAS: Kebebasan Berkat Menetapkan Batasan-Batasan

Selain melakukan eksplorasi untuk menemukan yang esensial, memahami mana yang tidak esensial juga tak kalah penting. Oleh karena itu, bagian ini akan mengajak kita untuk melakukan eliminasi terhadap hal-hal yang tidak esensial.

Bagian IV: Eksekusi

  1. PENYANGGA: Keunggulan yang Tidak Wajar
  2. MENGURANGI: Maju Lebih Pesat dengan Menghilangkan Hambatan
  3. KEMAJUAN: Kedahsyatan Kemenangan-Kemenangan Kecil
  4. ALIRAN (FLOW): Hebatnya Sebuah Rutin
  5. FOKUS: Apa yang Penting Sekarang?
  6. JADILAH: Hidup Seorang Esensialis

Menemukan apa yang esensial, sudah. Mengetahui apa yang tidak esensial, sudah. Maka langkah terakhir yang perlu kita ketahui adalah bagaimana mengeksekusi semua teori Esensialisme ke dalam hidup kita sehari-hari.

Setelah Membaca Buku Esensialisme

Sebenarnya, pekerjaan Penulis sebagai seorang editor juga berkaitan erat dengan Esensialisme. Dalam menyunting artikel, tentu Penulis harus cermat dalam menentukan mana yang Esensial, mana yang Nonesensial dan dihapus dari artikel. Mungkin itu juga yang membuat Penulis tertarik untuk membaca buku ini.

Karena buku Effortless, jujur ekspektasi Penulis terhadap buku ini cukup tinggi. Sayangnya, ekspektasi tersebut harus runtuh karena secara keseluruhan, isi buku ini cukup “umum” dan penuh dengan hal-hal klise yang mungkin kita sudah tahu.

Memang, setiap babnya diceritakan dengan mudah dan aplikatif. Hanya saja, banyak yang terasa terlalu general dan kurang spesifik. Lebih parahnya lagi, terkadang beberapa bab terasa dragging dan cukup repetitif.

Ketika membaca buku ini, Penulis merasakan sensasi seperti ketika membaca buku Start with Why, di mana penulis buku ini terlalu menglorifikasi teori Esensialisme yang sedang dibahas sekaligus terlalu menyederhanakan semua permasalahan yang disebutkan di sini.

Di setiap babnya, ada semacam tabel yang terdiri dari dua kolom, yakni Nonesensialis dan Esensialis. Tentu saja bagian Nonesensialis menjadi bagian yang buruk dan Esensialis menjadi bagian yang baik.

Jadinya, cuma ada dua kutub ekstrem antara Nonesensialis dan Esensialis. Kalau bukan seorang Esensialis, berarti otomatis kita adalah Nonesensialis. Padahal, dalam kenyataannya hidup tidak sehitam-putih dan sesederhana itu.

Secara konsep, teori Esensialisme memang penting, apalagi bagi orang yang kerap overthinking seperti Penulis. Justru karena merasa itu penting, Penulis butuh elaborasi yang lebih mendalam.

Ketika membaca buku ini, Penulis sudah membiasakan diri untuk mencatat berbagai hal menarik dari buku yang sedang dibaca. Nah, buku ini termasuk yang catatannya sedikit karena jujur tidak banyak poin menarik yang Penulis temukan.

Walau begitu, ada satu quote dari buku ini yang Penulis benar-benar ingat dari halaman 135, yakni “No more yes, it’s either HELL YEAH or no!” yang maknanya adalah kita harus melakukan sesuatu yang benar-benar membuat kita langsung bersemangat.

Di halaman 192, yang termasuk ke dalam bagian Eliminasi, ada juga pengingat tentang komitmen yang sangat masuk untuk Penulis. Ternyata, salah satu hal yang membuat kita melepaskan komitmen adalah sink-cost bias.

Singkatnya, sink-cost bias adalah kondisi di mana kita sudah merasa “berinvestasi” banyak sehingga merasa sayang jika melepaskan suatu komitmen. Padahal, jika kita terus mempertahankan komitmen tersebut, kerugian yang kita derita akan semakin besar.

Penulis memang merasa kurang puas dengan buku ini karena berharap isinya bisa lebih detail. Namun, buat Pembaca yang kerap merasa overwhelmed dengan kehidupannya, buku ini akan memberi cara bagaimana mengurainya secara sistematis.

Skor: 6/10


Lawang, 9 Agustus 2026, terinspirasi setelah membaca Esensialisme karya Greg McKeown

Continue Reading

Nonfiksi

[REVIEW] Setelah Membaca Start with Why

Published

on

By

Ketika sedang bingung ingin membeli buku apa, Penulis biasanya mempertimbangkan genre apa yang sedang habis di rumah. Nah, salah satu yang kerap habis adalah buku-buku self-improvement, karena memang biasanya relatif mudah dicerna dan inspiratif.

Mengingat buku self-improvement ada begitu banyak macamnya, tentu memilih salah satunya juga menjadi PR tersendiri. Kalau tidak memilih yang sedang Penulis rasa butuhkan, maka Penulis akan memilih yang populer dan banyak dibaca orang.

Oleh karena itu, ketika mengetahui buku Start with Why dari Simon Sinek merilis “Edisi 15 Tahun”, tentu Penulis jadi penasaran mengapa buku ini bertahan sekian lama di peredaran. Apakah isi bukunya memang sedahsyat itu?

Detail Buku Start with Why

  • Judul: Start with Why (Dengan Materi yang Diperbarui)
  • Penulis: Simon Sinek
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan: Ke-23
  • Tanggal Terbit: Oktober 2025
  • Tebal: 366 halaman
  • ISBN: 9786020628837
  • Harga: Rp100.000

Apa Isi Buku Start with Why

Dari judulnya, sebenarnya kita bisa menerka kalau isi buku ini akan mengajak kita untuk mencari MENGAPA dalam kehidupan kita sehari-hari. Dengan memiliki MENGAPA yang jelas, kita akan lebih terdorong untuk melakukan sesuatu.

Secara garis besar, buku ini dibagi menjadi lima bagian utama sebagai berikut:

  • Bagian 1: Dunia yang Tidak Dimulai dengan Pertanyaan Mengapa
  • Bagian 2: Sudut Pandang Alternatif
  • Bagian 3: Pemimpin Butuh Pengikut
  • Bagian 4: Cara Menggalang Orang-Orang yang Percaya
  • Bagian 5: Tantangan Terbesar adalah Sukses

Seperti kebanyakan buku-buku self-improvement pada umumnya, buku ini juga diselipi oleh kisah inspiratif dari tokoh-tokoh hebat. Beberapa yang paling sering diulang adalah Steve Jobs dan Apple, Wright Bersaudara (penemu pesawat terbang), Southwest Airlines, hingga Martin Luther King Jr.

Nama-nama tokoh yang disebutkan di dalam buku ini diceritakan selalu memiliki MENGAPA yang jelas, baik dalam membuat produk hingga mengajak dan menginspirasi orang. Yang melekat pada mereka adalah MENGAPA mereka melakukannya, bukan APA yang dilakukannya. Ini dibahas panjang lebar di Bagian 3 dan 4.

Satu bagian yang bagi Penulis menarik ada di Bagian 2, Bab “Lingkaran Emas”. Di dalam bab tersebut, ada tiga lingkaran yang terdiri dari APA (lingkaran terluar), BAGAIMANA (lingkaran tengah), baru MENGAPA (lingkaran terdalam).

Kebanyakan orang akan berhenti di APA YANG DILAKUKAN, atau paling mentok di BAGAIMANA MELAKUKANNYA. Namun, orang-orang hebat akan selalu memiliki MENGAPA MELAKUKANNYA.

Bagian lain yang bagi Penulis menarik adalah bagian Manipulasi vs Inspirasi. Sederhananya, APA dan BAGAIMANA itu masih bagian dari memanipulasi orang lain, sedangkan MENGAPA sudah masuk ke bagian yang menginspirasi orang lain.

Setelah Membaca Buku Start with Why

Sebagai pengagum Steve Jobs dan Apple, selalu menyenangkan rasanya ketika mereka digunakan sebagai contoh di buku self-improvement. Namun, tidak di buku ini, karena penggunaan mereka sebagai contoh benar-benar terlalu banyak!

Hampir di setiap bab, mereka akan dijadikan contoh dalam setiap topik yang sedang dijelaskan. Dengan tebal buku yang mencapai 366 halaman, bisa dibilang contoh public figure atau perusahaan yang digunakan di buku ini kurang dari 10!

Hal ini tentu menjadi ironi, karena Sinek seolah menegaskan bahwa tak banyak kesuksesan karena benar-benar mengandalkan MENGAPA seperti katanya. Jika contohnya banyak, mengapa tidak dibuat contoh-contoh yang bervariasi?

Selain itu, Penulis merasa kalau buku ini adalah contoh dari apa yang pernah Coach Justin pernah katakan tentang buku-buku Amerika: inti bukunya satu, dijelasinnya ribuan kali. Itulah yang Penulis rasakan ketika membaca buku ini, terutama mulai dari bagian pertengahan.

Saat awal-awal membaca, Penulis masih bisa menikmati karena diberi insight mengapa MENGAPA itu sangat penting dalam berbagai aktivitas, entah itu di kerjaan maupun keseharian. Penulis akui penting untuk menemukan MENGAPA sebelum melakukan sesuatu.

Namun, makin ke belakang, Penulis merasa kalau isi bukunya hanya berputar-putar di hal yang sama. Hal ini diperparah dengan contoh yang digunakan juga hanya berputar-putar pada tokoh dan perusahaan yang itu-itu aja, seperti yang sudah Penulis singgung di atas.

Selain itu, sepanjang buku ini Sinek juga seolah ingin menekankan kalau ingin berhasil, harus punya MENGAPA. Kalau tidak, pasti akan gagal dengan menyebutkan beberapa contoh, seperti Walmart yang kehilangan MENGAPA-nya sejak meninggalnya sang founder.

Penulis jadi menangkap kalau teori yang ia paparkan menjadi bersifat mutlak, padahal belum tentu juga. Sinek juga terasa terlalu menyederhanakan penggunaan MENGAPA dalam perusahaan-perusahaan yang sukses.

Contoh, Sinek mengatakan kalau orang-orang memilih Apple karena MENGAPA yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Padahal, tidak sesederhana itu. Bisa saja orang membeli produk Apple karena APA yang mereka jual, untuk flexing, dan lain sebagainya.

Dengan kata lain, ada banyak sekali peluang kita tidak menggunakan MENGAPA ketika membeli sebuah produk atau memilih sebuah layanan. Mungkin kita punya MENGAPA kita memilih mereka, tapi kita kemungkinan tidak terlalu peduli dengan MENGAPA mereka.

Jika buku ini hanya berfokus pada inti yang ingin disampaikan, mungkin sebenarnya tidak akan butuh lebih dari 100 halaman, bukan lebih dari 300 halaman. Penulis bahkan sudah tidak ingat mayoritas bagian di akhir buku, karena memang sudah terasa membosankan.

Sejujurnya, Penulis tidak terlalu berani merekomendasikan buku ini kepada Pembaca, mengingat jumlah halamannya yang cukup tebal. Nantinya, waktu yang dihabiskan untuk membaca buku ini tidak terasa worth it dengan apa yang didapatkan.

Skor: 5/10

Seandainya saja isinya lebih to the point, dengan contoh yang lebih bervariasi, dan isi halaman yang lebih sedikit (yang otomatis membuat harganya lebih terjangkau), mungkin Penulis akan memberikan skor yang lebih tinggi lagi.


Lawang, 16 Juni 2026, terinspirasi setelah membaca buku Start with Why karya Simon Sinek

Continue Reading

Nonfiksi

[REVIEW] Setelah Membaca The Let Them Theory

Published

on

By

Pada bulan November tahun lalu, Penulis mendengar istilah “The Let Them Theory” untuk pertama kali dari seorang teman. Saat itu, kami memang sedang mendiskusikan tentang melepaskan kemelekatan.

Nah, lantas pada waktu ke Gramedia pada bulan Februari tahun ini, Penulis menemukan buku berjudul The Let Them Theory karya Mel Robbins. Waktu itu, Penulis belum tahu kalau istilah tersebut ternyata merupakan judul buku.

Karena penasaran dengan isinya (dan merasa butuh belajar melepaskan juga), Penulis akhirnya memutuskan untuk membelinya. Alhasil, buku ini berhasil Penulis tamatkan dalam waktu yang relatif singkat.

Disclaimer: Saat menulis artikel ini, Penulis menyadari ada isu plagiarisme yang ditujukan ke buku ini. Walau begitu, tulisan ini hanya akan fokus membahas isi buku ini.

Detail Buku The Let Them Theory

  • Judul: The Let Them Theory
  • Penulis: Mel Robbins dan Sawyer Robbins
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan: Ke-3
  • Tanggal Terbit: Januari 2026
  • Tebal: 328 halaman
  • ISBN: 625221049
  • Harga: Rp119.000

Apa Isi Buku The Let Them Theory

Inti dari buku The Let Them Theory sebenarnya sangat stoik, yakni tentang bagaimana kita fokus tentang diri kita sendiri dan menaruh “kekuasaan” kepada diri sendiri.

Selama ini, jangan-jangan kita menaruh “kekuasaan” tersebut ke orang lain, sehingga kehidupan kita pun jadi terpengaruh oleh orang lain. Buku ini pun menjadi pengingat kalau kita harus kembali merebut kendali atas kehidupan kita sendiri.

Meskipun judulnya “Let Them” atau “Biarkan Mereka”, sebenarnya ada satu lagi bagian yang akan dibahas hampir di setiap babnya, yakni “Let Me” atau “Biarkan Aku”.

Jadi, selain “Biarkan Mereka” yang sifatnya eksternal, kita juga akan belajar tentang “Biarkan Aku” yang berfokus pada apa yang bisa kita lakukan. Kalau dua hal tersebut bisa kita terapkan dalam keseharian, buku ini menjanjikan kehidupan yang lebih tenang.

Secara garis besar, buku ini dibagi menjadi tiga bagian utama, yakni Teori Biarkan Saja, Kau dan Teori Biarkan Saja, dan Hubunganmu dan Teori Biarkan Saja. Setiap bagian akan memiliki beberapa bab dan sub-bab.

Teori Biarkan Saja akan memaparkan dasar-dasar teori yang akan dibahas secara berulang sepanjang buku ini. Nah, di bagian selanjutnya, kita akan melihat bagaimana menerapkan teori tersebut ke diri kita sendiri.

Ada empat bab utama di bagian ini, yakni Mengelola Stres, Takut akan Pendapat Orang Lain, Menghadapi Reaksi Emosianal Orang Lain, dan Mengatasi Perbandingan Kronis.

Bagian terakhir adalah tentang bagaimana menerapkan teori ini dalam konteks berhadapan dengan orang lain, entah itu keluarga, teman, pasangan, maupun orang asing yang menyebalkan.

Bagian ini juga ada empat bab, yakni Memahami Pertemanan Orang Dewasa, Memotivasi Orang Lain untuk Berubah, Membantu Orang Lain yang Sedang Mengalami Kesulitan, dan Memilih Cinta yang Layak Kau Dapatkan.

Setelah Membaca The Let Them Theory

The Let Them Theory adalah bacaan yang ringan, sehingga cocok untuk dibaca pembaca pemula yang kerap overthinking seperti Penulis. Isinya sendiri sebenarnya menurut Penulis hanya “varian” dari konsep Dikotomi Kendali dari stoikisme.

Hanya saja, Penulis terkadang merasa bisa mendapatkan buku yang tepat di waktu yang tepat. Nah, buku ini termasuk salah satunya. Penulis membaca buku ini di saat yang tepat, sehingga isinya pun bisa related dengan dirinya.

Selama membaca, Penulis jadi sering berpikir, “Iya, ya?” ke dirinya sendiri. Mungkin Penulis sebenarnya sudah tahu akan hal tersebut dan buku ini hadir sebagai pengingat.

Perkara Menolong Orang Lain

Salah satu bab paling menohok bagi Penulis adalah “Membantu Orang Lain yang Sedang Mengalami Kesulitan”. Karena trauma masa kecil, Penulis cenderung extra effort untuk orang lain, terutama yang meminta bantuan ke Penulis.

Jadi, misal dimintai tolong sesuatu, Penulis akan memberikan lebih dari yang diminta. Tak jarang hal ini justru menimbulkan rasa risih dari orang yang meminta tolong.

Kasus yang sama juga terjadi jika ada orang yang cerita masalahnya. Penulis sering overthinking bagaimana jika orang tersebut tidak bisa menyelesaikan masalahnya tersebut, sehingga Penulis berinisiatif untuk melakukan sesuatu (yang juga bisa menimbulkan perasaan risih).

Setelah membaca buku ini, Penulis jadi sadar kalau orang ada masalah, ya sudah, biarkan saja mereka melewati masalahnya. Jika memang butuh bantuan, mereka akan bilang. Tidak perlu melakukannya secara berlebihan, sewajarnya saja.

Tak hanya dalam hal menolong, menasehati pun juga menjadi hal yang dibahas di buku ini. Tentu kalau kita merasa perlu menasehati tidak masalah, tapi jangan berharap kalau orang tersebut akan langsung berubah begitu mendengar nasehat kita.

Fokus ke Diri Sendiri

Hal lain yang Penulis berusaha terapkan setelah membaca buku ini adalah bagaimana Penulis berusaha meletakkan fokus hidupnya ke diri sendiri, bukan ke orang lain. Penulis merasa dirinya selama ini terlalu berorientasi ke orang lain

Misal, jika Penulis ingin menolong orang lain, ya karena Penulis ingin, bukan karena berharap orang tersebut akan ini itu di masa depan. Jika ingin melakukan sesuatu, ya karena kita ingin, bukan karena orang lain.

Perubahan logo whatheFAN pun terinspirasi setelah membaca buku ini. Penulis ingin blog ini tetap jadi wadah tulisan apa yang ingin Penulis tulis, bukan apa yang Penulis pikir akan dibaca oleh orang lain.

Perkara Perbandingan Kronis

Bab lain yang sangat masuk ke Penulis adalah bagian “Mengatasi Perbandingan Kronis”. Penulis yang pada dasarnya punya low esteem kerap membandingkan hidupnya dengan orang lain yang dianggap lebih hebat.

Penulis sering merasa kalau “kemenangan” orang lain berarti “kekalahan” kita. Padahal, itu kesimpulan yang salah karena “kemenangan” orang lain ya “kemenangan” mereka, tidak berpengaruh apa-apa ke kita, tidak menjadikan kita “kalah”.

Kekurangan Buku Ini

Hanya saja, tentu buku ini jauh dari sempurna. Sama seperti kebanyakan buku self-help yang merasa punya satu teori hebat, buku ini juga cenderung repetitif. Setelah membaca beberapa bab, maka kita akan merasa isinya “ini lagi ini lagi”.

Selain itu, isu plagiarisme buku ini memang cukup kencang terdengar. Memang bisa jadi benar kalau Mel Robbins terinspirasi dari buku tersebut, lalu mengklaim itu jadi miliknya. Namun, hal tersebut rasanya akan sulit untuk dibuktikan.

Sebenarnya buku ini juga mencantumkan daftar pustaka yang cukup panjang, serta ada juga wawancara dengan pakar. Jadi, semisal memang benar Robbins terinspirasi dari orang lain, ia tetap melakukan riset untuk memperdalam teori tersebut.

Walau mengandung kata “teori” di judulnya, sebenarnya tidak ada teori rumit di dalamnya. Buku ini ya buku motivasi pada umumnya, bahkan kalau boleh kritik, buku ini malah memperumit “teori” sederhana yang ingin dijelaskan.

***

Bagi Penulis, The Let Them Theory adalah buku yang menyenangkan untuk dibaca. Walau rasanya tak semua orang akan cocok dengan buku ini, Penulis merasa mendapatkan “pencerahan” ketika membaca isinya.

Buku ini menjadi pengingat kalau kita tidak boleh meletakkan kendali hidup kita orang lain. Kita yang harus bertanggung jawab atas diri kita sendiri, atas kebahagiaan kita sendiri, atas mood kita sendiri, dan lain sebagainya.

Sebaliknya, buku ini juga mengingatkan kalau kita tidak punya kendali atas hidup orang lain, jadi jangan berusaha untuk mengendalikannya. Sekali lagi, hanya diri kitalah yang benar-benar berada di bawah kendali kita.

Skor: 8/10


Lawang, 10 April 2026, terinspirasi setelah membaca The Let Them Theory karya Mel Robbins

Continue Reading

Fanandi's Choice

Blog ini milik Fanandi Prima Ratriansyah sejak 2018