Chapter 75 Berakhirnya Ujian Nasional

Pekan yang telah dinanti-nanti pun pada akhirnya datang. Ujian Nasional telah hadir di depan mata. Semua ilmu yang kami pelajari selama dua tahun ini akan diuji pada hari ini. Bersama dengan anak-anak kelas 12 lainnya, kami akan mengerjakan berbagai soal yang telah kami latih secara terus-menerus selama beberapa bulan terakhir ini. Wajah teman-teman menunjukkan ketegangan yang luar biasa. Mungkin hanya aku dan Kenji yang terlihat sedikit lebih santai.

“Teman-teman, hari ini kita akan menghadapi Ujian Nasional yang pertama. Semoga kita semua diberikan kemudahan dan kelancaran dalam mengerjakan soal-soal,” kata Kenji di depan kelas beberapa menit sebelum ujian dimulai. Suara amin menggema di dalam kelas, berharap doa tersebut akan dikabulkan.

Aku melirik ke arah Rika yang duduknya di depanku selama ujian berlangsung. Dari belakang, postur tubuhnya terlihat kaku dan tegang. Kedua telapak tangannya menutupi wajahnya. Melihat hal tersebut, aku memutuskan untuk memegang pundaknya. Ia membuka tangannya dan melihat ke arahku, yang kubalas dengan senyuman penyemangat. Berhasil, ia membalasnya dengan senyuman tipis. Jelas terlihat ada sedikit ketakutan di wajahnya. Aku melemparkan pandangan ke teman-teman yang lain, semua mengalami gejala yang sama.

Sebenarnya aku sedikit heran mengapa mereka bisa sampai setakut itu. Selama ini kami sudah berusaha secara maksimal agar bisa menguasai materi-materi yang diberikan. Beberapa bulan terakhir jam belajar kami bisa mencapai 12 jam dalam sehari. Lantas, apa yang perlu ditakutkan? Takut munculnya soal yang tidak dikuasai? Takut nilai akan anjlok? Atau bahkan takut tidak lulus? Aku bukan Kenji yang ahli dalam membuat kesimpulan, sehingga kubiarkan pertanyaan tersebut menggantung di pikiranku.

Jam di dinding kelas menunjukkan pukul 07:45, kurang lima belas menit lagi sebelum ujian dimulai. Dua orang guru yang menjadi pengawas di kelas kami datang dengan membawa beberapa amplop berwarna cokelat. Mereka bukan guru di sini, mengingat peraturannya memang guru tidak boleh menjaga di sekolah sendiri. Setelah duduk, mereka meminta kami untuk memulai doa. Bejo selaku ketua kelas pun memimpin doa seperti biasa. Bedanya, durasi doa kali ini sedikit lebih lama.

Mata pelajaran yang akan kami kerjakan di hari pertama hanya satu, Bahasa Indonesia. Aku tidak terlalu menguasai pelajaran bahasa, sehingga tidak mengharapkan nilai sempurna dari mata pelajaran ini. Walaupun begitu, aku yakin bisa mengerjakan soal-soalnya dengan baik.

Ketika ujian sedang berlangsung, kelas kami sangat hening. Tidak ada satupun dari kami yang berniat untuk menyontek ataupun bertanya jawaban kepada teman lain. Sejak masuk ke kelas ini untuk pertama kali, aku belum pernah melihat adanya aktivitas curang tersebut di kelas ini. Aku bersyukur bisa berada satu kelas dengan teman-teman yang jujur seperti ini. Mungkin di kelas lain, para murid sudah mulai beraksi untuk mendapatkan jawaban. Bahkan aku mendengar kabar kalau jawaban ujian sudah bocor dan ada beberapa murid yang sudah membelinya. Aku benar-benar membenci orang-orang yang seperti itu.

Ujian berakhir pada pukul 10:00. Wajah tegang teman-teman sedikit mencari setelah mengetahui bahwa mereka telah melewati hari pertama dengan cukup baik. Rika, dari bahasa tubuhnya, terlihat sangat puas.

“Lancar, Rik?” tanyaku ketika ia memutar badannya.

“Hehehe, ya begitulah Le. Dibandingkan dengan mata pelajaran lain, aku kan paling nguasain Bahasa Indonesia. Jadi ya relatif lancar, lah.”

“Syukurlah kalau begitu.”

“Kalau kamu sendiri gimana? Pasti lancar sih, hihihi.”

Aku hanya melemparkan senyum. Ada beberapa soal yang membuatku ragu hingga kubaca berkali-kali. Prediksiku, aku akan mendapatkan nilai antara 85 hingga 90. Aku melihat Pierre yang duduk di sebelahku. Wajahnya terlihat datar tanpa ekspresi. Aku pun memutuskan untuk menegurnya.

“Pierre, kau tidak apa-apa?”

Yang ditanya hanya menggelengkan kepala. Aku memutuskan untuk kembali bertanya karena kondisinya yang terlihat kurang baik.

“Aku sempat salah melingkari jawaban Le, jawaban nomor 34 aku lingkari di nomor 33. Akhirnya, jawaban di bawahnya ikutan salah tempat. Waktuku banyak kebuang buat menghapus jawaban,” jelas Pierre dengan nada memelas. Aku merasa prihatin dengan kondisinya. Pada dasarnya, ia adalah anak yang mudah gugup. Tekanan Ujian Nasional ini telah membuatnya melakukan kesalahan yang cukup fatal. Semoga saja nilainya masih di atas rata-rata.

***

Ujian Nasional pun berlanjut. Di hari kedua, kami akan mengerjakan dua mata pelajaran sekaligus, yakni Bahasa Inggris dan Fisika. Aku hampir bisa mengerjakan semua soal Fisika walaupun mengalami sedikit kesulitan mengerjakan soal Bahasa Inggris yang tidak terlalu aku kuasai. Teman-teman pun bervariasi, ada yang merasa waktunya kurang, ada yang merasa bagian listening-nya kurang jelas, dan lain-lain. Untungnya, tidak ada yang membuat kesalahan seperti Pierre kemarin.

Mata pelajaran favoritku, matematika, muncul di hari ketiga. Aku bisa melibas semua soal yang ada di hadapanku tanpa kesulitan yang berarti. Bahkan, aku merasa optimis bisa meraih nilai sempurna. Untuk memastikannya, aku mendiskusikan beberapa soal dengan Juna yang duduk di belakangku.

“Astaga, tolong deh enggak usah bahas soal. Capek tahu dengernya,” protes Gita yang duduk di sebelah Juna. Kami berdua pun langsung mengakhiri diskusi kami karena takut kena semprot lagi. Bagi sebagian teman-teman yang lain, matematika adalah sesuatu yang cukup untuk dikerjakan lalu lupakan. Gita yang suka menggambar adalah salah satunya.

Pada hari terakhir Ujian Nasional, kami dihadapkan dengan dua mata pelajaran, yakni Kimia dan Biologi. Awalnya, aku tidak terlalu menyukai pelajaran Biologi karena lebih banyak hafalannya. Setelah kematian Sica dan mendeklarasikan diri ingin menjadi seorang dokter, aku berusaha mendalami betul mata pelajaran yang satu ini. Aku pun bisa mengerjakan soal Biologi dengan lancar, walaupun untuk pelajaran Kimia menemukan beberapa soal yang tidak aku pahami.

Ketika jam dinding menunjukkan pukul 13:00, terlihat dengan jelas wajah-wajah lega pada teman-teman. Ujian Nasional telah berhasil kami lewati. Beban yang selama ini ada di pundak telah terangkat sempurna. Rona bahagia terpancar di wajah mereka.

“Sudah selesai! Aku enggak mau lihat buku lagi!” ujar Nita dengan suara yang cukup nyaring. Beberapa teman tertawa mendengarkan kalimat tersebut. Hal tersebut sangatlah wajar, mengingat kami sudah terlalu lama berkutat dengan buku pelajaran.

“Tinggal nunggu pengumuman jalur undangan, nih,” kata Rena.

“Selain Bejo yang mau masuk Akpol, semoga kita semua keterima, ya!” kali ini Ve yang bersuara. Teman-teman mengamini doa tersebut.

“Jadi yang kuliah di luar Malang cuma Leon, ya?” tanya Nita secara tiba-tiba. Aku menganggukkan kepala begitu saja, karena sebenarnya tidak hafal kampus tujuan teman-teman.

“Tapi Kenji belum ngasih tahu kita mau kuliah di mana,” kata Rika sambil menunjuk Kenji yang dari tadi hanya duduk diam sembari mengamati kami satu persatu.

“Iya Kenji, kenapa sih main rahasia-rahasiaan sama temen sendiri?” desak Bejo menuntut jawaban.

“Aku memang nunggu sampai Ujian Nasional berakhir, kok,” jawab Kenji dengan tenang.

“Jadi, kamu milih jurusan apa di mana?” tanya Nita.

Kenji melirik ke arahku, walau aku tak tahu apa maksud dari lirikan tersebut.

“Jadi sebenarnya, aku enggak akan kuliah dulu tahun ini. Beberapa waktu kemarin, aku minta ke pihak sekolah untuk tidak mendaftarkanku.”

Sontak teman-teman terkenjut mendengar pernyataan tersebut. Dalam waktu singkat, Kenji segera dikerumuni oleh teman-teman yang lain. Pertanyaan mereka semua hampir sama, mengapa Kenji yang paling cerdas di kelas justru memutuskan untuk tidak kuliah. Jawaban yang dikeluarkan Kenji pun sama dengan yang ia keluarkan di rumahku dulu. Mengetahui alasan tersebut, teman-teman pun menjadi diam.

“Mungkin kalau masalah biaya, bisa aku bantu,” tawar Sarah.

“Terima kasih atas kebaikanmu Sar, tapi kayaknya aku enggak bisa terima. Aku sudah mendapatkan banyak tawaran, termasuk dari pamannya Leon. Tapi keputusanku sudah bulat, untuk saat ini aku tidak akan kuliah terlebih dahulu.”

“Tapi sayang banget, Ken. Kamu kan yang paling pintar di antara kita,” kata Rena.

“Enggak apa-apa kok, ilmu bisa dicari di mana aja. Yang jelas, aku akan buka tempat kursus di rumahku. Kalian ada yang punya usul nama, enggak?”

Setelah itu, teman-teman pun mulai membicarakan hal lain yang lebih menyenangkan. Aku yang dari tadi tetap diam di bangkuku hanya mengamati mereka. Rika melihatku, lantas menghampiriku.

“Kamu sudah tahu kalau Kenji enggak kuliah?”

“Iya Rika, karena itulah ketika kau tanya waktu itu, aku enggak jawab.”

“Iya sih, aku paham. Tapi sedih aja lihat anak sepintar Kenji enggak bisa kuliah.”

“Kalau udah rezekinya, pasti akan datang waktunya buat Kenji. Kita bantu doa aja.”

“Kamu jadi bijak banget deh, Le.”

“EHEM,” terdengar suara dehem yang sangat keras. Ternyata dari tadi teman-teman kelas memperhatikan kami berdua ngobrol. Mendengar kalimat terakhir Rika, mereka pun berinisiatif untuk menggoda kami. Alhasil, kami berdua pun menjadi salah tingkah.

***

Kami semua tetap berada di dalam kelas hingga sore. Ada saja topik pembicaraan yang muncul, dan pastinya tidak membahas yang namanya pelajaran. Aku merasa senang bisa berada di tengah-tengah mereka, meskipun lebih banyak diam jika sedang tidak ditanya. Aku memang lebih senang mendengarkan daripada bercerita. Rasanya ada saja sesuatu hal baru yang akan kupelajari.

Di sisi lain, timbul perasaan sedih ketika melihat mereka semua. Dua tahun bersama, baru kali ini aku memiliki ikatan yang kuat bersama teman-teman kelas. Setelah ujian ini berakhir, kami semua akan berpisah demi meraih impian masing-masing. Mungkin teman-teman lain masih bisa sering bertemu karena kuliah di kota yang sama, berbeda denganku yang memutuskan untuk merantau jauh dari rumah. Terbayang olehku mereka akan berkumpul bersama tanpa kehadiranku. Hal itu membuat dadaku terasa sedikit sesak.

“Leon kenapa kok murung?” tanya seseorang tiba-tiba dari arah belakangku. Ternyata Gita yang bertanya.

“Ah, enggak kok Git. Cuma sedih aja bayangin habis ini harus pisah sama kalian.”

“Iya sih, aku juga bakalan sedih. Tapi ya mau gimana lagi, enggak mungkin kan kita terus bersama di kelas ini?”

“Iya Gita, kau benar. Omong-omong, kau ambil jurusan apa?”

Gita meletakkan tangannya di sebelah pipinya sebagai tanda apa yang akan ia sampaikan sebenarnya rahasia.

“Sebenarnya aku ambil jurusan DKV di ISI Yogyakarta, cuma aku bilangnya ke teman-teman ambil jurusan DKV di Malang.”

“Kenapa kau sembunyikan kalau begitu?”

“Enggak apa-apa, biar mereka enggak kepikiran aja. Aku juga enggak terlalu berharap keterima lewat jalur undangan, kok. Nilaiku rasanya biasa-biasa aja.”

“Semoga dapat yang terbaik, ya.” kataku menutup percakapan kami.

Aku kembali sibuk dengan pikiranku sendiri sembari memperhatikan teman-teman lain yang sedang bercakap-cakap. Berakhirnya Ujian Nasional memiliki makna lain untukku. Sesuai dengan janji Kenji, setelah ini kami akan fokus membongkar misteri keluarga kami. Sudah ada beberapa fakta yang kami kantongi. Aku memang belum tahu apa yang sebenarnya sedang aku kejar. Setidaknya, aku ingin mengumpulkan fakta-fakta lain yang mungkin bisa menjadi petunjuk tentang apa yang sebaiknya aku lakukan.