Chapter 19 Kakak Tingkat Kelas Akselerasi

Sepanjang awal Agustus, kami semua berusaha untuk mematuhi jadwal latihan yang telah kami sepakati. Tim futsal kami terus mengasah strategi quick counter yang sangat sesuai dengan kondisi kelas kami. Bejo pernah berkata bahwa strategi kami ini sama dengan salah satu klub sepakbola Inggris, dan ia menyebutnya dengan strategi parkir bis. Halau semua serangan lawan, begitu bola di kaki, umpan jauh ke penyerang yang sudah menunggu di depan.

Perkembangan tim basket putri pun tidak kalah menarik. Bersama Kenji, aku hampir tidak pernah absen melihat mereka berlatih, hanya sekedar memberikan mereka semangat. Teman-teman yang sebelumnya sangat canggung memegang bola sudah mulai terbiasa melakukan dribble. Untunglah kelas kami memiliki Dea yang dengan telaten melatih temannya satu per satu.

Selain sang kapten, pemain yang bisa dianggap mumpuni adalah, secara mengejutkan, Rika. Dengan tubuh yang mungil, ia sangat lincah ketika membawa bola, meskipun untuk memasukkan bola ia kekurangan tenaga. Kekurang itu dapat ditutupi oleh Nita, yang akurasi tembakannya lumayan baik. Aku tidak dapat menemukan korelasi antara kegemaran mempelajari bahasa dan permainan bola basket. Untuk kemampuan teman-teman yang lain, Dea lebih menekankan kemampuan passing. Untuk masalah mencetak poin, serahkan ke Dea atau Nita.

Aku adalah orang yang mudah penasaran, sehingga terbesit pertanyaan mengapa orang-orang yang bersentuhan dengan bahasa seperti Rika dan Nita bisa bermain basket dengan baik. Karena itu ketika di kelas aku memutuskan untuk bertanya kepada mereka. Nita kebagian sebagai orang pertama.

“Hanya karena hobi kok. Belajar jika tidak diimbangi dengan olahraga bisa membuat kita gampang sakit toh.” jawab Nita.

Jawaban dari Rika, seperti biasa, agak mengejutkan.

“Sewaktu SMP aku pernah ingin membuat cerita tentang basket, sehingga aku memutuskan untuk terjun langsung ke dunia basket agar lebih mendapat feel-nya. Eh, keterusan sampai sekarang.” jawab Rika.

Kelas ini memang penuh dengan kejutan.

***

Akhirnya hari pertandingan pun tiba. Pertandingan pertama kami harus berhadapan dengan kakak tingkat kami di kelas akselerasi. Mungkin hal ini memang di sengaja untuk meringankan kami. Atau, jika dilihat dari sudut negatif, mereka ingin cepat-cepat menyingkirkan kelas-kelas akselerasi yang kurang penting. Aku tidak peduli mana yang benar, aku hanya ingin memenangkan kompetisi ini.

Tidak seperti teman-teman yang lain, mungkin ini pertama kalinya aku bertemu dengan kakak kelas akselerasi. Aku tidak berdebar ataupun penasaran dengan pertemuan pertama ini. Semua terasa biasa saja. Lalu aku pun teringat dengan ucapan seseorang ketika rapat. Bukankah tahun kemarin kakak tingkat kami tidak bisa mengikuti pertandingan karena kekurangan anggota?

“Oh, itu maksudnya kakak tingkat yang sudah lulus. Kalau yang setahun diatas kita jumlah anaknya sama dengan kita, enam orang. Hanya saja mereka langsung babak belur karena langsung bertemu dengan tim yang memang diunggulkan untuk memenangkan lomba, sehingga mereka sering tidak dianggap ada.” Kenji menjelaskan kepadaku ketika aku menanyakan pertanyaanku.

Dianggap tidak ada? Aku ingin menghajar mereka yang berpendapat seperti ini. Menganggap orang lain tidak ada adalah salah satu bentuk penghinaan yang kurang ajar. Tunggu, bukankah dulu aku juga tidak pernah menganggap orang lain ada? Artinya, aku juga orang yang kurang ajar, sama dengan mereka?

Pertanyaan filosofisku terhenti begitu saja ketika Bejo menyuruh kami untuk bersiap-siap karena kami kebagian pertandingan pertama. Setelah pemanasan ringan di dalam kelas, kami berenam keluar kelas diiringi dengan teman-teman wanita yang masih sekitar satu jam lagi baru bertanding.

Lapangan basket masih terlihat sepi, hanya ada satu dua penonton. Mungkin karena pertandingan awal yang kurang seru, membuat mereka enggan menonton kami. Akan tetapi diantara penonton, aku meliihat Rudi bersama beberapa temannya. Aku pun menyempatkan diri untuk menyapanya.

“Hai Le, selamat bertanding ya, aku sengaja lo melihat pertandingan ini demi kamu.” Rudi langsung berkelakar ketika aku menyapanya.

“Benarkah? Terima kasih kalau begitu.”

“Oke semangat, itu lawanmu sudah mulai datang.”

Aku menoleh, dan melihat belasan orang menuruni tangga menuju lapangan. Pada dasarnya teman-teman kelasku lumayan akrab mereka, sehingga mereka dapat berbaur dengan cairnya. Aku meninggalkan Rudi untuk berkenalan dengan kakak tingkat. Mungkin ini kesempatan yang tepat untuk menjalin hubungan dengan mereka.

Secara naluriah, aku menuju Kenji terlebih dahulu, yang nampaknya sedang berbicara dengan seseorang. Begitu ia melihatku, Kenji langsung memperkenalkan diriku dengan orang yang diajaknya berbicara tadi.

“Leon, perkenalkan ini ketua kelas lawan kita sekaligus kapten tim, Malik. Mas Malik, perkenalkan ini Leon, mungkin cuma dia aja yang belum Mas kenal, hahaha.”

Kesan pertama yang aku tangkap ketika menjabat tangannya adalah, dia adalah orang yang periang dan murah senyum, hampir sama seperti Kenji. Hanya saja, aku merasakan ada aura yang aneh pada orang ini. Tidak seperti Kenji, aku merasakan ada sesuatu yang membuatku tidak nyaman, sebuah perasaan yang tidak bisa dideskripsikan.

“Ah, aku udah kenal kok, mungkin Leon aja yang lupa, hahaha.” Malik membuka percakapan dengan riang gembira.

“Terima kasih.” hanya itu yang bisa kuucapkan, menganggap kalimatnya hanya pemanis semata.

“Jadi, semoga pertandingan hari ini menyenangkan ya. Siapapun pemenangnya, kita harus bisa membuktikan kelas akselerasi tidak kalah dengan kelas lain.” ucapnya sembari meninggalkan kami.

Setelah itu, Andra dan Dea mengajakku untuk berkenalan satu persatu dengan para kakak tingkat ini. Aku tidak hafal dengan mereka semua, namun ada satu yang sama. Semua pandangan mereka sama-sama menyiratkan “aku sudah tahu tentang kamu, kamu yang buat keonaran itu kan”. Sangat susah untuk meredakan emosi ini, apalagi jika diulangi sebanyak lima belas kali dalam waktu yang singkat. Kenji yang melihat gelagat tidak sukaku langsung menegurku.

“Tenanglah Le, kita harus fokus ke pertandingan lo.”

Baiklah, aku akan membuktikan lewat pertandingan bahwa aku telah berubah.

***

Bejo memutuskan untuk mengganti strategi ketika melihat lawan kami sama-sama anak akselerasi. Strategi bertahan total kemarin ia ganti dengan pola permainan penguasaan bola dimana ia maju sebagai pengatur serangan di belakang Andra, sedangkan posisi bek sayap agak di dorong maju. Aku tetap di posisi semula, dan dalam hatiku berbisik bahwa strategi itu diambil agar Bejo tidak perlu dekat-dekat denganku. Aku secara perlahan mulai menarik kembali rasa penghormatan yang telah kuberikan padanya.

Pertandingan pertama pun dimulai, dengan kami yang menguasai bola terlebih dahulu. Seusai arahan strategi Bejo sebelum pertandingan, kami harus mengusai pertandingan dengan menggunakan umpan-umpan pendek sembari menekan ke pertahanan lawan. Aku lupa namanya, sesuatu yang mirip dengan teka-teki. Maka dengan strategi tersebut, kami maju ke garis pertahanan lawan. Lawan pun nampak sangat bersemangat merebut bola dari kami, namun berkat hasil latihan kami, hal tersebut susah untuk dilakukan.

Aku yang berada di belakang hanya bisa mengamati dari belakang. Nampaknya lawan sedikit kesulitan dengan pola permainan kami. Kelima pemain mereka berada di daerah pertahanannya sendiri, menjaga area gawang agar tidak dijebol. Meskipun hanya bisa melihat punggung mereka, aku bisa melihat Bejo pun sama-sama kesulitan memberikan umpan ke Andra yang juga terlihat kesusahan karena dijaga oleh Malik. Meskipun gerakan-gerakan dari kakak tingkat ini terlihat canggung, nampaknya strategi awal kami berhasil mereka terapkan.

Bejo yang sedikit frustasi mencoba melepaskan tendangan jarak jauh yang sayangnya kurang akurat. Sekarang bola ada di pihak lawan, kami pun sedikit mundur ke daerah kami. Malik yang melakukan tendangan gawang, tiba-tiba langsung melontarkan tendangan langsung ke gawang. Aku yang menyadari hal tersebut langsung siaga dan bersiap menghalau tendangan tersebut. Tendangan akurat tersebut berhasil aku hentikan tepat pada waktunya. Seandainya aku lengah sedetik saja, pasti gawang kami sudah kebobolan.

Yang tidak aku antisipasi, adalah serangan susulan setelah aku berhasil membuang bola. Pemain lawan yang bertubuh sependek Kenji tiba-tiba mengambil bola dan memberi umpan kepada temannya yang melakukan sprint dari belakang. Aku berusaha menggunakan tubuhku untuk menghalau tendangannya. Sayangnya aku tertipu, karena ia mengembalikan bola tersebut kepada si mungil. Karena teman-teman juga belum kembali setelah menyerang, maka gawang kami pun kebobolan. 0-1.

Bejo terlihat kecewa karena aku gagal menjaga gawang dengan baik. Jika dilihat dari sudut pandang lain, ia kecewa kepada dirinya sendiri karena dengan satu serangan tadi kami seperti bebek, mengikuti kemana larinya bola tanpa menjaga pemain lain. Namun karena dibatasi oleh waktu, ia tidak mengungkapkan kekecewaannya melaui kata-kata. Pertandingan pun berlanjut dan hingga akhir babak pertama, kami masih tertinggal.

***

Ketika jeda pertandingan, Bejo pun memberi instruksi-instruksi agar kami menyerang habis-habisan, alias all-out attack. Kalau perlu, tidak perlu ada yang menjaga area pertahanan meskipun resikonya besar. Aku tidak setuju dengan strategi ini, meskipun aku tidak terlalu tahu tentang strategi sepakbola.

“Bejo, selama ini kita lebih berlatih untuk memperkuat pertahanan, sehingga teman-teman pun sedikit bingung ketika kau suruh menyerang.”

Bejo berpura-pura tidak mendengarkanku, dan aku paling benci dihiraukan seperti ini. Aku memanggil namanya berkali-kali dan ia tetap berpura-pura tidak mendengar dengan terus berbicara tentang menyerang, menyerang dan menyerang. Andra sudah berusaha memberitahu Bejo bahwa aku sedang berbicara dengannya, namun ia tetap diam. Naik pitam, aku mengangkat kerahnya.

“Aku sedang berbicara denganmu brengsek, strategi tololmu tidak akan pernah berhasil.”

Bejo pun berusaha melepaskan cengkeraman tanganku dengan berusaha mencekikku. Perkelahian tidak berlangsung lama karena kami keburu dilerai oleh teman-teman dan penonton. Mata para kakak tingkat menunjukkan sesuatu dengan jelas.

Tuh kan, biang onar.

Aku memutuskan untuk kembali ke kelas, tidak melanjutkan pertandingan. Terserah Bejo dengan strategi menyerang habisnya. Ketika aku melihat ke arah tim lawan, terlihat oleh secara sekilas, sangat sebentar, hanya sekian seperdetik, Malik sedang tersenyum sinis penuh kemenangan sebelum sadar ia terlihat olehku. Ia kenakan kembali topeng senyum ramahnya, memandangkanku dengan sorot mata turut prihatinnya. Hal tersebut sudah cukup untuk membuatku percaya, bahwa ia adalah orang yang penuh dengan kepalsuan.

***

Ketika aku kembali ke kelas, aku melihat Sarah sedang menelepon seseorang. Begitu melihatku masuk, ia cepat-cepat meninggalkan kelas sambil menutup hidungnya. Aku yang sedang dalam keadaan emosi, langsung mendorong tubuhnya hingga hampir terjatuh.

“Apa maksudmu dengan gestur itu?”

“Udah jelas, lo abis futsal, pasti bau. Keringatnya orang kampung itu baunya minta ampun deh.”

Untunglah ketika aku akan menampar mulut busuk wanita ini, mataku melihat Sinta lewat. Kesempatan itu digunakan Sarah untuk pergi meninggalkan kami, ditambah dengan gestur ingin muntah. Ingin rasanya aku mendaratkan tendangan kungfu ke rahang wanita arogan tersebut.

“Leon? Bukannya kelasmu sekarang waktunya main ya?” tanya Sinta setelah Sarah pergi.

“Aku tidak peduli dengan pertandingan itu lagi.” jawabku datar.

“Astaga, kamu tidak kembali ke dirimu yang lama lagi kan? Waktu kita ketemu di kantin, kamu sudah berubah banyak lo. Ada apa?”

Aku memandang Sinta agak lama dalam diam, merenungkan pertanyaannya. Tidak kembali ke dirimu yang lama? Astaga, kenapa aku bisa begitu emosi seperti ini? Tidak didengar bukan berarti aku boleh mengamuk seenaknya saja. Kini aku menyesali perbuatanku, meskipun aku masih gusar dengan sikap Bejo yang egois. Mau kembali ke lapangan tidak punya muka, tapi berdiam disini juga menimbulkan perasaan bersalah yang teramat besar. Akhirnya, aku condong ke pilihan pertama, sebagai penonton.

“Tidak apa-apa Sinta, terima kasih.”

Setelah itu, aku pun berjalan dengan langkah berat kembali ke lapangan. Terlihat olehku Kenji menggantikan posisiku. Aku berusaha menebalkan mukaku dengan berjalan ke arah teman-teman perempuanku duduk. Aku duduk di pinggir, tepat di sebelah Gita. Ia nampak sedikit terkejut ketika tahu aku duduk di sebelahnya, namun berusaha untuk menjaga perasaanku.

“Kamu tidak apa-apa Le?” tanyanya dengan halus, tidak seperti biasanya.

“Tidak apa-apa, bagaimana dengan skornya?” tanyaku pada Gita.

“Kita tetap kalah. Sangat susah untuk mencetak gol ke gawang lawan yang meletakkan bis di depan gawang.”

Aku pun turut sedih mendengar laporan Gita. Semakin diserang, semakin kokoh pertahanan lawan. Menurutku sebagai orang awam, kita harus bisa memancing lawan menyerang, lalu melakukan serangan balik secepat mungkin, seperti strategi awal kami. Sayangnya, opiniku tidak didengar oleh kapten tim.

“Kamu mau main lagi Le?” Gita bertanya kepadaku,

“Sepertinya tidak usah Git.”

“Lalu kenapa kamu kembali kesini?”

“Itu…” aku tidak bisa melanjutkan jawabanku dan menggantungnya. Gita cukup bijaksana untuk tidak mendesakku memberitahu alasanku kembali. Maka kami pun diam melihat pertandingan. Bejo sempat melihatku ada di bangku penonton, namun tidak ada tanda-tanda ia akan memintaku untuk bermain kembali. Hingga peluit panjang dibunyikan, kami harus mengakui keunggulan lawan, kakak tingkat kami sendiri.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.