Chapter 20 Teori Konspirasi

Suasana kelas terasa tidak nyaman ketika semua kembali ke kelas. Tim basket wanita pun terkena dampaknya sehingga mereka juga tersingkir pada pertandingan pertama. Jelas semua merasakan kekecewaan, terutama kepada aku dan Bejo yang tidak bisa mengurangi ego masing-masing. Semua latihan yang kami lakukan selama dua minggu terasa sia-sia.

“Ayolah kawan-kawan, kekalahan bukan akhir dari segalanya, kita masih bisa menang tahun depan.” sang mood booster Kenji sedang menyemangati kami semua.

Tidak ada respon dari teman-teman lainnya, semua masih sibuk dengan kegagalan ini. Bejo keluar dari kelas, entah ke mana. Kenji tetap terus mengucapkan kata-kata motivasi kepada kami. Namun ada daya, luka yang digoreskan peristiwa ini terlalu dalam.

***

Ketika gerbang sekolah sudah dibuka sebagai tanda murid sudah boleh pulang, aku memutuskan untuk keluar kelas terakhir, berusaha menghindari interaksi dengan teman-teman lain. Kenji sempat menghampiriku untuk pulang bersama seperti biasa, namun kali ini aku menolaknya sehalus mungkin. Aku sedang ingin sendirian.

Kenji pun melangkah keluar kelas, mungkin ia akan mampir ke rumah untuk melanjutkan tugasnya sebagai guru privat. Secara bergantian kami akan mengajari Gisel materi-materi sekolah dasar, dan hari Senin adalah gilirannya Kenji. Aku memandangi satu persatu teman-teman meninggalkan kelas, Gita mengucapkan perpisahan, kembar Sudarwono pun begitu. Setelah itu, aku melihat Sica berdiri hendak pulang. Mata kami bertatapan, dan tanpa disangka ia menghampiriku.

“Kamu enggak pulang Le?” tanyanya ketika ia duduk di bangku Gita.

“Nanti.” jawabku datar, meskipun hati sedikit berdebar.

“Kamu masih kepikiran tadi ya?”

Aku tidak menjawab pertanyaan ini, karena siapapun pasti bisa menebak apa yang sedang menggantung di kepalaku.

“Memang sebenarnya Bejo tadi agak keterlaluan, karena ia mendahulukan egonya dan tidak mendengarkan anggotanya. Tapi seharusnya kamu juga tidak semeledak itu Le.”

Aku terus mendengarkan perkataan-perkataannya tanpa tahu harus bagaimana aku membalas perkataannya. Tidak mungkin aku membalasnya dengan “enyahlah kau perempuan” karena aku tidak ingin menyakiti perasaan temanku yang sudah peduli dengan diriku. Aku pun hanya duduk, terdiam, lalu tanpa terasa mataku meneteskan air mata penyesalan. Aku menyesal karena sudah membiarkan setan menguasai diriku, aku menyesal karena tidak mematuhi kaptenku apapun alasannya. Aku menyesal karena sifat burukku ini, seluruh kelas terkena dampaknya.

Sica memegang pundakku, berusaha menenangkan diriku. Nampaknya ia sangat memahami perasaan bersalahku, dan ia berusaha melakukan apa yang bisa ia lakukan sebagai teman. Tanpa sadar aku menggenggam erat tangannya yang memegang pundakku, seolah menyalurkan ucapan terima kasihku kepadanya. Ketika sudah kembali sadar, aku segera menarik tanganku dan meminta maaf atas kelakukan kurang ajarku.

“Tidak apa kok Le, tenang aja. Mau aku antar pulang?”

Tanpa bersuara, aku menganggukkan kepala.

***

Sica pun akhirnya mampir ke rumahku, yang artinya untuk pertama kali aku membawa teman kelasku selain Kenji, terlebih seorang wanita! Aku tidak tahu apa motivasi Sica mau menemani diriku, tetapi setidaknya aku merasa tenang ketika ia ada di dekatku.

Saat kami sampai di rumah, Kenji masih berada di rumahku. Nampaknya ia baru saja menyelesaikan kelas privat untuk adikku. Kenji tidak terkejut melihat aku membawa Sica ke rumah, justru ia melontarkan kalimat yang cukup membuatku malu.

“Oh, jadi kamu menolak pulang bersamaku agar kamu bisa pulang dengan Sica ya Le.”

Sica hanya tertawa ringan mendengar kalimat ini, sangat berbeda dengan diriku yang tidak tahu harus bagaimana memberi respon. Aku mempersilahkan Sica duduk, dan berjalan menuju dapur untuk membuatkan minuman ala kadarnya. Gisel yang sudah selesai belajar menawarkan dirinya untuk ikut membantu.

“Itu kakak cantik yang waktu itu duduk di sebelah kakak ya?” tanya Gisel ketika ia memberikan sachet minuman instan.

“Iya.”

“Kenapa ke sini kak?”

“Itu, kakak tidak tahu.”

“Kok bisa enggak tahu? Kakak kan pulang bareng dia.”

Karena kebingungan menjawab, aku pun membisu sambil mengaduk-aduk gelas minuman. Gisel nampak sedikit memajukan bibir tanda sebal karena dirinya diabaikan. Setelah mengambil nampan, aku mengantarkan kedua gelas ini kepada para tamuku. Kenji dan Sica menghentikan percakapan mereka saat melihat kedatanganku dan mengucapkan terima kasih.

“Kalian sedang membicarakan kejadian hari ini ya.” kataku tanpa basa-basi.

Sica nampak kebingungan dengan kalimatku, melihat ke arah Kenji. Kenji seperti biasa, terlihat sangat menguasai dirinya dan dengan tenang menjelaskan apa yang mereka bicarakan.

“Benar Le, kami sedang membicarakan musibah yang menimpa kita hari ini. Aku berusaha melihat peristiwa ini dari berbagai sudut pandang.”

“Apa saja?” tanyaku penasaran dengan penjelasan Kenji.

“Jika dilihat dari sudut pandang Bejo, ia memikul beban berat untuk membuang persepsi orang tentang kemampuan olahraga kita. Ambisinya tersebut membuat ia memutuskan untuk bermain menyerang karena lawan yang dihadapi relatif seimbang, meskipun pada akhirnya kita justru kalah strategi.

“Jika dilihat dari sudut pandangmu, kamu melihat bahwa strategi Bejo tidak akan berhasil karena alasan yang sudah kamu utarakan waktu di lapangan, dan sejujurnya aku lebih setuju dengan pendapatmu tersebut. Hanya saja, ketika argumen ini keluar darimu dan bertemu dengan beban serta ambisi Bejo, membuat ia memutuskan untuk tidak mendengarkanmu.

“Sifatmu yang benci diremehkan akhirnya membuatmu marah dan hampir saja terjadi perkelahian di antara kalian. Ego kalian sama-sama tinggi dan nampaknya tidak ada yang akan bersedia menurunkannya. Aku bersyukur kamu kembali setelah keluar dari lapangan, yang artinya kamu berhasil menghilangkan atau setidaknya mengurangi egomu. Apa ada yang terjadi diantara selang waktu tersebut Le?”

“Aku bertemu dengan teman lamaku, Sinta, dan ia mengingatkan diriku dengan masa laluku.”

“Ah yang kamu cerita waktu itu ya.”

“Aku, aku rasa harus meminta maaf ke kalian semua.”

“Tentu, tentu saja, semua harus berakhir dengan damai. Namun sebenarnya masih ada satu sudut pandang lagi Le.”

“Apa itu?”

Kenji melirik ke arah Sica, memberinya kode untuk memulai bercerita.

“Sudut pandang ketiga adalah sudut pandang dari kakak kelas sekaligus lawan kita.” Sica memulai ceritanya,

“Maksudnya?”

“Sebenarnya tadi pagi setelah daftar pertandingan, aku mendengar kakak kelas kita sedang membicarakan dirimu yang dianggap sudah merusak citra anak aksel yang selama ini terhindar dari berbagai kasus kenakalan. Belum pernah ada ceritanya anak aksel dipanggil oleh BP.”

“Oh begitu, lalu hubungannya?”

“Mereka menggunakan itu sebagai senjata untuk melemahkan kita, lawannya. Menyerang mental terkadang bisa menjadi senjata yang sangat ampuh, dan kebetulan yang diserang adalah kamu Le.”

“Dan dengan mudahnya aku terkena senjata tersebut ya.” jawabku lirih.

Sica melipat-lipat tangannya, bingung karena merasa bersalah.

“Aku tidak bermaksud membuatmu semakin merasa bersalah Le, maafkan aku.” kata Sica tidak kalah lirihnya.

“Tidak Sica.”

“Menurut analisisku, sebenarnya bukan mereka, tapi dia!” Kenji berbicara dengan lantang hingga membuat aku dan Sica kaget.

“Dia siapa Ken?” tanya Sica.

“Sebenarnya ada satu orang yang merencanakan ini semua dengan mulus, tanpa perlu turun tangan sendiri. Sungguh sebuah taktik yang cemerlang.”

Aku segera menyadari siapa yang ia maksud.

“Malik.”

“Kamu menangkap maksudku Le. Teori konspirasinya bisa dianggap seperti ini. Pertama-tama, ia hanya perlu memanas-manaskan teman sekelasnya agar mereka memberikan serangan mental kepadamu. Tentu ketika melakukan ini, dia akan memberimu pembelaan seolah-olah bukan dia yang mengawali pembicaraan tersebut.

“Langkah kedua, melihat lawan bermain lebih terbuka, ia memutuskan untuk bertahan total, membuat lawan frustasi dan mencetak angka. Kamu Le, yang sudah dibuat emosi dengan berbagai tatapan itu akhirnya melampiaskan kemarahanmu ke Bejo yang juga sedang di bawah tekanan karena kita sedang kalah. Akhirnya kamu tidak bermain, dan tim lawan pun hanya perlu bertahan hingga pertandingan berakhir. Sebagai tambahan, tim basket putri pun terkena dampaknya.”

“Tunggu dulu, apa kamu enggak berlebihan Ken?” tanya Sica tidak percaya dengan teori yang telah disampaikan.

“Aku berharap begitu sih Sica, aku saja yang berlebihan, hahaha.”

“Rasanya itu masuk akal Ken, aku sempat Malik melepas topengnya walau hanya sepersekian detik.” kataku membela teori Kenji.

“Tapi, mas Malik itu bisa dibilang tidak punya musuh lo. Ia pintar secara akademis maupun non-akademis, ia murid kesayangan guru dan semua teman sangat hormat kepadanya. Ia selalu nampak ramah dan ceria, ia baik ke semua orang dan tidak segan untuk menolong.” Sica berusaha membela Malik.

Melihat aku memandangnya dengan tatapan yang tajam, ia segera menambahkan.

“Aku tahu semua informasi ini dari kakak kelas yang lain, aku cukup dekat dengan mereka. Tidak pernah ada satupun komentar negatif tentang dia.”

“Ya, semoga saja aku yang salah ya Sica, hahaha.” kata Kenji berusaha mencairkan suasana.

Aku pun memutuskan untuk diam, tidak memberikan komentar apapun.

“Jika teori Kenji benar, maka aku hanya dijadikan senjata oleh mereka ya.”

“Sudahlah Le, kemungkinan besar aku salah. Kamu tahukan aku suka baca buku detektif, jadi sering sok membuat deduksi ala Sherlock Holmes, hahaha.”

“Maaf, aku tidak bermaksud untuk membela kakak tingkat kita, aku hanya tidak ingin kita berburuk sangka.”

Suasana menjadi agak canggung antara kami bertiga. Sica berusaha mengalihkan topik pembicaraan dengan bertanya.

“Kamu sudah punya handphone Le?”

“Belum, kenapa?”

“Entahlah, aku ingin saja berkomunikasi denganmu lewat sms.”

Ah, Sica, inikah caramu membuang rasa bersalahmu setelah menolak teori konspirasi yang sudah diajukan Kenji?

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.