Pengalaman Menjadi Volunteer Asian Games (Closing Ceremony)

Tulisan ini menjadi penutup dari total tujuh tulisan tentang pengalaman penulis menjadi seorang volunter pada even Asian Games 2018. Sebuah penutup yang benar-benar tak terlupakan, dan mungkin hanya terjadi sekali seumur hidup.

Bagaimana penulis bisa ikut acara closing ceremony?

Indonesia Asian Games 2018 Organizing Committee (INASGOC) memutuskan untuk membuat semacam tribute to volunteer pada acara penutupan Asian Games. Dari setiap cabang olahraga, diwajibkan untuk mengirimkan tiga orang perwakilan, yakni koordinator, wakil koordinator dan volunteer terbaik.

Pemilihan volunteer terbaik seharusnya menjadi hak prerogatif koor, namun karena beberapa pertimbangan koor memutuskan untuk melakukan vote. Selain itu, karena di tim kami tidak memiliki wakil koordinator (walaupun ada yang merasa menjadi wakil), maka kami diharuskan memilih dua orang sebagai perwakilan.

Alhamdulillah, penulis menjadi salah satu yang terpilih tersebut bersama Icha.

Bagaimana ceritanya sebelum bisa masuk stadion?

Oleh Tiara selaku koor kami, kami diwajibkan untuk datang pukul 15.30. Penulis memutuskan untuk berangkat menggunakan Grab menuju kawasan Gelora Bung Karno (GBK) agar lebih cepat sampai, meskipun sempat diputar-putar oleh driver-nya untuk “menghindari macet”.

Penulis tiba tepat waktu dan menunggu sekitar setengah jam untuk menunggu Tiara tiba. Kami berdua langsung menuju gedung Media Press Center (MPC) untuk mengambil stiker bertuliskan PV sebagai bukti kami berhak untuk masuk ke dalam stadion. Selain itu, kami juga menitipkan tas kami.

Sewaktu perjalanan, Tiara mengatakan bahwa kami sebenarnya akan mengikuti semacam parade bersama atlet. Di pikiran penulis langsung terbesit, waduh berarti masuk televisi dong. Muncul kekhawatiran bahwa kami hanya akan mengikuti parade tanpa menyaksikan closing ceremony-nya

Setelah mendapatkan stiker, kami berdua langsung berjalan menuju venue lomba akuatik yang terletak di seberang gedung MPC. Drama sempat terjadi ketika tiba-tiba saja hujan mengguyur dengan derasnya. Kami berlindung di balik tenda-tenda yang ada di sekitar sana. Untunglah kami mendapatkan jas hujan bening dari panitia.

Mendapat Jas Hujan

Setelah menunggu beberapa lama akhirnya divisi kami, Media & Public Relations, dipanggil untuk masuk ke dalam arena. Dengan membawa Pocari Sweat dan Soyjoy gratisan, kami duduk sembari menunggu waktunya masuk ke dalam stadion.

Tunggu, lalu di mana Icha? 

Karena macet, ia harus terlambat hingga satu jam lamanya. Penulis dan Tiara yang sudah berada di dalam tentu khawatir ia tidak bisa masuk. Apalagi sinyal milik ponsel Icha bermasalah sehingga susah untuk menghubungi. Akhirnya penulis memutuskan turun untuk menjemput Icha dan untunglah semua berakhir dengan baik.

Tunggu lagi, bukankah justru ini awalnya?

Kami menunggu sampai sekitar pukul 18.30 di arena akuatik tanpa mendapatkan petunjuk apa yang akan kami lakukan. Berdasarkan informasi yang diterima Tiara, seharusnya kami akan dijelaskan tentang apa saja yang harus kami lakukan ketika sudah mengikuti parade.

Tiba-tiba kami diarahkan untuk keluar dari arena akuatik. Departemen kami tercecer begitu saja, sehingga kami seperti anak ayam kehilangan induknya. Setelah mondar-mandir tanpa arah dan mendapatkan gelang bertuliskan closing ceremony, akhirnya kami menemukan rombongan kami.

Segala keruwetan yang terjadi membuat departemen kami berada di belakang sendiri. Jam sudah mendekati jam tujuh, yang artinya closing ceremony akan segera dimulai dan benar saja, kami tidak jadi mengikuti parade.

Kami yang sudah saling berdesakan di antara lautan manusia pun langsung merasa down. Sudah hujan, berdesak-desakan, kami pun tidak tahu akan diarahkan ke mana. Bahkan kami sempat berpikiran bahwa kami hanya diarahkan untuk memutar stadion.

Rasa penasaran mengapa kami tertahan begitu lama adalah adanya pemeriksaan gelang. Apabila terdapat volunteer yang tidak mengenakan gelang maka ia tidak diperkenankan untuk masuk ke dalam stadion. Asa itu pun muncul kembali.

Kami terus berjalan -atau lebih tepatnya terdorong-dorong begitu saja- hingga mencapai salah satu gerbang menuju stadion. Waktu berada di ambang gerbang, kami mendengar beberapa penyanyi mulai mengisi acara.

Dan pada akhirnya, setelah berbagai perjuangan dan keputusasaan, kami berhasil masuk ke dalam stadion untuk menyaksikan closing ceremony Asian Games 2018.

 

 

Jelambar, 11 September 2018, terinspirasi setelah mengikuti closing ceremony Asian Games 2018

 

 

 

 

 

Oh iya, belum cerita tentang bagaimana suasana ketika berada di dalam stadion ya, hehehe.

Penulis ingat sekali ketika berhasil masuk, band Gigi sedang mengisi acara. Penulis sempat terkesima dengan sekeliling penulis di mana banyak sekali penonton yang menikmati pertunjukan ini. Belum lagi volunteer-volunteer yang tersebar di sana-sini.

Penulis baru menyadari bahwa terdapat tiga panggung di stadion ini. Untuk memudahkan, penulis akan sebut dengan istilah panggung kiri, panggung tengah dan panggung kanan.

Setelah penampilan Gigi di panggung kiri, muncul penyanyi India di panggung tengah. Untunglah karena ada Icha, kami bisa menyelinap dengan lincahnya agar dapat berada dekat di depan panggung. Mungkin hanya sekitar 10 meter.

Setelah itu, kami bepindah ke panggung kiri karena ada boyband iKon yang tampil. Sebenarnya tidak ada satu pun dari kami bertiga yang merupakan penggemar dari boyband Korea. Bahkan penulis baru tahu ada boyband bernama iKon setelah diberitahu oleh Evelyne. Hanya saja, seperti yang disebutkan Icha, kami ingin merasakan hype-nya.

Beberapa penyanyi lokal mengisi setelah penampilan iKon, seperti kolaborasi antara Siti Badriah, Wingky Wiryawan dan Jevin Julian. Lalu ada RAN, Bunga Citra Lestari, Afgan hingga JFlow dan Dira Sugandi. Tentu saja sesekali kembang api menyala di tengah-tentah pertunjukan.

Sebenarnya agak susah menyaksikan penampilan para pengisi acara secara langsung. Bagaimana tidak, semua tangan diangkat untuk merekam berbagai aksi panggung yang dilakukan oleh penyanyi-penyanyi di atas panggung. Penulis harus menemukan celah yang tidak terhalangi oleh tangan-tangan yang sedang merekam.

Menurut penulis, puncak acara adalah ketika tampilnya boyband senior, Super Junior. Di antara semua penampilan, rasanya ini yang paling pecah. Karena suatu alasan, penulis cukup mengetahui beberapa hal tentang boyband yang sering disingkat SuJu ini, termasuk nama personil dan lagu-lagunya.

Untunglah ada Icha, sehingga kami bisa berada 10 meter dari panggung, karena penulis dan Tiara bukan tipe yang rela berdesak-desakan demi mendapatkan spot yang strategis. Celah sekecil apapun seolah terlihat oleh mata Icha, dan ia gunakan kesempatan itu untuk maju hingga tingkat kerapatan penonton tidak bisa ditembus lagi.

Ketika penulis amati, ada tujuh anggota yang hadir pada malam itu. Mereka adalah Leeteuk, Donghae, Eunhyuk, Shindong, Siwon, Yesung, dan Ryewook. Mereka membawakan tiga buah lagu, yakni Sorry Sorry, Mr. Simple dan Bonamana. Story penulis yang merekam penampilan mereka cukup membuat ramai notifikasi ponsel penulis.

Oh iya, sebenarnya penulis tidak ikut merekam karena harus membawakan satu tas yang berisikan minuman untuk kami bertiga. Alhasil penulis meminta video hasil rekaman Tiara.

Acara ditutup dengan penampilan idola penulis, Isyana Sarasvati, bersama RAN dan segenap artis-artis pengisi acara lainnya. Tidak ada kalimat yang bisa menggambarkan bagaimana perasaan penulis tentang pengalaman sekali seumur hidup ini.

Dari Kiri: Icha, Tiara, Penulis

Selesai acara, penulis dan Tiara berjalan menuju MPC untuk mengambil tas, sedangkan Icha suda ciao duluan karena sudah dijemput. Di sana kami bertemu dengan rekan-rekan volunteer Stadion Patriot yang ternyata juga sedang closing ceremony sendiri bersama rekan-rekan volunteer dari departemen Media & Public Relations.

Pengabdian kami selama kurang lebih 18 hari, ditutup dengan gegap gempita yang akan terukir di memori kami untuk selamanya.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.