Connect with us

Sosial Budaya

Lemahnya Etos Kerja Pada Generasi Milenial

Published

on

Menurut pembaca, bagaimana etos kerja yang dimiliki oleh generasi sekarang? Cenderung lebih kuat dari generasi sebelumnya atau justru semakin melemah? Menurut penulis, jika melihat fenomena yang terjadi di sekeliling, penulis cenderung meyakini opsi yang kedua.

Definisi Generasi Milenial Bagi Penulis

Sebelumya, istilah generasi milenial sendiri memiliki beberapa tafsir pengertian. Ada yang menganggapnya generasi yang lahir di atas tahun 90an, ada yang mengatakan generasi ini lahir setelah pergantian abad, dan lain sebagainya.

Penulis memilih definisi yang kedua, generasi milenial adalah generasi yang lahir di atas 2000an, karena terdapat perbedaan yang cukup mencolok antara mereka dengan generasi yang sepantaran dengan penulis.

Pada tulisan-tulisan berikutnya, penulis akan tetap menggunakan definisi tersebut.

Tukang Ngeluh

Dalam etos kerja, ada dua hal yang menjadi pertimbangan penulis mengganggap generasi milenial kurang memiliki etos kerja. Yang pertama adalah mudah mengeluh, yang kedua adalah kebiasaan copas dalam menyelesaikan pekerjaan.

Pada tulisan kali ini, penulis hanya mengambil contoh bagaimana generasi milenial menghadapi tugas-tugas mereka di sekolah.

Hobi Mengeluh (https://www.mid-day.com/articles/what-makes-teenagers-so-angry-and-aggressive/15600172)

Darimana penulis tahu mereka suka mengeluh? Ya dari postingan mereka sendiri. Ada pekerjaan rumah banyak, bikin status, curhat. Besok ulangan, bikin status lagi. Setiap ada pekerjaan yang dirasa berat, mereka akan membagi apa yang mereka rasakan di media sosial.

Padahal yang mereka hadapi baru pekerjaan sekolah, belum ujian hidup. Semoga saja dengan semakin bertambahnya kedewasaan mereka, mereka akan menyadari bahwa tugas-tugas yang mereka kerjakan itu bukanlah sesuatu yang patut untuk dikeluhkan.

Asal Copas

Parameter yang kedua adalah kemudahan mengakses informasi yang disalahgunakan. Ini penulis ketahui dari narasumbernya langsung, yang mengeluh karena temannya dalam kerja kelompok hanya asal copas dalam mengerjakan bagian tugasnya.

Ketika penulis masih sekolah, bertahun-tahun yang lalu, internet sudah ada, meskipun untuk mengaksesnya kita harus ke warnet terdekat. Penulis juga mengumpulkan data-data untuk tugas dari sana.

Bedanya, penulis membaca data tersebut, memahami, lalu membuat ringkasannya. Bukannya mau menyombongkan diri, tapi penulis merasa bahwa itu seharusnya menjadi hal yang biasa dilakukan oleh para pelajar di Indonesia.

Copas (https://medium.com/digital-identity/copy-paste-inc-d9a99f4a4b6a)

Jika hanya asal copas, lantas ilmu apa yang akan kita peroleh? Jangankan memahami, membaca saja tidak. Hanya mencari kata kunci yang pas, dibaca judul dan beberapa paragraf awal, lantas di-copas jika dirasa sesuai dengan pertanyaan.

Itulah yang terjadi jika sistem pendidikan lebih mementingkan nilai daripada ilmu pengetahuan.

Kenapa Bisa Begitu?

Menurut analisa sederhana penulis sebagai pengamat generasi milenial, banyak sekali faktor yang mempengaruhi fenomena ini. Kemajuan teknologi sudah tidak perlu dibahas secara rinci karena sudah terlalu sering dibahas.

Kalau menurut penulis, salah satu yang vital namun jarang disadari adalah, kita terbuai oleh media sosial, apapun bentuknya, mulai YouTube, Instagram, hingga Tik Tok. Kita tanpa sadar diperbudak oleh aplikasi-aplikasi tersebut hingga betah berada di depan layer ponsel berjam-jam.

Membuai Kita (https://www.adlibbing.org/2018/02/12/4-lessons-from-top-social-media-publishers/)

Di mana korelasinya dengan lemahnya etos kerja? Coba bayangkan, berapa banyak jam dalam satu hari yang kita habiskan untuk berselancar melihat berbagai macam hal yang mungkin kurang penting.

Karena menikmati berbagai fasilitas tersebut, akhirnya kita jadi menunda-nunda dalam mengerjakan tugas. Tugas yang menumpuk inilah yang pada akhirnya membuat kita menjadi mengeluh dan asal copas. Siklus ini terjadi berulang-ulang sehingga secara tidak sadar menjadi sebuah kebiasaan.

Faktor keluarga dan sistem pendidikan juga bisa menjadi faktor yang berpengaruh, namun pada tulisan kali ini penulis tidak akan membahasnya lebih dalam. Ada juga faktor membudayanya mager yang telah penulis bahas pada tulisan lainnya (Baca Juga: Bahaya Mager dan Apatis).

Lantas, Apa Solusinya?

Mau bagaimana pun, semua tidak akan berhasil jika tidak diawali dari diri sendiri. Kita harus menyadari bahwa kita harus memiliki etos kerja yang tinggi agar dapat survive dari persaingan hidup yang nantinya akan semakin keras ini.

Jika semenjak usia sekolah kita menjadi generasi yang mudah mengeluh dan asal-asalan dalam mengerjakan tugas, bagaimana kita akan selamat dari ketatnya dunia kerja?

Ahmad Rifa’i Rifan pernah menulis buku “Jangan Mau Jadi Orang Rata-Rata”. Penulis belum pernah membaca buku tersebut, akan tetapi dari buku lainnya penulis bisa sedikit banyak memahami pesan apa yang ingin disampaikan.

Intinya, jangan sampai kita menjadi orang-orang pada umumnya, kita harus bisa menjadi orang yang special dengan caranya masing-masing. Jangan sampai keberadaan kita di dunia tidak ada artinya.

Lakukan Lebih (https://unsplash.com/photos/KE0nC8-58MQ)

Sebagai contoh, jika etos kerja orang rata-rata, katakanlah, di grade 6, maka minimal kita harus memiliki etos kerja di grade 7, lebih bagus kalau bisa lebih tinggi. Jika orang rata-rata hanya mengerjakan apa yang diperintahkan, kita harus bisa berinisiatif melakukan apalagi yang bisa dilakukan.

Mungkin jika dilihat dari sudut material, apa yang kita kerjakan sama dengan apa yang orang rata-rata kerjakan. Tapi percayalah, masih banyak sudut-sudut yang lebih berharga dari itu. Minimal, Tuhan melihat kita berusaha lebih keras dari orang rata-rata.

Penulis percaya tidak semua generasi milenial seperti itu. Bukan hobi penulis untuk melakukan generalisasi. Bagi generasi milenial yang tidak melakukan dua hal yang penulis katakan di atas, kalian luar biasa!

Oleh karena itu, pesan penulis untuk generasi milenial dan generasi-generasi yang lebih tua terutama diri penulis sendiri, tingkatkanlah etos kerja yang kita miliki. Milikilah semangat juang yang tinggi dalam mengarungi lautan kehidupan, jangan pantang menyerah menghadapi badai cobaan yang menghadang. Semoga tulisan ini membawa kebaikan untuk kita semua, dan jangan lupa bahagia hari ini 😊!

 

(Bersambung ke tulisan berikutnya, Pengaruh Karakter dalam Etos Kerja Generasi Milenial)

 

 

Kayuringin, Bekasi, 11 Agustus 2018, terinspirasi oleh berbagai status dan keluhan generasi milenial.

Sumber Foto: https://www.teenlife.com/blogs/how-to-encourage-a-lazy-teen

Sosial Budaya

Gaya Hidup, Biaya Hidup, dan “Yang Penting Hidup”

Published

on

By

Entah apakah ada yang mengorkestrasikan di belakang atau tidak, belakangan ini Penulis sering menemukan sebuah pos maupun story yang intinya adalah “minta biaya hidup turun tapi gaya hidup selangit” atau “gaya hidup gue tinggi, makanya kerja keras bukan pasang spanduk.”

Di X, Penulis menemukan ada satu orang (tampaknya seorang influencer yang cukup terkenal) yang mengunggah hal serupa. Akibatnya, ia banyak diserang oleh netizen hingga kontraknya diputus oleh agensi dan kerja samanya dengan beberapa brand dihentikan.

Dalam konteks yang lebih luas, hal ini berhasil mengundang perdebatan yang cukup panas di berbagai platform media sosial. Salah satu teman Penulis, Zili, sampai membawa topik ini untuk didiskusikan bersama Penulis karena kebetulan salah satu temannya juga mengunggah story dengan tema serupa.

Memahami Apa Beda Gaya Hidup dan Biaya Hidup

Memahami Beda Gaya Hidup dan Biaya Hidup (Photo by Suzanne Prinsloo)

Sebelum menulis tulisan ini, Penulis menyempatkan diri menonton video dari Eno Bening yang berjudul “Hidup Tersiksa Penuh Buzzer Pula”. Video tersebut membahas isu yang akan Penulis bahas, di mana ia berangkat dari menetapkan definisi apa itu Gaya Hidup dan Biaya Hidup. Penulis akan berangkat dari titik yang sama dengan definisinya sendiri.

Singkatnya, Gaya Hidup adalah jalan hidup yang kita pilih, seringnya untuk kebutuhan tersier. Penulis misalnya, memiliki Gaya Hidup yang relatif hemat, kecuali sudah menyangkut barang hobi. Penulis akan berpikir berulang kali untuk membeli pakaian, tapi boros jika membeli buku, komik, hingga board game.

Biaya Hidup adalah pengeluaran yang wajib dikeluarkan agar kita bisa hidup secara layak. Kita butuh mengeluarkan uang untuk membeli makanan sehari-hari, membayar uang sewa kontrakan atau cicilan rumah, membeli bensin untuk motor, mendapat akses kesehatan serta pendidikan, dan lain sebagainya.

Terkadang ada Biaya Hidup yang berubah menjadi Gaya Hidup. Misal, makanan yang merupakan kebutuhan pokok akan berubah kalau setiap hari kita makan All You Can Eat (AYCE). Motor bisa jadi kebutuhan pokok, tapi bisa berubah jika kita membeli motor yang cicilannya melebihi pendapatan bulanan.

Tak jarang kalau Gaya Hidup ini malah membuat kita berpura-pura, seperti fenomena joki unik yang sempat Penulis bahas di tulisan sebelumnya. Ada juga persewaan barang-barang seperti iPhone dan tas branded, bahkan fenomena rental orang yang diangkat di film Rental Family.

Memang harus diakui ada orang yang hidupnya susah karena Gaya Hidup-nya tidak menyesuaikan dengan pemasukannya. Kalau kata peribahasa, lebih besar pasak daripada tiang.

Namun, melakukan generalisasi kalau semua orang yang menuntut kehadiran negara lebih banyak dalam permasalahan ini juga salah. Negara bertanggung jawab atas Ekonomi Makro dan berkewajiban mengatasi kemiskinan struktural, yang akan Penulis bahas di poin selanjutnya.

Memahami Peran Negara dalam Pemenuhan Biaya Hidup

Ayam Mulai Susah Dicari atau Harganya Naik (KONTAN)

Lantas, apa posisi pemerintah dalam situasi ini? Penulis sedang membaca buku Economics 101 karya Alfred Mill & Michele Cagan, CPA. Di awal buku tersebut, langsung dijelaskan apa itu Ekonomi serta perbedaan antara Ekonomi Mikro dan Ekonomi Makro.

Intinya di buku tersebut, Ekonomi Mikro adalah ilmu yang berfokus pada pengambilan keputusan individu dan bisnis, serta berfokus pada barang, jasa, dan sumber daya. Sementara itu, Ekonomi Makro adalah ilmu tentang bagaimana negara mengatasi kelangkaan.

Lebih luasnya lagi, Ekonomi Makro juga tentang bagaimana negara hadir dalam mengelola ekonomi secara keseluruhan, termasuk bagaimana mengatur harga-harga bahan pokok, mengatur inflasi, mengatur nilai tukar rupiah ke dolar, menghadirkan lapangan pekerjaan yang layak, dan masih banyak lagi.

Nah, terkadang kita melupakan kalau kondisi kita hari ini banyak dipengaruhi oleh kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Misal, di sejumlah daerah susah untuk mencari daging ayam atau harganya sempat naik karena (salah satunya) diborong untuk program Makanan Bergizi Gratis (MBG).

Kelangkaan solar di beberapa daerah juga menjadi contoh lain bagaimana “kurang” hadirnya negara dalam tugasnya secara Ekonomi Makro. Solar sering menjadi motor utama dalam distribusi berbagai kebutuhan masyarakat. Ketika solar langka, akan ada banyak hal yang terkena dampaknya.

Selain itu, jika mengambil data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada bulan September 2026, tercatat ada kenaikan inflasi sebesar 3,28%. Makanan (salah satunya ayam ras), minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar, yang artinya memang ada kenaikan harga untuk kategori tersebut.

Jika kebutuhan-kebutuhan pokok jadi susah untuk didapatkan (alias menjadi langka), tugas negara adalah mengatasi agar hal tersebut tidak menjadi langka. Jika sudah menjadi langka, hal-hal pokok yang menjadi Biaya Hidup pun menjadi mahal, sehingga Biaya Hidup pun jadi naik.

Penulis belum lama ini mendengar cerita dari ibunya. Jadi pada satu waktu, ibu Penulis membeli kerupuk dari seorang pedagang karena merasa kasihan dagangannya masih banyak. Ibu Penulis tidak membeli banyak, hanya sekitar 3 bungkus yang totalnya Rp15 ribu.

Tahu apa respons dari pedagang tersebut? Alhamdulillah, akhirnya bisa beli beras. Bisa dilihat kalau untuk memenuhi Biaya Hidup yang standar saja (beras), pedagang tersebut harus menunggu dagangannya ada yang membeli. Mau bilang pedagang tersebut kurang kerja keras?

Inilah yang sering disebut sebagai kemiskinan struktural, di mana negara sebagai pemangku kebijakan gagal dalam menyejahterakan rakyatnya. Seharusnya, negara bisa hadir dan menjamin rakyatnya mampu memenuhi kebutuhan dasarnya alias Biaya Hidup-nya.

Negara juga harus bisa menghadirkan berbagai akses seperti pendidikan, lapangan pekerjaan, layanan publik, dan lain sebagainya yang dapat menaikkan taraf hidup rakyatnya. Kalau negara gagal menghadirkan hal-hal tersebut, wajar kalau ada yang menilai pemerintah seperti “memelihara kemiskinan” rakyatnya sendiri.

Boro-boro memikirkan gaya hidup, untuk makan besok saja masih banyak yang belum pasti. Bisa dibilang, mereka yang masuk ke dalam kategori ini bisa disebut sebagai “Yang Penting Hidup.” Mereka berusaha mati-matian untuk menyambung hidup dari hari ke hari tanpa kepastian apakah kebutuhan dasarnya dapat terpenuhi.

Yang lebih bahaya lagi adalah kalau kita menganggap kategori “Yang Penting Hidup” ini sebagai Biaya Hidup. Padahal, seperti yang dikatakan Eno Bening dalam videonya, seharusnya yang masuk Biaya Hidup juga memiliki kesempatan untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.

Mengapa Fenomena Ini Bisa Terjadi?

Banyak yang Faktor yang Memengaruhi Biaya Hidup (Photo by Kold Shots)

Orang-orang yang bilang “minta biaya hidup turun tapi gaya hidup selangit” atau “gaya hidup gue tinggi, makanya kerja keras bukan pasang spanduk” mungkin jarang berinteraksi dengan orang-orang kecil seperti pedagang kerupuk di atas, sehingga kacamata mereka pun relatif sempit.

Pernyataan tersebut seolah menyederhanakan permasalahan yang kompleks, bahwa tingginya Biaya Hidup disebabkan oleh kemalasan atau kurangnya kerja keras. Padahal, yang menentukan harga bahan pokok, pendapatan yang didapat, dan aksesibilitas bukan mereka sendiri.

Oh, ada satu lagi tulisan yang juga cukup menyakitkan hati: “lu yang miskin, yang disalahin pemerintah.” Penulis tidak perlu mengelaborasi ulang betapa salahnya kalimat tersebut. Kemungkinan besar, orang yang menulis hal tersebut tidak memahami apa itu Ekonomi Makro dan kemiskinan struktural.

Alasan kedua, mereka memang nirempati saja dan cenderung meremehkan kesulitan yang dihadapi oleh orang lain. Di kepala mereka, orang miskin sudah pasti karena mereka malas bekerja. Terkadang kita lupa, setiap individual punya titik start yang berbeda. Bukan hanya mulai dari nol, banyak yang harus mulai dari minus.

Memenuhi Biaya Hidup yang standar saja masih banyak yang kesulitan memenuhinya, meskipun mereka sudah banting tulang dari pagi hingga malam. Jangan sampai mereka jadi masuk ke golongan “Yang Penting Hidup” dengan kondisi yang jauh di bawah garis sejahtera.

Oleh karena itu, rasanya wajar kalau pada akhirnya gerakan “perlawanan” makin banyak. Bukan karena ada yang provokasi atau karena mereka agen Soros, tapi karena memang keresahan itu ada. Banyak yang merasa punya privilege untuk bisa menyuarakan aspirasi rakyat kecil, yang mungkin sudah tak punya tenaga lagi untuk sekadar mengeluh.

Bahkan, simbol tiga jari yang dipopulerkan oleh waralaba The Hunger Games juga menjadi ramai, mirip dengan viralnya bendera Jolly Roger dari waralaba One Piece beberapa waktu lalu. Keduanya memang sama-sama menjadi simbol perlawanan atas rezim yang sewenang-wenang kepada rakyatnya.

Penutup

Kalau mau curiga, Penulis malah merasa kalau ada “sesuatu” yang terus berusaha membenturkan antara rakyat dengan rakyat. Mengapa? Karena kalau rakyat bersatu dan punya “musuh” yang sama, maka kita akan menjadi begitu kuat. Hal ini sudah ditunjukkan ketika reformasi tahun 1998.

Kalau pun dugaan tersebut salah, Penulis juga bingung sendiri mengapa rasanya begitu mudah merendahkan sesama rakyat demi “melindungi” pemimpin yang dipuja. Masa ayam, sumber protein yang seharusnya jadi makanan pokok, disebut sebagai Gaya Hidup. Logikanya di mana?

Tulisan ini sebenarnya ingini mengajak kita semua untuk lebih bisa memahami satu sama lain dengan lebih baik lagi. Jangan mudah melabeli orang lain hanya dengan menggunakan pemahaman pribadi yang dangkal. Banyak orang yang hidupnya sedang susah, tidak perlu kita menghakimi mereka.

Semoga kita bisa lebih memahami mana yang disebut sebagai Gaya Hidup dan Biaya Hidup. Penulis juga berharap kehadiran pemerintah lebih nyata lagi untuk menghindari rakyatnya masuk ke dalam kategori “Yang Penting Hidup”.


Lawang, 31 Oktober 2026, terinspirasi dari berbagai isu yang belakangan ini ramai

Continue Reading

Sosial Budaya

Fenomena Joki “Unik”: Ketika Dahaga akan Validasi Jadi Ladang Cuan untuk Orang Lain

Published

on

By

Penulis suka berdiskusi dengan teman-temannya, baik secara langsung maupun via WhatsApp. Topik yang didiskusikan pun bisa bermacam-macam, mulai yang serius hingga yang relatif santai. Senang saja jika ada teman untuk bertukar pikiran.

Nah, belum lama ini, Penulis berdiskusi dengan salah satu kawannya yang bernama Jojo. Topiknya pun menarik, di mana dia kerap membagikan berbagai fenomena joki yang “unik”. Penulis yang semakin jarang bermain media sosial ini pun sampai terkejut ketika diberi tahu.

Pada tulisan kali ini, Penulis ingin membagikan apa saja yang kami diskusikan terkait fenomena ini, termasuk apa penyebab dari menjamurnya joki-joki aneh ini hingga bagaimana dahaga akan validasi bisa menjadi ladang cuan untuk orang lain.

Fenomena Joki Bukanlah Hal Baru, tapi…

Joki 3-in-1 (Antara News)

Sebenarnya, pekerjaan sebagai joki bukanlah hal baru. Waktu kecil, Penulis ingat ketika ada aturan 3-in-1 diberlakukan di jalan-jalan tertentu di Jakarta, ada joki-joki yang bisa disewa agar mobil kita bisa melintasi jalan tersebut.

Ada juga joki yang bisa menggantikan kita untuk mengerjakan soal ujian atau tes, walaupun rasanya sekarang akan terasa lebih sulit. Kalau contoh yang lebih modern, joki game tertentu juga cukup ramai. Belakangan juga ada jasa nemenin ngopi dan jalan-jalan.

Namun, alasan untuk menggunakan jasa joki-joki di atas masih terasa masuk akal. Joki 3-in-1 agar kita bisa melewati jalan yang memang harus dilewati, joki ujian biar bisa lulus ujian (tentu ini tidak dibenarkan), joki game pun karena pemainnya ingin melewati grinding yang melelahkan atau mencapai level tertentu.

Beberapa tahun lalu, mungkin Pembaca masih ingat dengan fenomena joki Strava, di mana orang akan memamerkan hasil larinya, tapi yang lari justru orang lain. Nah, joki-joki unik yang diberitahukan Jojo kepada Penulis bisa dibilang cukup membuat geleng-geleng kepala.

Penulis akan sebutkan beberapa joki tersebut: joki baca buku, joki minum kopi, hingga joki nonton konser. Penulis bahkan menemukan ada yang membuka jasa joki nonton Manchester United, tapi Penulis meyakini kalau ini hanya troll post.

Awal diskusi ini pun bermula dari Jojo yang merekomendasikan Penulis untuk menjadi joki baca buku, karena dia tahu betapa kutu bukunya Penulis. Nantinya, Penulis harus memberi banyak catatan atau menempel sticky notes agar pembayar jasa bisa terlihat pintar.

Dari tiga contoh di atas, ada kesamaan dengan joki Strava, yakni menggunakan orang lain untuk bisa mendapatkan sesuatu yang bisa dipamerkan ke orang lain, tanpa perlu melakukannya sendiri.

Mengapa Banyak Bermunculan Joki Aneh?

Contoh Joki Baca Buku (X)

Penulis dan Jojo menemukan beberapa jawaban mengapa fenomena joki “unik” ini makin menjamur. Salah satunya adalah haus akan validasi dari orang lain. Di era media sosial yang makin memudahkan kita untuk melihat kehidupan orang lain, hal ini akan makin lumrah terjadi.

Kita mungkin bisa berlogika kalau memang ingin pamer buku yang sedang dibaca, ya baca bukunya. Kalau mau pamer lagi nonton konser, ya datang ke konsernya. Hanya saja, ternyata tidak semua bisa berpikiran seperti itu. Analoginya, ingin terlihat keren tanpa benar-benar berusaha untuk keren.

Alasan lainnya adalah fear out missing out alias FOMO. Mungkin karena melihat story orang membagikan buku yang dibaca, kopi yang diminum di kafe viral, atau konser yang seru, mereka jadi ingin ikut-ikutan agar dianggap keren atau cultured juga. Kalau kata Jojo, mereka ini “kebelet aesthetic.”

Selain itu, bisa juga orang-orang sampai harus “berbohong” sampai menggunakan jasa joki adalah demi mendapatkan engagement. Seperti yang kita tahu, ketika postingan kita mendapatkan banyak likes maupun komentar, hal tersebut akan memberikan suntikan dopamin. Itulah yang dikejar oleh mereka.

Fenomena ini makin diperparah dengan adanya jasa-jasa persewaan barang seperti iPhone, tas branded, lanyard, bahkan pacar. Bedanya, seringnya barang-barang tersebut didapat demi mendapatkan validasi secara luring, sedangkan jasa joki kebanyakan untuk mendapatkan validasi secara daring.

Kalau melihat ini dari sudut pandang lain, kebutuhan validasi orang lain justru menjadi ladang uang bagi orang lain. Bagi yang jeli melihat pasar dan apa yang sedang dibutuhkan, mereka akan menyediakan jasa joki tersebut. Terbukti, ada (kalau bukan banyak) yang menggunakan jasa tersebut.

Ketika Identitas Menjadi Penuh Kepalsuan

Penulis dan Jojo sama-sama merasa ada sesuatu yang lebih berbahaya dari fenomena joki ini, yakni bagaimana identitas manusia menjadi penuh kepalsuan. Demi mendapatkan pengakuan dari orang lain, kita jadi rela untuk menipu orang lain dan diri kita sendiri.

Sampai menulis artikel ini pun Penulis masih susah untuk menerima adanya fenomena ini, bagaimana kita rela mengeluarkan uang demi mendapatkan validasi dari orang lain. Padahal, sejatinya validasi terpenting itu harus datang dari diri sendiri.

Seandainya alasan mereka sampai berbuat seperti itu adalah karena tuntutan lingkungannya, ya mungkin yang salah memang lingkungannya. Lingkungan yang tepat tidak akan menuntut kita untuk berubah menjadi orang lain dan membuat kita memaksakan diri.

Kalau memang tidak suka lari pagi, tidak suka baca buku, lambungnya tidak kuat minum kopi, atau belum punya uang untuk nonton konser, ya tidak perlu upload story. Percayalah, hidup yang tenang (dan mungkin membosankan) itu juga bisa dinikmati, kok.

Mungkin Penulis juga bisa membuka jasa “joki” sebagai tambahan pemasukan in this economy. Penulis terpikir untuk menjadi joki “pemberi validasi yang soft-spoken“. Kira-kira, apakah ada pasarnya?


Lawang, 24 Oktober 2026, terinspirasi setelah ngobrol dengan Jojo terkait fenomena joki yang semakin hari semakin aneh ini

Continue Reading

Sosial Budaya

Bahkan Hobi Baca Buku pun Tak Luput dari Nyinyiran Orang

Published

on

By

Penulis selalu mem-branding dirinya sebagai orang yang gemar membaca buku. Bukan demi pencitraan, tapi memang benar-benar hobi membaca sejak kecil. Oleh karena itu, banyak artikel review buku di blog ini. Penulis juga suka membagikan buku yang sedang dibacanya di media sosial.

Seringnya, Penulis membaca di rumah tentu saja, terutama di kamar. Akan tetapi, waktu masih tinggal di Jakarta, Penulis sering membaca buku di transportasi umum seperti Trans Jakarta dan KRL. Daripada doomscrolling mulu, lebih baik baca sesuatu yang lebih bermanfaat.

Namun, belakangan ini Penulis kerap menemukan sebuah fenomena yang terkesan nyinyir terhadap orang-orang yang suka membaca buku di ruang publik. Menurut mereka, para pembaca ini hanya ingin terlihat sok keren di mata orang lain. Benarkah demikian?

Menengok Tingkat Literasi Kita

Harusnya Jadi Budaya Kita (Ludovic Delot)

Indonesia memiliki tingkat literasi yang cukup rendah. Berdasarkan data terbaru dari skor literasi membaca PISA pada tahun 2025, kita hanya mendapatkan skor 365. Walaupun naik 6 poin, tapi kita tetap berada di peringkat 74 dari 90 negara yang berpartisipasi.

Jika menengok Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) pada bulan Maret 2026, skor kita hanya 40,6 dan tergolong rendah. Perpustakaan Nasional mengumumkan pada tahun 2025 kalau Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) nasional hanya berada di angka 54,80 atau tergolong rendah juga.

Jangan lupakan juga data dari World’s Most Literate Nations Ranked oleh Central Connecticut State University (CCSU) yang dilakukan pada Maret 2016 silam. Kita berada di peringkat 60 dari 61 negara, hanya berada di atas negara Botswana.

Data-data di atas menjelaskan bahwa kegiatan membaca memang bukan menjadi budaya kita. Bahkan di antara keluarga maupun teman Penulis, sangat sedikit orang yang menunjukkan kegemaran membaca mereka.

Hal ini makin diperparah dengan makin mahalnya harga buku. Ketika ke toko buku, Penulis kerap merasa kaget ketika melihat label harga di belakang buku. Seringnya, Penulis sampai harus menunggu ada momen diskon dari toko buku agar bisa mendapatkan bukunya dengan harga yang lebih terjangkau.

Memang, ketika ke acara pameran buku seperti Big Bad Wolf dan Semesta Buku, jumlah pengunjungnya cukup padat. Ketika Penulis ke Gramedia, pasti ada saja orang yang sedang mempertimbangkan buku mana yang akan dibeli.

Penulis mencoba untuk memperluas circle pertemanan bukunya. Belum sampai tahapan ikut sebuah komunitas, tapi sudah sering mutualan di Threads dengan orang-orang yang juga antusias membaca buku. Penulis sering meninggalkan komentar di pos-pos seputar buku.

Dari uraian di atas, kita bisa memahami kalau orang yang hobi membaca itu sudah termasuk langka. Sayangnya, justru jumlah yang sedikit tersebut masih harus kena nyinyir dari netizen yang menganggap mereka hanyalah performative reader.

Apakah Orang yang Membaca di Ruang Publik Selalu Performative Reader?

Membaca di Tempat Umum (Ahmet Kurt)

Istilah performative reader ditujukan untuk orang-orang yang kelihatannya membaca, tapi untuk tujuan agar terlihat intelektual, cultured, estetik, atau bahkan edgy. Mereka tidak benar-benar memahami apa yang dibaca, yang penting apa yang terlihat di mata orang lain.

Ada beberapa ciri dari performative reader ini, mulai hobi membawa buku tebal atau klasik ke tempat umum seperti kafe dan kereta, sering foto bukunya entah itu selfie maupun memamerkan bukunya yang jadi “warna-warni”, hingga membagikan kutipan yang dianggap keren atau related.

Fenomena ini semakin parah dengan adanya joki baca buku yang juga tak kalah ramai dibicarakan. Orang yang mau terlihat keren, tapi malas untuk menyelesaikan sebuah buku, bisa memanfaatkan jasa ini. Mereka juga akan mendapatkan berbagai foto estetik yang bisa dipamerkan ke media sosialnya.

Ada teman Penulis yang menyarankan Penulis menjajal opportunity ini, tapi Penulis menolak dengan alasan tak tega kalau harus mencoret-coret buku ataupun menempelinya dengan sticky notes. Catatan kecil Penulis tetap menjadi andalan untuk menulis semua poin penting yang Penulis temukan di buku.

Buku pun seolah hanya menjadi alat validasi bagi para performative reader ini. Mereka ingin dipandang sebagai sosok yang ini itu berdasarkan bacaan keren yang sedang mereka tunjukkan di ruang publik tanpa benar-benar memahami isi buku yang sedang dipegangnya.

Hanya saja, tidak semua orang yang membaca di tempat umum adalah performative reader. Itu adalah generalisasi yang cukup menghakimi. Bisa jadi orang tersebut memang benar-benar suka membaca. Mereka membaca di kafe karena ingin ganti suasana, mereka membaca di kereta agar waktunya bisa digunakan lebih produktif.

Hobi membaca itu sudah cukup langka, jadi jangan membuat hal tersebut semakin langka lagi. Alasan yang sama juga berlaku bagi orang-orang yang kerap menjadi “polisi” bacaan dan merendahkan bacaan orang lain, terutama buku-buku populer yang mainstream. Sudah mau membaca buku saja bagus, jangan malah dihakimi.

Penulis akan berusaha sesuai kapasitasnya untuk mendukung aktivitas membaca buku menjadi kebiasaan yang natural bagi masyarakat Indonesia. Siapa pun yang ingin meminjam buku milik Penulis, silakan, syaratnya hanya tolong kembalikan dalam kondisi yang tidak rusak!


Lawang, 20 Oktober 2026, terinspirasi setelah membaca di media sosial mengenai nyinyiran yang ditujukan kepada orang yang suka membaca buku di tempat umum

Continue Reading

Fanandi's Choice

Blog ini milik Fanandi Prima Ratriansyah sejak 2018