Connect with us

Pengalaman

Pengalaman Bertemu Isyana Sarasvati

Published

on

Pada tulisan kali ini, saya ingin sedikit bernostalgia tentang salah satu momen yang paling saya ingat seumur hidup. Peristiwa ini terjadi sekitar dua tahun yang lalu, ketika saya berfoto dan bersalaman dengan Isyana Sarasvati, ketika ia diundang oleh salah satu radio lokal dalam rangka ulang tahunnya.

***

Sebenarnya tidak ada rencana pada hari itu untuk melihat Isyana di Malang Town Square, apalagi saya bukan tipe orang yang suka menonton konser. Bahkan infonya tanpa sengaja saya ketahui dari wall Instagram. Entah karena insting ataupun kebetulan, saya mengajak teman-teman kuliah saya untuk makan di sana sekaligus melihat Isyana dengan mata kepala sendiri.

Ketika saya sampai di lokasi pukul tiga sore, sudah banyak isyanation yang berkumpul di depan panggung. Padahal, Isyana dijadwalkan tampil pada pukul 17.30. Sambil menunggu datangnya Isyana, saya dan teman-teman memilih untuk cangkruk di kafe yang ada di dekat lift. Pemilihan ini bukan tanpa sebab, karena kami memprediksi Isyana akan datang melalui lift. Mungkin akan datang kesempatan untuk selfie bersama Isyana ketika dia lewat.

Sayangnya ketika Isyana benar-benar datang, saya kurang cepat mengambil gambar sehingga gagal mendapatkan selfie tersebut. Selain itu, Isyana dikelilingi oleh tim keamanan yang melingkari dirinya. Tidak apa-apa, masih ada kesempatan selfie di depan panggung.

Sembari menikmati penampilan Isyana yang sore itu membawakan empat buah lagunya (Mimpi, Kau Adalah, Keep Being You dan Tetap Dalam Jiwa), saya berusaha mengambil selfie dari berbagai sudut, mulai dari sudut kiri, tengah hingga kanan. Namun karena tingginya animo penonton, saya hanya bisa berusaha selfie dari jauh. Bisa ditebak, sangat sulit menangkap wajah Isyana di kamera.

Isyana dari Kejauhan (Foto Istimewa)

Kami memutuskan untuk pindah ke sisi panggung dekat eskalator. Lebih jelas, namun tetap saja wajah Isyana belum tertangkap. Oleh karena itu, kami akhirnya mencoba untuk pindah ke belakang panggung. Karena hanya berjarak sekitar 5 meter, disinilah wajah Isyana mulai terlihat jelas meskipun lebih sering memunggungi kami.

Sosok Isyana dari Belakang Panggung (Foto Istimewa)

Setelah lagu terakhir, MC mengatakan bahwa ada sesi meet and greet di lantai paling bawah. Tentu para isyanation yang berada di depan panggung langsung berteriak histeris mendengar kabar tersebut. Sontak saja begitu Isyana turun panggung, semua penonton langsung berhamburan ke eskalator.

Dengan alasan keamanan, kami memilih untuk turun ketika suasana sudah agak tenang. Selain itu, waktu itu sudah waktunya untuk Sholat Maghrib. Maka dari itu, daripada rebutan di bawah, lebih baik menunaikan ibadah sholat terlebih dahulu.

Setelah sholat, kami menuju supermarket yang juga terletak di lantai terbawah. Sudah banyak yang menunggu di depan supermarket, karena belum tahu dimana lokasi meet and greet. Melalui temannya teman saya, diketahui bahwa sesi meet and greet akan diadakan di dalam supermarket ini. Artinya, pilihan kami untuk menuju supermarket ini sudah tepat.

Tidak lama kemudian, datanglah Isyana Sarasvati lengkap dengan fansnya yang membuntuti di belakang. Karena itu kami, yang pada saat itu berada di depan mereka, memilih untuk mundur agak ke belakang agar mereka dapat lewat. Setelah lewat, barulah kami mengikuti mereka dan sekali lagi kami harus melihat Isyana dari kejauhan. Namun setidaknya, jumlah Isyanation disini tidak sebanyak di panggung tadi, sehingga wajah Isyana dapat terlihat dengan jelas.

Suasana Meet and Greet (Foto Istimewa)

Setelah bercakap-cakap dengan beberapa orang, diketahui bahwa syarat bisa berfoto dengan Isyana adalah dengan membeli produk sponsor seharga 50 ribu rupiah. Nantinya, nota pembelian dapat ditukar dengan kupon antrian untuk berfoto dengan Isyana. Tentu bukan jumlah yang kecil, namun karena penasaran saya mencoba untuk menghampiri gerai produk sponsor tersebut.

Apesnya, mbak-mbak yang menjaga stand mengatakan bahwa pembelian produk sudah closed, sudah tidak bisa dibeli lagi. Dengan sedikit kecewa, saya kembali ke spot semula, di belakang para isyanation. Selang beberapa waktu kemudian, saya mencoba lagi dan ternyata kali ini bisa. Langsung saja saya mengambil sembarang produk, membayarnya ke kasir dan sedikit berlari karena takut kehabisan kupon. Benar saja, waktu ingin menukarkan nota pembelian, mbak-mbak tersebut berkata kuponnya sudah habis.

Tentu ada perasaan jengkel. Bahkan ada orang di belakang saya yang berbisik-bisik bahwa ini sudah merupakan tidakan penipuan. Saya berusaha tetap santai sambil menikmati Isyana bercakap-cakap dengan MC. Tak lama kemudian ada lagi orang yang ingin menukarkan notanya. Akhirnya mbak-mbak tersebut memberi kompensasi dengan memberikan album Isyana yang berjudul Explore!. Ada keinginan saya untuk ikut menukarkannya, namun ada sesuatu di dalam hati, seperti bisikan yang berkata “jangan”. Maka, saya urungkan niat tersebut.

Akhirnya, para pemegang kupon pun dipanggil satu persatu. Nomer satu dipanggil, nomer dua dipanggil dan seterusnya. Saya tetap berdiri di gerai produk sponsor tersebut sambil melihat rona-rona bahagia yang terpancarkan dari wajah-wajah mereka.

Lantas datanglah keajaiban tersebut. Dari jauh datanglah seorang mbak-mbak produk sponsor membawa segenggam kupon. Lalu dengan gerakan secepat kilat mbak-mbak lain yang berdiri di samping saya mengambil nota milik saya dan langsung memberikan kupon untuk berfoto dengan Isyana.

Nomer 46, nomernya Valentino Rossi. Padahal, sebelumnya saya telah melihat kupon nomer 99 dibagikan. Mungkin ini kupon yang tertinggal, sehingga tidak terbagikan. Mungkin ini rejeki karena kesabaran saya.

MC sudah menyebutkan nomer 40, maka saya pun maju ke belakang panggung untuk ikut antri. Dan begitu nomer 46 disebutkan, TARAA! Saya pun berhasil foto bareng Isyana Sarasvati. Ditambah dapat albumnya pula, album yang oleh beberapa pengunjung diperoleh dengan menukarkan nota belanjanya. Dengan perasaan puas karena berhasil foto ditambah bersalaman -walaupun hanya mendapat ujung tangannya Isyana-, saya mengajak teman-teman untuk pulang ke rumah.

***

Sebelum saya melihat Isyana dan menyentuhnya secara langung, saya tidak terlalu suka mendengarkan lagu-lagunya. Setelah mendapatkan CD aslinya, lama kelamaan saya menemukan kecocokan pada musik yang Isyana gubah. Saya yang pada dasarnya kurang menyukai lagu lokal, bisa menikmati lagu-lagunya. Mungkin pertemuan tersebut memiliki andil dalam hal ini.

Saya masih sering mengingat momen ini ketika mendengarkan lagu-lagu Isyana. Hal yang membuat peristiwa ini sangat berkesan adalah banyaknya pelajaran yang saya petik. Misalnya saja, kejadian tersebut membuktikan bahwa kesabaran akan selalu berbuah manis. Selain itu, dengan keyakinan, usaha, doa, dan tawakal, kita bisa mencapai apapun yang kita inginkan. Mengambil kesempatan yang terlihat juga menjadi pelajaran yang sangat berharga untuk saya. Terakhir dan yang paling penting adalah, jangan pernah tinggalkan sholatmu meskipun ada sesuatu yang sangat sayang untuk dilewatkan. Jika kita ditakdirkan untuk meraih tersebut, yakinlah kita akan mendapatkannya.

 

 

Lawang, 25 Januari 2018, setelah mengantar Ibu tahlilan di Malang

 

Pengalaman

whatheFAN Punya Logo Baru di Tahun 2026 Ini

Published

on

By

Sama seperti tahun 2025 kemarin, tulisan pertama whatheFAN di tahun 2026 juga baru ditulis pada bulan Februari. Karena berbagai macam hal, menulis di blog ini belakangan justru menjadi beban bagi Penulis.

Penulis belum menghitung jumlah pasti berapa artikel yang ditulis sepanjang tahun 2025, tapi yang jelas tahun tersebut menjadi tahun terseret sejak blog ini dibuat pada tahun 2018.

Menyadari hal tersebut, tentu Penulis berusaha untuk mencari jalan keluar agar dirinya bisa kembali semangat menulis di blog. Jalan pertama yang Penulis ambil di awal tahun ini adalah memutuskan untuk mengganti logo whatheFAN.

Perubahan dari Whathefan! menjadi whatheFAN

Ketika pertama kali membuat blog ini, Penulis menuliskannya sebagai Whathefan!, dengan huruf kapital di huruf W dan tanda seru di akhir. Dulu, alasannya adalah karena nama tersebut seperti seruan terkejut dalam konotasi positif.

Kini, penulis memutuskan untuk melakukan sedikit rebranding. dengan mengubahnya menjadi huruf kecil semua di kata “whathe” dan kapital semua untuk kata “FAN”. Penulis juga menghilangkan tanda seru di akhir nama.

Makna dari perubahan ini adalah Penulis ingin kembali ke akar mengapa Penulis membuat blog ini, yakni sebagai wadahnya untuk menuangkan semua isi pikirannya sesuai dengan tagline yang diusung sejak awal.

Apa yang terpikir, apa yang tertuang

Salah satu alasan mengapa kegiatan menulis blog terasa menjadi beban adalah karena ekspektasi Penulis sendiri harus membuat tulisan sebagus dan sesempurna mungkin untuk Pembaca. Orientasinya jadi bergeser ke orang lain, bukan diri sendiri.

Oleh karena itu, penekanan kata “FAN” di logo adalah simbol untuk kembali berfokus kepada diri sendiri. Menulis di blog ini harus menjadi aktivitas yang menyenangkan untuk Penulis, mong namanya juga hobi.

Makna Pergantian Logo whathefan

Penekanan kata “FAN” bukan hanya dari perbedaan jenis font, tapi juga pemilihan warna. Untuk kata “whathe”, Penulis menggunakan warna abu-abu (#d1d1d1) dan warna putih (#ffffff) untuk kata “FAN”.

Waktu membuat logo lama, Penulis hanya memilih satu font, yakni Stereofidelic dengan alasan terkesan seru dan asyik. Tak ada proses desain rumit, Penulis hanya menulis kata Whathefan! menggunakan font tersebut.

Nah, di logo baru ini Penulis menggunakan dua font yang berbeda, yakni Alice (Serif) untuk “whathe” dan Montserrat Bold (Sans Serif) untuk “FAN”. Dua jenis font ini cukup kontras dan Penulis anggap bisa melambangkan penekanan ke diri sendiri.

Awalnya, Penulis hendak menggunakan full Montserrat Bold dan italic untuk logo baru. Warna identitas hitam (#000000) juga berubah jadi merah (#9e0b0f) dan ada tambahan garis di bawah kata “FAN” sebagai penambahan penekanan.

Hanya saja, ketika dilihat-lihat, logo tersebut justru terlihat seperti logo Simpati atau Supreme versi KW. Ketika melakukan jajak pendapat singkat, logo tersebut juga dianggap jelek. Alhasil, Penulis pun mengubah desain logo tersebut menjadi seperti yang terlihat sekarang.

Logo Baru yang Batal Digunakan

Sebagai tambahan, bentuk font untuk isi artikel pun Penulis ubah ke Montserrat agar ada konsistensi. Semoga saja bentuk font ini bisa lebih nyaman untuk mata para Pembaca sekalian.

Logo Baru, Harapan Baru

Salah satu resolusi tahunan Penulis adalah semakin konsisten dalam menulis blog. Sayangnya resolusi tersebut sering berakhir gagal dan jumlah artikel tiap tahun justru mengalami penurunan yang menyedihkan.

Mengganti nama dan logo yang telah digunakan selama delapan tahun terakhir merupakan upaya Penulis untuk kembali membangkitkan semangat menulis blog seperti dulu lagi.

Anggap saja ini proses reset dan memulai lembaran baru, walau sebenarnya ya enggak baru-baru amat karena artikel-artikel lama juga masih ada. Mengingat Penulis sudah membuat 1.000 lebih artikel, ini adalah titik awal untuk 1.000 artikel selanjutnya.

Selain itu, Penulis juga ingin kembali membangkitkan akun Instagram blog ini yang sudah lama mati suri. Penulis ingin membuatnya sesederhana mungkin agar tidak menjadi beban baru. Tidak perlu CTA biar mampir ke blog ini, hanya versi yang lebih singkat saja.

Semoga saja harapan baru bersamaan dengan logo baru ini bisa membuat Penulis bisa kembali konsisten menulis di tahun 2026.


Lawang, 17 Februari 2026, terinspirasi setelah Penulis memutuskan untuk mengganti logo whathefan di tahun 2026 ini

Continue Reading

Pengalaman

Ketika Hobi Menulis Blog Justru Terasa Menjadi Beban

Published

on

By

Melalui tulisan “Pada Akhirnya Hidup Kita Harus Tetap Berjalan”, Penulis telah mengungkapkan beberapa alasan mengapa dirinya makin ke sini makin jarang menulis. Saat itu, Penulis masih bertanya-tanya apa alasan di balik hal tersebut.

Karena merasa tidak ada perkembangan sejak tulisan itu diterbitkan, Penulis pun memutuskan untuk melakukan kontemplasi demi menemukan akar permasalahannya. Blog ini berharga bagi Penulis, sehingga membiarkannya terbengkalai meninggalkan perasaan bersalah.

Setelah direnungkan, Penulis merasa menemukan beberapa jawaban yang paling masuk akal, sehingga bisa menentukan langkah-langkah apa yang harus diambil agar rutinitas menulis blog bisa kembali menjadi hobi yang menyenangkan.

Alasan Mengapa Menulis Blog Malah Menjadi Beban

Harusnya Menjadi Aktivitas yang Menyenangkan (George Milton)

Dalam tulisan sebelumnya, Penulis setidaknya menuliskan ada tiga alasan mengapa produksi artikel blog menjadi seret selama lima bulan terakhir: sedang ada banyak masalah, rasa malas, hingga merasa jenuh. Mari kita berangkat dari sana.

Namanya hidup, tentu saja kita akan selalu menjumpai permasalahan. Terkadang bisa diselesaikan dengan cepat, terkadang membutuhkan waktu lebih panjang. Yang paling penting adalah bagaimana respons kita terhadap masalah tersebut.

Dalam kasus ini, Penulis sering merasa kalau rasa malas di dalam diri ini menggunakan permasalahan tersebut sebagai justifikasi untuk tidak menulis blog. Padahal aslinya memang malas saja, tapi mencari berbagai pembenaran agar tidak merasa bersalah.

Oke, rasa malas memang bisa dilawan, tapi bagaimana dengan perasaan jenuh menulis? Sebagai seorang editor, membaca dan menulis telah menjadi rutinitas harian. Ribuan kata harus dicek dan diolah setiap harinya, sehingga wajar jika menimbulkan rasa jenuh.

Namun, apa yang Penulis bahas di blog ini dan apa yang dibahas di tempat kerja memiliki niche yang berbeda. Memang ada beberapa kategori yang bersinggungan, tapi angle yang digunakan jelas berbeda.

Justru, menulis di blog ini menjadi tempat agar gaya menulis Penulis tetap terasah dan tidak terpaku pada gaya penulisan industri. Apalagi, menulis adalah salah satu cara untuk menuangkan apa yang ada di pikirannya untuk mengurangi gejala overthinking.

Setelah menganalisis tiga alasan tersebut, apakah masih ada alasan lain yang membuat menulis blog menjadi memberatkan? Ada beberapa yang berhasil Penulis temukan setelah melakukan kontemplasi.

Alasan pertama, Penulis jadi terbebani dengan banyaknya ide artikel yang belum ditulis. Di Notion Penulis, ada puluhan ide artikel yang sampai saat ini belum dieksekusi hingga akhirnya Penulis sudah mulai lupa apa yang ingin dibahas dari ide tersebut.

Idealnya, sesuai tagline blog ini, sebuah ide harus segera dikerjakan begitu terpikirkan. Kenyataannya, karena sering menunda, ide tersebut malah menjadi usang. Mood untuk menulis ide tersebut pun menjadi hilang dan akhirnya malah jadi terbengkalai.

Alasan kedua, Penulis merasa terbebani dengan artikel-artikel yang membutuhkan riset lebih. Belakangan ini, Penulis merasa berkewajiban membuat artikel yang mendalam. Padahal, blog ini harusnya menjadi wadah bagi Penulis untuk menuangkan isi kepalanya.

Bisa jadi, Penulis terlalu berfokus bagaimana tulisan di blog ini bisa sampai ke Pembaca. Penulis sampai lupa kalau seharusnya blog ini menjadi alatnya untuk menuangkan apa yang sedang ada di pikirannya.

Alasan ketiga, pembuatan konten media sosial yang terkadang menimbulkan rasa malas untuk menulis. Meskipun pembuatannya hanya membutuhkan beberapa menit, entah mengapa membuat konten media sosial untuk artikel di blog ini memicu rasa mager.

Padahal, konten media sosial yang Penulis buat hanyalah sebuah Story dengan beberapa kalimat caption. Penulis tidak membuat video ataupun long carousel. Mungkin memang pada dasarnya malas saja.

Langkah Apa yang Diambil Setelah Memahami Akar Permasalahannya

Mencoba Lebih Spontan (Andrea Piacquadio)

Setelah menemukan beberapa akar permasalahan dari seretnya produksi blog ini, saatnya fokus ke solusi. Ada beberapa langkah yang akan Penulis ambil, dengan harapan menulis artikel bisa kembali menjadi hobi yang refreshing dan menyenangkan.

Pertama, menghilangkan penjadwalan artikel. Penulis ingin kembali seperti dulu, di mana setiap harinya murni spontan (uhuy!) mengenai artikel apa yang ingin ditulis. Bank ide di Notion tetap ada, untuk jaga-jaga jika hari itu blank tidak tahu ingin menulis apa.

Pencatatan progres yang dilakukan Notion mungkin tetap ada, tapi sifatnya lebih ke dokumentasi saja. Bagi Penulis, melihat berapa banyak artikel yang telah ditulis atau berapa panjang streak yang berhasil dilakukan berhasil menimbulkan dopamin.

Mungkin ada beberapa artikel yang harus tetap dijadwal, seperti artikel-artikel review buku dan board game yang telah menjadi rubrik mingguan. Bedanya, Penulis tidak akan menulis urut sesuai dengan buku mana yang telah selesai dibaca duluan.

Kedua, segera menulis ide tulisan yang terlintas di pikiran. Penulis harus membuang konsep “First In First Out” di mana ide yang lebih lama harus ditulis terlebih dahulu. Penulis harus mendahulukan apa yang ingin ditulis, bukan apa yang harus ditulis.

Ketiga, menghindari artikel-artikel berat yang butuh riset lebih panjang. Ada banyak artikel di daftar ide yang butuh riset lebih mendalam, dan jujur saja itu menimbulkan rasa malas. Blog ini harus kembali ke akarnya, tempat menuangkan isi kepala.

Memang secara kualitas mungkin akan berkurang, tapi salah satu resolusi Penulis di tahun 2025 adalah mendahulukan diri sendiri dulu. Buat apa menulis jika hanya membebani diri sendiri? Lagipula, ini adalah blog milik Penulis.

Keempat, melakukan reset. Saat ini, sudah banyak artikel yang Penulis jadwalkan untuk ditulis. Semuanya akan Penulis reset dari awal, kembali ke bank ide. Penulis ingin bertanya “mau nulis apa hari ini?” setiap membuka laptopnya.

Kelima, memperbaiki pola hidup yang sedang berantakan. Alasan lain yang belum disebutkan di atas adalah pola hidup Penulis yang sedang berantakan. Akibatnya, waktu untuk menulis blog juga menjadi tidak teratur.

Idealnya, Penulis berharap bisa menulis blog di pagi hari sebelum jam kerja. Menulis blog memakan waktu antara 1-2 jam, jadi bisa dimulai pukul 7 pagi setelah melakukan rutinitas pagi. Untuk itu, Penulis harus memperbaiki jam tidurnya dan menghilangkan insomnianya.

Menulis di malam hari hanya menjadi opsi apabila dalam kondisi darurat, karena biasanya tubuh dan pikiran ini sudah merasa lelah. Lagipula, malam hari harusnya digunakan untuk bersantai dan menyiapkan diri untuk beraktivitas keesokan harinya.

Keenam, membuat konten media sosial terlebih dahulu sebelum menulis artikelnya. Penulis adalah tipe orang yang mengerjakan task tersulit terlebih dahulu. Karena membuat konten media sosial terasa yang paling berat, maka Penulis akan mendahulukannya.

Enam langkah itulah yang akan Penulis terapkan mulai hari ini, dimulai dari artikel ini. Semoga setelah menulis artikel ini, Penulis bisa kembali rutin menulis blog dengan perasaan senang, bukan terbebani.

Jika setelah artikel ini terbit Penulis masih jarang menulis lagi, entah apa lagi yang harus dilakukan…


Lawang, 20 Mei 2025, terinspirasi setelah merasa perlu ada perubahan agar aktivitas menulis blog tidak terasa menjadi beban

Foto Featured Image: Ivan Samkov

Continue Reading

Pengalaman

Pada Akhirnya Hidup Kita Harus Tetap Berjalan

Published

on

By

Dalam empat bulan terakhir, atau sejak masuk tahun 2025, Penulis mengakui kalau sedang banyak masalah, yang kebanyakan hanya ada di pikiran. Hal tersebut membuat produktivitas menulis blog ini terasa mandek, dengan jumlah produksi artikel berkurang drastis.

Pada bulan Desember, masih lumayan ada tujuh tulisan yang terbit, sebelum di bulan Januari benar-benar tidak ada tulisan yang tayang. Februari ada satu tulisan, yang mirisnya merupakan tulisan pertama di tahun 2025. Di Maret setidaknya ada empat tulisan.

Blog ini, yang harusnya menjadi tempat menyalurkan hobi, justru belakangan terasa menjadi beban. Ada puluhan ide artikel yang tertumpuk begitu saja tanpa pernah dieksekusi. Ada belasan buku yang menanti untuk diulas, hingga lupa apa yang harus diulas.

Berhenti Menulis karena Rasa Malas?

Setiap merasa harus memutus lingkaran ini dan mulai kembali rutin menulis, keinginan tersebut terputus hanya setelah maksimal dua tulisan. Setelah itu kembali menghilang hingga waktu yang tidak ditentukan.

Apakah permasalahan yang Penulis sebutkan di atas hanya merupakan alibi untuk menutupi alasan sebenarnya dari berhentinya Penulis menulis, yaitu rasa malas? Bisa jadi. Namun, rasa malas bisa muncul dengan sebab, seperti kepala yang rasanya penuh sekali.

Ketika pikiran suntuk dan dengan “liarnya” mengembara ke sana kemari, itu sangat memengaruhi mood. Sekali lagi, menulis yang harusnya jadi aktivitas menyenangkan justru menjadi momok yang menakutkan.

Apakah rasa malas ini muncul karena di tempat kerja Penulis juga menulis? Bisa jadi, karena tentu itu memunculkan rasa jenuh. Mau sebagus apapun idenya, butuh tekad yang kuat untuk bisa mengeksekusinya, dan tekad itu bisa luntur karena rasa jenuh.

Apakah rasa malas ini muncul karena Penulis kesulitan mengatur waktunya? Bisa jadi, karena waktu yang dimiliki dalam 24 jam digunakan untuk aktivitas lainnya. Jujur, kebanyakan bukan aktivitas produktif sebagai pelarian dari masalah yang ada di kepala.

Lantas, apakah rasa malas ini bisa jadi pembenaran untuk berhentinya produksi blog ini? Entahlah, Penulis merasa dirinya terbagi menjadi dua. Satu menjustifikasi rasa malas tersebut karena memang sedang banyak pikiran, yang satu merutuk diri karena kontrol diri yang lemah.

Apakah produksi artikel di blog ini bisa kembali normal jika masalah-masalah yang ada di pikiran itu terselesaikan? Sekali lagi, entahlah. Bisa jadi berhentinya produksi artikel tersebut memang murni karena rasa malas saja, lalu mencari-cari justifikasi yang paling terlihat elegan.

Menyadari Kita Harus Tetap Berjalan

Saat menulis artikel ini, justru masalah-masalah di kepala tengah berada di klimaksnya. Tentu aneh, mengapa ketika berada di puncak permasalahannya Penulis justru akhirnya memutuskan untuk menulis lagi setelah sekian lama.

Mungkin, karena sudah berada di klimaksnya, Penulis menyadari bahwa setelah ini jalannya akan melandai, menurun. Permasalahan, apapun bentuknya, pasti akan selesai. Semua itu hanya sementara, tidak akan terjadi selamanya.

Mungkin, karena pada akhirnya Penulis menyadari bahwa hidup harus tetap berjalan. Yang namanya berjalan, tentu tak pernah selalu mulus. Pasti beberapa kali kita akan menemukan jalan yang rusak, gronjalan, kubangan lumpur, dan masih banyak lagi lainnya.

Namun, pada akhirnya kita tetap melanjutkan perjalanan. Memang kita jadi kotor, mungkin ada luka juga, tapi itu adalah “harga” yang harus dibayar untuk mencapai tujuan. Demi tujuan itulah kita terus berjalan.

Lantas, apa tujuan yang sedang Penulis tuju sekarang? Penulis tidak akan menuliskannya di sini, tapi yang jelas, untuk mencapai tujuan tersebut, bisa mendisiplinkan diri untuk konsisten menulis artikel di blog ini adalah salah satu jalan yang harus Penulis tempuh.

Untuk itulah, Penulis akhirnya memutuskan untuk menulis artikel ini, yang mungkin secara bobot tidak ada bobotnya, lebih sekadar gerutuan karena insomnia datang menyerang. Setidaknya, ini adalah upaya nyata Penulis untuk kembali ke jalan yang benar.

Entah cara apa yang akan Penulis lakukan agar aktivitas menulis blog ini menjadi kembali menyenangkan dan membuat Penulis bersemangat, bahkan ketika isi pikirannya penuh dengan masalah. Sambil berjalan, Penulis akan berusaha menemukan jawabannya.


Lawang, 8 April 2025, terinspirasi karena insomnia karena berbagai masalah yang ada di pikirannya

Foto Featured Image: Tobi via Pexels

Continue Reading

Facebook

Tag

Fanandi's Choice

Blog ini milik Fanandi Prima Ratriansyah sejak 2018