Permainan
Koleksi Board Game #4: Carcassonne
Seperti yang sudah pernah Penulis singgung di tulisan sebelumnya, Catan adalah pemicu yang membuat dirinya akhirnya memutuskan untuk terjun ke hobi board game. Padahal, board game tersebut bisa dibilang termasuk salah satu yang klasik.
Oleh karena itu, board game yang Penulis target selanjutnya adalah tipe-tipe board game serupa. Klasik dan wajib dikoleksi oleh pemula. Setelah melakukan riset, akhirnya Penulis memutuskan untuk membeli Carcassonne dengan harga Rp645.000.
Dirilis pada tahun 2000, Carcassonne buatan Klaus-Jürgen Wrede ini diambil namanya dari sebuah daerah di Prancis Selatan. Mengusung gaya ala-ala kerajaan kuno, apakah board game ini mampu menyaingi keseruan Catan?
Detail Board Game
- Judul: Carcassonne
- Desainer: Klaus-Jürgen Wrede
- Publisher: Z-Man Games
- Tahun Rilis: 2000
- Jumlah Pemain: 2 – 5 pemain
- Waktu Bermain: 30 – 45 menit
- Rating BGG: 7.4
- Tingkat Kesulitan: 1.90/5
Cara Bermain Carcassonne
Jika dibandingkan dengan harganya yang lumayan, komponen yang dimiliki oleh Carcassonne bisa dibilang “minimalis”. Bahkan, kotaknya terasa kosong karena isinya benar-benar sedikit, sehingga seharusnya bisa di-packing lebih ringkas lagi.
Carcassonne terdiri dari banyak tile yang bervariasi, meeple sebagai pion pemain, papan skor, dan buku panduan. Jujur saja, Penulis sempat terkejut karena rasanya board game ini kurang worth it dengan isinya.
Edisi yang Penulis beli sudah termasuk mini expansion berupa “The River” dan “The Abbot“. Ekspansi The River berisi tile di mana para pemain harus menyambungkan sungai dari hulu ke hilir, sedangkan Priest merupakan pion tambahan yang memiliki fungsi khusus.
Objektif utama dari Carcassonne adalah memiliki poin terbanyak di akhir permainan, yang berakhir jika semua tile telah terpasang. Setiap putaran, pemain akan menarik satu tile secara acak dan menyambungkannya dengan tile yang sudah ada di arena.
Setelah itu, pemain memiliki opsi untuk menaruh salah satu meeple-nya untuk mengklaim 1 sampai 3 pilihan yang tersedia di tile tersebut, yakni “Jalan“, “Kerajaan“, dan “Gereja“. Masing-masing akan bernilai poin yang berbeda.
Jalan memiliki satu poin untuk setiap tile jalan yang tersambung, Kerajaan memiliki dua poin untuk setiap tile ditambah dua jika ada simbol perisai, dan Gereja bernilai satu poin untuk setiap tile yang mengelilinginya.
Nah, ketika apa yang kita klaim sudah selesai, kita bisa menarik meeple kita kembali untuk meletakkannya di putaran selanjutnya. Masing-masing memiliki cara yang berbeda untuk menentukan apakah yang kita klaim sudah selesai atau belum.
Jalan akan dianggap selesai jika ujung ketemu ujung (biasanya akan digambarkan dengan gambar rumah atau kerajaan), Kerajaan akan selesai jika semua temboknya telah tertutup dengan sempurna, dan Gereja akan selesai jika telah dikelilingi 8 tiles.
Apa jadinya jika apa yang sudah diklaim ternyata tidak selesai sampai akhir permainan? Tenang, karena masih akan dihitung sebagai poin. Masing-masing akan bernilai satu poin untuk setiap tile yang tidak selesai tersebut.
Sampai di sini mungkin belum terdengar seru. Itu mungkin memang benar, karena peraturan board game ini meminimalisir hal tersebut. Kita tidak bisa mengklaim Jalan, Kerajaan, atau Gereja yang sudah diklaim orang lain.
Satu-satunya cara merebut milik orang lain adalah dengan melakukan klaim terhadap tile orang lain secara tidak langsung. Artinya, tile yang akan kita klain tidak langsung bersisian secara langsung. Biasanya, posisinya akan serong.
Nah, war akan terjadi jika tile yang awalnya tidak tersambung tersebut menjadi tersambung. Pemain dengan jumlah meeple terbanyak di Jalan/Kerajaan tersebut yang akan mendapatkan poinnya. Jika seri, maka keduanya akan mendapatkan poinnya.
Selanjutnya Penulis akan membahas mengenai The Abbot. Meeple spesial ini akan membuat pemain dapat menariknya dari Gereja tanpa perlu menunggu selesai. Selain itu, The Abbot juga bisa diletakkan di Taman dengan peraturan yang sama dengan Gereja.
Ada juga peraturan tambahan, yakni Petani. Pemain bisa meletakkan meeple di lahan kosong dengan posisi tidur. Meeple dengan kondisi ini disebut Petani, dan ia tidak akan bisa ditarik hingga akhir permainan.
Lantas, apa fungsinya? Ia akan memberikan nilai kepada pemain berupa dua poin untuk setiap Kerajaan yang jadi di area lahan yang ia kuasai. Ini bisa menjadi sumber poin yang cukup besar dan menentukan pemenang di akhir permainan.
Setelah Bermain Carcassonne

Sebenarnya Carcassonne adalah board game yang cukup seru. Terkesan sederhana, tetapi ternyata membutuhkan perhitungan dan keberuntungan yang cukup besar untuk bisa memenangkannya.
Hanya saja, board game ini Penulis beli di waktu yang salah. Karena Catan sedemikian serunya, Carcassonne jadi terkesan “terbanting” dan kurang diminati. Apalagi, harganya yang cukup mahal tidak sebanding dengan isi yang kita dapatkan.
Walaupun begitu, Penulis tetap bisa menikmati board game yang satu ini. Penulis begitu kagum dengan desainnya di mana tile-tile yang dimiliki selalu bisa tersambung dengan tile yang sudah ada di arena. Mirip dengan board game Saboteur.
Sistem perhitungannya bisa dibilang live, sehingga kita bisa mengetahui siapa yang sedang unggul. Namun, karena klaim yang tidak selesai juga bernilai poin, terkadang ada epic comeback yang tidak terduga.
Selain itu, karena tile-nya acak, bisa dibilang replaybility Carcassonne cukup bagus. Tidak akan ada permainan yang sama karena probabilitasnya cukup tinggi. Apalagi, bagi Penulis aktivitas menyambungkan tile di sini cukup menyenangkan.
Setelah memiliki Carcassonne, tentu Penulis mulai berburu lagi untuk menambah koleksinya. Entah mengapa waktu itu Penulis menginginkan sebuah board game yang memiliki unsur kartu, karena pada dasarnya Penulis menyukai TCG.
Lantas, Penulis pun menemukan sebuah board game bernama 7 Wonders. Hanya saja, untuk sebuah board game kartu, harganya cukup mahal, yaitu Rp800 ribu. Namun, sebuah “keajaiban” datang sehingga Penulis bisa memilikinya dengan separuh harga!
Selanjutnya -> 7 Wonders 1st Edition
Lawang, 12 April 2023, terinspirasi karena ingin melanjutkan seri board game di blog ini
Permainan
Koleksi Board Game #36: Waroong Wars (3rd Edition)
Jumlah koleksi board game lokal Penulis sebenarnya tidak terlalu banyak. Sampai artikel Camel Up: The Card Game kemarin, baru ada satu board game lokal yang Penulis miliki, yakni Kakartu Sekata.
Karena merasa harusnya punya lebih banyak lagi koleksi board game lokal, Penulis pun akhirnya memutuskan untuk membeli Waroong Wars 3rd Edition. Teman Penulis memilikinya (walau lupa edisi berapa), jadi Penulis pernah memainkannya.
Apalagi, harganya juga relatif terjangkau jika dibandingkan dengan board game luar yang harus diimpor ke sini. Hanya saja, Penulis sangat jarang menang dan hampir selalu kalah dari satu orang yang sama!
Detail Board Game Waroong Wars (3rd Edition)
- Judul: Waroong Wars (3rd Edition)
- Desainer: Wikan Prabowo, Aditya Pradana, David Santoso, Adhicipta R. Wirawan
- Publisher: Tabletoys (3rd Edition)
- Tahun Rilis: 2015 (1st Edition)
- Jumlah Pemain: 3 – 5 pemain
- Waktu Bermain: 20 – 40 menit
- Rating BGG: 7.0
- Tingkat Kesulitan: 1,38/5
- Harga: Rp135.000
Cara Bermain Waroong Wars (3rd Edition)

Objektif: Kumpulkan poin tertinggi dengan memasak kartu Menu dan mengumpulkan kartu Pelanggan
Komponen:
- 39 Kartu Bahan
- 36 Kartu Menu
- 36 Kartu Pelanggan
- 5 Kartu “Go Boy!”
- 20 Token Poin Ekstra
- 1 Token First Player
- 5 Kartu Karakter
Waroong Wars adalah board game bertema card drafting dan hand management. Pemain akan mengumpulkan bahan-bahan untuk bisa “memasak” kartu Menu yang tersedia di arena permainan. Akan ada enam Menu yang selalu tersedia untuk dimasak.
Setiap putaran akan ada tiga fase, yakni Fase Belanja, Fase Memasak, dan Fase Istirahat. Di Fase Belanja, pemain akan mendapatkan enam kartu Bahan dan memilih satu untuk disimpan. Setelah itu, serahkan sisa kartu ke pemain di sebelah kiri (kita akan mendapatkan set kartu baru dari pemain di sebelah kanan kita). Mekanik ini mirip dengan 7 Wonders.
Ada tujuh jenis Bahan yang ada di permainan ini, yakni Daging, Sayur, Beras, Bumbu, Tahu, Kerupuk (tambahan), dan Sambal (tambahan). Setiap Menu membutuhkan setidaknya salah satu dari Bahan tersebut. Satu Menu bahkan membutuhkan lebih dari satu Bahan yang sama.
Setelah pemain mendapatkan enam Bahan dari Fase Belanja, pemain akan memasuki Fase Memasak. Pemain pertama akan menukarkan kartu-kartu Bahan yang dimiliki untuk memilih satu kartu Menu selama semua syarat Bahan-nya terpenuhi.
Sebagai informasi, makanan-makanan yang terpampang di kartu Menu adalah makanan khas Surabaya. Setiap kartu Menu memiliki poin. Semakin banyak Bahan yang dibutuhkan, semakin tinggi pula skornya. Beberapa Menu bisa dilengkapi dengan Kerupuk atau Sambal untuk tambahan poin.
Setiap berhasil memasak, pemain akan mendapatkan kartu Pelanggan yang memiliki berbagai macam efek. Kartu Pelanggan ini bisa digunakan kapan saja ketika memasuki Fase Memasak. Ada yang efeknya menambah poin akhir, ada yang bisa jadi tambahan bahan, bahkan ada yang mencuri kartu lawan.
Fase terakhir adalah Istirahat. Semua kartu Bahan yang telah digunakan dikumpulkan kembali dan dikocok menjadi satu deck baru. Geser token First Player ke pemain selanjutnya. Untuk pemain yang tidak memasak sama sekali akan mendapatkan kartu Go Boy!, yang bisa digunakan untuk menggantikan kartu Bahan apa pun (kecuali bahan tambahan).
Permainan akan terus berlangsung hingga kartu Menu terakhir di deck telah terbuka. Selesaikan ronde terakhir, lalu hitung total poin yang berhasil didapatkan oleh semua pemain. Pemain dengan skor tertinggi akan keluar sebagai pemenang.
Sebagai tambahan, ada kartu Karakter (beda dengan kartu Pelanggan) yang memiliki efeknya masing-masing. Kartu Karakter ini sifatnya opsional dan tidak wajib digunakan.
Setelah Bermain Waroong Wars (3rd Edition)

Seringnya, board game lokal memiliki kompleksitas yang rendah. Hal tersebut bisa menjadi kelebihan sekaligus kekurangan. Bagus karena bisa dimainkan dengan banyak orang dan mudah diajarkan, kurang menantang untuk pemain board game kelas berat.
Waroong Wars sangat mudah untuk diajarkan kepada orang lain, baik anak-anak maupun orang tua. Salah satu tantangannya adalah daya ingat, karena kita tidak diizinkan untuk melihat kembali kartu Bahan yang sudah kita pilih. Jadi, sering terjadi bahan yang kita kira belum punya, ternyata sudah kita simpan.
Elemen keberuntungan juga terlibat di sini, karena kita tidak tahu kartu apa yang akan kita terima dari pemain di sebelah kanan kita. Oleh karena itu, jangan heran kalau akan sering muncul dilema ketika memilih kartu Bahan yang ingin disimpan.
Sebagai orang Malang, Penulis akrab dengan semua makanan yang ada di permainan ini. Namun, bisa dibilang kita tidak akan fokus ingin memasak kartu Menu apa, yang penting adalah kartu Menu mana yang memiliki poin tertinggi dan bisa didapatkan dengan kartu Bahan yang kita miliki.
Selain itu, kartu Go Boy! juga jarang kita dapatkan karena jarang ada momen di mana kita sama sekali tidak bisa memasak. Biasanya, momen tersebut terjadi ketika kartu Menu yang tersedia memiliki skor tinggi semua, sehingga bahan yang dibutuhkan juga banyak semua.
Kartu Pelanggan mungkin menjadi elemen kejutan yang paling menyenangkan di permainan ini. Adanya kartu yang bisa membuat kita mencuri kartu lawan (baik Bahan maupun Pelanggan lain) membuat Waroong Wars memiliki elemen senggol-senggolan walaupun tipis.
Justru kartu Karakter yang dampaknya kurang terasa, padahal secara efek ya masih lumayan. Bahkan ketika bermain, Penulis dan teman-temannya kerap melupakan kalau dirinya punya efek dari kartu Karakter ini.
Overall, Penulis cukup menikmati Waroong Wars ketika ingin bermain sesuatu yang ringan dan santai. Penulis hanya penasaran satu hal, mengapa Penulis jarang menang ketika bermain board game ini. Apakah Penulis selama ini salah memilih strategi?
SKOR: 7/10
Board game selanjutnya yang akan Penulis bahas masih board game lokal. Board game ini merupakan versi bahasa Inggris dari Kakartu: Sekata. Secara konsep sama, tapi di sini yang ditantang adalah vocabulary kita. Board game selanjutnya adalah One Word.
Lawang, 23 Oktober 2026, terinspirasi setelah ingin melanjutkan seri board game ini
Permainan
Koleksi Board Game #35: Camel Up: The Card Game
Dulu waktu masih kerja di tempat lama, teman Penulis yang bernama Pandu berhasil memperkenalkan Penulis ke dunia board game. Namun, waktu itu Penulis masih belum tergerak untuk mulai membeli board game karena harganya yang lumayan mahal.
Sewaktu pindah ke tempat kerja yang baru, kok ternyata atasan Penulis juga merupakan kolektor board game. Meskipun work from home (WFH) hingga hari ini, Penulis pernah beberapa kali datang ke kantor yang terletak di daerah Tangerang.
Nah, atasan Penulis ini sering membawa board game-nya untuk dimainkan ketika waktu istirahat kerja. Salah satu yang pernah dibawa dan berhasil membuat Penulis tertarik untuk memilikinya adalah Camel Up: The Card Game, yang akan Penulis bahas kali ini.

Detail Board Game Camel Up: The Card Game
- Judul: Camel Up: The Card Game
- Desainer: Steffen Bogen
- Publisher: Pretzel Games
- Tahun Rilis: 2023
- Jumlah Pemain: 2 – 6 pemain
- Waktu Bermain: 30 – 45 menit
- Rating BGG: 6,8
- Tingkat Kesulitan: 2,06/5
- Harga: Rp250.000
Cara Bermain Camel Up: The Card Game

Di antara board game Penulis lain yang berukuran serupa, Camel Up: The Card Game bisa dianggap yang persiapannya paling ribet karena komponennya lumayan banyak. Yang jelas, hal pertama yang perlu dilakukan adalah menata kartu arena balapannya secara berurutan, yang tergantung jumlah pemain.
Setiap pemain akan mendapatkan 3 Egyptian Pound, 1 token Fennec, dan 1 token Shortcut. Setelah itu, jejerkan kartu bidding di dekat semua pemain. Ada beberapa jenis kartu bidding yang bisa diambil pemain setiap putaran, yakni:
- Final Betting Overall Winner Card: Memilih unta yang akan finis pertama ketika Race berakhir
- Final Betting Overall Loser Card: Memilih unta yang akan finis terakhir ketika Race berakhir
- Leg Betting Winner Card: Memilih unta yang unggul di tiap Leg dengan jumlah koin yang berbeda-beda, termasuk juga Leg Betting Midfield Cards yang memilih unta yang berada di posisi ke-3
Akan ada 5 unta yang turut serta dalam balapan dan akan mulai dari belakang garis Start (kartu arena nomor 1), serta 1 unta gila yang berwarna hitam yang akan diletakkan pada kartu arena nomor 7. Di awal balapan, buka lima kartu untuk menentukan posisi awal unta.
Setiap pemain nanti akan mendapatkan kartu unta secara acak (baik warna maupun berapa langkah ia akan melangkah), lantas memilih beberapa untuk dimasukkan ke dalam Racing Deck dan satu kartu untuk diletakkan di depan.
Tergantung jumlah pemain, ada juga beberapa kartu tambahan secara acak yang akan ditambahkan ke Racing Deck. Tak hanya itu, kita juga akan memilih dua kartu unta yang berwarna hitam untuk dimasukkan ke dalam Racing Deck.
Setelah itu, permainan pun bisa dimulai. Dimulai dari pemain pertama, ia bisa memilih beberapa aksi untuk dilakukan, yakni:
- Memainkan token Fennec atau Shortcut
- Membuka kartu teratas dari Racing Deck
- Memainkan kartu yang ada di depan kita atau membeli kartu pemain lain seharga 1 koin
Setelah memilih salah satu aksi di atas, pemain bisa mengambil satu kartu Betting, baik Leg Betting Card maupun Final Betting Card. Untuk kartu Final Betting, baik Winner maupun Loser, pemain hanya bisa mengambil satu per jenisnya. Jadi, kita tidak boleh menjagokan dua unta untuk menjadi juaranya.
Leg akan berakhir ketika Racing Deck habis. Jika Leg berakhir, maka setup akan diulang lagi dari awal dan Leg berikutnya pun dimulai. Permainan pun akan terus berlangsung hingga salah satu unta berhasil melintasi garis finis.
Ada beberapa detail peraturan lain yang belum Penulis sebutkan, tapi secara garis besar seperti itulah cara bermain Camel Up: The Card Game. Pemenangnya adalah pemain yang memiliki koin terbanyak di akhir permainan.
Setelah Bermain Camel Up: The Card Game

Camel Up adalah salah satu board game yang menarik perhatian Penulis karena konsep “taruhan” yang diusung. Penulis bahkan pernah memainkan versi aslinya yang seharga Rp700 ribu-an dan memang seseru itu.
Nah, Camel Up: The Card Game adalah versi budget yang lebih ramah kantong. Meskipun mekanismenya jauh berbeda, inti dari permainannya berhasil dipertahankan dengan baik, sama-sama push your luck.
Namun, tingkat ke-random-an versi kartunya bisa dibilang lebih rendah jika dibandingkan dengan aslinya yang menggunakan dadu. Pasalnya, pemain bisa memilih kartu apa yang akan muncul di racing deck, sehingga setidaknya bisa menebak beberapa unta yang akan keluar.
Dengan demikian, kita bisa memilih strategi apa untuk bisa mendapatkan uang terbanyak. Misal, kita ingin unta ungu kalah, maka kita tidak akan memainkan kartu unta ungu. Contoh lain, kita tidak ingin unta kuning menang, maka kita akan membuang kartu unta ungu.
Strategi ini terasa makin deep karena kartu bidding-nya sangat bervariasi. Kita tidak hanya memilih mana unta yang akan menang, tapi juga bisa memilih unta yang akan kalah maupun berada di urutan 2 hingga 4, walau uang yang didapat relatif lebih sedikit.
Hanya saja, Penulis merasa dua token Fennec dan Shortcut terasa kurang berguna. Selain karena pemain terlalu fokus dengan unta yang sedang balapan, token yang sudah dipasang justru jarang kena ke untanya. Setidaknya, itu yang Penulis rasakan selama bermain board game ini.
Tidak hanya itu, peran unta gila di sini juga terasa kurang signifikan. Mungkin, karena ia naik ke atas unta (bukan ke bawahnya), jadinya jarang ada unta yang berada di atasnya. Ini berbeda dengan versi aslinya yang entah mengapa lebih mudah berada di atas unta hitam.
Untuk kualitas komponennya, unta-untanya terasa sangat solid dan begitu enak ketika digerakkan. Koinnya juga terasa cukup solid, mirip dengan kualitas koin dari Machi Koro 2. Kartunya standar saja, tapi cukup tebal agar tidak mudah tertekuk.
Yang jelas, Camel Up: The Card Game adalah versi singkat dari Camel Up yang cocok untuk dibawa ke tongkrongan karena ukurannya yang mungil. Hanya saja, board game ini butuh meja yang cukup luas karena arena balapannya cukup memakan ruang.
SKOR: 7/10
Seingat Penulis, ada jeda cukup panjang untuk membeli board game lagi setelah Penulis membeli Camel UP: The Card Game. Pilihan Penulis jatuh kepada board game lokal yang sebelumnya telah Penulis pernah mainkan: Waroong Wars!
Lawang, 7 September 2026, terinspirasi setelah ingin melanjutkan seri board game ini
Permainan
Koleksi Board Game #34: Vendespil Memory Game
Menjelang pernikahan adik Penulis, Penulis sempat mengajak teman-teman dan sepupunya untuk jalan-jalan di Jakarta. Salah satu tempat yang menjadi destinasi adalah Grand Indonesia (GI), salah satu mal terbesar di Indonesia.
Nah, di GI ada sebuah toko yang dari luar terlihat menarik bernama Flying Tiger Copenhagen. Banyak barang-barang lucu yang terlihat dari luar dan kebetulan Penulis menyukai benda-benda yang unik.
Di sanalah Penulis menemukan sebuah board game kecil bernama Vendespil Memory Game. Ukurannya mini, hanya segenggaman tangan. Harganya pun murah, kalau tidak salah waktu itu Rp60 ribu atau Rp80 ribu. Untuk itu, Penulis pun membelinya.
Detail Board Game Vendespil Memory Game
- Judul: Vendespil Memory Game
- Desainer: ?
- Publisher: ?
- Tahun Rilis: ?
- Jumlah Pemain: Berapa aja boleh
- Waktu Bermain: Tergantung yang main
- Rating BGG: –
- Tingkat Kesulitan: –
- Harga: Rp60.000-Rp80.000
Cara Bermain Vendespil Memory Game

Sesuai namanya, ini adalah permainan daya ingat di mana kita harus mencocokkan gambar yang sama. Kebetulan, yang satu ini temanya adalah bendera negara. Total ada 68 kartu, yang artinya ada 34 bendera berbeda di mana mayoritasnya adalah negara Eropa.
Di awal permainan, kocok semua kartu dan letakkan secara tertutup semua kartunya. Secara bergiliran, setiap pemain akan membuka dua kartu pilihannya. Apabila kartu yang dibuka berbeda, kembalikan ke posisi menghadap bawah. Jika sama, ambil dan letakkan di dekat pemain untuk scoring nanti.
Peraturannya bisa berbeda-beda tergantung bermain dengan siapa, karena permainan ini bebas menggunakan house rule seperti apa pun. Kalau Penulis, pemain akan berkesempatan untuk memilih lagi apabila berhasil mendapatkan pasangan kartu yang sama.
Peletakkan kartu pun bebas, tidak ada aturan baku yang menentukan seperti apa posisi kartunya. Mau dibaris rapi biar gampang ingatnya, boleh. Mau diacak biar lebih menantang, juga boleh.
Pemain dengan jumlah pasangan kartu terbanyak akan keluar sebagai pemenangnya. Kalau seri, anggap saja menang bersama. Kurang lebih seperti itulah cara bermain Vendespil Memory Game yang sangat sederhana.
Setelah Bermain Vendespil Memory Game

Awalnya, Penulis ragu-ragu mau memasukkan board game ini ke dalam daftar koleksi yang ingin dibuat tulisannya. Rasanya sama seperti memasukkan catur ke dalam daftar. Hanya saja, setelah melalui berbagai pertimbangan, Penulis memutuskan untuk tetap menuliskannya.
Sewaktu kecil, Penulis memiliki permainan serupa. Ukuran kartunya pun mirip, kotak dengan sudut yang sedikit melengkung. Kartu ini memiliki warna belakang biru dan di depannya dominan putih dengan berbagai gambar.
Nah, gambar-gambarnya inilah yang sangat Penulis ingat. Salah satu alasannya adalah adanya gambar Lucky Luke. Bisa dibilang, inilah pertemuan Penulis pertama dengan koboi tersebut.
Gambar lainnya adalah astronot dan berbagai macam hewan, dengan dominasi warna karakternya adalah kuning, biru, merah, dan hijau. Intinya, permainan ini sangat memorable bagi Penulis, sehingga permainan memori seperti ini tetap Penulis gemari hingga sekarang.
Oleh karena alasan sentimental tersebut, Penulis memutuskan untuk menulis tulisan ini. Memang tidak banyak yang bisa dibahas dari permainan sejuta umat seperti ini, tapi Penulis tetap menginginkannya.
Case dari permainan ini terbuat dari bahan semacam kaleng yang solid, walau minusnya mudah meninggalkan bekas gores terutama di bagian bawah. Kualitas kartunya sendiri bagus, berbahan kertas yang tebal dan licin. Gambar benderanya jelas, yang dilengkapi dengan informasi nama negara dan ibukotanya.
Vendespil Memory Game seru untuk dimainkan ramai-ramai, tapi juga bisa dimainkan sendirian di kala sedang tidak ada kegiatan lain. Ukurannya yang kecil membuat mobilitasnya sangat tinggi dan mudah dibawa ke tongkrongan.
Skor: 7/10
Setelah ini, Penulis akan membahas sebuah board game dengan tema perjudian. Tentu, bukan uang sungguhan yang digunakan di sini. Kita akan melihat pacuan unta (bukan kuda) dan bertaruh unta mana yang akan keluar sebagai juara. Board game tersebut adalah Camel Up The Card Game.
Lawang, 20 Juli 2026, terinspirasi setelah ingin melanjutkan seri board game
-
Produktivitas11 bulan agoProductivity Hack #4: Kalau Cuma Butuh 5 Menit, Lakukan Sekarang
-
Musik11 bulan agoTier List Lagu-Lagu IVE Versi Saya (Bagian 1: Single dan EP Jepang)
-
Permainan11 bulan agoKoleksi Board Game #31: Scrabble/Scrabble Together
-
Nonfiksi7 bulan ago[REVIEW] Setelah Membaca The Let Them Theory
-
Olahraga11 bulan agoLando Norris Memang Layak untuk Menjadi Juara Dunia 2025
-
Olahraga11 bulan ago“Saya Kira Situasi Membaik, Saya Kira Kondisi yang Sekarang Ini Sudah Cukup”
-
Nonfiksi11 bulan ago[REVIEW] Setelah Membaca Effortless
-
Fiksi11 bulan ago[REVIEW] Setelah Membaca Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop


You must be logged in to post a comment Login