Connect with us

Fiksi

[REVIEW] Setelah Membaca Dunia Sophie: Novel Grafis Filsafat

Published

on

Salah satu novel yang Penulis baca di awal-awal mengoleksi buku adalah Dunia Sophie karya Jostein Gaarder. Novel ini, menurut Rocky Gerung, dianggap sebagai bacaan wajib anak SMA yang ingin masuk ke dunia filsafat karena Gaarder berhasil merangkumnya dalam satu buku.

Karena sudah cukup lama membacanya, Penulis pun tidak seberapa ingat apa saja isi bukunya. Untungnya, melalui akun Instagram Penerbit Mizan, Penulis jadi mengetahui kalau novel tersebut akan dibukukan dalam bentuk novel grafis alias komik.

Setelah itu, Penulis pun menantikan buku tersebut rilis dan pada akhirnya Penulis langsung membelinya setelah mengetahui sudah ada di rak buku. Lantas, apakah buku ini berhasil mengingatkan Penulis apa isi buku Dunia Sophie?

Detail Buku

  • Judul: Dunia Sophie: Novel Grafis Filsafat
  • Penulis: Jostein Gaarder; Vincent Zabus
  • Art: Nicoby
  • Penerbit: Penerbit Mizan
  • Cetakan: Pertama
  • Tanggal Terbit: Februari 2023
  • Tebal: 264 halaman
  • ISBN: 978-602-441-310-1

Apa Isi Buku Ini?

Sesuai dengan judulnya, buku ini adalah versi komik dari novel Dunia Sophie yang menceritakan petualangan “aneh” seorang remaja bernama Sophie Amundsend untuk mempelajari filsafat dari awal.

Untuk buku pertamanya ini, kita akan diajak membahas filsafat mulai dari zaman Socrates hingga Galileo Galilei. Untuk buku keduanya (sekaligus terakhir) nanti, yang akan dibahas adalah filsafat dari zaman Rene Descartes hingga Sigmund Freud.

Ada 11 bab yang dimiliki oleh buku ini, mulai dari bab pertama yang bertajuk “Siapa Aku?” hingga bab sebelas yang bertajuk “Zaman Barok”. Sophie mempelajari satu per satu ilmu filsafat tersebut dengan bimbingan seseorang, yang lantas akan diketahui bernama Albedo.

Ada bab yang berisi tentang filsafat dari beberapa tokoh sekaligus, tapi ada juga bab yang memang fokus hanya membahas satu tokoh. Ada tiga tokoh yang menjadi bab tersendiri, yakni Socrates, Plato, dan Aristoteles.

Dalam petualangannya, Sophie seolah-olah bisa bertemu langsung dengan tokoh-tokoh filsafat yang sedang diterangkan oleh Albedo. Sebagai seorang gadis remaja, pelajaran filsafat tersebut berhasil membuatnya merenungkan banyak hal yang sebelumnya tak terpikirkan.

Ada beberapa penyesuaian yang seingat Penulis tidak dibahas di novelnya, seperti concern Sophie terhadap isu lingkungan hingga kesalnya Sophie terhadap Aristoteles yang migonistik alias merendahkan kaum perempuan. Mohon koreksinya jika itu ternyata ada di novelnya.

Menjelang akhir buku, Sophie menyadari kalau dirinya hanyalah tokoh komik, atau bahasa filmnya adalah breaking the 4th wall. Bahkan Albedo yang menjadi “gurunya” pun tidak menyadari hal tersebut. Ini sangat akurat dengan versi novel.

Setelah Membaca Dunia Sophie: Novel Grafis Filsafat

Sesuai dengan tujuan awalnya membeli buku ini, Penulis berhasil teringat apa isi novel Dunia Sophie meskipun baru setengah awalnya saja. Mengingat novel Dunia Sophie cukup tebal, tentu isi buku grafis ini adalah versi pendeknya saja.

Sebagaimana novel-novel yang ditulis oleh Jostein Gaarder, kesan dongeng dan fantasi pun cukup kental di novel Dunia Sophie. Nah, adanya versi komik seperti ini semakin membuat unsur dongen dan fantasinya semakin terasa.

Dengan ilustrasi yang enak untuk dipandang, Penulis begitu menikmati membaca buku ini hingga bisa tandas dalam waktu yang cepat. Mungkin itu juga karena Penulis terbiasa membaca komik Barat seperti Tintin dan Lucky Luke.

Adanya ilustrasi membuat Penulis bisa memahami dengan lebih mudah filsafat-filsafat yang sedang dijelaskan. Penulis juga jadi bisa membayangkan bagaimana rupa para filsuf lintas zaman, meksipun di novel aslinya juga ada ilustrasi filsuf yang sedang dibahas.

Karena sedang mendalami stoik, ada satu quote yang sangat Penulis sukai dari buku ini (Penulis lupa apakah quote tersebut ada di novel aslinya), yakni:

“Berilah aku keberanian untuk mengubah yang bisa diubah, ketenangan untuk menerima yang tak bisa diubah, dan kebijaksanaan untuk membedakan keduanya.”

Sebagai komik, tentu ada unsur joke yang disisipkan sebagai bumbu cerita agar tidak monoton dan kaku. Yang jelas, komik filsafat ini lebih mudah dipahami dibandingkan set novel filsafat yang pernah Penulis dulu dan hingga sekarang tidak pernah ditamatkan.

Jika ada remaja yang tertarik untuk masuk ke dunia filsafat, rasanya Dunia Sophie: Novel Grafis Filsafat bisa menjadi pengantar yang lebih baik dibandingkan novel aslinya yang sangat tebal. Penjelasannya mudah dipahami dan diilustrasikan dengan menarik.


Lawang, 29 Agustus 2023, terinspirasi setelah membaca buku Dunia Sophie: Novel Grafis Filsafat karya Jostein Gaarder

Fiksi

[REVIEW] Setelah Membaca Malice – Catatan Pembunuhan Sang Novelis

Published

on

By

Dalam beberapa tulisan ke depan, Penulis akan cukup sering mengulas novel-novel dari Keigo Higashino, karena memang sedang suka (lagi) membaca novel-novel detektif.

Sebelumnya, Penulis sudah pernah mengulas The Devotion of Suspect X dan A Midsummer’s Equation, di mana pendapat Penulis bisa dibilang cukup berbeda di antara keduanya.

Penulis sangat suka The Devotion of Suspect X, tapi kurang puas dengan A Midsummer’s Equation, bahkan sempat berpikir untuk tidak lanjut membaca buku-buku Keigo.

Namun, Penulis memutuskan untuk berubah pikiran dan akhirnya membeli novel ketiga yang berjudul Malice – Catatan Pembunuhan Sang Novelis. Tokoh utama di novel ini bukan Profesor Yukawa, tapi Detektif Kaga!

SPOILER ALERT!!!

Detail Buku Malice – Catatan Pembunuhan Sang Novelis

  • Judul: Malice – Catatan Pembunuhan Sang Novelis
  • Penulis: Keigo Higashino
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan: Ke-14
  • Tanggal Terbit: Mei 2025
  • Tebal: 224 halaman
  • ISBN: 9786020639321
  • Harga: Rp99.000

Apa Isi Buku Malice – Catatan Pembunuhan Sang Novelis

Pada kasus kali ini, seorang penulis novel bernama Hidaka Kunihiko ditemukan tewas di rumahnya yang terkunci, tepatnya di ruang kerjanya yang juga terkunci. Padahal, ia akan pindah dari Jepang ke Kanada keesokan harinya.

Mayatnya ditemukan oleh istri dan sahabatnya yang bernama Nonoguchi Osamu, tapi keduanya memiliki alibi yang kuat. Detektif Kaga Kyoichiro sendiri menaruh curiga kepada Osamu dan penyelidikan pun dimulai.

Nah, jika Profesor Yukawa lebih mirip Hercule Poirot, maka Detektif Kaga ini lebih mirip dengan Sherlock Holmes. Bagaikan anjing pelacak, ia akan menelusuri setiap sudut untuk menemukan fakta yang akan terlewatkan mayoritas orang.

Selain itu, Detektif Kaga juga sangat peduli terhadap detail kecil sekalipun. Bayangkan saja, kondisi jari orang bisa menjadi petunjuk penting untuk menemukan siapa pelaku pembunuhan.

Satu hal yang menarik begitu membaca novel ini adalah angle-nya yang dibuat seperti sebuah catatan tertulis. Namun, penulisnya berbeda-beda, terkadang Osamu sebagai sahabat korban, kadang catatan Detektif Kaga.

Novel ini mengingatkan Penulis akan novel Agatha Christie yang berjudul The Murder of Roger Ackroyd. Di novel tersebut, tokoh “aku” yang menulis novel tersebut ternyata terungkap menjadi pembunuhnya. Nah, formula tersebut sedikit mirip di sini.

Setelah Membaca Malice – Catatan Pembunuhan Sang Novelis

Berbeda dengan The Devotion of Suspect X yang pembunuhnya jelas-jelas ketahuan sejak awal atau A Midsummer’s Equation yang benar-benar gelap di awal cerita, novel ini mengambil jalan tengah (walau memang condong mengikuti formula The Devotion of Suspect X ).

Kecurigaan memang langsung menuju ke Osamu, tapi untuk membuktikan ia pelakunya tidak langsung dijelaskan. Ia bahkan memiliki alibi yang menunjukkan bahwa dirinya bukan pelaku pembunuhan, setidaknya di 1/3 awal buku.

Nah, hal paling seru di novel ini adalah bagaimana kita bisa melihat ada banyak reverse psychology di sini, di mana awalnya kita dibuat berpikir A, lalu ternyata kenyataannya adalah B, tapi ternyata itu adalah trik untuk menutupi kenyataan C, dan seterusnya.

Ketika membaca penjelasan bagian ini, Penulis harus mengakui bahwa hal tersebut ditulis dengan cerdas oleh Keigo. Penulis yang awalnya sudah terbawa arus pun dibuat terkejut ketika kenyataannya terbongkar.

Karena hal tersebut adalah hal paling seru di novel ini, maka Penulis tidak akan menceritakan detailnya. Intinya, jangan mudah percaya dengan apa yang dibaca, teruslah curiga dan amati setiap detail terkecil!

Mungkin salah satu hal yang paling melelahkan dari novel ini adalah bagian interogasi di 1/3 akhir novel, di mana ada banyak sekali catatan interogasi terhadap banyak narasumber. Bagi sebagian orang, mungkin bagian ini bisa terasa overwhelming.

Walau begitu, Penulis bisa memahami bahwa hal tersebut memang harus dilakukan oleh Detektif Kaga untuk menemukan motif pelaku, yang ternyata memang berakar dari masa lalunya. Motif masa lalu itulah yang ingin ditutupi oleh sang pelaku.

Yang jelas, ada satu pesan penting yang ingin disampaikan Keigo: stop bullying. Lho, apa hubungan kematian seorang novelis dengan kasus perundungan? Jawabannya akan ketemu jika Pembaca membaca novel ini.

Kesimpulannya, Malice – Catatan Pembunuhan Sang Novelis mengulang formula Devotion of Mr. X yang pelakunya ketahuan secara cepat. Kedua novel tersebut bukan tentang siapa pelakunya, bukan tentang bagaimana cara melakukan pembunuhannya, tapi tentang mengapa melakukannya.

SKOR: 8/10

Penulis akhirnya memutuskan untuk terus membaca novel-novel Keigo, karena cerita misterinya yang cukup ringan cocok untuk Penulis. Novel selanjutnya yang Penulis pilih adalah Salvation of a Saint – Dosa Malaikat.


Lawang, 14 Maret 2026, terinspirasi setelah membaca Malice karya Keigo Higashino

Continue Reading

Fiksi

[REVIEW] Setelah Membaca Teka-Teki Rumah Aneh

Published

on

By

Sebenarnya sudah sejak lama novel Teka-Teki Rumah Aneh karya Uketsu mencuri perhatian Penulis. Namun, entah mengapa Penulis belum merasa terdorong untuk membelinya, meskipun sebenarnya suka dengan novel “teka-teki”.

Nah, membaca novel-novel detektif Keigo Higashino yang akhirnya membuat Penulis memutuskan untuk membeli dan membaca novel ini. Toh, novel ini tidak terlalu tebal, sehingga bisa cepat ditandaskan.

Benar saja, tak butuh lama Penulis menghabiskan novel ini karena misterinya yang membuat penasaran. Dengan durasi sekitar 3-4 jam, Penulis bisa langsung menyelesaikan novel ini. Lantas, apakah novel ini sebagus kata orang?

SPOILER ALERT!!!

Detail Buku Teka-Teki Rumah Aneh

  • Judul: Teka-Teki Rumah Aneh
  • Penulis: Uketsu
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan: Ke-14
  • Tanggal Terbit: Mei 2025
  • Tebal: 224 halaman
  • ISBN: 9786020669960
  • Harga: Rp79.000

Apa Isi Buku Teka-Teki Rumah Aneh?

Novel ini berkisah dari sudut pandang orang pertama seorang penulis (namanya tidak pernah disebutkan) spesialis occult alias hal-hal gaib. Nah, suatu ketika, ia dimintai tolong kenalannya untuk memeriksa suatu denah rumah yang menurutnya aneh.

Dari sini, kita bisa melihat kalau konsep “rumah aneh” langsung disajikan di awal cerita, bahkan di halaman pertama. Denah rumah yang awalnya tampak normal-normal saja langsung diperlihatkan begitu mulai membaca.

Sang penulis tersebut tentu merasa kebingungan dengan denah rumah tersebut, sehingga ia minta bantuan kenalannya yang bernama Kurihara-san, seorang arsitek, yang akhirnya menunjukkan apa keanehan pada denah rumah tersebut.

Nantinya, kita akan sering melihat percakapan antara keduanya di novel ini. Bukan dalam bentuk paragraf, melainkan menggunakan format nama karakter, titik dua (:), baru kalimatnya. Semua percakapan menggunakan format tersebut, sehingga membuat pace novel ini terasa cepat.

Di novel ini, denah rumah kerap diperlihatkan berkali-kali, terkadang hanya sebagian saja. Dengan demikian, kita tidak perlu capek-capek membolak-balikkan halaman, walau kekurangannya membuat novel ini cepat habis.

Berangkat dari keanehan tersebut, tokoh penulis pun membuat artikel tentang rumah tersebut dengan harapan akan ada orang yang memiliki informasi lebih. Tak lama kemudian, ia pun menerima email dari seseorang yang akan membawa mereka ke sebuah misteri yang kelam.

Penulis tidak akan bercerita terlalu dalam mengenai isi buku ini, mengingat apa yang membuat novel misteri menarik adalah misterinya. Namun, Penulis bisa mengatakan kalau denah rumah yang aneh di sini tidak hanya satu.

Selain itu, nanti akan terungkap kalau ada alasan khusus kenapa rumah-rumah tersebut memiliki denah yang aneh. Bisa dibilang, konklusi cerita yang dibagi menjadi empat bab ini tidak tertebak, kalau bukan jadi terlalu jauh.

Di bab selanjutnya, akan ada lebih banyak spoiler yang akan mengurangi keseruan jika Pembaca berniat membaca buku ini. Jadi, spoiler alert!

Setelah Membaca Teka-Teki Rumah Aneh

Penulis pada dasarnya memang menyukai novel detektif dan misteri. Jauh sebelum kenalan dengan novel-novel Keigo, Penulis sudah membaca semua novel Agatha Christie dan Sherlock Holmes.

Oleh karena itu, standar Penulis jadi agak tinggi. Penulis menganggap Teka-Teki Rumah Aneh adalah cerita misteri yang menarik, tapi tidak sampai membuat Penulis menganggap sebagai salah satu yang terbaik yang pernah Penulis baca.

Yang Plus dari Teka-Teki Rumah Aneh

Seperti yang sudah Penulis singgung, kita langsung disuguhi denah rumah yang awalnya terlihat normal, tapi ternyata memiliki keanehan. Apalagi, “rumah anehnya” bukan hanya itu, sehingga kita jadi menyadari kalau ini adalah sebuah pola tertentu, bukan sekadar kesalahan arsitektur saja.

Itulah hal yang berhasil membuat penasaran bagi tokoh penulis dan Kurihara-san. Berawal dari pertanyaan, mereka justru jadi melakukan penyelidikan untuk mengulik apa maksud dari denah rumah aneh tersebut.

Buat Penulis, salah satu kekuatan utama novel ini adalah bagaimana kita mampu dibuat merasa penasaran seperti tokoh di dalamnya. Terlalu banyak pertanyaan yang muncul ketika melihat fakta yang ada, sehingga kita terus ingin tahu seperti apa jawabannya.

Itu juga menjadi salah satu alasan lain mengapa pace cerita ini cepat dan tidak terlalu bertele-tele. Tidak ada polisi yang melakukan wawancara seperti di novel-novel Keigo. Apalagi, kita tidak perlu susah-susah membayangkan denahnya karena gambarnya selalu tersedia.

Selain itu, entah bagaimana novel ini juga bisa terasa lumayan “horor” hingga Penulis merasa merinding ketika membacanya. Padahal, sama sekali tidak ada adegan hantu atau gangguan makhluk halus.

Yang Kurang dari Teka-Teki Rumah Aneh

Sayangnya, Penulis kurang menyukai konklusi dari cerita ini yang memiliki hubungan dengan okultisme. Keluarga pembunuh yang terjebak “ritual” memakan korban tersebut terasa agak bodoh karena mau termakan kata “orang pintar”.

Apalagi, semua itu berawal dari hubungan inses yang dialami oleh keluarga tersebut, yang menjadi awal dari semua tragedi yang terjadi selanjutnya. Jumlah korban berjatuhan hanya karena kepercayaan yang sesat.

Mungkin ada pembaca novel ini yang menyukai konklusi seperti itu. Namun, Penulis sendiri tidak menyukai unsur-unsur seperti itu, karena misteri bisa terjadi karena ketidaktahuan orang, bukan karena disusun secara cerdik.

Oh iya, di bagian akhir setelah cerita terkesan berakhir, ternyata Uketsu justru memilih memberikan open ending kepada Pembaca terhadap salah satu karakter kunci di cerita ini. Padahal, Penulis berharap kalau misterinya harus tuntas tanpa menimbulkan pertanyaan baru.

Walau begitu, novel ini tetap menjadi bacaan misteri yang menegangkan dan akan membuat kita kesulitan untuk berhenti membaca karena penasaran. Setelah membaca Teka-Teki Rumah Aneh, rasanya kita akan jadi memperhatikan setiap detail denah rumah yang kita lihat!

SKOR: 7/10

Saat menulis artikel ini, Penulis sempat ke Gramedia dan melihat ada “sekuel” novel ini dengan judul Teka-Teki Gambar Aneh. Menarik untuk ditunggu apakah novel ini juga mampu membuat Penulis merasa merinding dan tak bisa berhenti membaca.


Lawang, 24 Februari 2026, terinspirasi setelah membaca buku Teka-Teki Rumah Aneh karya Uketsu

Continue Reading

Fiksi

[REVIEW] Setelah Membaca Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop

Published

on

By

Entah mengapa belakangan ini, Penulis merasa kalau novel dengan latar belakang “toko buku” (atau kadang hanya “buku” saja) sedang banyak dijual. Banyak sekali di rak buku judul-judul yang mengandung frase ini, sehingga tentu menimbulkan rasa penasaran.

Oleh karena itu, Penulis pun memutuskan untuk membeli salah satu, di mana pilihan jatuh kepada Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop karya Hwang Bo-reum. Yups, lagi-lagi penulis Asia, bedanya kali ini dari Korea Selatan.

Ketika dan setelah membaca novel ini, Penulis berpikir, “oh, ternyata jadinya begini jika genre slice of life menjadi sebuah cerita.” Jadi, jangan harap akan menemukan konflik yang menegangkan atau plot twist yang mengejutkan di sini!

[SPOILER ALERT!!!]

Detail Buku Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop

  • Judul: Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop (Selamat Datang di Toko Buku Hyunam-dong)
  • Penulis: Hwang Bo-reum
  • Penerbit: Gramedia Widiasarana Indonesia
  • Cetakan: Ke-5
  • Tanggal Terbit: Januari 2025
  • Tebal: 408 halaman
  • ISBN: 9786020530444
  • Harga: Rp119.000

Sinopsis Buku Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop

“Kisah orang-orang yang berjuang untuk menjalin hubungan baru dan menyembuhkan diri melalui buku dan toko buku terungkap secara mendalam.”

Toko buku di lingkungan biasa, yang berdiri di antara rumah-rumah di mana tidak banyak orang datang dan pergi. Inilah toko buku di Hyunam-dong! Selama beberapa bulan pertama, pemilik toko buku, Young-joo, yang wajahnya tidak menunjukkan antusiasme, seperti seseorang yang selalu larut dalam kesedihan, duduk diam dan membaca buku seolah-olah dia adalah seorang pelanggan. Dia menghabiskan setiap hari di toko buku dengan perasaan seperti mendapatkan kembali hal-hal yang hilang satu per satu. Perasaan lelah dan hampa dalam batin perlahan menghilang. Sejak saat itu, toko buku di Hyunam-dong menjadi tempat yang benar-benar baru. Ruang tempat orang berkumpul, berbagai emosi berkumpul, dan cerita tiap individu.

Isi Buku Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop

Sesuai dengan sinopsis di bagian belakang bukunya, Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop berpusat pada toko buku kecil yang berada di daerah Hyunam-Dong. Pemiliknya adalah Yeong-ju, seorang perempuan yang berusia 30 tahunan.

Ia tak sendirian di toko buku tersebut. Ada Min-joon, yang bekerja sebagai barista di sana. Lalu, ada Jimmy (ini karakter cewek!) yang menjadi supplier biji kopi untuk toko buku tersebut, yang juga menjadi teman dekat Yeong-ju.

Tentu ada banyak pengunjung setia toko buku kecil yang nyaman tersebut, seperti anak SMA yang benama Min-Cheol beserta ibunya (yang namanya baru terkuak jelang akhir buku), Jung-seo yang hobi merajut, Seong-cheol, dan lain sebagainya.

Meskipun berkesan “santai”, tentu masing-masing karakter memiliki masalahnya sendiri. Yeong-ju misalnya, mengalami burnout karena pekerjaan lamanya dan kegagalam rumah tangganya. Toko buku yang ia dirikan seolah menjadi sarana pelariannya.

Tema pernikahan yang tidak bahagia juga dialami oleh Jimmy, sedangkan sang barista berada di krisis eksistensial karena merasa dirinya gagal. Toko buku kecil tersebut seolah menjadi semacam “oasis” bagi mereka dan pengunjung.

Untuk menghidupkan suasana toko buku, Yeong-ju membuat semacam berbagai acara di sana, termasuk bedah buku dan diskusi antara sesama pembaca buku. Ia bahkan mengundang penulis seperti Seung-woo yang sepertinya memiliki ketertarikan dengannya.

Itu semua dibalut dengan aktivitas ringan yang terjadi di sekeliling kita, bagaimana obrolan-obrolan ringan keluar ketika bertemu kenalan di suatu tempat, bagaimana kita curhat ke teman yang kita percaya, bagaimana proses penerimaan diri, dan lain sebagainya.

Setelah Membaca Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop

Seperti yang sudah Penulis singgung di awal tulisan, genre novel ini adalah slice-of-life. Mungkin baru kali ini Penulis membaca buku dengan genre seperti ini. Apakah Penulis menyukainya? Jawabannya iya dan tidak secara bersamaan.

Sebagai novel santai yang tidak terus-menerus menimbulkan rasa penasaran, Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop adalah teman yang menarik terutama ketika kepala kita sedang penuh dengan berbagai permasalahan.

Apalagi, gaya bahasanya juga terasa lembut dan cozy, sehingga terkadang membuat Penulis merasa kalau novel ini seperti lullaby pengantar tidur. Ini bisa menjadi kelebihan sekaligus kekurangan, karena di satu sisi akan menimbulkan kesan membosankan.

Itulah yang Penulis rasakan selama membaca buku ini. Awal-awal membaca, Penulis merasa bersemangat untuk membaca tiap babnya secara perlahan dan menikmati aktivitas-aktivitas sederhana yang disajikan.

Namun, setelah lewat setengah buku, rasa bosan itu muncul sehingga proses menamatkan novel ini pun menjadi lebih lama. Apalagi, ceritanya lumayan dragging. Penulis bahkan sudah tidak seberapa ingat ada kisah apa saja yang sudah Penulis baca di novel ini.

Cerita antarbabnya tidak nyambung, terutama di bagian awal-awal, seolah ceritanya berdiri sendiri-sendiri. Namun, makin ke belakang, buku ini semakin terasa linier dan utuh sebagai novel, bukan kumpulan cerita pendek.

Oleh karena itu, bisa dibilang novel ini tidak memiliki konflik utama. Konfliknya ya ada di masing-masing karakter, di mana sepanjang novel mereka mulai mengalami perkembangan seiring berjalannya waktu menjadi lebih baik dalam menghadapi masalahnya.

Bisa dibilang, konflik yang ada di novel ini lebih banyak ke pergulatan batin dibandingkan dengan konflik eksternal. Tidak ada cerita Yeong-ju pusing karena penjualan toko seret, yang ada bagaimana ia berusaha untuk berdamai dengan keadaan dan terutama dirinya sendiri.

Buat yang sedang mengalami masalah internal, bisa jadi ada bagian-bagian di buku ini yang akan memberikan jawabannya. Mungkin bukan jawaban gamblang, tapi bisa menjadi inspirasi apa yang harus dilakukan pada situasi tertentu.

Bagian yang paling menarik bagi Penulis tentu saja mengetahui bagaimana Yeong-ju mengelola toko bukunya. Setiap aktivitas yang dia lakukan, baik sekadar merapikan rak buku ataupun membuat komunitas, berhasil Penulis bayangkan dengan baik

Mungkin novel ini bisa memberikan rasanya nyaman untuk pembacanya yang merasa related dengan konflik di dalamnya. Sayangnya, Penulis tidak merasakan rasa nyaman itu, setidaknya setelah membaca cukup banyak halamannya.

Walau begitu, novel ini tetap Penulis rekomendasikan untuk Pembaca yang sedang mencari bacaan ringan. Walau latarnya di Korea Selatan, buku ini cukup terasa dekat, walau tidak sampai membuat kita merasa memiliki koneksi khusus dengan karakter-karakter di dalamnya.

Skor: 6/10


Lawang, 2 Desember 2025, terinspirasi setelah membaca Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop karya Hwang Bo-reum

Continue Reading

Fanandi's Choice

Blog ini milik Fanandi Prima Ratriansyah sejak 2018