Connect with us

Pengembangan Diri

Menyalahkan Kondisi Terus hingga Lupa Interopeksi Diri

Published

on

Ketika sedang bermain Instagram, muncul sebuah pos dari akun @doraemon_hari_ini yang menampilkan panel komik di mana Nobita sedang ditanya oleh Pak Guru kenapa Nobita bisa mendapatkan nilai 0. Nobita pun menjawab dengan enteng, “Kan diberi oleh bapak.”

Penulis lupa panel tersebut berasal dari cerita atau volume berapa, tapi yang jelas panel tersebut berhasil menggelitik Penulis. Dalam sudut pandang Nobita, nilai 0-nya adalah karena pemberian orang lain, bukan karena ketidakmampuannya dalam mengerjakan soal.

Nah, hal ini membuat Penulis bertanya-tanya, jangan-jangan selama ini kita juga seperti Nobita yang menyalahkan faktor ekternal (Pak Guru) dan tidak menyadari kesalahan dari faktor internal (ketidakbecusannya mengerjakan soal). Kita menyalahkan kondisi, hingga lupa interopeksi diri.

10 Juta Gen Z Menganggur di Usia Produktif

Banyak Gen Z yang Menganggur (Parenting Teens and Tweens)

Melansir dari berbagai sumber, disebutkan bahwa jumlah Gen Z (generasi kelahiran 1997 – 2012) di Indonesia yang menganggur hampir mencapai 10 juta orang. Jika diperinci berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), mayoritas pengangguran di Indonesia berusia 18 hingga 24 tahun.

Padahal, usia tersebut harusnya menjadi usia-usia produktif untuk bekerja dan berkarya. Menteri Ketenagakerjaan, Ida Fauziah, menyebutkan bahwa salah satu faktornya adalah ketidaksesuai keterampilan mereka dengan kebutuhan tenaga kerja.

“Pengangguran kita ini terbanyak disumbangkan dari lulusan SMK, anak-anak lulusan SMA, ini terjadi karena adanya miss-match,” ungkap Ida sebagaimana dilansir dari CNBC.

Masih dari sumber yang sama, alasan-alasan lain yang menjadi pendukung tingginya pengangguran dari kalangan Gen Z adalah putus asa, disabilitas, kurangnya akses transportasi dan pendidikan, keterbatasan finansial, hingga kewajiban rumah tangga.

Penulis sempat mengira bahwa tingginya jumlah tersebut karena menghitung jumlah Gen Z yang masih menempuh studi. Faktanya, jumlah 10 juta tersebut benar-benar Gen Z yang tidak sedang menjalani studi maupun pelatihan apapun. Benar-benar full menganggur.

Mungkin ini juga ada kaitannya dengan kebanyakan lowongan pekerjaan yang mensyaratkan memiliki gelar sarjana, bahkan untuk pekerjaan yang sebenarnya tidak membutuhkan tingkat pendidikan setinggi itu. Alhasil, lulusan SMA/SMK pun jadi kesulitan mencari pekerjaan dengan ijazah yang mereka miliki.

Di sisi lain, Penulis sendiri sering menemukan konten dari pihak perusahaan. Seperti yang kita tahu, banyak juga yang mensyaratkan maksimal umur 30 tahun. Artinya, mereka pun sebenarnya juga mencari pekerja dari kalangan Gen Z, bukan Milenial seperti Penulis.

Tidak hanya itu, pihak perusahaan pun banyak yang “curhat” mengenai susahnya mencari kandidat yang sesuai dengan keinginan mereka. Lowongan ada, calon pekerja ada, tapi tidak ketemu karena banyak hal. Tak heran jika jumlah pengangguran pun menjadi tinggi sekali.

Kondisi Memang Susah, tapi Tidak Boleh Menyalahkan Kondisi Terus

Yuk, Terus Kembangkan Value Diri (PPIC)

Pak Guru yang memberikan soal ujian adalah analogi untuk kondisi yang kita hadapi. Nobita adalah analogi dari diri kita sendiri. Ketika mendapatkan nilai 0, mana yang akan kita salahkan: soal sulit dari Pak Guru atau ketidakmampuan kita dalam mengerjakan soal?

Jika mampu untuk interopeksi diri, tentu kita akan menyadari kalau kesalahan terdapat pada diri kita yang mungkin kurang rajin belajar, tidak memperhatikan guru ketika menerangkan, dan lain sebagainya.

Dalam filsafat stoik, salah satu kunci utamanya adalah memahami apa yang bisa kita kendalikan dan mana yang tidak. Soal dan penilaian Pak Guru ada di luar kendali kita. Yang ada di kendali kita adalah usaha kita agar bisa mengerjakan soal dari Pak Guru.

Itu pun berlaku dalam konteks mencari pekerjaan yang sedang Penulis bahas. Saat kesulitan mencari pekerjaan, tentu lebih mudah untuk menyalahkan kondisi, entah karena persyaratan perusahaan yang tak masuk akal, janji pemerintah untuk menyediakan lapangan pekerjaan yang tak terealisasi, kalah dengan orang dalam, dan lain sebagainya.

Namun, terkadang kita lupa untuk menengok ke dalam diri sendiri. Jangan-jangan, kesulitan yang kita alami itu karena kitanya sendiri yang kurang mengembangkan value diri, baik hard skill maupun soft skill.

Jangan-jangan selama ini kita mendambakan pekerjaan dengan gaji yang layak, tapi dalam keseharian lebih banyak menghabiskan waktunya untuk rebahan dan scrolling media sosial atau push rank game HP. Waktu yang ada tidak digunakan untuk mengasah kemampuan diri.

Apalagi, saat ini sebenarnya sarana untuk mengembangkan diri banyak tersedia dan bisa diakses secara gratis di media sosial, YouTube, bahkan AI sekalipun. Coba pilih bidang yang diminati agar tidak malas dan merasa bersemangat ketika mempelajarinya.

Sebagai contoh, Penulis yang lulusan IT pun jadi harus mengembangkan dirinya sebagai Editor dan SEO Specialist secara otodidak. Akhir-akhir ini Penulis juga banyak melakukan eksplorasi terhadap dunia AI yang tampaknya akan menjadi masa depan dunia kerja.

Yang tidak kalah penting dari hard skill adalah soft skill. Percuma saja jika memiliki hard skill, tapi attitude-nya minus, tak mampu berbicara di depan orang banyak dengan lancar, tidak disiplin, kesulitan bersosialiasi dengan orang, dan lain sebagainya.

Sebagai contoh, mungkin kita sering lolos hingga sesi wawancara ketika melamar pekerjaan, tapi tak pernah mendapatkan panggilan selanjutnya. Kalau seperti itu, bisa jadi ada yang salah dari performa kita selama wawancara, sehingga harus ada yang perlu diperbaiki.

Mengembangkan relasi juga tak kalah penting. Jangan hanya ngomel karena kalah dari orang dalam, kita juga harus berusaha menjalin relasi dengan banyak orang. Yakinkan kalau kita memiliki skill yang mereka butuhkan, sehingga mereka bisa menjadi “orang dalam” untuk kita.

Penutup

Memang ada banyak sekali faktor yang memengaruhi mengapa kita kesulitan mendapatkan pekerjaan. Namun, menurut Penulis alangkah baiknya jika kita fokuskan diri kepada apa yang bisa kita kendalikan, yakni diri kita sendiri.

Menyalahkan kondisi terus-menerus tidak akan membantu apa-apa. Yang ada malah membuat hati jengkel dan gelisah terus. Tentu sayang tenaga dan pikiran dibuang untuk melakukan hal tersebut, sampai tak lagi tersisa untuk mengembangkan diri sendiri.

Apalagi di era teknologi seperti ini, sarana untuk mengembangkan skill sangat tersedia di berbagai platform. Mumpung masih muda, coba saja eksplorasi semuanya hingga menemukan mana yang paling membuat kita bersemangat. Asah terus skill untuk meningkatkan value diri sehingga kita punya nilai lebih di dunia kerja.


Lawang, 11 Juni 2024, terinspirasi setelah menyadari bahwa kita sebagai manusia kerap menyalahkan kondisi di luar, tapi lupa untuk melihat ke dalam

Foto Featured Image: Doraemon Hari Ini

Sumber Artikel:

Produktivitas

Saya Mulai Mencatat Apa yang Sedang Saya Baca

Published

on

By

Membaca telah menjadi hobi Penulis sejak lama. Penulis belum pernah menghitung jumlah pastinya, tapi Penulis yakin kalau jumlah buku yang pernah dibaca seumur hidup sudah mencapai ratusan.

Walau begitu, tidak semua buku yang Penulis baca benar-benar Penulis ingat. Terkadang, terutama buku-buku yang sudah lama dibaca, Penulis lupa apa saja isinya dan poin-poin penting yang dibahas. Penulis baru ingat kalau isinya benar-benar berkesan.

Oleh karena itu, ditambah dengan semakin bertambahnya usia, Penulis mencoba untuk mencatat apa yang sedang dibaca. Jadi, ketika sedang membaca buku (terutama nonfiksi), Penulis akan menyiapkan sebuah catatan kecil beserta bolpoin.

Bagaimana Penulis Mencatat Apa yang Sedang Dibaca

Penulis memulai mencatat apa yang sedang dibaca pada tanggal 29 April 2026. Judul pertama yang Penulis catat adalah Merawat Luka Batin yang ditulis oleh dr. Jiemi Ardian, Sp.KJ. Penulis tidak menulis sejak halaman pertama, tapi melanjutkan saja dari yang terakhir dibaca.

Apa yang Penulis catat adalah apa yang menurut Penulis penting atau menarik. Jadi, ketika membaca sesuatu Penulis sampai bergumam “ooooh”, biasanya akan Penulis catat. Bentuk kalimatnya pun sesuai yang ada di kepala, bukan ditulis ulang (kecuali ada quote yang menarik).

Contoh di buku Merawat Luka Batin, di halaman 186 Penulis mencatat: Hindari “seharusnya” jika sesuatu terjadi di luar keinginan kita. Bagi Penulis, kalimat itu cukup menggugah hati, bahkan Penulis sudah membuat draft artikel yang terinspirasi dari kalimat tersebut.

Penulis berusaha untuk membuat catatan buku ini sesederhana mungkin agar tidak memberatkan, seperti yang diungkap buku Atomic Habits maupun Effortless. Cukup ada keterangan judul, tanggal buku dibaca, dan halaman yang sedang disorot, lalu baru menulis poin-poin yang ingin dicatat.

Selain agar bisa mengingat poin-poin penting dari buku yang sedang dibaca, salah satu tujuan mencatat ini adalah untuk memudahkan proses pembuatan artikel review di blog ini. Seringnya karena selesainya sudah agak lama, jadi ada poin-poin yang terlewat untuk dibahas.

Alasan lain mengapa Penulis membutuhkan catatan ini adalah Penulis hobi berpindah-pindah bacaan, tergantung dirinya sedang ingin membaca genre atau topik apa. Bisa saja satu buku baru dibaca lagi satu bulan kemudian atau bahkan lebih.

Dengan adanya catatan ini, Penulis setidaknya bisa me-review secara singkat apa saja yang terakhir Penulis baca dari buku ini. Dengan begitu, Penulis bisa lebih nyambung dengan bab selanjutnya yang akan dibaca.

Lantas, mengapa harus capek-capek mencatat di sebuah buku? Karena Penulis tidak akan tega mencoret-coret buku atau sekadar menempelkan notes. Mungkin tidak akan selengkap yang dilakukan oleh “joki buku” yang sedang viral saat ini.

Pemilihan notes kecil berukuran A5 pun ada alasannya, yaitu biar mudah dibawa ke mana-mana. Walaupun punya kamar yang bisa dibilang nyaman untuk membaca, Penulis kerap berpindah lokasi ketika membaca untuk berganti suasana.

Memindahkan Catatan Fisik ke Digital

Karena ditulis sesuai dengan urutan buku yang sedang dibaca, maka posisi catatan buku pun tersebar-sebar. Contoh buku Merawat Luka Batin yang tadi, catatan pertama bertanggal 29 April 2026. Penulis baru membaca buku itu lagi pada tanggal 11 Mei 2026.

Di sela-sela itu, Penulis membaca banyak buku nonfiksi lain yang juga dicatat, mulai dari Islam, Otoritarianisme, dan Ketertinggalan, Mengapa Negara Gagal, hingga Start with Why. Seperti yang sudah disinggung, Penulis memang hobi berpindah-pindah bacaan sesuai mood.

Oleh karena itu, Penulis butuh platform lain untuk merapikan catatan buku ini. Notion menjadi jawaban dari permasalahan ini. Penulis bisa menyalin catatan fisiknya dalam format digital, tapi kali ini diurutkan berdasarkan bukunya. Jadi, tak masalah meskipun ada jeda panjang ketika membaca bukunya.

Dengan kombinasi fisik dan digital ini, Penulis bisa memperkecil kemungkinan untuk melupakan apa yang pernah dibaca. Misal sedang membutuhkan inspirasi atau informasi, Penulis juga tinggal membaca ulang catatannya ini.

Penulis tidak setiap hari menyalin catatan fisiknya ke digital. Bisa dibilang, Penulis melakukannya hanya ketika ingin saja. Bahkan, catatan di Notion ini baru sampai bulan Juni, padahal sekarang sudah bulan Oktober. Ada cukup banyak yang belum Penulis salin ke Notion.

Penutup

Sejauh ini, Penulis hanya mencatat buku-buku nonfiksi karena ingin menjadikan fiksi sebagai murni hiburan. Apalagi, jika sebuah cerita fiksi bagus atau berkesan, Penulis pasti akan lebih mudah mengingatnya. Ini berbeda dengan nonfiksi yang memiliki banyak sekali poin penting yang bisa sulit untuk terus diingat.

Selain itu, Penulis rasanya juga perlu mengutarakan kekurangan metode ini. Adanya “beban” untuk mencatat buku terkadang justru menghentikan Penulis membaca buku. Jika seperti itu, maka Penulis memutuskan untuk membaca saja tanpa mencatat, nanti kalau sudah mood baru direkap.

Semoga tulisan ini bisa sedikit “menginspirasi” Pembaca yang kerap mengalami keresahan yang sama dengan Penulis, alias suka lupa dengan apa yang sedang dibaca. Buat yang baru ingin mulai rutin membaca, metode pencatatan ini rasanya tidak terlalu direkomendasikan.


Lawang, 6 Oktober 2026, terinspirasi setelah telah mencatat apa yang sedang dibaca dalam sebuah catatan kecil

Continue Reading

Pengembangan Diri

Saya Membiasakan Diri Duduk Tegak Gara-gara Jang Wonyoung

Published

on

By

Jika membicarakan tentang IVE, tentu kita tidak bisa lepas dari nama Jang Wonyoung. Sebelum bergabung dengan Starship Entertainment, ia sudah debut duluan di IZ*ONE bersama An Yujin, yang sekarang jadi leader IVE.

Nah, salah satu hal yang paling sering Penulis dengar tentang Wonyoung adalah bagaimana ia dianggap pick me dan dianggap sebagai anak emas agensinya. Hal ini bisa benar, bisa tidak, mong Penulis enggak kenal.

Memang, berdasarkan hasil riset kawan Penulis yang merupakan pengamat dunia K-Pop, pemasukan yang dihasilkan Wonyoung seorang diri lebih besar dari keseluruhan IVE, sehingga terkesan “wajar” kalau ia diistimewakan oleh agensinya.

Namun, di tulisan kali ini, Penulis tidak akan membahas hal tersebut. Penulis justru akan membahas tentang hal yang agak nyeleneh, yakni tentang kebiasaan duduk Wonyoung yang ingin Penulis tiru.

Postur Duduk Jang Wonyoung

Sebenarnya, tidak ada yang istimewa dari postur duduk Wonyoung. Ia hanya membiasakan diri untuk duduk tegak dan menjaga postur tubuhnya tetap “sempurna”, bahkan ketika duduk yang tidak memiliki sandaran sekalipun.

Penulis mengetahui hal ini pertama kali ketika menonton acara reality show 1,2,3 IVE 5 Ep. 1, ketika semua member sedang bersauna. Ketika sedang duduk lesehan, terlihat kalau postur Wonyoung paling tegak di antara member yang lain.

Lihat Postur Duduk Wonyoung di Sebelah Paling Kiri (YouTube)

Hal ini juga terlihat di ajang-ajang penghargaan K-Pop, yang biasanya lewat di YouTube Shorts Penulis. Memang idol yang lain juga berusaha menjaga image dengan postur duduk yang baik, tapi Wonyoung memang yang paling terlihat.

Terbaru, ketika IVE menjadi bintang tamu di acara milik musisi Epic High, hal ini juga kembali dibahas (yang menjadi inspirasi tulisan ini). Bahkan, host-nya pun menanyakan apakah nyaman duduk dengan postur seperti itu.

Wonyoung (dan Rei yang ketika itu juga duduk dengan tegak) pun dengan enteng menjawab bahwa duduk dengan postur tersebut justru posisi yang paling nyaman. Jawaban tersebut membuat Liz yang duduk senden langsung membetulkan postur duduknya.

IVE di Channel YouTube Epic High (YouTube)

Sebagai orang yang kerjanya bisa 8 jam di depan layar monitor, posisi duduk menjadi krusial. Waktu awal-awal work from home (WFH) sekitar lima tahun lalu, Penulis kerap mengalami sakit punggung dan tangan.

Beberapa tahun ini, hal tersebut sudah berkurang drastis karena Penulis membeli beberapa aksesoris untuk meminimalisir timbulnya rasa sakit. Apalagi, Penulis sekarang menggunakan kursi ergonomis yang dibeli di IKEA.

Walau sudah menggunakan kursi yang ergonomis, posisi duduk Penulis masih kerap kurang ergonomis. Seringnya, Penulis justru duduk terlalu maju dan tidak menempatkan punggungnya di sandaran punggung yang sebenarnya sudah sangat ideal untuk menopang punggung Penulis.

Nah, entah mengapa ketika berada dalam posisi seperti ini, Penulis langsung teringat postur duduk Wonyoung dan akhirnya memperbaiki posisi duduknya. Ketika mendengarkan khotbah Jumatan pun Penulis sering teringat hal tersebut dan membetulkan posisi duduknya.

Dengan membiasakan diri duduk tegak seperti Wonyoung, Penulis berharap bisa mengurangi risiko untuk menjadi bungkuk dan memiliki postur tubuh yang buruk. Memang awalnya tidak nyaman dan terasa melelahkan, tapi harus dibiasakan.

Mindset ala Lucky Vicky

Lucky Vicky (Crast FM)

Selain postur duduk, satu hal lain yang ingin Penulis tiru dari Wonyoung adalah mindset Lucky Vicky yang dimilikinya. Sebenarnya, konsepnya sama dengan idiom every cloud has a sliver lining, di mana di setiap kejadian buruk, pasti ada hal baiknya.

Lucky Vicky menjadi identik dengan Wonyoung karena hal tersebut memang kerap diucapkannya. Ia jadi dikenal sebagai pribadi yang punya pikiran positif terhadap apa pun yang dihadapinya, mungkin juga ketika menghadapi para haters-nya.

Memang ia bukan membawa konsep baru, hanya melakukan rebranding yang sudah ada menjadi versinya sendiri. Alhasil, jadi banyak orang yang berusaha untuk mengikuti mindset positifnya tersebut.

Penutup

Sebetulnya, dua hal dari Wonyoung yang Penulis sebut di atas tersebut adalah contoh bagaimana kita sebenarnya memiliki pilihan ketika melihat sesuatu, mau melihat baiknya atau fokus ke buruknya.

Kalau kita fokus dengan hal buruknya, maka kita akan terus membenci Wonyoung yang dianggap pick me, dianakemaskan, obsesi untuk menjadi center, dan lain sebagainya. Padahal, ada hal-hal baik yang bisa kita jadikan inspirasi, yang terlupakan karena terlalu fokus dengan sisi buruknya (mindset Lucky Vicky).

Penulis bukan penggemar Wonyoung secara khusus, toh di IVE bias Penulis adalah Rei. Walau begitu, Penulis tidak menutup mata jika ada hal-hal baik yang bisa Penulis panutan di kehidupan sehari-hari.


Lawang, 15 Maret 2026, terinspirasi setelah melihat postur duduk Jang Wonyoung yang tegak

Continue Reading

Produktivitas

Productivity Hack #4: Kalau Cuma Butuh 5 Menit, Lakukan Sekarang

Published

on

By

Jika ada satu kekurangan pada dirinya sendiri yang begitu ingin dihilangkan, mungkin salah satunya adalah kebiasaan untuk menunda segala sesuatu. Mulai dari hal-hal remeh sampai pekerjaan penting, Penulis punya kecenderungan untuk menundanya (prokrastinasi).

Untuk pekerjaan yang ada deadline-nya, Penulis bisa bilang bisa menyelesaikannya, walau kadang juga harus mepet deadline. Namun, untuk pekerjaan yang tidak memiliki deadline, ada peluang besar dari later menjadi never.

Menyadari hal ini, Penulis pun mencoba melakukan metode sederhana yang sedang berusaha diterapkan di kesehariannya. Metode tersebut adalah “Aturan 5 Menit”, di mana jika sebuah pekerjaan bisa diselesaikan dalam waktu kurang dari 5 menit, kerjakan sekarang juga.

Contoh Aplikasi Aturan 5 Menit

Jangan Tunda Kalau Cuma Butuh Sebentar Melakukannya (Photo by cottonbro studio)

Sebelum menulis artikel ini, Penulis mencoba menerapkan metode ini agar tulisan ini terasa lebih nyata. Ada beberapa aktivitas yang Penulis lakukan di mana beberapa di antaranya sudah diniati sejak lama, tapi belum dikerjakan. Berikut daftarnya:

  • Mengisi ulang botol Cleo di ruang tamu
  • Merapikan tas-tas yang menumpuk dan berserakan dekat kasur
  • Menggantung sweater dan celana training di atas kasur
  • Mengubah posisi lampu LED di kamar (karena terbalik)
  • Membersihkan sarang laba-laba dekat meja kerja (suprisingly ada laba-laba betina beserta anak-anaknya)
  • Membersihkan sarang laba-laba dekat televisi (ada banyak bangkai semut yang mati)

Semua aktivitas tersebut jika waktu mengerjakannya digabung, tidak sampai 15 menit untuk selesai. Akan tetapi, waktu menundanya sudah berminggu-minggu atau lebih parahnya lagi berbulan-bulan. Padahal, tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikannya.

Bagi orang yang suka menunda seperti Penulis, di pikirannya selalu ada kata nanti. Ah, nanti aja dikerjakan. Ah, nanti aja diselesaikan. Ah, nanti aja dipikir. Pada akhirnya, “nanti” ini pun menjadi sesuatu yang tidak pernah dikerjakan dan akhirnya dilupakan.

“Tidak ada nanti”

Mengutip perkataan Shikamaru Nara di atas (manga Naruto Chapter 325) ketika ia berhadapan dengan Hidan, Penulis juga berusaha menghilangkan kata “nanti” dalam kesehariannya. Jika bisa dikerjakan sekarang, kerjakan sekarang.

Ketika sudah berkomitmen untuk menerapkannya, Penulis jadi lebih jarang untuk menunda-nunda pekerjaan terutama yang remeh (tentu terkadang masih ndableg). Alhasil, jadi lebih banyak pekerjaan yang terselesaikan.

Ada banyak hal sehari-hari yang hanya butuh kurang dari 5 menit untuk menyelesaikannya. Membersihkan tempat tidur, merapikan kabel charger setelah digunakan, cuci piring selesai makan, mengembalikan buku setelah selesai membaca, masih banyak lagi lainnya. Bisa dilihat kalau metode ini juga bisa digunakan untuk melatih disiplin diri.

Ketika bekerja pun, metode ini sangat membantu. Penulis terbiasa melakukan time block secara bulat, sehingga selalu ingin mengakhiri jam kerja di waktu bulan seperti jam 12 siang atau setidaknya 12:30. Rasanya sangat tidak enak jika berhenti kerja di jam 12:14, misalnya.

Nah, katakan jam 11:52 Penulis sudah menyelesaikan pekerjaan utamanya yang memakan waktu banyak, Penulis akan mencari pekerjaan-pekerjaan ringan yang bisa selesai dalam waktu singkat sembari menunggu jam 12:00.

Pekerjaan ringan di tempat kerja, walau ringan, bisa menumpuk juga dan membuat Penulis merasa overwhelming. Alhasil, pekerjaan yang ringan pun bisa menjadi penghambat untuk menyelesaikan pekerjaan yang lebih berat.

Sisi Buruk Aturan 5 Menit untuk Orang yang Mudah Terdistraksi

Kuncinya FOCUS (via YouTube)

Ada satu loop hole dari metode ini. Terkadang, karena ada mindset untuk segera mengerjakan pekerjaan-pekerjaan remeh, pekerjaan utama yang harusnya menjadi fokus utama justru jadi terpinggirkan. Ini sangat mudah terjadi ke orang yang mudah terdistraksi seperti Penulis.

Misal Penulis sedang membuat satu artikel di tempat kerja. Ketika ingin upload gambar, Penulis jadi melihat file-file di komputernya yang belum dirapikan. Penulis pun membuat folder baru untuk memisahkan file-file tersebut berdasarkan tanggalnya.

Setelah itu, Penulis jadi teringat belum melengkapi to-do list kantor untuk disetor. Karena cuma butuh waktu sebentar, Penulis pun jadi menyelesaikan hal tersebut terlebih dahulu. Ketika selesai, Penulis ingat belum cek surel redaksi, sehingga Penulis membuka Outlook dulu.

Bisa dilihat hanya karena satu distraksi kecil, pekerjaan menulis yang menjadi fokus utama pun jadi terpinggirkan. Alokasi waktu yang harusnya untuk menyelesaikan tulisan jadi digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan lain yang secara deadline lebih longgar.

Lantas, bagaimana cara mengatasinya? Time block menjadi pilihan utama Penulis. Jika sudah mengalokasikan waktu untuk menulis, maka tidak boleh ada pekerjaan lain yang dikerjakan sampai pekerjaan utama selesai (kecuali ada yang urgent).

Untuk pekerjaan-pekerjaan kecil yang hanya butuh waktu sebentar, Penulis bisa mencatatnya dulu di catatan agar tidak terlupa. Kalau bisa, di catatan fisik yang selalu terlihat mata. Kalau mencatatnya di ponsel, kemungkinan untuk melupakannya akan lebih besar.

Memang terdengar kontradiksi karena pada akhirnya pekerjaan <5 menit tersebut ditunda juga. Namun, skala prioritas juga menjadi sesuatu yang tidak boleh diabaikan. Kita harus tahu mana pekerjaan yang diutamakan, bukan hanya dari durasi untuk menyelesaikannya.

Sejauh ini, Penulis merasakan manfaat dari penerapan metode ini dalam kesehariannya. Sekarang yang menjadi PR adalah bagaimana konsisten melakukannya. Tidak ada nanti.


Lawang, 9 Desember 2025, terinspirasi dari dirinya yang sedang berusaha untuk menghilangkan kebiasaan menunda-nunda

Featured Image Photo by Moose Photos

Continue Reading

Fanandi's Choice

Blog ini milik Fanandi Prima Ratriansyah sejak 2018