Anime & Komik
Karakter Paling Sial di Dragon Ball adalah Future Trunks
Jika membicarakan siapa karakter paling sial di serial Dragon Ball secara keseluruhan, kebanyakan penggemar akan menyebutkan nama Yamcha. Hal itu bukan tanpa sebab, mengingat ia beberapa kali harus mengalami kejadian secara apes.
Contohnya adalah kematian konyolnya ketika dibunuh oleh Sabaiman di Saiyan Saga, di mana pose matinya menjadi begitu ikonik. Tidak hanya itu, Bulma yang sejak awal Dragon Ball menjadi kekasihnya pun pada akhirnya justru menjadi istri dari Vegeta.
Namun, sebenarnya nasib Yamcha masih jauh lebih baik dari nasih salah satu karakter yang digemari oleh penggemar: Future Trunks. Daripada sial, bisa dibilang nasib Future Trunks lebih mengarah ke tragis karena banyaknya hal buruk yang menimpa dirinya.

Kemunculan Pertama Trunks di Seri Dragon Ball

Trunks pertama kali muncul ketika Frieza yang gagal dibunuh oleh Son Goku datang ke bumi untuk membalas dendam. Waktu itu, Goku masih belum pulang ke bumi dan belum ada satu pun petarung yang mampu melawan Frieza.
Di saat genting tersebut, tiba-tiba Trunks muncul, bahkan bisa berubah menjadi Super Saiyan yang pada saat itu Vegeta pun belum bisa melakukannya. Dengan mudah, ia mengalahkan Frieza dan pasukannya.
Ternyata, Trunks berasal dari masa depan dan merupakan anak dari Vegeta dan Bulma. Di linimasanya, bumi menjadi hancur karena ulah Android 17 dan 18. Para petarung bumi telah mati dan hanya menyisakan Trunks.
Goku sendiri tak sempat bertarung karena keburu mati karena penyakit. Nah, tujuan Trunks pergi ke masa lalu adalah memberikan obat yang akan menyembuhkan penyakit Goku, sehingga akan ada linimasa di mana para Android bisa dikalahkan.
Selain itu, Trunks juga memperingatkan kalau tiga tahun dari sekarang akan muncul Android yang membuat dunianya hancur. Setelah itu, ia pun kembali ke linimasanya dan baru kembali ke masa lalu tiga tahun kemudian.
Ternyata benar, ada Android yang muncul mengacau kota. Anehnya, Android yang muncul tersebut berbeda dengan yang ada di linimasanya Trunks. Ia justru melihat Android 19 dan Dr. Gero, pencipta para Android yang terafiliasi dengan Red Ribbons.
Dr. Gero berhasil dibuat terdesak hingga akhirnya membangkitkan Android 17 dan 18. Tidak hanya itu, Android 16 pun juga dibangkitkan, yang di linimasanya Trunks tidak ada. Para Android tersebut benar-benar kuat, bahkan Vegeta yang telah menjadi Super Saiyan pun tak berdaya.
Singkat cerita, tiba-tiba ada kabar kalau ada sesosok makhluk bernama Cell yang ternyata datang dari masa depan juga. Yang lebih mengerikannya lagi, ia membunuh Trunks lain dari linimasanya yang lebih jauh agar bisa menggunakan mesin waktunya.
Cell melakukan perjalanan waktu karena Android 17 dan 18 di linimasanya telah dibunuh oleh Future Trunks. Padahal, ia membutuhkan keduanya untuk bisa mencapai versi sempurnanya. Keberadaan Cell ini juga sama sekali tidak diketahui oleh Trunks yang sekarang.
Untuk bisa mengalahkan para lawan yang semakin kuat, Trunks bersama dengan petarung lainnya pun melakukan latihan di Hyperbolic Time Chamber, di mana satu tahun di sana sama dengan satu hari di dunia nyata.
Super Trunks dan Cell Games

Trunks melakukan latihan yang insentif bersama Vegeta. Saat mereka latihan, Cell telah berhasil menyerap Android 17 dan memasuki bentuk Semi-Perfect. Namun, Vegeta yang telah menjadi Super Vegeta berhasil mengalahkan Semi-Perfect Cell dengan mudah.
Cell tahu kalau Vegeta adalah tipe orang Saiyan yang gemar bertarung, sehingga ia menantang Vegeta untuk membiarkannya menyerap Android 18 agar bisa mencapai bentuk sempurnanya. Strategi tersebut berhasil, Vegeta mempersilakan Cell untuk melakukannya.
Trunks, yang sudah muak dengan segala hal buruk yang terjadi di linimasanya, tentu berusaha menggagalkan hal tersebut. Sayangnya, pada akhirnya Cell berhasil menjadi Perfect Cell dan Vegeta pun dikalahkan dengan mudah.
Setelah Vegeta pingsan, Trunks pun berubah ke mode Super Trunks yang membuat badannya terlihat begitu besar. Sayangnya, meskipun memiliki power yang kuat, form tersebut membuat serangannya tidak bisa mengenai lawan karena membuatnya melamban.
Trunks pun dengan pasrah mengakui kekalahan dan siap untuk dibunuh Cell. Untungnya, Cell tidak membunuhnya dan justru mengumumkan akan membuat Cell Games. Nah, di Cell Games ini peran Trunks sudah tidak terlalu signifikan lagi karena highlight-nya justru Goku dan Gohan.
Satu-satunya scene yang melibatkan Trunks adalah kematiannya setelah Cell bangkit kembali setelah meledakkan diri. Kematian Trunks membuat Vegeta marah dan menyerang Cell. Gohan pun jadi terluka karena berusaha menyelamatkan Vegeta, padahal ia menjadi satu-satunya harapan.
Pada akhirnya, seperti yang kita tahu, Gohan berhasil mengalahkan Cell dan Trunks pun dihidupkan kembali oleh Dragon Ball. Trunks yang kini sudah sangat kuat pun kembali ke linimasanya dan berhasil mengalahkan para Android dengan mudah. Kehidupannya pun kembali damai, sampai…
Melawan Black Goku

Sejak Cell Saga, Future Trunks tidak pernah muncul lagi. Ia baru muncul lagi di seri Dragon Ball Super, dan sekali lagi ia harus mengalami nasib apes karena bertemu dengan lawan yang sangat kuat dan tidak bisa ia kalahkan: Black Goku. Kedamaian yang berhasil ia buat selama ini sirna begitu saja.
Lebih menyedihkannya lagi, ia kini juga kehilangan Bulma, sosok yang memungkinkan dirinya melakukan perjalanan waktu berkat mesin waktu buatannya. Untungnya di saat genting, Trunks berhasil kembali ke masa lalu sebelum dibunuh oleh Black Goku.
Menjelaskan Black Goku ini lumayan rumit, bahkan hingga sekarang Penulis tidak benar-benar memahaminya. Namun, Penulis akan coba jelaskan secara sesederhana mungkin sesuai dengan pemahamannya.
Ternyata, wujud asli Black Goku adalah Zamasu, calon Kaioo-shin dari Universe 10 dari linimasa Goku yang membenci kehidupan para makhluk mortal. Ia menggunakan Dragon Ball untuk menukar raganya dengan Goku agar mendapatkan kekuatan yang luar biasa.
Lalu, dengan cincin waktu ia pergi ke linimasa Trunks karena di sana sudah tidak ada Dewa Penghancur Beerus, mengingat Kaioo-shin sudah mati saat berupaya menghentikan Babidy yang ingin membangkitkan Buu. Artinya, tak ada yang bisa menghalanginya.
Goku dan Vegeta pun pergi ke linimasa Trunks untuk menghentikan Black Goku ini. Namun, Black Goku ternyata mendapatkan bantuan dari Zamasu yang memang tinggal di linimasa tersebut. Bahkan, Zamasu ini telah mendapatkan keabadian lewat Dragon Ball.
Singkat cerita, Black Goku dan Zamasu yang terdesak akhirnya melakukan fusion. Kekuatan Goku Black ditambah keabadian Zamasu membuat mereka tak bisa dikalahkan. Akhirnya Goku menggunakan alat untuk memanggil dewa tertinggi alam semesta, Zeno, yang akhirnya memusnahkan Black Goku untuk selamanya beserta bumi.
Setelah pertarungan tersebut, Trunks pun kembali ke linimasa Goku karena dunianya sekarang sudah hancur total. Namun, pada akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke linimasanya sendiri sebelum Dabura dan Zamasu muncul.
Nasib Sial Trunks yang Membuatnya Berbeda dari Saiyan Lain

Bisa dilihat dari rangkuman cerita di atas kalau Trunks benar-benar bernasib sial dan tragis sepanjang hidupnya. Dunianya sudah hancur ketika Android 17 dan 18 muncul dan membunuh semua teman-temannya, menjadikan ia sebagai satu-satunya pelindung bumi.
Setelah akhirnya berhasil mengalahkan mereka berdua, Trunks juga berhasil menghentikan Babidy membangkitkan Buu. Namun, keberhasilan ini harus dibayar mahal dengan kematian Kaioo-shin dan menyebabkan Black Goku jadi mengincar linimasa Trunks.
Black Goku benar-benar menjadi makhluk yang sangat kuat, hingga satu-satunya cara mengalahkannya adalah melalui tangan Zeno. Dunia yang ia lindungi selama ini pun jadi hilang tak berbekas, walau ia pada akhirnya pergi ke masa alternatif lainnya.
Trunks telah kehilangan semuanya. Ayah dan teman-temannya dibunuh para Android. Gohan, yang sempat menjadi mentornya, juga akhirnya dibunuh dan memicunya menjadi Super Saiyan. Bahkan, ibunya yang selalu menemaninya pun akhirnya mati.
Mungkin, Trunks tak terlalu menyesal dunianya dihancurkan oleh Zeno, mengingat di sana sudah tidak ada siapa-siapa lagi. Sekarang ia hanya memiliki Mai, dan akhirnya memutuskan untuk memulai hidup baru di masa depan alternatif.
Memilki kehidupan yang sedemikian getir membuat Trunks tidak terlihat seperti Saiyan sejati. Berbeda dengan Goku, Vegeta, atau Gohan yang terkadang meremehkan lawan dan tidak langsung menghabisi lawannya, Trunks selalu ingin mengakhiri pertarungan secepat mungkin.
Hal ini bisa dilihat dari kemunculan perdananya, di mana ia langsung menghabisi Frieza. Saat Semi-Perfect Cell bisa dikalahkan dengan mudah, ia pun ingin segera menghabisinya. Ketika kembali ke linimasanya, Trunks pun tanpa banyak babibu langsung membunuh Android 17 dan 18, serta mencegah Cell pergi ke masa lalu.
Trunks juga tidak punya semacam “harga diri” ala bangsa Saiyan yang memilih mati dibandingkan harus kabur. Sepanjang hidupnya, ia selalu berusaha bertahan hidup di keadaan yang sulit. Jika kabur bisa membuatnya bertahan (termasuk kabur ke masa lalu), maka itu ia akan lakukan.
Kisah hidup Trunks memang bisa dibilang paling sial, bahkan seharusnya disebut tragis, dibandingkan dengan karakter Dragon Ball lainnya. Namun, justru itu yang membuatnya menjadi karakter yang menarik dan dicintai oleh banyak penggemar seri buatan Akira Toriyama ini.
Lawang, 12 Juni 2024, terinspirasi setelah menyadari kalau Future Trunks adalah karakter paling sial dan tragis di Dragon Ball
Foto Featured Image: Reddit
Anime & Komik
Saya Memutuskan untuk Mengoleksi Komik Detektif Conan Premium
Setelah memutuskan untuk mengoleksi komik Dragon Ball Super dan Naruto Bind Up Edition, ternyata keinginan masa kecil untuk mengoleksi komik secara lengkap kembali bergelora.
Yang ingin Penulis kumpulkan bukan hanya komiknya secara fisik, tapi juga memori-memori masa kecil ketika membaca cerita-ceritanya secara lebih utuh. Ada banyak hal yang dulu tidak Penulis pahami, kini bisa jadi lebih dimengerti.
Selain Dragon Ball dan Naruto, Penulis juga besar dengan komik Detektif Conan. Bahkan, Penulis cukup banyak memiliki komiknya. Nah, Penulis sekarang memutuskan untuk mengoleksi lagi komiknya, tapi kali ini yang versi Premium.

Awalnya Cuma Beli Satu untuk Nostalgia, tapi…

Sama seperti Naruto, Penulis juga “lompat” dalam membaca cerita-cerita Detektif Conan. Kalau ingatan Penulis tidak keliru, maka volume pertama yang Penulis baca adalah Volume 41, di mana case pertama mempertemukan Yukiko (ibu Conan/Shinichi) dan Eri (ibu Ran).
Nah, waktu itu, kebetulan juga komik yang Penulis baca adalah versi bajakannya, karena waktu kecil Penulis belum benar-benar paham mana komik asli dan tidak. Untungnya, Penulis membeli versi asli untuk Volume 42.
Oleh karena itu, ketika akhirnya memutuskan untuk membeli komik Detektif Conan Premium, Penulis pun memutuskan untuk membeli Volume 21 karena mencakup cerita-cerita dari Volume 41 dan 42 di versi aslinya. Nostalgia menjadi alasan utamanya, yang akan Penulis jabarkan di poin berikutnya.
Penulis ingin mundur sebentar sebelum akhirnya membeli komik tersebut. Sebenarnya, keinginan untuk mengoleksi Detektif Conan Premium telah terbit sejak volume-volume awalnya rilis. Namun, waktu itu Penulis mengurungkan niatnya.
Ada beberapa alasan yang menahan Penulis untuk tidak membeli komik Detektif Conan Premium, seperti telah mengetahui sebagian besar ceritanya, tidak ada lagi tempat untuk menyimpan, hingga dorongan untuk berhemat.
Sebagai pelipur lara, Penulis sempat memutuskan untuk membeli komik Conan edisi Selection. Kebetulan, waktu itu Ai Haibara sebagai karakter favorit Penulis di serial ini memiliki edisi ini, bahkan hingga dua Volume. Ada juga beberapa judul Selection lain yang Penulis miliki.
Hanya saja, meskipun sudah membeli seri Selection, dorongan untuk membeli Detektif Conan Premium masih begitu besar. Alhasil, kembali lagi ke atas, Penulis pun memutuskan untuk membeli Volume 21 sebagai awal.
Vermouth vs. Jodie, Arc Favorit Penulis

Salah satu alasan mengapa Volume 41-42 begitu memorable bagi Penulis adalah adanya klimaks antara konflik yang berpusat pada agen FBI, Jodie Starling, dan Vermouth, salah satu anggota Organisasi Hitam yang memiliki seribu wajah.
Waktu masih kecil, Penulis tentu masih belum benar-benar paham apa konflik di antara mereka selain yang diceritakan di dua volume tersebut. Yang Penulis tangkap, Vermouth menyamar sebagai Dokter Araide untuk bisa mengulik tentang Ai.
Selain itu, ternyata Jodie memiliki sejarah panjang dengan Vermouth, karena ia adalah orang yang bertanggung jawab atas kematian ayahnya. Vermouth yang terlihat muda tersebut ternyata sebenarnya adalah aktris Sharon Vineyard yang memalsukan kematiannya sendiri.
Di klimaks yang terjadi di dermaga, ternyata Ai yang dibawa oleh Jodie merupakan Conan yang menyamar. Sayangnya, rencananya buyar karena Ai yang asli datang menyusul menggunakan kacamata pencari jejak cadangan.
Ai telah siap menyerahkan diri ke Vermouth demi menyelamatkan teman-temannya. Namun, tiba-tiba dari bagasi mobil Jodie, ada Ran yang langsung berlari dan melindungi Ai. Kejadian tersebut membuat Ai teringat oleh mendiang kakaknya, Akemi Miyano.
Jodie terluka akibat ditembak Calvados, Conan pingsan karena jam biusnya sendiri, Ran diancam tembak oleh Vermouth. Di tengah kejadian tegang tersebut, tiba-tiba Shuichi Akai datang dari belakang! Sayang, Vermouth berhasil kabur dengan menyandera Conan.
Bisa dilihat, rentetan kejadian yang menegangkan inilah yang membuat arc ini menjadi favorit Penulis hingga kini.
Penutup
Bagi Penulis yang pada dasarnya suka cerita detektif, Detektif Conan telah menemani Penulis sejak kecil dan hingga kini masih belum menunjukkan tanda-tanda akan tamat. Memang, ada banyak sekali hal yang bikin geleng-geleng kepala, seperti:
- Trik pembunuhan yang terasa ribet dan tidak masuk akal
- Motif pembunuhan yang “gitu doang?”
- Timeline yang tidak jelas seolah tidak maju-maju
- Inkonsistensi teknologi, di awal-awal teknologinya teknologi akhir 90-an atau awal 2000-an, sekarang malah pakai smartphone (dan Conan tetap saja kelas 1 SD!)
- Karakter yang terus bertambah, dan setiap ada yang baru, langsung muncul tiga orang untuk membiarkan Pembaca menebak-nebak siapa yang baik siapa yang jahat
Terlepas dari sederet kekurangannya, Penulis tetap menyukai Detektif Conan, sehingga memutuskan untuk membeli versi premiumnya. Hingga artikel ini ditulis, Penulis telah memiliki Volume 14 hingga 33.
Karena berangkatnya dari volume 21, Penulis membeli volume lainnya “maju dan mundur” secara urut. Jujur ada kekhawatiran Penulis akan kesulitan menemukan volume-volume awal, tapi biarlah, anggap saja sebagai “perburuan” harta karun.
Dengan demikian, saat ini ada lima seri komik yang sedang Penulis koleksi, yakni Naruto, Detektif Conan, Spy x Family, Dragon Ball Super, dan Dragon Ball Ultimate Edition. Apakah di masa depan daftar ini akan bertambah? Entahlah.
Lawang, 4 Agustus 2026, terinspirasi setelah melihat koleksi komik Detektif Conan-nya
Anime & Komik
Ai Haibara adalah Karakter Favorit Saya di Detective Conan
Sejak kecil, Penulis suka membaca komik, baik itu komik Jepang maupun Barat. Seperti yang sudah sering dibahas pada blog ini, favorit Penulis adalah Dragon Ball dan Naruto. Bahkan, sekarang Penulis kembali mengoleksi komik-komik tersebut.
Selain genre shounen, salah satu komik lain yang suka Penulis baca adalah Detective Conan. Sejak kecil, sudah banyak komiknya yang Penulis baca walaupun tidak yakin pernah membaca semuanya, mengingat hingga kini serinya masih berjalan hingga lebih dari 1.000 chapter.
Ketika komik Detective Conan merilis versi premiumnya, Penulis sempat terpikirkan untuk kembali mengoleksinya, mengingat koleksi Detective Conan Penulis banyak yang hilang dan rusak. Namun, wacana tersebut terganjal budget karena harga per komiknya cukup mahal.

Detective Conan Ai Haibara Selection

“Jalan tengah” muncul ketika Penulis berencana untuk membeli komik Naruto Bind Up Edition Vol. 1. Saat hendak mengambil komik tersebut, mata Penulis menemukan komik spesial Detective Conan Ai Haibara Selection.
Mengingat Ai Haibara merupakan salah satu karakter favorit Penulis di serial Detective Conan, Penulis pun memutuskan untuk membelinya. Apalagi, beberapa bulan setelah membeli volume pertamanya, volume keduanya juga rilis.
Jika di volume pertama lebih membahas perjalanan Ai Haibara sejak pertemuan pertama hingga memanasnya konflik dengan Organisasi Hitam, maka di volume kedua ini lebih membahas hubungan dan petualangan Ai dengan Kelompok Detektif Cilik.
Di kedua komik edisi spesial ini, selalu dilampirkan fakta-fakta seputar Ai secara ringkas, tapi menyeluruh. Hal ini sangat membantu Penulis untuk lebih mengenal karakter yang juga mengecil karena obat APTX 4869 ini.
Untuk kisahnya sendiri, sesuai judulnya, merupakan pilihan editor. Tentu saja cerita yang dipilih melibatkan Ai Haibara cukup banyak, bahkan terkadang ia seolah menggeser Conan Edogawa sebagai tokoh utamanya.
Karena sudah banyak membaca komik Detective Conan, mayoritas cerita yang ada di komik ini sudah pernah Penulis baca sebelumnya. Namun, justru hal tersebut menimbulkan efek nostalgia yang menyenangkan, karena memang sudah cukup lama Penulis tidak membacanya.
Sayangnya, ada beberapa arc yang cukup melibatkan Ai, tapi tidak disajikan secara lengkap. Contohnya adalah arc ketika Conan pertama kali dengan Vermouth, yang sejujurnya tetap menjadi salah satu cerita favorit Penulis di keseluruhan serinya.
Selain itu, Penulis juga masih menantikan cerita The Jet-Black Mystery Train yang hingga dua volume ini masih belum diperlihatkan. Bahkan di volume dua, cerita ini hanya di-mention singkat tanpa ada kisah utuhnya.
Penulis berharap jika ada Detective Conan Ai Haibara Selection volume tiga, kisah tersebut akan dimunculkan. Untuk sekarang, Penulis cukup puas dengan dua komik yang merangkum kisah Ai Haibara ini.
Mengapa Suka Ai Haibara?

Ada banyak hal yang membuat Penulis memfavoritkan karakter Ai Haibara, yang nama aslinya adalah Akemi Miyano. Pertama, mari kita bahas terlebih dahulu dengan masa lalunya yang cukup kelam dan misterius.
Ai awalnya merupakan ilmuwan yang bekerja untuk Organisasi Hitam, menggantikan peran orang tuanya yang juga ilmuwan, Atsuhi dan Elena Miyano, yang tewas karena “kecelakaan”. Selama di organisasi, ia memiliki codename Sherry.
Ai juga memiliki seorang kakak perempuan bernama Akemi Miyano, yang tewas di awal-awal cerita di tangan Gin. Conan sempat bertemu dengan Akemi di awal-awal cerita seri, tetapi ketika itu ia belum mengetahui hubungannya dengan Ai.
Kematian seluruh anggota keluarganya inilah yang memicu Ai untuk kabur dari organisasi, dengan menelan pil APTX 4869 seperti Conan. Sejak itu, ia harus hidup sebagai anak kecil dan menghadapi berbagai petualangan dengan Conan dan kawan-kawan.
Latar belakangnya yang seperti itu mungkin membuat Ai menjadi sosok yang bermulut tajam, cenderung dingin, dan sinis. Namun, ia juga seseorang yang dewasa dan mampu berpikiran tenang. Saat tidak ada Conan, kemampuan analisis Ai bisa cukup diandalkan.
Ai juga memiliki kemampuan yang cukup unik, yakni bisa merasakan hawa keberadaan anggota Organisasi Hitam. Kemampuan ini sangat berguna jika ada anggota organisasi yang menyamar, mengingat mereka memiliki Vermouth yang memang ahli di sana.
Walaupun begitu, Ai juga memiliki sisi manis yang jarang terungkap. Ia bisa menjadi fangirl yang sangat bucin ke pemain sepak bola Ryusuke Higo. Terkadang ia juga menunjukkan sisi pedulinya kepada para anggota Detektif Cilik, terutama dalam keadaan genting.
Di sisi lain, Conan juga sering menunjukkan kekhawatiran apabila tiba-tiba Ai menghilang, terutama khawatir jika Ai diculik oleh Organisasi Hitam. Jika Ai dalam keadaan genting, Conan pasti akan mati-matian menyelamatkannya, seperti yang terlihat pada film The Iron Submarine.
Kurang lebih itulah yang membuat Penulis memfavoritkan karakter Ai Haibara di serial Detective Conan, melebihi karakter-karakter menarik lainnya. Semoga saja di masa depan, akan lebih banyak hal lagi yang terungkap seputar dirinya.
Lawang, 26 November 2024, terinspirasi setelah membaca dua komik spesial Detective Conan yang khusus membahas Ai Haibara
Foto Featured Image: Alpha Coders
Anime & Komik
Saya Memutuskan untuk Mengoleksi Komik Naruto Bind Up Edition
Tak hanya Dragon Ball, Penulis juga tumbuh besar dengan seri Naruto. Bahkan, jumlah komik yang Penulis waktu kecil justru didominasi oleh manga karya Masashi Kishimoto ini, walau sempat berhenti beli karena telah membaca versi digitalnya.
Nah, belakangan ini, PT Elex Media Komputindo memutuskan untuk mencetak remake dalam bentuk Bind Up Edition. Singkatnya, ini adalah versi di mana dua komik dijadikan satu dan ukurannya pun diperbesar. Harganya per komik adalah Rp99 ribu.
Sempat menimbang-menimbang, akhirnya Penulis pun memutuskan untuk memulai mengoleksinya dari volume 1, terlepas telah memiliki beberapa komik versi aslinya. Penulis akan menjabarkan alasannya di bawah ini.

Perkenalan dengan Naruto

Awal Penulis mengenal Naruto sebenarnya cukup telat, yakni ketika duduk di bangku SMP. Penulis tahu karena teman-teman Penulis sering membicarakannya sehingga menjadi tertarik karena dunia ninja terdengar seru untuk diikuti.
Oleh karena itu, Penulis mencoba untuk mulai membeli komiknya. Di dekat rumah Penulis, kebetulan ada yang jual dengan harga murah. Waktu itu, Penulis belum paham kalau komik itu adalah komik bajakan karena kualitas gambarnya yang menyakitkan mata.
Tidak dari volume 1, Penulis langsung membeli volume 20 karena itu yang tersedia di rak. Tentu Penulis sempat bingung karena tahu-tahu ada seorang wanita menjadi seorang pemimpin desa dan karakter bernama Sasuke mengajak gelud Naruto.
Walau begitu, Penulis merasa kalau komik ini terasa seru dan membaca volume lanjutannya. Penulis masih bisa memahami kalau inti dari konfliknya adalah Sasuke yang ingin keluar desa demi mendapatkan kekuatan dari Orochimaru dan berusaha dicegah oleh Naruto dkk.
Sembari mengikuti arc tersebut, Penulis beberapa kali dijelaskan tentang awal mula cerita Naruto oleh temannya yang lebih dulu mengikutinya. Namun, tetap saja mengetahui ceritanya secara melompat-lompat membuat Penulis cukup kebingungan.
Penulis pun mencoba untuk membeli komik Naruto volume awal-awal. Anehnya, volume yang Penulis miliki terkesan acak, yakni volume 12, 15, 16, dan 17. Penulis tak ingat bagaimana bisa memilikinya, tapi komik-komik tersebut masih ada sampai sekarang.
Tak hanya itu, Penulis juga punya volume 1, 2, dan 4, karena dulu sempat berniat untuk mengoleksi komiknya secara lengkap. Namun, niat tersebut tak pernah kejadian karena waktu itu Penulis merasa lebih seru (dan lebih cepat) untuk mengikuti manga digitalnya saja.
Melengkapi Kepingan yang Hilang

Mungkin karena memiliki daya ingat yang cukup kuat, Penulis masih mengingat volume berapa saja yang pernah dimiliki. Antara volume 20 hingga 40, Penulis memiliki semua kecuali volume 22. Mulai dari volume 27, Penulis tak pernah lagi membeli komik bajakan.
Setelah volume 40, Penulis lebih sering membaca versi digitalnya. Satu-satunya komik Naruto yang Penulis miliki setelah volume tersebut adalah volume 46 dan 71. Karena konflik yang semakin memanas, Penulis pun semakin melupakan “masa lalu” Naruto di volume-volume awal.
Itulah salah satu alasan Penulis memutuskan untuk mengoleksi komik Naruto Bind Up Edition: karena ada banyak kisah Naruto yang belum pernah Penulis ketahui. Apalagi, Penulis hampir tidak pernah menonton serial animenya.
Kehadiran Bind Up Edition ini seolah menjadi momentum yang pas untuk melengkapi kepingan yang hilang seputar Naruto. Walau edisi ini benar-benar hanya menggabungkan dua volume menjadi satu, Penulis merasa tidak rugi untuk membelinya.
Apalagi, cerita-cerita yang dulu Penulis abaikan karena dirasa akan membosankan ternyata seru. “Chūnin Exams Arc” sejak awal ternyata sudah terasa seru. Penulis juga jadi mengetahui secara lengkap bagaimana Orochimaru meninggalkan segel di leher Sasuke.
Selain itu, dengan membaca secara runtun, alasan Sasuke memutuskan untuk meninggalkan desa dan pergi ke tempat Orochimaru menjadi masuk akal. Penulis akan membahas topik ini secara detail di tulisan lain.
Hal lain seputar Naruto yang baru Penulis ketahui setelah mulai mengoleksi Bind Up Edition adalah bagaimana pertemuan pertama Naruto dengan Jiraiya, bagaimana Gaara hampir mengakhiri karier ninja Rock Lee, dan masih banyak lagi lainnya.
Upaya Penebusan Dosa
Hingga artikel ini ditulis, sudah ada 10 volume yang dirilis. Artinya, seri ini telah sampai di komik Naruto pertama yang Penulis baca. Berhubung dulu membaca versi bajakannya, membaca versi aslinya dengan kualitas gambar yang bagus jelas memuaskan.
Selain itu, Penulis juga menganggap koleksi ini sebagai upaya “penebusan dosa” karena dulu membaca versi bajakannya. Waktu itu, dengan polosnya Penulis menganggap kalau memang ada versi murah dari sebuah komik, makanya kualitasnya jelek.
Dengan mulai mengoleksi dari awal, Penulis akan mendapatkan kesempatan untuk membaca komik Naruto tanpa terganggu gambar buram yang terkadang sangat sulit untuk dilihat. Apalagi, ukurang komik edisi Bind Up ini juga lebih besar.
Penulis tidak tahu apakah masih ada banyak komik bajakan yang dijual di pasaran. Semoga saja sudah tidak ada lagi pihak yang membajak komik, setidaknya secara fisik. Kalau secara daring, rasanya akan sangat sulit untuk mengendalikannya.
Sebagai tambahan, Penulis pun jadi merasakan kembali sensasi yang pernah dirasakan waktu kecil ketika menanti komik volume terbaru dirilis. Namun, mengingat lamanya komik Dragon Ball Super Vol. 20 rilis, rasanya Penulis harus benarn-benar ekstra sabar.
Lawang, 2 Oktober 2024, terinspirasi setelah mengoleksi komik Naruto Bind Up Edition
-
Permainan11 bulan agoKoleksi Board Game #30: Deception: Murder in Hong Kong
-
Fiksi11 bulan ago[REVIEW] Setelah Membaca A Midsummer’s Equation
-
Politik & Negara12 bulan agoKepada Tuan dan Puan yang Terhormat…
-
Olahraga11 bulan agoSudah Tak Tahu Lagi Apa yang Harus Diubah dari Tim Ini
-
Pengembangan Diri11 bulan agoMemahami Sumber Ketidakbahagiaan untuk Menemukan Kebahagiaan
-
Pengembangan Diri11 bulan agoJangan Menunggu Sempurna, Mulai Aja Dulu
-
Non-Fiksi11 bulan ago[REVIEW] Setelah Membaca Talking to My Daughter about the Economy
-
Olahraga10 bulan agoKita Selalu Senang Jika Ada Pembalap yang Raih Podium Perdana

You must be logged in to post a comment Login