Connect with us

Film & Serial

[REVIEW] Setelah Menonton Project Hail Mary

Published

on

Sejak menonton trailernya tahun lalu, Penulis sudah meniatkan diri untuk menonton Project Hail Mary. Selain karena Penulis lumayan astrophile (pecinta luar angkasa), Penulis punya feeling film ini akan bagus.

Penulis pun akhirnya menontonnya pada hari Sabtu minggu kemarin di MOPIC Malang, sekalian mencoba pengalaman menonton di bioskop tersebut. Harusnya film ini rilis secara global ketika lebaran, yang sayangnya harus tergeser karena slotnya digunakan untuk menayangkan film horor lokal.

Lantas, apakah film ini berhasil memenuhi ekspektasi Penulis? Apakah benar kata orang-orang yang memuji film ini setinggi langit? Singkat kata, Penulis menyukainya dengan beberapa catatan yang membuat skornya tidak terlalu tinggi.

SPOILER ALERT!!!

Detail Film Project Hail Mary

  • Judul: Project Hail Mary
  • Sutradara: Phil Lord, Christopher Miller
  • Cast: Ryan Gosling, Sandra Hüller, James Ortiz, Lionel Boyce
  • Durasi: 156 Menit

Apa Cerita Project Hail Mary?

Project Hail Mary diangkat dari sebuah novel karya Andy Weir berjudul sama. Buat yang merasa familier dengan nama tersebut, beliau adalah penulis buku The Martian, yang juga diangkat menjadi film dan dibintangi oleh Matt Damon.

Premis Project Hail Mary sebenarnya sederhana, di mana sebuah misi penyelamatan bumi sedang dilakukan oleh seorang guru sains di sebuah SMP bernama Ryland Grace (Ryan Gosling).

Ceritanya, matahari di tata surya kita sedang sekarat karena alien bernama Astrophage (pemakan bintang). Makhluk tersebut berkembang biak di matahari dan membuatnya meredup. Otomatis, suhu di bumi pun langsung drop.

Hal yang sama terjadi di tata surya lain kecuali satu, yakni Tau Ceti. Perjalanan antariksa pun dilakukan untuk mengetahui apa yang membuat tata surya tersebut selamat. Misi tersebut, disebut Project Hail Mary, dipimpin oleh Eva Stratt (Sandra Hüller).

Awalnya, Grace direkrut bersama banyak ilmuwan lainnya untuk meneliti Astrophage yang berhasil ditangkap. Nah, Grace-lah yang berhasil menemukan alasan mengapa alien tersebut sampai membentuk garis antara matahari dan Venus (disebut Petrova Line).

Lantas, bagaimana seorang guru SMP bisa terjebak dalam pesawat ruang angkasa? Nanti di bagian akhir cerita akan dijelaskan, karena film ini menggunakan POV Grace yang mengalami amnesia. Ketika sadar, ia sudah berada di dalam pesawat tersebut.

Nantinya sepanjang cerita, kita akan dibawa maju-mundur karena ingatan Grace perlahan kembali. Jadi, akan ada dua lini waktu di film ini, yakni ketika Grace masih di bumi dan direkrut oleh Strat, serta ketika ia telah berada di luar angkasa.

Dalam misinya tersebut, ketika pesawat Grace sudah mendekati Tau Ceti, ia melihat pesawat alien. Ternyata di dalamnya ada sesosok alien berbentuk batu dengan lima kaki (atau lengan, tergantung digunakan untuk apa).

Menariknya, ternyata alien tersebut juga merupakan satu-satunya yang tersisa di pesawat tersebut, sama seperti Grace. Mereka berdua pun jadi menjalin persahabatan karena tujuan mereka sama, yakni meneliti mengapa Tau Ceti bisa selamat. Grace memberi nama alien tersebut Rocky.

Karena menurut Penulis filmnya sangat layak untuk ditonton, Penulis tidak akan bercerita lebih jauh dari ini. Intinya, mereka berdua pun bekerja sama untuk menyelamatkan planet mereka masing-masing dari kepunahan.

Setelah Menonton Project Hail Mary

Setelah menonton Project Hail Mary, Penulis memahami mengapa film ini begitu dicintai oleh para penontonnya. Visual dan scoring-nya benar-benar memanjakan mata dan telinga. Sayang, Penulis tidak menonton film ini di IMAX.

Ada banyak hal yang ingin Penulis bahas tentang film ini, termasuk kekurangan yang cukup mengganggu Penulis.

Protagonis yang Mirip Mark Watney

Mark Watney (Kiri) dan Ryland Grace (Fandom)

Mengingat sumbernya sama, wajar jika Project Hail Mary memiliki kemiripan dengan The Martian. Tidak hanya tema sci-fi yang diusung, kepribadian dan situasi yang harus dihadapi oleh protagonisnya pun mirip.

Pertama, Grace dan Mark Watney (protagonis di The Martian) sama-sama terjebak di luar angkasa sendirian. Bedanya, Watney masih “dekat” karena di Mars, sedangkan Grace sudah beda semesta. “Mainnya” Grace lebih jauh.

Meskipun berada di kondisi yang sulit, mereka berdua sama-sama tetap optimis dan berusaha ceria. Selain itu, fokus cerita kedua film juga sama-sama ke protagonisnya yang harus bisa keluar dari krisis.

Hangatnya Hubungan Grace dan Rocky

Rocky (Fandom)

Jika dibandingkan dengan Interstellar yang lebih mikir, Project Hail Mary lebih menonjolkan sisi dramanya dibandingkan sainsnya. Memang banyak istilah fisika, kimia, dan biologi di film ini, tapi masih dalam taraf yang mudah dipahami.

Salah satu unsur drama yang paling menarik sepanjang film adalah hubungan Grace dan Rocky yang terasa hangat. Kita tidak bisa tidak menyukai kedua karakter tersebut, terutama Rocky.

Dengan desain yang unik dan sebenarnya tidak menggemaskan (karena literally berbentuk batu), ia berhasil membuat penonton merasa ingin ikut melindunginya, apalagi setelah krisis di act three film ini.

Salah satu momen paling mengharukan sepanjang film adalah ketika Rocky bilang bisa memberikan bahan bakar Astrophage agar Grace bisa pulang ke Bumi. Project Hail Mary awalnya adalah one way ticket, sehingga Grace sudah menerima bahwa ia tak akan pernah pulang.

Harapan yang diberikan oleh Rocky, dengan mengorbankan waktu kepulangannya yang lebih lama, membuat Grace (dan penonton) menangis. Momen ini berhasil disajikan dengan sangat baik. Kita ikut merasakan apa yang dirasakan oleh karakter di dalam film.

Interaksi antara keduanya juga menyenangkan untuk dilihat. Mengingat keduanya terjebak di kondisi yang mirip, wajar jika akhirnya mereka memiliki hubungan yang dekat, bahkan Grace rela menunda kepulangannya ke Bumi demi menyelamatkan Rocky.

Rasanya semua yang sudah menonton film ini bisa sepakat, kalau kita sama-sama sayang Rocky.

Plot Armor Grace

Grace dalam Misi Penyelamatan Bumi (SlashFilm)

Meskipun sudah banyak menyebutkan kelebihannya, ada beberapa kekurangan di film ini yang mengganjal Penulis. Pertama adalah latar belakang Grace yang hanya guru dan ilmuwan tanpa pernah ada latar sebagai astronot.

Di The Martian, Watney memang seorang astronot, sehingga wajar jika ia tahu bagaimana cara bertahan hidup di luar angkasa karena memang sudah dibekali. Nah, beda cerita dengan Grace yang harus dibius dan dibuat koma dulu (karena ia sebenarnya menolak) sebelum dipaksa menjalankan misi Project Hail Mary.

Grace memang pintar, tapi mau sepintar apa pun ia, rasanya sulit diterima ia bisa melanjutkan misi tersebut seorang diri, meskipun memang dibantu AI di sana. Belum lagi masalah kondisi fisik astronot yang harus ditempa bertahun-tahun.

Apalagi, dua rekannya justru sudah meninggal dunia, meskipun Andy Weir selaku penulis novelnya mengatakan bahwa penyebab kematian mereka memang masih disimpan untuk “potensi sekuel.”

Untuk orang yang dipaksa menjalankan misi (sendirian pula), Grace terlalu mulus menyelesaikan Project Hail Mary nyaris tanpa cacat. Memang ia hampir tak selamat, tapi ujungnya kehadiran Rocky berhasil menyelamatkan nyawanya.

Bahasa Rocky yang Terlalu Mudah Dipahami

Selain masalah plot armor yang dimiliki oleh Grace, salah satu hal yang Penulis sorot adalah mudahnya ia dalam menerjemahkan bahasa yang dimiliki oleh Rocky. Sebagai perbandingan, kata atasan Penulis, film Arrival (2016) mampu menggambarkan sulitnya hal tersebut.

Memang, masalah durasi membuat hal tersebut disederhanakan. Hanya saja, kembali lagi, Grace yang manusia biasa terasa jadi punya superpower yang bisa melakukan ini itu dengan cepat.

Jangan lupakan bagaimana Grace mampu membuat alat yang bisa menerjemahkan bahasa Rocky secara live dengan alat seadanya. Jika memang semudah itu, harusnya kita juga bisa membuat alat penerjemah bahasa kucing atau paus dengan mudah.

Bagi Penulis, Film Ini Terlalu Happy Ending

Peringatan spoiler, film ini bagi Penulis terlalu happy ending. Akhir film ini terlalu sempurna. Grace dan Rocky sama-sama berhasil menyelamatkan planet mereka, Grace yang tak punya siapa-siapa di bumi juga mendapatkan tempat di Erid, planet asal Rocky.

Kalau mengikuti selera Penulis, harapannya adalah salah satu antara Grace atau Rocky harus mati karena keadaan. Misal, Rocky mati setelah menyelamatkan Grace, yang membuat Grace pergi ke Erid untuk menyelamatkan planet tersebut.

Toh, Grace sudah membuat alat penerjemah, sehingga ia bisa berkomunikasi dengan penduduk Erid lainnya. Nilai pengorbanan yang dilakukan Rocky akan berdampak besar bagi Grace, tanpa melupakan misi Project Hail Mary.

Kesimpulan

Terlepas dari beberapa kekurangan yang Penulis sebutkan, Project Hail Mary tetap menjadi film yang bagus dan enjoyable. Penulis sangat senang karena film pertama yang ditonton di tahun ini sebagus ini.

Jika disuruh merangkum, ada tiga kata Rocky yang bisa menggambarkan perasaan Penulis setelah selesai menonton film ini: amaze, amaze, amaze.

SKOR: 8/10

***

Lawang, 18 April 2026, setelah menonton film Project Hail Mary

Film & Serial

[REVIEW] Setelah Menonton Rental Family

Published

on

By

Selama ini, Penulis hanya membuat ulasan film yang tayang di bioskop. Kalaupun menonton film di layanan streaming, seringnya film lama, sehingga rasanya sudah cukup “telat” untuk menulis artikelnya.

Nah, pengecualian akan Penulis buat untuk film Rental Family, yang baru saja Penulis tonton di Disney+. Sejak menonton trailernya satu tahun lalu, Penulis sebenarnya sudah memasukkan film ini ke dalam watchlist karena tertarik dengan tema yang diangkat.

Film ini telah rilis pada akhir tahun 2025, tapi seingat Penulis, film ini tidak tayang di bioskop yang ada di Malang. Untunglah, film ini ternyata tersedia di layanan streaming, sehingga Penulis akhirnya bisa menontonnya.

Detail Film Rental Family

  • Judul: Rental Family
  • Sutradara: Hikari
  • Cast: Brendan Fraser, Shannon Mahina Gorman, Akira Emoto, Takehiro Hira, Mari Yamamoto
  • Durasi: 110 Menit

Apa Cerita Rental Family?

Phillip dan Mia (IMDb)

Film akan berfokus pada Phillip Vanderploeg (Brendan Fraser), seorang aktor yang tinggal sendiri di Jepang. Ia adalah seorang aktor dan pernah menjadi bintang iklan, tapi belakangan ini kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan.

Di tengah kesulitan tersebut, tiba-tiba ia mendapatkan telepon untuk berperan sebagai “tamu asing” dari pemakaman pura-pura. Dari sana, Phillip pun bertemu dengan Rental Family, sebuah perusahaan milik Shinji Tada (Takehiro Hira) yang “menyewakan” orang.

Intinya, perusahaan tersebut akan menyediakan jasa di mana mereka akan berpura-pura untuk menjadi sosok yang dibutuhkan oleh klien, mulai dari selingkuhan, teman main, suami hingga melaksanakan upacara pernikahan sungguhan, hampir tidak ada batasannya.

Meskipun awalnya sempat ragu, Phillip pun akhirnya mengambil tawaran pekerjaan tersebut. Phillip terlihat mulai terbiasa untuk bermain peran, hingga akhirnya ia bertemu dengan Mia (Shannon Mahina Gorman) dan Kikuo (Akira Emoto).

Phillip harus menjadi seorang ayah untuk Mia yang akan masuk sekolah. Sementara itu, Phillip direkrut untuk menjadi seorang wartawan yang mewawancarai Kikuo, mengingat ia adalah mantan aktor terkenal ketika muda.

Saat bersama mereka berdua, Phillip ternyata menjalin hubungan yang sangat dekat dan mulai terasa personal. Waktu yang ia habiskan bersama dua orang tersebut menumbuhkan rasa peduli yang sungguh-sungguh.

Pada akhirnya, ibu Mia meminta Phillip memutus hubungan setelah Mia berhasil masuk ke sekolah. Sementara itu, hubungannya dengan Kikuo berakhir ketika dirinya menolak permintaan Kikuo untuk menemaninya pergi ke rumah masa kecilnya di Amakusa.

Namun, Phillip memutuskan untuk menerobos batas dengan berusaha mewujudkan keinginan Kikuo. Mereka pun mengadakan perjalanan tersebut tanpa sepengetahuan anak Kikuo. Di saat yang bersamaan, Mia juga mengetahui kalau sosok ayahnya ternyata bintang iklan.

Setelah berhasil sampai ke rumah masa kecilnya, Phillip sempat disemprot oleh Shinji karena dianggap menculik klien. Phillip membela diri dengan mengatakan bahwa mereka seharusnya menolong orang dan mengatakan Shinji adalah hipokrit.

Di momen tersebut, Kikuo tiba-tiba tergeletak dan harus masuk rumah sakit. Hal ini membuat Phillip sempat ditangkap oleh kepolisian Jepang karena dianggap menculik Kikuo.

Dua karyawan lain Rental Family, Aiko (Mari Yamamoto) dan Kota (Kimura Bun), langsung bergerak untuk menyelamatkan Phillip, tapi justru dicegah oleh Shinji dengan alasan demi menjaga nama baik perusahaan.

Pada akhirnya, mereka bertiga berusaha menolong Phillip dengan bermain peran lagi. Walaupun berhasil bebas, kabar buruk datang menghampiri Phillip: Kikuo meninggal dunia. Untungnya, pihak keluarga memutuskan untuk tidak menuntut maupun menyalahkan Phillip.

Setelah peristiwa tersebut, arah perusahaan Rental Family pun berubah. Phillip juga berhasil berbaikan dengan Mia yang telah mengetahui jati dirinya yang asli. Di akhir film, Phillip mengunjungi kuil di rumah Kikuo dan menemukan pantulan dirinya di sebuah cermin.

Setelah Menonton Rental Family

Phillip dan Kikuo (Disney Plus)

Sebagai film drama komedi, sebenarnya Rental Family tergolong film yang ringan, bahkan Penulis hampir tidak menemukan plot hole sama sekali. Film ini berhasil menyentuh tema kesepian, kekosongan hati, hingga bagaimana kebohongan kadang dijadikan sebagai solusi.

Ada banyak hal yang ingin Penulis bicarakan tentang film ini. Dari sisi sinematografi misalnya, kerap ada shot cantik yang menunjukkan keindahan Jepang. Salah satu favorit Penulis ada di akhir film, ketika Phillip dan Mia berjalan melewati pohon Sakura yang sedang bermekaran.

Untuk alur ceritanya sendiri berjalan secara linier dengan pace yang cukup cepat. Sangat jarang ada adegan flashback yang menceritakan masa lalu Phillip hingga ia bisa “terdampar” di Jepang, kecuali adegan iklan yang ia perankan.

Ketika Kebohongan Menjadi Sebuah Solusi

Salah satu tema di film ini adalah tentang bagaimana kebohongan menjadi sebuah solusi sebuah permasalahan. Seperti tulisan Penulis yang membahas fenomena joki di Indonesia, di film ini pun menyorot “joki” versi next level.

Menurut Penulis, ada beberapa white lie yang masih bisa dibenarkan. Contohnya adalah bagaimana Phillip berpura-pura menjadi wartawan untuk mewawancarai Kikuo agar beliau bersemangat lagi. Namun, ada juga yang sama sekali tidak dibenarkan, seperti menjadi ayah Mia.

Di akhir film, kita bisa melihat kalau ternyata kebohongan demi kebohongan yang dilakukan oleh Rental Family justru sering menimbulkan masalah baru. Kantor tersebut bukan menjual emosi lagi, tapi mengomersialkan masalah hidup orang.

Apresiasi untuk Brendan Fraser dan Shannon Mahina Gorman

Akting Brendan Fraser rasanya tak perlu diragukan lagi, apalagi ia adalah pemenang Oscar. Ia mampu memerankan sosok laki-laki paruh baya yang kesepian, rapuh, dan kehilangan arah. Momen di mana ia bersembunyi di kamar mandi karena crash out di tugas pertamanya juga terlihat sangat valid.

Apresiasi lebih juga perlu diberikan kepada aktris muda Shannon Mahina Gorman yang memerankan Mia. Di film ini, ia mampu menjadi sosok anak kecil yang tangguh dan dewasa untuk seusianya.

Adegan ketika ia tidur di pangkuan ibunya setelah kenyataan tentang Phillip terkuak menjadi salah satu favorit Penulis dan berhasil menimbulkan perasaan haru. Tak mudah untuk bisa memaafkan seseorang yang telah membohongi kita, apalagi kebohongannya begitu fatal.

Plot Twist dan Makna Tersirat

Meskipun temanya drama dan slice-of-life, ada plot twist yang mengejutkan di film ini. Di awal film, kita melihat bagaimana Shinji pulang ke rumahnya dan disambut oleh istri dan anaknya. Ternyata, keluarganya pun palsu! Mungkin karena itulah ia membuat Rental Family.

Adegan terakhir ketika Phillip mengunjungi kuli Kikuo dan menemukan cermin juga Penulis anggap sebagai sebuah pesan, yakni apa yang selama ini kita cari mungkin justru ada di dalam diri kita sendiri. Kita hanya butuh waktu untuk bisa menemukannya.

Sebagai catatan, Rental Family sungguh-sungguh ada di Jepang. Penulis merasa bahwa permasalahan-permasalahan yang ada di dunia nyata justru lebih kompleks dengan apa yang ditampilkan dalam film tersebut. Film ini hadir untuk menunjukkan secuil realita yang ada di sekitar kita.

SKOR: 8/10


Lawang, 25 Oktober 2026, terinspirasi setelah menonton Rental Family

Continue Reading

Film & Serial

[REVIEW] Setelah Menonton Linkin Park: Unshatter

Published

on

By

Sebagai penggemar Linkin Park, tentu kalau ada film dokumenter tentangnya, Penulis akan menontonnya. Pertama kali Penulis tahu tentang film Linkin Park: Unshatter adalah ketika video trailernya muncul di YouTube Penulis, dengan soundtrack yang menggetarkan jiwa.

Penulis pada akhirnya tahu kalau soundtrack dari trailer tersebut berjudul “Inception/Intro”, yang kerap digunakan sebagai pembukaan konser Linkin Park, termasuk di Sao Paulo, Brasil. Lagu tersebut mengombinasikan “Castle of Glass”, “In the End”, hingga “Numb”.

Nah, walau begitu, Penulis tidak terlalu berharap kalau film ini akan masuk ke Indonesia, apalagi jika menilik pengalaman film Coyote vs. ACME yang juga tidak masuk pasar Indonesia. Untunglah film ini ditayangkan di Indonesia, dengan harga tiket yang lumayan mahal.

Detail Film Linkin Park: Unshatter

  • Judul: Linkin Park: Unshatter
  • Sutradara: Joe Hahn
  • Cast: Mike Shinoda, Joe Hahn, Dave Farrell, Brad Delson, Emily Armstrong, Colin Brittain
  • Durasi: 110 Menit

Apa Cerita Linkin Park: Unshatter

Joe Hahn (YouTube)

Linkin Park: Unshatter bercerita tentang perjalanan Linkin Park sejak ditinggal oleh vokalis utamanya, Chester Bennington, pada tahun 2017. Ada masa vakum yang lama sejak mereka akhirnya kembali dengan dua personel baru, yakni Emily Armstrong dan Colin Brittain.

Masing-masing personel berusaha menghadapi grief yang sedang dihadapi dengan caranya sendiri. Mike Shinoda misalnya, yang memutuskan untuk bersolo karier dan sempat merilis beberapa single dan album.

Pada satu titik, Joe Hahn yang merupakan DJ dari Linkin Park mengajak Shinoda untuk sekadar bertemu dan mengobrol tentang keinginan untuk membuat musik. Dave Farrel selaku bassist pun juga bergabung untuk mencoba membuat karya baru.

Hanya saja, pada perjalanannya tidak semua member memiliki ide serupa. Gitaris Brad Delson awalnya menolak, walau pada akhirnya memutuskan bergabung dengan catatan dirinya hanya fokus di balik layar dan tidak akan ikut tur band. Rob Bourdon sebagai drummer bahkan tidak mau terlibat sama sekali.

Dalam prosesnya, mereka pun berkenalan dengan Emily dan Colin, yang nantinya akan mengisi posisi vokalis dan drummer. Ternyata, sempat ada kepikiran kalau mereka tidak akan menggunakan nama Linkin Park, walau mereka menyadari bahwa musik yang mereka buat terdengar sangat Linkin Park.

Pada akhirnya, Linkin Park pun kembali pada tahun 2024 dengan vokalis baru, yang pada saat itu sempat menimbulkan pro-kontra. Mereka berhasil against all odds dan membuktikan bahwa legasi yang ditinggal Chester akan diteruskan kepada Emily. Bukan sebagai pengganti, melainkan penerus.

Setelah Menonton Linkin Park: Unshatter

Mike Shinoda (YouTube)

Jujur saja, ini adalah kali pertama Penulis menangis ketika menonton sebuah film di bioskop. Kejadiannya terjadi ketika cuplikan konser di Sao Paulo dan Linkin Park sedang menyanyikan lagu “The Catalyst”.

Memang ada beberapa lagu Linkin Park yang bisa membuat Penulis menangis, tapi “The Catalyst” bukan salah satunya. Entah mengapa ketika mendengarkan bagian lift me up, let me go, Penulis tak kuasa membendung keluarnya air mata.

Ketika direnungkan, mungkin penyebabnya bisa merupakan kombinasi dari terpukau dengan keindahan musik serta keterlibatan penonton yang ikut bernyanyi, teringat almarhum Chester, atau juga merasa sedang disemangati oleh Linkin Park di masa-masa sulit seperti sekarang.

Bagi Penulis, Linkin Park bukan sekadar band favoritnya, tapi juga bagian dari hidupnya. Penulis telah mendengarkan mereka selama lebih dari 20 tahun dan kerap menemani Penulis dalam masa-masa sulit.

Terlepas dari kejadian yang agak memalukan tersebut, Penulis benar-benar menikmati film tersebut. Berdurasi lebih dari satu setengah jam, Penulis tidak pernah merasa bosan sama sekali. Apalagi, cerita yang disampaikan juga benar-benar terasa emosional.

Kita bisa melihat bagaimana dunia para anggota Linkin Park terasa shatter alias kacau balau setelah kematian Bennington yang mendadak. Shinoda bahkan mengatakan bahwa ia merasa seolah hidupnya tak memiliki tujuan lagi.

Masing-masing anggota juga secara jujur berusaha mengungkapkan kesulitannya. Entah mengapa walau kasusnya mungkin akan berbeda dengan kita, ada banyak bagian yang membuat kita bisa merasa related dengan apa yang pernah mereka hadapi.

Contohnya adalah ketika Delson mengatakan bahwa menjalani tur band sudah tidak cocok untuknya. Ia mengungkapkan bahwa selama ini dirinya merasa seperti berusaha “memasukkan pasak kotak ke dalam lubang bulat”, alias memaksakan sesuatu yang tidak mungkin akan cocok.

Walau begitu, mungkin karena passion mereka di bidang musik, karena kerinduan dalam menelurkan sebuah karya, mereka akhirnya memutuskan untuk kembali alias unshatter. Butuh 7 tahun hingga akhirnya mereka benar-benar tampil di hadapan para penggemar, dengan lagu dan personel baru.

Sepanjang film, kita akan sering melihat cuplikan dari konser Sao Paulo karena alurnya tidak sepenuhnya linear. Audio dari bioskop juga membuat pengalaman menontonnya menjadi lebih maksimal dan benar-benar memuaskan.

Satu hal lain yang menarik dari film ini adalah setiap dari sub-part-nya diberi judul sesuai dengan lirik dari lagu-lagu Linkin Park. Contohnya adalah “The Hardest Part of Ending is Starting Again”, yang diambil dari lagu “Waiting for the End”.

Tentu saja sebagai penggemar berat Linkin Park, Penulis akan memberikan film ini skor yang sangat tinggi kepada film ini. Khusus untuk film ini, Penulis tidak merasa ada kekurangan yang perlu dituliskan di artikel ini. Penulis benar-benar menyukai film ini.

SKOR: 11/10


Lawang, 8 Oktober 2026, terinspirasi setelah menonton film Linkin Park: Unshatter

Continue Reading

Film & Serial

[REVIEW] Setelah Menonton Avengers: Endgame Encore

Published

on

By

Jelang rilisnya film Avengers: Doomsday pada bulan Desember mendatang, pihak Marvel rupanya merilis ulang film Avengers: Endgame (2019) dengan beberapa adegan tambahan yang langsung nyambung ke film Doomsday.

Film ini diberi judul Avengers: Endgame Encore. Penulis telah menontonnya pekan kemarin di Surabaya, karena film ini agak telat masuk ke Malang. Karena khawatir kena spoiler duluan, Penulis pun sampai rela mengambil cuti agar bisa menonton film ini di hari premiere-nya.

Awalnya, Penulis mengira kalau film ini akan menyertakan beberapa deleted scenes yang tidak dimasukkan ke dalam versi 2019. Ternyata, sepanjang kurang lebih 3 jam, sama sekali tidak ada adegan baru yang disisipkan ke dalam film ini.

Adegan tambahan hanya terdapat pada akhir film, dengan total ada empat adegan yang semuanya memiliki keterkaitan dengan film Avengers: Doomsday. Di artikel ini, Penulis hanya akan membahas keempat adegan baru tersebut.

Detail Film Avengers: Endgame Encore

  • Judul: Avengers: Endgame Encore
  • Sutradara: Anthony dan Joe Russo
  • Cast: Robert Downey Jr., Chris Evans, Chris Hemsworth, Mark Rufallo, Scarlett Johansson, Josh Brolin
  • Durasi: 185 Menit

Apa Cerita Avengers: Endgame Encore?

Langsung Berlanjut Setelah Adegan Ini (Reddit)

Adegan baru pertama di film ini langsung melanjutkan apa yang menjadi ending bagi Endgame, adegan ketika Steve Rogers (Chris Evans) sedang berdansa dengan Peggy Carter (Hayley Atwell).

Tiba-tiba, terdengar sebuah ketukan pintu dari arah depan rumah. Rogers pun bersembunyi, sedangkan Carter membuka pintu untuk mengetahui siapa yang datang dan bertanya apakah ada yang bisa dibantu.

Sang tamu menjawab tidak dan justru menawarkan balik kalau dirinya bisa membantu Carter sekaligus Rogers. Tamu tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah Loki (Tom Hiddleston), yang mengenakan seragam TVA-nya.

Adegan kedua, menurut Penulis seharusnya menjadi post-credit untuk film Spider-Man: Brand New Day. Kita akan melihat Bruce Banner (Mark Rufallo), yang sempat kembali berubah menjadi Hulk yang tak terkendali, sedang mengurung diri di sebuah instalasi militer.

Ia terlihat sedang membuat video footage mengenai upayanya dalam membuat semacam alat penahan radiasi gamma terbaru dan akan melakukan demonstrasi terkait alat tersebut. Namun, tiba-tiba ada semacam glitch yang terjadi dan terdengar suara Doctor Doom (Robert Downey Jr.).

Doom hanya mengatakan kalau ia datang untuk collect Banner, sebelum kita mendengar suara erangan Doom. Setelah itu, kita bisa melihat semacam rune yang menjadi ciri khas Doom di lantai.

Adegan ketiga mungkin menjadi yang paling penting dari semuanya. Kita semua akan dibawa kembali ke “kantor” Time Variance Authority (TVA). Sempat terlihat juga foto Loki bersama tulisan “Best Employee of All Time”.

Kita bisa melihat Mobius (Owen Wilson) sedang melakukan rutinitas pekerjaannya, sebelum OB (Ke Huy Quan) dan Casey (Eugene Cordero) menemukan adanya Incursion. Bahkan, dua semesta yang akan bertabrakan tersebut terlihat berusaha saling menghancurkan demi menyelamatkan semestanya sendiri.

Setelah itu, jumlah Incursion terus bertambah dengan jumlah yang mengerikan, dengan terakhir disebutkan telah mencapai 3.000 kasus (sama seperti I love you 3.000 di film Endgame). OB pun mengatakan multiverse is collapsing.

Adegan baru yang terakhir adalah adegan ketika terdengar suara dentingan ketika Tony Stark membuat suit Ironman pertamanya di gua. Bedanya, kali ini suara tersebut disertai oleh pembuatan topeng Doom!

Setelah Menonton Avengers: Endgame Encore

Jujur, setelah menonton adegan tambahan di film ini, otak Penulis langsung sibuk membuat teori dan mencocokkan beberapa teori yang telah Penulis ketahui sampai sejauh ini. Oleh karena itu, mari kita bedah satu per satu adegan baru di film ini.

Adegan Steve Rogers dan Loki

Loki di Rumah Steve Rogers (ScreenRant)

Pertama, ketika Loki datang menghampiri Rogers dan Carter. Adegan ini seolah mengonfirmasi kalau di trailer Doomsday, Loki memang benar sedang mendatangi rumah Captain America.

Selain itu, adegan ini juga seperti mengonfirmasi kalau Rogers yang bertemu dengan Thor di trailer merupakan Rogers yang kita kenal selama ini. Bisa dibilang, ia melakukan perjalanan lintas waktu yang kemungkinan besar dibantu oleh Loki.

Namun, Rogers yang kita lihat di trailer brewokan, berbeda dengan di adegan film yang masih dalam kondisi tercukur bersih. Artinya, ada jeda waktu yang cukup panjang dari apa yang terlihat di akhir film Endgame Encore dan trailer.

Kalau menurut teori Penulis, tampaknya Rogers sedang diburu oleh Doctor Doom yang menganggapnya sebagai penyebab Incursion, yang membuat Doom kehilangan sosok penting dalam hidupnya. Loki pun datang untuk membantu mantan musuhnya tersebut.

Ini juga menimbulkan kontradiksi baru. Seperti yang kita tahu, akhir film Endgame juga memperlihatkan adegan Rogers yang menua dan menyerahkan perisainya ke Sam Wilson. Nah, kalau Rogers yang kita kenal ternyata dibawa oleh Loki, lantas siapa pria tua tersebut?

Semoga saja pada akhirnya nanti kita bisa mendapatkan penjelasan yang memuaskan di Doomsday mengenai hal ini.

Adegan Bruce Banner dan Doctor Doom

Bruce Banner Jadi Hulk Lagi (Yahoo!)

Salah satu hal yang paling membuat Penulis bingung di MCU adalah terkait masalah inkonsistensi Hulk. Seperti yang kita tahu, Banner telah berhasil menggabungkan otaknya dengan kekuatan fisik Hulk, yang sering disebut sebagai Professor Hulk.

Nah, hal ini lantas berubah di serial She-Hulk: Attorney at Law dan film Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings, di mana ia kembali ke wujud manusianya dengan mengenakan semacam alat di lengannya. Bukannya Banner harusnya sudah menguasai Hulk sepenuhnya?

Di film Brand New Day, kita masih bisa memaklumi bagaimana Banner kembali menjadi Hulk yang liar akibat campur tangan dari Jean Grey. Hanya saja, Marvel tidak pernah menjelaskan secara jelas mengapa Banner memutuskan untuk kembali ke wujud manusianya.

Oh iya, ada satu hal lagi seputar Hulk yang menggelitik Penulis: Ke mana She-Hulk dan Skaar, anak Hulk yang telah diperkenalkan sebelumnya?

Adegan TVA dan Topeng Doom

“Multiverse is collapsing,” OB (Radio Times)

Lewat adegan yang diperlihatkan di kantor TVA, kita bisa mendapatkan gambaran mengenai konflik besar yang akan terjadi di film Doomsday. Semesta sedang saling bertabrakan dan menyebabkan Incursion dalam jumlah yang mengerikan.

Menurut teori Penulis, Doom adalah orang di balik semua peristiwa Incursion ini. Di trailer, Reed Richards sempat bertanya kepadanya apakah ia yang melakukan ini semua, sehingga Penulis mengira kalau apa yang dirujuk oleh Richards adalah peristiwa Incursion ini.

Namun, Penulis menebak kalau nantinya Doom akan muncul dulu sebagai sosok yang disebut akan menyelamatkan multiverse. Barulah pada akhirnya akan terbukti kalau ternyata ia justru menjadi dalang dari semuanya.

Penulis juga menganggap kalau motivasi Doom melakukan ini semua adalah karena ia kehilangan sesuatu yang sangat berharga baginya. Sue Storm di trailer juga sempat mengatakan bahwa dulunya, Doom bukan orang yang jahat.

Kehilangan sesuatu tersebut mendorongnya untuk menjadi Doom dan menyebabkan kekacauan multiverse dengan skala yang luar biasa. Ia pun menciptakan alter ego Doctor Doom, membuat topeng khasnya, dan berupaya mengobrak-abrik seluruh multiverse.

Kesimpulan

Sejak awal, Penulis termasuk orang yang skeptis terhadap film Avengers: Doomsday. Pasalnya, build up film ini terkesan kurang dan terburu-buru. Hingga kini, baru dua kali Doom benar-benar muncul, yakni di film Fantastic Four: The First Step dan film ini.

Sebagai perbandingan, Thanos yang menjadi villain utama film Avengers: Infinity Wars (2018) telah diperkenalkan sejak film Avengers pertama, yang rilis 2012. Ia juga sempat muncul beberapa kali, termasuk di film Guardians of the Galaxy Vol. 1.

Perasaan tersebut mulai membaik setelah menonton adegan-adegan baru di film Endgame Encore ini. Setidaknya, film ini arahnya mau ke mana sudah mulai terbayang. Walau begitu, perasaan takut kalau filmnya akan menjadi berantakan tetap ada.

Semoga saja Penulis salah dan Avengers: Doomsday tetap menjadi film yang menarik untuk ditonton.


Lawang, 30 September 2026, terinspirasi setelah menonton Avengers: Endgame Encore

Continue Reading

Fanandi's Choice

Blog ini milik Fanandi Prima Ratriansyah sejak 2018