Buku
Setelah Membaca Guru Aini
Andrea Hirata adalah salah satu penulis buku favorit Penulis. Penulis tidak perlu membaca sinopsis ceritanya untuk membeli buku-buku terbarunya. Selain karena memang tidak ada, Penulis sudah terlanjur jatuh cinta dengan gaya bercerita Hirata.
Oleh karena itu, Penulis tidak perlu berpikir dua kali untuk pre-order novel terbaru Hirata, Guru Aini. Apalagi, novel ini merupakan prekuel dari novel Orang-Orang Biasa dan mengangkat tema pendidikan. Amboi!
Apa Isi Buku Ini?
Jika di tetralogi Laskar Pelangi ada si jenius Lintang, maka di novel ini ada seorang jenius matematika bernama Desi Istiqomah. Kepintarannya ini akan membuatnya mudah diterima di perguruan negeri jurusan apapun, termasuk kedokteran.
Sayangnya, Desi telah menentukan pilihan hidupnya. Setelah lulus SMA, ia ingin mengabdi untuk negeri dengan menjadi seorang guru matematika karena terinspirasi oleh gurunya sendiri, Bu Guru Marlis.
Desakan dari ibu dan guru sekolahnya sama sekali tidak bisa mengubah keputusan yang sudah dibuat oleh Desi. Hanya sang ayah yang mendukung cita-cita mulia tersebut.
Desi tetap bersikukuh untuk mengambil program D-3 yang bertujuan untuk mencetak guru-guru matematika baru. Ia tak peduli jika harus ditempatkan di tempat terpencil sekalipun.
Pada akhirnya, Desi pun berhasil melanjutkan pendidikannya dan menjadi guru matematika. Sebagai lulusan terbaik, Desi berhak untuk memilih untuk ditempatkan di mana. Akan tetapi, ia menolak priviliege tersebut dan memilih tetap ikut undian.
Awalnya, ia mendapatkan tempat mengajar di dekat pelabuhan besar. Melihat teman dekatnya ditempatkan di daerah yang sangat terpencil, Desi pun memutuskan untuk bertukar tempat dengannya.
Maka dengan bekal sepasang sepatu olahraga yang dibelikan oleh ayahnya, Desi melakukan perjalanan berat menuju sebuah pulau terpencil bernama Tanjong Tampar.
Di tempat tersebut, ia bersumpah tidak akan ganti sepatu menemukan anak jenius matematika di pulau tersebut. Desi hampir berhasil ketika mendapatkan seorang murid bernama Debut Awaludin.
Sayangnya, Debut menyia-nyiakan kejeniusannya dan memilih untuk bergabung dengan segerombolan anak kurang pintar yang bernama Rombongan 9. Desi pun dibuat patah hati melihat kejadian ini dan mengubah peringainya selama bertahun-tahun ke depan.
Di sisi lain, ada seorang anak bernama Aini yang sama sekali tidak berbakat matematika. Jika disuruh mengerjakan soal ke depan, perutnya akan langsung terasa sakit.
Kejadian ini terus berlangsung hingga ia masuk SMA. Untungnya, ia tidak masuk ke kelas Bu Desi yang terkenal karena kegalakannya di kelas.
Aini, yang merupakan anak dari salah satu anggota Rombongan 9 bernama Dinah, menjalani kehidupan SMA-nya bersama teman-temannya sejak SD. Sayang, sekolahnya terganggu karena ayahnya sakit keras. Ia pun terpaksa tinggal kelas.
Sakit ayahnya membuat Aini sadar bahwa dirinya tidak bisa terus seperti ini. Ia merasa dirinya lah yang bisa mengobati ayahnya dengan menjadi seorang dokter. Langkah pertamanya adalah menguasai matematika dan diajar langsung oleh Bu Desi.
Apakah Aini bakal diterima oleh Bu Desi menjadi murid kelasnya? Bagaimana cara agar Aini, yang seolah alergi dengan matematika, bisa menguasai matematika? Langsung aja cus baca novelnya!
Setelah Membaca Guru Aini
Salah satu alasan mengapa Penulis menggemari karya-karya Andrea Hirata adalah gaya bertutur khas melayu yang dimiliki, serta candaan-candaan ringan yang membuat kita akan tersenyum. Kedua hal tersebut dimiliki oleh novel Guru Aini yang satu ini.
Walaupun begitu, Penulis menangkap kritik sosial pada karya yang satu ini mengenai pemerataan pendidikan kita. Perjalanan berat yang dialami oleh Bu Desi ke Pulau Tanjong Tampar menunjukkan hal tersebut.
Tidak hanya itu, pihak sekolah juga terlihat kesulitan mencari tenaga mengajar, khususnya matematika. Ada guru yang diminta menunda pensiunnya, ada guru yang mengajar bukan bidangnya, dan lain sebagainya.
Alur ceritanya sendiri berjalan cepat, hampir tidak ada adegan yang digunakan untuk mengulur-ulur durasi. Penulis bisa menamatkan novel ini kurang dari tiga jam.
Hanya saja, Penulis merasa novel ini kurang padat dan sebenarnya bisa dijadikan satu buku dengan novel Orang-Orang Biasa. Perbedaan tema mungkin menjadi alasan mengapa akhirnya novel ini dibagi menjadi dua tulisan.
Kekurangan lain dari novel ini, sama seperti Orang-Orang Biasa, adalah tebalnya bagian katalog karya-karya Andrea Hirata di 1/8 belakang buku. Seolah sinopsis di bagian sampul belakang tidak cukup menunjukkan eksistensi sang penulis.
Sebagai seorang penulis yang telah memiliki nama, seharusnya hal-hal seperti ini tidak perlu dilakukan karena hanya akan membuat pembaca merasa risih.
Kita semua tahu novel Laskar Pelangi telah dicetak di banyak negara, kita tidak perlu tahu lagi setiap membeli novel-novel karyanya. Penulis tidak tahu apakah ini bagian dari promosi penerbit atau sekadar bentuk narsistik sang penulis.
Terlepas dari kekurangannya, Penulis merekomendasikan novel ini untuk semua kalangan, terutama yang tertarik dengan bidang pendidikan.
Nilainya: 4.2/5.0
Kebayoran Lama, 8 Februari 2020, terinspirasi setelah menamatkan buku Guru Aini karya Andrea Hirata
Non-Fiksi
[REVIEW] Setelah Membaca Start with Why
Ketika sedang bingung ingin membeli buku apa, Penulis biasanya mempertimbangkan genre apa yang sedang habis di rumah. Nah, salah satu yang kerap habis adalah buku-buku self-improvement, karena memang biasanya relatif mudah dicerna dan inspiratif.
Mengingat buku self-improvement ada begitu banyak macamnya, tentu memilih salah satunya juga menjadi PR tersendiri. Kalau tidak memilih yang sedang Penulis rasa butuhkan, maka Penulis akan memilih yang populer dan banyak dibaca orang.
Oleh karena itu, ketika mengetahui buku Start with Why dari Simon Sinek merilis “Edisi 15 Tahun”, tentu Penulis jadi penasaran mengapa buku ini bertahan sekian lama di peredaran. Apakah isi bukunya memang sedahsyat itu?
Detail Buku Start with Why
- Judul: Start with Why (Dengan Materi yang Diperbarui)
- Penulis: Simon Sinek
- Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
- Cetakan: Ke-23
- Tanggal Terbit: Oktober 2025
- Tebal: 366 halaman
- ISBN: 9786020628837
- Harga: Rp100.000
Apa Isi Buku Start with Why
Dari judulnya, sebenarnya kita bisa menerka kalau isi buku ini akan mengajak kita untuk mencari MENGAPA dalam kehidupan kita sehari-hari. Dengan memiliki MENGAPA yang jelas, kita akan lebih terdorong untuk melakukan sesuatu.
Secara garis besar, buku ini dibagi menjadi lima bagian utama sebagai berikut:
- Bagian 1: Dunia yang Tidak Dimulai dengan Pertanyaan Mengapa
- Bagian 2: Sudut Pandang Alternatif
- Bagian 3: Pemimpin Butuh Pengikut
- Bagian 4: Cara Menggalang Orang-Orang yang Percaya
- Bagian 5: Tantangan Terbesar adalah Sukses
Seperti kebanyakan buku-buku self-improvement pada umumnya, buku ini juga diselipi oleh kisah inspiratif dari tokoh-tokoh hebat. Beberapa yang paling sering diulang adalah Steve Jobs dan Apple, Wright Bersaudara (penemu pesawat terbang), Southwest Airlines, hingga Martin Luther King Jr.
Nama-nama tokoh yang disebutkan di dalam buku ini diceritakan selalu memiliki MENGAPA yang jelas, baik dalam membuat produk hingga mengajak dan menginspirasi orang. Yang melekat pada mereka adalah MENGAPA mereka melakukannya, bukan APA yang dilakukannya. Ini dibahas panjang lebar di Bagian 3 dan 4.
Satu bagian yang bagi Penulis menarik ada di Bagian 2, Bab “Lingkaran Emas”. Di dalam bab tersebut, ada tiga lingkaran yang terdiri dari APA (lingkaran terluar), BAGAIMANA (lingkaran tengah), baru MENGAPA (lingkaran terdalam).
Kebanyakan orang akan berhenti di APA YANG DILAKUKAN, atau paling mentok di BAGAIMANA MELAKUKANNYA. Namun, orang-orang hebat akan selalu memiliki MENGAPA MELAKUKANNYA.
Bagian lain yang bagi Penulis menarik adalah bagian Manipulasi vs Inspirasi. Sederhananya, APA dan BAGAIMANA itu masih bagian dari memanipulasi orang lain, sedangkan MENGAPA sudah masuk ke bagian yang menginspirasi orang lain.
Setelah Membaca Buku Start with Why
Sebagai pengagum Steve Jobs dan Apple, selalu menyenangkan rasanya ketika mereka digunakan sebagai contoh di buku self-improvement. Namun, tidak di buku ini, karena penggunaan mereka sebagai contoh benar-benar terlalu banyak!
Hampir di setiap bab, mereka akan dijadikan contoh dalam setiap topik yang sedang dijelaskan. Dengan tebal buku yang mencapai 366 halaman, bisa dibilang contoh public figure atau perusahaan yang digunakan di buku ini kurang dari 10!
Hal ini tentu menjadi ironi, karena Sinek seolah menegaskan bahwa tak banyak kesuksesan karena benar-benar mengandalkan MENGAPA seperti katanya. Jika contohnya banyak, mengapa tidak dibuat contoh-contoh yang bervariasi?
Selain itu, Penulis merasa kalau buku ini adalah contoh dari apa yang pernah Coach Justin pernah katakan tentang buku-buku Amerika: inti bukunya satu, dijelasinnya ribuan kali. Itulah yang Penulis rasakan ketika membaca buku ini, terutama mulai dari bagian pertengahan.
Saat awal-awal membaca, Penulis masih bisa menikmati karena diberi insight mengapa MENGAPA itu sangat penting dalam berbagai aktivitas, entah itu di kerjaan maupun keseharian. Penulis akui penting untuk menemukan MENGAPA sebelum melakukan sesuatu.
Namun, makin ke belakang, Penulis merasa kalau isi bukunya hanya berputar-putar di hal yang sama. Hal ini diperparah dengan contoh yang digunakan juga hanya berputar-putar pada tokoh dan perusahaan yang itu-itu aja, seperti yang sudah Penulis singgung di atas.
Selain itu, sepanjang buku ini Sinek juga seolah ingin menekankan kalau ingin berhasil, harus punya MENGAPA. Kalau tidak, pasti akan gagal dengan menyebutkan beberapa contoh, seperti Walmart yang kehilangan MENGAPA-nya sejak meninggalnya sang founder.
Penulis jadi menangkap kalau teori yang ia paparkan menjadi bersifat mutlak, padahal belum tentu juga. Sinek juga terasa terlalu menyederhanakan penggunaan MENGAPA dalam perusahaan-perusahaan yang sukses.
Contoh, Sinek mengatakan kalau orang-orang memilih Apple karena MENGAPA yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Padahal, tidak sesederhana itu. Bisa saja orang membeli produk Apple karena APA yang mereka jual, untuk flexing, dan lain sebagainya.
Dengan kata lain, ada banyak sekali peluang kita tidak menggunakan MENGAPA ketika membeli sebuah produk atau memilih sebuah layanan. Mungkin kita punya MENGAPA kita memilih mereka, tapi kita kemungkinan tidak terlalu peduli dengan MENGAPA mereka.
Jika buku ini hanya berfokus pada inti yang ingin disampaikan, mungkin sebenarnya tidak akan butuh lebih dari 100 halaman, bukan lebih dari 300 halaman. Penulis bahkan sudah tidak ingat mayoritas bagian di akhir buku, karena memang sudah terasa membosankan.
Sejujurnya, Penulis tidak terlalu berani merekomendasikan buku ini kepada Pembaca, mengingat jumlah halamannya yang cukup tebal. Nantinya, waktu yang dihabiskan untuk membaca buku ini tidak terasa worth it dengan apa yang didapatkan.
Skor: 5/10
Seandainya saja isinya lebih to the point, dengan contoh yang lebih bervariasi, dan isi halaman yang lebih sedikit (yang otomatis membuat harganya lebih terjangkau), mungkin Penulis akan memberikan skor yang lebih tinggi lagi.
Lawang, 16 Juni 2026, terinspirasi setelah membaca buku Start with Why karya Simon Sinek
Fiksi
[REVIEW] Setelah Membaca Teka-Teki Gambar Aneh
Meskipun tidak terlalu terkesan setelah membaca Teka-Teki Rumah Aneh, Penulis memutuskan untuk tetap membeli novel terbaru Uketsu. Kali ini, judulnya adalah Teka-Teki Gambar Aneh.
Saat membaca ulasan sekilas yang beredar di media sosia, banyak yang menyebutkan kalau cerita di novel ini lebih gila dibandingkan novel yang pertama. Ekspektasi Penulis pun jadi meninggi, meskipun tetap menyiapkan ruang untuk merasa kecewa.
Untungnya, setelah menamatkan novel ini dalam durasi yang relatif singkat, Penulis bisa mengatakan kalau Teka-Teki Gambar Aneh memang lebih gila dari Teka-Teki Rumah Aneh! Penulis akan jelaskan alasannya pada tulisan kali ini.
SPOILER ALERT!!!
Detail Buku Teka-Teki Gambar Aneh
- Judul: Teka-Teki Gambar Aneh
- Penulis: Uketsu
- Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
- Cetakan: Ke-2
- Tanggal Terbit: Februari 2026
- Tebal: 312 halaman
- ISBN: 9786020687209
- Harga: Rp99.000
Apa Isi Buku Teka-Teki Gambar Aneh?
Sesuai dengan judulnya, kali ini kita akan disuguhi banyak gambar aneh yang jika dilihat sekilas tidak memiliki makna yang berarti. Memang, denah rumah bisa disebut sebagai “gambar” juga, tapi ini literally gambar berbagai macam hal.
Melansir dari sinopsis resminya, ada gambar yang dibuat seorang wanita hamil di internet, gambar yang dibuat seorang anak kecil sebagai hadiah Hari Ibu, dan gambar yang dibuat seorang korban pembunuhan di saat-saat terakhirnya.
Cerita dibagi menjadi ke dalam empat bab, yang pada awalnya tidak terlihat seperti terhubung satu sama lain. Alurnya sendiri maju mundur, karena satu bab ke bab lainnya tidak linear dalam satu lini masa. Berikut adalah judul dari keempat bab di novel ini:
- Gambar Wanita Berdiri Diterpa Angin
- Gambar Kabut yang Menutupi Unit Mansion
- Gambar Terakhir Guru Seni Rupa
- Gambar Pohon Pelindung Burung Gelatik
Jadi, setidaknya akan ada empat gambar berbeda yang akan menjadi pusat dari masing-masing cerita, karena masih ada gambar-gambar lainnya juga. Yang menggambar pun juga berbeda-beda, tapi tidak akan Penulis jelaskan di sini karena berpotensi spoiler.
Penulis telah sering mengatakan kalau format seperti ini adalah salah satu favoritnya, apalagi kalau keterhubungannya benar-benar tak terpikirkan. Nah, novel ini pun begitu, di mana tiap-tiap cerita memiliki karakter yang berbeda.
Di cerita pertama misalnya, ceritanya berpusat pada karakter Sasaki dan Kurihara (orang yang sama di novel pertama), yang sama-sama merupakan anggota dari kelompok occult. Mereka berdua mendiskusikan sebuah blog yang terasa janggal bernama “Catatan Hati Nanashino Ren”.
Di blog tersebutlah mereka menemukan sekumpulan gambar aneh yang berusaha mereka pecahkan, apalagi jika membaca tulisan-tulisan pemilik blog. Total ada lima gambar yang terlihat tidak memiliki hubungan sama sekali di cerita pertama ini.
Fun Fact: Blog tersebut benar-benar ada! Pembaca bisa mengaksesnya di https://nanashinoren.blog.jp/
Lalu di cerita kedua, angle-nya bergeser ke seorang anak bernama Yuta yang baru akan menginjak usia enam tahun. Di cerita ketiga, bergeser lagi ke kematian seorang guru seni rupa bernama Miura. Bisa dibayangkan, bukan, bagaimana cerita-cerita di buku ini seolah berdiri sendiri?
Yang bisa Penulis katakan adalah, gambar-gambar aneh di novel ini bukanlah sekadar gambar biasa. Gambar-gambar di sini adalah sebuah petunjuk, baik untuk mengetahui watak seseorang, pesan kematian, hingga petunjuk tentang adanya kasus pembunuhan.
Setelah Membaca Teka-Teki Gambar Aneh
Penulis cukup terperangah setelah menamatkan novel ini. Plot twist yang dimiliki benar-benar mengejutkan dan sama sekali tak terpikirkan. Bahkan, Penulis bisa bilang kalau setiap bab memiliki twist-nya sendiri.
Keterhubungan antara empat bab di novel ini sebenarnya berpusat pada satu karakter, yang tidak akan Penulis ungkap di sini. Namun, kita tidak akan menyadarinya hingga akhir bab kedua, atau bahkan ketika akhir bab tiga.
Begitu semuanya terungkap, kita baru menyadari betapa besarnya skema kriminal yang terjadi sepanjang novel ini. Tulisan dan gambar-gambar aneh di blog yang ditemukan Sasaki dan Kurihara ternyata hanya tip of the iceberg.
Selain itu, motif tiap pembunuhan yang terjadi di novel ini pun bukan karena dendam, harta, atau hal-hal yang kerap kita jumpai pada cerita-cerita detektif pada umumnya. Ketika motifnya terkuak di bab empat, kita akan sulit memercayainya.
Bahkan, keberadaan pihak polisi baru muncul menjelang akhir cerita. Artinya, kejahatan yang dilakukan oleh pelaku berhasil ia sembunyikan dengan baik selama bertahun-tahun, walau pada akhirnya ada seseorang yang berhasil membongkar semuanya.
Pace cerita di sini pun cukup cepat, apalagi jika mengingat ada empat cerita yang berbeda. Itulah yang membuat Penulis hanya membutuhkan waktu singkat untuk menamatkannya, karena selalu ada hal yang menimbulkan rasa penasaran. Mungkin juga karena terjemahan buku ini mudah untuk dicerna.
Penulis bersyukur bahwa konklusi dari novel ini tidak memiliki keterkaitan dengan dunia okultisme, seperti yang Penulis temukan di Teka-Teki Rumah Aneh. Penulis merasa cukup puas dengan penjelasan akhirnya yang lebih ke sisi psikologis yang mindblowing.
Jika disuruh membicarakan kekurangannya, jujur Penulis kesulitan menemukannya. Penulis tidak menemukan plot hole atau hal ganjil yang membuat Penulis tidak puas dengan novel ini. Penulisannya rapi dan tertata, sehingga semua hal telah mendapatkan penjelasan yang cukup.
Mungkin, justru motif pelaku di novel ini menjadi tanda tanya besar bagi Penulis. Benarkah ada orang yang tega melakukan pembunuhan-pembunuhan dengan motif seperti itu? Apakah itu karena sang pelaku seorang psikopat yang sadis sekaligus overprotective?
Kesimpulannya, Penulis menikmati novel ini dan merekomendasikannya kepada Pembaca yang menyukai kisah detektif yang di permukaan terlihat sederhana, tapi memiliki kerumitan di dalamnya.
Skor: 9/10
Lawang, 6 Juni 2026, terinspirasi setelah membaca Teka-Teki Gambar Aneh karya Uketsu
Non-Fiksi
[REVIEW] Setelah Membaca The Let Them Theory
Pada bulan November tahun lalu, Penulis mendengar istilah “The Let Them Theory” untuk pertama kali dari seorang teman. Saat itu, kami memang sedang mendiskusikan tentang melepaskan kemelekatan.
Nah, lantas pada waktu ke Gramedia pada bulan Februari tahun ini, Penulis menemukan buku berjudul The Let Them Theory karya Mel Robbins. Waktu itu, Penulis belum tahu kalau istilah tersebut ternyata merupakan judul buku.
Karena penasaran dengan isinya (dan merasa butuh belajar melepaskan juga), Penulis akhirnya memutuskan untuk membelinya. Alhasil, buku ini berhasil Penulis tamatkan dalam waktu yang relatif singkat.
Disclaimer: Saat menulis artikel ini, Penulis menyadari ada isu plagiarisme yang ditujukan ke buku ini. Walau begitu, tulisan ini hanya akan fokus membahas isi buku ini.
Detail Buku The Let Them Theory
- Judul: The Let Them Theory
- Penulis: Mel Robbins dan Sawyer Robbins
- Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
- Cetakan: Ke-3
- Tanggal Terbit: Januari 2026
- Tebal: 328 halaman
- ISBN: 625221049
- Harga: Rp119.000
Apa Isi Buku The Let Them Theory
Inti dari buku The Let Them Theory sebenarnya sangat stoik, yakni tentang bagaimana kita fokus tentang diri kita sendiri dan menaruh “kekuasaan” kepada diri sendiri.
Selama ini, jangan-jangan kita menaruh “kekuasaan” tersebut ke orang lain, sehingga kehidupan kita pun jadi terpengaruh oleh orang lain. Buku ini pun menjadi pengingat kalau kita harus kembali merebut kendali atas kehidupan kita sendiri.
Meskipun judulnya “Let Them” atau “Biarkan Mereka”, sebenarnya ada satu lagi bagian yang akan dibahas hampir di setiap babnya, yakni “Let Me” atau “Biarkan Aku”.
Jadi, selain “Biarkan Mereka” yang sifatnya eksternal, kita juga akan belajar tentang “Biarkan Aku” yang berfokus pada apa yang bisa kita lakukan. Kalau dua hal tersebut bisa kita terapkan dalam keseharian, buku ini menjanjikan kehidupan yang lebih tenang.
Secara garis besar, buku ini dibagi menjadi tiga bagian utama, yakni Teori Biarkan Saja, Kau dan Teori Biarkan Saja, dan Hubunganmu dan Teori Biarkan Saja. Setiap bagian akan memiliki beberapa bab dan sub-bab.
Teori Biarkan Saja akan memaparkan dasar-dasar teori yang akan dibahas secara berulang sepanjang buku ini. Nah, di bagian selanjutnya, kita akan melihat bagaimana menerapkan teori tersebut ke diri kita sendiri.
Ada empat bab utama di bagian ini, yakni Mengelola Stres, Takut akan Pendapat Orang Lain, Menghadapi Reaksi Emosianal Orang Lain, dan Mengatasi Perbandingan Kronis.
Bagian terakhir adalah tentang bagaimana menerapkan teori ini dalam konteks berhadapan dengan orang lain, entah itu keluarga, teman, pasangan, maupun orang asing yang menyebalkan.
Bagian ini juga ada empat bab, yakni Memahami Pertemanan Orang Dewasa, Memotivasi Orang Lain untuk Berubah, Membantu Orang Lain yang Sedang Mengalami Kesulitan, dan Memilih Cinta yang Layak Kau Dapatkan.
Setelah Membaca The Let Them Theory
The Let Them Theory adalah bacaan yang ringan, sehingga cocok untuk dibaca pembaca pemula yang kerap overthinking seperti Penulis. Isinya sendiri sebenarnya menurut Penulis hanya “varian” dari konsep Dikotomi Kendali dari stoikisme.
Hanya saja, Penulis terkadang merasa bisa mendapatkan buku yang tepat di waktu yang tepat. Nah, buku ini termasuk salah satunya. Penulis membaca buku ini di saat yang tepat, sehingga isinya pun bisa related dengan dirinya.
Selama membaca, Penulis jadi sering berpikir, “Iya, ya?” ke dirinya sendiri. Mungkin Penulis sebenarnya sudah tahu akan hal tersebut dan buku ini hadir sebagai pengingat.
Perkara Menolong Orang Lain
Salah satu bab paling menohok bagi Penulis adalah “Membantu Orang Lain yang Sedang Mengalami Kesulitan”. Karena trauma masa kecil, Penulis cenderung extra effort untuk orang lain, terutama yang meminta bantuan ke Penulis.
Jadi, misal dimintai tolong sesuatu, Penulis akan memberikan lebih dari yang diminta. Tak jarang hal ini justru menimbulkan rasa risih dari orang yang meminta tolong.
Kasus yang sama juga terjadi jika ada orang yang cerita masalahnya. Penulis sering overthinking bagaimana jika orang tersebut tidak bisa menyelesaikan masalahnya tersebut, sehingga Penulis berinisiatif untuk melakukan sesuatu (yang juga bisa menimbulkan perasaan risih).
Setelah membaca buku ini, Penulis jadi sadar kalau orang ada masalah, ya sudah, biarkan saja mereka melewati masalahnya. Jika memang butuh bantuan, mereka akan bilang. Tidak perlu melakukannya secara berlebihan, sewajarnya saja.
Tak hanya dalam hal menolong, menasehati pun juga menjadi hal yang dibahas di buku ini. Tentu kalau kita merasa perlu menasehati tidak masalah, tapi jangan berharap kalau orang tersebut akan langsung berubah begitu mendengar nasehat kita.
Fokus ke Diri Sendiri
Hal lain yang Penulis berusaha terapkan setelah membaca buku ini adalah bagaimana Penulis berusaha meletakkan fokus hidupnya ke diri sendiri, bukan ke orang lain. Penulis merasa dirinya selama ini terlalu berorientasi ke orang lain
Misal, jika Penulis ingin menolong orang lain, ya karena Penulis ingin, bukan karena berharap orang tersebut akan ini itu di masa depan. Jika ingin melakukan sesuatu, ya karena kita ingin, bukan karena orang lain.
Perubahan logo whatheFAN pun terinspirasi setelah membaca buku ini. Penulis ingin blog ini tetap jadi wadah tulisan apa yang ingin Penulis tulis, bukan apa yang Penulis pikir akan dibaca oleh orang lain.
Perkara Perbandingan Kronis
Bab lain yang sangat masuk ke Penulis adalah bagian “Mengatasi Perbandingan Kronis”. Penulis yang pada dasarnya punya low esteem kerap membandingkan hidupnya dengan orang lain yang dianggap lebih hebat.
Penulis sering merasa kalau “kemenangan” orang lain berarti “kekalahan” kita. Padahal, itu kesimpulan yang salah karena “kemenangan” orang lain ya “kemenangan” mereka, tidak berpengaruh apa-apa ke kita, tidak menjadikan kita “kalah”.
Kekurangan Buku Ini
Hanya saja, tentu buku ini jauh dari sempurna. Sama seperti kebanyakan buku self-help yang merasa punya satu teori hebat, buku ini juga cenderung repetitif. Setelah membaca beberapa bab, maka kita akan merasa isinya “ini lagi ini lagi”.
Selain itu, isu plagiarisme buku ini memang cukup kencang terdengar. Memang bisa jadi benar kalau Mel Robbins terinspirasi dari buku tersebut, lalu mengklaim itu jadi miliknya. Namun, hal tersebut rasanya akan sulit untuk dibuktikan.
Sebenarnya buku ini juga mencantumkan daftar pustaka yang cukup panjang, serta ada juga wawancara dengan pakar. Jadi, semisal memang benar Robbins terinspirasi dari orang lain, ia tetap melakukan riset untuk memperdalam teori tersebut.
Walau mengandung kata “teori” di judulnya, sebenarnya tidak ada teori rumit di dalamnya. Buku ini ya buku motivasi pada umumnya, bahkan kalau boleh kritik, buku ini malah memperumit “teori” sederhana yang ingin dijelaskan.
***
Bagi Penulis, The Let Them Theory adalah buku yang menyenangkan untuk dibaca. Walau rasanya tak semua orang akan cocok dengan buku ini, Penulis merasa mendapatkan “pencerahan” ketika membaca isinya.
Buku ini menjadi pengingat kalau kita tidak boleh meletakkan kendali hidup kita orang lain. Kita yang harus bertanggung jawab atas diri kita sendiri, atas kebahagiaan kita sendiri, atas mood kita sendiri, dan lain sebagainya.
Sebaliknya, buku ini juga mengingatkan kalau kita tidak punya kendali atas hidup orang lain, jadi jangan berusaha untuk mengendalikannya. Sekali lagi, hanya diri kitalah yang benar-benar berada di bawah kendali kita.
Skor: 8/10
Lawang, 10 April 2026, terinspirasi setelah membaca The Let Them Theory karya Mel Robbins
-
Permainan10 bulan agoKoleksi Board Game #30: Deception: Murder in Hong Kong
-
Fiksi10 bulan ago[REVIEW] Setelah Membaca A Midsummer’s Equation
-
Politik & Negara10 bulan agoKepada Tuan dan Puan yang Terhormat…
-
Olahraga10 bulan agoSudah Tak Tahu Lagi Apa yang Harus Diubah dari Tim Ini
-
Pengembangan Diri10 bulan agoMemahami Sumber Ketidakbahagiaan untuk Menemukan Kebahagiaan
-
Pengembangan Diri10 bulan agoJangan Menunggu Sempurna, Mulai Aja Dulu
-
Olahraga9 bulan agoKita Selalu Senang Jika Ada Pembalap yang Raih Podium Perdana
-
Sosial Budaya10 bulan agoPolemik Brave Pink Hero Green: Mengapa Kita Mudah Terpolarisasi



