Setelah Membaca Arah Musim

Penulis memiliki beberapa penulis novel favorit, seperti Andrea Hirata, Dee Lestari, hingga Leila S. Chudori. Sebisa mungkin Penulis melengkapi buku-buku yang mereka tulis.

Walaupun begitu, Penulis tidak menutup kemungkinan untuk membeli novel karya Penulis lain yang belum pernah dicoba. Terakhir, Penulis membeli sebuah novel karya Kurniawan Gunadi yang berjudul Arah Musim.

Ada beberapa alasan mengapa Penulis memutuskan untuk mencoba membeli novel ini tanpa perlu melirik ke dalamnya (selain karena waktu itu tidak ada sampel buku yang tersedia).

Pertama, ratingnya cukup tinggi di Goodreads dengan angka 4.4. Kedua, bukunya cukup tipis sehingga jika ternyata isinya tidak seberapa bagus tidak akan kecewa-kecewa amat.

Apa Isi Buku Ini?

Saat membaca sinopsis ceritanya, Penulis tidak mendapatkan apa yang akan diceritakan di dalam buku ini. Hanya tertulis kata-kata puitis yang bernada uplifting.

Penulis terkejut ketika membuka plastik yang membungkus buku ini. Bagaimana tidak, isinya terdiri dari banyak bagian yang hanya terdiri dari satu halaman, bukan seperti novel pada umumnya.

Buku ini terdiri dari enam bab, Arah Musim 1 hingga 6. Setiap bab itu terdiri dari banyak bagian yang setelah Penulis baca ternyata tidak saling berkaitan sama sekali.

Penulis sempat kebingungan memahami konsep dari buku ini, karena di setiap awal bab ada sebuah cerita yang berhubungan, namun isi selanjutnya benar-benar lepas. Setidaknya seperti itu yang Penulis pahami.

Oleh karena itu, Penulis berusaha mencari pencerahan dengan membaca ulasan yang terdapat pada Goodreads. Ternyata, memang gaya bukunya mengambil cuplikan-cuplikan kehidupan yang kadang luput dari pengamatan kita.

Untuk cerita di setiap awal bab yang sudah penulis singgung sendiri bercerita tentang seorang wanita yang dilamar oleh suami kakaknya. Kakaknya sendiri meninggal ketika melahirkan anak.

Selain itu, rasanya tidak ada yang bisa Penulis ceritakan lagi tentang buku ini.

Setelah Membaca Buku Arah Musim

Ketika membaca buku ini, rasanya seperti membaca buku-buku Ahmad Rifa’i Rifan, namun dikemas dengan bahasa yang puitis. Nuansa Islam cukup kental di sini.

Ada banyak sekali hal-hal sederhana di dalam hidup yang kerap terlewatkan begitu saja. Buku ini hadir sebagai pengingat hal-hal yang terlupakan seperti itu.

Sebenarnya bahasanya enak untuk dicerna. Hanya saja, buku ini berbeda dari bayangan Penulis ketika membelinya sehingga menimbulkan sedikit kekecewaan. Harusnya di belakang buku ditulis sebagai kumpulan cerpen, bukan novel.

Walaupun begitu, Penulis tetap memiliki bagian favorit. Yang pertama berjudul Tidak Mengenalmu yang membahas tentang sikap nge-judge orang lain dan Sudut Pandang Ibu yang membuat Penulis teringat kepada ibu.

Buku ini Penulis rekomendasikan untuk semua kalangan yang mendambakan bacaan ringan namun memotivasi. Rasanya, buku ini akan cocok dibaca untuk usia remaja yang akan beranjak dewasa.

Nilainya: 3.8/5.0

 

 

Kebayoran Lama, 15 Februari 2020, terinspirasi setelah membaca buku Arah Musim karya Kurniawan Gunadi