Film & Serial
Setelah Menonton Hawkeye
Setelah absen di tahun 2020, Marvel seolah “balas dendam” di tahun 2021. Selain merilis empat film ke layar lebar, Marvel juga merilis 5 serial sekaligus di layanan streaming Disney+. Yang menjadi penutup adalah serial Hawkeye.
Berakhir menjelang hari Natal, bisa dibilang serial ini cukup ringan dibandingkan dengan para pendahulunya. Konfliknya lokal saja, tanpa melibatkan manusia super maupun multiverse. Selain itu, Hawkeye juga berhasil membawa nuansa Natal bagi penontonnya.
Setelah tertunda lebih dari dua minggu, akhirnya Penulis berkesempatan untuk menulis ulasannya mengenai serial ini. SPOILER ALERT!!!
Episode 1 – Jangan Pernah Bertemu Pahlawanmu

Jalan Cerita Hawkeye Episode 1
Episode satu dimanfaatkan Marvel untuk memperkenalkan sosok Kate Bishop (Hailee Steinfeld), tentang mengapa ia mengidolakan Clint Barton/Hawkeye (Jeremy Renner), memiliki kemampuan memanah yang baik, tentang keluarganya, dan masih banyak lainnya.
Di sini juga diketahui bahwa ibunya, Eleanor (Vera Farmiga), telah bertunangan dengan Jack Duquesne (Tony Dalton) dalam sebuah acara charity. Kate mengetahui bahwa ada sebuah acara lelang pasar gelap di tempat tersebut, sebelum diinterupsi oleh Tracksuit Mafia.
Geng tersebut berusaha mengicar sebuah jam tangan yang berasal dari Avengers Compound. Kate lantas mencuri jubah Ronin milik Hawkeye yang juga dilelang di sana dan berusaha menghentikan mafia tersebut. Di sisi lain, Jack mencuri pedang milik Ronin.
Setelah mengalahkan Tracksuit Mafia dan menyamatkan seekor anjing liar yang kelak bernama Lucky the Pizza Dog, Kate pergi ke apartemennya. Lantas, ia berusaha melacak Armand Duquesne (Simon Callow) yang mengancam ibunya di tempat charity.
Ternyata, ia menemukan Armand telah terbunuh menggunakan pedang. Ketika berusaha lari dari lokasi terrsebut, ia juga dikepung oleh anggota Tracksuit Mafia sebelum diselamatkan oleh Clint.
Setelah Menonton Hawkeye Episode 1
Sebagai episode perdana, episode ini terasa cukup padat dan mampu menjabarkan apa dan siapa saja yang akan terlibat dalam serial ini. Kostum Ronin yang dilelang di pasar gelap menjadi penghubung pertama dari hubungan Kate dan Clint.
Konflik ini membuat Kate pun terseret sepanjang serial dan Clint harus membereskan masalah yang ia terima akibat masa-masanya menjadi seorang Ronin. Sebagai pembuka, episode ini cukup menarik.
Episode 2 – Petak Umpet

Jalan Cerita Hawkeye Episode 2
Kate membawa Clint ke apartemennya. Sayangnya, Tracksuit Mafia berhasil melacak keberadaan Kate dan membakar apartemennya, membuatnya dan Clint harus kabur ke tempat bibi Kate.
Setelah itu, Clint membawa anak-anaknya pulang dan berjanji kepada mereka akan pulang sebelum hari Natal. Ketika akan mengambil kembali kostum Ronin, ia menemukan kalau kostum tersebut telah diambil oleh anggota pemadam kebakaran New York bernama Grills.
Ternyata, Grills merupakan anggota dari live action role-playing game (LARP). Demi mendapatkan kostumnya kembali, Clint pun harus rela bermain peran bersama mereka.
Selanjutnya, Clint sengaja membiarkan dirinya tertangkap oleh Tracksuit Mafia. Kate, yang curiga kalau Jack merupakan pembunuh Armand, mengikuti Clint dan pada akhirnya tertangkap juga.
Di akhir episode, kita bisa melihat kalau Tracksuit Mafia dipimpin oleh seorang wanita bernama Maya Lopez (Alaqua Cox), yang kelak akan dikenal dengan nama Echo.
Setelah Menonton Hawkeye Episode 2
Secara keseluruhan Penulis kurang menyukai episode ini. Alasan pertama, pencarian Clint terhadap siapa yang memiliki kostumnya melalui media sosial terasa terlalu mulus dan tanpa halangan. Kedua, adegan Clint bermain peran juga terasa aneh dan ganjil.
Seorang Clint Barton juga seharusnya bisa menembus api yang belum terlalu parah untuk mengambil kostum Roninnya daripada harus kehilangannya lagi. Plot hole ini juga yang menjadi kekurangan episode ini.
Episode 3 – Gema

Jalan Cerita Hawkeye Episode 3
Maya menginterogasi Clint dan Kate demi menemukan posisi Ronin, yang ia anggap sebagai pelaku pembunuh ayahnya. Clint dan Kate berhasil kabur, meskipun Maya berhasil menghancurkan alat bantu dengarnya.
Dalam perjalanan kaburnya, Clint menunjukkan beberapa trick arrow miliknya yang belum pernah kita lihat sebelumnya. Setelah berhasil kabur, Kate mengajak Clint untuk pergi ke penthouse-nya untuk mengakses database kriminal milik Bishop Security, di mana Clint bertemu dengan Jack.
Setelah Menonton Hawkeye Episode 3
Di episode ini, adegan one-shot di mobil ketka Clint dan Kate kabur benar-benar menarik. Beberapa Trick arrow yang digunakan oleh Clint juga menjadi daya tarik tersendiri.
Selain itu, episode ini memberikan petunjuk pertama mengenai kehadiran Kingpin (Vincent D’Onofrio) dari serial Daredevil di Netflix.
Episode 4 – Mitra, Benar, Bukan?

Jalan Cerita Hawkeye Episode 4
Setelah menjelaskan apa yang terjadi kepada Jack dan Eleanor, Clint pun pergi dari penthouse tersebut. Sebelum pergi, Eleanor mengingatkan Clint untuk tidak melibatkan Kate dalam urusannya.
Dengan bantuan istrinya, Laura (Linda Cardellini), ia mengetahui fakta bahwa Jack merupakan CEO dari Sloan Limited, sebuah perusahaan yang digunakan oleh Tracksuit Mafia untuk mencuci uang.
Setelah itu, Clint pergi menemui Kazi (Fra Fee) agar menghentikan ambisi Maya dalam mengejar Ronin. Laura memberi info kalau jam tangan yang dicuri Tracksuit Mafia terlacak dari sebuah apartemen, yang ternyata milik Maya.
Di tengah-tengah pertarungan antara Kate dan Maya, Clint diserang oleh seseorang yang ternyata adalah Yelena Belova (Florence Pugh) yang telah diperkenalkan di film Black Widow. Setelah pertarungan, Clint “mengusir” Kate demi menyelamatkan nyawanya.
Setelah Menonton Hawkeye Episode 4
Kemunculan Yelena di sini benar-benar mencuri panggung, setidaknya bagi Penulis yang memang menyukai karakternya. Meskipun tidak memiliki dialog, kemunculannya (yang sebenarnya sudah bisa ditebak) benar-benar menyenangkan.
Terlepas dari hal tersebut, episode empat terasa so-so dengan alur yang cukup. Konflik yang dihadapi oleh Clint dan Kate pun menjadi semakin rumit karena kehadiran Yelena.
Episode 5 – Ronin

Jalan Cerita Hawkeye Episode 5
Episode lima diawali dengan flashback ketika Yelena menjadi debu ketika Thanos menjentikkan jarinya di film Avengers: Infinity Wars. Setelah itu, kita bisa melihat kalau Jack ditangkap oleh kepolisian.
Kate kembali ke apartemennya dan menemukan kalau Yelena ada di sana. Mereka melakukan sebuah perbincangan, di mana Yelena mengatakan kalau dirinya ingin membunuh Clint Barton dan meminta Kate jangan ikut campur.
Di sisi lain, Clint melakukan recovery di apartemen Grills. Lalu, ia memancing Maya untuk bertemu dengannya menggunakan kostum Ronin. Clint juga memberi informasi bahwa kematian ayah Maya dilakukan karena permintaan bos Maya.
Hampir dikalahkan, Kate berhasil menyelamatkan Clint dan kabur, sedangkan Maya menjadi curiga ke Kazi. Episode ini diakhir dengan Yelena yang mengirim pesan ke Kate, menunjukkan ibunya memiliki koneksi dengan Kingpin.
Setelah Menonton Hawkeye Episode 5
Adegan perbincangan antara Yelena dan Kate membuat Penulis menyukai episode ini. Aksen Rusia yang dimiliki Florence Pugh benar-benar terasa seksi dan begitu adiktif untuk didengarkan.
Kemunculan pertama kali Kingpin di akhir episode juga menaikkan hype dari episode terakhir karena mengonfirmasi kalau Vincent D’Onofrio kembali memerankan sosok Kingpin.
Episode 6 – Jadi, Inikah Natal?

Jalan Cerita Hawkeye Episode 6
Eleanor bertemu dengan Kingpin untuk memutus relasi mereka, di mana Clint dan Kate menemukan fakta bahwa Eleanorlah yang membunuh Armand. Dalam acara holiday party Eleanor, Kate menunjukkan fakta ini ke ibunya.
Kazi mendapatkan perintah untuk membunuh Eleanor atas perintah Kingpin, tetapi ia justru menargetkan Clint. Mendapatkan bantuan dari LARPers, semua tamu undangan di evakuasi.
Yelena pun turut hadir dalam acara tersebut untuk membunuh Clint, tetapi Kate berusaha menghentikannya. Anggota Tracksuit Mafia pun bermunculan dan ada banyak trick arrow baru yang dilepaskan oleh Clint dan Kate di episode ini. Kazi sendiri dihentikan oleh Maya yang membelot dan terbunuh.
Setelah menghentikan banyak anggota Tracksuit Mafia, Yelena melakukan pertarungan 1 vs 1 melawan Clint, di mana Clint berhasil meyakinkan Yelena kalau dirinya tidak membunuh kakaknya, Natasha Romanoff.
Di sisi lain, Kingpin berusaha menghentikan Eleanor yang kabur sebelum ditolong oleh Kate. Pertarungan pun terjadi di antara keduanya yang dimenangkan oleh Kate. Setelah itu, Eleanor ditangkap oleh pihak kepolisian.
Episode ini diakhiri adegan Maya yang menghentikan Kingpin, lantas terdengar suara tembakan. Clint sendiri berhasil pulang ke rumahnya bersama Kate, di mana ia membakar kostum Ronin miliknya.
Setelah Menonton Hawkeye Episode 6
Sama seperti serial The Falcon and the Winter Soldier (TFATWS), episode terakhir dari Hawkeye terasa berantakan dan terlalu ramai. Rasanya semua tumpah blek begitu saja di episode ini.
Kingpin yang terkenal cukup kuat, nyatanya kalah dari “anak magang”. Banyak fan yang merasa hal tersebut sedikit dipaksakan. Kemunculan Maya yang tiba-tiba dan melawan Kazi juga terasa klise.
Satu-satunya adegan yang bisa Penulis nikmati di episode final ini adalah adegan antara Kate dan Yelena di lift yang begitu kocak. Penulis berharap kalau mereka berdua akan memiliki porsi lebih banyak di film-film MCU mendatang.
Penutup

Secara keseluruhan, serial Hawkeye masih bisa dinikmati, tetapi terasa biasa saja. Di antara lima serial Marvel yang telah tayang, Penulis akan menempatkan serial ini di posisi keempat, di atas TFATWS.
Ceritanya memang cenderung ringan dan sesuai dengan suasana Natal. Serial ini juga berhasil memperkenalkan sosok Kate Bishop dengan baik sebagai pengganti Clint Barton di MCU, sama seperti Yelena Belova menggantikan Natasha Romanoff.
Omong-omong soal Yelena, kemunculannya di serial ini benar-benar menyenangkan. Memiliki misi untuk membunuh Clint Barton, ia pada akhirnya luluh ketika mendengarkan siulan ala Nat. Namun, itu seperti menodai karirnya sebagai pembunuh bayaran, ia gagal membunuh targetnya.
Ada satu hal yang sangat mengganjal ketika menonton serial ini. Sampai menonton semua episodenya, Penulis tidak mengetahui apa alasan Tracksuit Mafia ingin mencuri sebuah jam tangan yang ternyata diketahui milik Laura Barton.
Selain itu, serial ini juga agak “mengecewakan” karena adegan post-credit-nya hanya menampilkan full version dari Rogers: The Musical. Padahal, biasanya Marvel menyisipkan info film/serial selanjutnya di sini.
Jika disimpulkan, Penulis akan memberikan serial ini nilai 6.5/10, di mana mayoritas angka tersebut disumbang oleh interaksi unik antara Yelena dan Kate.
Lawang, 9 Januari 2022, terinspirasi setelah menonton serial Hawkeye
Foto: Tom’s Guide
Film & Serial
[REVIEW] Setelah Menonton Linkin Park: Unshatter
Sebagai penggemar Linkin Park, tentu kalau ada film dokumenter tentangnya, Penulis akan menontonnya. Pertama kali Penulis tahu tentang film Linkin Park: Unshatter adalah ketika video trailernya muncul di YouTube Penulis, dengan soundtrack yang menggetarkan jiwa.
Penulis pada akhirnya tahu kalau soundtrack dari trailer tersebut berjudul “Inception/Intro”, yang kerap digunakan sebagai pembukaan konser Linkin Park, termasuk di Sao Paulo, Brasil. Lagu tersebut mengombinasikan “Castle of Glass”, “In the End”, hingga “Numb”.
Nah, walau begitu, Penulis tidak terlalu berharap kalau film ini akan masuk ke Indonesia, apalagi jika menilik pengalaman film Coyote vs. ACME yang juga tidak masuk pasar Indonesia. Untunglah film ini ditayangkan di Indonesia, dengan harga tiket yang lumayan mahal.
Detail Film Linkin Park: Unshatter
- Judul: Linkin Park: Unshatter
- Sutradara: Joe Hahn
- Cast: Mike Shinoda, Joe Hahn, Dave Farrell, Brad Delson, Emily Armstrong, Colin Brittain
- Durasi: 110 Menit
Apa Cerita Linkin Park: Unshatter

Linkin Park: Unshatter bercerita tentang perjalanan Linkin Park sejak ditinggal oleh vokalis utamanya, Chester Bennington, pada tahun 2017. Ada masa vakum yang lama sejak mereka akhirnya kembali dengan dua personel baru, yakni Emily Armstrong dan Colin Brittain.
Masing-masing personel berusaha menghadapi grief yang sedang dihadapi dengan caranya sendiri. Mike Shinoda misalnya, yang memutuskan untuk bersolo karier dan sempat merilis beberapa single dan album.
Pada satu titik, Joe Hahn yang merupakan DJ dari Linkin Park mengajak Shinoda untuk sekadar bertemu dan mengobrol tentang keinginan untuk membuat musik. Dave Farrel selaku bassist pun juga bergabung untuk mencoba membuat karya baru.
Hanya saja, pada perjalanannya tidak semua member memiliki ide serupa. Gitaris Brad Delson awalnya menolak, walau pada akhirnya memutuskan bergabung dengan catatan dirinya hanya fokus di balik layar dan tidak akan ikut tur band. Rob Bourdon sebagai drummer bahkan tidak mau terlibat sama sekali.
Dalam prosesnya, mereka pun berkenalan dengan Emily dan Colin, yang nantinya akan mengisi posisi vokalis dan drummer. Ternyata, sempat ada kepikiran kalau mereka tidak akan menggunakan nama Linkin Park, walau mereka menyadari bahwa musik yang mereka buat terdengar sangat Linkin Park.
Pada akhirnya, Linkin Park pun kembali pada tahun 2024 dengan vokalis baru, yang pada saat itu sempat menimbulkan pro-kontra. Mereka berhasil against all odds dan membuktikan bahwa legasi yang ditinggal Chester akan diteruskan kepada Emily. Bukan sebagai pengganti, melainkan penerus.
Setelah Menonton Linkin Park: Unshatter

Jujur saja, ini adalah kali pertama Penulis menangis ketika menonton sebuah film di bioskop. Kejadiannya terjadi ketika cuplikan konser di Sao Paulo dan Linkin Park sedang menyanyikan lagu “The Catalyst”.
Memang ada beberapa lagu Linkin Park yang bisa membuat Penulis menangis, tapi “The Catalyst” bukan salah satunya. Entah mengapa ketika mendengarkan bagian lift me up, let me go, Penulis tak kuasa membendung keluarnya air mata.
Ketika direnungkan, mungkin penyebabnya bisa merupakan kombinasi dari terpukau dengan keindahan musik serta keterlibatan penonton yang ikut bernyanyi, teringat almarhum Chester, atau juga merasa sedang disemangati oleh Linkin Park di masa-masa sulit seperti sekarang.
Bagi Penulis, Linkin Park bukan sekadar band favoritnya, tapi juga bagian dari hidupnya. Penulis telah mendengarkan mereka selama lebih dari 20 tahun dan kerap menemani Penulis dalam masa-masa sulit.
Terlepas dari kejadian yang agak memalukan tersebut, Penulis benar-benar menikmati film tersebut. Berdurasi lebih dari satu setengah jam, Penulis tidak pernah merasa bosan sama sekali. Apalagi, cerita yang disampaikan juga benar-benar terasa emosional.
Kita bisa melihat bagaimana dunia para anggota Linkin Park terasa shatter alias kacau balau setelah kematian Bennington yang mendadak. Shinoda bahkan mengatakan bahwa ia merasa seolah hidupnya tak memiliki tujuan lagi.
Masing-masing anggota juga secara jujur berusaha mengungkapkan kesulitannya. Entah mengapa walau kasusnya mungkin akan berbeda dengan kita, ada banyak bagian yang membuat kita bisa merasa related dengan apa yang pernah mereka hadapi.
Contohnya adalah ketika Delson mengatakan bahwa menjalani tur band sudah tidak cocok untuknya. Ia mengungkapkan bahwa selama ini dirinya merasa seperti berusaha “memasukkan pasak kotak ke dalam lubang bulat”, alias memaksakan sesuatu yang tidak mungkin akan cocok.
Walau begitu, mungkin karena passion mereka di bidang musik, karena kerinduan dalam menelurkan sebuah karya, mereka akhirnya memutuskan untuk kembali alias unshatter. Butuh 7 tahun hingga akhirnya mereka benar-benar tampil di hadapan para penggemar, dengan lagu dan personel baru.
Sepanjang film, kita akan sering melihat cuplikan dari konser Sao Paulo karena alurnya tidak sepenuhnya linear. Audio dari bioskop juga membuat pengalaman menontonnya menjadi lebih maksimal dan benar-benar memuaskan.
Satu hal lain yang menarik dari film ini adalah setiap dari sub-part-nya diberi judul sesuai dengan lirik dari lagu-lagu Linkin Park. Contohnya adalah “The Hardest Part of Ending is Starting Again”, yang diambil dari lagu “Waiting for the End”.
Tentu saja sebagai penggemar berat Linkin Park, Penulis akan memberikan film ini skor yang sangat tinggi kepada film ini. Khusus untuk film ini, Penulis tidak merasa ada kekurangan yang perlu dituliskan di artikel ini. Penulis benar-benar menyukai film ini.
SKOR: 11/10
Lawang, 8 Oktober 2026, terinspirasi setelah menonton film Linkin Park: Unshatter
Film & Serial
[REVIEW] Setelah Menonton Avengers: Endgame Encore
Jelang rilisnya film Avengers: Doomsday pada bulan Desember mendatang, pihak Marvel rupanya merilis ulang film Avengers: Endgame (2019) dengan beberapa adegan tambahan yang langsung nyambung ke film Doomsday.
Film ini diberi judul Avengers: Endgame Encore. Penulis telah menontonnya pekan kemarin di Surabaya, karena film ini agak telat masuk ke Malang. Karena khawatir kena spoiler duluan, Penulis pun sampai rela mengambil cuti agar bisa menonton film ini di hari premiere-nya.
Awalnya, Penulis mengira kalau film ini akan menyertakan beberapa deleted scenes yang tidak dimasukkan ke dalam versi 2019. Ternyata, sepanjang kurang lebih 3 jam, sama sekali tidak ada adegan baru yang disisipkan ke dalam film ini.
Adegan tambahan hanya terdapat pada akhir film, dengan total ada empat adegan yang semuanya memiliki keterkaitan dengan film Avengers: Doomsday. Di artikel ini, Penulis hanya akan membahas keempat adegan baru tersebut.

Detail Film Avengers: Endgame Encore
- Judul: Avengers: Endgame Encore
- Sutradara: Anthony dan Joe Russo
- Cast: Robert Downey Jr., Chris Evans, Chris Hemsworth, Mark Rufallo, Scarlett Johansson, Josh Brolin
- Durasi: 185 Menit
Apa Cerita Avengers: Endgame Encore?

Adegan baru pertama di film ini langsung melanjutkan apa yang menjadi ending bagi Endgame, adegan ketika Steve Rogers (Chris Evans) sedang berdansa dengan Peggy Carter (Hayley Atwell).
Tiba-tiba, terdengar sebuah ketukan pintu dari arah depan rumah. Rogers pun bersembunyi, sedangkan Carter membuka pintu untuk mengetahui siapa yang datang dan bertanya apakah ada yang bisa dibantu.
Sang tamu menjawab tidak dan justru menawarkan balik kalau dirinya bisa membantu Carter sekaligus Rogers. Tamu tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah Loki (Tom Hiddleston), yang mengenakan seragam TVA-nya.
Adegan kedua, menurut Penulis seharusnya menjadi post-credit untuk film Spider-Man: Brand New Day. Kita akan melihat Bruce Banner (Mark Rufallo), yang sempat kembali berubah menjadi Hulk yang tak terkendali, sedang mengurung diri di sebuah instalasi militer.
Ia terlihat sedang membuat video footage mengenai upayanya dalam membuat semacam alat penahan radiasi gamma terbaru dan akan melakukan demonstrasi terkait alat tersebut. Namun, tiba-tiba ada semacam glitch yang terjadi dan terdengar suara Doctor Doom (Robert Downey Jr.).
Doom hanya mengatakan kalau ia datang untuk collect Banner, sebelum kita mendengar suara erangan Doom. Setelah itu, kita bisa melihat semacam rune yang menjadi ciri khas Doom di lantai.
Adegan ketiga mungkin menjadi yang paling penting dari semuanya. Kita semua akan dibawa kembali ke “kantor” Time Variance Authority (TVA). Sempat terlihat juga foto Loki bersama tulisan “Best Employee of All Time”.
Kita bisa melihat Mobius (Owen Wilson) sedang melakukan rutinitas pekerjaannya, sebelum OB (Ke Huy Quan) dan Casey (Eugene Cordero) menemukan adanya Incursion. Bahkan, dua semesta yang akan bertabrakan tersebut terlihat berusaha saling menghancurkan demi menyelamatkan semestanya sendiri.
Setelah itu, jumlah Incursion terus bertambah dengan jumlah yang mengerikan, dengan terakhir disebutkan telah mencapai 3.000 kasus (sama seperti I love you 3.000 di film Endgame). OB pun mengatakan multiverse is collapsing.
Adegan baru yang terakhir adalah adegan ketika terdengar suara dentingan ketika Tony Stark membuat suit Ironman pertamanya di gua. Bedanya, kali ini suara tersebut disertai oleh pembuatan topeng Doom!
Setelah Menonton Avengers: Endgame Encore
Jujur, setelah menonton adegan tambahan di film ini, otak Penulis langsung sibuk membuat teori dan mencocokkan beberapa teori yang telah Penulis ketahui sampai sejauh ini. Oleh karena itu, mari kita bedah satu per satu adegan baru di film ini.
Adegan Steve Rogers dan Loki

Pertama, ketika Loki datang menghampiri Rogers dan Carter. Adegan ini seolah mengonfirmasi kalau di trailer Doomsday, Loki memang benar sedang mendatangi rumah Captain America.
Selain itu, adegan ini juga seperti mengonfirmasi kalau Rogers yang bertemu dengan Thor di trailer merupakan Rogers yang kita kenal selama ini. Bisa dibilang, ia melakukan perjalanan lintas waktu yang kemungkinan besar dibantu oleh Loki.
Namun, Rogers yang kita lihat di trailer brewokan, berbeda dengan di adegan film yang masih dalam kondisi tercukur bersih. Artinya, ada jeda waktu yang cukup panjang dari apa yang terlihat di akhir film Endgame Encore dan trailer.
Kalau menurut teori Penulis, tampaknya Rogers sedang diburu oleh Doctor Doom yang menganggapnya sebagai penyebab Incursion, yang membuat Doom kehilangan sosok penting dalam hidupnya. Loki pun datang untuk membantu mantan musuhnya tersebut.
Ini juga menimbulkan kontradiksi baru. Seperti yang kita tahu, akhir film Endgame juga memperlihatkan adegan Rogers yang menua dan menyerahkan perisainya ke Sam Wilson. Nah, kalau Rogers yang kita kenal ternyata dibawa oleh Loki, lantas siapa pria tua tersebut?
Semoga saja pada akhirnya nanti kita bisa mendapatkan penjelasan yang memuaskan di Doomsday mengenai hal ini.
Adegan Bruce Banner dan Doctor Doom

Salah satu hal yang paling membuat Penulis bingung di MCU adalah terkait masalah inkonsistensi Hulk. Seperti yang kita tahu, Banner telah berhasil menggabungkan otaknya dengan kekuatan fisik Hulk, yang sering disebut sebagai Professor Hulk.
Nah, hal ini lantas berubah di serial She-Hulk: Attorney at Law dan film Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings, di mana ia kembali ke wujud manusianya dengan mengenakan semacam alat di lengannya. Bukannya Banner harusnya sudah menguasai Hulk sepenuhnya?
Di film Brand New Day, kita masih bisa memaklumi bagaimana Banner kembali menjadi Hulk yang liar akibat campur tangan dari Jean Grey. Hanya saja, Marvel tidak pernah menjelaskan secara jelas mengapa Banner memutuskan untuk kembali ke wujud manusianya.
Oh iya, ada satu hal lagi seputar Hulk yang menggelitik Penulis: Ke mana She-Hulk dan Skaar, anak Hulk yang telah diperkenalkan sebelumnya?
Adegan TVA dan Topeng Doom

Lewat adegan yang diperlihatkan di kantor TVA, kita bisa mendapatkan gambaran mengenai konflik besar yang akan terjadi di film Doomsday. Semesta sedang saling bertabrakan dan menyebabkan Incursion dalam jumlah yang mengerikan.
Menurut teori Penulis, Doom adalah orang di balik semua peristiwa Incursion ini. Di trailer, Reed Richards sempat bertanya kepadanya apakah ia yang melakukan ini semua, sehingga Penulis mengira kalau apa yang dirujuk oleh Richards adalah peristiwa Incursion ini.
Namun, Penulis menebak kalau nantinya Doom akan muncul dulu sebagai sosok yang disebut akan menyelamatkan multiverse. Barulah pada akhirnya akan terbukti kalau ternyata ia justru menjadi dalang dari semuanya.
Penulis juga menganggap kalau motivasi Doom melakukan ini semua adalah karena ia kehilangan sesuatu yang sangat berharga baginya. Sue Storm di trailer juga sempat mengatakan bahwa dulunya, Doom bukan orang yang jahat.
Kehilangan sesuatu tersebut mendorongnya untuk menjadi Doom dan menyebabkan kekacauan multiverse dengan skala yang luar biasa. Ia pun menciptakan alter ego Doctor Doom, membuat topeng khasnya, dan berupaya mengobrak-abrik seluruh multiverse.
Kesimpulan
Sejak awal, Penulis termasuk orang yang skeptis terhadap film Avengers: Doomsday. Pasalnya, build up film ini terkesan kurang dan terburu-buru. Hingga kini, baru dua kali Doom benar-benar muncul, yakni di film Fantastic Four: The First Step dan film ini.
Sebagai perbandingan, Thanos yang menjadi villain utama film Avengers: Infinity Wars (2018) telah diperkenalkan sejak film Avengers pertama, yang rilis 2012. Ia juga sempat muncul beberapa kali, termasuk di film Guardians of the Galaxy Vol. 1.
Perasaan tersebut mulai membaik setelah menonton adegan-adegan baru di film Endgame Encore ini. Setidaknya, film ini arahnya mau ke mana sudah mulai terbayang. Walau begitu, perasaan takut kalau filmnya akan menjadi berantakan tetap ada.
Semoga saja Penulis salah dan Avengers: Doomsday tetap menjadi film yang menarik untuk ditonton.
Lawang, 30 September 2026, terinspirasi setelah menonton Avengers: Endgame Encore
Film & Serial
[REVIEW] Setelah Menonton Spider-Man: Brand New Day
Tepat ada satu bulan yang lalu, Penulis menonton film keempat Spider-Man versi Marvel Cinematic Universe (MCU), Spider-Man: Brand New Day. Berbeda dengan tiga film sebelumnya yang disutradarai oleh Jon Watts, film ini disutradarai oleh Destin Daniel Cretton.
Jujur, Spider-Man merupakan salah satu superhero favorit Penulis, sehingga film ini menjadi salah satu yang Penulis nantikan di tahun ini. Apalagi, dari trailernya, masih belum benar-benar diketahui siapa yang akan menjadi villain utama di film ini.
Meskipun sudah satu bulan berlalu, catatan Penulis tentang film ini masih tersimpan dengan rapi, sehingga Penulis memutuskan untuk tetap menuliskan pendapatnya terkait film ini. Apakah film ini memenuhi ekspektasi Penulis, atau justru mengecewakan?
Detail Film Spider-Man: Brand New Day
- Judul: Spider-Man: Brand New Day
- Sutradara: Destin Daniel Cretton
- Cast: Tom Holland, Zendaya, Jacob Batalon, Sadie Sink, Jon Bernthal, Mark Rufallo
- Durasi: 145 Menit
Apa Cerita Spider-Man: Brand New Day?

Beberapa tahun telah berlalu sejak peristiwa yang terjadi di film Spider-Man: No Way Home (2021), ketika Peter Parker (Tom Holland) meminta seluruh orang melupakan tentang dirinya. Ia pun menjalani hidup yang benar-benar baru, termasuk sebagai Spider-Man.
Walau begitu, ia tak benar-benar move-on dari kehidupan lamanya. Pasalnya, ia kerap memantau mantan pacar dan sahabatnya, MJ (Zendaya) dan Ned (Jacob Batalon), melalui akun media sosial mereka.
Pada satu titik, Peter menemukan sebuah fenomena aneh di mana ada seseorang yang mampu pindah dan menguasai tubuh orang lain, bahkan bisa berpindah-pindah dengan cepat (meskipun nanti diketahui perpindahan tersebut membutuhkan jarak).
Sosok yang bertanggung jawab atas peristiwa tersebut ternyata adalah Jean Gray (Sadie Sink), karakter yang dikenal sebagai salah satu X-Men terkuat. Ia mengincar Department of Damage Control (DODC) demi menyelamatkan kakaknya, Sara.
Di tengah kekacauan tersebut, Peter juga berusaha untuk mengatasi mutasi yang sedang terjadi pada tubuhnya. Sama seperti Peter Parker versi Tobey Maguire, ia juga mulai bisa mengeluarkan jaring dari tubuhnya secara organik tanpa menggunakan alat.
Singkat cerita, konflik antara Jean dan DODC semakin memuncak, di mana ia membuat Bruce Banner (Mark Rufallo) kembali berubah menjadi Hulk yang tidak terkontrol. Dibantu oleh Frank Castle alias The Punisher (John Bernthal), ia berhasil mengalahkan Hulk sekaligus Jean.
Namun, di sinilah plot twist terjadi. Peter akhirnya menyadari bahwa tujuan DODC adalah melakukan abusing kepada Jean (juga Sara yang ternyata telah meninggal) untuk mempelajari kekuatan mereka. Ia pun balik berusaha menyelamatkan Jean.
Di sisi lain, Jean yang mengetahui fakta tentang kematian kakaknya akhirnya emosinya meledak dan mampu membuat sebagian penduduk New York City membeku. Peter pun dengan menggunakan ingatannya tentang Bibi May berhasil menenangkan Jean.
Hanya saja, The Punisher yang sedang mengincar Jean sempat menembakkan peluru sniper dan Peter memasang badan untuk melindunginya. Walau sempat kritis, Peter berhasil selamat berkat bantuan Jean.
Setelah Menonton Spider-Man: Brand New Day
Menurut Penulis, ini bukanlah film tentang Spider-Man, melainkan tentang Peter Parker. Kita seolah diminta ikut merasakan apa yang sedang Peter rasakan, menanggung beban yang sedang ia pinggul, dan emosi yang berusaha yang ia kendalikan.
Oleh karena itu, jangan berharap kalau di film ini akan ada banyak adegan action seperti di film No Way Home. Yang bisa dianggap benar-benar keren mungkin pertarungan antara Spider-Man melawan Hulk di markas DODC, itu juga cuma sebentar.
Ada beberapa poin yang ingin Penulis sampaikan secara spesifik terkait film ini.
Film Spider-Man yang Menekankan Sisi Emosinya

Salah satu adegan paling emosional sekaligus “keterlaluan” di film ini adalah ketika Jean Gray merasuki MJ dan membuatnya berpura-pura ingat siapa Peter. Penulis awalnya sedikit mengangkat alis karena MJ yang sadar setelah berciuman benar-benar klise dan seperti dongeng. Untunglah ternyata itu hanya Jean yang berpura-pura!
Selain itu, keputusan untuk membuat MJ tidak langsung jatuh cinta kembali ke Peter setelah membaca surat yang ia buat beberapa tahun lalu Penulis anggap tepat karena lebih masuk akal. MJ tidak punya memori apa pun tentang Peter, sehingga tidak ada alasan untuknya jatuh cinta ke Peter.
Penulis justru berharap kalau pada akhirnya Peter benar-benar move on dari MJ di film-film selanjutnya. Ia harus bisa membuka lembaran baru karena orang yang ia cintai telah menyatakan, “I don’t love you” secara terang-terangan
Nah, yang membuat ambigu adalah bagian akhir film, ketika ia bersalaman dengan Ned. Setelah melakukannya, Ned tiba-tiba menyebut nama Peter, tapi tidak jelas apakah itu karena ia ingat siapa Peter atau sadar bahwa Peter yang ada di hadapannya adalah Spider-Man (karena MJ sempat kelepasan ngomong).
Kehidupan Pribadi Peter Parker yang Tidak Dieksplorasi

Anehnya, film ini sama sekali tidak mengeksplorasi kehidupan Peter Parker di luar menjadi Spider-Man. Apakah ia bekerja? Di mana ia bisa mendapatkan uang untuk mendapatkan semua peralatan canggihnya? Apakah ia tidak punya teman baru ketika kuliah?
Seperti yang kita tahu, Peter membuat AI sendiri yang diberi nama EV. Jujur, hal ini terasa janggal karena di akhir film No Way Home, kita melihat Peter menjahit sendiri kostum Spider-Man-nya yang terlihat keren tanpa ada sentuhan teknologi.
Penulis awalnya berharap di film ini akan melihat Spider-Man versi tradisional tanpa alat-alat canggih seperti di film-film sebelumnya. Sayangnya, tampaknya teknologi tersebut menjadi semacam shortcut untuk tidak meninggalkan plot holes di dalam film.
Sadie Sink sebagai Jean Gray dan The Punisher yang Melempem

Sesuai dengan prediksi banyak orang, Sadie Sink benar-benar terbukti menjadi Jean Gray. Hal ini membuatnya resmi menjadi jembatan ke era X-Men versi MCU, di mana film perdananya telah diumumkan akan tayang pada tahun 2028 mendatang.
Di layar lebar, ia adalah orang ketiga yang memerankan karakter ini setelah Famke Jansse dan Sophie Turner. Menurut Penulis, ia cukup baik dalam memerankan karakter telepath yang masih berusaha mengendalikan kekuatannya. Penulis penasaran, apakah ia sedang menuju sekolah Profesor Xavier di bagian akhir film?
Namun di sisi lain, kehadiran Jean Gray juga lumayan menggeser fokus filmnya. Film ini seolah tidak berfokus pada kehidupan Peter pasca-No Way Home, tapi menjadi jembatan untuk film X-Men yang akan tayang di masa depan.
Bicara soal karakter, The Punisher yang biasanya dikenal sangat badass terlihat melempem, seolah karakternya tertahan oleh rating film yang PG-13. Ia justru terlihat seperti om-om tsundere yang berusaha sok keren di hadapan keponakannya!
Alur Cerita yang Klise dan Mudah Ditebak

Salah satu hal yang membuat film ini terasa buruk adalah alur ceritanya yang mudah ditebak. Sejak awal, rasanya semua penonton bisa menduga kalau Jean Gray tidak benar-benar jahat dan DODC adalah villain yang sesungguhnya.
Pola cerita seperti ini bisa dibilang sangat klise dan overuse, bahkan rasanya konyol karena Peter lagi-lagi dikelabui oleh pihak penjahat. Sebelumnya di film Spider-Man: Far from Home (2019), ia juga ditipu mentah-mentah oleh Mysterio.
Tak hanya itu, Peter yang tiba-tiba mampu menguasai kemampuan mutasi barunya dengan kekuatan “tekad” juga terasa klise. Padahal, sepanjang film kita bisa melihat bagaimana ia benar-benar struggling dengan kemampuan barunya tersebut.
Penulis juga agak tertawa ketika mengetahui apa makna di balik V-Max. Bagi Penulis, plot V-Max ini terasa agak memaksa. Apakah memang tidak ada ruangan lain untuk menyekap Jean? Mengapa V-Max justru jadi yang terucap terakhir dari Sara?
Cameo Yelena yang Terasa Nanggung

Yelena Belova, yang diperankan oleh Florence Pugh, menjadi cameo yang paling mengejutkan di film ini. Namun, kehadirannya juga terasa “asal tempel” karena perannya di film ini rasanya bisa digantikan siapa saja, selama punya jaringan informasi yang luas.
Sama sekali tidak disinggung terkait pesawat Fantastic Four yang terlihat di adegan post-credit Thunderbolts* yang hendak menuju bumi. Hal ini menimbulkan pertanyaan, kejadian di film ini terjadi sebelum atau sesudah film Thunderbolts*?
Setidaknya, ada satu hal menarik yang terungkap dengan adanya interaksi antara Peter dan Yelena, yakni tentang “small potato” versus “big potato“. Marvel tampaknya ingin memfokuskan Spider-Man menghadapi street-villain level, sedangkan Avengers versi Yelena akan menangani ancaman yang lebih besar.
Sebenarnya ini hal yang cukup menggelikan, karena anggota Avengers mana selain Sentry yang lebih kuat dari Spider-Man?
Spider-Man Tidak Muncul di Avengers: Doomsday?
Film ini juga sama sekali tidak menyinggung tentang Doctor Doom yang akan menjadi musuh utama di film Avengers: Doomsday. Padahal, ini adalah film terakhir sebelum film kelima Avengers tersebut.
Adegan post-credit di film ini memang menunjukkan sinyal kalau ada Spider-Man di luar bumi yang terdeteksi oleh alat pelacak Spider-Man. Itu jelas pertanda bahwa ada Spider-Man dari mulitverse lain, tapi belum ada konfirmasi kalau itu akan berkaitan dengan film Doomsday.
Jujur, Penulis menjadi merasa waswas dan khawatir akan film Avengers: Doomsday, karena build up-nya benar-benar terasa kurang hingga saat ini.
Kesimpulan
Penulis tidak bilang benar-benar menikmati film ini, tapi juga tidak sampai menganggapnya jelek. Penulis memahami kalau film ini memang lebih menonjolkan sisi emosional daripada action-nya, tapi bukan berarti Penulis jadi menyukainya.
Walau begitu, Penulis tetap menganggap kalau film ini layak untuk ditonton, apalagi nuansa gelapnya lumayan dapat dan komedinya benar-benar tipis, tidak seperti trilogi sebelumnya yang cukup kental.
Film ini juga seolah memiliki pesan bahwa musuh terbesar kita justru diri kita sendiri, dan kita harus bisa mengalahkan sisi buruk diri kita tersebut. Peter Parker, yang merupakan seorang pahlawan, ternyata juga punya masalah yang related dengan kita!
SKOR: 7/10
Lawang, 29 Agustus 2026, terinspirasi setelah menonton Spider-Man: Brand New Day
-
Produktivitas10 bulan agoProductivity Hack #4: Kalau Cuma Butuh 5 Menit, Lakukan Sekarang
-
Olahraga12 bulan agoKita Selalu Senang Jika Ada Pembalap yang Raih Podium Perdana
-
Musik10 bulan agoTier List Lagu-Lagu IVE Versi Saya (Bagian 1: Single dan EP Jepang)
-
Permainan11 bulan agoKoleksi Board Game #31: Scrabble/Scrabble Together
-
Olahraga10 bulan agoLando Norris Memang Layak untuk Menjadi Juara Dunia 2025
-
Olahraga10 bulan ago“Saya Kira Situasi Membaik, Saya Kira Kondisi yang Sekarang Ini Sudah Cukup”
-
Nonfiksi11 bulan ago[REVIEW] Setelah Membaca Effortless
-
Fiksi11 bulan ago[REVIEW] Setelah Membaca Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop



You must be logged in to post a comment Login