Connect with us

Pengalaman

Terobsesi Oleh Inggris

Published

on

Dilihat dari gambar yang tertera sebagai gambar utama, nampak penulis sangat menyukai Inggris. Mulai dari wallpaper laptop, tepak, selimut, seprei hingga kursi semua bermotif Union Jack. Belum lagi jam dinding yang tidak masuk ke dalam frame. Lantas mengapa penulis begitu terobsesi dengan negara Ratu Elizabeth tersebut?

Mungkin alasan pertama, suka dengan motif benderanya. Sebagai penggemar hal-hal unik, jelas bendera Inggris Raya masuk ke dalam kategori tersebut. Sebenarnya Nepal juga memiliki bendera yang unik, sayangnya agak susah mencari aksesori bercorak bendera Nepal.

Alasan kedua, sekaligus alasan utama, penulis adalah penggemar berat serial Mr. Bean sejak kecil. Kesukaan akan kotanya, kehidupan masyarakat di sana seperti yang tercermin pada keseharian tokoh yang diperankan oleh Rowan Atkinson tersebut, melekat pada memori penulis hingga sekarang.

Bermimpi Ke Inggris

Sebenarnya penulis hanya berani berkhayal ke sana, tanpa tahu bagaimana bisa meraih impian tersebut. Lantas, setelah berbagai kejadian yang terjadi (bisa dibaca di cerpen Titik-Titik Kehidupan), penulis menemukan bahwa salah satu caranya adalah dengan melanjutkan studi ke sana. Karena biaya kuliah di sana sama dengan satu unit Innova (belum termasuk biaya hidup, tiket pesawat, dan lain-lain), maka penulis harus bisa mendapatkan beasiswa.

Beruntung, ketika sedang persiapan untuk tes IELTS di Kampung Inggris, Pare, penulis mengetahui beasiswa Chevening dari pemerintah Inggris. Dengan modal nekat (karena dibutuhkan pengalaman kerja dua tahun, dan penulis hanya menggunakan pengalaman dari startup), penulis mendaftar beasiswa tersebut dengan tiga pilhan kampus, University of ReadingUniversity of Birkbeck, dan Manchester Metropolitan University dengan jurusan Information Management/Information System.

Chevening Scholarship (https://www.arch2o.com/chevening-scholarships-applications-open-20172018-chevening-awards/)

Awal November tahun kemarin, setelah melakukan pendaftaran Chevening, penulis pergi ke Yogyakarta untuk datang ke acara education fair untuk bertemu dengan perwakilan dari Reading dan Manchester. Di sana penulis bercerita bahwa telah memilih kampus-kampus tersebut untuk beasiswa Chevening.

Entah karena telah bertemu dengan mereka atau memang karena berkas-berkas penulis memenuhi syarat, penulis berhasil mendapatkan LoA dari kedua kampus tersebut.

Ujian Pertama

LoA yang didapatkan penulis masih bersifat conditional, yang artinya masih bersyarat. Agar berubah menjadi unconditional, penulis harus mengirimkan sertifikat IELTS di atas 6.5 dan surat rekomendasi dari dosen ataupun atasan. Surat rekomendasi sudah dikantongi berkat komunikasi yang intens dengan dosen pembimbing skripsi dan atasan selama penulis kerja di Surabaya. Artinya, kurang nilai IELTS, sesuatu yang penulis tekuni selama empat bulan.

Dengan alasan feeling dan saran dari beberapa orang, penulis memutuskan untuk melakukan tes di Yogyakarta bersama seorang teman penulis sejak kuliah. Alhamdulillah, dua minggu setelah tes, penulis berhasil mendapatkan nilai yang dibutuhkan untuk mencari beasiswa.

Bukan Akhir dari Mimpi

Setelah mendapatkan LoA unconditional, nilai IELTS dan paspor, maka penulis melakukan update terhadap lamaran beasiswa penulis di situs Chevening dengan harapan bisa memperbesar peluang untuk lolos ke tahap wawancara.

Sayang, belum rezeki penulis untuk terbang ke Inggris.

Padahal, tiga hari sebelum pengumuman, penulis bertemu dengan Irem Oscoy, perwakilan dari University of Reading, di JW Marriot Surabaya dalam acara education fair juga. Di sana penulis bertanya tentang ini itu, termasuk bagaimana memberitahukan kepada pihak kampus bahwa kita tidak bisa membayar deposit awal karena masih menunggu beasiswa.

Henley, University of Reading (https://sparknewspaper.co.uk/news/henley-business-school-rises-in-the-rankings/)

Tidak apa-apa, masih ada 999 jalan lain menuju Inggris. Bagaimana caranya, penulis belum tahu, setidaknya penulis tidak akan menyerah untuk menemukan ke 999 jalan tersebut. Berhenti percaya terhadap mimpi bukanlah pilihan penulis, walaupun jalan terjal harus dilalui untuk itu.

 

 

Lawang, 21 Februari 2018, setelah sharing dengan Nabilla, Angela, dan Claudia perihal next step yang harus diambil

Pengalaman

Saya Habis Kena Tipu, Waspadai Modus Ini

Published

on

By

Sejujurnya, Penulis merasa malu ketika menuliskan tulisan ini. Bagi Penulis, ini adalah pengalaman yang memalukan dan seharusnya bisa Penulis hindari. Apalagi, selama ini Penulis dengan angkuhnya merasa tidak mungkin kena penipuan.

Namun, setelah dipertimbangkan, ada baiknya Penulis membagikan hal ini agar yang lain tidak menjadi korban seperti Penulis (walau kerugiannya memang tidak seberapa). Ini juga sebagai pengingat bagi Penulis bahwa jangan merasa kita pasti tidak akan kena kasus penipuan.

Oleh karena itu, Penulis akan bercerita tentang kronologi kejadiannya selengkap mungkin, sekaligus memberi tanda-tanda mulai mana penipuan bisa dideteksi. Semoga kisah yang memalukan ini bisa menjadi pelajaran bersama.

Berawal dari Pembelian di Tokopedia

Kejadian penipuan yang Penulis alami terjadi pada hari Jumat, 12 Juni 2026, atau sekitar satu bulan yang lalu. Pada hari itu, sekitar siangnya, kebetulan Penulis membelikan casing untuk smartwatch Huawei milik ayah Penulis karena dimintai tolong melalui Tokopedia.

Nah, tiba-tiba malamnya sekitar jam 10, ketika Penulis masih bekerja, tiba-tiba ada pesan WhatsApp masuk. Pesan tersebut mengatasnamakan dari pihak ekspedisi. Kebetulan, waktu itu paket Penulis dikirim oleh JNE.

Inti dari pesan tersebut adalah ada kesalahan pengiriman, sehingga paket Penulis nyasar ke orang lain. Oleh karena itu, sang penipu mengatakan akan mengganti rugi barang yang salah kirim tersebut.

Penulis pun diberi semacam link yang jelas alamatnya tidak jelas. Mengingat nomornya tidak dikenal, harusnya Penulis sudah langsung curiga, bukan? Harusnya begitu, tapi entah mengapa Penulis lengah malam itu dan mengeklik link tersebut.

Mungkin, penulis lengah karena waktu itu sudah malam dan fokus Penulis sudah menurun. Namun, ada satu hal lagi yang membuat Penulis sempat percaya: pesan WhatsApp tersebut mencantumkan nomor resi paket Penulis beserta nama Penulis secara lengkap.

Kembali ke link. Jadi, setelah mengeklik link yang diberikan, Penulis melihat semacam halaman yang sangat mirip dengan halaman Tokopedia. Sebenarnya, beberapa kali link tersebut error dan memunculkan pesan Malware. Bodohnya, Penulis mengabaikan peringatan tersebut.

Penulis pun memasukkan nomor telepon dan PIN Tokopedia-nya di laman tersebut. Lalu, muncullah SMS masuk dari Tokopedia yang memberikan kode OTP (One-Time Password). Setelah sempat beberapa kali lamannya error, Penulis pun memasukkan kode OTP di laman tersebut.

Di sinilah kebodohan terbesar Penulis, bahkan ketika menuliskan paragraf di atas, rasa malu tiba-tiba muncul begitu hebatnya hingga dada terasa sesak.

Berlanjut ke Barcode BCA

Singkat cerita, intinya laman tersebut berkali-kali error, sehingga pihak penipu mengatakan akan melanjutkan proses melalui transfer via bank, bahkan sampai menelepon Penulis. Nah, di sini kecurigaan Penulis mulai muncul kalau ini benar-benar penipu dan secara sadar ingin mengerjai balik.

Sang penipu mengirimkan sebuah kode barcode yang katanya akan mengirimkan uang sejumlah nominal pembelian Penulis. Ketika ditanya Penulis menggunakan bank apa, Penulis menjawab BCA karena tahu kalau di rekening tersebut hampir tidak ada uangnya.

Percobaan pertama, barcode tersebut error, sehingga dikirimlah kode yang baru. Bedanya, kode yang baru ini jelas-jelas memperlihatkan nominal sekitar Rp9 juta, yang tentunya kita yang melakukan scan-lah yang melakukan pembayaran.

Menariknya, sang penipu mengatakan bahwa itu adalah jumlah saldo yang mereka miliki, dan Penulis diminta secara jujur untuk mentransfer hanya sejumlah pembelian Penulis. Tentu ironi, bagaimana seorang penipu berharap yang ditipu bisa jujur!

Walau begitu, Penulis pura-pura terjebak dalam permainannya. Penulis pura-pura tidak tahu kalau kita tidak bisa menerima uang dengan melakukan scan. Penulis pun melakukan scan barcode tersebut hingga memasukkan password di dalam aplikasi mBCA.

Lalu, apa yang terjadi? Tentu saja muncul notifikasi SALDO ANDA TIDAK CUKUP! Notifikasi tersebut Penulis bacakan kepada sang penipu, lalu ia mulai berkelit ini-itu yang intinya mau kirim barcode baru karena yang itu error. Penulis yang merasa cukup pun langsung mematikan telepon tersebut dan memblokir nomor sang penipu.

Kerugian yang Penulis Alami

Apakah sampai di situ? Ternyata tidak. Ingat kode OTP yang Penulis masukkan ke link di atas? Penulis baru sadar ketika menelepon bestie Penulis tentang kejadian tersebut, bahwa akun dan PIN Penulis digunakan untuk login di HP-nya dan memasukkan kode OTP yang Penulis masukkan di link tersebut.

Jadi, secara garis besar, link yang mereka kirimkan digunakan untuk mendapatkan informasi mengenai nomor telepon dan PIN ke dalam database mereka, lalu mereka login menggunakan perangkat mereka sendiri menggunakan kode OTP yang Penulis masukkan.

Ketika Penulis mengecek emailnya (yang sebenarnya memang jarang dicek), ternyata memang ada notifikasi kalau ada perangkat Android yang mencoba masuk ke akun Tokopedia Penulis. Sayangnya, Penulis tidak memperhatikan waktu itu.

Untungnya, Penulis tidak menautkan segala jenis Paylater dan lain-lain, hanya ada GoPay. Lumayan, waktu itu tiba-tiba ada pembelian pulsa 50 ribu untuk nomor Axis sebanyak tiga kali, sehingga total kerugian yang Penulis derita adalah sekitar Rp150 ribu.

Selain itu, karena Penulis membuat laporan resmi ke pihak Tokopedia, akun Penulis di Tokopedia pun dinonaktifkan demi keamanan. Penulis sudah mengganti semua PIN (bahkan termasuk PIN aplikasi mBCA dan password email), tapi ternyata pembekuan akun tetap dibutuhkan.

Hingga kini, Penulis masih kehilangan akun Tokopedia-nya, karena proses pengembalian akun membutuhkan banyak dokumen penting. Mengingat Penulis baru saja ditipu, ada sedikit trauma sehingga memutuskan untuk membiarkan saja akun Tokopedia-nya tidak bisa digunakan.

Fakta menarik tambahannya, setelah kejadian tersebut, ada tiga nomor lain dengan menggunakan modus serupa yang mengirimi pesan WhatsApp ke Penulis. Karena sudah merasa cukup dengan pengalaman yang sudah dialami, Penulis pun langsung memblokir semuanya.

Penutup

Itulah kronologi kejadian bagaimana Penulis, yang selama ini merasa tidak bakal bisa kena tipu, ternyata bisa kena tipu. Dua hal yang meyakinkan Penulis, yakni nomor resi dan UI ala Tokopedia, ternyata bisa menurunkan kewaspadaan Penulis.

Penulis bahkan harusnya masih bisa bersyukur, karena kehilangan uang dalam nominal yang tidak terlalu besar plus akun Tokopedia-nya. Anggap saja akunnya hilang agar tidak impulsif belanja online.

Semoga tulisan di atas bisa menjadi pelajaran dan jangan sampai ada lagi yang tertipu seperti Penulis. Cukup Penulis saja yang mengalami penipuan dengan modus tersebut.


Lawang, 12 Juli 2026, terinspirasi karena ingin membagikan pengalamannya kena tipu

Continue Reading

Pengalaman

whatheFAN Punya Logo Baru di Tahun 2026 Ini

Published

on

By

Sama seperti tahun 2025 kemarin, tulisan pertama whatheFAN di tahun 2026 juga baru ditulis pada bulan Februari. Karena berbagai macam hal, menulis di blog ini belakangan justru menjadi beban bagi Penulis.

Penulis belum menghitung jumlah pasti berapa artikel yang ditulis sepanjang tahun 2025, tapi yang jelas tahun tersebut menjadi tahun terseret sejak blog ini dibuat pada tahun 2018.

Menyadari hal tersebut, tentu Penulis berusaha untuk mencari jalan keluar agar dirinya bisa kembali semangat menulis di blog. Jalan pertama yang Penulis ambil di awal tahun ini adalah memutuskan untuk mengganti logo whatheFAN.

Perubahan dari Whathefan! menjadi whatheFAN

Ketika pertama kali membuat blog ini, Penulis menuliskannya sebagai Whathefan!, dengan huruf kapital di huruf W dan tanda seru di akhir. Dulu, alasannya adalah karena nama tersebut seperti seruan terkejut dalam konotasi positif.

Kini, penulis memutuskan untuk melakukan sedikit rebranding. dengan mengubahnya menjadi huruf kecil semua di kata “whathe” dan kapital semua untuk kata “FAN”. Penulis juga menghilangkan tanda seru di akhir nama.

Makna dari perubahan ini adalah Penulis ingin kembali ke akar mengapa Penulis membuat blog ini, yakni sebagai wadahnya untuk menuangkan semua isi pikirannya sesuai dengan tagline yang diusung sejak awal.

Apa yang terpikir, apa yang tertuang

Salah satu alasan mengapa kegiatan menulis blog terasa menjadi beban adalah karena ekspektasi Penulis sendiri harus membuat tulisan sebagus dan sesempurna mungkin untuk Pembaca. Orientasinya jadi bergeser ke orang lain, bukan diri sendiri.

Oleh karena itu, penekanan kata “FAN” di logo adalah simbol untuk kembali berfokus kepada diri sendiri. Menulis di blog ini harus menjadi aktivitas yang menyenangkan untuk Penulis, mong namanya juga hobi.

Makna Pergantian Logo whathefan

Penekanan kata “FAN” bukan hanya dari perbedaan jenis font, tapi juga pemilihan warna. Untuk kata “whathe”, Penulis menggunakan warna abu-abu (#d1d1d1) dan warna putih (#ffffff) untuk kata “FAN”.

Waktu membuat logo lama, Penulis hanya memilih satu font, yakni Stereofidelic dengan alasan terkesan seru dan asyik. Tak ada proses desain rumit, Penulis hanya menulis kata Whathefan! menggunakan font tersebut.

Nah, di logo baru ini Penulis menggunakan dua font yang berbeda, yakni Alice (Serif) untuk “whathe” dan Montserrat Bold (Sans Serif) untuk “FAN”. Dua jenis font ini cukup kontras dan Penulis anggap bisa melambangkan penekanan ke diri sendiri.

Awalnya, Penulis hendak menggunakan full Montserrat Bold dan italic untuk logo baru. Warna identitas hitam (#000000) juga berubah jadi merah (#9e0b0f) dan ada tambahan garis di bawah kata “FAN” sebagai penambahan penekanan.

Hanya saja, ketika dilihat-lihat, logo tersebut justru terlihat seperti logo Simpati atau Supreme versi KW. Ketika melakukan jajak pendapat singkat, logo tersebut juga dianggap jelek. Alhasil, Penulis pun mengubah desain logo tersebut menjadi seperti yang terlihat sekarang.

Logo Baru yang Batal Digunakan

Sebagai tambahan, bentuk font untuk isi artikel pun Penulis ubah ke Montserrat agar ada konsistensi. Semoga saja bentuk font ini bisa lebih nyaman untuk mata para Pembaca sekalian.

Logo Baru, Harapan Baru

Salah satu resolusi tahunan Penulis adalah semakin konsisten dalam menulis blog. Sayangnya resolusi tersebut sering berakhir gagal dan jumlah artikel tiap tahun justru mengalami penurunan yang menyedihkan.

Mengganti nama dan logo yang telah digunakan selama delapan tahun terakhir merupakan upaya Penulis untuk kembali membangkitkan semangat menulis blog seperti dulu lagi.

Anggap saja ini proses reset dan memulai lembaran baru, walau sebenarnya ya enggak baru-baru amat karena artikel-artikel lama juga masih ada. Mengingat Penulis sudah membuat 1.000 lebih artikel, ini adalah titik awal untuk 1.000 artikel selanjutnya.

Selain itu, Penulis juga ingin kembali membangkitkan akun Instagram blog ini yang sudah lama mati suri. Penulis ingin membuatnya sesederhana mungkin agar tidak menjadi beban baru. Tidak perlu CTA biar mampir ke blog ini, hanya versi yang lebih singkat saja.

Semoga saja harapan baru bersamaan dengan logo baru ini bisa membuat Penulis bisa kembali konsisten menulis di tahun 2026.


Lawang, 17 Februari 2026, terinspirasi setelah Penulis memutuskan untuk mengganti logo whathefan di tahun 2026 ini

Continue Reading

Pengalaman

Ketika Hobi Menulis Blog Justru Terasa Menjadi Beban

Published

on

By

Melalui tulisan “Pada Akhirnya Hidup Kita Harus Tetap Berjalan”, Penulis telah mengungkapkan beberapa alasan mengapa dirinya makin ke sini makin jarang menulis. Saat itu, Penulis masih bertanya-tanya apa alasan di balik hal tersebut.

Karena merasa tidak ada perkembangan sejak tulisan itu diterbitkan, Penulis pun memutuskan untuk melakukan kontemplasi demi menemukan akar permasalahannya. Blog ini berharga bagi Penulis, sehingga membiarkannya terbengkalai meninggalkan perasaan bersalah.

Setelah direnungkan, Penulis merasa menemukan beberapa jawaban yang paling masuk akal, sehingga bisa menentukan langkah-langkah apa yang harus diambil agar rutinitas menulis blog bisa kembali menjadi hobi yang menyenangkan.

Alasan Mengapa Menulis Blog Malah Menjadi Beban

Harusnya Menjadi Aktivitas yang Menyenangkan (George Milton)

Dalam tulisan sebelumnya, Penulis setidaknya menuliskan ada tiga alasan mengapa produksi artikel blog menjadi seret selama lima bulan terakhir: sedang ada banyak masalah, rasa malas, hingga merasa jenuh. Mari kita berangkat dari sana.

Namanya hidup, tentu saja kita akan selalu menjumpai permasalahan. Terkadang bisa diselesaikan dengan cepat, terkadang membutuhkan waktu lebih panjang. Yang paling penting adalah bagaimana respons kita terhadap masalah tersebut.

Dalam kasus ini, Penulis sering merasa kalau rasa malas di dalam diri ini menggunakan permasalahan tersebut sebagai justifikasi untuk tidak menulis blog. Padahal aslinya memang malas saja, tapi mencari berbagai pembenaran agar tidak merasa bersalah.

Oke, rasa malas memang bisa dilawan, tapi bagaimana dengan perasaan jenuh menulis? Sebagai seorang editor, membaca dan menulis telah menjadi rutinitas harian. Ribuan kata harus dicek dan diolah setiap harinya, sehingga wajar jika menimbulkan rasa jenuh.

Namun, apa yang Penulis bahas di blog ini dan apa yang dibahas di tempat kerja memiliki niche yang berbeda. Memang ada beberapa kategori yang bersinggungan, tapi angle yang digunakan jelas berbeda.

Justru, menulis di blog ini menjadi tempat agar gaya menulis Penulis tetap terasah dan tidak terpaku pada gaya penulisan industri. Apalagi, menulis adalah salah satu cara untuk menuangkan apa yang ada di pikirannya untuk mengurangi gejala overthinking.

Setelah menganalisis tiga alasan tersebut, apakah masih ada alasan lain yang membuat menulis blog menjadi memberatkan? Ada beberapa yang berhasil Penulis temukan setelah melakukan kontemplasi.

Alasan pertama, Penulis jadi terbebani dengan banyaknya ide artikel yang belum ditulis. Di Notion Penulis, ada puluhan ide artikel yang sampai saat ini belum dieksekusi hingga akhirnya Penulis sudah mulai lupa apa yang ingin dibahas dari ide tersebut.

Idealnya, sesuai tagline blog ini, sebuah ide harus segera dikerjakan begitu terpikirkan. Kenyataannya, karena sering menunda, ide tersebut malah menjadi usang. Mood untuk menulis ide tersebut pun menjadi hilang dan akhirnya malah jadi terbengkalai.

Alasan kedua, Penulis merasa terbebani dengan artikel-artikel yang membutuhkan riset lebih. Belakangan ini, Penulis merasa berkewajiban membuat artikel yang mendalam. Padahal, blog ini harusnya menjadi wadah bagi Penulis untuk menuangkan isi kepalanya.

Bisa jadi, Penulis terlalu berfokus bagaimana tulisan di blog ini bisa sampai ke Pembaca. Penulis sampai lupa kalau seharusnya blog ini menjadi alatnya untuk menuangkan apa yang sedang ada di pikirannya.

Alasan ketiga, pembuatan konten media sosial yang terkadang menimbulkan rasa malas untuk menulis. Meskipun pembuatannya hanya membutuhkan beberapa menit, entah mengapa membuat konten media sosial untuk artikel di blog ini memicu rasa mager.

Padahal, konten media sosial yang Penulis buat hanyalah sebuah Story dengan beberapa kalimat caption. Penulis tidak membuat video ataupun long carousel. Mungkin memang pada dasarnya malas saja.

Langkah Apa yang Diambil Setelah Memahami Akar Permasalahannya

Mencoba Lebih Spontan (Andrea Piacquadio)

Setelah menemukan beberapa akar permasalahan dari seretnya produksi blog ini, saatnya fokus ke solusi. Ada beberapa langkah yang akan Penulis ambil, dengan harapan menulis artikel bisa kembali menjadi hobi yang refreshing dan menyenangkan.

Pertama, menghilangkan penjadwalan artikel. Penulis ingin kembali seperti dulu, di mana setiap harinya murni spontan (uhuy!) mengenai artikel apa yang ingin ditulis. Bank ide di Notion tetap ada, untuk jaga-jaga jika hari itu blank tidak tahu ingin menulis apa.

Pencatatan progres yang dilakukan Notion mungkin tetap ada, tapi sifatnya lebih ke dokumentasi saja. Bagi Penulis, melihat berapa banyak artikel yang telah ditulis atau berapa panjang streak yang berhasil dilakukan berhasil menimbulkan dopamin.

Mungkin ada beberapa artikel yang harus tetap dijadwal, seperti artikel-artikel review buku dan board game yang telah menjadi rubrik mingguan. Bedanya, Penulis tidak akan menulis urut sesuai dengan buku mana yang telah selesai dibaca duluan.

Kedua, segera menulis ide tulisan yang terlintas di pikiran. Penulis harus membuang konsep “First In First Out” di mana ide yang lebih lama harus ditulis terlebih dahulu. Penulis harus mendahulukan apa yang ingin ditulis, bukan apa yang harus ditulis.

Ketiga, menghindari artikel-artikel berat yang butuh riset lebih panjang. Ada banyak artikel di daftar ide yang butuh riset lebih mendalam, dan jujur saja itu menimbulkan rasa malas. Blog ini harus kembali ke akarnya, tempat menuangkan isi kepala.

Memang secara kualitas mungkin akan berkurang, tapi salah satu resolusi Penulis di tahun 2025 adalah mendahulukan diri sendiri dulu. Buat apa menulis jika hanya membebani diri sendiri? Lagipula, ini adalah blog milik Penulis.

Keempat, melakukan reset. Saat ini, sudah banyak artikel yang Penulis jadwalkan untuk ditulis. Semuanya akan Penulis reset dari awal, kembali ke bank ide. Penulis ingin bertanya “mau nulis apa hari ini?” setiap membuka laptopnya.

Kelima, memperbaiki pola hidup yang sedang berantakan. Alasan lain yang belum disebutkan di atas adalah pola hidup Penulis yang sedang berantakan. Akibatnya, waktu untuk menulis blog juga menjadi tidak teratur.

Idealnya, Penulis berharap bisa menulis blog di pagi hari sebelum jam kerja. Menulis blog memakan waktu antara 1-2 jam, jadi bisa dimulai pukul 7 pagi setelah melakukan rutinitas pagi. Untuk itu, Penulis harus memperbaiki jam tidurnya dan menghilangkan insomnianya.

Menulis di malam hari hanya menjadi opsi apabila dalam kondisi darurat, karena biasanya tubuh dan pikiran ini sudah merasa lelah. Lagipula, malam hari harusnya digunakan untuk bersantai dan menyiapkan diri untuk beraktivitas keesokan harinya.

Keenam, membuat konten media sosial terlebih dahulu sebelum menulis artikelnya. Penulis adalah tipe orang yang mengerjakan task tersulit terlebih dahulu. Karena membuat konten media sosial terasa yang paling berat, maka Penulis akan mendahulukannya.

Enam langkah itulah yang akan Penulis terapkan mulai hari ini, dimulai dari artikel ini. Semoga setelah menulis artikel ini, Penulis bisa kembali rutin menulis blog dengan perasaan senang, bukan terbebani.

Jika setelah artikel ini terbit Penulis masih jarang menulis lagi, entah apa lagi yang harus dilakukan…


Lawang, 20 Mei 2025, terinspirasi setelah merasa perlu ada perubahan agar aktivitas menulis blog tidak terasa menjadi beban

Foto Featured Image: Ivan Samkov

Continue Reading

Fanandi's Choice

Blog ini milik Fanandi Prima Ratriansyah sejak 2018