Connect with us

Politik & Negara

Memilih Pemimpin dengan Kedewasaan Berpolitik

Published

on

“Terlepas dari siapapun para calon, ditunggu perang program dan gagasan-gagasannya. Perang hal-hal konkrit. Udah capek sama hal-hal yang superficial dan berbau identitas.

Itu merupakan tweet dari teman penulis yang sedang melanjutkan studi S2nya di Belanda, mengomentari tentang suasana politik Indonesia yang semakin memanas ini. Penulis menyepakati idenya tersebut, dan berkembang menjadi tulisan ini.

Entah apa penyebabnya, tapi beberapa tahun terakhir, suasana politik di Indonesia rasa-rasanya semakin keruh. Demokrasi sehat yang diharapkan oleh para pejuang reformasi seolah tak terjadi.

Keberadaan media sosial (penulis merasa menjadi terlalu sering menyalahkan keberadaan media sosial) bisa jadi menjadi salah satu penyebabnya. Penyebaran informasi yang bisa terjadi begitu cepat tanpa adanya proses validasi menyebabkan black campaign tumbuh dengan subur.

Masyarakat kini cenderung memilih berdasarkan siapanya, bukan berdasarkan apanya (Baca juga: Ketika Demokrasi Menjadi Subyektif). Kita menjadi pendukung yang fanatik, seolah menutup mata dari kekurangan orang yang kita dukung (Baca juga: Akar Fanantisme Membabi Buta).

Jangan Menutup Mata (Photo by maxime caron on Unsplash)

Sebaliknya, kita juga menutup mata terhadap kebaikan orang yang menjadi lawan politik orang yang kita dukung. Ketika mereka melakukan keburukan sejelek apapun itu, hujatan muncul dari bibir kita.

Jelas bukan demokrasi seperti ini yang kita harapkan dengan penggulingan mantan presiden Soeharto. Kita mengharapkan demokrasi yang obyektif dan menghargai pilihan orang lain.

Mungkin ada beberapa pemilih yang mempercayai aturan yang tertulis di agamanya (termasuk penulis), namun ada juga yang mempercayai tafsir lain. Penulis tidak mempersalahkan hal tersebut selama mereka juga menghargai pilihan penulis.

Setelah pengumuman calon presiden dan wakilnya, penulis menyimak berbagai timeline di media sosial, mulai Twitter, Instagram hingga Line Today. Penulis membaca media yang pro petahana, pro penantang, dan netral (kalau masih ada). Ini penulis lakukan agar dapat melakukan penilaian yang tidak berat sebelah, meskipun suara penulis hanya bernilai satu, sama dengan suara yang dimiliki pemilih lainnya.

Jujur, sekarang penulis belum bisa menentukan pilihan, walaupun ada kecondongan terhadap salah satu pasangan capres-cawapres. Penulis masih menantikan manuver-manuver politik yang akan mereka lakukan. Selain itu, debat-debat antara calon juga menjadi salah satu hal yang penulis nantikan.

Ributnya Para Pendukung

Menyaksikan dinamika politik itu sebenarnya menarik. Banyak hal yang bisa berubah dengan sedemikian cepat, kadang terdapat plot twist yang tak disangka-sangka. Sense-nya sama dengan membaca novel detektif.

Banyak juga hal yang membuat kita gemas, lantas tertawa kecil. Apalagi jika bukan keributan yang dilakukan oleh antar pendukung di media sosial (lagi-lagi media sosial disalahkan).

Sebagai contoh, pendukung kubu penantang menagih janji-janji kubu petahana yang belum terealisasi. Pendukung kubu petahana bertanya balik, emang calon kalian udah ngapain aja? Calon gue udah kerja nyata.

Contoh lain, pendukung kubu petahana protes, ngurus provinsi aja belum becus, mau naik jadi cawapres. Pendukung kubu penantang menyerang balik, lah bukannya pilihan lu juga gitu dulu?

Isu agama pun juga menjadi menarik, karena dari yang penulis amati, pendukung kubu petahana seringkali menyuarakan “ulama jangan ikut berpolitik”. Sekarang, dengan pilihan cawapres petahana, pendukung kubu penantang menggunakannya sebagai senjata.

Ricuh di Dunia Maya (Photo by Hermes Rivera on Unsplash)

Keributan antar pendukung ini juga memiliki andil dalam memperkeruh suasana politik di Indonesia. Mereka pada akhirnya menyerang secara personal, bukan memberi kritik program-program yang ditawarkan oleh masing-masing calon.

Kedewasaan dalam berpolitik memang sangat dibutuhkan dalam kehidupan bernegara yang menganut sistem demokrasi. Banyak yang menganggap, sebenarnya Indonesia belum siap melaksanakan demokrasi karena mentalnya yang belum siap kalah.

Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama mengawal pesta demokrasi (siapa yang sejatinya berpesta?) ini dengan baik. Pilihlah calon yang menurut kita paling bisa membawa Indonesia menuju arah yang lebih baik.

Dan ingatlah kata-kata Aa Gym pada acara Indonesia Lawyer pada Selasa (7/8) kemarin, bahwa semuanya sudah ditakdirkan oleh Tuhan, semuanya sudah tertulis. Jadi yakinlah bahwa apapun hasilnya, merupakan yang terbaik untuk bangsa dan negara ini.

 

 

Kayuringin, Bekasi, 11 Agustus 2018, terinspirasi dari tweet Aya, teman penulis yang sedang melanjutkan studi di Belanda.

Photo by Arnaud Jaegers on Unsplash

Politik & Negara

MBG adalah Program Kerja Paling Janggal yang Pernah Saya Lihat

Published

on

By

Masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto belum genap dua tahun. Namun, entah mengapa Penulis merasa sudah lebih banyak ngomel terkait masa kepemimpinannya dibandingkan sepuluh tahun era Joko Widodo (Jokowi) dulu.

Salah satu kebijakan atau program kerja yang paling sering membuat Penulis geleng-geleng kepala adalah Makanan Bergizi Gratis (MBG), yang memang sudah digembar-gemborkan sejak masa pemilu, bahkan Badan Gizi Nasional (BGN) disahkan sejak era Jokowi.

Selain karena masalah salah sasaran dan anggaran yang jumbo, penyalahgunaan anggaran yang bisa dibilang ngaco berhasil memancing emosi publik, termasuk Penulis. Mari kita bahas beberapa di antaranya.

Beberapa Anggaran MBG yang Bisa Dianggap Ngawur

Kaos Kaki MBG (Berita Baru)

Jika berbicara tentang perencanaan anggaran, kita sudah sering melihat bagaimana pengadaan barang atau budgeting dari pemerintah sering ngawur. Kalau mark-up harga, enggak kira-kira, seolah kita semua ini dianggap bodoh.

MBG juga salah satunya, apalagi program kerja ini menjadi salah satu yang paling disorot oleh masyarakat saat ini. Beberapa waktu lalu, mencuat anggaran-anggaran yang dianggap tidak masuk akal bagi sebagian netizen, termasuk Penulis.

Melansir dari akun Instagram BBC, realisasi pengadaan barang Badan Gizi Nasional (BGN) banyak yang membuat geleng-geleng kepala. Total, BGN menganggarkan Rp6,31 triliun untuk tahun 2026. Berikut rinciannya:

  • Kendaraan (roda 2 dan 4): Rp1,38 triliun
  • Pembangunan SPPG: Rp936,7 miliar
  • Elektronik (tablet, laptop, printer: Rp826,4 miliar
  • Pakaian dan Aksesoris: Rp623 miliar
  • Pelatihan dan Sosialiasi: Rp225,8 miliar
  • Jasa Event Organizer: Rp112,8 miliar

Salah satu kategori yang paling disorot oleh BBC adalah pakaian dan aksesoris. Banyak yang terlihat janggal, karena urgensinya yang patut dipertanyakan. Berikut beberapa di antaranya:

  • Pakaian Dinas: Rp384,02 miliar
  • Sepatu: Rp153,74 miliar
  • Kaos: Rp16,58 miliar
  • Ransel: Rp15,17 miliar
  • Sweater: Rp14,64 miliar
  • Topi: Rp8,67 miliar
  • Kaos Kaki: Rp6,94 miliar (atau Rp100 ribu per pasang)
  • Celana: Rp6,34 miliar
  • Sabuk: Rp5,08 miliar
  • Handuk: Rp3,77 miliar
  • Hijab: Rp2,17 miliar
  • Semir dan Sikat: Rp1,58 miliar

Dari kategori elektronik, tablet (beli merek Samsung Tab Active 5) menjadi yang paling besar dengan Rp508,5 miliar, atau per unit dihargai sekitar Rp18 juta. Padahal, di pasaran harganya hanya sekitar Rp9 jutaan.

Motor Listrik EMMO (Bloomberg Technoz)

Pengadaan motor listrik mencapai Rp1,38 triliun, atau setiap motor dihargai Rp42 juta. Mereknya EMMO (pernah dengar?) yang hak patennya pun baru diajukan setelah mereka menang vendor. Jika tujuannya untuk menjangkau daerah tertinggal, emang listrik di sana sudah mencukupi untuk ngecas?

Oh, jangan lupakan juga anggaran sistem dan aplikasi MBG bernama Sistem Informasi Pemenuhan Gizi Nasional (SIPGN) yang mencapai angka Rp550 miliar (dari total Rp1,2 triliun anggaran IT), yang entah untuk apa tujuan dan urgensinya.

Walau begitu, Dadan Hindayana selaku Kepala BGN tetap bersikeras kalau ini bukan pemborosan anggaran. Menurutnya, barang-barang di atas diberikan untuk Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI), yang nantinya mengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Mengingat pemasukan negara paling besar dari pajak, ini uang kita lho yang digunakan! Lebih mirisnya lagi, gaji guru honorer justru dipotong karena anggarannya digunakan untuk membiayai barang-barang di atas!

Distribusi yang Kurang Adil

Harusnya Diutamakan di Daerah 3T (InfoPublik)

Dari sisi pemerataan distribusi juga dianggap masih butuh banyak perbaikan. Data dari profesor Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menunjukkan bahwa semakin tertinggal suatu daerah, justru semakin sedikit sekolah yang kebagian MBG.

Jika memang tujuan utama MBG adalah mencegah stunting, bukankan daerah-daerah miskin dan tertinggal justru harus menjadi sasaran utama? Apa karena margin keuntungannya tipis karena sulitnya akses, mereka jadi justru tidak kebagian?

Lebih menariknya lagi, sekitar 58% penerima MBG justru di Jawa, dengan lebih dari 9 ribu dapur MBG. Sebagai perbandingan, di Kalimantan hanya terdapat sekitar 700 dapur, sedangkan di Maluku dan Papua justru hanya di kisaran angka 200 dapur.

Apakah pengadaan motor listrik yang ada di poin sebelumnya bertujuan untuk meningkatkan jumlah penerima di daerah terpencil? Jujur, Penulis merasa skeptis. Justru ini membuka pertanyaan baru: bukankah ini menunjukkan sebelum makan gratis, infrastrukturnya yang harus dibenahi dulu?

Jika memang harus dilaksanakan, Penulis akan mendukung MBG jika difokuskan ke daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) terlebih dahulu, karena merekalah yang paling berpotensi terkena stunting dibanding siswa-siswi yang tinggal di perkotaan.

Janji yang Tinggal Janji

Gibran Rakabumingraka Ketika Meninjau MBG (ANTARA News)

Sewaktu masa kampanye, Penulis ingat betul janji Wakil Presiden Gibran Rakabumingraka terkait MBG. Kala itu, ia menyuruh kita membayangkan betapa banyaknya anggaran dari pemerintah yang mengalir ke UMKM-UMKM milik rakyat.

Sayangnya, janji di masa kampanye tersebut seolah terlupakan begitu saja. Pasalnya, kini terlihat yang menikmati guyuran dana MBG bukan UMKM, melainkan oknum-oknum yang (mungkin) punya relasi dengan penguasa.

Sebaliknya, keberadaan MBG justru membuat UMKM atau pedagang kecil kehilangan omset, karena siswa mendapatkan jatah makanan. Tante Penulis sendiri yang bercerita bagaimana susahnya berjualan makanan di sekolah sekarang.

Sudah begitu, kualitas makanan yang diberikan pun jauh dari janji atau presentasi orang-orang BGN di depan presiden. Anak-anak dari teman-teman Penulis kebagian jatah MBG, tapi dengan kualitas yang seolah ala kadarnya.

Jika kualitas gizinya buruk, lantas apakah tujuan program ini untuk mencegah stunting (yang kerap dikritik juga sebenarnya karena dianggap terlambat) bisa tercapai? Sulit untuk mengukur keberhasilan program ini. Selain karena butuh waktu lama, parameter yang bisa digunakan juga terbatas.

Evaluasi MBG dari Pemerintah

Prabowo Subianto Meninjau MBG (Liputan6)

Memang, ada evaluasi dari pemerintah dengan mengurangi distribusi MBG, dari enam kali menjadi “hanya” lima kali per minggu. Pemotongan satu hari ini bisa menghemat anggaran hingga 40 triliun rupiah per tahun menurut Menteri Keuangan Purbaya.

Namun, kita tetap merasa angka tersebut masih terbilang kecil dan belum efisien, karena jumlah hari distribusinya bukan inti masalah yang kerap kita kritik. Selain evaluasi target penerimanya, banyak sekali pos anggaran yang patut dievaluasi.

Bahkan dapur SPPG yang tutup sementara masih tetap mendapatkan insentif Rp6 juta per hari, menurut Ketua BGN. Banyak yang menganggap kalau pengeluaran-pengeluaran seperti inilah yang seharusnya dipangkas.

Pada akhirnya, jargon efisiensi yang kerap digembar-gemborkan Presiden Prabowo seolah tak berlaku untuk MBG. Justru, kita jadi melihat kalau efisiensi yang dilakukan demi berjalannya MBG, dan mungkin program lainnya seperti Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

Mahkamah Konstitusi (MK) sempat melakukan sidang untuk Permohonan No. 100/PUU-XXIV/2026 yang diajukan oleh koalisi MBG Watch karena menganggap program ini menjadi bukti “penyalahgunaan kewenangan fiskal” yang dilakukan oleh pemerintah.

Namun, sejujurnya Penulis merasa bahwa semua usaha kita untuk menghentikan MBG tidak akan pernah terwujud, meskipun untuk sementara waktu. Bahkan, telah muncul anekdot bahwa kalau malam ini kiamat, paginya MBG masih harus didistribusikan.

Banyak yang membela dengan sudut pandang, jika SPPG ditutup atau bahkan secara ekstrem MBG dihentikan, bagaimana dengan nasib para pekerjanya? Justru masalahnya di sana. Menciptakan lapangan pekerjaan yang tergantung kebijakan pemerintah jelas bukan fondasi yang solid.

Kesimpulan: Program Mulia dengan Eksekusi Berantakan

Semoga Ada Perbaikan dan Perubahan (Sekretariat Negara)

Selain beberapa poin yang telah disebutkan di atas, masih banyak masalah yang menyelimuti MBG. Keracunan pada siswa, mitra MBG yang terafiliasi dengan partai politik, minimnya transparansi, hingga keterlibatan Polri dan TNI menjadi topik-topik permasalahan yang tidak Penulis bahas secara mendalam.

Berdasarkan survei yang dilakukan Policy Research Center pada Maret 2026, mayoritas menilai kalau program ini lebih menguntungkan pihak Elite & Pejabat Politik (44,5%) dan Pengelola dan Mitra SPPG (44%). Penerima MBG justru hanya berada di angka 6,5%.

Ada beberapa hal yang juga disorot oleh para pengisi survei, termasuk rawan dikorupsi (87% setuju), lebih banyak dinikmati oleh elite dan pemilik dapur MBG (89% setuju), hingga kualitas makanan yang sengaja diturunkan demi keuntungan oknum (79% setuju).

Padahal, menghentikan (setidaknya untuk sementara) sebuah program kerja yang dianggap bermasalah bukanlah sebuah aib. Justru, itu menunjukkan kebesaran hati pemerintah dalam mendengarkan masukan dari rakyatnya sendiri.

MBG adalah program ambisius yang niatnya baik. Akan tetapi, niat baik saja tidak cukup. Pelaksanaan di lapangan menjadi kunci. Jangan sampai MBG justru menjadi lahan basah yang dikuasai segelintir orang untuk memperkaya dirinya sendiri.

Yang namanya program kerja dari pemerintah, tentu tidak bisa dinilai dari intensinya. Kalau niatnya baik, tapi pelaksanaannya bermasalah dan kerap dikritik, ya dievaluasi. Jangan malah jadi kepala batu dan menutup telinga.


Lawang, 1 Juni 2026, terinspirasi setelah melihat banyak sekali kejanggalan di MBG

Sumber Artikel:

Continue Reading

Politik & Negara

Bahkan Sekadar Empati pun Pejabat Kita Tidak Punya

Published

on

By

Sebelum memulai tulisan ini, Penulis ingin mengungkapkan duka cita yang sedalam-dalamnya kepada korban bencana banjir bandang dan longsor di Sumatera. Hingga tulisan ini dibuat, sudah lebih dari 800 korban jiwa dan jutaan orang terdampak.

Jelas, skala bencana menjelang pergantian tahun ini sangat masif. Anehnya (atau justru sudah menjadi “normalnya”?), sampai saat ini pemerintah belum juga menetapkan hal tersebut sebagai darurat bencana nasional dengan berbagai argumen.

Lebih parahnya lagi, banyak sekali tindakan maupun ucapan dari pejabat publik, terutama presiden, yang justru menyakiti banyak perasaan masyarakat, seolah mereka tidak memiliki empati untuk para korban.

Daftar Ucapan Kontroversial Pejabat Terkait Bencana di Sumatera

Presiden Prabowo Ketika Pidato Karunia Kelapa Sawit (via Tribun)

“Memang kemarin kelihatannya mencekam, ya, karena berseliweran di media sosial.”
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto, ketika banyak footage yang menggambarkan betapa mencekamnya situasi di lapangan.

“Gelondongan kayu yang ikut tersapu banjir adalah kayu lapuk.”
Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Kehutanan, Dwi Januanto, seolah ingin menutupi aktivitas penebangan hutan yang menjadi salah satu alasan bencana bisa terjadi.

“Kalau bisa Pak Prabowo [Subianto] jadi presiden seumur hidup.”
Bupati Aceh Tenggara, Salim Fakhry, yang seolah justru menjadikan bencana ini sebagai ajang untuk menjilat.

“Daripada dibawa lagi ke pangkalan udara, lebih baik di-drop dan dapat dimanfaatkan masyarakat.”
Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, ketika muncul kritik mengenai proses pembagian bantuan kepada korban bencana yang dilempar dari atas helikopter dan membuat banyak makanan jadi terbuang secara sia-sia

“Kami juga mengucapkan terima kasih atas kepeduliannya, tapi kami yakin kami masih bisa mengatasinya.”
Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Sugiono, yang bersikukuh menolak bantuan dari luar negeri.

“Saya kira situasi membaik. Saya kira kondisi yang sekarang (darurat provinsi) sudah cukup.”
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, setelah mengunjungi salah satu daerah yang terdampak bencana.

“Tapi kita diberi karunia oleh Yang Maha kuasa kita punya kelapa sawit.”
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto (lagi), dalam sebuah acara yang justru menglorifikasi kelapa sawit ketika itu menjadi salah satu sumber bencana di Sumatera.

Belum lagi berbagai aktivitas “pencitraan” yang dilakukan oleh banyak pihak, mulai pelepasan bantuan oleh anggota DPR lengkap dengan spanduk, Zulkifli Hasan yang membawa karung beras, hingga Verrel Bramasta yang menggunakan vest ala PUBG.

Namun, Penulis justru teringat ucapan Presiden Prabowo akhir tahun 2024 lalu, ketika ia mengatakan kalau pohon kelapa sawit juga “pohon”, sebuah ucapan yang membuat Penulis sangat geram ketika mendengarkannya untuk pertama kalinya.

“Saya kira ke depan kita juga harus tambah tanam kelapa sawit. Enggak usah takut. Apa itu katanya membahayakan, deforestation. Namanya kelapa sawit ya pohon, ya kan? Benar enggak, kelapa sawit itu pohon, ada daunnya kan? Dia menyerap karbondioksida, dari mana kok kita dituduh yang boten-boten saja itu orang-orang itu.”

Apakah Sesulit Itu untuk Berempati?

Contoh Korban Bencana Banjir Sumatera (via Kompas)

Sejak bencana ini terjadi pada akhir bulan November, sebenarnya Penulis sudah menahan diri untuk tidak berkomentar terlalu banyak atas ke-asbun-an para pejabat. Toh, memang kualitas pejabat kita ya memang cuma sebatas itu.

Namun, makin ke sini, Penulis merasa kok nirempatinya makin ke sini makin parah. Jumlah korban seolah cuma menjadi statistik semata, karena mereka nyatanya lebih memedulikan kepentingannya masing-masing.

Salah satu hal yang paling kontroversial dan banyak dituntut oleh masyarakat adalah penetapan status darurat bencana nasional, yang hingga kini masih belum dilakukan Presiden Prabowo selaku yang berwenang berdasarkan UU 24/2007 Pasal 51.

Karena hal tersebut juga tawaran bantuan dari negara lain juga ditolak, seperti yang sudah dijelaskan oleh Kemenlu. Padahal, banyak yang melaporkan kalau masih ada daerah yang terisolasi dan belum mendapatkan bantuan, hingga ada korban kelaparan.

Tentu jadi wajar jika masyarakat menjadi curiga, apakah jangan-jangan tidak ditetapkannya status darurat bencana nasional dikarenakan Presiden Prabowo punya bisnis kelapa sawit di Sumatera, yang menjadi salah satu penyebab bencana?

Hal ini menjadi masuk akal karena Presiden Prabowo juga berkali-kali membahas kelapa sawit dalam berbagai kesempatan, bahkan melakukan glorifikasi yang menurut Penulis sudah berlebihan, tanpa mempertimbangkan dampak lingkungannya.

Para pejabat, kalau belum bisa kerja dengan benar, minimal belajar empati dulu, deh. Belajar gimana membuat pernyataan yang tidak menimbulkan amarah publik. Belajar gimana cara agar apa yang keluar dari mulut tidak menyakiti banyak pihak. Itu udah rendah banget bare minimum-nya.

Penutup

Bencana alam yang terjadi di Sumatera, bagi Penulis, merupakan akibat dari keserakahan manusia yang terus menghabisi hutan demi kepentingan bisnis kelompok tertentu. Hutan yang salah satu fungsinya adalah menahan air justru dibabat habis-habisan.

Para korban tidak sedikipun kecipratan keuntungan dari bisnis-bisnis yang memakan hutan Sumatera, tapi merekalah yang justru menjadi pihak yang membayar. Para konglomerat yang kaya dari bisnis-bisnis tersebut masih bisa makan malam enak di rumah mewah mereka.

Semoga para korban keserakahan di Sumatera diberikan kesabaran dan kekuatan dalam menghadapi bencana ini. Semoga orang-orang yang secara langsung maupun tidak langsung menjadi penyebab bencana ini akan mendapatkan balasan yang setimpal, baik di dunia maupun akhirat.


Lawang, 7 Desember 2025, terinspirasi setelah emosi membaca berbagai komentar pejabat publik yang nirempati

Foto Featured Image: Kompas

Sumber Artikel:

Continue Reading

Politik & Negara

Kepada Tuan dan Puan yang Terhormat…

Published

on

By

Rasanya beberapa minggu terakhir ini, Indonesia menjadi sedikit tidak nyaman sebagai rumah kita tinggal. Pasalnya, muncul sekali banyak berita yang membuat kita merasa resah, kecewa, marah, sedih, campur aduk pokoknya.

Puncaknya mungkin ketika meninggalnya Affan Kurniawan, seorang driver ojek online (ojol) yang tewas terlindas mobil Brimob pada tanggal 28 Agustus 2025. Sejak itu, situasi mengalami eskalasi yang begitu cepat hingga terjadi kerusuhan di mana-mana.

Namun, menurut Penulis, rasanya apa yang terjadi beberapa minggu ini merupakan akumulasi dari kekecewaan demi kekecewaan yang kita alami selama beberapa bulan terakhir, atau bahkan sudah bertahun-tahun menggumpal di dalam diri kita.

Penulis tidak akan membahas secara detail apa yang sebenarnya telah terjadi belakangan ini, rasanya sudah cukup banyak yang membahas hal tersebut (dan juga sudah cukup basi karena situasi yang sudah mulai kondusif).

Di sini, Penulis ingin berandai-andai seandainya saja bisa menuliskan surat terbuka untuk para tuan dan puan terhormat yang mengurus bangsa ini. Walau tidak menyelesaikan masalah (tentu saja), setidaknya Penulis bisa mengeluarkan unek-uneknya yang mungkin juga akan mewakili para Pembaca sekalian.

***

Kepada Tuan dan Puan yang Terhormat,

Kami sebagai rakyat hanya ingin keadilan
Bagaimana bisa kalian menari-nari ketika kami sedang kesulitan
Sedangkan seharusnya kamu menjadi tanggung jawab kalian
Rakyat mana yang sebenarnya kalian wakili?

Kepada Tuan dan Puan yang Terhormat,

Mengapa belakangan banyak perkataan kontroversial keluar dari mulut tuan dan puan
Perkataan yang seolah tak memiliki hati dan kepekaan sosial
Seolah kalian hidup di dalam gelembung kalian sendiri
Hingga rasanya begitu tone deaf dan tak peduli dengan rakyat yang kalian wakili?

Kepada Tuan dan Puan yang Terhormat,

Mengapa peraturan yang pro rakyat justru selalu dipersulit dan tak pernah kelar
Tapi peraturan yang menguntungkan kelompok tertentu bisa selesai secara kilat
Apakah betul kalau tuan dan puan memang pilih kasih
Hanya akan membantu siapa yang memberi untung?

Kepada Tuan dan Puan yang Terhormat,

Kita ini sama-sama manusia yang hidup di negara indah ini
Tapi mengapa tuan dan puan menganggap kami ini berbeda derajat
Padahal tuan dan puan selalu mengemis suara di masa pemilu
Tapi mengapa di saat seperti ini justru tutup telinga?

Kepada Tuan dan Puan yang Terhormat,

Kami sebagai rakyat terus tercekik dengan pajak yang bermacam-macam itu
Hampir semua aspek kehidupan kami ini dipajaki
Bagaimana bisa negara yang katanya kaya raya ini
Justru pemasukan terbesarnya dari keringat rakyat?

Kepada Tuan dan Puan yang Terhormat,

Hutang adalah menjadi momok yang mengerikan bagi kami
Bukan semata-mata takut dikejar penagih hutang, takut dengan neraka juga
Tapi kenapa hutang negara bisa begitu tingginya
Sampai terasa mustahil untuk bisa melunasi semuanya?

Kepada Tuan dan Puan yang Terhormat,

Banyak efisiensi terjadi di mana-mana, yang merupakan bahasa halus pemecatan
Hampir semua sektor mengeluh dan terpaksa melakukan efisiensi
Kami bukan pemalas, kami juga mampu bekerja dengan baik
Kami justru heran, mana 19 juta lapangan pekerjaan yang dijanjikan itu?

Kepada Tuan dan Puan yang Terhormat,

Di tengah sulitnya kami mencari pekerjaan yang layak
Mengapa ada banyak orang-orang yang bisa rangkap jabatan di pemerintahan
Apakah Indonesia kekurangan orang kompeten
Sehingga satu orang bisa mengisi dua-tiga posisi sekaligus?

Kepada Tuan dan Puan yang Terhormat,

Kenapa banyak sekali orang-orang mendapatkan gelar kehormatan
Di tengah kondisi rakyat yang masih bingung besok bisa makan atau tidak
Mengapa kita selalu disibukkan dengan seremoni-seremoni
Sehingga melupakan hal yang substansial?

Kepada Tuan dan Puan yang Terhormat,

Penjarahan yang rakyat lakukan memang tidak bisa dibenarkan
Tapi jangan lupa, selama ini tuan dan puan juga melakukan penjarahan besar-besaran
Hutan digundul, laut dikeruk, peradaban diusir
Bukankah itu semua demi kepentingan pemilik usaha yang ingin menguras Indonesia?

Kepada Tuan dan Puan yang Terhormat,

Kami sudah hidup dengan banyak kesulitan masing-masing
Kenapa tuan dan puan seolah ingin menambah kesulitan kami
Dengan merilis kebijakan-kebijakan yang merugikan kami
Padahal kami hanya ingin hidup dengan tenang?

Kepada Tuan dan Puan yang Terhormat,

Kami hanya ingin bersuara dan mengeluarkan semua aspirasi
Walau tak tentu didengar, tapi setidaknya kami berusaha
Tapi kenapa kamu justru dilibas sana-sini
Bahkan hingga dilindas sampai mati?

Kepada Tuan dan Puan yang Terhormat,

Kenapa tuan dan puan terkadang terasa paranoid dengan rakyatnya sendiri
Padahal tuan dan puan dibayar untuk mengurus kami
Hingga membuat sabotase di berbagai lini komunikasi
Seolah ingin memonopoli informasi yang sampai ke publik?

Kepada Tuan dan Puan yang Terhormat,

Kami ingin transparansi senyata mungkin dari tuan dan puan
Karena uang kami yang dipakai untuk menggaji tuan dan puan
Apakah tuan dan puan takut ada hal-hal tabu terungkap
Yang membuat kami sebagai pemberi gaji menjadi murka?

Kepada Tuan dan Puan yang Terhormat,

UMR kami sangat rendah jika dibandingkan gaji serta tunjangan tuan dan puan
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari pun harus hemat setengah mati
Tapi tuan dan puan banyak yang aslinya sudah kaya raya
Lantas mengapa masih mendambakan gaji serta tunjangan tinggi?

Kepada Tuan dan Puan yang Terhormat,

Di saat banyak sekali harga barang pokok meroket
Banyak sekali keistimewaan yang didapatkan oleh tuan dan puan sekalian
Kami rakyat harus banting tulang untuk bisa membelinya
Sedangkan tuan dan puan bisa mendapatkannya begitu saja?

Kepada Tuan dan Puan yang Terhormat,

Kami berusaha hidup dengan jujur dan baik
Tapi mengapa tuan dan puan banyak yang tersandung korupsi
Padahal kehidupan sudah lebih dari layak dibanding mayoritas masyarakat
Mengapa justru memilih untuk menjadi serakah dan tak pernah puas?

Kepada Tuan dan Puan yang Terhormat,

Sungguh, kami tak masalah tuan dan puan diberi gaji dan tunjangan tinggi
Karena mengurus suatu negara sebesar Indonesia bukanlah hal yang mudah
Namun, jika kinerjanya kami anggap kurang
Masih pantaskan kalian menerima gaji dan tunjangan sebesar itu?

Kepada Tuan dan Puan yang Terhormat,

Kami ini rakyatmu, kita ini sama-sama orang Indonesia
Kami ini bukan musuhmu, kami ingin sama-sama membuat Indonesia menjadi besar
Tapi mengapa terkadang kesenjangan sosial antara kita begitu lebar
Seolah penjajah tak pernah benar-benar hengkang dari negeri ini?

Kepada Tuan dan Puan yang Terhormat,

Rasanya surat terbuka untuk tuan dan puan ini tak akan sampai
Siapalah hamba hingga didengar oleh tuan dan puan yang terhormat
Tapi setidaknya melalui tulisan ini, hamba bisa bersuara
Sambil berharap yang terbaik untuk negeri ini.


Lawang, 8 September 2025, terinspirasi dengan “ricuhnya” Indonesia beberapa minggu terakhir

Foto Featured Image: Kompas

Continue Reading

Fanandi's Choice

Blog ini milik Fanandi Prima Ratriansyah sejak 2018