Connect with us

Sepak Bola

Polemik European Super League (ESL)

Published

on

Bagi penggemar sepakbola seperti Penulis, beberapa hari terakhir merupakan hari yang gila. Bagaimana tidak, adanya wacana European Super League (ESL) menggegerkan publik dan menimbulkan polemik yang pelik.

ESL resmi ketuk palu setelah 12 klub besar di Eropa menyepakatinya. Mereka adalah:

  • Manchester United
  • Manchester City
  • Liverpool
  • Chelsea
  • Arsenal
  • Tottenham Hotspurs
  • Real Madrid
  • Barcelona
  • Atletico Madrid
  • Inter Milan
  • AC Milan
  • Juventus

Sebenarnya Bayern Munich, Borussia Dortmund, dan Paris St. Germany juga direncanakan turut serta. Hanya saja, mereka memutuskan untuk tidak ikut bagian dalam ajang pesaing Liga Champion tersebut.

Di sini Penulis tidak akan terlalu menjelaskan apa itu ESL dan bagaimana formatnya. Penulis fokus memberikan opininya sebagai penggemar sepakbola atas polemik yang terjadi.

Berawal dari Permasalahan Ekonomi

Inti Masalahnya: Duit (Thinking Heads)

Bisa dibilang, pandemi Corona adalah penyebab utama dari masalah ini. Meski sudah diprediksi oleh Arsene Wenger 10 tahun yang lalu, kemunculan Corona membuat wacana yang terlihat impossible itu menjadi possible.

Klub-klub besar tersebut rata-rata mengalami kerugian yang cukup signifikan. Tidak hadirnya penonton di lapangan jelas memberikan dampak yang tidak sedikit. Belum lagi dari sektor lain seperti menurunnya penjualan merchandise dan lain-lain.

Neraca keuangan klub besar semakin timpang karena tingginya gaji pemain bintang yang harus dibayarkan. Inflasi harga pemain yang makin tidak masuk akal membuat klub juga kesulitan untuk membeli pemain baru.

Di tengah kekeringan pemasukan seperti itu, muncul sebuah oase bernama ESL. Tidak tanggung-tanggung, kompetisi ini menjanjikan nominal hadiah yang berkali-kali lipat dibandingkan hadiah juara Liga Champion yang jumlahnya tidak bisa digunakan untuk membeli Lord Martin Braithwaite.

Belum lagi pemasukan dari hak siar. Penggemar jelas tergoda dengan konsep pertandingan big match setiap minggu tanpa perlu menunggu babak semifinal seperti di Liga Champion. Manchester United vs Barcelona jelas lebih menarik daripada Manchester United vs Burnley.

Florentino Perez (Football Espana)

Secara komersil, ESL memang sangat menggiurkan. Potensi uang yang masuk sangat besar, jauh melebih apa yang bisa diberikan oleh kompetisi di bawah naungan UEFA.

Klub elit yang tengah melempem seperti Arsenal dan AC Milan bisa bersantai. Tak masalah tidak masuk Liga Champion, mereka akan menjadi peserta tetap setiap tahun sehingga pemasukan pun akan terus mengalir tanpa perlu upaya lebih.

Mereka tidak berpikir, jika klub-klub besar tersebut bisa mendapatkan dana besar, bukankah ketimpangan antar klub akan semakin besar? Mereka bisa belanja sesuka hati, tidak seperti klub kecil yang harus memutar otak ketika membelanjakan uangnya.

Kehadiran ESL jelas mengusik zona nyaman yang dimiliki oleh UEFA. Mereka langsung mengecam dan mengeluarkan berbagai ancaman yang mengerikan, mulai dikeluarkan dari liga hingga pemain tidak memiliki hak untuk membela tim nasional mereka.

Gertakan tersebut hanya ditertawakan oleh Florentino Perez dan kawan-kawan. Mereka punya power bargaining yang kuat. Coba saja adakan liga atau turnamen tanpa mereka, niscaya akan sepi penonton karena tidak adanya pemain bintang yang menjadi idola banyak orang.

Tanggapan Para Fans (dan Penulis)

Para Fans Tersakiti (Football365)

Ketika memantau kolom komentar akun-akun sepakbola di Instagram, mayoritas sangat menentang kehadiran ESL. Mereka merasa kalau pemilik klub sangat tamak dan hanya berusaha mengumpulkan pundi-pundi uang sebanyak mungkin.

Ada beberapa yang mendukung ESL karena membayangkan adanya big match setiap pekan. Selain itu, UEFA dan FIFA sendiri terkenal sebagai organisasi yang korup dan cukup memonopoli pertandingan sepakbola Eropa.

Beberapa pemain sepakbola sudah mulai mengeluarkan suara pertentangannya terhadap ESL, walaupun nampaknya belum ada suara dari pemain yang bermain di dua belas klub penggagas ESL. Mungkin, mereka masih takut dipecat dan kehilangan pemasukan.

Penulis sendiri tidak menyetujui kehadiran ESL karena akan merusak tradisi sepakbola yang sudah terbentuk selama puluhan tahun. Pertandingan seperti Real Madrid vs Juventus menjadi seru karena hanya terjadi beberapa kali dalam setahun, bukan setiap minggu.

Selain itu, Liga Champion menjadi ajang di mana klub kecil bisa berhadapan dengan klub besar. Bisa saja pemain di klub kecil tersebut mengidolakan bintang yang bermain di klub besar. Liga Champion bisa mewujudkan impian bertanding melawan idola mereka.

Kejutan Liga Champion (Twitter)

Dengan format tertutup yang dimiliki ESL, tidak akan ada lagi kejutan seperti FC Porto yang berhasil menjuarai Liga Champion edisi 2004, Ajax Amsterdam yang mengalahkan banyak klub besar sebelum takluk di tangan Tottenham Hotspurs, dan lain sebagainya.

Para pemilik klub besar ini kok kesannya tidak ingin bertemu dengan tim-tim kecil. Hal ini dibuktikan dari ucapan presiden klub Juventus, Andrea Agnelli, yang menyepelekan keikutsertaan Atalanta di Liga Champion.

Seolah yang ada di pikiran mereka hanya bagaimana meraup keuntungan sebesar-besarnya. Melawan tim besar otomatis akan menghasilkan uang lebih banyak dibandingkan ketika mereka melawan klub kecil.

Lebih dari itu, korban sebenarnya dari polemik ini adalah para fans.

When the Rich Wage War It’s the Poor Who Die

Football is for the Fans (Express & Star)

Quote yang Penulis jadikan header di atas merupakan penggalan lirik dari lagu Linkin Park yang berjudul Hands Held High, sebelum mengetahui kalau kalimat ini ternyata diucapkan oleh filsuf Jean-Paul Sartre.

Di mana-mana ketika terjadi perang antara orang yang memiliki kekuasaan (dan harta), yang menjadi korban sesungguhnya adalah masyarakat sipil yang tak berdosa. Ternyata, kalimat ini juga berlaku pada polemik ESL.

Para pemilik klub besar dan UEFA sedang adu kekuatan. Mereka sama-sama merasa punya power tanpa peduli kalau para fans sepakbola di dunia sedang cemas tak karuan. Mereka khawatir, sepakbola akan menuju kematiannya.

Padahal jika menilik sejarah, sepakbola dipopulerkan oleh orang-orang miskin yang butuh hiburan. Manchester United misalnya, didirikan oleh para buruh Manchester. Sekarang, seolah-olah sepakbola telah dicuri oleh mereka yang berduit.

Created by the poor, stolen by the rich

ANONIM

Jika para pemilik klub memang peduli terhadap fans, seharusnya mereka mau mendengarkan suara mereka. Sangat bullshit ketika Perez mengatakan ingin menyelamatkan sepakbola, itu hanya kata pemanis.

Mungkin sepakbola memang butuh diselamatkan. Mungkin UEFA dan FIFA memang sama-sama brengseknya. Akan tetapi, bukan dengan cara seperti ini menyelesaikan masalahnya. Jangan jadikan fans sebagai korban dari pertikaian antara pemilik kekuasaan.

Penutup

Seandainya ESL yang dijadwalkan akan dimulai pada bulan Agustus tahun ini benar-benar terlaksana, mungkin Penulis akan benar-benar berhenti menonton sepakbola. Biarlah mereka mengeruk kekayaan sampai mampus, Penulis tidak akan peduli lagi dengan sepakbola.

Penulis yakin banyak fans yang berpikiran sama. Mereka tidak ingin menjadi komoditas bagi para pemilik klub yang ingin menggembungkan rekening klub dan mungkin kantong mereka sendiri.

Ancaman UEFA juga bisa benar-benar terjadi. Kedua belas klub yang menyepakati ESL terancam dicoret dari liga, sehingga kemungkinan kita akan melihat persaingan juara Premier League antara Everton, West Ham, atau Leicester City saja.

Sangat disayangkan olahraga favorit sejuta umat dikuasai oleh segelintir orang yang lebih mengedepankan bisnis dibandingkan keinginan fans. Pembicaraan tentang ESL juga hanya dilakukan antar pemilik klub tanpa melibatkan pemain dan pihak lain.

Walaupun begitu, Penulis masih berharap kalau pada akhirnya penggagas ESL dan UEFA menemukan titik terang dari polemik ini. Entah bagaimana caranya, yang jelas Penulis tidak ingin para pecinta sepakbola menjadi korban dari peperangan ini.

Lawang, 20 April 2021, terinspirasi setelah membaca berbagai berita seputar ESL

Foto: Twitter

Sumber Artikel: The Flanker di Twitter

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Sepak Bola

Haruskah Ole Out? Iya, Ole HARUS Out!

Published

on

By

Seperti biasa, setiap performa Manchester United (MU) sedang anjlok, tagar #oleout kembali berkumandang dengan lantangnya hingga menjadi trending topic. Kolom komentar di media sosial milik MU pun dibanjiri dengan kata-kata Ole Out.

Dalam 9 pertandingan terakhir di semua kompetisi, MU harus menelan lima kekalahan dari Young Boys (Liga Champion), West Ham United (EFL Cup), serta Aston Villa dan Leicester City (Premier League).

Yang paling memalukan tentu kekalahan 0-5 melawan rival abadinya, Liverpool, di kandang sendiri. Pertandingan berlangsung kemarin (24/10) dan mendapatkan respon keras dari penonton yang melakukan walkout setelah Paul Pogba mendapatkan kartu merah.

MU hanya mampu mendapatkan 3 kemenangan tipis dan dramatis ketika melawan West Ham United (Premier League), Villareal, dan Atalanta (Liga Champion). Bahkan, mereka hampir kalah ketika menjamu Everton di Old Trafford jika saja gol Yerry Mina tidak dianulir karena offside.

Benarkah Ole harus keluar dan berhenti menjadi pelatih Manchester United?

Alasan Ole Harus Keluar dari Manchester United

Ole Harus Keluar (Sky Sports)

Posisi Ole Gunnar Solskjaer sebagai pelatih MU memang sangat sering goyang. Selain belum pernah menghadirkan trofi sama sekali, permainan yang dimiliki timnya terkadang begitu buruk hingga ia dicap sebagai pelatih yang miskin taktik dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.

MU mengusung formasi utama 4-2-3-1 dan Ole termasuk pelatih yang jarang mengganti pakemnya. Strategi yang kerap digunakan adalah memanfaatkan transisi lawan dari menyerang ke bertahan dengan cepat, atau bahasa mudahnya memanfaatkan counter attack.

Masalahnya, MU kerap kesulitan untuk menerobos lawan yang bermain bertahan, terutama tim yang menggunakan blok rendah. Jika sedang buntu, Ole sering terlihat kebingungan dan kurang pandai mengganti strategi dengan mengganti pemain.

Attitude yang dimiliki Ole juga kerap dikecam fan. Jika pelatih lain akan berdiri dan memberikan instruksi dari pinggir lapangan, Ole sering terlihat hanya duduk manis sembari melihat layar yang ada di hadapannya. Parahnya lagi, ia kerap terlihat tetap bisa tersenyum meskipun timnya mengalami kekalahan.

Cristiano Ronaldo (Detik Sport)

Padahal, skuad yang dimiliki MU bisa dibilang cukup bertabur bintang. Apalagi, musim ini mereka berhasil memulangkan Cristiano Ronaldo ke Old Trafford dan mendatangkan pemain baru berkualitas seperti Raphael Varane dan Jadon Sancho.

Permasalahan lain yang sering diprotes fan adalah Ole yang terlihat sangat “mencintai” Fred. Padahal, menurut mereka permainan Fred begitu buruk. Sebagai gelandang, ia kerap kehilangan bola dan salah passing.

Meskipun banyak sekali yang kontra, ada minoritas yang tetap mendukung Ole. Mereka membandingkan era awal Ole dengan era awal Sir Alex Ferguson yang juga terseok-seok. Namun, hal ini langsung dibantah karena skuad yang dimililiki Fergie saat itu tidak begitu bagus, berbeda dengan era Ole sekarang.

Kenapa Ole Begitu Susah untuk Keluar?

Conte (Kiri) dan Zidane (TikTak)

Keinginan untuk segera mendepak Ole bisa jadi dipicu oleh banyaknya pelatih berkualitas yang saat ini sedang menganggur. Contoh mudahnya adalah Antonio Conte dan Zinadine Zidane yang sudah terbukti mampu meraih trofi bergengsi bersama timnya.

Ibaratnya, skuad MU sekarang ini adalah mobil Formula 1, tapi kemampuan mengemudi Ole hanyalah sebatas angkot. Mau sekencang apapun mobilnya, kalau yang mengemudi tidak mampu, mobil tersebut tidak akan pernah menang balapan.

Apalagi, pelatih-pelatih sebelum Ole juga tidak diberi kesempatan sepanjang ini. Mulai Louis van Gaal hingga Jose Mourinho, meskipun mereka berhasil menghadirkan trofi untuk MU, pada akhirnya tetap didepak juga.

Jika dari presentase kemenangan, Ole memang lebih tinggi (55.21%) jika dibandingkan dengan van Gaal (52.43%) dan David Moyes (52.94%). Namun, Mourinho memiliki presentase yang lebih tinggi (58.33%) dan berhasil memberikan tiga piala untuk MU.

Keluarga Glazer sebagai pemilik MU pun nampak tenang-tenang saja melihat performa Ole. Fan sampai curiga, mereka tidak ingin mencari pengganti karena harus membayar pesangon untuk Ole dan tidak ingin membayar pelatih yang gajinya lebih tinggi.

Fan sudah muak dengan yang namanya “percaya pada proses”. Yang mereka percaya adalah Ole tidak mampu untuk menangani tim sebesar MU. Apalagi, pengalamannya hanyalah sebatas melatih klub seperti Cardiff City, itupun timnya terdegradasi.

Penutup

Pertandingan melawan Liverpool kemarin seolah menjadi puncak “hancurnya” permainan Manchester United di bawah kepelatihan Ole. Koordinasi pemain belakang yang sangat buruk memang menjadi penyebab utama, tetapi fan tetap menyalahkan Ole sebagai pelatih utama.

Menurut pendapat Penulis pribadi, Ole memang kurang punya kapasitas sebagai pelatih untuk klub sebesar Manchester United. Status awalnya di klub ini hanya caretaker yang menggantikan Jose Mourinho. Penulis tidak menyangka kalau ia akan diperpanjang selama ini.

Kalau Penulis cenderung lebih memilih Zidane daripada Conte yang terkenal lebih suka bermain defensif. Melihat kualitas pemain belakang MU, Penulis ragu strategi Conte cocok untuk tim.

Hingga tulisan ini terbit, Penulis terus melakukan refresh di Instagram dan berita, berharap ada berita kalau Ole akan mengundurkan diri ataupun dipecat oleh direksi klub. Semoga saja rentetan hasil buruk ini bisa membuat klub membuat keputusan yang tegas.


Lawang, 24 Oktober 2021, terinspirasi setelah kerap gusar melihat permainan Manchester United beberapa tahun terakhir

Foto: Sky News

Sumber Artikel:

Continue Reading

Sepak Bola

Menerka Formasi MU dengan Kedatangan Pemain Baru

Published

on

By

Jika dibandingkan dengan bursa transfer sebelumnya, bisa dibilang pembelian Manchester United (MU) musim ini cukup tetap sasaran dan sesuai dengan kebutuhan tim. Celah-celah yang menjadi PR musim lalu berusaha dibenahi dengan mendatangkan pemain berkualitas.

Jadon Sancho didatangkan untuk mempertajam lini depan, sedangkan Raphael Varane seolah menjadi jawaban dari keroposnya pertahanan MU. Setan merah hanya butuh mendatangkan satu pemain defensive midfielder yang mumpuni.

Selain dua nama tersebut, MU juga berhasil “memulangkan” Cristiano Ronaldo dan Tom Heaton. Penulis pun jadi merasa tertantang untuk menerka formasi baru MU dengan kedatangan para pemain baru ini.

Lini Depan Manchester United

Cristiano Ronaldo (USS Feed)

Kepulangan Cristiano Ronaldo ini bisa dibilang tidak direncanakan dan terjadi secara mendadak. Lini depan MU seolah surplus pemain. Sebelum kedatangannya, MU sudah punya nama-nama seperti:

  • Marcus Rashford
  • Edinson Cavani
  • Mason Greenwood
  • Amad Diallo
  • Anthony Martial
  • Daniel James

Musim kemarin, pemain yang kerap dimainkan adalah Rashford-Cavani-Greenwood, di mana nama lain menjadi pelapis. Dengan kedatangan Sancho dan Ronaldo secara bersamaan, mau tidak mau akan ada nama-nama yang harus rela menjadi penghangat bangku cadangan.

Kemungkinan besar, Rashford-Ronaldo-Sancho akan menjadi pemain yang akan bermain reguler. Melihat Sancho masih under perform, mungkin posisinya bisa digantikan oleh Greenwood yang semakin menunjukkan kematangannya.

Cavani yang kemarin bermain dengan cukup baik bisa menjadi pengganti yang sepadan untuk Ronaldo. Dirinya yang kerap dilanda cedera memang lebih cocok untuk menjadi cadangan dan menjadi super-sub.

Diallo sendiri sempat diisukan akan dipinjamkan ke klub lain agar mendapatkan jam terbang yang lebih banyak. Kabar terakhir, perpindahan tersebut batal karena Diallo sedang mengalami cedera.

Martial pun begitu. Ia dianggap fans sebagai pemain yang malas dan tidak mampu mencetak gol secara rutin. Apalagi, ia juga kerap cedera, sehingga Penulis benar-benar berharap ia akan dijual musim ini untuk menambah pemasukan klub.

Untuk James, sangat Penulis sayangkan karena permainannya cukup inkonsisten dan cenderung mengalami penurunan sehingga posisinya hanya sebagai pelapis. Kabar terakhir, James akhirnya pindah ke Leeds United.

Lini Tengah Manchester United

Bruno dan Pogba (BolaSkor)

Sejak awal bursa transfer dibuka, fans berharap kalau Manchester United akan mendatangkan defensive midfielder (DMF) baru. Posisi tersebut dianggap sebagai lubang yang harus segera ditambal.

Sebenarnya, MU sudah punya beberapa nama yang sayangnya kurang bisa mengisi posisi tersebut dengan baik. Beberapa nama pemain yang mengisi lini tengah MU adalah:

  • Bruno Fernandes
  • Paul Pogba
  • Fred
  • Scott McTominay
  • Jesse Lingard
  • Donny van de Beek (VDB)
  • Juan Mata
  • Nemanja Matic

Peran Bruno Fernandes tidak perlu dipungkiri lagi. Ia menjadi otak permainan tim. Begitu pula dengan Pogba yang cukup krusial. Meskipun sering dipasang di sayap kiri, permainannya bisa dibilang cukup konsisten.

Nah, posisi DMF yanng dibutuhkan oleh MU kerap diisi oleh Fred dan McTominay. Sayangnya, kedua pemain ini dianggap kurang bisa menampilkan permainan terbaiknya untuk mengisi posisi tersebut.

Lingard Penulis harapkan bisa menjadi “alat tukar” demi mendapatkan gelandang bertahan milik West Ham United, Declan Rice. Sistem tukar pemain menjadi hal yang masuk akal, mengingat MU sudah menggelontorkan dana cukup besar musim ini.

VDB menjadi pemain yang mengalami nasib tragis. Walaupun fans kerap meminta Ole memainkannya, nyatanya ia terus menjadi penghangat bangku cadangan. Mau dipasang sebagai DMF pun kurang cocok karena posisi aslinya sama seperti Bruno.

Untuk Mata dan Matic, mereka adalah (mantan) pemain bagus yang sudah dimakan usia. Kehadiran mereka hanya sebagai pelapis utama jika ada pemain inti yang mengalami cedera maupun akumulasi kartu.

Sayangnya hingga bursa transfer ditutup, tidak ada satu pun pemain DMF yang menandatangani kontrak dengan MU. Nampaknya para fans harus puas dengan pemain yang sudah ada.

Lini Pertahanan Manchester United

Raphael Varane (We All Follow United)

Pertahanan MU kerap mendapatkan catatan karena kadang begitu mudah ditembus oleh lawan. Harry Maguire selaku kapten seolah tidak punya pasangan yang cocok untuk menjaga pertahanan.

Masalah tersebut diatasi dengan mendatangan Raphael Varane. Pengalamannya dan banyaknya piala yang berhasil ia raih bersama Real Madrid diharapkan bisa mengubah wajah pertahanan MU.

Berikut adalah daftar nama defender yang dimiliki oleh MU:

  • Harry Maguire
  • Raphael Varane
  • Luke Shaw
  • Aaron Wan-Bissaka
  • Eric Bailly
  • Victor Lindelof
  • Diogo Dalot
  • Alex Telles
  • Phil Jones

Maguire, Varane, Shaw, dan Wan-Bissaka akan menjadi pemain tetap yang susah untuk tergantikan. Melihat daftar nama ini, Penulis sedikit merasa optimis bahwa pertahanan MU akan lebih baik lagi.

Sebagai pelapis ada Telles, Bailly, Lindelof, dan Dalot. Mereka akan mendapatkan waktu bermain yang minim sekali karena kalah saing dengan empat nama sebelumnya. Mereka cukup menjadi back up atau dimainkan di kompetisi semacam FA Cup dan Carabao Cup.

Yang Penulis heran, entah mengapa Phil Jones masih berada di dalam skuad MU. Sejak Januari 2020, ia belum pernah bermain lagi. Penulis juga menyayangkan kepindahan Brandon William ke Norwich City untuk menambah jam bermainnya.

Penjaga Gawang Manchester United

De Gea dan Henderson (Detik Sport)

Kalau untuk sektor yang satu ini, Penulis bisa bernapas lega karena ada dua nama yang cukup kompetitif: David De Gea dan Dean Henderson. Penulis sendiri lebih suka jika De Gea yang menjadi penjaga gawang utama, dengan Henderson sebagai pelapisnya.

Selain itu, MU juga masih punya Lee Grant dan Tom Heaton. Mungkin, kedua nama ini lebih berperan dalam staf kepelatihan, Penulis juga kurang tahu kenapa MU punya banyak kiper.

Satu hal yang melegakan adalah akhirnya Sergio Romero bisa keluar dari MU. Entah apa “dosa” yang dimiliki oleh kiper asal Argentina tersebut sehingga seolah terkesan “diasingkan” oleh klub.

Menerka Formasi MU

Formasi Mana yang akan Digunakan Ole? (The Japan Times)

Dengan daftar pemain seperti itu, bagaimana formasi dan strategi yang akan digunakan oleh Ole? Ada beberapa varian yang bisa digunakan untuk menyesuaikan kebutuhan tim.

Selama ini, Ole identik dengan pakem 4-2-3-1. Kedatangan Ronaldo bisa membuatnya didaulat menjadi ujung tombak klub. Kurang lebih, seperti inilah susunan pemainnya:

De Gea; Shaw, Varane, Maguire, Wan-Bissaka; Pogba, Fred; Rashford, Bruno, Sancho; Ronaldo

Formasi alternatif yang bisa digunakan adalah 4-3-3, di mana sebenarnya sangat cocok dengan MU yang memiliki pemain depan dengan kecepatan di atas rata-rata. Susunan pemainnya sedikit berubah menjadi seperti ini:

De Gea; Shaw, Varane, Maguire, Wan-Bissaka; Fred, Pogba, Bruno; Rashford, Ronaldo, Sancho

Apakah mungkin MU menggunakan formasi 4-4-2 klasik seperti yang sering diterapkan oleh Sir Alex? Bisa saja, mengingat MU masih punya Cavani. Hanya saja, formasi ini kurang bisa mengakomodir posisi Bruno sebagai playmaker. Apalagi, MU tidak punya DMF yang bagus.

MU jarang menggunakan formasi lima atau tiga bek, kecuali melawan klub besar yang kualitas pemainnya di atas pemain MU. Formasi 3-6-1, 3-4-3, atau 5-4-1 bisa saja diterapkan. Hanya saja, Penulis lebih yakin kalau formasi yang diterapkan antara 4-2-3-1 atau 4-3-3.

Mau formasi manapun yang akhirnya dipakai, semoga saja kedatangan para pemain baru MU bisa membuat klub kesayangan Penulis ini bisa mengangkat tropi lagi.


Lawang, 31 Agustus 2021, terinspirasi setelah Manchester United mendatangkan beberapa pemain berkualitas

Foto: Evening Standard

Continue Reading

Sepak Bola

Drama Ala Cristiano Ronaldo

Published

on

By

Bisa dibilang, transfer windows musim ini bisa dibilang paling gila sepanjang sejarah sepakbola. Banyaknya perpindahan pemain yang tidak terduga menjadi penyebabnya.

Yang paling heboh tentu saja kepindahan Lionel Messi dari Barcelona ke Paris St. Germany secara gratis. Kehebohan tersebut begitu menggemparkan penggemar sepakbola, terutama fans Messi dan Barcelona.

Terbaru, ada “drama” baru yang dibuat oleh rival abadi Messi, Cristiano Ronaldo. Beda dengan balada Messi yang membuat Penulis merasa sedih, kepindahan Ronaldo ini mampu put a smile on my face.

Pulangnya Ronaldo ke Old Trafford

Ronaldo Berseragam Juve (Sports Illustrated)

Drama ini dimulai setelah secara tiba-tiba Ronaldo mengatakan kalau dirinya sudah tidak ingin bermain untuk klubnya saat itu, Juventus. Ia telah berpamitan dengan rekan satu timnya dan sang pelatih, Massimiliano Allegri, juga telah mengeluarkan statement resminya.

Yang membuat Penulis panik dan ketar-ketir adalah mencuat isu bahwa Ronaldo akan pindah ke Manchester City, yang notabene adalah rival satu kota dari klub yang Penulis dukung, Manchester United (MU).

Meskipun Penulis bukan penggemar Ronaldo secara personal, kepindahan mantan pemain legenda MU ke klub yang Penulis kurang sukai jelas menyakitkan perasaan. Fans MU yang lain pun akan merasakan sakit yang sama.

Sepanjang hari Penulis pun mantengin berita transfer Ronaldo, terutama lewat media sosial milik Fabrizio Romano, wartawan yang terkenal karena akurasinya dalam menyampaikan berita transfer.

Setelah dag-dig-dug sepanjang hari, muncul kabar bahwa MU akhirnya ikut bergerak mendekati Ronaldo dan mendekati agennya, Jorge Mendes. Bahkan, City sampai memutuskan untuk mundur untuk mendapatkan tanda tangan Ronaldo.

Akhirnya sekitar jam 11 malam, di Instagram Manchester United mengumumkan bahwa legenda mereka resmi pulang ke OId Trafford.

Pindah karena Messi?

Insecure karena Messi? (The Japan Times)

Tidak ada yang menyangka bahwa musim ini, dua pemain yang dijuluki sebagai GOAT pindah ke klub dalam waktu yang sama. Messi pindah ke PSG dan Ronaldo kembali ke Manchester United.

Banyak yang berspekulasi kalau kepindahan Ronaldo yang dramatis ini dipengaruhi oleh kepindahan Messi yang menggegerkan jagad sepakbola. Ronaldo dianggap merasa insecure dengan spotlight yang didapatkan oleh rivalnya tersebut.

Kepindahan Messi memang sangat mengegerkan publik dan disambut dengan antusias oleh penggemar PSG. Bahkan, jersey-nya terjual habis dalam waktu singkat. Mungkin seminggu lebih, media olahraga memberitakan Messi tanpa henti.

Nah, karena Messi mendapatkan perhatian yang begitu besarnya, Ronaldo selaku rival abadinya pun merasa tidak tenang. Agar mendapatkan perhatian yang sama, ia pun membuat “drama” yang diawali dengan rumor kepindahannya ke City.

Apakah ini benar? Tentu tidak bisa dipastikan. Ada banyak faktor yang menyebabkan kepindahan Ronaldo dan Juventus ke Manchester United. Kita tunggu saja pernyataan resmi darinya, mungkin ketika perkenalan nanti.

Apakah Ronaldo Mampu “Menggendong” MU?

Mampu Bikin MU Angkat Piala Lagi? (Goal)

Ronaldo tidak perlu diragukan lagi sebagai salah satu pemain sepakbola terbaik sepanjang masa. Torehan yang ia raih sepanjang karirnya sangat susah untuk ditiru oleh siapapun.

Pertanyaan besarnya, apakah kepulangan Ronaldo mampu membawa MU berjaya kembali seperti di periode pertamanya?

Ronaldo di usianya yang ke-36 terlihat masih cukup garang di depan gawang lawan. Torehan golnya bersama Juventus musim kemarin menyentuh angka 44 di semua kompetisi. Apalagi, ia menjadi top score Euro 2020 bersama timnas Portugal.

MU, walau kadang bisa menang dengan margin gol yang besar, terkadang kerap menemui kebuntuan saat menghadapi tim yang bermain bertahan. Selain Cavani, mental para pemain depan juga terkadang masih naik-turun.

Kedatangan Ronaldo ke MU tentu menjadi angin segar. Sebagai legenda hidup klub, kehadirannya diharapkan mampu membuat perubahan yang signifikan. Bukan hanya dari jumlah gol, melainkan dari sisi mental.

Ya, Ronaldo adalah pemain bermental juara. Skuad MU saat ini, sayangnya, tidak banyak yang memiliki mental juara sebesar Ronaldo. Tentu Penulis berharap kedatangan Ronaldo kali ini mampu “menggendong” MU, terutama menularkan mental juara yang ia miliki.

Selain itu, kepindahan Ronaldo juga akan berpengaruh terhadap strategi dan formasi yang akan diterapkan oleh pelatih Ole Gunnar Solskjær. Penulis akan membahasnya di tulisan selanjutnya.


Lawang, 30 Agustus 2021, terinspirasi setelah mendengar kembalinya Ronaldo ke Manchester United

Foto: Transfermarkt

Continue Reading

Fanandi's Choice

Copyright © 2021 Whathefan