Connect with us

Anime & Komik

Ketika Adaptasi Anime Berbeda dengan Manga

Published

on

Kebanyakan anime yang kita tonton merupakan adaptasi dari sebuah manga. Otomatis, cerita di manga akan selalu lebih cepat dari animenya. Maka dari itu, pembaca manga akan lebih tahu dulu daripada penonton animenya.

Contoh yang paling mudah adalah Attack on Titan (AoT). Animenya baru menyelesaikan part pertama dari season keempatnya ketika manganya tamat di chapter 139 pada awal bulan ini. Mungkin butuh waktu satu tahun lagi agar penonton animenya tahu bagaimana cerita AoT berakhir.

Dalam membuat adaptasi, biasanya ada sedikit perubahan seperti pengurangan atau penambahan cerita. Di anime populer seperti Naruto dan Dragon Ball, ada banyak sekali episode filler yang tidak ada di komik dan tidak berhubungan dengan alur utama cerita.

Adaptasi manga juga ada yang memiliki akhir menggantung karena diakhiri di tengah jalan. Biasanya, anime bergenre comedy-romance yang seperti ini. Contohnya adalah Nisekoi yang seolah berakhir begitu saja ketika manganya masih berlangsung.

Nah, ada juga kasus di mana animenya memiliki alur cerita yang benar-benar berbeda dari manganya. Parahnya, perubahan tersebut dianggap merusak cerita hingga membuat fans marah besar. Contohnya adalah anime The Promised Neverland season 2 yang baru saja Penulis tamatkan.

SPOILER ALERT!!!

The Promised Neverland Season 2

Penulis sudah banyak mendengar kalau The Promised Neverland season 2 memiliki alur cerita yang nyelentang dari manganya hingga harus rela mendapatkan rating buruk. Oleh karena itu, Penulis sudah tidak berharap banyak ketika memutuskan untuk menontonnya.

Hasilnya, Penulis tetap kecewa.

Mengubah cerita dari versi aslinya sebenarnya tidak masalah, asal masih bagus. Lha ini rasanya dieksekusi secara asal-asalan hingga membuat Penulis geram setengah mati. Tidak hanya itu, banyak plot cerita dan karakter penting yang dihilangkan begitu saja.

Ada beberapa perubahan fatal yang menurut Penulis susah untuk diterima.

Sonju dan Mujika

Sonju dan Mujika (www.aniradioplus.com)

Sampai episode empat, Penulis masih merasa baik-baik saja. Sama seperti manga, Emma dan kawan-kawan bisa bertahan hidup di hutan belantara karena bertemu dengan Sonju dan Mujika yang merupakan iblis. Bedanya, mereka tidak memakan manusia.

Hanya saja, peran mereka seolah dikerdilkan. Memang Mujika masih memiliki darah yang membuat iblis tidak akan mengalami degenerasi walaupun tidak memakan manusia. Hanya saja, perannya berhenti sampai di sana saja.

Kalau di manganya, Sonju dan Mujika harus berjibaku untuk menyadarkan para iblis kalau mereka bisa mempertahankan bentuk manusianya tanpa perlu memakan manusia. Mereka dikejar waktu karena sedang dikejar pasukan kerajaan yang menganggap mereka melakukan kudeta.

Untuk itu, mereka menghidupkan leluhur mereka yang mati suri untuk membantu mereka. Bahkan, mereka sempat tertangkap dan akan dieksekusi mati sebelum diselamatkan oleh salah seorang keluarga bangsawan yang selamat dan mendukung mereka.

Mujika juga pada akhirnya diangkat menjadi seorang ratu yang baru untuk bangsa iblis, sama seperti versi animenya.

Yugo dan Goldy Pond Arc

Yugo dan Goldy Pond (Pinterest)

Mulai episode 5, cerita animenya sudah berubah total, setelah mereka menemukan shelter yang dibangun oleh William Minerva. Karakter Yugo yang tinggal di sana dihilangkan sama sekali! Padahal di manga, ia memiliki peran penting untuk dan memiliki character development yang menarik.

Tidak adanya Yugo secara otomatis membuat Goldy Pond arc juga hilang sama sekali. Padahal, di arc tersebutlah Emma pertama kali berhadapan dengan bangsawan iblis yang akan menjadi musuh terakhir mereka.

Oke, anggaplah penghilangan tersebut dilakukan agar anime ini tidak terlalu panjang dan bisa ditamatkan di season 2. Akan tetapi, masih banyak hal yang membuat emosi dari anime ini.

Kemunculan Norman

Norman? (Game N Guides)

Yang paling menjengkelkan adalah kemunculan kembali Norman! Di manganya, Emma baru bertemu Norman setelah melakukan berbagai macam petualangan yang berbahaya. Eh, lha kok di sini ketemunya cepat sekali.

Inti ceritanya memang sama, di mana Norman berhasil kabur dari labotarium Lambda bersama beberapa temannya. Namun, ada banyak sekali hal yang dihilangkan, termasuk beberapa teman Norman yang ikut kabur bersamanya.

Selain itu, di manga Norman berhasil membangun semacam tempat perlindungan yang berisi banyak manusia. Di animenya, Norman terlihat hanya memiliki kelompok kecil yang bersembunyi di semacam kuil.

Penyerbuan Grace Field

Isabella Tetap Hidup (Anime News Network)

Penyerbuan ke Grace Field oleh Emma juga terkesan terburu-buru dan memaksakan. Penyerbuan menggunakan balon udara benar-benar non-sense. Darimana mereka bisa mendapatkan balon udara sebanyak itu?

Kalau di manganya, anak-anak yang ada di shelter milik Norman diculik oleh Peter Ratri. Untungnya, sebagian anak-anak tengah berperang melawan bangsawan iblis sehingga bisa menyelinap masuk menggunakan peta peninggalan William Minerva.

Selain itu, penyerbuan dilakukan setelah mengalahkan bangsawan iblis dengan pertarungan yang epik, bukannya menakhlukkan peternakan baru menyerang mereka.

Yang menjengkelkan lagi, Isabella selamat dan ikut pergi ke dunia manusia! Di manganya, Isabella mati karena mengorbankan dirinya demi melindungi anak-anaknya. Ending seperti itu lebih cocok untuknya.

Ending Ala Presentasi Powerpoint

Ending Ala PPT (Comic Book)

Emma membuat perjanjian baru dengan iblis untuk mengirim keluarganya ke dunia manusia. Sebagai bayarannya, ia akan kehilangan semua ingatan tentang mereka dan akan terpisah dari mereka. Butuh 2 tahun untuk Norman, Ray, dan lainnya untuk menemukan Emma yang tidak tahu siapa mereka.

Itu versi manganya. Walau agak terlalu bahagia, ending tersebut masih bisa diterima dan cukup memuaskan. Beda sama versi animenya.

Setelah menerobos Grace Field yang kesannya sangat mudah ditembus, Emma dan kawan-kawan berhasil mencapai gerbang perbatasan antara dunia manusia dan dunia iblis. Saat semua masuk, beberapa di antara mereka memutuskan tinggal untuk “mengubah dunia iblis”.

Penulis sempat mengira kalau ini akan menjadi premis season ketiga. Ternyata, tidak ada yang namanya season ketiga. “Mengubah dunia iblis” hanya ditampilkan melalui potongan-potongan gambar ala presentasi Powerpoint.

Penutup

Di situs MyAnimeList, rating anime The Promised Neverland season 2 hanya 5.7. Bandingkan dengan season pertamanya yang memiliki rating 8.63.

Penulis tidak tahu apa alasan mereka yang membuat anime ini merombak sedemikian rupa ceritanya dan tidak tertarik untuk mencarinya di berita. Yang jelas, Penulis merasa kecewa dengan anime ini.

Sekali lagi, tidak masalah jika adaptasi anime memiliki alur cerita yang berbeda dari manga. Tapi kalau lebih jelek, buat apa?

Lawang, 17 April 2021, terinpirasi setelah menonton anime The Promised Neverland season 2

Foto: CBR

Anime & Komik

Madara Uchiha Lebih Layak Jadi Final Villain di Naruto

Published

on

By

Meskipun sudah lama tamat dan memiliki sekuel, Naruto rupanya tetap populer hingga saat ini. Penulis sempat menuliskan artikel panjangnya di tempat kerja yang membahas alasan-alasan mengapa serial ini tetap relevan hingga kini.

Di media sosial seperti YouTube Shorts, Penulis kerap menemukan konten yang membahas mengenai Naruto, entah itu callback cerita-cerita lama, membahas teori-teori liar, hingga membedah chapter yang masih menimbulkan tanda tanya.

Bagi Penulis sendiri, hingga saat ini ada satu hal yang mengganjal dari serial ini, yakni bagaimana Madara Uchiha tidak menjadi final villain-nya. Masashi Kishimoto justru memunculkan karakter yang selama ini hampir tidak pernah disebut, yakni Kaguya ลŒtsutsuki.

Alasan Mengapa Madara Lebih Cocok Jadi Final Villain

Madara Uchiha Ketika Menjadi Jinchuriki Juubi (Reddit)

Bagi Penulis, salah satu yang membuat Naruto bagus adalah para villain-nya. Mulai dari Zabuza, Orochimaru, Gaara, Itachi, Akatsuki, Pain, hingga Obito, semua begitu membekas karena latar belakang maupun motifnya menjadi seorang villain.

Madara Uchiha juga salah satunya. Ia adalah villain yang cukup kompleks. Sebagai rival dari Hashirama Senju, tujuan utamanya sebenarnya adalah menciptakan perdamaian abadi melalui Mugen Tsuyokomi, ketika semua manusia berada di alam mimpi.

Untuk hal itu, ia berkali-kali selamat dari kematian, terutama dalam pertarungan melawan Hashirama. Ia hidup cukup lama hingga bisa memanipulasi Obito untuk mendirikan Akatsuki demi melancarkan rencana Mugen Tsuyokomi-nya.

Kemunculan Madara juga tidak mendadak begitu saja. Sebelum dibangkitkan kembali melalui Edo Tensei dari Kabuto, ia telah beberapa kali disebutkan dalam ceritanya (foreshadowing) sebelum kemunculan perdananya.

Kita bisa melihat patungnya bersama Hashirama Senju di Lembah Akhir di chapter 217. Kyuubi juga pernah menyebutkannya ketika Naruto menyerang markas Orochimaru demi menyelamatkan Sasuke di chapter 309.

Obito sewaktu masih bertopeng juga sempat mendeklarasikan diri sebagai Madara. Hal ini menjadi twist yang menarik setelah Madara yang asli muncul pertama kali, tentu dalam wujud Edo Sensei.

Oleh karena itu, efek plot twist-nya ketika ia menjadi dalang dari semua peristiwa di Naruto terasa masuk akal. Apalagi, ia telah berkali-kali aura farming sejak kemunculannya, dengan segala kemampuannya yang di luar nalar bahkan sebelum menjadi Jinchuriki Juubi!

Sayangnya, Madara justru menjadi “korban penipuan” dari Zetsu Hitam. Ternyata, semua rencananya selama ini telah diatur oleh mereka demi bisa membangkitkan kembali Kaguya ลŒtsutsuki.

Mari Kita Bandingkan dengan Kaguya ลŒtsutsuki

Tiba-Tiba Muncul, eh Kaget (Fandom)

Sekarang mari kita bandingkan Madara dengan final villain yang sesungguhnya, Kaguya ลŒtsutsuki. Dari motivasinya, Kaguya ingin seluruh chakra manusia di dunia kembali ke dirinya karena merasa bumi ini adalah miliknya.

Dari sisi motivasi, jelas ini lebih pure chaos dibandingkan motivasi “perdamaian” dari Madara. Kaguya sebenarnya adalah “alien” yang datang ke bumi, lalu menamam Pohon Dewa (Shinju) demi bisa memakan Buah Chakra secara ilegal. Dibandingkan dengan Madara, motivasi Kaguya ini jelas lebih egois.

Selain itu, Kaguya benar-benar baru disebutkan menjelang akhir cerita. Madara yang menyebutkan pertama kali ketika menjelaskan tentang Shinju di chapter 646. Namun, kemunculannya sendiri baru terjadi pada chapter 679.

Sebagai analogi, bayangkan Thanos yang telah di-tease sejak film pertama Avengers. Namun, di film Avengers: Infinity War, sewaktu Thanos hendak menjentikkan jarinya, tiba-tiba ia ditikam dari belakang oleh Doctor Doom dan mengatakan rencananya selama ini berhasil!

Oleh karena itu, Penulis sering berprasangka buruk kalau Kaguya dihadirkan hanya agar Naruto bisa dilanjutkan oleh Boruto. Seperti yang kita tahu, klan ลŒtsutsuki menjadi pusat konflik di sekuel tersebut.

Penutup

Penulis saat ini sedang mengoleksi ulang komik-komik Naruto versi Bind Up-nya. Saat artikel ini ditulis, Perang Dunia Ninja ke-4 baru saja dimulai. Penulis tak sabar ingin membaca ulang kisah Madara dan Kaguya ini, siapa tahu dulu ada detail yang terlewat.

Hanya saja, Penulis merasa kalau Madara tetap lebih layak menjadi final villain. Kalau memang klan ลŒtsutsuki mau menjadi musuh utama di Boruto, ya buat build up-nya di sana, jangan di Naruto.

Bayangkan saja Madara dengan kemampuan dewanya yang berhasil ia dapatkan harus bertarung dengan Naruto dan Sasuke. Bahkan, ia memang terlihat kalah dalam pertarungan tersebut, sebelum akhirnya malah dikhianati oleh Zetsu Hitam.

Seandainya tidak melawan Kagura, mungkin pertarungan terakhir antara Naruto dan Sasuke juga akan berlangsung lebih lama dan seru, bukan dalam kondisi kehabisan stamina dan chakra seperti yang kita dapatkan.

Yah, pada akhirnya kita harus tetap menerima keputusan Masashi Kishimoto. Walau agak ngedumel, Penulis tetap menjadikan Naruto sebagai salah satu komik favoritnya setelah Dragon Ball.


Lawang, 30 Agustus 2026, terinspirasi setelah merenungi kalau Madara Uchiha lebih cocok menjadi final villain daripada Kaguya.

Continue Reading

Anime & Komik

Saya Memutuskan untuk Mengoleksi Komik Detektif Conan Premium

Published

on

By

Setelah memutuskan untuk mengoleksi komik Dragon Ball Super dan Naruto Bind Up Edition, ternyata keinginan masa kecil untuk mengoleksi komik secara lengkap kembali bergelora.

Yang ingin Penulis kumpulkan bukan hanya komiknya secara fisik, tapi juga memori-memori masa kecil ketika membaca cerita-ceritanya secara lebih utuh. Ada banyak hal yang dulu tidak Penulis pahami, kini bisa jadi lebih dimengerti.

Selain Dragon Ball dan Naruto, Penulis juga besar dengan komik Detektif Conan. Bahkan, Penulis cukup banyak memiliki komiknya. Nah, Penulis sekarang memutuskan untuk mengoleksi lagi komiknya, tapi kali ini yang versi Premium.

Awalnya Cuma Beli Satu untuk Nostalgia, tapi…

Komik Detektif Conan Premium Vol. 21 (Gramedia)

Sama seperti Naruto, Penulis juga “lompat” dalam membaca cerita-cerita Detektif Conan. Kalau ingatan Penulis tidak keliru, maka volume pertama yang Penulis baca adalah Volume 41, di mana case pertama mempertemukan Yukiko (ibu Conan/Shinichi) dan Eri (ibu Ran).

Nah, waktu itu, kebetulan juga komik yang Penulis baca adalah versi bajakannya, karena waktu kecil Penulis belum benar-benar paham mana komik asli dan tidak. Untungnya, Penulis membeli versi asli untuk Volume 42.

Oleh karena itu, ketika akhirnya memutuskan untuk membeli komik Detektif Conan Premium, Penulis pun memutuskan untuk membeli Volume 21 karena mencakup cerita-cerita dari Volume 41 dan 42 di versi aslinya. Nostalgia menjadi alasan utamanya, yang akan Penulis jabarkan di poin berikutnya.

Penulis ingin mundur sebentar sebelum akhirnya membeli komik tersebut. Sebenarnya, keinginan untuk mengoleksi Detektif Conan Premium telah terbit sejak volume-volume awalnya rilis. Namun, waktu itu Penulis mengurungkan niatnya.

Ada beberapa alasan yang menahan Penulis untuk tidak membeli komik Detektif Conan Premium, seperti telah mengetahui sebagian besar ceritanya, tidak ada lagi tempat untuk menyimpan, hingga dorongan untuk berhemat.

Sebagai pelipur lara, Penulis sempat memutuskan untuk membeli komik Conan edisi Selection. Kebetulan, waktu itu Ai Haibara sebagai karakter favorit Penulis di serial ini memiliki edisi ini, bahkan hingga dua Volume. Ada juga beberapa judul Selection lain yang Penulis miliki.

    Hanya saja, meskipun sudah membeli seri Selection, dorongan untuk membeli Detektif Conan Premium masih begitu besar. Alhasil, kembali lagi ke atas, Penulis pun memutuskan untuk membeli Volume 21 sebagai awal.

    Vermouth vs. Jodie, Arc Favorit Penulis

    Vermouth (Fandom)

    Salah satu alasan mengapa Volume 41-42 begitu memorable bagi Penulis adalah adanya klimaks antara konflik yang berpusat pada agen FBI, Jodie Starling, dan Vermouth, salah satu anggota Organisasi Hitam yang memiliki seribu wajah.

    Waktu masih kecil, Penulis tentu masih belum benar-benar paham apa konflik di antara mereka selain yang diceritakan di dua volume tersebut. Yang Penulis tangkap, Vermouth menyamar sebagai Dokter Araide untuk bisa mengulik tentang Ai.

    Selain itu, ternyata Jodie memiliki sejarah panjang dengan Vermouth, karena ia adalah orang yang bertanggung jawab atas kematian ayahnya. Vermouth yang terlihat muda tersebut ternyata sebenarnya adalah aktris Sharon Vineyard yang memalsukan kematiannya sendiri.

    Di klimaks yang terjadi di dermaga, ternyata Ai yang dibawa oleh Jodie merupakan Conan yang menyamar. Sayangnya, rencananya buyar karena Ai yang asli datang menyusul menggunakan kacamata pencari jejak cadangan.

    Ai telah siap menyerahkan diri ke Vermouth demi menyelamatkan teman-temannya. Namun, tiba-tiba dari bagasi mobil Jodie, ada Ran yang langsung berlari dan melindungi Ai. Kejadian tersebut membuat Ai teringat oleh mendiang kakaknya, Akemi Miyano.

    Jodie terluka akibat ditembak Calvados, Conan pingsan karena jam biusnya sendiri, Ran diancam tembak oleh Vermouth. Di tengah kejadian tegang tersebut, tiba-tiba Shuichi Akai datang dari belakang! Sayang, Vermouth berhasil kabur dengan menyandera Conan.

    Bisa dilihat, rentetan kejadian yang menegangkan inilah yang membuat arc ini menjadi favorit Penulis hingga kini.

    Penutup

    Bagi Penulis yang pada dasarnya suka cerita detektif, Detektif Conan telah menemani Penulis sejak kecil dan hingga kini masih belum menunjukkan tanda-tanda akan tamat. Memang, ada banyak sekali hal yang bikin geleng-geleng kepala, seperti:

    • Trik pembunuhan yang terasa ribet dan tidak masuk akal
    • Motif pembunuhan yang “gitu doang?”
    • Timeline yang tidak jelas seolah tidak maju-maju
    • Inkonsistensi teknologi, di awal-awal teknologinya teknologi akhir 90-an atau awal 2000-an, sekarang malah pakai smartphone (dan Conan tetap saja kelas 1 SD!)
    • Karakter yang terus bertambah, dan setiap ada yang baru, langsung muncul tiga orang untuk membiarkan Pembaca menebak-nebak siapa yang baik siapa yang jahat

    Terlepas dari sederet kekurangannya, Penulis tetap menyukai Detektif Conan, sehingga memutuskan untuk membeli versi premiumnya. Hingga artikel ini ditulis, Penulis telah memiliki Volume 14 hingga 33.

    Karena berangkatnya dari volume 21, Penulis membeli volume lainnya “maju dan mundur” secara urut. Jujur ada kekhawatiran Penulis akan kesulitan menemukan volume-volume awal, tapi biarlah, anggap saja sebagai “perburuan” harta karun.

    Dengan demikian, saat ini ada lima seri komik yang sedang Penulis koleksi, yakni Naruto, Detektif Conan, Spy x Family, Dragon Ball Super, dan Dragon Ball Ultimate Edition. Apakah di masa depan daftar ini akan bertambah? Entahlah.


    Lawang, 4 Agustus 2026, terinspirasi setelah melihat koleksi komik Detektif Conan-nya

    Continue Reading

    Anime & Komik

    Ai Haibara adalah Karakter Favorit Saya di Detective Conan

    Published

    on

    By

    Sejak kecil, Penulis suka membaca komik, baik itu komik Jepang maupun Barat. Seperti yang sudah sering dibahas pada blog ini, favorit Penulis adalah Dragon Ball dan Naruto. Bahkan, sekarang Penulis kembali mengoleksi komik-komik tersebut.

    Selain genre shounen, salah satu komik lain yang suka Penulis baca adalah Detective Conan. Sejak kecil, sudah banyak komiknya yang Penulis baca walaupun tidak yakin pernah membaca semuanya, mengingat hingga kini serinya masih berjalan hingga lebih dari 1.000 chapter.

    Ketika komik Detective Conan merilis versi premiumnya, Penulis sempat terpikirkan untuk kembali mengoleksinya, mengingat koleksi Detective Conan Penulis banyak yang hilang dan rusak. Namun, wacana tersebut terganjal budget karena harga per komiknya cukup mahal.

    Detective Conan Ai Haibara Selection

    “Jalan tengah” muncul ketika Penulis berencana untuk membeli komik Naruto Bind Up Edition Vol. 1. Saat hendak mengambil komik tersebut, mata Penulis menemukan komik spesial Detective Conan Ai Haibara Selection.

    Mengingat Ai Haibara merupakan salah satu karakter favorit Penulis di serial Detective Conan, Penulis pun memutuskan untuk membelinya. Apalagi, beberapa bulan setelah membeli volume pertamanya, volume keduanya juga rilis.

    Jika di volume pertama lebih membahas perjalanan Ai Haibara sejak pertemuan pertama hingga memanasnya konflik dengan Organisasi Hitam, maka di volume kedua ini lebih membahas hubungan dan petualangan Ai dengan Kelompok Detektif Cilik.

    Di kedua komik edisi spesial ini, selalu dilampirkan fakta-fakta seputar Ai secara ringkas, tapi menyeluruh. Hal ini sangat membantu Penulis untuk lebih mengenal karakter yang juga mengecil karena obat APTX 4869 ini.

    Untuk kisahnya sendiri, sesuai judulnya, merupakan pilihan editor. Tentu saja cerita yang dipilih melibatkan Ai Haibara cukup banyak, bahkan terkadang ia seolah menggeser Conan Edogawa sebagai tokoh utamanya.

    Karena sudah banyak membaca komik Detective Conan, mayoritas cerita yang ada di komik ini sudah pernah Penulis baca sebelumnya. Namun, justru hal tersebut menimbulkan efek nostalgia yang menyenangkan, karena memang sudah cukup lama Penulis tidak membacanya.

    Sayangnya, ada beberapa arc yang cukup melibatkan Ai, tapi tidak disajikan secara lengkap. Contohnya adalah arc ketika Conan pertama kali dengan Vermouth, yang sejujurnya tetap menjadi salah satu cerita favorit Penulis di keseluruhan serinya.

    Selain itu, Penulis juga masih menantikan cerita The Jet-Black Mystery Train yang hingga dua volume ini masih belum diperlihatkan. Bahkan di volume dua, cerita ini hanya di-mention singkat tanpa ada kisah utuhnya.

    Penulis berharap jika ada Detective Conan Ai Haibara Selection volume tiga, kisah tersebut akan dimunculkan. Untuk sekarang, Penulis cukup puas dengan dua komik yang merangkum kisah Ai Haibara ini.

    Mengapa Suka Ai Haibara?

    Ai Haibara (Fandom)

    Ada banyak hal yang membuat Penulis memfavoritkan karakter Ai Haibara, yang nama aslinya adalah Akemi Miyano. Pertama, mari kita bahas terlebih dahulu dengan masa lalunya yang cukup kelam dan misterius.

    Ai awalnya merupakan ilmuwan yang bekerja untuk Organisasi Hitam, menggantikan peran orang tuanya yang juga ilmuwan, Atsuhi dan Elena Miyano, yang tewas karena “kecelakaan”. Selama di organisasi, ia memiliki codename Sherry.

    Ai juga memiliki seorang kakak perempuan bernama Akemi Miyano, yang tewas di awal-awal cerita di tangan Gin. Conan sempat bertemu dengan Akemi di awal-awal cerita seri, tetapi ketika itu ia belum mengetahui hubungannya dengan Ai.

    Kematian seluruh anggota keluarganya inilah yang memicu Ai untuk kabur dari organisasi, dengan menelan pil APTX 4869 seperti Conan. Sejak itu, ia harus hidup sebagai anak kecil dan menghadapi berbagai petualangan dengan Conan dan kawan-kawan.

    Latar belakangnya yang seperti itu mungkin membuat Ai menjadi sosok yang bermulut tajam, cenderung dingin, dan sinis. Namun, ia juga seseorang yang dewasa dan mampu berpikiran tenang. Saat tidak ada Conan, kemampuan analisis Ai bisa cukup diandalkan.

    Ai juga memiliki kemampuan yang cukup unik, yakni bisa merasakan hawa keberadaan anggota Organisasi Hitam. Kemampuan ini sangat berguna jika ada anggota organisasi yang menyamar, mengingat mereka memiliki Vermouth yang memang ahli di sana.

    Walaupun begitu, Ai juga memiliki sisi manis yang jarang terungkap. Ia bisa menjadi fangirl yang sangat bucin ke pemain sepak bola Ryusuke Higo. Terkadang ia juga menunjukkan sisi pedulinya kepada para anggota Detektif Cilik, terutama dalam keadaan genting.

    Di sisi lain, Conan juga sering menunjukkan kekhawatiran apabila tiba-tiba Ai menghilang, terutama khawatir jika Ai diculik oleh Organisasi Hitam. Jika Ai dalam keadaan genting, Conan pasti akan mati-matian menyelamatkannya, seperti yang terlihat pada film The Iron Submarine.

    Kurang lebih itulah yang membuat Penulis memfavoritkan karakter Ai Haibara di serial Detective Conan, melebihi karakter-karakter menarik lainnya. Semoga saja di masa depan, akan lebih banyak hal lagi yang terungkap seputar dirinya.


    Lawang, 26 November 2024, terinspirasi setelah membaca dua komik spesial Detective Conan yang khusus membahas Ai Haibara

    Foto Featured Image: Alpha Coders

    Continue Reading

    Fanandi's Choice

    Blog ini milik Fanandi Prima Ratriansyah sejak 2018