Connect with us

Anime & Komik

Digantung Ala Anime (Bagian 1)

Published

on

Beberapa anime diangkat dari manga, sama seperti beberapa film yang diangkat dari novel bestseller. Tentu tidak ada masalah, selama animenya bisa menceritakan sebagaimana yang terjadi di manganya.

Contoh anime terkenal yang diangkat dari manga adalah Dragon Ball, Naruto, One Piece, hingga Detective Conan. Untuk dua judul pertama telah tamat, sedangkan dua judul terakhir belum ada titik terang kapan tamatnya.

Walaupun begitu, tidak semua anime yang diangkat dari manga bisa tamat. Ada beberapa judul yang membuat penulis merasa digantung sehingga harus membaca manganya agar tahu bagaimana akhir cerita sesungguhnya.

Genre yang sering seperti ini adalah anime romance, walaupun ada anime slice of life yang juga seperti itu.

Ao Haru Ride

Ao Haru Ride (The Geek Lyfe)

Yang pertama adalah anime Ao Haru Ride yang baru saja penulis tamatkan. Anime ini bergenre comedy romance dengan tokoh utama seorang perempuan bernama Futaba Yoshioka.

Ceritanya, Futaba menyukai teman laki-lakinya, Kou Tanaka, ketika SMP. Suatu ketika, mereka berdua membuat janji untuk bertemu sebuah taman. Sayang, Kou tak pernah datang dan semenjak itu mereka tidak pernah bertemu lagi.

Lalu terjadi time jump di mana Futaba telah menjadi murid SMA. Ia mengubah image-nya yang feminim menjadi urakan. Alasannya, agar ia tidak dianggap sok imut dan memiliki punya teman perempuan.

Tanpa sengaja, di sekolah ia melihat Kou yang ternyata telah mengubah nama keluarganya menjadi Mabuchi karena alasan keluarga. Kou yang dikenal oleh Futaba dulu telah berubah drastis.

Anime ini memiliki cerita yang memikat dan tidak melulu membahas persoalan cinta. Penulis pribadi menyukai permasalahan keluarga yang membuat Kou harus menjadi pemuda yang acuh terhadap sekitarnya.

Kasus dua orang sahabat menyukai orang yang sama juga terjadi di sini, ketika sahabat Futaba, Yuri Makita, juga menyukai Kou. Walaupun begitu, mereka justru memutuskan untuk bersaing dengan sehat demi mendapatkan Kou.

Yang tidak kalah unik adalah teman Futaba lainnya, Shuko Murao, jatuh cinta kepada gurunya yang merupakan kakak kandung Kou.

Sayangnya, akhir dari anime ini sangat menggantung. Tidak jelas apakah Futaba dan Kou akhirnya merajut hubungan romantis. Sewaktu penulis cek di internet, ternyata manganya masih berlanjut.

Ketika sedang berjalan-jalan di Paperclip Gandaria, penulis menemukan komiknya volume 6 sampai 13. Tanpa berpikir panjang, penulis langsung memborong semuanya agar mengetahui bagaimana akhirnya.

Menurut penulis, cerita lanjutannya terlalu berputar-putar, di mana Kou dan Futaba berpacaran dengan orang lain dulu sebelum akhirnya resmi menjadi pasangan kekasih.

Barakamon

Barakamon (Anime-Planet)

Anime komedi yang satu ini merupakan salah satu favorit penulis, terutama karena karakter Naru yang menggemaskan. Barakamon merupakan sebuah anime dengan tokoh utama seorang ahli kaligrafi bernama Seishuu Handa.

Handa “dibuang” oleh ayahnya (yang juga merupakan seorang ahli kaligrafi) ke sebuah desa di pulau terpencil setelah melakukan kesalahan fatal dengan menonjok seorang juri kaligrafi.

Walaupun awalnya ia merasa tidak betah di sana karena kelakukan warganya yang aneh-aneh, pada akhirnya ia justru merasa telah menjadi bagian dari desa tersebut. Hal itu tak lepas dari kehadiran Naru dan kawan-kawan.

Di animenya, Barakamon berakhir setelah Handa kalah mengikuti lomba. Ketika mencari-cari di toko buku, ternyata ada lanjutannya dan sedang on going.

Maka, penulis mengikuti kelanjutan Barakamon melalui komik yang baru saja tamat pada volume 18 kemarin. Di komik, ternyata Handa memutuskan untuk membuka kelas kaligrafi di desa tersebut.

Ceritanya sendiri cenderung slice of life sehingga penulis memang tidak berharap akan ada akhir yang menakjubkan. Akan tetapi, sangat menyenangkan mengikuti cerita Barakamon.

Bokura wa Minna Kawaisou

Bokura wa Minna Kawaisou (Jurnal Otaku)

Pada tulisan Di Balik Wanita Tanpa Ekspresi, penulis sudah menyinggung sedikit anime ini karena karakter utama wanitanya, Ritsu Kawai, adalah tipe wanita yang pendiam tapi menggemaskan.

Anime ini disarankan oleh teman kuliah penulis dan bercerita tentang sebuah kos-kosan campur yang penghuninya unik-unik (harus seperti itu agar ada ceritanya).

Karakter utama dari anime ini, Karazuka Usa, pindah ke tempat ini karena suatu alasan. Ternyata, ia akan tinggal satu atap dengan Ritsu, kakak kelasnya, yang ia taksir semenjak melihatnya di perpustakaan.

Penulis tidak ingat bagaimana akhir dari animenya, tapi sewaktu penulis cek di internet, anime ini ternyata diangkat dari manga dan masih on going.

Hanya saja, penulis tidak terlalu minat untuk membacanya karena kurang terkesan dengan animenya. Yang penulis tahu, pada akhirnya Ritsu dan Usa akhirnya jadian, meskipun setelah lulus SMA Ritsu harus keluar dari kos-kosan karena bekerja.

Masih Ada Lagi…

Setidaknya masih ada tiga anime lagi yang memiliki akhir menggantung. Semua bergenre romance yang cukup membuat baper. Karena tulisan kali ini sudah cukup panjang, maka penulis memutuskan untuk membuat bagian keduanya.

 

 

Kebayoran Lama, 3 Juni 2019, terinspirasi setelah menamatkan anime dan manga Masamune-kun no Revenge

Foto: Anime-Planet

Anime & Komik

Sukses Tanpa Privilege Ala Maito Gai

Published

on

By

Anime shounen (anime yang ditujukan untuk penonton remaja laki-laki) kerap mengangkat tema from zero to hero. Contoh yang paling gampang adalah Naruto.

Karakter utamanya, Naruto Uzumaki, digambarkan ketika kecil hidup sebatang kara dan tidak bisa apa-apa. Ia juga berkali-kali gagal dalam ujian kelulusan akademi.

Walaupun begitu, Naruto tidak menyerah. Singkat cerita, ia terus berlatih untuk mendapatkan kekuatan demi bisa meraih impian terbesarnya: menjadi seorang Hokage.

Apakah ia berhasil? Iya, Naruto berhasil menjadi seorang Hokage berkat kerja kerasnya.

Atau, apakah benar demikian?

Daftar Privilege Naruto Uzumaki

Punya Banyak Privilege (Medium)

Jika ditelisik lebih dalam, sebenarnya Naruto tidak 100% from zero to hero. Ia punya banyak sekali privilege untuk membuatnya bisa sehebat sekarang.

Tidak percaya? Coba saja lihat daftar keistimewaan yang dimiliki Naruto:

  • Anak dari Namikaze Minato, Hokage Keempat
  • Keturunan klan Uzumaki dari ibunya, klan yang terkenal karena memiliki cakra yang melimpah
  • Memiliki Kyuubi di dalam tubuhnya, meskipun butuh waktu untuk bisa menguasai kekuatannya
  • Diajar oleh guru dan murid ayahnya, Jiraiya dan Hatake Kakashi, yang merupakan ninja top markotop
  • Mendapatkan kekuatan dari Rikudou Sennin

Jika benar-benar mencari karakter di anime Naruto yang benar-benar from zero to hero, Penulis lebih memilih Maito Gai yang sangat menginspirasi.

Sukses Tanpa Privilege

Kuat Tanpa Usaha Keras Tanpa Privilege (Naruto Fandom)

Awalnya Maito Gai (atau Might Guy) merupakan salah satu karakter yang kerap diremehkan karena tingkah norak dan konyolnya. Apalagi, model rambutnya mirip anggota band The Changcuters.

Bisa dibilang, sejak lahir Gai tidak punya bakat menjadi seorang ninja. Bagaimana tidak, ia sama sekali tidak bisa menguasai ninjutsu maupun genjutsu.

Sama seperti Naruto, sewaktu kecil ia sering diremehkan dan beberapa kali ditolak masuk ke dalam akademi. Di-bully? Sering sekali.

Walaupun begitu, Gai tidak pernah menyerah. Ia ingin membuktikan bahwa seseorang bisa menjadi ninja meskipun tidak bisa menguasai ninjutsu dan genjutsu.

Berkat dorongan ayahnya yang juga kerap dicap sebagai ninja gagal, ia terus berusaha dan berlatih mati-matian demi menguasai taijutsu.

Waktu itu, ayah Kakashi yang bernama Hatake Sakumo berkata jangan pernah meremehkan Gai. Dengan ketekunan yang dimiliki, ia bisa saja menjadi ninja terhebat mengalahkan Kakashi.

Hhal tersebut terbukti dalam pertarungannya melawan Madara Uchiha. Bahkan, Madara yang kerap dijuluki dewa shinobi mengakui kehebatan Gai dengan melabelinya sebagai ninja pengguna taijutsu terkuat.

Penulis selalu merinding ketika menonton ulang pertarungan Gai melawan Madara tersebut. Walaupun lawannya setengah dewa, Gai berhasil membuat Madara kewalahan dan hampir saja memenangkan pertarungan.

Menurut Penulis, Gai Maito adalah contoh sempurna bagaimana kerja keras seseorang bisa membuat kita sukses meskipun minim privilege.

Penutup

Memang, Naruto pun juga memiliki jalan yang panjang dan latihan yang keras. Namun jika dibandingkan dengan Gai, Penulis jelas memilih perjuangan Gai yang benar-benar from zero to hero.

Karakter lain yang juga seperti Gai adalah muridnya sendiri, Rock Lee. Lee juga tidak bisa menguasai ninjutsu maupun genjutsu, hanya bisa berlatih mati-matian untuk menguasai taijutsu.

Dalam kehidupan nyata, sukses tanpa privilege memang susah, lebih susah dari orang yang sejak lahir telah memiliki privilege.

Hanya saja, jangan sampai hal tersebut menjadi alasan agar kita tidak berusaha mati-matian. Apapun hasilnya nanti, yang penting kita sudah berusaha keras untuk mencapainya.

Kita tidak bisa mengendalikan orang lain yang memiliki privilege, tapi kita bisa mengendalikan diri untuk bekerja keras seperti Maito Gai untuk meraih kesuksesan.

Lalu mana yang akan kita pilih, menyerah dengan keadaan atau berusaha sekeras mungkin?

 

NB: Mungkin karena kuatnya Gai inilah ia diceritakan sedang keluar desa ketika Pain menyerang desa Konoha

 

 

 

Lawang, 14 Desember 2020, terinspirasi setelah menonton banyak video pertarungan Gai melawan Madara di YouTube

Foto: Twitter

Continue Reading

Anime & Komik

Antara Eren, Thanos, dan Hitler

Published

on

By

Jika ditanya, siapakah karakter favorit Penulis di anime Attack on Titan? Jawabannya adalah tidak ada. Mungkin karena Penulis termasuk fans karbitan yang mulai mengikuti AoT ketika mau tamat.

Mikasa? Tidak, meskipun banyak yang menjadikannya sebagai waifu, menurut Penulis Mikasa terlalu bucin walau itu ada kaitan dengan klan Ackerman yang disandangnya.

Levi? Tidak juga, walau karakternya yang badass telah menjadi favorit banyak orang. Kekuatannya kerap dianggap overpowered karena mampu menghabisi banyak titan sendirian.

Armin? Tidak juga, walau Penulis kagum dengan kecerdasan yang dimiliki. Jika benar-benar harus memilih, mungkin Penulis justru akan memilih Sasha Braus yang polos dan menggemaskan.

Walaupun begitu, pada tulisan ini Penulis ingin menyoroti sang karakter utama, Eren Yeager, dan korelasinya dengan Thanos dan Hitler.

Genosida Demi Tujuan Baik

Zeke Yeager (Animehunch)

Pada awalnya Eren bekerja sama dengan kakak tirinya, Zeke Yeager, yang berencana untuk memandulkan semua keturunan Ymir Fritz. Rencana ini sering disebut sebagai euthanasia plan.

Sayangnya, Eren berkhianat karena ia punya rencana sendiri: memusnahkan semua umat manusia yang ada di luar Pulau Paradis.

Caranya adalah dengan mengaktifkan kekuatan Founding Titan untuk membangkitkan para Titan raksasa yang selama ini tersembunyi di dinding Pulau Paradis.

Para titan raksasa ini akan berjalan untuk menginjak-injak semua manusia yang ada di luar pulau (disebut sebagai rumbling).

Keputusan ini ia ambil demi kebebasan yang selama ini ia idamkan. Genosida umat manusia yang ada di luar Pulau Paradis ia anggap sebagai satu-satunya cara untuk meraih impian tersebut.

Thanos (Syfy)

Berbicara tentang genosida, tentu kita tidak akan bisa melupakan musuh utama di Marvel Cinematic Universe, Thanos. Ia berambisi untuk mengumpulkan keenam Infinity Stones untuk melenyapkan separuh makhluk hidup di alam semesta.

Tujuannya? Apakah demi kekuasaan? Tidak, ia ingin agar semesta selamat karena jumlah makhluk yang ada telah melebih kapasitas ketika sumber daya yang tersedia begitu terbatas.

Genosida yang dilakukan Thanos dilakukan secara acak tanpa memandang latar belakang korban. Harapannya, separuh makhluk hidup yang selamat akan menjalani hidup yang lebih baik lagi.

Adolf Hitler (Military.com)

Siapa lagi tokoh yang identik dengan genosida? Tentu saja diktaktor Jerman di era Perang Dunia II, Adolf Hitler. Selain melakukan invasi ke berbagai penjuru Eropa, ia juga melakukan pembunuhan massal ke orang-orang yahudi yang dikenal dengan sebutan holocaust.

Kali ini, Penulis tidak menemukan alasan “baik” dari genosida yang dilakukan oleh Hitler selain karena merasa ras Yahudi adalah ras rendahan dan tidak berguna. Selain itu, mereka juga dianggap sebagai biang keladi dari krisis yang dialami oleh Jerman setelah Perang Dunia I.

Mungkin sama seperti Eren, Hitler melakukan itu demi kebaikan bangsa asli Jerman untuk mendapatkan hidup yang lebih baik lagi.

Satu-Satunya Solusi?

Jika bicara tentang kemanusiaan dan hak asasi paling dasar, jelas genosida adalah tindakan biadab yang tidak akan diterima oleh siapapun yang masih memiliki hati nurani.

Menghilangkan satu nyawa saja dosanya sudah tidak terbayangkan, bagaimana dengan genosida yang begitu kejam? Bagaimana dengan pihak keluarga yang ditinggalkan, pasti akan meninggalkan bekas luka yang akan sulit hilang.

Walaupun begitu, hal ini tidak dirasakan oleh Eren, Thanos, dan Hitler. Genosida dianggap menjadi satu-satunya solusi untuk masalah yang mereka hadapi.

Jika mengesampingkan masalah kemanusiaan, sebenarnya apa yang ditawarkan Thanos masuk akal. Manusia dan makhluk hidup lainnya terus berkembang biak tanpa batas ketika sumber daya serba terbatas.

Ambil contoh Indonesia. Jumlah penduduknya sekitar 250 juta. Bayangkan jika separuhnya hilang, sumber daya yang digunakan dan beban negara berkurang setengahnya.

Bisa jadi tidak akan ada lagi orang yang kelaparan dan tidak punya tempat tinggal. Semua bisa hidup sejahtera selama tidak ada orang yang serakah.

Bagaimana jika genosida diberlakukan untuk orang-orang brengsek yang menyusahkan banyak orang? Koruptor misalnya, siapapun yang mencuri rakyat masuk ke dalam daftar orang yang akan dihabisi.

Imajinasi yang liar ini nampaknya disudahi sampai sini saja…

Penutup

Mau apapun alasannya, menurut Penulis, genosida yang dilakukan oleh Eren, Thanos, dan Hitler tidak bisa dibenarkan. Nyawa manusia bukan sesuatu yang bisa dilenyapkan begitu saja.

Untunglah genosida yang dilakukan oleh Eren dan Thanos hanya terjadi di dunia anime dan film, sedangkan kekejian Hitler telah terjadi di masa lampau.

Semoga saja di masa depan tidak ada tokoh yang ingin melakukan genosida demi “kebaikan bersama”.

 

 

Lawang, 30 Desember 2020, terinspirasi setelah mengetahui rencana Eren untuk melakukan rumbling

Foto: Amino Apps

Sumber Artikel: Voi

Continue Reading

Anime & Komik

Filsafat Ala Attack on Titan

Published

on

By

Awalnya, Penulis sama sekali tidak tertarik untuk mengikuti serial anime Attack on Titan (AoT) atau Shingeki no Kyojin. Alasan pertama, animenya tergolong serius. Alasan kedua, banyak adegan sadis yang tidak Penulis sukai.

Akan tetapi karena terus-menerus muncul di linimasa media sosial Penulis, timbullah rasa penasaran. Apalagi, hype dari season ke-4 dari anime ini juga tinggi sekali.

Akhirnya, Penulis memutuskan untuk menjadi fans karbitan. Untuk mengejar ketertinggalan, Penulis memutuskan untuk mengambil jalan pintas: menonton video rekapnya di YouTube.

(Cara seperti ini juga Penulis lakukan ketika season terakhir dari serial Game of Throne akan rilis pada tahun 2019 kemarin, walaupun Penulis memang membaca novelnya sampai buku ketiga)

Melalui video rekap yang ada di YouTube tersebut, Penulis jadi mengerti mengapa banyak sekali orang yang menjadi penggemar anime ini. Jalan cerita dan animasinya patut diacungi jempol.

Karena penasaran dengan lanjutan ceritanya, Penulis juga memutuskan untuk membaca manganya secara daring. Sekitar 5 jam Penulis butuhkan untuk membaca chapter yang akan menjadi awal season 4 hingga chapter terakhir yang telah dirilis.

Sebagai fans karbitan, Penulis menemukan beberapa hal yang menarik dari anime ini. SPOILER ALERT!!!

Hitam Putih Baik Buruk

Eren, Baik atau Buruk? (Superhero Hype)

Satu poin yang menjadi kekuatan utama dari AoT adalah susahnya untuk mengetahui mana yang merupakan pihak baik mana yang merupakan pihak buruk.

Hal ini tidak akan kita temukan dari anime shonen lain seperti Naruto, Dragon Ball, One Piece, My Hero Academia, dan lain sebagainya.

Karakter utamanya dipastikan selalu menjadi pihak yang akan membela kebenaran. Naruto, Goku, Luffy, Midoriya, semuanya berjuang untuk memberantas kejahatan di muka bumi.

Sedangkan di anime AoT, ada begitu banyak plot twist yang akan membuat kita kebingungan. Bahkan karakter utama di anime ini, Eren Yeager, telah berubah menjadi tokoh antagonis utama yang ingin menghabisi semua umat manusia yang ada di luar pulau Paradis.

Penulis membayangkan banyak penggemar AoT yang terkejut ketika mengetahui hal ini.  Karakter yang selama ini begitu diidolakan karena ingin balas dendam ke titan yang memakan ibunya menjadi seperti itu.

Tidak hanya sampai di situ, plot twist yang ada juga bisa dibolak-balik berkali-kali. Awalnya kelihatan baik, ternyata jahat, eh ternyata baik, eh ternyata beneran jahat. Pola seperti itu akan sering kita temui.

Contohnya ada pada karakter ayah Eren, Grisha Yeager. Coba para pembaca yang menonton AoT, apakah Grisha merupakan karakter yang baik atau jahat? Kakak tiri Eren, Zeke, apakah dia karakter yang baik atau jahat? Silakan putuskan sendiri jawabannya.

Pengkhianatan? Jangan ditanya, ada banyak! Yang A mengkhianati B demi C, eh ternyata C mengkhianati A demi tujuannya sendiri. Banyak top anime betrayal pada AoT.

Bahkan karakter Eren sendiri pun belum bisa ditentukan apakah ia baik atau jahat. Toh, Eren punya alasan kuat demi mengejar tujuan terbesarnya: Kebebasan.

Filsafat Determinisme dan Free of Will

Mengejar Kebebasan (Den of Geek)

Ada yang pernah mendengar tentang filosofi determinisme? Berdasarkan video dari Satu Persen di YouTube, filosofi determinisme adalah:

Semua peristiwa terjadi karena ada sebab atau bersifat kasualitas.

Berubahnya Eren dari karakter protagonis menjadi antagonis tentu tidak terjadi begitu saja. Perubahan terjadi karena ia begitu terobsesi dengan yang namanya kebebasan.

Hal ini dapat dimaklumi karena sejak kecil ia harus tinggal di balik tembok yang tinggi demi melindungi manusia dari serangan titan. Ia mengharapkan kebebasan yang diharapkan ada di balik tembok.

Setelah berhasil keluar dari tembok, ia menyadari bahwa kebebasan yang dikejar ternyata tidak berhasil didapatkan. Malah, ia menemukan fakta yang akan membuat kehidupannya berubah 180 derajat.

Keputusannya untuk melenyapkan seluruh umat manusia yang ada di luar pulau Paradis dengan menggunakan ribuan titan juga dilakukan demi mengejar kebebasan yang ia dambakan.

Di sini kita pun jadi bertanya-tanya, apakah kita sebagai manusia benar-benar memiliki kebebasan (free of will)?

Rasanya tidak ada yang namana kebebasan yang benar-benar bebas. Ada banyak aturan yang mengelilingi kita, mulai agama hingga hukum negara. Moral juga turut membatasi gerak-gerik kita yang negatif.

Seandainya kita benar-benar memiliki kebebasan yang sebebas-bebasnya, dunia ini nampaknya akan menjadi kacau balau tak beraturan. Lha mong orang bebas mau melakukan apa aja.

Penulis kurang memahami kebebasan apa yang diharapkan Eren. Membuat penduduk pulau Paradis menjadi bebas karena orang-orang yang selama ini membuat mereka menderita lenyap? Apa yang menjamin konflik akan berakhir dengan keputusan tersebut?

Menarik untuk disimak bagaimana anime AoT akan berakhir nanti.

Penutup

Dua alasan di atas, kebaikan versus kejahatan yang tidak hitam putih dan adanya filsafat determinisme, menjadi beberapa alasan mengapa anime AoT sangat menarik untuk ditonton.

Masih banyak hal lain yang bisa kita temukan, mulai dari banyaknya karakter favorit yang mati, tidak ada fan service, sampai kekuatan karakternya yang overpowered.

Yang jelas, anime ini menyisipkan nilai-nilai kehidupan yang related dengan kehidupan kita yang sebenarnya. Tanpa titan tentunya, dan gear yang membuat kita terbang, dan tanpa tembok yang terbuat dari titan.

 

 

Lawang, 16 Desember 2020, terinspirasi setelah menonton video rekap Attack on Titan dan membaca manganya

Foto: CBR

Sumber Artikel:

Continue Reading

Sedang Trending

Copyright © 2021 Whathefan