Connect with us

Buku

Rahasia Apple Pada Inside Apple

Published

on

Sebenarnya memang agak berlebihan bila diberi judul rahasia, akan tetapi penulis tidak bisa menemukan padanan kata lain yang lebih menarik dari itu. Setidaknya, buku ini akan memberi banyak pengetahuan baru bagi orang-orang yang penasaran dengan Apple, termasuk penulis.

Sedikit Drama Tentang Buku Ini

Penulis selalu menyukai buku-buku yang berbau Steve Jobs dan Apple semenjak menamatkan buku biografi resminya yang ditulis oleh Walter Isaacson. Banyak hikmah dan pelajaran yang bisa penulis ambil dengan mendalami sejarah perusahaan teknologi tersebut beserta para pendirinya.

Dulu, sewaktu menemukan buku berjudul Inside Apple ini di toko buku Togamas, penulis sempat merasa ragu untuk membelinya karena beberapa alasan. Sewaktu hati sudah mantap untuk membelinya, eh stoknya sudah habis hingga terbitlah rasa sesal di dalam hati.

Untunglah, penulis bisa menemukan ini di Togamas Affandi, Yogyakarta, pada 16 Desember 2017, seusai menjalani tes IELTS. Bagi pecinta buku, pasti sudah paham bagaimana rasanya menemukan buku yang telah lama di cari-cari.

Togamas Affandi (yogyakarta.panduanwisata.id)

Buku ini terdiri dari 10 bab yang berbeda dengan topiknya masing-masing. Salah satu hal yang membuat penulis merasa yakin untuk membeli buku ini adalah karena adanya kisah Apple di bawah kepemimpinan Tim Cook.

Akan tetapi, sewaktu awal-awal membaca buku ini, entah mengapa terasa begitu membosankan, sehingga buku ini tersimpan rapi di rak buku penulis. Sekitar 9 bulan kemudian, barulah penulis memutuskan untuk membaca buku ini kembali.

Saat itulah penulis merasa aneh, bagaimana dulu bisa merasa bosan, sedangkan pemaparan isinya begitu menarik dan menjelaskan berbagai aspek dari Apple yang sebelumnya belum pernah penulis ketahui. Pada akhirnya, buku ini penulis tamatkan dengan cepat.

Apa Isi Buku Ini?

Seperti judulnya, buku ini menjelaskan tentang bagaimana perusahaan sebesar Apple bekerja menghasilkan produk-produk yang digemari oleh banyak orang. Adam Lashinsky selaku penulis bisa menceritakan banyak hal karena kedekatannya dengan staf-staf penting Apple.

Banyak orang yang mengira kematian Steve Jobs akan berdampak besar kepada perusahaan yang telah didirikannya bersama Steve Wozniak tersebut. Pada buku ini, dijelaskan bahwa hal tersebut ditangkis oleh Apple melalui para anggotanya.

Roh, ideologi, dan pemikiran Jobs telah merasuki para petinggi Apple yang sekarang memegang dampuk kekuasaan untuk memimpin perusahaan dengan logo apel tergigit tersebut. Kekhawatiran akan runtuhnya Apple tidak terbukti, setidaknya sampai sekarang.

Tim Cook (dancingastronaut.com)

Penulis sangat terbantu dengan banyak membaca buku tentang Apple sebelumnya, karena banyak sekali orang-orang penting yang disebut, seperti John Ive dan Scoot Forshall. Tentu penulis akan sedikit kesulitan memahami isi buku jika tidak memiliki pengetahuan tentang mereka.

Secara garis besar, buku ini menceritakan tentang perbedaan Apple dari perusahaan-perusahaan lainnya, seperti ketatnya mereka dalam menjaga rahasia produk yang belum diluncurkan dan bagaimana Apple memperlakukan karyawannya.

Buku ini juga menjelaskan tentang berbagai strategi yang dilakukan Apple, baik ketika dipimpin oleh Jobs maupun oleh Cook, dalam menghadapi dinamika bisnis yang penuh gejolak, termasuk menghadapi lawan-lawan (yang kerap merangkap menjadi mitra) bisnisnya.

Penutup

Buku ini penulis rekomendasikan bagi pembaca yang tertarik dengan sejarah perkembangan teknologi, khususnya Apple sebagai perusahaan. Budaya perusahaan diceritakan dengan baik oleh Lashinsky membuat kita bisa berimajinasi tengah berada di kantor Apple.

Kalau pembaca menginginkan buku yang menjelaskan tentang sosok Steve Jobs, maka buku ini kurang bisa memberikannya karena fokus dari buku ini adalah Apple-nya, bukan sang pendiri. Ada banyak buku yang bisa bercerita tentang itu.

Banyak bahasa teknis yang mungkin akan susah dipahami oleh orang awam, walaupun bahasa bercerita yang digunakan oleh Lashinsky tergolong mudah. Buku ini sangat cocok untuk dijadikan motivasi bagi para wirausahawan yang sedang berusaha mendirikan perusahaannya.

Nilainya: 4.0/5.0

 

 

Kebayoran Lama, 21 November 2018, terinspirasi setelah menamatkan buku Inside Apple karya Adam Lashinsky

Fiksi

[REVIEW] Setelah Membaca Teka-Teki Rumah Aneh

Published

on

By

Sebenarnya sudah sejak lama novel Teka-Teki Rumah Aneh karya Uketsu mencuri perhatian Penulis. Namun, entah mengapa Penulis belum merasa terdorong untuk membelinya, meskipun sebenarnya suka dengan novel “teka-teki”.

Nah, membaca novel-novel detektif Keigo Higashino yang akhirnya membuat Penulis memutuskan untuk membeli dan membaca novel ini. Toh, novel ini tidak terlalu tebal, sehingga bisa cepat ditandaskan.

Benar saja, tak butuh lama Penulis menghabiskan novel ini karena misterinya yang membuat penasaran. Dengan durasi sekitar 3-4 jam, Penulis bisa langsung menyelesaikan novel ini. Lantas, apakah novel ini sebagus kata orang?

SPOILER ALERT!!!

Detail Buku Teka-Teki Rumah Aneh

  • Judul: Teka-Teki Rumah Aneh
  • Penulis: Uketsu
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan: Ke-14
  • Tanggal Terbit: Mei 2025
  • Tebal: 224 halaman
  • ISBN: 9786020669960
  • Harga: Rp79.000

Apa Isi Buku Teka-Teki Rumah Aneh?

Novel ini berkisah dari sudut pandang orang pertama seorang penulis (namanya tidak pernah disebutkan) spesialis occult alias hal-hal gaib. Nah, suatu ketika, ia dimintai tolong kenalannya untuk memeriksa suatu denah rumah yang menurutnya aneh.

Dari sini, kita bisa melihat kalau konsep “rumah aneh” langsung disajikan di awal cerita, bahkan di halaman pertama. Denah rumah yang awalnya tampak normal-normal saja langsung diperlihatkan begitu mulai membaca.

Sang penulis tersebut tentu merasa kebingungan dengan denah rumah tersebut, sehingga ia minta bantuan kenalannya yang bernama Kurihara-san, seorang arsitek, yang akhirnya menunjukkan apa keanehan pada denah rumah tersebut.

Nantinya, kita akan sering melihat percakapan antara keduanya di novel ini. Bukan dalam bentuk paragraf, melainkan menggunakan format nama karakter, titik dua (:), baru kalimatnya. Semua percakapan menggunakan format tersebut, sehingga membuat pace novel ini terasa cepat.

Di novel ini, denah rumah kerap diperlihatkan berkali-kali, terkadang hanya sebagian saja. Dengan demikian, kita tidak perlu capek-capek membolak-balikkan halaman, walau kekurangannya membuat novel ini cepat habis.

Berangkat dari keanehan tersebut, tokoh penulis pun membuat artikel tentang rumah tersebut dengan harapan akan ada orang yang memiliki informasi lebih. Tak lama kemudian, ia pun menerima email dari seseorang yang akan membawa mereka ke sebuah misteri yang kelam.

Penulis tidak akan bercerita terlalu dalam mengenai isi buku ini, mengingat apa yang membuat novel misteri menarik adalah misterinya. Namun, Penulis bisa mengatakan kalau denah rumah yang aneh di sini tidak hanya satu.

Selain itu, nanti akan terungkap kalau ada alasan khusus kenapa rumah-rumah tersebut memiliki denah yang aneh. Bisa dibilang, konklusi cerita yang dibagi menjadi empat bab ini tidak tertebak, kalau bukan jadi terlalu jauh.

Di bab selanjutnya, akan ada lebih banyak spoiler yang akan mengurangi keseruan jika Pembaca berniat membaca buku ini. Jadi, spoiler alert!

Setelah Membaca Teka-Teki Rumah Aneh

Penulis pada dasarnya memang menyukai novel detektif dan misteri. Jauh sebelum kenalan dengan novel-novel Keigo, Penulis sudah membaca semua novel Agatha Christie dan Sherlock Holmes.

Oleh karena itu, standar Penulis jadi agak tinggi. Penulis menganggap Teka-Teki Rumah Aneh adalah cerita misteri yang menarik, tapi tidak sampai membuat Penulis menganggap sebagai salah satu yang terbaik yang pernah Penulis baca.

Yang Plus dari Teka-Teki Rumah Aneh

Seperti yang sudah Penulis singgung, kita langsung disuguhi denah rumah yang awalnya terlihat normal, tapi ternyata memiliki keanehan. Apalagi, “rumah anehnya” bukan hanya itu, sehingga kita jadi menyadari kalau ini adalah sebuah pola tertentu, bukan sekadar kesalahan arsitektur saja.

Itulah hal yang berhasil membuat penasaran bagi tokoh penulis dan Kurihara-san. Berawal dari pertanyaan, mereka justru jadi melakukan penyelidikan untuk mengulik apa maksud dari denah rumah aneh tersebut.

Buat Penulis, salah satu kekuatan utama novel ini adalah bagaimana kita mampu dibuat merasa penasaran seperti tokoh di dalamnya. Terlalu banyak pertanyaan yang muncul ketika melihat fakta yang ada, sehingga kita terus ingin tahu seperti apa jawabannya.

Itu juga menjadi salah satu alasan lain mengapa pace cerita ini cepat dan tidak terlalu bertele-tele. Tidak ada polisi yang melakukan wawancara seperti di novel-novel Keigo. Apalagi, kita tidak perlu susah-susah membayangkan denahnya karena gambarnya selalu tersedia.

Selain itu, entah bagaimana novel ini juga bisa terasa lumayan “horor” hingga Penulis merasa merinding ketika membacanya. Padahal, sama sekali tidak ada adegan hantu atau gangguan makhluk halus.

Yang Kurang dari Teka-Teki Rumah Aneh

Sayangnya, Penulis kurang menyukai konklusi dari cerita ini yang memiliki hubungan dengan okultisme. Keluarga pembunuh yang terjebak “ritual” memakan korban tersebut terasa agak bodoh karena mau termakan kata “orang pintar”.

Apalagi, semua itu berawal dari hubungan inses yang dialami oleh keluarga tersebut, yang menjadi awal dari semua tragedi yang terjadi selanjutnya. Jumlah korban berjatuhan hanya karena kepercayaan yang sesat.

Mungkin ada pembaca novel ini yang menyukai konklusi seperti itu. Namun, Penulis sendiri tidak menyukai unsur-unsur seperti itu, karena misteri bisa terjadi karena ketidaktahuan orang, bukan karena disusun secara cerdik.

Oh iya, di bagian akhir setelah cerita terkesan berakhir, ternyata Uketsu justru memilih memberikan open ending kepada Pembaca terhadap salah satu karakter kunci di cerita ini. Padahal, Penulis berharap kalau misterinya harus tuntas tanpa menimbulkan pertanyaan baru.

Walau begitu, novel ini tetap menjadi bacaan misteri yang menegangkan dan akan membuat kita kesulitan untuk berhenti membaca karena penasaran. Setelah membaca Teka-Teki Rumah Aneh, rasanya kita akan jadi memperhatikan setiap detail denah rumah yang kita lihat!

SKOR: 7/10

Saat menulis artikel ini, Penulis sempat ke Gramedia dan melihat ada “sekuel” novel ini dengan judul Teka-Teki Gambar Aneh. Menarik untuk ditunggu apakah novel ini juga mampu membuat Penulis merasa merinding dan tak bisa berhenti membaca.


Lawang, 24 Februari 2026, terinspirasi setelah membaca buku Teka-Teki Rumah Aneh karya Uketsu

Continue Reading

Non-Fiksi

[REVIEW] Setelah Membaca Effortless

Published

on

By

Belakangan ini, Penulis bisa dibilang jarang membaca buku bergenre self-improvement. Bukan karena merasa self-nya sudah improve, tapi karena lebih sering mengeksplorasi genre lain saja yang selama ini jarang disentuh, seperti filsafat dan politik.

Selain itu, mungkin Penulis juga merasa kalau buku self-improvement seolah gitu-gitu aja. Tidak banyak hal baru yang berhasil menarik perhatian Penulis, seolah dengan membaca judulnya saja, Penulis sudah bisa membayangkan isinya.

Nah, beda cerita ketika Penulis menemukan buku berjudul Effortless dari Greg McKeown ini. Ketika membaca sinopsis yang cukup panjang di bagian belakang buku, Penulis merasa ini adalah buku yang dibutuhkan saat ini. Untunglah, hal tersebut benar adanya.

Detail Buku Effortless

  • Judul: Effortless: Karena Tak Semua Harus Sesulit Itu
  • Penulis: Greg McKeown
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan: Ke-6
  • Tanggal Terbit: Juli 2025
  • Tebal: 320 halaman
  • ISBN: 9786020658780
  • Harga: Rp98.000

Sinopsis Buku Effortless

Apakah Anda pernah merasa seperti:

  • Berada tepat di tepi jurang lelah fisik dan mental?
  • Ingin berkontribusi lebih besar, tetapi kehabisan energi?
  • Sudah berlari lebih kencang tetapi tidak maju lebih dekat ke sasaran?
  • Segalanya terasa jauh lebih sulit daripada biasanya?

Kita telah dikondisikan untuk percaya bahwa jalan menuju sukses adalah jalan dengan kerja yang terus-menerus. Bahwa kalau ingin pencapaian tinggi, kita harus memaksa diri, terus memutar otak, dan berusaha sampai lewat batas. Jadi, kalau kita belum terkapar kelelahan, artinya usaha kita belum memadai.

Namun belakangan ini, kerja keras lebih menguras tenaga daripada sebelumnya. Dan makin berkurang energi kita, makin sulit kita meraih kemajuan. Terjebak di sebuah lingkaran setan “Zoom, eat, sleep, repeat,” kita sering bekerja dua kali lebih keras tetapi meraih hasil paling banyak setengah dari biasanya.

Untuk berada paling depan kita tidak harus mengerjakan sesuatu yang sulit. Apa pun tantangan atau rintangan yang kita hadapi, ada sebuah jalan yang lebih baik: alih-alih memaksa diri lebih keras, kita dapat menemukan jalan yang lebih mudah.

Effortless menawarkan saran yang dapat diterapkan untuk mengerjakan kegiatan-kegiatan esensial dengan cara-cara paling mudah, agar anda bisa meraih hasil-hasil yang diinginkan, tanpa mengalami lelah fisik dan mental.

Isi Buku Effortless

Dari sinopsis yang cukup detail di atas (bahkan aslinya lebih panjang dari itu), kita sudah mendapatkan gambaran apa yang akan dibahas oleh buku ini. Singkatnya, buku ini mengajarkan beberapa cara untuk melakukan sesuatu dengan lebih efektif.

Sebenarnya buku ini seperti sekuel untuk buku McKeown yang lain, Essential, yang sayangnya belum Penulis baca. Apalagi, di buku ini beberapa kali menyinggung buku tersebut. Walau begitu, kita tidak perlu membaca buku tersebut untuk bisa memahami buku ini.

Secara garis besar, buku ini dibagi menjadi tiga bagian, di mana masing-masing akan di-breakdown menjadi lima subbab. Berikut adalah daftarnya:

Bagian I: Keadaan Tanpa Kesulitan (Bagaimana kita dapat membuat berfokus lebih mudah?)

  1. Dibalik: Bagaimana kalau Ini Dapat Dibuat Mudah?
  2. Dinikmati: Bagaimana kalau Ini Dapat Dibuat Menyenangkan?
  3. Dibebaskan: Dahsyatnmya Kesediaan Membebaskan
  4. Diistirahatkan: Seni dalam Tidak Berbuat Apa pun
  5. Diperhatikan: Bagaimana Melihat dengan Jelas

Apa yang dimaksud Keadaan Tanpa Kesulitan adalah mengenai kondisi diri kita sendiri sebelum melakukan sesuatu. Ini adalah awal yang baik agar kita bisa lebih fokus dalam mengerjakan berbagai hal.

Bagian II: Aksi Tanpa Kesulitan (Bagaimana kita dapat membuat pekerjaan esensial lebih mudah?)

  1. Didefinisikan: Seperti Apa yang Disebut “Selesai”?
  2. Dimulai: Aksi Nyata Pertama
  3. Disederhanakan: Dimulai dari Nol
  4. Kemajuan: Berani Tampil Buruk Rupa
  5. Irama: Lambat Itu Mulus, Mulus Itu Cepat

Setelah keadaan kita berada di kondisi yang lebih baik, maka selanjutnya adalah memahami Aksi Tanpa Kesulitan. Bagian II bisa dibilang adalah inti dari buku ini, di mana kita diberi beberapa langkah praktis agar sesuatu bisa selesai secara efektif.

Bagian 3: Hasil Tanpa Kesulitan (Bagaimnana kita mendapat hasil tertinggi dengan usaha paling sedikit?)

  1. Dipelajari: Memanfaatkan Hal Terbaik yang Sudah Diketahui Orang Lain
  2. Ditingkatkan: Memanfaatkan Kekuatan Sepuluh Orang
  3. Diotomatiskan: Mengerjakan Satu Kali Saja dan Selanjutnya Otomatis
  4. Dipercaya: Tim dengan Mesin Berefek Tuas Tinggi
  5. Dicegah: Memecahkan Masalah sebelum Muncul

Setelah memperbaiki diri sendiri dan mengoptimalkan tindakan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan, selanjutnya adalah Hasil Tanpa Kesulitan. Bab ini menjelaskan cara untuk meningkatkan hasil yang diinginkan dengan upaya seminim mungkin.

Setelah Membaca Effortless

Buku bergenre self-improvement akan Penulis anggap bagus apabila ada banyak hal praktis yang bisa dilakukan saat ini juga. Itulah mengapa Penulis memberi nilai yang cukup tinggi ke buku Atomic Habits. Nah, Effortless ini juga mendapatkan apresiasi yang sama.

Di bagian pertama, kita akan diajak untuk mengelola kembali isi pikiran dan menyingkirkan hal-hal yang tidak esensial, mengelola emosi, dan lain sebagainya. Bisa dibilang, bagian ini lebih terasa sebagai buku self-love. Semua berawal dari diri kita sendiri.

Hal paling praktis bisa ditemukan di bagian kedua, di mana ada banyak sekali hal-hal kecil yang bisa dilakukan untuk bisa membuat suatu aktivitas atau pekerjan terasa lebih mudah. Mungkin tidak banyak hal baru, tapi tetap saja tips yang diberikan sangat mudah dipraktekkan.

Selanjutnya di bab terakhir akan membahas mengenai beberapa tips untuk meningkatkan hasil setelah melakukan apa yang sudah dijelaskan di dua bab sebelumnya. Beberapa di antaranya adalah membuat sistem, otomatisasi, hingga delegasi.

Jika dirangkum, buku ini memang konsisten dengan judulnya, di mana setiap aktivitas yang kita lakukan (terutama yang esensial) bisa dikerjakan dengan effortless. Bukan cuma kerja keras, tapi juga kerja cerdas.

Selain itu, gaya bahasa yang digunakan juga ringan dan tidak menggurui, sehingga kita yang membacanya pun jadi merasa effortless untuk memahami isi buku. Kita tidak perlu memeras otak untuk bisa memahami langkah-langkah yang ditawarkan oleh buku ini. Apalagi, ada banyak study case yang membuat kita lebih memahami isi buku.

Apa yang paling Penulis suka dari buku ini adalah adanya ringkasan di setiap akhir subbab, di mana makin ke belakang ringkasan ini makin lengkap. Ini sangat membantu kita untuk tetap mengingat apa saja yang sudah kita pelajari dari buku ini.

Sentuhan kecil yang juga menarik dari buku ini adalah beberapa quote paling penting akan di-highlight dengan dibesarkan dan ditebalkan. Selain itu, ada juga beberapa ilustrasi yang membantu kita lebih memahami apa yang ingin disampaikan oleh penulisnya.

Buku ini Penulis rekomendasikan bagi siapapun yang kerap merasa burnout dengan pekerjaannya, sering merasa lelah secara mental, merasa pola hidupnya berantakan, dan berbagai permasalahan internal lainnya. Tentu, mempraktekkan isi bukunya menjadi hal paling penting.

Skor: 9/10


Lawang, 3 Desember 2025, terinspirasi setelah membaca Effortless karya Greg McKeown

Continue Reading

Fiksi

[REVIEW] Setelah Membaca Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop

Published

on

By

Entah mengapa belakangan ini, Penulis merasa kalau novel dengan latar belakang “toko buku” (atau kadang hanya “buku” saja) sedang banyak dijual. Banyak sekali di rak buku judul-judul yang mengandung frase ini, sehingga tentu menimbulkan rasa penasaran.

Oleh karena itu, Penulis pun memutuskan untuk membeli salah satu, di mana pilihan jatuh kepada Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop karya Hwang Bo-reum. Yups, lagi-lagi penulis Asia, bedanya kali ini dari Korea Selatan.

Ketika dan setelah membaca novel ini, Penulis berpikir, “oh, ternyata jadinya begini jika genre slice of life menjadi sebuah cerita.” Jadi, jangan harap akan menemukan konflik yang menegangkan atau plot twist yang mengejutkan di sini!

[SPOILER ALERT!!!]

Detail Buku Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop

  • Judul: Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop (Selamat Datang di Toko Buku Hyunam-dong)
  • Penulis: Hwang Bo-reum
  • Penerbit: Gramedia Widiasarana Indonesia
  • Cetakan: Ke-5
  • Tanggal Terbit: Januari 2025
  • Tebal: 408 halaman
  • ISBN: 9786020530444
  • Harga: Rp119.000

Sinopsis Buku Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop

“Kisah orang-orang yang berjuang untuk menjalin hubungan baru dan menyembuhkan diri melalui buku dan toko buku terungkap secara mendalam.”

Toko buku di lingkungan biasa, yang berdiri di antara rumah-rumah di mana tidak banyak orang datang dan pergi. Inilah toko buku di Hyunam-dong! Selama beberapa bulan pertama, pemilik toko buku, Young-joo, yang wajahnya tidak menunjukkan antusiasme, seperti seseorang yang selalu larut dalam kesedihan, duduk diam dan membaca buku seolah-olah dia adalah seorang pelanggan. Dia menghabiskan setiap hari di toko buku dengan perasaan seperti mendapatkan kembali hal-hal yang hilang satu per satu. Perasaan lelah dan hampa dalam batin perlahan menghilang. Sejak saat itu, toko buku di Hyunam-dong menjadi tempat yang benar-benar baru. Ruang tempat orang berkumpul, berbagai emosi berkumpul, dan cerita tiap individu.

Isi Buku Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop

Sesuai dengan sinopsis di bagian belakang bukunya, Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop berpusat pada toko buku kecil yang berada di daerah Hyunam-Dong. Pemiliknya adalah Yeong-ju, seorang perempuan yang berusia 30 tahunan.

Ia tak sendirian di toko buku tersebut. Ada Min-joon, yang bekerja sebagai barista di sana. Lalu, ada Jimmy (ini karakter cewek!) yang menjadi supplier biji kopi untuk toko buku tersebut, yang juga menjadi teman dekat Yeong-ju.

Tentu ada banyak pengunjung setia toko buku kecil yang nyaman tersebut, seperti anak SMA yang benama Min-Cheol beserta ibunya (yang namanya baru terkuak jelang akhir buku), Jung-seo yang hobi merajut, Seong-cheol, dan lain sebagainya.

Meskipun berkesan “santai”, tentu masing-masing karakter memiliki masalahnya sendiri. Yeong-ju misalnya, mengalami burnout karena pekerjaan lamanya dan kegagalam rumah tangganya. Toko buku yang ia dirikan seolah menjadi sarana pelariannya.

Tema pernikahan yang tidak bahagia juga dialami oleh Jimmy, sedangkan sang barista berada di krisis eksistensial karena merasa dirinya gagal. Toko buku kecil tersebut seolah menjadi semacam “oasis” bagi mereka dan pengunjung.

Untuk menghidupkan suasana toko buku, Yeong-ju membuat semacam berbagai acara di sana, termasuk bedah buku dan diskusi antara sesama pembaca buku. Ia bahkan mengundang penulis seperti Seung-woo yang sepertinya memiliki ketertarikan dengannya.

Itu semua dibalut dengan aktivitas ringan yang terjadi di sekeliling kita, bagaimana obrolan-obrolan ringan keluar ketika bertemu kenalan di suatu tempat, bagaimana kita curhat ke teman yang kita percaya, bagaimana proses penerimaan diri, dan lain sebagainya.

Setelah Membaca Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop

Seperti yang sudah Penulis singgung di awal tulisan, genre novel ini adalah slice-of-life. Mungkin baru kali ini Penulis membaca buku dengan genre seperti ini. Apakah Penulis menyukainya? Jawabannya iya dan tidak secara bersamaan.

Sebagai novel santai yang tidak terus-menerus menimbulkan rasa penasaran, Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop adalah teman yang menarik terutama ketika kepala kita sedang penuh dengan berbagai permasalahan.

Apalagi, gaya bahasanya juga terasa lembut dan cozy, sehingga terkadang membuat Penulis merasa kalau novel ini seperti lullaby pengantar tidur. Ini bisa menjadi kelebihan sekaligus kekurangan, karena di satu sisi akan menimbulkan kesan membosankan.

Itulah yang Penulis rasakan selama membaca buku ini. Awal-awal membaca, Penulis merasa bersemangat untuk membaca tiap babnya secara perlahan dan menikmati aktivitas-aktivitas sederhana yang disajikan.

Namun, setelah lewat setengah buku, rasa bosan itu muncul sehingga proses menamatkan novel ini pun menjadi lebih lama. Apalagi, ceritanya lumayan dragging. Penulis bahkan sudah tidak seberapa ingat ada kisah apa saja yang sudah Penulis baca di novel ini.

Cerita antarbabnya tidak nyambung, terutama di bagian awal-awal, seolah ceritanya berdiri sendiri-sendiri. Namun, makin ke belakang, buku ini semakin terasa linier dan utuh sebagai novel, bukan kumpulan cerita pendek.

Oleh karena itu, bisa dibilang novel ini tidak memiliki konflik utama. Konfliknya ya ada di masing-masing karakter, di mana sepanjang novel mereka mulai mengalami perkembangan seiring berjalannya waktu menjadi lebih baik dalam menghadapi masalahnya.

Bisa dibilang, konflik yang ada di novel ini lebih banyak ke pergulatan batin dibandingkan dengan konflik eksternal. Tidak ada cerita Yeong-ju pusing karena penjualan toko seret, yang ada bagaimana ia berusaha untuk berdamai dengan keadaan dan terutama dirinya sendiri.

Buat yang sedang mengalami masalah internal, bisa jadi ada bagian-bagian di buku ini yang akan memberikan jawabannya. Mungkin bukan jawaban gamblang, tapi bisa menjadi inspirasi apa yang harus dilakukan pada situasi tertentu.

Bagian yang paling menarik bagi Penulis tentu saja mengetahui bagaimana Yeong-ju mengelola toko bukunya. Setiap aktivitas yang dia lakukan, baik sekadar merapikan rak buku ataupun membuat komunitas, berhasil Penulis bayangkan dengan baik

Mungkin novel ini bisa memberikan rasanya nyaman untuk pembacanya yang merasa related dengan konflik di dalamnya. Sayangnya, Penulis tidak merasakan rasa nyaman itu, setidaknya setelah membaca cukup banyak halamannya.

Walau begitu, novel ini tetap Penulis rekomendasikan untuk Pembaca yang sedang mencari bacaan ringan. Walau latarnya di Korea Selatan, buku ini cukup terasa dekat, walau tidak sampai membuat kita merasa memiliki koneksi khusus dengan karakter-karakter di dalamnya.

Skor: 6/10


Lawang, 2 Desember 2025, terinspirasi setelah membaca Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop karya Hwang Bo-reum

Continue Reading

Facebook

Tag

Fanandi's Choice

Blog ini milik Fanandi Prima Ratriansyah sejak 2018