Connect with us

Film & Serial

[REVIEW] Setelah Menonton Guardians of the Galaxy Vol. 3

Published

on

Marvel Cinematic Universe (MCU) Phase 5 dibuka dengan kurang memuaskan karena film Ant-Man and the Wasp: Quantumania yang menurut Penulis banyak memiliki kekurangan. Oleh karena itu, Penulis pun menurunkan ekspektasinya untuk film-film Marvel selanjutnya.

Nah, film Marvel selanjutnya yang tayang adalah Guardians of the Galaxy Vol. 3. Kembali disutradarai oleh James Gunn sebelum ia pindah ke DC, film ini akan menjadi penutup trilogi dari para Guardians, setidaknya untuk komposisi tim yang telah kita kenal selama ini.

Ekspektasi Penulis yang semula sudah diturunkan, menjadi sedikit naik lagi berkat rating kritikus di situs Rotten Tomatoes yang berada di angka 81%. Setidaknya, film ini memiliki rating yang jauh lebih baik dari beberapa film terakhir.

Seperti biasa untuk menghindari tukang spoiler, Penulis pun menonton di hari perdana penayangannya pada Rabu (3/5/23) kemarin. Hasilnya, Penulis merasa film ini adalah yang terbaik di antara semua film Marvel yang telah rilis di Multiverse Saga.

Jalan Cerita Guardians of the Galaxy Vol. 3

Pada adegan pembuka film, kita bisa melihat sekilas mengenai masa lalu Rocket Raccoon (Bradley Cooper) di kandang bersama sekumpulan rakun lainnya. Penulis akan ceritakan kisah Rocket secara lengkap setelah menceritakan timeline utamanya

Lantas, seperti yang sudah terlihat di Guardians of the Galaxy Vol. 3 Holiday Special, para Guardians masih terlihat sedang membangun peradaban baru di Knowhere. Para Guardians kesayangan kita pun terlihat lengkap.

Kita juga bisa melihat kalau Peter Quill (Chris Pratt) masih merasa depresi karena kehilangan Gamora (Zoe Saldana) hingga mabuk. Tiba-tiba, Knowhere diserang oleh Adam Warlock (Will Pouter) yang punya misi menculik Rocket sekaligus balas dendam.

Ternyata, Adam adalah makhluk yang sempat disebut dalam akhir Guardians of the Galaxy Vol. 2, di mana ia adalah makluk paling sempurna dari bangsa Sovereign. Terkuak juga fakta kalau bangsa tersebut (termasuk Adam) adalah buatan High Evolutionary (Chukwudi Iwuji).

High Evolutionary adalah villain utama di film ini, yang memiliki ambisi untuk membangun peradaban sempurna dengan makhluk yang juga sempurna. Rocket adalah salah satu makhluk ciptaannya, dan ia ingin menculik Rocket karena tertarik dengan kecerdasan otaknya.

Untungnya, upaya Adam bisa digagalkan setelah Nebula (Karen Gillan) menusuk Adam, tetapi Rocket terluka parah dan terancam mati.. Ketika mencoba untuk menyelamatkannya, diketahui ada sebuah sistem yang membutuhkan passcode agar Rocket bisa selamat.

Sepanjang film, kita akan dibawa maju mundur untuk mengetahui backstory Rocket yang memilukan. Diketahui juga ia memiliki teman-teman sesama kelinci percobaan dari High Evolutionary, yaitu Lylla, Teefs, dan Floor.

Petualangan para Guardians untuk menyelamatkan hidup Rocket pun dimulai. Mereka menuju ke Orgocorp dengan harapan bisa mendapatkan data tentang Rocket. Menariknya, mereka dibantu oleh Gamora versi masa lalu yang muncul dari film Avengers: Endgame.

Sayangnya, passcode-nya gagal mereka temukan. Namun, mereka menemukan fakta kalau passcode tersebut terdapat pada salah satu anak buah High Evolutionary. Mereka pun memutuskan untuk pergi ke Counter-Earth, planet buatan High Evolutionary.

Para Guardians pun terbagi menjadi dua tim, di mana Peter, Nebula, dan Groot (Vin Diesel) pergi menemui High Evolutionary, sedangkan Drax (Dave Bautista), Mantis (Pom Klementieff), dan Gamor berjaga di pesawat untuk menjaga Rocket yang sekarat.

Ternyata, High Evolutionary berencana menghancurkan Counter-Earth karena merasa tidak puas dengan ciptaannya. Di sisi lain, Drax dan Mantis justru menyusul Peter. Untungnya, Rocket yang diincar berhasil dilindungi oleh Gamora.

Peter berhasil mendapatkan passcode yang dibutuhkan dan Rocket hampir saja tidak selamat. Setelah itu, mereka pun memiliki misi baru untuk menyelamatkan anak-anak yang hendak dijadikan kelinci percobaan berikutnya oleh High Evolutionary.

Klimaks pun akhirnya terjadi. Setelah berhasil menyerang kapal induk High Evolutionary dan menyelamatkan anak-anak yang diculik, Rocket menemukan fakta bahwa ternyata dirinya adalah rakun. Setelah itu, ia dan para Guardians pun berhasil mengalahkan High Evolutionary.

Seusai konflik berakhir, ternyata para Guardians berpencar dengan tujuannya masing-masing. Peter ingin kembali ke Bumi dan hidup bersama kakeknya, sedangkan Mantis ingin mencari jadi dirinya sendiri.

Nebula ingin memimpin peradaban baru di Knowhere, di mana ia meminta tolong kepada Drax untuk membantunya karena ia telah melihat sosok ayah yang akan mampu membantunya membimbing anak-anak yang berhasil mereka selamatkan.

Guardians of the Galaxy akan dipimpin oleh Rocket, bersama Alpha-Groot, Kraglin (Sean Gunn), dan Cosmo (Maria Bakalova). Selain itu di adegan post credit, diketahui kalau Adam Warlock dan salah satu anak kecil yang tadi juga bergabung ke dalam tim.

Origins Story dari Rocket Raccoon

Rocket ditangkap oleh High Evolutionary untuk dijadikan sebagai kelinci percobaan dalam membuat makhluk yang sempurna. Menariknya, ketika ada adegan tangan di awal film, Rocket menjadi satu-satunya rakun yang tidak terlihat takut, bahkan terkesan penasaran.

Ia dikurung di kandang bersama teman-temannya sesama Batch 89, yaitu berang-berang bernama Lylla, walrus bernama Teefs, dan kelinci bernama Floor. Mereka berempat sama-sama tidak memiliki tubuh normal karena telah dimodifikasi oleh High Evolutionary.

Ternyata, Rocket memang spesial. Bahkan, ia bisa mengerjakan rumus atau formula tingkat tinggi dengan mudah. Tak heran jika High Evolutionary begitu tertarik dengan Rocket, hingga terkesan sedikit menganggapnya spesial.

Apalagi, Rocket berhasil memecahkan masalah dari Batch 90, di mana makhluk-makhluk yang berevolusi menjadi sangat buas. Sayangnya, ketika telah memecahkan masalah ini, High Evolutionary justru berencana menghabisi semua anggota Batch 89.

Rocket yang cerdik pun ternyata diam-diam telah mengumpulkan peralatan untuk bisa kabur dari markas High Evolutionary. Naas, rencana tersebut telah diendus oleh High Evolutionary dan ia menembak mati semua teman-teman Rocket.

Dikuasai oleh amarah, Rocket pun mencabik-cabik muka High Evolutionary, hingga di masa sekarang kita bisa melihat kalau wajahnya hanya topeng. Setelah itu, ia berhasil kabur dengan menggunakan salah satu pesawat yang ada di sana.

Setelah Menonton Guardians of the Galaxy Vol. 3

Sudah lama Marvel tidak merilis film yang bagus seperti ini. Film ini dengan mudah akan masuk ke dalam Tier S versi Penulis. Hampir semua elemen yang diharapkan ada benar-benar muncul di film ini. Penulis akan melakukan breakdown untuk mengulasnya lebih dalam.

Cerita Sederhana, tapi Ngena

Jika dilihat dari kacamata storytelling, sebenarnya premis yang dimiliki oleh Guardians of the Galaxy Vol. 3 cukup sederhana. Ceritanya adalah tentang bagaimana menyelamatkan nyawa Rocket Raccoon sekaligus mengakhiri kegilaan dari High Evolutionary.

Hanya saja, James Gunn berhasil meramu film ini dengan baik, sehingga di balik kesederhanaannya, penonton mampu menangkap esensi film ini dari masing-masing karakternya.

Tentu saja Rocket menjadi pusat utama dari film ini dengan origin story-nya yang menurut Nebula lebih buruk dari dirinya. Namun, semua karakter mendapatkan porsi yang pas dan seolah mendapatkan redemption-nya masing-masing.

Mari kita bandingkan dengan kedua film sebelumnya. Film pertama adalah tentang Peter dan ibunya, sedangkan film kedua tentang Peter dan ayahnya. Kedua film sebelumnya terlalu berfokus ke Peter, dan itu sangat berbeda dengan film ketiga ini.

Sebagai sosok sentral para Guardians selama ini, Peter pada akhirnya memutuskan untuk step away dan memilih untuk pulang ke Bumi untuk tinggal bersama kakeknya, keluarganya yang masih hidup. Dari adegan post credit, tampaknya kita masih akan melihatnya di MCU.

Rocket pada akhirnya mengetahui dan menerima siapa dirinya. Bahkan, ia pada akhirnya menjadi kapten dari Guardians of the Galaxy. Groot terasa kurang mendapatkan spotlight di film ini, berbeda dengan ketika ia masih remaja dengan berbagai problematikanya.

Nebula sah menjadi salah satu character development terbaik di MCU. Dari awalnya seorang karakter keras yang hanya berambisi mengalahkan Gamora, ia berubah menjadi orang yang lebih peduli ke orang lain, hingga akhirnya memutuskan untuk memimpin Knowhere.

Drax berhasil membuktikan bahwa dirinya bukan hanya karakter yang bodoh dan sekadar joke. Seperti kata Nebula, ia bukanlah seorang destroyer, melainkan seorang dad atau ayah. Masa lalunya yang kehilangan anaknya mungkin berperan besar dalam hal ini.

Mantis memilih untuk mencari dirinya sendiri, setelah selama ini ia selalu hidup menuruti Ego dan Guardians. Ia ingin memiliki free will yang selama ini belum ia miliki. Kraglin pun akhirnya berhasil berhenti menjadi Yondu dan menjadi dirinya sendiri.

Rollercoster Emosi

Dari semua film dan serial MCU yang telah Penulis tonton, jujur saja Guardians of the Galaxy Vol. 3 menjadi film yang paling mampu menaikturunkan emosi Penulis. Tidak hanya itu, film ini juga menjadi yang paling menyentuh dan hampir membuat Penulis menangis.

Sebagaimana dua film Guardians of the Galaxy sebelumnya, film ini memiliki komedi yang khas. Hampir semua leluconnya terasa natural dan tidak maksa. Penulis yang selera humornya agak rendah berhasil dibuat tertawa beberapa kali.

Adegan yang membuat hati pilu pun tak kalah banyak, terutama jika terkait dengan masa lalu Rocket. Ketika Rocket berteriak pilu saat Lylla mati benar-benar mengiris hati. Saat Rocket memasuki Limbo dan Peter merasa gagal menyelamatnya, itu juga menyayat hati.

Namun, ada satu adegan yang sebentar saja, tapi mampu membuat Penulis merinding. Adegan tersebut adalah ketika Kraglin tiba-tiba melihat sosok Yondu yang pada akhirnya membuatnya berhasil mengendalikan panah peninggalannya.

Bagi Penulis, kematian Yondu adalah yang paling menyedihkan dari seluruh film dan serial MCU, bahkan melebihi kematian Tony Stark dan Natasha Romanoff. Sosoknya yang cukup plot twist berhasil membuat Penulis merasa kehilangan atas kematiannya.

Adam Warlock Kurang Memuaskan, tapi Termaafkan

Tentu tidak ada film yang sempurna. Bagi Penulis, ada beberapa kekurangan dari film ini, seperti bagaimana Adam Warlock yang Penulis harapkan akan jadi karakter OP, justru terlihat hanya menjadi “tempelan” saja di film ini.

Memang di film ini, Adam baru saja lahir sehingga masih banyak hal yang belum ia pahami. Hanya saja, awalnya Penulis membayangkan ia akan berperan penting dalam mengalahkan High Evolutionary. Ternyata, tidak, ia hanya menjadi penyelamat Peter di akhir film.

Namun, jika dipikir-pikir lagi, film ini memang hanya menjadi ajang perkenalan karakter ini di MCU. Jika porsinya diperbanyak, justru akan membuat alur cerita film ini terasa tumpang tindih. Oleh karena itu, kekurangan tersebut menjadi termaafkan.

Selain itu, High Evolutionary di film ini juga terasa sedikit kurang di bagian akhirnya. Sama seperti Gorr di film Thor: Love and Thunder, villain yang satu ini terasa kurang dieksplorasi lebih dalam sehingga terasa sia-sia.

Padahal, akting dari Chukwudi Iwuji terlihat meyakinkan dan membuat kita benar-benar membenci High Evolutionary yang begitu kejam. Satu lagi yang disayangkan, karakter ini ternyata cukup lemah dan bisa dikalahkan dengan mudah.

Selain itu, rasanya tidak ada hal yang Penulis keluhkan dari film ini. Guardians of the Galaxy Vol. 3 menjadi kado perpisahan yang manis dari James Gunn, karena setelah ini ia akan memimpin DC Universe memasuki era baru.


Lawang, 6 Mei 2023, terinspirasi setelah menonton Guardians of the Galaxy Vol. 3

Featured Image: IGN

Film & Serial

[REVIEW] Setelah Menonton Supergirl

Published

on

By

Bulan Juni hingga Juli akan menjadi waktu-waktu di mana Penulis akan sering ke bioskop. Pasalnya, ada tiga film yang masuk ke dalam daftar tonton Penulis tahun ini, mulai dari Supergirl (24 Juni), The Odyssey (15 Juli), dan Spider-Man: Brand New Day (29 Juli).

Nah, meskipun agak telat menulis artikel ulasannya, Penulis sebenarnya telah menonton film Supergirl ketika premiere. Karakternya sendiri sudah sempat muncul sebentar di film Superman yang tayang pada tahun kemarin.

Lantas, apakah Supergirl berhasil menampilkan film minimal sebagus Superman, atau justru ini menjadi film flop pertama DC Studios di bawah arahan James Gunn? Menurut Penulis, singkatnya, this movie was not bad, but not good enough.

SPOILER ALERT!!!

Detail Film Supergirl

  • Judul: Supergirl
  • Sutradara: Craig Gillespie
  • Cast: Milly Alcock, Eve Ridley, Jason Momoa, Matthias Schoenaerts, David Corenswet
  • Tanggal Rilis: 24 Juni 2026 (Indonesia)
  • Durasi: 108 Menit

Apa Cerita Supergirl?

Supergirl (CGMagazine)

Sesuai dengan judulnya, Supergirl berfokus pada kehidupan Kara Zor-El alias Supergirl (Milly Alcock) yang berbeda dengan sepupunya, Kal-El alias Superman (David Corenswet). Jika Superman bisa melihat kebaikan di setiap orang, ia melihat manusia “apa adanya”.

Jika Superman hidupnya terkesan lurus, maka Supergirl terasa chaos dan berantakan. Bahkan, ia dengan sengaja pergi ke planet yang mataharinya merah agar dirinya bisa mabuk! Sebagai informasi, makhluk Kryptonian seperti mereka tidak bisa mabuk di planet dengan matahari kuning seperti Bumi.

Nantinya, di pertengahan film akan dijelaskan mengenai perbedaan ini. Berbeda dengan Superman yang dikirim ke Bumi sejak kecil, Supergirl sempat tinggal di Argo City, sebuah kota “sempalan” dari planet Krypton yang meledak.

Namun, masa hidup kota tersebut tidak bisa bertahan lama karena ternyata mengandung kelemahan mereka semua, yakni Kriptonite. Alhasil, Kara dan anjingnya yang bernama Krypto pun dikirim ke Bumi untuk dititipkan ke Superman.

Latar belakangnya yang seperti itulah yang membuat Supergirl terus mencari di mana “rumahnya” yang sebenarnya. Ia merasa Bumi tempat Superman tinggal bukan rumah sejatinya, sehingga ia pun kerap berkelana ke berbagai planet.

Nah, kebetulan ia sedang berada di sebuah planet saat perayaan ulang tahunnya yang ke-23. Di planet tersebut, kebetulan ada seorang penjahat bernama Krem of the Yellow Hills (Matthias Schoenaerts) yang membantai keluarga Ruthye Marye Knoll (Eve Ridley) karena alasan yang cukup konyol.

Ruthye pun punya misi balas dendam dan pergi ke bar untuk mencari orang yang bisa membantunya. Kebetulan (lagi), Supergirl sedang berada di bar tersebut. Walau sempat membantu Ruthye, Supergirl menolak untuk membantunya melakukan balas dendam.

Nah, pesawat milik Krem sempat diledakkan oleh keluarga Ruthye. Kebetulan (lagi), mereka menemukan pesawat milik Supergirl. Lebih parahnya lagi, Krem sempat menyuntikkan racun ke Krypto yang akan menewaskannya dalam waktu tiga hari.

Supergirl pun yang awalnya menolak permintaan Ruthye akhirnya mau tidak mau mencari Krem dan dimulailah petualangan mereka berdua. Oh iya, di film ini ada Jason Momoa sebagai Lobo, tapi jujur perannya tidak terlalu signifikan. Hal ini akan Penulis bahas di poin selanjutnya.

Setelah Menonton Supergirl

Semakin dipikirkan, Penulis semakin merasa kalau film ini benar-benar terasa kurang, apalagi jika dibandingkan dengan Superman. Selain terasa fun-nya, film ini begitu generik, penuh klise, villain yang kurang memorable, dan secara overall tidak istimewa.

Sisi Positif Film Supergirl

Ruthye (The Direct)

Mari kita bicarakan dulu dari sisi positifnya. Vibe film ini bagi Penulis mirip Borderlands (salah satu seri game favorit Penulis) yang fun, walau netizen mengatakan film ini perpaduan Guardians of the Galaxy dan Mad Max. Oleh karena itu, Penulis bisa menikmati latar-latar tempatnya.

Penampilan para cast-nya tidak buruk, tapi juga tidak terlalu spesial. Penampilan Alcock yang “kuat di luar, tapi rapuh di dalam” patut diapresiasi. Schoenaerts sebagai villain yang agak sinting juga cukup menarik, walau memang (sekali lagi) kurang memorable.

Bagian akhir film ini juga Penulis suka. Setelah menghentikan keinginan Ruthye untuk membunuh Krem, Supergirl mengotori tangannya sendiri untuk membunuhnya. Ini salah satu hal yang tidak klise di film ini sekaligus membedakan antara Superman dan Supergirl.

Sisi Negatif Film Supergirl

Lobo (Variety)

Nah, sekarang masuk ke kekurangannya. Mungkin ada Pembaca yang notice bagaimana Penulis menuliskan banyak kata “kebetulan” di bagian sinopsis sebelumnya. Itu yang Penulis rasakan karena memang terlalu banyak kebetulan di film ini.

Film ini mungkin bukan tipe film yang banjir plot hole, tapi memang dari sisi cerita seperti kurang eksplorasi dan banyak logika yang tidak masuk. Inti dari film ini memang sebenarnya tentang penerimaan diri, tapi konfliknya sesederhana mencari antidote untuk Krypto yang keracunan. Tidak lebih dari itu.

Banyak adegan yang kadang membuat Penulis mengangkat alis. Ketika awal film misalnya, ketika keluarga Ruthye dibantai. Penyebabnya sederhana sekali, karena kakak Ruthye tiba-tiba mengagetkannya (ia pakai headset sehingga tak sadar rumahnya kedatangan tamu yang berbahaya), lalu tiba-tiba dibunuh oleh Krem karena itu!

Karena anaknya dibunuh, tentu orang tua Ruthye murka dan jadi menyerang Krem dan pasukannya. Tentu saja mereka kalah dengan mudah. Anehnya, Ruthye dibiarkan hidup, padahal kakaknya pun dibunuh karena alasan yang sepele!

Selain itu, di film juga diceritakan kalau Krem dan pasukannya (disebut Brigands) mencari para perempuan untuk melanjutkan keturunan mereka yang terancam punah. Lantas, kenapa Ruthye tidak diculik? Memang dia baru remaja, tapi kalau melihat perempuan-perempuan yang mereka culik, rasanya beda usianya tidak terpaut jauh.

Ketika Supergirl datang ke markas Krem, ternyata planet tersebut mengorbit di dua matahari, yakni matahari hijau dan kuning. Artinya, Krem tahu kalau matahari hijau adalah kelemahan Kryptonian. Lantas, mengapa ia tidak mencari planet yang HANYA mengorbit matahari hijau saja? Pasti ada tata surya seperti itu di semesta DC, Penulis sangat yakin.

Satu hal yang paling mengganggu Penulis bukanlah Ruthye yang terasa sebagai beban sepanjang film, melainkan keberadaan Lobo! Lagi-lagi, “kebetulan” orang yang ia incar merupakan pasukan dari Krem, sehingga bisa berada di satu tempat yang sama dengan Supergirl dan Ruthye.

Namun, keberadaan Lobo di film ini seolah asal tempel. Seandainya tidak ada Lobo pun rasanya tidak banyak hal yang berubah. Kemunculannya menyelamatkan Supergirl di akhir film juga terasa memaksa, apalagi tiba-tiba ia bawa motornya ke tengah-tengah pasukan Brigands!

Skor: 6/10

Akhir dari film ini juga memberikan petunjuk tentang film selanjutnya, yakni Superman: Man of Tomorrow yang dijadwalkan rilis tahun depan. Superman mengatakan bahwa ia membutuhkan bantuan Supergirl untuk menghadapi “musuh yang satu ini”. Semoga saja film ini bisa lebih baik!


Lawang, 6 Juli 2026, terinspirasi setelah menonton Supergirl

Continue Reading

Film & Serial

[REVIEW] Setelah Menonton Project Hail Mary

Published

on

By

Sejak menonton trailernya tahun lalu, Penulis sudah meniatkan diri untuk menonton Project Hail Mary. Selain karena Penulis lumayan astrophile (pecinta luar angkasa), Penulis punya feeling film ini akan bagus.

Penulis pun akhirnya menontonnya pada hari Sabtu minggu kemarin di MOPIC Malang, sekalian mencoba pengalaman menonton di bioskop tersebut. Harusnya film ini rilis secara global ketika lebaran, yang sayangnya harus tergeser karena slotnya digunakan untuk menayangkan film horor lokal.

Lantas, apakah film ini berhasil memenuhi ekspektasi Penulis? Apakah benar kata orang-orang yang memuji film ini setinggi langit? Singkat kata, Penulis menyukainya dengan beberapa catatan yang membuat skornya tidak terlalu tinggi.

SPOILER ALERT!!!

Detail Film Project Hail Mary

  • Judul: Project Hail Mary
  • Sutradara: Phil Lord, Christopher Miller
  • Cast: Ryan Gosling, Sandra Hüller, James Ortiz, Lionel Boyce
  • Durasi: 156 Menit

Apa Cerita Project Hail Mary?

Project Hail Mary diangkat dari sebuah novel karya Andy Weir berjudul sama. Buat yang merasa familier dengan nama tersebut, beliau adalah penulis buku The Martian, yang juga diangkat menjadi film dan dibintangi oleh Matt Damon.

Premis Project Hail Mary sebenarnya sederhana, di mana sebuah misi penyelamatan bumi sedang dilakukan oleh seorang guru sains di sebuah SMP bernama Ryland Grace (Ryan Gosling).

Ceritanya, matahari di tata surya kita sedang sekarat karena alien bernama Astrophage (pemakan bintang). Makhluk tersebut berkembang biak di matahari dan membuatnya meredup. Otomatis, suhu di bumi pun langsung drop.

Hal yang sama terjadi di tata surya lain kecuali satu, yakni Tau Ceti. Perjalanan antariksa pun dilakukan untuk mengetahui apa yang membuat tata surya tersebut selamat. Misi tersebut, disebut Project Hail Mary, dipimpin oleh Eva Stratt (Sandra Hüller).

Awalnya, Grace direkrut bersama banyak ilmuwan lainnya untuk meneliti Astrophage yang berhasil ditangkap. Nah, Grace-lah yang berhasil menemukan alasan mengapa alien tersebut sampai membentuk garis antara matahari dan Venus (disebut Petrova Line).

Lantas, bagaimana seorang guru SMP bisa terjebak dalam pesawat ruang angkasa? Nanti di bagian akhir cerita akan dijelaskan, karena film ini menggunakan POV Grace yang mengalami amnesia. Ketika sadar, ia sudah berada di dalam pesawat tersebut.

Nantinya sepanjang cerita, kita akan dibawa maju-mundur karena ingatan Grace perlahan kembali. Jadi, akan ada dua lini waktu di film ini, yakni ketika Grace masih di bumi dan direkrut oleh Strat, serta ketika ia telah berada di luar angkasa.

Dalam misinya tersebut, ketika pesawat Grace sudah mendekati Tau Ceti, ia melihat pesawat alien. Ternyata di dalamnya ada sesosok alien berbentuk batu dengan lima kaki (atau lengan, tergantung digunakan untuk apa).

Menariknya, ternyata alien tersebut juga merupakan satu-satunya yang tersisa di pesawat tersebut, sama seperti Grace. Mereka berdua pun jadi menjalin persahabatan karena tujuan mereka sama, yakni meneliti mengapa Tau Ceti bisa selamat. Grace memberi nama alien tersebut Rocky.

Karena menurut Penulis filmnya sangat layak untuk ditonton, Penulis tidak akan bercerita lebih jauh dari ini. Intinya, mereka berdua pun bekerja sama untuk menyelamatkan planet mereka masing-masing dari kepunahan.

Setelah Menonton Project Hail Mary

Setelah menonton Project Hail Mary, Penulis memahami mengapa film ini begitu dicintai oleh para penontonnya. Visual dan scoring-nya benar-benar memanjakan mata dan telinga. Sayang, Penulis tidak menonton film ini di IMAX.

Ada banyak hal yang ingin Penulis bahas tentang film ini, termasuk kekurangan yang cukup mengganggu Penulis.

Protagonis yang Mirip Mark Watney

Mark Watney (Kiri) dan Ryland Grace (Fandom)

Mengingat sumbernya sama, wajar jika Project Hail Mary memiliki kemiripan dengan The Martian. Tidak hanya tema sci-fi yang diusung, kepribadian dan situasi yang harus dihadapi oleh protagonisnya pun mirip.

Pertama, Grace dan Mark Watney (protagonis di The Martian) sama-sama terjebak di luar angkasa sendirian. Bedanya, Watney masih “dekat” karena di Mars, sedangkan Grace sudah beda semesta. “Mainnya” Grace lebih jauh.

Meskipun berada di kondisi yang sulit, mereka berdua sama-sama tetap optimis dan berusaha ceria. Selain itu, fokus cerita kedua film juga sama-sama ke protagonisnya yang harus bisa keluar dari krisis.

Hangatnya Hubungan Grace dan Rocky

Rocky (Fandom)

Jika dibandingkan dengan Interstellar yang lebih mikir, Project Hail Mary lebih menonjolkan sisi dramanya dibandingkan sainsnya. Memang banyak istilah fisika, kimia, dan biologi di film ini, tapi masih dalam taraf yang mudah dipahami.

Salah satu unsur drama yang paling menarik sepanjang film adalah hubungan Grace dan Rocky yang terasa hangat. Kita tidak bisa tidak menyukai kedua karakter tersebut, terutama Rocky.

Dengan desain yang unik dan sebenarnya tidak menggemaskan (karena literally berbentuk batu), ia berhasil membuat penonton merasa ingin ikut melindunginya, apalagi setelah krisis di act three film ini.

Salah satu momen paling mengharukan sepanjang film adalah ketika Rocky bilang bisa memberikan bahan bakar Astrophage agar Grace bisa pulang ke Bumi. Project Hail Mary awalnya adalah one way ticket, sehingga Grace sudah menerima bahwa ia tak akan pernah pulang.

Harapan yang diberikan oleh Rocky, dengan mengorbankan waktu kepulangannya yang lebih lama, membuat Grace (dan penonton) menangis. Momen ini berhasil disajikan dengan sangat baik. Kita ikut merasakan apa yang dirasakan oleh karakter di dalam film.

Interaksi antara keduanya juga menyenangkan untuk dilihat. Mengingat keduanya terjebak di kondisi yang mirip, wajar jika akhirnya mereka memiliki hubungan yang dekat, bahkan Grace rela menunda kepulangannya ke Bumi demi menyelamatkan Rocky.

Rasanya semua yang sudah menonton film ini bisa sepakat, kalau kita sama-sama sayang Rocky.

Plot Armor Grace

Grace dalam Misi Penyelamatan Bumi (SlashFilm)

Meskipun sudah banyak menyebutkan kelebihannya, ada beberapa kekurangan di film ini yang mengganjal Penulis. Pertama adalah latar belakang Grace yang hanya guru dan ilmuwan tanpa pernah ada latar sebagai astronot.

Di The Martian, Watney memang seorang astronot, sehingga wajar jika ia tahu bagaimana cara bertahan hidup di luar angkasa karena memang sudah dibekali. Nah, beda cerita dengan Grace yang harus dibius dan dibuat koma dulu (karena ia sebenarnya menolak) sebelum dipaksa menjalankan misi Project Hail Mary.

Grace memang pintar, tapi mau sepintar apa pun ia, rasanya sulit diterima ia bisa melanjutkan misi tersebut seorang diri, meskipun memang dibantu AI di sana. Belum lagi masalah kondisi fisik astronot yang harus ditempa bertahun-tahun.

Apalagi, dua rekannya justru sudah meninggal dunia, meskipun Andy Weir selaku penulis novelnya mengatakan bahwa penyebab kematian mereka memang masih disimpan untuk “potensi sekuel.”

Untuk orang yang dipaksa menjalankan misi (sendirian pula), Grace terlalu mulus menyelesaikan Project Hail Mary nyaris tanpa cacat. Memang ia hampir tak selamat, tapi ujungnya kehadiran Rocky berhasil menyelamatkan nyawanya.

Bahasa Rocky yang Terlalu Mudah Dipahami

Selain masalah plot armor yang dimiliki oleh Grace, salah satu hal yang Penulis sorot adalah mudahnya ia dalam menerjemahkan bahasa yang dimiliki oleh Rocky. Sebagai perbandingan, kata atasan Penulis, film Arrival (2016) mampu menggambarkan sulitnya hal tersebut.

Memang, masalah durasi membuat hal tersebut disederhanakan. Hanya saja, kembali lagi, Grace yang manusia biasa terasa jadi punya superpower yang bisa melakukan ini itu dengan cepat.

Jangan lupakan bagaimana Grace mampu membuat alat yang bisa menerjemahkan bahasa Rocky secara live dengan alat seadanya. Jika memang semudah itu, harusnya kita juga bisa membuat alat penerjemah bahasa kucing atau paus dengan mudah.

Bagi Penulis, Film Ini Terlalu Happy Ending

Peringatan spoiler, film ini bagi Penulis terlalu happy ending. Akhir film ini terlalu sempurna. Grace dan Rocky sama-sama berhasil menyelamatkan planet mereka, Grace yang tak punya siapa-siapa di bumi juga mendapatkan tempat di Erid, planet asal Rocky.

Kalau mengikuti selera Penulis, harapannya adalah salah satu antara Grace atau Rocky harus mati karena keadaan. Misal, Rocky mati setelah menyelamatkan Grace, yang membuat Grace pergi ke Erid untuk menyelamatkan planet tersebut.

Toh, Grace sudah membuat alat penerjemah, sehingga ia bisa berkomunikasi dengan penduduk Erid lainnya. Nilai pengorbanan yang dilakukan Rocky akan berdampak besar bagi Grace, tanpa melupakan misi Project Hail Mary.

Kesimpulan

Terlepas dari beberapa kekurangan yang Penulis sebutkan, Project Hail Mary tetap menjadi film yang bagus dan enjoyable. Penulis sangat senang karena film pertama yang ditonton di tahun ini sebagus ini.

Jika disuruh merangkum, ada tiga kata Rocky yang bisa menggambarkan perasaan Penulis setelah selesai menonton film ini: amaze, amaze, amaze.

SKOR: 8/10

***

Lawang, 18 April 2026, setelah menonton film Project Hail Mary

Continue Reading

Film & Serial

Gara-Gara Black Myth: Wukong, Saya Jadi Rewatch Kera Sakti

Published

on

By

Dalam beberapa minggu terakhir, bisa dibilang Black Myth: Wukong adalah salah satu judul game yang sedang banyak dibicarakan. Banyak pujian yang disematkan kepada game tersebut, baik karena gameplay, jalan cerita, maupun visualnya.

Penulis sendiri tidak ikut membelinya, meskipun sebenarnya cukup tertarik. Namun, Penulis bukan tipe gamer yang suka genre hack ‘n slash seperti itu. Apalagi, Penulis sedang menyiapkan dana untuk membeli game Dragon Ball: Sparking! ZERO yang rilis bulan depan.

Walaupun begitu, Black Myth: Wukong berhasil menimbulkan perasaan nostalgia karena mengingatkan dirinya akan satu serial legendaris yang juga mengangkat tema pergi ke barat untuk mengambil kitab suci: Kera Sakti. Penulis pun memutuskan untuk rewatch.

Mengapa Kera Sakti Sangat Membekas Bagi Penulis

Rombongan Biksu Tong (Tabloid Bintang)

Penulis tidak ingat pasti mengapa dulu dirinya menonton Kera Sakti, mungkin karena jam tayangnya saja yang pas dengan waktu nonton televisi. Apalagi, serial ini menghadirkan pertarungan yang seru untuk anak kecil.

Untuk yang asing dengan serial ini, Kera Sakti bercerita tentang perjalanan sekelompok orang ke barat untuk mengambil kitab suci Buddha. Kelompok ini terdiri dari biksu Tong Sam Cong, Sun Go Kong, Cut Pat Kai, dan Wu Cing. Maaf kalo penulisannya salah, karena Penulis menulisnya berdasarkan ingatannya.

Rombongan ini jelas unik karena Wu Kong berwujud kera, Pat Kai berwujud babi, dan Wu Cing, yah masih terlihat seperti manusia biasa. Kalau tidak salah, dalam perjalanan tersebut mereka harus melewati 33 rintangan dan 99 kesulitan.

Dalam perjalanannya, mereka bertemu dengan banyak sekali jenis siluman yang memberi kesulitan dan halangan. Memang Go Kong yang paling sering menjadi ujung tombak ketika menghadapi mereka, tapi peran karakter lain tak kalah penting.

Ada banyak alasan mengapa serial ini begitu membekas untuk Penulis. Selain pertarungannya yang seru, ada banyak petuah-petuah kehidupan yang sering diucapkan oleh Tong Sam Cong seperti “Kosong adalah Isi, Isi adalah Kosong.”

Bicara soal petuah, tentu jangan lupakan quote legendaris dari Patkai: “Begitulah cinta, deritanya tiada akhir.” Hingga saat ini, quote tersebut rasanya masih relevan bagi banyak orang.

Waktu kecil, Penulis menganggap animasi atau efek-efek pertarungan serial ini juga cukup oke. Namun, waktu rewatch, ternyata tidak bagus-bagus amat. Bahkan, beberapa animasinya terlihat kartun banget, beda dengan ingatan Penulis waktu kecil.

Selain itu, gara-gara rewatch, Penulis jadi bisa merangkai alur cerita serial ini dengan lebih baik, karena yang tersisa di ingatan hanya potongan-potongan. Bagi Penulis, alur cerita serial ini memang bagus, walau memang ada beberapa yang sejujurnya sudah tidak sesuai dengan standar saat ini.

Serial ini juga terkenal karena lagu opening-nya yang legendaris. Hampir semua orang pasti merasa familiar dengan lagu tersebut. Selain itu, musik-musik di background-nya juga sangat membekas bagi Penulis.

Arc Favorit di Kera Sakti

Kera Lok Yi dalam Wujud Raksasa (YouTube)

Dari sekian banyak pertarungan atau arc yang ada, ada dua yang menjadi favorit Penulis hingga saat ini dan rasanya menjadi favorit banyak penontonnya juga: “Arc Kera Lok Yi” dan “Arc Kera Tum Pei.”

Pada “Arc Kera Lok Yi,” Penulis menyukai bagian akhirnya di mana Sun Go Kong harus berhadapan dengan Kera Lok Yi yang berubah menjadi raksasa gara-gara ulah trio Siluman Elang, Singa, dan Gajah.

Kera Lok Yi dalam wujud raksasanya sebenarnya memiliki wujud yang cukup menyeramkan, bahkan sekarang pun tetap terlihat menyeramkan. Namun, pertarungannya dengan Go Kong seru karena kekuatan mereka setara.

Pertarungan sendiri berakhir ketika Wu Cing (dengan bantuan Pat Kai) berhasil memotong ekor Kera Lok Yi dan membuatnya kembali ke wujud semula. Bisa jadi, ini adalah inspirasi adegan Yajirobe memotong ekor Vegeta dalam wujud Great Ape di Dragon Ball.

Lalu pada “Arc Kera Tum Pei,” lagi-lagi menghadirkan pertempuran yang seru karena Go Kong menghadapi lawan yang setara. Apalagi, Go Kong sempat kehilangan semua kemampuannya demi melindungi gurunya.

Kera Tum Pei juga memiliki kemampuan untuk menyerap makhluk hidup dan mendapatkan kekuatannya seperti Buu. Ia menyerap Siluman Kerbau, Putri Kipas, Siluman Gagak, hingga Gajah Ting Ting. Yang terakhir bahkan ia simpan terus hingga pertarungan terakhirnya.

Selain itu, tentu masih banyak arc lain yang tak kalah menarik. Ketika melawan Siluman Lupan, ada Sze Sze yang merupakan Siluman Laba-Laba. Menurut Penulis, ia menjadi salah satu karakter paling cantik di sepanjang seri Kera Sakti.

Lalu di awal serial, pertikaian Go Kong dengan Ang Hai Ji yang merupakan anak dari Siluman Kerbau dan Putri Kipas juga menarik. Ia yang sangat nakal bekerja sama dengan Siluman Mimpi, tetapi akhirnya bertobat dan diangkat menjadi murid Dewi Kwan Im.

Saat rombongan biksu Tong membantu Dewa Erlang untuk menyelamatkan ibunya juga membekas. Dewa Erlang, yang dari awal cerita terlihat menjadi musuh utama Go Kong, nantinya justru akan menjadi sekutu yang berharga di arc terakhir.

Arc terakhir pun menegangkan, di mana Siluman Ular berhasil membuat Go Kong dimusuhi oleh banyak pihak. Namun, pada akhirnya Kera Sakti memiliki happy ending karena berhasil mendapatkan kitab suci dan menjadi buddha.

***

Saat menulis artikel ini, Penulis baru saja menyelesaikan “Arc Kera Lok Yi” dan akan berlanjut ke “Arc Siluman Gingseng.” Sejujurnya, Penulis sudah tidak sabar ingin segera masuk ke “Arc Kera Tum Pei,” tapi Penulis bertekad untuk menonton semua episodenya sampai tamat.

Kera Sakti jelas telah mewarnai masa kecil Penulis dan membekas hingga Penulis berkepala tiga. Mungkin ini bukan terakhir kalinya Penulis rewatch, bisa jadi di masa depan Penulis akan kembali melakukannya jika kangen dengan serial ini.


Lawang, 12 September 2024, teinspirasi setelah menonton ulang Kera Sakti

Continue Reading

Fanandi's Choice

Blog ini milik Fanandi Prima Ratriansyah sejak 2018