Chapter 79 Pertemuan yang Tidak Direncanakan

“Apa papamu ada di rumah sekarang?” tanyaku dengan nada yang cukup mendesak.

“Ada sih karena sekarang hari Sabtu, memangnya kenapa?”

Kenji segera mencengkeram lenganku sebagai kode kalau sebaiknya dia yang berbicara. Aku memahami kode tersebut dan mempersilakannya untuk berbicara.

“Begini mas, kami merasa sebelumnya pernah melihat papa mas. Tapi, kami ingin kerja samanya dari mas. Bilang kalau kami ingin berpamitan ke tuan rumah. Nanti mas akan tahu sendiri alasan kami ingin bertemu dengannya.”

Malik terlihat ragu dengan permintaan tersebut, namun memutuskan untuk melakukan apa yang diminta oleh Kenji. Aku dan Kenji menanti dengan cemas karena belum yakin apakah tebakan kami benar atau salah.

Tak lama kemudian, Malik kembali dengan membawa kedua orangtuanya. Untuk pertama kalinya kami melihat wajah dari papa Malik. Memang benar, wajah itu terlihat mirip dengan wajah yang ada di foto milik ibu, meskipun sosoknya sudah terlihat menua.

“Sudah mau balik, ya? Kata Malik kalian adalah adik kelasnya yang terkenal karena kecerdasannya,” kata papanya Malik ketika melihat kami berdua.

“Iya om, kami sungkan kalau harus berlama-lama di sini.” jawab Kenji dengan seramah mungkin. Aku memutuskan untuk menyerahkan urusan ini kepadanya.

“Ah, santai aja sebenarnya, anggap saja rumah sendiri.”

“Terima kasih om, tapi sebelumnya saya ingin tanya sesuatu.”

“Boleh, apa itu?”

“Apakah om bernama Awan?”

Dalam sekian detik, ia terlihat terperanjat mendengar pertanyaan tersebut. Ia segera berusaha mengendalikan dirinya dan tertawa canggung.

“Hahaha, iya benar. Kok kamu bisa tahu?”

“Saya anak dari Bu Lulu, teman satu kampus om. Dan teman saya ini merupakan anak kandung dari Bu Ratih dan Pak Bambang, sekaligus anak angkat dari Bu Dewi.”

Mendengar nama tersebut, segala keramahan yang diperlihatkannya mendadak sirna dan berubah menjadi murka. Tubuhnya gemetar tak karuan dan ia terlihat kesulitan mengendalikan emosinya.

“KELUAR KALIAN BERDUA! JANGAN PERNAH MENGINJAKKAN KAKI KALIAN DI SINI LAGI!”

Jeritannya membuat semua orang yang ada di ruangan itu terkejut. Kenji sampai melangkah mundur dengan perlahan. Malik terlihat kaget bukan main.

“SUDAH KUBILANG KELUAR! KALIAN BUDEK, YA!” katanya lagi sembari berjalan ke arah kami.

“Kau takut, ya?” tanyaku sedikit memprovokasinya.

“Diam kamu bocah! Kamu enggak tahu apa-apa!”

“Oh iya, kami memang enggak tahu apa-apa selain fakta bahwa orang tua kami merupakan teman sesama aktivismu. Kami hanya tahu kalau kalian sering bersinggungan dengan Orde Baru dan bermusuhan dengan seorang pengusaha rekanan rezim bernama Wijaya Hardikusumo.”

Awan kembali terkejut mendengar pernyataanku. Ia sempat berhenti sebelum kembali mendorong kami dengan kasar untuk keluar dari rumahnya. Ucapan yang diucapkan oleh istrinya untuk berhenti sama sekali tidak dihiraukan.

“Saya enggak peduli, kalian keluar sekarang!”

“Jadi cuma segini nyali seorang pimpinan? Bagaimana bisa dia hidup tenang di saat teman-temannya hilang bahkan tewas?”

Sebuah pukulan mendarat di wajahku hingga membuatku terhuyung jatuh. Malik yang melihat situasi semakin tidak kondusif segera menarik papanya mundur meskipun wajahnya terlihat kebingungan.

“Sebenarnya ini ada apa, sih? Gimana papa bisa kenal sama orangtua mereka? Aktivis? Aktivis apa?” tanya Malik yang sama sekali tidak dihiraukan oleh papanya.

“Kau tahu kenapa kami bisa mengenalmu? Kami menemukan sebuah foto, ada ibuku, ada orangtua kandungku, ada ibunya Kenji, dan ada dirimu,” kataku sembari berusaha bangkit kembali dengan dibantu oleh Kenji. Bagian kanan wajahku terasa nyeri.

“Saya enggak peduli, saya cuma minta kalian berdua keluar dari rumah ini!”

“Lantas bagaimana kau akan menjelaskan peristiwa ini ke anakmu? Dari reaksi Malik, nampaknya kau sudah lama menyembunyikan rahasia ini.”

Awan kembali berusaha menerjang kami walaupun kali ini Malik berusaha sekuat mungkin menahannya. Aku pun menyiapkan diri untuk menerima serangan fisik darinya.

“Bukan urusanmu bocah, sekarang pergi!”

“Orangtua kandungku hilang, dan mungkin ibu angkatku dibunuh, DAN KAU MENYURUHKU PERGI BEGITU SAJA KETIKA BERTEMU DENGAN TEMANNYA YANG MASIH HIDUP!?” aku sudah tidak bisa menahan emosiku. Aku mencengkeram leher bajunya dan mendorong tubuhnya ke dinding. Malik berusaha melepaskanku, namun tenagaku yang sedang emosi selalu menjadi lebih besar.

“Beberapa hari kemarin, aku menemukan pesan yang dibuat ibuku. Katanya, Awan masih hidup. Waktu itu, aku sama sekali tidak tahu di mana harus mencarimu. Lantas, tanpa sengaja aku bertemu denganmu di sini dan kau menyuruhku pulang begitu saja? Kalau kau punya perasaan sedikit saja, kau akan membantu kami untuk mengetahui apa yang telah terjadi kepada keluarga kami,” aku menatap lurus ke kedua matanya, berusaha mendobrak penghalang apapun yang ia pasang.

Teriakanku tadi nampaknya telah membuatnya lemas sehingga ia sama sekali tidak berusaha melepaskan diri. Wajahnya telah melunak, diganti ekspresi yang penuh dengan rasa bersalah sekaligus ketakutan. Tak lama kemudian, ia mulai menangis dan aku melepaskan cengkeramanku. Kenji mengambil alih situasi dengan berusaha menenangkannya. Dengan lembut, ia menggiring Awan untuk duduk di kursi dibantu Malik. Istrinya membelai lembut pundak suaminya. Dari gestur yang ia tunjukkan, nampaknya ia telah tahu apa yang tengah terjadi.

“Saya bukannya takut, saya juga sudah kehilangan banyak teman. Kamu kira saya enggak stres melihat teman-teman saya satu persatu hilang? Saya yang masih hidup ini justru menjadi yang paling tertekan. Saya berusaha untuk hidup normal seperti biasa, namun masa lalu selalu menghantui di belakang saya,” kata Awan setelah ia berhasil meredakan tangisnya.

“Kami paham om, kami menyadari kehadiran kami yang mendadak ini pasti akan membuat om kaget. Kami pun tidak menduga kalau akan menemukan om secepat ini. Jujur, kami ingin banyak bertanya kepada om sekarang. Namun, jika om merasa belum siap, kami akan kembali lagi lain waktu,” kata Kenji dengan tatapan yang penuh dengan simpati, berbeda denganku yang masih diliputi oleh emosi.

Hening menghampiri kami setelahnya. Hanya terdengar suara napas dari masing-masing orang yang berada di ruangan ini. Awan masih dengan tatapan kosongnya sembari ditenangkan oleh istrinya yang sedang duduk di sebelahnya. Malik menunjukkan ekspresi jengkel karena baru menyadari ada hal penting yang disembunyikan darinya, dan ia sangat benci jika merasa tertinggal seperti itu. Kenji tetap terlihat tenang, menanti kapan pada akhirnya Awan akan bersuara tentang teman-teman di masa lalunya.

“Beri om waktu ya, nak. Tante janji kalau waktunya sudah tepat, kalian berdua akan kami undang lagi ke sini. Om masih belum siap untuk menceritakan semuanya,” kata istri Awan dengan tatapan keibuan. Aku hendak mengeluarkan protes, namun Kenji mengiyakan permintaan tersebut. Setelah itu, kami berdua pun memutuskan untuk pamit, meninggalkan keluarga tersebut dalam keadaan terguncang.

***

“Bagaimana kalau kita tidak akan pernah bertemu mereka lagi? Bagaimana kalau ternyata Awan tidak akan pernah mau bercerita?” tanyaku kepada Kenji ketika kami berdua telah berada di rumahku.

“Tenang Leon, aku yakin pada akhirnya Om Awan akan menceritakan semuanya kepada kita. Tinggal tunggu waktu. Prediksiku, satu minggu lagi paling lama. Dalam kurun waktu tersebut, ia akan melakukan banyak perenungan mengenai pertemuannya dengan kita.”

“Kalau ternyata prediksimu salah?”

“Maka kita akan menghubungi Malik kembali. Seperti yang sudah kamu lihat sendiri, Malik menemukan ada sebuah fakta yang selama ini disembunyikan darinya. Ia pasti akan mengejar ayahnya untuk menjelaskan semuanya. Selain itu, nampaknya pandangannya kepada dirimu telah berubah dengan pertemuan tadi.”

“Aku tidak terlalu peduli dengan hal tersebut.”

“Hohoho, belum. Percayalah kalau hal tersebut akan berperan besar terhadap perjalanan kita kali ini.”

***

Prediksi Kenji jarang meleset, dan kali ini kembali terbukti. Aku memang belum dihubungi lagi oleh Awan. Namun tiga hari setelah peristiwa tersebut, aku dan Kenji yang baru pulang sekolah melihat Malik sedang menunggu di depan rumahku. Ia duduk di atas sepeda motornya sambil melamun ke arah bekas rumahnya. Setelah menyadari kehadiran kami berdua, ia memberikan senyum yang sedikit canggung.

“Rumah lamaku terlihat tak terurus, bukan? Rumah ini sudah bertahun-tahun tak bertuan. Sampai saat ini, belum ada orang yang berminat membelinya walaupun lokasinya cukup strategis. Apa mungkin kena kutukan, ya?” kata Malik setelah menyapa kami berdua. Kenji mengajaknya masuk ke dalam rumahku setelah basa-basi singkat.

“Aku minta maaf atas kejadian yang tidak menyenangkan di rumahku beberapa hari yang lalu,” Malik membuka percakapan.

“Tidak apa-apa mas, mungkin kehadiran kami yang mendadak juga salah,” timpal Kenji.

“Kamu tahu Le kenapa aku berusaha menjadi temanmu? Papaku yang sering memintanya. Ia sering berkata kalau kamu butuh teman. Sebagai anak yang patuh, aku pun berusaha menjalankan perintahnya. Sekarang aku tahu kenapa ia menyuruh seperti itu, kamu adalah anak dari sahabat-sahabatnya sesama aktivis. Kita berdua, bukan, bertiga, memiliki sebuah koneksi. Seandainya kita semua mengetahui ini dari awal, mungkin hubungan kita bisa lebih baik.

“Aku tak henti-hentinya mendesak papaku untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Berhari-hari ia bungkam, hingga pada akhirnya hari ini ia buka suara. Kalian tahu apa yang ia ceritakan? Ia bercerita tentang adikku. Kalian tahu bagaimana adikku itu meninggal?

Aku dan Kenji sama-sama menggelengkan kepala.

“Adikku adalah korban tabrak lari. Sebuah mobil menghantamnya dengan kecepatan tinggi hingga adikku tewas seketika. Sang penabrak berhasil kabur, mobilnya ditinggal begitu saja di pinggir jalan. Sama sekali tidak ada jejak yang tertinggal. Aku sangat menyayangi adikku, dan kematiannya membuatku merasa sangat kehilangan. Kalian tahu kapan adikku meninggal?”

Sekali lagi aku dan Kenji menggelengkan kepala. Nampaknya Malik adalah tipe orang yang suka melontarkan pertanyaan ketika bercerita.

“Kematiannya tidak lama terjadi sebelum ibunya Leon ditemukan gantung diri di rumahnya, hanya berselang beberapa hari. Tadi pagi papaku bercerita, adikku tewas bukan karena kecelakaan murni. Ada orang-orang yang memang mengincar adikku karena ingin mengirimkan semacam peringatan kepada papa. Aku sangat terkejut ketika mendengar cerita ini hingga memutuskan untuk segera keluar dari rumah. Karena tidak tahu harus ke mana, aku memutuskan untuk berkunjung ke rumah ini dan menceritakan kejadian ini ke kalian.”

Kami mendengarkan cerita Malik dengan serius. Gisel yang dari tadi ikut mendengarkan merasa sedikit ketakutan sehingga ia memegangi tanganku dengan erat. Aku sendiri cukup terkejut mendengarkan cerita tersebut. Jika kematian adik Malik digunakan sebagai peringatan, apakah kematian ibuku juga merupakan sebuah peringatan lainnya? Jika demikian, maka dugaan Rika menjadi benar. Kematian ibuku hanyalah rekayasa.