Pengalaman
Mereka Bilang Saya Banci
Gara-gara sebuah mimpi, penulis jadi teringat masa-masa SD-nya. Sayang, yang teringat justru hal-hal buruk seperti ejekan yang tersemat pada penulis.
Selama ini, penulis menganggapnya sebagai aib dan berusaha menguburnya dalam-dalam. Akan tetapi, penulis sadar bahwa sampai kapan pun kita tidak akan bisa melupakannya.
Banci, Bencong, dan Perawan
Waktu SD dulu, penulis merupakan tipe murid yang kuper dan susah bergaul. Bisa dibilang, penulis tidak memiliki teman dekat ketika SD. Penulis juga tipe murid yang dengan mudah namanya akan dilupakan oleh guru-guru.
Oleh beberapa teman SD, penulis sering dipanggil dengan sebutan banci, bencong, perawan, dan lain sebagainya. Penulis benar-benar membenci sebutan tersebut, karena mana ada anak laki-laki yang senang dipanggil demikian?
Selain panggilan tersebut, penulis juga kerap dipanggil becak atau versi bahasa Inggrisnya, pedicap. Untuk yang dua ini, penulis tidak terlalu memasukkannya ke dalam hati dan menganggapnya sebagai bahan canda.
Penulis sendiri sampai sekarang tidak memahami dari mana ejekan-ejekan tersebut muncul. Mungkin, karena penulis termasuk anak yang lelet dan klemak-klemek. Apakah penulis dulu kemayu? Rasanya tidak, tapi entah jika yang lain melihatnya seperti itu.
Alasan lain yang mungkin adalah karena dulu penulis sangat penakut dan pengecut. Apalagi, penulis juga termasuk lemah dan super payah di bidang olahraga.
Mungkin juga karena penulis termasuk murid yang pelit dalam memberikan contekan. Penulis sangat idealis waktu itu, hingga lulus pun tak pernah melakukannya karena menganggap hal tersebut adalah tindakan yang buruk.
Hingga sekarang, jika penulis tanpa sengaja bertemu dengan teman-teman SD yang dulu kerap memanggil dengan ejekan-ejekan tersebut, penulis akan langsung menundukkan kepala dan pura-pura tidak melihat.
Entah kenapa, rasa trauma dan takut itu susah dihilangkan, bahkan ketika sudah dewasa. Pengalaman tersebut bisa menjadi alasan mengapa penulis kesusahan membina hubungan dengan orang baru.
Berdamai dengan Masa Lalu
Karena sudah berusia 25 tahun, penulis sering melontarkan pertanyaan-pertanyaan kepada dirinya sendiri. Penulis terus mencari alasan-alasan apa yang membuat penulis berada di titik yang sekarang.
Jika pembaca memperhatikan, tulisan di Whathefan akhir-akhir ini banyak berhubungan dengan diri penulis. Hal itu terjadi karena penulis sering melakukan kontemplasi untuk menemukan jawaban dari berbagai pertanyaan yang muncul.
Terkadang, penulis ingin mencaci maki dirinya sendiri di masa lalu yang berbuat bodoh dan sudah membuang waktu-waktunya. Jika dibuat menjadi buku, mungkin ada lebih dari 100 lembar penyesalan yang akan tertulis di sana.
Terkadang, penulis juga menyalahkan keadaan yang sudah ataupun yang sedang dihadapi. Padahal, semua yang terjadi dalam hidup ini sejatinya sudah ditakdirkan dan pasti memiliki alasan mengapa harus terjadi.
Terkadang, penulis juga menyalahkan keterbatasan yang penulis miliki. Padahal, banyak orang dengan keterbatasan yang lebih banyak bisa lebih baik dari penulis. Kita saja yang ingin mencari kambing hitam.
Sekarang penulis sadar bahwa kita selalu memiliki pilihan. Mau terus terjerat masa lalu atau perlahan melangkahkan kaki ke depan?
Penulis belum bisa mencintai dirinya sendiri. Akan tetapi, penulis ingin melakukannya. Bertahap. Hal pertama yang bisa penulis lakukan adalah menerima dirinya sendiri. Salah satu caranya adalah berdamai dengan masa lalu.
Salah satu luka masa lalu yang paling dalam adalah ejekan-ejekan yang sudah penulis sebutkan di atas. Penulis sangat malu dengan ejekan tersebut sehingga menjadi pribadi yang cenderung penutup dan minder.
Oleh karena itu, penulis berusaha untuk menerimanya sebagai kenyataan bahwa kejadian-kejadian di atas memang pernah terjadi dan pasti membawa sebuah hikmah untuk penulis.
Dengan demikian, penulis bisa selangkah demi selangkah melangkahkan kaki ke masa depan tanpa terbebani masa lalu.
Penutup
Ada sebuah istilah psikologi hyper sensitive person HSP. Secara sederhana, istilah tersebut menggambarkan kondisi seseorang yang lebih sensitif, baik indra maupun perasaannya.
Ketika mencoba tes di situs resminya, dikatakan bahwa orang yang HSP akan mendapatkan nilai minimal 14. Mau tahu berapa nilai penulis? 24! Tentu harus dibuktikan dengan pergi ke psikiater, tapi ini bisa menjadi patokan kalau penulis termasuk orang yang sensitif.
Mungkin bagi sebagian anak, bentuk bully secara verbal akan mudah dilupakan dan dijadikan bahan bercanda ketika sudah dewasa. Mental penulis tidak setangguh itu. Penulis sangat terpengaruh dengan kata-kata itu.
Untungnya, apa yang diucapkan teman-teman waktu SD tidak terjadi ketika penulis beranjak dewasa. Penulis tidak menjadi banci ataupun bencong, walaupun memang masih perawan (baca: perjaka).
Biarlah luka tersebut menjadi kenangan dan bagian dari perjalanan kehidupan penulis. Penulis sudah menerimanya sebagai kenyataan, bukan lagi aib yang harus ditutup-tutupi.
Semoga artikel ini bisa menginspirasi pembaca yang memiliki pengalaman serupa 🙂
Kebayoran Lama, 27 Oktober 2019, terinspirasi setelah bermimpi teman-teman sekolah semasa SD
Foto: Kat J
Pengalaman
Saya Habis Kena Tipu, Waspadai Modus Ini
Sejujurnya, Penulis merasa malu ketika menuliskan tulisan ini. Bagi Penulis, ini adalah pengalaman yang memalukan dan seharusnya bisa Penulis hindari. Apalagi, selama ini Penulis dengan angkuhnya merasa tidak mungkin kena penipuan.
Namun, setelah dipertimbangkan, ada baiknya Penulis membagikan hal ini agar yang lain tidak menjadi korban seperti Penulis (walau kerugiannya memang tidak seberapa). Ini juga sebagai pengingat bagi Penulis bahwa jangan merasa kita pasti tidak akan kena kasus penipuan.
Oleh karena itu, Penulis akan bercerita tentang kronologi kejadiannya selengkap mungkin, sekaligus memberi tanda-tanda mulai mana penipuan bisa dideteksi. Semoga kisah yang memalukan ini bisa menjadi pelajaran bersama.

Berawal dari Pembelian di Tokopedia
Kejadian penipuan yang Penulis alami terjadi pada hari Jumat, 12 Juni 2026, atau sekitar satu bulan yang lalu. Pada hari itu, sekitar siangnya, kebetulan Penulis membelikan casing untuk smartwatch Huawei milik ayah Penulis karena dimintai tolong melalui Tokopedia.
Nah, tiba-tiba malamnya sekitar jam 10, ketika Penulis masih bekerja, tiba-tiba ada pesan WhatsApp masuk. Pesan tersebut mengatasnamakan dari pihak ekspedisi. Kebetulan, waktu itu paket Penulis dikirim oleh JNE.
Inti dari pesan tersebut adalah ada kesalahan pengiriman, sehingga paket Penulis nyasar ke orang lain. Oleh karena itu, sang penipu mengatakan akan mengganti rugi barang yang salah kirim tersebut.
Penulis pun diberi semacam link yang jelas alamatnya tidak jelas. Mengingat nomornya tidak dikenal, harusnya Penulis sudah langsung curiga, bukan? Harusnya begitu, tapi entah mengapa Penulis lengah malam itu dan mengeklik link tersebut.
Mungkin, penulis lengah karena waktu itu sudah malam dan fokus Penulis sudah menurun. Namun, ada satu hal lagi yang membuat Penulis sempat percaya: pesan WhatsApp tersebut mencantumkan nomor resi paket Penulis beserta nama Penulis secara lengkap.
Kembali ke link. Jadi, setelah mengeklik link yang diberikan, Penulis melihat semacam halaman yang sangat mirip dengan halaman Tokopedia. Sebenarnya, beberapa kali link tersebut error dan memunculkan pesan Malware. Bodohnya, Penulis mengabaikan peringatan tersebut.
Penulis pun memasukkan nomor telepon dan PIN Tokopedia-nya di laman tersebut. Lalu, muncullah SMS masuk dari Tokopedia yang memberikan kode OTP (One-Time Password). Setelah sempat beberapa kali lamannya error, Penulis pun memasukkan kode OTP di laman tersebut.
Di sinilah kebodohan terbesar Penulis, bahkan ketika menuliskan paragraf di atas, rasa malu tiba-tiba muncul begitu hebatnya hingga dada terasa sesak.
Berlanjut ke Barcode BCA
Singkat cerita, intinya laman tersebut berkali-kali error, sehingga pihak penipu mengatakan akan melanjutkan proses melalui transfer via bank, bahkan sampai menelepon Penulis. Nah, di sini kecurigaan Penulis mulai muncul kalau ini benar-benar penipu dan secara sadar ingin mengerjai balik.
Sang penipu mengirimkan sebuah kode barcode yang katanya akan mengirimkan uang sejumlah nominal pembelian Penulis. Ketika ditanya Penulis menggunakan bank apa, Penulis menjawab BCA karena tahu kalau di rekening tersebut hampir tidak ada uangnya.
Percobaan pertama, barcode tersebut error, sehingga dikirimlah kode yang baru. Bedanya, kode yang baru ini jelas-jelas memperlihatkan nominal sekitar Rp9 juta, yang tentunya kita yang melakukan scan-lah yang melakukan pembayaran.
Menariknya, sang penipu mengatakan bahwa itu adalah jumlah saldo yang mereka miliki, dan Penulis diminta secara jujur untuk mentransfer hanya sejumlah pembelian Penulis. Tentu ironi, bagaimana seorang penipu berharap yang ditipu bisa jujur!
Walau begitu, Penulis pura-pura terjebak dalam permainannya. Penulis pura-pura tidak tahu kalau kita tidak bisa menerima uang dengan melakukan scan. Penulis pun melakukan scan barcode tersebut hingga memasukkan password di dalam aplikasi mBCA.
Lalu, apa yang terjadi? Tentu saja muncul notifikasi SALDO ANDA TIDAK CUKUP! Notifikasi tersebut Penulis bacakan kepada sang penipu, lalu ia mulai berkelit ini-itu yang intinya mau kirim barcode baru karena yang itu error. Penulis yang merasa cukup pun langsung mematikan telepon tersebut dan memblokir nomor sang penipu.
Kerugian yang Penulis Alami
Apakah sampai di situ? Ternyata tidak. Ingat kode OTP yang Penulis masukkan ke link di atas? Penulis baru sadar ketika menelepon bestie Penulis tentang kejadian tersebut, bahwa akun dan PIN Penulis digunakan untuk login di HP-nya dan memasukkan kode OTP yang Penulis masukkan di link tersebut.
Jadi, secara garis besar, link yang mereka kirimkan digunakan untuk mendapatkan informasi mengenai nomor telepon dan PIN ke dalam database mereka, lalu mereka login menggunakan perangkat mereka sendiri menggunakan kode OTP yang Penulis masukkan.
Ketika Penulis mengecek emailnya (yang sebenarnya memang jarang dicek), ternyata memang ada notifikasi kalau ada perangkat Android yang mencoba masuk ke akun Tokopedia Penulis. Sayangnya, Penulis tidak memperhatikan waktu itu.
Untungnya, Penulis tidak menautkan segala jenis Paylater dan lain-lain, hanya ada GoPay. Lumayan, waktu itu tiba-tiba ada pembelian pulsa 50 ribu untuk nomor Axis sebanyak tiga kali, sehingga total kerugian yang Penulis derita adalah sekitar Rp150 ribu.
Selain itu, karena Penulis membuat laporan resmi ke pihak Tokopedia, akun Penulis di Tokopedia pun dinonaktifkan demi keamanan. Penulis sudah mengganti semua PIN (bahkan termasuk PIN aplikasi mBCA dan password email), tapi ternyata pembekuan akun tetap dibutuhkan.
Hingga kini, Penulis masih kehilangan akun Tokopedia-nya, karena proses pengembalian akun membutuhkan banyak dokumen penting. Mengingat Penulis baru saja ditipu, ada sedikit trauma sehingga memutuskan untuk membiarkan saja akun Tokopedia-nya tidak bisa digunakan.
Fakta menarik tambahannya, setelah kejadian tersebut, ada tiga nomor lain dengan menggunakan modus serupa yang mengirimi pesan WhatsApp ke Penulis. Karena sudah merasa cukup dengan pengalaman yang sudah dialami, Penulis pun langsung memblokir semuanya.
Penutup
Itulah kronologi kejadian bagaimana Penulis, yang selama ini merasa tidak bakal bisa kena tipu, ternyata bisa kena tipu. Dua hal yang meyakinkan Penulis, yakni nomor resi dan UI ala Tokopedia, ternyata bisa menurunkan kewaspadaan Penulis.
Penulis bahkan harusnya masih bisa bersyukur, karena kehilangan uang dalam nominal yang tidak terlalu besar plus akun Tokopedia-nya. Anggap saja akunnya hilang agar tidak impulsif belanja online.
Semoga tulisan di atas bisa menjadi pelajaran dan jangan sampai ada lagi yang tertipu seperti Penulis. Cukup Penulis saja yang mengalami penipuan dengan modus tersebut.
Lawang, 12 Juli 2026, terinspirasi karena ingin membagikan pengalamannya kena tipu
Pengalaman
whatheFAN Punya Logo Baru di Tahun 2026 Ini
Sama seperti tahun 2025 kemarin, tulisan pertama whatheFAN di tahun 2026 juga baru ditulis pada bulan Februari. Karena berbagai macam hal, menulis di blog ini belakangan justru menjadi beban bagi Penulis.
Penulis belum menghitung jumlah pasti berapa artikel yang ditulis sepanjang tahun 2025, tapi yang jelas tahun tersebut menjadi tahun terseret sejak blog ini dibuat pada tahun 2018.
Menyadari hal tersebut, tentu Penulis berusaha untuk mencari jalan keluar agar dirinya bisa kembali semangat menulis di blog. Jalan pertama yang Penulis ambil di awal tahun ini adalah memutuskan untuk mengganti logo whatheFAN.

Perubahan dari Whathefan! menjadi whatheFAN
Ketika pertama kali membuat blog ini, Penulis menuliskannya sebagai Whathefan!, dengan huruf kapital di huruf W dan tanda seru di akhir. Dulu, alasannya adalah karena nama tersebut seperti seruan terkejut dalam konotasi positif.
Kini, penulis memutuskan untuk melakukan sedikit rebranding. dengan mengubahnya menjadi huruf kecil semua di kata “whathe” dan kapital semua untuk kata “FAN”. Penulis juga menghilangkan tanda seru di akhir nama.
Makna dari perubahan ini adalah Penulis ingin kembali ke akar mengapa Penulis membuat blog ini, yakni sebagai wadahnya untuk menuangkan semua isi pikirannya sesuai dengan tagline yang diusung sejak awal.
Apa yang terpikir, apa yang tertuang
Salah satu alasan mengapa kegiatan menulis blog terasa menjadi beban adalah karena ekspektasi Penulis sendiri harus membuat tulisan sebagus dan sesempurna mungkin untuk Pembaca. Orientasinya jadi bergeser ke orang lain, bukan diri sendiri.
Oleh karena itu, penekanan kata “FAN” di logo adalah simbol untuk kembali berfokus kepada diri sendiri. Menulis di blog ini harus menjadi aktivitas yang menyenangkan untuk Penulis, mong namanya juga hobi.
Makna Pergantian Logo whathefan
Penekanan kata “FAN” bukan hanya dari perbedaan jenis font, tapi juga pemilihan warna. Untuk kata “whathe”, Penulis menggunakan warna abu-abu (#d1d1d1) dan warna putih (#ffffff) untuk kata “FAN”.
Waktu membuat logo lama, Penulis hanya memilih satu font, yakni Stereofidelic dengan alasan terkesan seru dan asyik. Tak ada proses desain rumit, Penulis hanya menulis kata Whathefan! menggunakan font tersebut.
Nah, di logo baru ini Penulis menggunakan dua font yang berbeda, yakni Alice (Serif) untuk “whathe” dan Montserrat Bold (Sans Serif) untuk “FAN”. Dua jenis font ini cukup kontras dan Penulis anggap bisa melambangkan penekanan ke diri sendiri.
Awalnya, Penulis hendak menggunakan full Montserrat Bold dan italic untuk logo baru. Warna identitas hitam (#000000) juga berubah jadi merah (#9e0b0f) dan ada tambahan garis di bawah kata “FAN” sebagai penambahan penekanan.
Hanya saja, ketika dilihat-lihat, logo tersebut justru terlihat seperti logo Simpati atau Supreme versi KW. Ketika melakukan jajak pendapat singkat, logo tersebut juga dianggap jelek. Alhasil, Penulis pun mengubah desain logo tersebut menjadi seperti yang terlihat sekarang.

Sebagai tambahan, bentuk font untuk isi artikel pun Penulis ubah ke Montserrat agar ada konsistensi. Semoga saja bentuk font ini bisa lebih nyaman untuk mata para Pembaca sekalian.
Logo Baru, Harapan Baru
Salah satu resolusi tahunan Penulis adalah semakin konsisten dalam menulis blog. Sayangnya resolusi tersebut sering berakhir gagal dan jumlah artikel tiap tahun justru mengalami penurunan yang menyedihkan.
Mengganti nama dan logo yang telah digunakan selama delapan tahun terakhir merupakan upaya Penulis untuk kembali membangkitkan semangat menulis blog seperti dulu lagi.
Anggap saja ini proses reset dan memulai lembaran baru, walau sebenarnya ya enggak baru-baru amat karena artikel-artikel lama juga masih ada. Mengingat Penulis sudah membuat 1.000 lebih artikel, ini adalah titik awal untuk 1.000 artikel selanjutnya.
Selain itu, Penulis juga ingin kembali membangkitkan akun Instagram blog ini yang sudah lama mati suri. Penulis ingin membuatnya sesederhana mungkin agar tidak menjadi beban baru. Tidak perlu CTA biar mampir ke blog ini, hanya versi yang lebih singkat saja.
Semoga saja harapan baru bersamaan dengan logo baru ini bisa membuat Penulis bisa kembali konsisten menulis di tahun 2026.
Lawang, 17 Februari 2026, terinspirasi setelah Penulis memutuskan untuk mengganti logo whathefan di tahun 2026 ini
Pengalaman
Ketika Hobi Menulis Blog Justru Terasa Menjadi Beban
Melalui tulisan “Pada Akhirnya Hidup Kita Harus Tetap Berjalan”, Penulis telah mengungkapkan beberapa alasan mengapa dirinya makin ke sini makin jarang menulis. Saat itu, Penulis masih bertanya-tanya apa alasan di balik hal tersebut.
Karena merasa tidak ada perkembangan sejak tulisan itu diterbitkan, Penulis pun memutuskan untuk melakukan kontemplasi demi menemukan akar permasalahannya. Blog ini berharga bagi Penulis, sehingga membiarkannya terbengkalai meninggalkan perasaan bersalah.
Setelah direnungkan, Penulis merasa menemukan beberapa jawaban yang paling masuk akal, sehingga bisa menentukan langkah-langkah apa yang harus diambil agar rutinitas menulis blog bisa kembali menjadi hobi yang menyenangkan.

Alasan Mengapa Menulis Blog Malah Menjadi Beban

Harusnya Menjadi Aktivitas yang Menyenangkan (George Milton)
Dalam tulisan sebelumnya, Penulis setidaknya menuliskan ada tiga alasan mengapa produksi artikel blog menjadi seret selama lima bulan terakhir: sedang ada banyak masalah, rasa malas, hingga merasa jenuh. Mari kita berangkat dari sana.
Namanya hidup, tentu saja kita akan selalu menjumpai permasalahan. Terkadang bisa diselesaikan dengan cepat, terkadang membutuhkan waktu lebih panjang. Yang paling penting adalah bagaimana respons kita terhadap masalah tersebut.
Dalam kasus ini, Penulis sering merasa kalau rasa malas di dalam diri ini menggunakan permasalahan tersebut sebagai justifikasi untuk tidak menulis blog. Padahal aslinya memang malas saja, tapi mencari berbagai pembenaran agar tidak merasa bersalah.
Oke, rasa malas memang bisa dilawan, tapi bagaimana dengan perasaan jenuh menulis? Sebagai seorang editor, membaca dan menulis telah menjadi rutinitas harian. Ribuan kata harus dicek dan diolah setiap harinya, sehingga wajar jika menimbulkan rasa jenuh.
Namun, apa yang Penulis bahas di blog ini dan apa yang dibahas di tempat kerja memiliki niche yang berbeda. Memang ada beberapa kategori yang bersinggungan, tapi angle yang digunakan jelas berbeda.
Justru, menulis di blog ini menjadi tempat agar gaya menulis Penulis tetap terasah dan tidak terpaku pada gaya penulisan industri. Apalagi, menulis adalah salah satu cara untuk menuangkan apa yang ada di pikirannya untuk mengurangi gejala overthinking.
Setelah menganalisis tiga alasan tersebut, apakah masih ada alasan lain yang membuat menulis blog menjadi memberatkan? Ada beberapa yang berhasil Penulis temukan setelah melakukan kontemplasi.
Alasan pertama, Penulis jadi terbebani dengan banyaknya ide artikel yang belum ditulis. Di Notion Penulis, ada puluhan ide artikel yang sampai saat ini belum dieksekusi hingga akhirnya Penulis sudah mulai lupa apa yang ingin dibahas dari ide tersebut.
Idealnya, sesuai tagline blog ini, sebuah ide harus segera dikerjakan begitu terpikirkan. Kenyataannya, karena sering menunda, ide tersebut malah menjadi usang. Mood untuk menulis ide tersebut pun menjadi hilang dan akhirnya malah jadi terbengkalai.
Alasan kedua, Penulis merasa terbebani dengan artikel-artikel yang membutuhkan riset lebih. Belakangan ini, Penulis merasa berkewajiban membuat artikel yang mendalam. Padahal, blog ini harusnya menjadi wadah bagi Penulis untuk menuangkan isi kepalanya.
Bisa jadi, Penulis terlalu berfokus bagaimana tulisan di blog ini bisa sampai ke Pembaca. Penulis sampai lupa kalau seharusnya blog ini menjadi alatnya untuk menuangkan apa yang sedang ada di pikirannya.
Alasan ketiga, pembuatan konten media sosial yang terkadang menimbulkan rasa malas untuk menulis. Meskipun pembuatannya hanya membutuhkan beberapa menit, entah mengapa membuat konten media sosial untuk artikel di blog ini memicu rasa mager.
Padahal, konten media sosial yang Penulis buat hanyalah sebuah Story dengan beberapa kalimat caption. Penulis tidak membuat video ataupun long carousel. Mungkin memang pada dasarnya malas saja.
Langkah Apa yang Diambil Setelah Memahami Akar Permasalahannya

Mencoba Lebih Spontan (Andrea Piacquadio)
Setelah menemukan beberapa akar permasalahan dari seretnya produksi blog ini, saatnya fokus ke solusi. Ada beberapa langkah yang akan Penulis ambil, dengan harapan menulis artikel bisa kembali menjadi hobi yang refreshing dan menyenangkan.
Pertama, menghilangkan penjadwalan artikel. Penulis ingin kembali seperti dulu, di mana setiap harinya murni spontan (uhuy!) mengenai artikel apa yang ingin ditulis. Bank ide di Notion tetap ada, untuk jaga-jaga jika hari itu blank tidak tahu ingin menulis apa.
Pencatatan progres yang dilakukan Notion mungkin tetap ada, tapi sifatnya lebih ke dokumentasi saja. Bagi Penulis, melihat berapa banyak artikel yang telah ditulis atau berapa panjang streak yang berhasil dilakukan berhasil menimbulkan dopamin.
Mungkin ada beberapa artikel yang harus tetap dijadwal, seperti artikel-artikel review buku dan board game yang telah menjadi rubrik mingguan. Bedanya, Penulis tidak akan menulis urut sesuai dengan buku mana yang telah selesai dibaca duluan.
Kedua, segera menulis ide tulisan yang terlintas di pikiran. Penulis harus membuang konsep “First In First Out” di mana ide yang lebih lama harus ditulis terlebih dahulu. Penulis harus mendahulukan apa yang ingin ditulis, bukan apa yang harus ditulis.
Ketiga, menghindari artikel-artikel berat yang butuh riset lebih panjang. Ada banyak artikel di daftar ide yang butuh riset lebih mendalam, dan jujur saja itu menimbulkan rasa malas. Blog ini harus kembali ke akarnya, tempat menuangkan isi kepala.
Memang secara kualitas mungkin akan berkurang, tapi salah satu resolusi Penulis di tahun 2025 adalah mendahulukan diri sendiri dulu. Buat apa menulis jika hanya membebani diri sendiri? Lagipula, ini adalah blog milik Penulis.
Keempat, melakukan reset. Saat ini, sudah banyak artikel yang Penulis jadwalkan untuk ditulis. Semuanya akan Penulis reset dari awal, kembali ke bank ide. Penulis ingin bertanya “mau nulis apa hari ini?” setiap membuka laptopnya.
Kelima, memperbaiki pola hidup yang sedang berantakan. Alasan lain yang belum disebutkan di atas adalah pola hidup Penulis yang sedang berantakan. Akibatnya, waktu untuk menulis blog juga menjadi tidak teratur.
Idealnya, Penulis berharap bisa menulis blog di pagi hari sebelum jam kerja. Menulis blog memakan waktu antara 1-2 jam, jadi bisa dimulai pukul 7 pagi setelah melakukan rutinitas pagi. Untuk itu, Penulis harus memperbaiki jam tidurnya dan menghilangkan insomnianya.
Menulis di malam hari hanya menjadi opsi apabila dalam kondisi darurat, karena biasanya tubuh dan pikiran ini sudah merasa lelah. Lagipula, malam hari harusnya digunakan untuk bersantai dan menyiapkan diri untuk beraktivitas keesokan harinya.
Keenam, membuat konten media sosial terlebih dahulu sebelum menulis artikelnya. Penulis adalah tipe orang yang mengerjakan task tersulit terlebih dahulu. Karena membuat konten media sosial terasa yang paling berat, maka Penulis akan mendahulukannya.
Enam langkah itulah yang akan Penulis terapkan mulai hari ini, dimulai dari artikel ini. Semoga setelah menulis artikel ini, Penulis bisa kembali rutin menulis blog dengan perasaan senang, bukan terbebani.
Jika setelah artikel ini terbit Penulis masih jarang menulis lagi, entah apa lagi yang harus dilakukan…
Lawang, 20 Mei 2025, terinspirasi setelah merasa perlu ada perubahan agar aktivitas menulis blog tidak terasa menjadi beban
Foto Featured Image: Ivan Samkov
-
Permainan11 bulan agoKoleksi Board Game #30: Deception: Murder in Hong Kong
-
Fiksi11 bulan ago[REVIEW] Setelah Membaca A Midsummer’s Equation
-
Politik & Negara11 bulan agoKepada Tuan dan Puan yang Terhormat…
-
Olahraga10 bulan agoSudah Tak Tahu Lagi Apa yang Harus Diubah dari Tim Ini
-
Pengembangan Diri10 bulan agoMemahami Sumber Ketidakbahagiaan untuk Menemukan Kebahagiaan
-
Pengembangan Diri10 bulan agoJangan Menunggu Sempurna, Mulai Aja Dulu
-
Olahraga9 bulan agoKita Selalu Senang Jika Ada Pembalap yang Raih Podium Perdana
-
Sosial Budaya11 bulan agoPolemik Brave Pink Hero Green: Mengapa Kita Mudah Terpolarisasi
