Pengalaman
Pengalaman Melamar Kerja di Mainspring Technology
Dulu, penulis berjanji dengan dirinya sendiri untuk menulis pengalamannya melamar kerja di Mainspring Technology ketika sudah genap satu tahun bekerja di sana.
Tanggal 17 Oktober 2019 kemarin adalah harinya, meskipun harus mendapat kado pahit karena salah satu teman kantor harus resign di hari yang sama.
Oleh karena itu, silakan dibaca bagaimana pengalaman penulis melamar kerja di kantor ini dan diterima.
Kenapa Melamar Kerja di Mainspring Technology?
Seperti yang sudah pernah penulis singgung pada artikel-artikel sebelumnya, penulis memutuskan untuk tetap tinggal di Jakarta setelah menyelesaikan tugasnya sebagai volunteer Asian Games 2018. Penulis ingin mencoba peruntungan di ibu kota ini.
Oleh karena itu, dengan menumpang rumah tante penulis memutuskan untuk menerapkan metode brute force dalam mencari pekerjaan. Tak memandang apa perusahaannya, penulis lamar.
Ada beberapa bidang yang penulis masuki, seperti content writer, social media specialist, editor, hingga marketing communication. Dengan pengalaman kerja formal yang minim, penulis nekat untuk mencoba.
Salah satu yang penulis coba adalah Mainspring Technology sebagai content writer. Ketika penulis membaca deskripsi pekerjaannya, ternyata perusahaan ini yang memiliki situs jalantikus.com.
Penulis sudah tahu situs tersebut sejak zaman kuliah, ketika dirinya pernah diajak untuk membuat startup di bidang media juga. Sayang, startup tersebut hanya bertahan satu tahun.
Panggilan Wawancara Pertama
Penulis baru mendapatkan undangan untuk melakukan tes dan wawancara di Gandaria 8 Office Tower pada tanggal 24 September 2018.
Untungnya, sebelumnya penulis sudah pernah ke Gandaria City untuk menghadiri acara pameran pendidikan, sehingga tidak menemukan kendala mencari lokasi.
Penulis tentu menyiapkan berkas-berkas yang dibutuhkan, seperti CV dan fotokopi ijazah. Penulis juga mencantumkan beberapa portfolio tulisan penulis di Whathefan.
Di sana, penulis diminta untuk datang ke lantai 9. Setelah menunggu beberapa lama, penulis mengerjakan tes IQ yang sudah sering penulis temui bersama beberapa orang yang juga melamar dengan jenis lowongan yang berbeda.
Setelah itu, penulis dipanggil untuk melakukan wawancara bersama dua orang HRD, yakni Iqbal dan Tya. Penulis ditanya beberapa macam pertanyaan, mulai pengetahuannya tentang teknologi hingga gawai yang digunakan.
Selepas proses wawancara, penulis diberitahu untuk menunggu kabar selanjutnya jika memang lolos akan mendapatkan panggilan lagi untuk wawancara. Penulis juga mendapatkan tugas untuk mengerjakan artikel seputar teknologi.
(Ketika penulis sudah masuk kerja, kak Tya bercerita bahwa sebenarnya dirinya tidak ingin meloloskan penulis karena dianggap minim pengalaman. Tapi, mas Iqbal mengatakan ia ingin mencoba meloloskan karena blog Whathefan yang penulis miliki!)
Panggilan Wawancara Kedua
Karena tak kunjung mendapatkan panggilan lagi, penulis mulai merasa frustasi. Apalagi, sudah satu bulan penulis menumpang di rumah tante sehingga merasa tidak enak.
Bahkan, di awal bulan Oktober penulis sempat berpikir untuk pulang terlebih dahulu hingga mulai mencari tiket pesawat. Untungnya, penulis mendapatkan panggilan wawancara di Penerbit Bestari pada tanggal 4 Oktober2018.
Kenapa untung? Karena seandainya penulis tidak mendapatkan panggilan tersebut, kemungkinan penulis sudah membeli tiket pulang ke Malang dan melewatkan panggilan wawancara kedua di Mainspring Technology pada tanggal 5 Oktober 2018.
(Tuhan memang selalu memiki cara untuk menunjukkan jalan)
Berbeda dengan wawancara pertama, kali ini penulis melakukan wawancara di lantai 22. Di sana, penulis bertemu dengan seorang HRD (yang kelak penulis kenal dengan nama Icut) dan disuruh menunggu.
Ketika menunggu waktu giliran wawancara, penulis melihat sekelompok orang masuk ke dalam ruangan kantor. Kelak, penulis mengetahui bahwa mereka lah calon teman kerja penulis.
Di antara mereka, ada satu yang mencolok karena rambutnya yang berwarna dan menggunakan jaket bermotif rubik. Feeling penulis berkata bahwa ia yang paling senior. Benar saja, ternyata penulis diwawancarai olehnya.
Namanya adalah Epi, head of content kalau tidak salah waktu itu. Penulis pun melakukan wawancara seperti biasa. Salah satu pertanyaan yang penulis ingat adalah apa yang bisa penulis berikan untuk perusahaan ini.
Kalau tak salah ingat, penulis mengatakan bahwa dirinya ingin memberikan sentuhan yang lebih humanis kepada artikel-artikel di JalanTikus. Bukan sekadar teknologi sebagai benda mati, melainkan tangan-tangan dan sejarah yang ada di baliknya.
(Mungkin, karena itu artikel-artikel penulis di JalanTikus banyak yang bersentuhan dengan sisi manusianya)
Epi juga mendiskusikan beberapa artikel Whathefan yang penulis jadikan portfolio. Dari obrolan tersebut, penulis mengetahui bahwa Epi juga gemar membaca buku.
Setelah itu, penulis melakukan wawancara dengan Kak Ratna, yang waktu menjabat sebagai head of digital strategy kalau tidak salah. Proses wawancara pun berjalan lancar.
Kedua orang yang mewawancarai penulis ini sama-sama berkata oke, yang menimbulkan sedikit rasa aman untuk dipanggil pada wawancara terakhir, dengan CEO dari perusahaan ini.
Panggilan Wawancara Terakhir
Wawancara terakhir dilakukan pada tanggal 13 Oktober 2018 di tempat yang sama. Kali ini, penulis harus berhadapan den CEO dari Mainspring Technology, Weihan Liew.
Pada wawancara kedua, penulis telah diberitahu untuk bersiap-siap wawancara dengan menggunakan bahasa Inggris. Penulis pun sedikit gugup, meskipun memiliki pengalaman belajar di Kampung Inggris.
Penulis pun datang ke gedung pada jam 12 siang. Di sana, penulis juga bertemu dengan kandidat lain untuk videografer. Kelak, penulis tahu ia bernama Tania.
Berbeda dengan wawancara sebelumnya, pada wawancara ini penulis diberikan pertanyaan-pertanyaan logika. Total ada tiga pertanyaan, yang alhamdulillah berhasil penulis jawab semua meskipun sempat tersendat di pertanyaan kedua.
Setelah menjawab pertanyaan terakhir, sang CEO mengajukan pertanyaan-pertanyaan teknis seperti harapan gaji. Lalu, ia pun langsung mengatakan WELCOME yang artinya penulis diterima di perusahaan ini!
Sebelum pulang, penulis diminta untuk menunggu sebentar untuk membicarakan teknis masuknya. Oleh mas Iqbal diberitahu bahwa penulis harus masuk kantor pada tanggal 17 Oktober 2018, tidak bisa menuruti permintaan penulis yang meminta masuk tanggal 25.
Kami juga membicarakan perihal gaji, dan ternyata penulis mendapatkan nominal di atas keinginan penulis. Setelah itu, penulis memberitahukan kabar bahagia ini kepada keluarga.
Setelah makan di The People’s Cafe, penulis memutuskan untuk pulang ke Malang malam itu juga sebelum membuka lembaran hidupnya yang baru di ibu kota.
Bagaimana Sekarang?
Penulis yakin di setiap tempat kerja, pasti ada suka dukanya. Begitupun di kantor penulis. Akan tetapi, penulis berusaha untuk lebih melihat sisi positifnya saja.
Di kantor ini, penulis mendapatkan banyak pelajaran baru. Tidak hanya dari segi teknis pekerjaan, tapi juga dari sisi kehidupan yang belum pernah penulis saksikan sebelumnya.
Penulis juga bertemu dengan banyak teman baru di kantor dengan beragam karakter. Penulis menikmati hubungan dengan mereka semua, mungkin kecuali dengan satu orang (you know who, guys).
Adapun sisi negatifnya, kebanyakan berasal dari diri penulis sendiri. Mungkin, minimnya pengalaman jauh dari rumah yang memengaruhi hal tersebut. Ketika ada teman resign juga menimbulkan duka tersendiri.
Sampai kapan penulis akan berada di perusahaan ini? Penulis pun belum tahu. Yang jelas, penulis akan berusaha untuk terus memberikan yang terbaik hingga waktu untuk pergi telah tiba.
Kebayoran Lama, 20 Oktober 2019, terinspirasi setelah bekerja di Mainspring Technology selama satu tahun
Pengalaman
whatheFAN Punya Logo Baru di Tahun 2026 Ini
Sama seperti tahun 2025 kemarin, tulisan pertama whatheFAN di tahun 2026 juga baru ditulis pada bulan Februari. Karena berbagai macam hal, menulis di blog ini belakangan justru menjadi beban bagi Penulis.
Penulis belum menghitung jumlah pasti berapa artikel yang ditulis sepanjang tahun 2025, tapi yang jelas tahun tersebut menjadi tahun terseret sejak blog ini dibuat pada tahun 2018.
Menyadari hal tersebut, tentu Penulis berusaha untuk mencari jalan keluar agar dirinya bisa kembali semangat menulis di blog. Jalan pertama yang Penulis ambil di awal tahun ini adalah memutuskan untuk mengganti logo whatheFAN.
Perubahan dari Whathefan! menjadi whatheFAN
Ketika pertama kali membuat blog ini, Penulis menuliskannya sebagai Whathefan!, dengan huruf kapital di huruf W dan tanda seru di akhir. Dulu, alasannya adalah karena nama tersebut seperti seruan terkejut dalam konotasi positif.
Kini, penulis memutuskan untuk melakukan sedikit rebranding. dengan mengubahnya menjadi huruf kecil semua di kata “whathe” dan kapital semua untuk kata “FAN”. Penulis juga menghilangkan tanda seru di akhir nama.
Makna dari perubahan ini adalah Penulis ingin kembali ke akar mengapa Penulis membuat blog ini, yakni sebagai wadahnya untuk menuangkan semua isi pikirannya sesuai dengan tagline yang diusung sejak awal.
Apa yang terpikir, apa yang tertuang
Salah satu alasan mengapa kegiatan menulis blog terasa menjadi beban adalah karena ekspektasi Penulis sendiri harus membuat tulisan sebagus dan sesempurna mungkin untuk Pembaca. Orientasinya jadi bergeser ke orang lain, bukan diri sendiri.
Oleh karena itu, penekanan kata “FAN” di logo adalah simbol untuk kembali berfokus kepada diri sendiri. Menulis di blog ini harus menjadi aktivitas yang menyenangkan untuk Penulis, mong namanya juga hobi.
Makna Pergantian Logo whathefan
Penekanan kata “FAN” bukan hanya dari perbedaan jenis font, tapi juga pemilihan warna. Untuk kata “whathe”, Penulis menggunakan warna abu-abu (#d1d1d1) dan warna putih (#ffffff) untuk kata “FAN”.
Waktu membuat logo lama, Penulis hanya memilih satu font, yakni Stereofidelic dengan alasan terkesan seru dan asyik. Tak ada proses desain rumit, Penulis hanya menulis kata Whathefan! menggunakan font tersebut.
Nah, di logo baru ini Penulis menggunakan dua font yang berbeda, yakni Alice (Serif) untuk “whathe” dan Montserrat Bold (Sans Serif) untuk “FAN”. Dua jenis font ini cukup kontras dan Penulis anggap bisa melambangkan penekanan ke diri sendiri.
Awalnya, Penulis hendak menggunakan full Montserrat Bold dan italic untuk logo baru. Warna identitas hitam (#000000) juga berubah jadi merah (#9e0b0f) dan ada tambahan garis di bawah kata “FAN” sebagai penambahan penekanan.
Hanya saja, ketika dilihat-lihat, logo tersebut justru terlihat seperti logo Simpati atau Supreme versi KW. Ketika melakukan jajak pendapat singkat, logo tersebut juga dianggap jelek. Alhasil, Penulis pun mengubah desain logo tersebut menjadi seperti yang terlihat sekarang.

Sebagai tambahan, bentuk font untuk isi artikel pun Penulis ubah ke Montserrat agar ada konsistensi. Semoga saja bentuk font ini bisa lebih nyaman untuk mata para Pembaca sekalian.
Logo Baru, Harapan Baru
Salah satu resolusi tahunan Penulis adalah semakin konsisten dalam menulis blog. Sayangnya resolusi tersebut sering berakhir gagal dan jumlah artikel tiap tahun justru mengalami penurunan yang menyedihkan.
Mengganti nama dan logo yang telah digunakan selama delapan tahun terakhir merupakan upaya Penulis untuk kembali membangkitkan semangat menulis blog seperti dulu lagi.
Anggap saja ini proses reset dan memulai lembaran baru, walau sebenarnya ya enggak baru-baru amat karena artikel-artikel lama juga masih ada. Mengingat Penulis sudah membuat 1.000 lebih artikel, ini adalah titik awal untuk 1.000 artikel selanjutnya.
Selain itu, Penulis juga ingin kembali membangkitkan akun Instagram blog ini yang sudah lama mati suri. Penulis ingin membuatnya sesederhana mungkin agar tidak menjadi beban baru. Tidak perlu CTA biar mampir ke blog ini, hanya versi yang lebih singkat saja.
Semoga saja harapan baru bersamaan dengan logo baru ini bisa membuat Penulis bisa kembali konsisten menulis di tahun 2026.
Lawang, 17 Februari 2026, terinspirasi setelah Penulis memutuskan untuk mengganti logo whathefan di tahun 2026 ini
Pengalaman
Ketika Hobi Menulis Blog Justru Terasa Menjadi Beban
Melalui tulisan “Pada Akhirnya Hidup Kita Harus Tetap Berjalan”, Penulis telah mengungkapkan beberapa alasan mengapa dirinya makin ke sini makin jarang menulis. Saat itu, Penulis masih bertanya-tanya apa alasan di balik hal tersebut.
Karena merasa tidak ada perkembangan sejak tulisan itu diterbitkan, Penulis pun memutuskan untuk melakukan kontemplasi demi menemukan akar permasalahannya. Blog ini berharga bagi Penulis, sehingga membiarkannya terbengkalai meninggalkan perasaan bersalah.
Setelah direnungkan, Penulis merasa menemukan beberapa jawaban yang paling masuk akal, sehingga bisa menentukan langkah-langkah apa yang harus diambil agar rutinitas menulis blog bisa kembali menjadi hobi yang menyenangkan.
Alasan Mengapa Menulis Blog Malah Menjadi Beban

Harusnya Menjadi Aktivitas yang Menyenangkan (George Milton)
Dalam tulisan sebelumnya, Penulis setidaknya menuliskan ada tiga alasan mengapa produksi artikel blog menjadi seret selama lima bulan terakhir: sedang ada banyak masalah, rasa malas, hingga merasa jenuh. Mari kita berangkat dari sana.
Namanya hidup, tentu saja kita akan selalu menjumpai permasalahan. Terkadang bisa diselesaikan dengan cepat, terkadang membutuhkan waktu lebih panjang. Yang paling penting adalah bagaimana respons kita terhadap masalah tersebut.
Dalam kasus ini, Penulis sering merasa kalau rasa malas di dalam diri ini menggunakan permasalahan tersebut sebagai justifikasi untuk tidak menulis blog. Padahal aslinya memang malas saja, tapi mencari berbagai pembenaran agar tidak merasa bersalah.
Oke, rasa malas memang bisa dilawan, tapi bagaimana dengan perasaan jenuh menulis? Sebagai seorang editor, membaca dan menulis telah menjadi rutinitas harian. Ribuan kata harus dicek dan diolah setiap harinya, sehingga wajar jika menimbulkan rasa jenuh.
Namun, apa yang Penulis bahas di blog ini dan apa yang dibahas di tempat kerja memiliki niche yang berbeda. Memang ada beberapa kategori yang bersinggungan, tapi angle yang digunakan jelas berbeda.
Justru, menulis di blog ini menjadi tempat agar gaya menulis Penulis tetap terasah dan tidak terpaku pada gaya penulisan industri. Apalagi, menulis adalah salah satu cara untuk menuangkan apa yang ada di pikirannya untuk mengurangi gejala overthinking.
Setelah menganalisis tiga alasan tersebut, apakah masih ada alasan lain yang membuat menulis blog menjadi memberatkan? Ada beberapa yang berhasil Penulis temukan setelah melakukan kontemplasi.
Alasan pertama, Penulis jadi terbebani dengan banyaknya ide artikel yang belum ditulis. Di Notion Penulis, ada puluhan ide artikel yang sampai saat ini belum dieksekusi hingga akhirnya Penulis sudah mulai lupa apa yang ingin dibahas dari ide tersebut.
Idealnya, sesuai tagline blog ini, sebuah ide harus segera dikerjakan begitu terpikirkan. Kenyataannya, karena sering menunda, ide tersebut malah menjadi usang. Mood untuk menulis ide tersebut pun menjadi hilang dan akhirnya malah jadi terbengkalai.
Alasan kedua, Penulis merasa terbebani dengan artikel-artikel yang membutuhkan riset lebih. Belakangan ini, Penulis merasa berkewajiban membuat artikel yang mendalam. Padahal, blog ini harusnya menjadi wadah bagi Penulis untuk menuangkan isi kepalanya.
Bisa jadi, Penulis terlalu berfokus bagaimana tulisan di blog ini bisa sampai ke Pembaca. Penulis sampai lupa kalau seharusnya blog ini menjadi alatnya untuk menuangkan apa yang sedang ada di pikirannya.
Alasan ketiga, pembuatan konten media sosial yang terkadang menimbulkan rasa malas untuk menulis. Meskipun pembuatannya hanya membutuhkan beberapa menit, entah mengapa membuat konten media sosial untuk artikel di blog ini memicu rasa mager.
Padahal, konten media sosial yang Penulis buat hanyalah sebuah Story dengan beberapa kalimat caption. Penulis tidak membuat video ataupun long carousel. Mungkin memang pada dasarnya malas saja.
Langkah Apa yang Diambil Setelah Memahami Akar Permasalahannya

Mencoba Lebih Spontan (Andrea Piacquadio)
Setelah menemukan beberapa akar permasalahan dari seretnya produksi blog ini, saatnya fokus ke solusi. Ada beberapa langkah yang akan Penulis ambil, dengan harapan menulis artikel bisa kembali menjadi hobi yang refreshing dan menyenangkan.
Pertama, menghilangkan penjadwalan artikel. Penulis ingin kembali seperti dulu, di mana setiap harinya murni spontan (uhuy!) mengenai artikel apa yang ingin ditulis. Bank ide di Notion tetap ada, untuk jaga-jaga jika hari itu blank tidak tahu ingin menulis apa.
Pencatatan progres yang dilakukan Notion mungkin tetap ada, tapi sifatnya lebih ke dokumentasi saja. Bagi Penulis, melihat berapa banyak artikel yang telah ditulis atau berapa panjang streak yang berhasil dilakukan berhasil menimbulkan dopamin.
Mungkin ada beberapa artikel yang harus tetap dijadwal, seperti artikel-artikel review buku dan board game yang telah menjadi rubrik mingguan. Bedanya, Penulis tidak akan menulis urut sesuai dengan buku mana yang telah selesai dibaca duluan.
Kedua, segera menulis ide tulisan yang terlintas di pikiran. Penulis harus membuang konsep “First In First Out” di mana ide yang lebih lama harus ditulis terlebih dahulu. Penulis harus mendahulukan apa yang ingin ditulis, bukan apa yang harus ditulis.
Ketiga, menghindari artikel-artikel berat yang butuh riset lebih panjang. Ada banyak artikel di daftar ide yang butuh riset lebih mendalam, dan jujur saja itu menimbulkan rasa malas. Blog ini harus kembali ke akarnya, tempat menuangkan isi kepala.
Memang secara kualitas mungkin akan berkurang, tapi salah satu resolusi Penulis di tahun 2025 adalah mendahulukan diri sendiri dulu. Buat apa menulis jika hanya membebani diri sendiri? Lagipula, ini adalah blog milik Penulis.
Keempat, melakukan reset. Saat ini, sudah banyak artikel yang Penulis jadwalkan untuk ditulis. Semuanya akan Penulis reset dari awal, kembali ke bank ide. Penulis ingin bertanya “mau nulis apa hari ini?” setiap membuka laptopnya.
Kelima, memperbaiki pola hidup yang sedang berantakan. Alasan lain yang belum disebutkan di atas adalah pola hidup Penulis yang sedang berantakan. Akibatnya, waktu untuk menulis blog juga menjadi tidak teratur.
Idealnya, Penulis berharap bisa menulis blog di pagi hari sebelum jam kerja. Menulis blog memakan waktu antara 1-2 jam, jadi bisa dimulai pukul 7 pagi setelah melakukan rutinitas pagi. Untuk itu, Penulis harus memperbaiki jam tidurnya dan menghilangkan insomnianya.
Menulis di malam hari hanya menjadi opsi apabila dalam kondisi darurat, karena biasanya tubuh dan pikiran ini sudah merasa lelah. Lagipula, malam hari harusnya digunakan untuk bersantai dan menyiapkan diri untuk beraktivitas keesokan harinya.
Keenam, membuat konten media sosial terlebih dahulu sebelum menulis artikelnya. Penulis adalah tipe orang yang mengerjakan task tersulit terlebih dahulu. Karena membuat konten media sosial terasa yang paling berat, maka Penulis akan mendahulukannya.
Enam langkah itulah yang akan Penulis terapkan mulai hari ini, dimulai dari artikel ini. Semoga setelah menulis artikel ini, Penulis bisa kembali rutin menulis blog dengan perasaan senang, bukan terbebani.
Jika setelah artikel ini terbit Penulis masih jarang menulis lagi, entah apa lagi yang harus dilakukan…
Lawang, 20 Mei 2025, terinspirasi setelah merasa perlu ada perubahan agar aktivitas menulis blog tidak terasa menjadi beban
Foto Featured Image: Ivan Samkov
Pengalaman
Pada Akhirnya Hidup Kita Harus Tetap Berjalan
Dalam empat bulan terakhir, atau sejak masuk tahun 2025, Penulis mengakui kalau sedang banyak masalah, yang kebanyakan hanya ada di pikiran. Hal tersebut membuat produktivitas menulis blog ini terasa mandek, dengan jumlah produksi artikel berkurang drastis.
Pada bulan Desember, masih lumayan ada tujuh tulisan yang terbit, sebelum di bulan Januari benar-benar tidak ada tulisan yang tayang. Februari ada satu tulisan, yang mirisnya merupakan tulisan pertama di tahun 2025. Di Maret setidaknya ada empat tulisan.
Blog ini, yang harusnya menjadi tempat menyalurkan hobi, justru belakangan terasa menjadi beban. Ada puluhan ide artikel yang tertumpuk begitu saja tanpa pernah dieksekusi. Ada belasan buku yang menanti untuk diulas, hingga lupa apa yang harus diulas.

Berhenti Menulis karena Rasa Malas?
Setiap merasa harus memutus lingkaran ini dan mulai kembali rutin menulis, keinginan tersebut terputus hanya setelah maksimal dua tulisan. Setelah itu kembali menghilang hingga waktu yang tidak ditentukan.
Apakah permasalahan yang Penulis sebutkan di atas hanya merupakan alibi untuk menutupi alasan sebenarnya dari berhentinya Penulis menulis, yaitu rasa malas? Bisa jadi. Namun, rasa malas bisa muncul dengan sebab, seperti kepala yang rasanya penuh sekali.
Ketika pikiran suntuk dan dengan “liarnya” mengembara ke sana kemari, itu sangat memengaruhi mood. Sekali lagi, menulis yang harusnya jadi aktivitas menyenangkan justru menjadi momok yang menakutkan.
Apakah rasa malas ini muncul karena di tempat kerja Penulis juga menulis? Bisa jadi, karena tentu itu memunculkan rasa jenuh. Mau sebagus apapun idenya, butuh tekad yang kuat untuk bisa mengeksekusinya, dan tekad itu bisa luntur karena rasa jenuh.
Apakah rasa malas ini muncul karena Penulis kesulitan mengatur waktunya? Bisa jadi, karena waktu yang dimiliki dalam 24 jam digunakan untuk aktivitas lainnya. Jujur, kebanyakan bukan aktivitas produktif sebagai pelarian dari masalah yang ada di kepala.
Lantas, apakah rasa malas ini bisa jadi pembenaran untuk berhentinya produksi blog ini? Entahlah, Penulis merasa dirinya terbagi menjadi dua. Satu menjustifikasi rasa malas tersebut karena memang sedang banyak pikiran, yang satu merutuk diri karena kontrol diri yang lemah.
Apakah produksi artikel di blog ini bisa kembali normal jika masalah-masalah yang ada di pikiran itu terselesaikan? Sekali lagi, entahlah. Bisa jadi berhentinya produksi artikel tersebut memang murni karena rasa malas saja, lalu mencari-cari justifikasi yang paling terlihat elegan.
Menyadari Kita Harus Tetap Berjalan
Saat menulis artikel ini, justru masalah-masalah di kepala tengah berada di klimaksnya. Tentu aneh, mengapa ketika berada di puncak permasalahannya Penulis justru akhirnya memutuskan untuk menulis lagi setelah sekian lama.
Mungkin, karena sudah berada di klimaksnya, Penulis menyadari bahwa setelah ini jalannya akan melandai, menurun. Permasalahan, apapun bentuknya, pasti akan selesai. Semua itu hanya sementara, tidak akan terjadi selamanya.
Mungkin, karena pada akhirnya Penulis menyadari bahwa hidup harus tetap berjalan. Yang namanya berjalan, tentu tak pernah selalu mulus. Pasti beberapa kali kita akan menemukan jalan yang rusak, gronjalan, kubangan lumpur, dan masih banyak lagi lainnya.
Namun, pada akhirnya kita tetap melanjutkan perjalanan. Memang kita jadi kotor, mungkin ada luka juga, tapi itu adalah “harga” yang harus dibayar untuk mencapai tujuan. Demi tujuan itulah kita terus berjalan.
Lantas, apa tujuan yang sedang Penulis tuju sekarang? Penulis tidak akan menuliskannya di sini, tapi yang jelas, untuk mencapai tujuan tersebut, bisa mendisiplinkan diri untuk konsisten menulis artikel di blog ini adalah salah satu jalan yang harus Penulis tempuh.
Untuk itulah, Penulis akhirnya memutuskan untuk menulis artikel ini, yang mungkin secara bobot tidak ada bobotnya, lebih sekadar gerutuan karena insomnia datang menyerang. Setidaknya, ini adalah upaya nyata Penulis untuk kembali ke jalan yang benar.
Entah cara apa yang akan Penulis lakukan agar aktivitas menulis blog ini menjadi kembali menyenangkan dan membuat Penulis bersemangat, bahkan ketika isi pikirannya penuh dengan masalah. Sambil berjalan, Penulis akan berusaha menemukan jawabannya.
Lawang, 8 April 2025, terinspirasi karena insomnia karena berbagai masalah yang ada di pikirannya
Foto Featured Image: Tobi via Pexels
-
Musik10 bulan agoMari Kita Bicarakan Carmen dan Hearts2Hearts
-
Politik & Negara10 bulan agoPemerintah Selalu Benar, yang Salah Selalu Rakyat
-
Pengalaman11 bulan agoKetika Hobi Menulis Blog Justru Terasa Menjadi Beban
-
Sosial Budaya10 bulan agoBeda Artis Korea Selatan dan Indonesia Ketika Pemilu
-
Sosial Budaya11 bulan agoBelajar Sejarah, kok (Cuma) dari TikTok?
-
Permainan7 bulan agoKoleksi Board Game #30: Deception: Murder in Hong Kong
-
Fiksi7 bulan ago[REVIEW] Setelah Membaca A Midsummer’s Equation
-
Politik & Negara7 bulan agoKepada Tuan dan Puan yang Terhormat…


